He Is A Girl

He Is A Girl
07 Trauma



"Ingat, kalian harus selalu menjaga kesehatan, seorang atlet bukanlah apa-apa jika kesehatannya buruk. Seperti yang kalian dengar, Jack, Vino dan Alex mengalami kecelakaan saat hendak latihan. Untuk saat ini tim kita selain kehilangan pemain cadangan juga kekurangan satu pemain. Terpaksa kita akan adakan seleksi pemain sementara. Apa dari kalian ada kandidat yang mumpuni?" Ujar pelatih tim basket.


"Ada pak," sahut Titan.


"Siapa?"


'Panggilan kepada siswa bernama Oh Suya untuk segera menemui pak Choi dilapangan basket sekolah.'


"Bapak mencari saya?" Ucap Suya begitu sampai dilapangan.


Perasaannya sudah mulai curiga begitu melihat anak basket sedang disana bersamaan dengan pak Choi.


"Suya, begini..."


"Tunggu sebentar pak,..."


Belum sempat pak Choi menjelaskan kondisinya, Suya sudah mengerti tujuan pak Choi.


"...jika bapak ingin saya main basket untuk olimpiade bulan depan, maaf pak, bapak salah orang, saya tidak bisa bermain basket." Tegas Suya.


"Bohong, pak." Titan menyanggah pernyataan Suya.


"Untuk apa aku bohong? Saya memang gak bisa bermain basket." Tolaknya lagi.


"Titan benar pak..." tiba-tiba Jiho angkat bicara,


"...beberapa hari setelah dia pindah kesini saya melihatnya bermain seorang diri di taman K, bahkan dia mampu memasukkan bola dari tengah lapangan dalam sekali lemparan."


"Kau!" Suya nampak tidak terima dengan ucapan Jiho.


"Kalau kamu bisa masukkan dari tengah lapangan bukankah keahlianmu sungguh bagus? Kamu yakin tidak ingin gabung dengan tim basket?"


"Maaf, pak. Saya gak bisa, saya permisi."


"Suya, tunggu. Coba kamu pikirkan lagi, tim basket saat ini kekurangan satu pemain dan bahkan tidak memiliki pemain cadangan. Tolong bantu sekali saja jika kamu tidak mau bergabung selanjutnya." Bujuk pak Choi.


"Sekali lagi saya minta maaf pak. Saya memiliki alasan pribadi yang tidak bisa saya sampaikan."


"Ah, begitu? Baiklah. Jika kamu berubah pikiran segera kabari bapak."


Suya segera meninggalkan lapangan basket.


..


"Wah, kamu benar-benar berbakat. Mulai bulan depan kamu bisa bekerja disini."


Suya berhasil lolos tes untuk menjadi pelatih karate diclub Zhang. Meski sedang kelelahan namun perasaan senang tak mampu dia sembunyikan. Dia pun segera bergegas menuju kafe untuk kembali bekerja. Kedepannya dia akan jauh lebih sibuk dari hari ini saat dia sudah menjadi pelatih karate.


"Maaf bu saya terlambat." Ucap Suya begitu memasuki kafe.


Diapun segera berganti baju dan bersiap untuk bekerja. Seperti biasanya, sejak Suya disini kafe jadi semakin ramai. Sesuai dengan permintaan Suya pula, dia sudah mendapatkan rekan kerja.


"Hai, aku Robin, semoga kedepannya kita bisa berteman baik." Rekan kerjanya yang baru dia temui kali ini mengulurkan tangannya untuk mengajaknya berteman.


"Baik, aku Suya. Mohon bantuannya."


Merekapun kembali bekerja.


..


"Dia gak datang lagi,"


Lagi-lagi Jiho menunggu Suya dilapangan basket waktu itu. Entah kenapa dia selalu merasakan ada sesuatu yang membuatnya ingin selalu mengetahui segala hal tentang Suya.


"Ah, aku tahu."


Jiho segera bergegas menuju suatu tempat.


"Benar dugaanku." Ucap Jiho lirih.


"Hai," sapa Jiho,


"Kamu? Ngapain kamu disini?" Suya begitu terkejut melihat Jiho yang tiba-tiba datang menyapanya.


Setiap pulang dari kafe, Suya selalu mendatangi taman dimana dia berada saat ini. Taman ini cukup jauh dari kota, sehingga suasananya sangat hening dan tenang.


"Menemui seseorang." Sahut Jiho,


"Owh, kalau gitu silakan, biar aku yang pergi." Suya pun bangkit dari duduknya.


"Kamu tidak penasaran siapa yang akan aku temui?" Jiho coba memancing reaksi Suya padanya.


"Bukan urusanku, selamat tinggal." Dengan sikap masa bodoh Suya berjalan menjauh dari Jiho.


"Aku menunggumu..." teriak Jiho, membuat langkah Suya tiba-tiba berhenti.


"...sejak melihatmu dilapangan basket saat itu aku selalu datang kesana dan menunggumu tapi kamu tak pernah datang lagi. Lalu tadi aku ingat kita pernah bertemu disini jadi aku datang kesini dan dugaanku benar, kita bertemu lagi."


"Hei Seo Jiho! Kamu gila!? Jangan-jangan kamu.., hei asal kamu tahu, aku ini masih normal!" Pekik Suya.


"Hei! Bukan itu maksudku!" Elak Jiho.


Suya membalikkan badannya dan berjalan mendekat kearah Jiho. Dia cengkeram kerah baju Jiho,


"Dan asal kamu tahu juga, aku tidak sesantai itu untuk menanggapi semua omong kosongmu. Tapi aku cukup santai untuk menghabisimu malam ini juga." Ancamnya pada Jiho.


"Entah apa yang kamu pikirkan. Tapi bukan itu maksudku. Aku hanya penasaran padamu. Dengan mataku sendiri aku melihatmu bermain basket dengan begitu hebat tapi kamu menolak untuk bergabung dengan tim basket padahal bulan depan tim akan bermain untuk pertadingan internasional yang mana akan membuka jalan untuk menunjukkan kemampuan kita pada dunia. Aku sangat penasaran dengan itu."


"Kamu pikir semua orang yang bisa menyanyi memiliki keinginan untuk menjadi penyanyi?! Kamu harus tahu bahwa itu hanya sebuah hobi. Hobi!. Dan kita bukan teman yang baik sehingga harus saling bercerita kenapa. Berhentilah untuk ingin tahu atau aku akan menghabisimu!"


"Oke! Mari kita tanding, kalau kamu menang aku akan berhenti mencaritahu, tapi jika kamu kalah, kamu harus menjawab dua pertanyaan dariku."


"Bertanding apa maksudmu?"


"Kamu bilang akan menghabisiku? Apalagi yang kamu ragukan?"


"Oke, kamu sendiri yang memintanya."


Keduanya mengambil ancang-ancang dan saling meregangkan otot. Mereka memutuskan untuk benar-benar berkelahi malam ini. Suasana sekitar sangat sunyi, akan mustahil untuk orang datang saat ini.


"Aku tidak mau bertanggung jawab untuk semua lukamu nanti."


"Kita bahkan belum memulai, kenapa kamu begitu yakin?" Ledek Suya,


"*Meski bukan saatnya untuk sombong, tapi apa dia tidak tahu kalau aku selain kapten basket aku juga kapten club karate."


'Bugh,,'


'Bugh..bugh*..'


Keduanya selalu mencoba menyerang, namun keduanya juga pandai dalam pertahanan.


"Teknikmu oke juga." Puji Jiho.


"Fokuslah. Sekali kamu lengah, kamu akan menyesalinya."


Tatapan penuh kebencian terpancar dari keduanya. Serangan demi serangan mereka layangkan meski belum memberikan efek yang cukup berarti. Beberapa saat mereka masih saja mampu mempertahankan diri masing-masing. Namun, saat mencoba menghindari pukulan dari Suya tiba-tiba Jiho melangkah mundur dan punggungnya menabrak lampu taman, sialnya lampu itu terjatuh dan mengenai pergelangan tangannya.


"Aww..." pekiknya.


Mesti itu tidak membuatnya terluka, tapi itu cukup membuatnya terkejut. Akan tetapi, fokusnya terpecah saat melihat kearah Suya. Wajah Suya nampak pucat pasi dan juga gelisah. Tanpa tersadar Suya bergerak menjauh dari Jiho dengan panik.


"Hei, kamu baik-baik saja?" Tanya Jiho yang sedikit khawatir.


Namun Suya sepertinya tidak memperhatikan ucapan Jiho itu. Pikirannya seperti sedang kosong.


"Kami sudah mencoba yang terbaik."


"Enggak, enggak." Gumam Suya.


Tubuhnya seolah-olah diluar kendalinya.


"Cideranya terlalu parah."


"Tidaak...tidak mungkin." Gumam Suya dengan panik.


Jiho semakin dibuat khawatir saat menyaksikan Suya yang seperti orang ketakutan. Suya seolah-olah kehilangan kesadarannya. Pikirannya kembali terngiang dengan kejadian kelam dimasalalunya. Dia menjerit ketakutan.


"Hei! Suya! Sadarlah. Kamu kenapa!"


"Tidaaakkk...." Suya sama sekali tidak mampu merespon ucapannya Jiho.


"Tidak..tidak mungkin..kakak..itu tidak mung..."


'Bruk'


Suya jatuh pingsan.


"Suya! Hei! Bangun."


Jiho coba membangunkan Suya, namun Suya tidak juga sadarkan diri. Dia segera menggendong Suya dan berlari menuju rumah sakit. Kekhawatirannya semakin menjadi-jadi melihat kondisi Suya yang biasanya begitu kejam dan dingin tiba-tiba menjadi lemah tak berdaya seperti ini.


..


"Dia sudah baik-baik saja. Berdasarkan penjelasanmu tadi, mungkin saja pasien memiliki trauma dimasalalu dan ada kejadian yang membuatnya teringat kembali,"


"Trauma?"


"Iya. Apa dia pernah mengalami kecelakaan sebelumnya?"


"Ah, saya kurang paham, dok. Saya berteman dengannya belum lama ini."


"Baiklah, pasien besok sudah boleh pulang. Jadi tidak usah khawatir."


"Baik, dok. Terimakasih."


"Trauma? Kenapa kamu menyimpan banyak sekali teka-teki? Ah, benar, Seori. Aku bisa menanyakan ini padanya."


..


"Apa? Kamu pikir aku akan mengatakan apapun hanya karena kamu teman sekelasnya Suya? Jangan harap."


"Kenapa tidak? Aku hanya ingin tahu apa dia punya trauma, itu saja."


"Bukan karena sikap cueknya!"


"Lalu kalau bukan sik...tunggu, jangan bilang kamu melihatnya?"


"Ya. Tadi malam."


"Kau! Aku tidak peduli seberapa baiknya kamu bagi semua orang. Tapi kalau kamu sampai membuat Suya mengingat rasa sakitnya lagi, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri. Ingat itu!"


"Katakan padaku. Apa masalahnya."


"Aku tidak akan bicara apapun. Dan jika apa yang kamu lihat sampai diketahui orang lain, maka aku benar-benar akan menghabisimu!"


Setelah mengancam Jiho, Seori segera pergi dengan kesal. Ingin sekali rasanya dia menghajar Jiho saat itu juga, namun dia tidak boleh bersikap gegabah.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa Seori seolah-olah tidak ingin siapapun tahu tentang ini. Apa aku harus bertanya langsung pada Suya? Tapi dilihat dari tabiatnya, dia tidak akan mungkin mau memberitahuku. Aku harus selidiki sendiri."


..


"Baik, simpan semua buku kalian, kita akan mulai ujian kali ini." Ucap pak Kim.


"Tunggu, pak." Sela ketua kelas.


"Ada apa Jae?"


"Suya belum datang, pak."


"Ah, Suya hari ini izin karena sedang sakit." Jelas pak Kim


"Sakit?" Teriak Hanna dan Somi secara serentak.


"Iya, tadi pihak rumah sakit sudah menghubungi bapak untuk izin Suya."


"Rumah sakit? Apa dia sakit parah, pak?"


"Bapak masih belum tahu. Kalian bisa menjenguknya nanti, sekarang mari kita fokus pada ujian dulu."


"Baik, pak."


"Jadi dia masih dirawat?"


..


"Riri? Kamu kenapa disini?"


Hari masih pagi, bukannya berada di sekolah tapi Seori justru menemui Suya di rumah sakit.


"Apa kamu kira setelah mendengarmu disini aku bisa sekolah dengan tenang?"


"Cih, omong kosong macam apa itu?"


"Kamu baik-baik saja?"


"Ya, aku baik-baik saja. Bisa kamu urus kepulanganku sekarang? Aku tidak bisa disini terlalu lama."


"Entah karena jenuh atau karena luka lama itu. Kenapa kamu masih memikirkannya?"


"Baiklah, tunggu sebentar."


Sesaat setelah Seori keluar Suya menyandarkan tubuhnya pada ranjangnya. Dia mencoba menenangkan pikirannya, mencoba berdamai pada dirinya sendiri.


"Kenapa?..." Ucapnya lirih.


"Kenapa setelah cukup lama kamu muncul lagi?" Keluhnya lagi.


Suya tidak menyalahkan siapapun. Dia hanya menyalahkan semua kenangannya dimasa kelam dulu. Kenangan yang sudah dia kubur dalam-dalam beberapa tahun terakhir tiba-tiba muncul kembali. Tak selang berapa lama Seori kembali, dan mereka berdua pun pulang ke apartemen Suya.


"Sudah pulang?"


"Iya, pasien pulang tadi pagi."


"Baik, terimakasih, sus."


"Iya,"


Sepulang sekolah Jiho segera menyusul Suya ke rumah sakit, namun sayangnya Suya sudah pulang sejak pagi tadi.


Keesokan harinya Suya sudah kembali ke sekolah. Selain luka lebam diujung bibirnya, tidak ada hal lain yang menunjukkan kalau dia habis sakit.


"Suya, kamu baik-baik saja?"


Beberapa siswa mengerumuninya sesaat setelah dia memasuki kelas.


"Ya, seperti yang kalian lihat, aku baik-baik saja."


"Syukurlah, kalau begitu."


"Hei, Suya!" Napas Jae nampak terengah-engah.


"Kenapa?"


"Yuna dan gadismu sedang berkelahi dilobi."


"Apa? Cari mati anak itu."


Suya bergegas menuju lobi.


"Jae! Kenapa kamu kasih tahu Suya? Kamu harusnya lapor dengan guru. Kamu mau memperburuk hubungan Suya dan Yuna? Apalagi Suya baru saja pulang dari rumah sakit." Ucap Somi.


"Kamu pikir kamu siapa, ha!"


"Kamu pikir kamu penting bagi Suya?"


"Asal kamu tahu, sebentar lagi dia akan jadi kekasihku!"


"Ha ha! Kamu terlalu menghayal. Sampai kiamatpun Suya tidak akan pernah mau pacaran sama kamu!"


Keduanya saling beradu argumen sembari saling jambak satu sama lain.


"Stop!" Teriak Suya.


Keduanya meregangkan jambakan masing-masing.


"Lim Yuna! Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak mengganggu Seori! Dan Seori, kamu tidak perlu menanggapinya, kamu tidak perlu berurusan pada hal-hal yang tidak penting!"


"Dia duluan yang datang-datang langsung narik rambutku."


"Kamu harusnya segera melepaskan diri, bukannya malah terlarut didalamnya. Ayo, aku antar kamu ke kelas. Dan kamu Yuna, ini terakhir kalinya aku memperingatkanmu! Kamu juga jangan lagi muncul dalam kehidupanku!"


"Bye, bye loser!" Ledek Seori pada Yuna.


Yuna tak mampu melakukan apapun karena ada Suya. Ini adalah kekesalan kedua setelah dia berjumpa dengan Seori.


Setelah mengantar Seori ke kelas, Suya segera kembali.


"Suya? Bagaimana? Apa yang kamu lakukan?" Ucap Jae dengan penasaran.


"Apanya? Aku hanya memisahkan mereka."


"Sungguh? Kamu tidak melukai Yuna, kan?"


"Inginku, tapi aku masih mampu menahannya kali ini. Tapi lain kali kalau dia buat masalah lagi dengan Seori, aku akan menghancurkannya. Bukan hanya Yuna, tapi siapapun."


"Huft, syukurlah." Jae merasa lega mendengar pernyataan Suya.


"Sebenarnya apa hubungan Suya dengan gadis itu? Kenapa dia begitu perhatian? Dan kenapa hatiku rasanya sakit? Ah, sial! Kenapa sih aku selalu penasaran siapa dia sebenarnya."


"Apa dia pacarmu?" Tanya Jiho yang tak mampu menahan rasa penasarannya.


Tanpa menjawab apapun, Suya berlalu dan kembali kekursinya.


"Apa dia mengabaikanku gara-gara masalah waktu itu?"


Pelajaran berlangsung lancar seperti biasanya. Saat jam istirahat tiba, Suya bergegas meninggalkan kelas, namun Jiho menghadangnya.


"Minggir!" Tegas Suya.


"Kalau aku menolak?"


"Ada apa dengan mereka?"


"Aku bilang minggir!"


"Aku tidak mau. Bagaimana jika kita menyelesaikan urusan kita malam itu."


"Kau..."


'Bugh'


Suya melayangkan pukulan pada Jiho, membuatnya jatuh tersungkur.


"...itulah akibat jika mengganggu jalanku." Ucap Suya seraya pergi meninggalkan kelas.


"Jiho, kamu baik-baik saja?"


Titan menghampirinya dan memapahnya berdiri.


"Aku baik-baik saja."


"Kamu ada urusan apa dengan Suya? Dan jika aku perhatikan, dia sepertinya sengaja menghindarimu."


"Entahlah, itu yang juga ingin aku tanyakan."


"Meskipun sejak dia kesini dia sudah dengan sikap dingin dan cueknya, tapi kali ini agak terlihat berbeda. Seperti ada masalah lain."


Jiho hanya terdiam. Dia paham betul alasan kenapa Suya tiba-tiba lebih dingin terhadapnya.


Waktu berlalu dengan cepat. Tanpa disadari dua minggu telah berlalu. Kesibukan Suya juga sedikit bertambah sejak dia bekerja ditempat karate. Namun itu bukan masalah baginya, selama itu membuatnya nyaman dia akan melakukannya.


Pertandingan basket sma yeju juga sudah berlangsung. Dan sma yeju berhasil mendapatkan hasil yang memuaskan dengan membawa pulang tropi kemenangan. Meski bangga atas kemenangannya dengan timnya, namun ada yang mengganjal dalam benak Jiho beberapa hari terakhir. Sejak kejadian saat itu, Suya benar-benar menghindari Jiho. Suya bahkan tidak pernah lagi datang ketaman itu setelah bekerja, padahal Jiho setiap malam menunggunya disana.