He Is A Girl

He Is A Girl
05 Jangan Jatuh Hati



Mendengar bel berbunyi, seluruh siswa berhamburan keluar dari kelas. Begitu melangkahkan kakinya keluar dari pintu kelas, Suya sudah ditunggu Yuna.


"Suya, hai." Sapa Yuna dengan senyum manis teruntai dibibirnya.


Tanpa menghiraukan keberadaan Yuna, Suya tetap melanjutkan langkahnya dan berjalan menjauh dari Yuna.


"Suya, tunggu. Bisakah kita pergi nonton bareng?" Ajak Yuna, namun Suya masih saja dengan diamnya.


"Bukankah itu Yuna?"


"Lihat deh, ditolak Jiho dia sudah beralih ke cowok lain."


"Suya, mau ya." Bujuk Yuna.


Suya pun menghentikan langkahnya.


"Hei! Kalau dalam hitungan ketiga kamu gak pergi dari hadapanku, maka aku akan membuat bekas luka diwajah yang kamu banggakan itu." Kecam Suya pada Yuna.


"Wah, sepertinya dia lebih kejam daripada Jiho."


"Tapi Suya..."


"Satu."


"Suya, kumo..."


"Dua."


"Baiklah, aku akan pergi. Tapi aku akan datang lagi besok, oke. Dah." Yuna berlalu meninggalkan Suya.


"Dasar pengganggu." Cletuk Suya.


"Jiho, kamu lihat dia? Aku pikir kamu adalah satu-satunya gunung es disekolah ini. Ternyata ada yang lebih keji dari kamu." Cletuk Titan setelah melihat kekejaman Suya saat berhadapan dengan Yuna.


"Baguslah, setidaknya kehadirannya membuatku terbebas dari Yuna yang menyebalkan itu."


"Iya juga sih, udah yuk kita pulang saja." Ajak Titan.


"*Semakin kesini anak ini semakin menarik. Aku jadi penasaran."


..


'Tring*'


"Selamat datang, mau pesan apa?" Sapa Suya,


"Wahh, kakak ganteng sekali." Puji pelanggan itu dengan penuh kekaguman.


"Ah, terimakasih, mau pesan apa?"


"Ah, es americano."


"Baiklah, tunggu sebentar."


Suya segera membuatkan pesanan tersebut. Pelanggan itu masih saja memandangi wajah Suya.


"Silakan." Ucap Suya sembari menyerahkan satu cup es americano.


"Terimakasih, boleh aku minta nomor kakak?"


"Maaf, saya masih harus kembali bekerja, permisi." Dengan halus Suya menolak permintaan itu.


Dia sedang berusaha untuk menahan dirinya. Meski sebenarnya dia bisa melakukan sebuah hal yang bisa membuat gadis itu berhenti mengganggunya tapi dia mengurungkan niat itu.


..buruan kalian datang ke kafe in, ada kakak ganteeng banget..


"Wah wah, baru beberapa hari kerja disini dan kamu sudah sangat populer. Sepertinya tidak salah aku memperkerjakanmu. Kemarin aku pikir sikap cuekmu akan membuat pelangganku kabur, ternyata justru menjadi daya tarik para pelanggan." Puji sang pemilik kafe.


"Terimakasih. Oh ya, apa anda tidak berencana menambah karyawan?"


"Kenapa?"


"Maaf jika saya lancang, karena harus membiayai hidup saya sendiri, saya mencari beberapa pekerjaan. Dan mulai bulan depan saya dalam seminggu akan bekerja disebuah klub karate selama 3 hari, saya takutnya akan terlambat datang ke kafe."


"Oh begitu, sepertinya aku juga harus mencari orang lain lagi, karena kafe semenjak kamu disini jadi makin ramai."


"Kok tumben dia gak main basket disini lagi." Keluh Jiho.


Jiho sedang bermain basket dilapangan tempat dia pertama kali melihat aksi basket Suya beberapa hari yang lalu. Entah kenapa dia begitu penasaran dengan kemampuan Suya saat itu.


..


"Teman-teman, untuk tugas esai sastra dikumpulkan paling telat sebelum jam pulang nanti ya. Yang sudah bisa dikumpulkan sekarang."


Sebagai ketua kelas, Jae selalu memberikan peringatan kepada temannya agar tidak lupa dengan tugas mereka.


"Ah, sial. Karena sibuk bekerja aku jadi lupa kalau tugas dikumpul hari ini." Keluh Suya.


"25, 26, 27. Kurang satu orang. Ada yang belum mengumpulkan?" Ucap Jae.


"Aku." Sahut Suya.


"Kenapa?"


"Lupa. Nanti aku kumpulkan setelah jam istirahat." Sahut Suya,


"Baiklah, aku akan kumpulkan ini dulu pada ibu Lee." Jae pun beranjak dari kelas menuju ruang bu Lee.


"Permisi, bu. Saya mau mengumpulkan tugas."


"Iya, taruh saja disitu. Sudah semuanya?" tanya bu Lee


"Suya masih belum mengerjakan, bu."


"Kenapa dia belum mengerjakan? Atau ketinggalan?"


"Katanya lupa, bu. Dia bilang akan mengumpulkan setelah jam istirahat."


"Lupa? Bagaimana bisa seorang siswa lupa akan tugasnya. Kamu suruh Suya temui ibu sekarang ya."


"Baik, bu."


"Suya, apa aku bisa pinjam kamera darimu?" Tanya Feng.


"Kamera?"


"Iya, kebetulan aku juga anak dari club forografi. Kebetulan akhir pekan aku mau pergi ke hutan untuk mengambil beberapa gambar. Tapi lensa mikroku beberapa hari yang lalu jatuh dan pecah, apa aku bisa pinjam punyamu?"


"Hem, besok aku bawakan."


"Kalau begitu bolehkan aku minta nomormu? Agar kita bisa lebih mudah berkomunikasi."


"Ah, baiklah, ini." sahut Suya sembari menunjukkan layar handphonenya.


"Ah, baiklah, makasih sebelumnya." Ucap Feng.


"Suya, ibu Lee memintamu datang kekantornya." Ucap Jae.


"Huh, sepertinya ada pengadu disini." Cletuk Suya seraya berjalan keluar kelas.


"Pengadu? Apa maksud Suya tadi?" Somi sedikit penasaran dengan hal yang dikeluhkan Suya baru saja.


"Entah, aku juga gak tahu." Jawab Hanna.


..


"Apa kalian tahu kafe In?"


"Iya, kafe yang diujung jalan kan?"


"Sungguh? Bukankah hanya ada seorang ibu hamil ya?"


"Gak, beneran ganteng, percaya deh sama aku."


"Ah, aku juga ingin kesana kalau gitu. Gimana kalau nanti sepulang sekolah kita kesana?"


"Kafe baru buka jam 5 sore. Gimana kalau kita main kerumahmu dulu."


"Setuju. Nanti sekalian kita ajak Jina."


"Oke setuju, eh, itu Jina datang. Seo Jina!" Teriaknya.


"Lina, Yuan, sedang ngobrolin apa kok kelihatan serius banget." Sapa Jina.


"Kamu nanti mau ikut kita ke kafe In gak?" Ajak Yuan.


"Kafe in diujung jalan? Tumbenan?"


"Iya nanti kamu juga tahu sendiri. Disana ada pelayan yang super ganteng."


"Yah, sayang banget aku hari ini ada janji sama kakakku. Lain kali saja deh aku ikut kalian."


"Yah, sayang sekali. Tapi gak papa, kita bisa kesana tiap hari,"


"Dasar, soal cowok ganteng aja sigap gitu." Ledek Jina.


"Biarin dong,"


..


"Ibu mencari saya?" ucap Suya.


"Iya, kamu duduk dulu." Pinta bu Lee.


"Ada apa ya, bu?"


"Suya, ibu tahu kamu baru beberapa hari belajar disini. Tapi biar bagaimanapun kamu tidak bisa bertingkah lalai."


"Maksud ibu?"


"Sebagai seorang siswa, belajar adalah yang utama. Tadi saat Jae mengumpulkan tugas esai, tugasnya kurang milikmu seorang alasanmu lupa. Bagaimana bisa seorang siswa lupa dengan tugasnya? Atau mungkin kamu punya kendala yang perlu dikomunikasikan dengan ibu?"


"Oh soal itu. Karena kemarin saya sibuk bekerja jadi saya lupa kalau esai itu dikumpul hari ini. Lagipula saya juga akan mengumpulkannya sehabis istirahat nanti."


"Kerja? Bagaimana bisa seorang siswa sma sudah bekerja?"


"Apa masalahnya? Lagipula jika saya tidak bekerja apa ibu mau menanggung biaya hidup saya?"


"Bekerja memang bukan masalah, ini justru bagua untuk melatih kita mandiri sejak dini. Tapi saat ini kamu adalah seorang murid jadi fokusmu harus pada pelajaran, soal pekerjaan harusnya kamu bisa serahkan itu pada orangtuamu."


"Hah, ibu Lee, saya sudah seringkali dipanggil seperti ini, namun ini pertama kalinya saya dipanggil hanya karena telat mengumpulkan satu tugas. Maaf atas kelancangan saya, tapi mohon kedepannya jika ingin membimbing saya, lakukanlah saat saya melakukan kesalahan besar, bukan masalah sepele seperti ini. Dan lagi, ibu Lee kedepannya harap lebih teliti saat membaca dokumen. Terimakasih, saya permisi."


Dengan raut sedikit kesal Suya bergegas keluar dari ruangan bu Lee.


"Astaga, anak ini kenapa jadi dia yang memarahiku. Tunggu, apa maksudnya dengan dokumen? Ah, sebentar..." bu Lee mencari data diri dari Suya.


"...ketemu. Orang tua, tidak ada? Jadi dia anak yatim? Astaga aku malah menyakitinya. Aku benar-benar teledor."


Setelah membaca dokumen Suya, bu Lee justru menyalahkan dirinya sendiri yang tidak teliti dalam membaca dokumen sebelumnya.


"Suya, kenapa bu Lee mencarimu?"


"Bukan apa-apa," sahutnya.


Bel kelas sudah berbunyi, seluruh siswa mempersiapkan diri untuk memulai pelajaran. Setelah begitu terbebani dengan banyaknya pelajaran, akhirnya bel jam istirahat berbunyi. Sebagian siswa berhamburan untuk pergi kekantin dan mengisi kembali tenaga mereka.


"Suya, mau ke kantin bareng?" Ajak Somi.


"Tidak, aku perlu mengerjakan esai." Tolak Suya seraya beranjak pergi keruang komputer.


"Wah, wah. Dia sangat konsisten dalam menolak orang." Gerutu Somi,


"Hei, sudahlah, ayo kita ke kantin."


Suya bergegas mengerjakan esai agar bisa dikumpulkan hari ini. Ini adalah kali pertama dia lupa untuk mengerjakan tugas. Meski sering kali terlibat dalam perkelahian, namun dia selalu mengutamakan tugasnya dalam belajar. Setengah waktu istirahat sudah berlalu, tugasnya sudah dia kumpulkan pada wali kelas. Segera ia kembali ke kelas, waktu istirahat masih setengah jam. Kelas nampak sepi, siswa lainnya masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Dia letakkan kedua tangannya diatas meja dan tertidur. Diwajahnya tergambar rasa penat yang sangat jelas.


Tak berselang lama, Jiho juga kembali ke kelas. Langkahnya terhenti diambang pintu saat melihat Suya yang tidur terlelap. Perlahan Jiho melangkahkan kakinya kearah meja milik Suya. Dengan tatapan penuh rasa heran dia pandangi wajah Suya.


"Heh, ternyata kalau lagi tidur wajah dinginnya benar-benar lenyap." Pikir Jiho.


"*Dia manis juga."


'Degh..degh..'


"Tunggu. Apa yang aku pikirkan! Jiho sadarlah! Dia seorang laki-laki*."


Jiho segera menyadarkan dirinya dan beranjak kembali ke mejanya sendiri. Tapi sesekali dia masih memandang kearah Suya.


"Ah, sial." Keluh Jiho.


Dia masih terbayang dengan apa yang baru saja dia rasakan. Jantungnya berdebar saat melihat wajah Suya yang begitu tenang saat tertidur. Kelas mulai penuh kembali. Sebentar lagi jam istirahat akan selesai.


"Suya...Suya, bangun." Jae membangunkan Suya yang masih terlelap meski jam istirahat telah usai.


"Hem..." dengan setengah sadar dia meregangkan badannya.


"...ha? Kemana anak cewek?" Tanyanya yang kebingungan karena siswi dikelasnya tidak ada satupun yang dikelas.


"Sebentar lagi kelas olahraga. Mereka sedang ganti pakaian." Sahut Jae.


"Oh," balasnya dengan cuek seraya beranjak dari kursinya.


"Kamu mau kemana?" Tanya Jae.


"Pergi ganti pakaian." Sahut Suya.


"Ganti disini saja. Anak cowok biasanya hanya ganti dikelas."


"Aku tidak terbiasa ganti pakaian didepan orang lain." Sahut Suya tanpa menoleh sedikitpun.


"Jiho, lihatlah sikapnya itu. Apa dia pikir kita akan jatuh cinta dengan tubuhnya jika dia ganti pakaian disini? Ah menyebalkan sekali sikapnya itu." Titan terlihat geram setelah mendengar percakapan Jae dan Suya.


"Sudahlah, kamu dulu diawal semester juga ganti pakaian diruang ganti kan? Semua orang butuh penyesuaian."


"Jiho! Kenapa setiap kali kamu belain dia dibanding aku?"


"Aku tidak belain siapapun, aku bicara kenyataan."


"Ah, terserahlah."


Seluruh siswa kelas 2a berkumpul dilapangan.


"Hari ini kelas bebas. Anak cowok boleh main basket atau sepakbola. Bapak tinggal dulu, kebetulan ada rapat untuk pertandingan basket bulan depan. Yang cewek pastikan kalian tidak meninggalkan lapangan sebelum pelajaran usai!"


"Iya, pak." Sahut siswa serentak.


"Maaf, pak."


"Iya, Suya. Ada apa?"


"Saya mau izin ke uks, pak."


"Baiklah,"


Dengan langkah tanpa semangat, Suya meninggalkan lapangan menuju ruang uks.


"Apa dia sedang sakit? Hiss, Jiho! Berhentilah memikirkannya."