
"terimakasih, jangan lupa datang kembali,"
Sapaan ramah selalu Suya berikan pada setiap pembeli yang datang. Hal itulah yang membuat Suya sangat disayangi pemilik kafe. Bagaimana tidak, sejak Suya bekerja disana, keuntungan yang diraih sudah ada 3x lipat dari sebelum ada Suya.
"hari ini tumben ramai sekali," keluh Robin,
"namanya juga long weekend," sahut Suya sembari mencuci beberapa gelas kotor.
"biasanya juga tidak seramai ini biarpun weekend."
Ini adalah pertama kalinya Robin ikut membantu di kafe saat long weekend. Tentu saja dia merasa sedikit kewalahan.
"makanya sering-sering aja kerja pas weekend, jangan pacaran mulu." cibir Suya,
"heh, kamu yang salah itu, masih muda kok kerja mulu, santai dong sesekali. Btw, kamu udah punya pacar belum? Pasti banyak kan yang ngincar kamu?"
"dikira barang incaran, aku gak punya waktu buat itu. Lebih baik membaca buku daripada ngurusin pacaran."
"jika aku punya wajah seperti kamu ini, sudah pasti aku akan punya banyak pacar,"
"hah, untung saja tidak." ledek Suya,
"haha, kamu benar. Oh ya, kamu kalau selain sama pembeli kenapa masih saja cuek? Ngomong-ngomong gimana hubunganmu dengan temanmu yang waktu itu?"
"ya masih sama saja. Tidak ada kemajuan apapun. Btw bibi kapan lahiran?"
"peralihan yang sempurna. Bibi mungkin akan melahirkan minggu ini,"
"semoga lancar dan keduanya sehat,"
"iya semoga saja."
'drrttt...drrttt...'
"HPmu tuh," ucap Robin,
"hallo..."
"...oke, aku akan kesana sekarang..."
"Robin, maaf aku harus pergi, aku ada perlu. Kamu gak apa sendirian?"
"iya gak apa, kamu mau kemana?" tanya Robin,
"kalau gitu aku pulang dulu ya,"
Suya bergegas keluar dari kafe tanpa memberikan penjelasan pada Robin. Dia baru saja mendapat telepon dari Lin. Lin mengatakan jika dia mendapatkan beberapa informasi baru mengenai orang yang dicari Suya. Suya pergi dengan penuh harapan. Semoga kali ini dia menemukan titik terang atas kematian kekasihnya beberapa tahun yang lalu.
Dia janjian akan bertemu dengan Lin ditempat Lin. Tempatnya tidak jauh dari kafe namun sangat terpencil tempatnya. Dengan berjalan kaki ia membutuhkan sekitar 30 menit untuk sampai ditempat Lin.
Dia berjalan setenang mungkin agar tidak menarik perhatian siapapun. Terlebih lagi sejak kejadian yang menimpa Seori waktu itu pasti ayahnya akan menyuruh orang untuk mengawasinya. Dia harus sebisa mungkin lolos dari pengawasan.
Beberapa orang dari Lin sudah menunggunya diluar pintu. Setelah Suya sampai, mereka membawa Suya masuk untuk menemui Lin.
"apa yang kamu dapatkan?"
Tanpa basa-basi Suya langsung menanyakan informasi yang Lin janjikan ditelepon beberapa menit yang lalu.
"ini beberapa file yang aku bicarakan tadi..." ucap Lin sembari menyodorkan beberapa lembar kertas.
"...aku berhasil mendapatkan rekaman CCTV disekitar kejadian. Seluruh pelaku menggunakan jaket yang sama, dan jaket itu ada logo dari suatu geng..."
"lalu dimana rekamannya?" sela Suya,
"ada didalam disk itu. Sepengetahuanku geng dengan logo itu adalah anak buah dari BlackBat..."
"tunggu! Bukankah itu..."
"ya, kamu benar. Itu adalah kelompok milik anak pertama dari Jang Grup. Yang mana itu adalah paman dari korban. Lalu aku menyelidiki juga jika sebulan sebelum kejadian itu, terjadi perselisihan hak waris dalam keluarga Jang. Tetua Jang ingin mewariskan seluruh usaha di dalam negeri kepada cucu lelaki tertuanya yaitu si korban. Namun sepertinya anak tertua dari Jang tidak terima karena dia juga punya anak lelaki meskipun lebih muda dari usia korban."
"tapi setahuku hubungan mereka baik-baik saja dulu."
Suya tidak percaya jika dalang dari kejadian itu bisa saja ada campur tangan dari keluarga Minho.
"jika sudah dikuasai sifat serakah, maka siapapun tidak peduli dengan rasa persaudaraan." imbuh Lin.
"lalu apa kamu dapat info siapa saja mereka?"
"tidak, aku tidak berhasil mendapatkan identitas mereka. Jaringanku tidak bisa menembus pertahanan mereka,"
"sial. Lalu apa yang bisa kita lakukan selanjutnya?"
"ada satu cara untuk mendapatkan informasi anggota dari BlackBat..."
"apa itu?" Suya begitu antusias mendengarnya.
"minta bantuan Mowe,"
"apa? Mowe?"
"mereka adalah kelompok terbesar di negara ini. Mereka pasti dapat dengan mudah memasuki jaringan mereka untuk mencari informasi."
"aku tahu jika mereka penguasa disini, tapi apa jaminannya mereka bisa bantu kita?"
Suya yang awalnya antusias menjadi sedikit putus asa setelah Lin mengatakan bahwa saat ini satu-satunya yang bisa bantu mereka adalah kelompok dari Mowe, yang mana itu adalah kelompok milik ayahnya sendiri.
Suya sudah menggeluti dunia bawah bersama ayahnya sejak dia berusia 9 tahun. Suya mempunyai intuisi yang kuat dan juga pemberani, itulah yang membuat ayahnya mengajaknya kedalam dunia bawah dan Suya sama sekali tidak menolak itu semua. Suya bisa mengakses seluruh jaringan Mowe sejak saat dia bergabung.
Namun sejak kematian Minho, ayahnya memberikan larangan pada seluruh anggota kelompok untuk tidak pernah membantunya dalam bentuk apapun kecuali itu perintah langsung dari ayahnya. Karena itulah sampai saat ini dia tidak bisa menyelesaikan penyelidikannya tentang kasus itu.
"kita hanya perlu meminta mereka mencarikan data anggota pada tahun itu aja. Sisanya aku yang akan mengerjakan." imbuh Lin,
"orang kecil seperti kita bagaimana bisa berkomunikasi dengan mereka?" elak Suya.
"itulah masalahnya. Aku dengar pemimpin mereka sedang tidak ada di negara ini, ini juga akan semakin mempersulit kita. Atau aku akan coba minta bantuan ayahku untuk menghubungi mereka..."
"jangan!" bentak Suya.
"kenapa? Ini kesempatan kita satu-satunya,"
"papa pasti akan curiga padaku jika ada yang meminta bantuan Mowe tentang kasus ini,"
"aku tidak mau ada yang tahu kalau aku menyelidiki kasus ini,"
"tunggu dulu, jika memang kamu tidak mau meminta bantuan mereka, untuk apa kamu menyelidiki ini semua? Mereka satu-satunya yang bisa bantu kita. Kamu tenang saja, aku akan membuat seolah-olah emang kelompok kami yang perlu informasi itu."
Suya masih mempertimbangkan usulan Lin. Apapun alasan kelompok Lin pada Mowe nantinya, pasti akan menimbulkan kecurigaan. Ayahnya pasti akan menyelidiki balik kelompoknya Lin. Suya tidak berani mengambil resiko itu. Jika sampai ayahnya tahu kalau dia diam-diam masih menyelidiki semua ini dia pasti akan mendapat hukuman dari ayahnya.
"bagaimana?" bujuk Lin.
"terimakasih untuk semua informasi malam ini. Aku pergi dulu," ucap Suya,
"tunggu! Jadi kamu akan menyerah?"
Setelah mengatakannya, Suya beranjak pergi dari tempat itu. Dia harus memutar otak untuk bisa mendapatkan informasi anggota BlackBat. Dia tidak mungkin meminta bantuan bos Yang, levelnya jauh dibawah Lin.
Keluarga Lin adalah keluarga mafia level 3. Begitu juga dengan BlackBat. Karena mereka berada dilevel yang sama itulah yang membuat Lin sulit untuk menembus pertahanan mereka. Untuk meminta bantuan kelompok level 2 tidaklah mudah. Mereka biasanya akan lebih berhati-hati karena setiap kerjasama akan rentan pada penghianatan.
**
Jiho mengikuti Suya dengan hati-hati, jangan sampai Suya menyadari kehadirannya. Dia hampir saja kehilangan jejak Suya di persimpangan terakhir. Namun Jiho langsung mencurigai sebuah gang kecil yang ada di samping sebuah ruko. Jiho segera menyusuri gang itu dan dalam beberapa meter dia berhasil menemukan Suya yang sedang berbincang dengan orangnya Lin di depan pintu masuk.
Jiho tidak mungkin ikut masuk. Dia memutari lokasi itu untuk mencari celah agar dia bisa melihat keadaan didalam. Dia yakin Suya pasti menemui orang aneh lagi kali ini. Akhirnya Jiho menemukan sebuah celah dibelakang bangunan. Dia menyelinap untuk melihat maupun menguping kegiatan Suya.
"bukankah itu Lin?..." gumam Jiho.
Jiho melihat Suya sedang berbicara dengan Lin, tampang mereka sangat serius.
"...file apa yang diberikan Lin padanya?..."
Jiho menyaksikan gerak-gerik mereka dengan seksama. Namun karena jaraknya cukup jauh, dia tidak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan.
"...apa ini maksudnya berteman dengan tujuan yang sama? Sebenarnya masalah apa yang sedang dihadapinya?..."
"jangan!"
Satu-satunya yang mampu Jiho dengar hanyalah teriakan Suya satu itu.
"...sial, kenapa aku tidak dengar apapun. Apa mungkin mereka terlibat dengan dunia mafia?...
Jiho tetap mencoba menajamkan pendengarannya meskipun dia sama sekali tidak mampu mendengarkan apapun obrolan mereka.
"...jika Lin aku tidak heran, tapi kenapa Suya harus ikut dalam dunia itu.."
Meskipun Jiho tidak pernah terlibat dengan dunia bawah, namun dia mengetahui seluk beluk dunia itu dari ayahnya yang merupakan anggota kepolisian. Hal itu dia ketahui ketika ayahnya memiliki kerjasama dengan salah satu mafia untuk membasmi para pengedar narkoba.
"...apa yang sebenarnya mereka bicarakan.."
"...Suya keluar, aku harus mengikutinya,"
Jiho segera meninggalkan tempat itu dan kembali mengikuti Suya. Kali ini Suya sepertinya tidak berjalan ke arah taman yang selalu dia kunjungi.
"siaaalll..." teriak Suya.
Suya berhenti di sebuah danau di pinggiran kota. Dia berteriak untuk meluapkan kekecewaannya malam ini. Mukanya tampak masam sejak keluar dari tempat Lin.
"apa aku harus bertanya pada Lin apa yang sebenarnya terjadi? Tapi pasti Lin akan mengatakannya pada Suya dan Lin pasti juga akan bungkam," gumam Jiho.
Jiho tidak berani mendekati Suya. Dia hanya memperhatikan Suya dari kejauhan. Sebenarnya dia ingin mendekat, namun melihat suasana hati Suya sedang buruk membuatnya mengurungkan niat itu. Jika sampai dia menampakkan diri, hal itu pasti akan membuat Suya semakin marah.
Suya duduk di pinggiran danau, tangannya dia rentangkan ke belakang untuk menopang tubuhnya, kepalanya menengadah keatas. Raut wajahnya terlihat sangat lelah. Sesekali dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan berat.
Jarak Jiho berdiri dengan tempat Suya tidaklah jauh. Mereka hanya berjarak sekitar 10 meter. Jiho bersembunyi dibalik pohon besar di belakang Suya.
Suya merebahkan badannya. Pandangannya mengarah lurus ke arah bintang-bintang di langit. Perlahan dia memejamkan matanya lalu meletakkan tangan kirinya pada keningnya, dia kembali menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya.
"andai saja kamu masih ada disini..." gumamnya.
"...aku tentu tidak perlu melewati semua ini..."
Tanpa sadar airmata Suya menetes. Suya menyeka airmata dengan tangan kanannya.
"...aku ingin menyerah..."
'hiks..hiks..'
"...aku lelah..."
Airmatanya terus mengalir meskipun dia berusaha untuk menyekanya.
"...apakah jika aku berhasil akan memberikan hal yang lebih baik?..."
"...meskipun aku menemukan mereka, kamu tetap tidak akan kembali padaku, kan?..."
'hiks..'
"...kamu tetap saja meninggalkanku..."
"...tapi..."
'hiks..'
"...aku juga tidak bisa melepaskan mereka begitu saja..."
'hiks..hiks..hiks..'
"...apa yang harus aku lakukan?..."
"...haruskah aku menyusulmu?"
Suya menangis sejadi-jadinya malam ini. Dia seperti sudah menahan airmata ini terlalu lama dan akhirnya meluapkan semua malam ini.
Jiho mampu mendengar dengan jelas semua keluhan yang Suya ucapkan. Muka kejam yang selalu Suya pasang ternyata memiliki masa menyedihkan seperti ini. Orang yang selalu saja berkata kasar padanya ternyata bisa menangis sesegukan seorang diri seperti ini.
Jiho juga merasakan hatinya terluka setiap mendengar keluhan Suya. Seolah dia juga merasakan kepedihan yang Suya rasakan. Bahkan saat Suya mengatakan kalimat terakhirnya hampir saja Jiho ingin mencegah Suya agar tidak berpikiran pendek seperti itu. Namun tentu saja Jiho menahannya.
"ini adalah kali pertama aku melihatmu seputus asa ini, aku harap ini adalah yang terakhir kali. Aku juga minta maaf karena selalu berpikiran buruk padamu tanpa tahu kesulitan yang telah kamu alami," gumam Jiho.
Jiho melihat Suya sudah tidak lagi bergumam, sepertinya dia tertidur setelah kelelahan menangis. Dia pun berjalan ke arah Suya. Dugaannya ternyata benar, Suya tertidur.
Jiho memandangi wajah Suya. Dia ingat betul raut wajah Suya saat tertidur kala di kelas waktu itu. Wajahnya nampak hangat tanpa amarah sedikitpun. Namun malam ini, Jiho bisa melihat dengan jelas bahwa raut wajah putus asa tergambar dengan jelas meskipun Suya sedang tertidur.
Hal itu membuat hatinya sedikit terluka. Ingin sekali dia memeluk Suya sembari membual bahwa semua akan baik-baik saja. Tapi dia takut jika hal itu akan semakin membuat Suya merasa kesal.
Jiho memberanikan diri untuk menyeka airmata Suya. Dia tidak peduli jika Suya akan bangun dan memakinya. Tapi pada nyatanya Suya sama sekali tidak terbangun saat Jiho menyeka airmatanya.
Jiho segera kembali ke balik pohon agar Suya tidak mengetahui kehadirannya ketika bangun nanti. Jiho dengan sabar menunggu Suya. Pandangannya sama sekali tidak bisa lepas dari Suya. Perasaannya ikutan kacau malam ini.
Setelah hampir 1 jam akhirnya Suya terbangun. Dia segera beranjak pergi dan kembali ke apartemen.
"ternyata dia benar tinggal disini, tapi atas nama siapa?" gumam Jiho.
Jiho sengaja mengikuti Suya karena takut sesuatu hal yang buruk menimpa Suya disaat suasana hatinya sedang kacau.
***
'*tiiiiiinnnn..'
'brak*!'
"bangun, kak.."
"huaaa.."
"...kak bangun..."