He Is A Girl

He Is A Girl
16 Kalah dan Menang



"Yeju.. Yeju.. Yeju.. Yeju.."


Sorakan murid dari sma Yeju dari bangku penonton terdengar begitu nyaring. Sebentar lagi pertandingan basket final akan dimulai. Dalam perempatan final sebelumnya, tim A berhasil dimenangkan oleh club Lion dan tim B berhasil dimenangkan oleh sma Yeju. Dibabak final kali ini akan dipertemukan antara club Lion dengan sma Yeju.


Antusias penonton sangat meluap dan tidak sabar untuk menyaksikan pertandingan ini. Performa kedua tim saat babak semi final sangatlah menakjubkan. Tim lawan hampir tidak bisa meraih setengah dari poin yang mereka kumpulkan.


"Lion.. Lion.. Lion.."


"Suya, bagaimana jika kami menang? Apa kamu akan sedih untuk sekolahmu?" ucap Lin,


"Sudah kukatakan jangan panggil namaku, orang lain bisa mendengarnya dan curiga dengan kita. Aku tidak peduli siapa yang menang, yang pasti aku hanya ingin membantu Jimmy dengan beasiswanya, terlepas dengan menang pertandingan ini atau tidak." ucap Suya.


"Apa kamu yakin bisa setenang itu jika sekolahmu kalah?"


"Aku sudah bilang aku tidak peduli, lagipula aku juga hanya seorang murid baru. Dan mereka juga sudah banyak mengumpulkan medali, tidak akan ada efeknya jika kalah kali ini. Yang aku pikirkan justru jika kalian kalah. Bagaimana aku bisa punya muka di sekolah selanjutnya. Jadi, daripada kamu khawatir akan perasaanku, lebih baik kamu fokus untuk menang agar aku juga tidak perlu susah-susah cari cara untuk Jimmy."


"Baiklah, ini adalah pertandingan pertama sejak kamu membantu Lion. Bahkan pelatih kami saja sempat memuji kami karena memiliki performa yang meningkat. Aku tidak akan mengecewakanmu, aku akan berusaha semaksimal mungkin. Aku tidak janji tapi akan aku usaha piala itu jatuh ke Lion." ucap Lin dengan penuh antusias.


"Bukan hanya kamu, tapi kalian semua. Kalian adalah satu tim."


"Baiklah,"


.


"Meski memakai masker, aku bisa melihat dengan jelas jika itu adalah Suya. Kenapa dia berdiri dikubu Lion? Apa sebenarnya tujuan dia datang kesini."


"Jiho, kamu ngelamunin apa?" tegur Hero.


"Bukan apa-apa kok, jangan lupa untuk terus fokus. Kali ini lawan kita tidak mudah." sahut Jiho.


"Baik. Oh ya, apa kamu tidak merasa jika pria bermasker itu seperti Suya? Seperti malam itu."


"Cukup kamu saja yang mengetahuinya, jangan bilang pada siapapun."


"Baiklah,"


Pertandinganpun dimulai, persaingan terasa begitu sengit. Selisih poinnya sedari tadi juga sangatlah tipis. Tidak bisa ditebak pasti siapa yang akan memenangkan pertandingan kali ini. Keduanya saling salip menyalip dalam mengungguli poin musuh.


"*Yeju.. Yeju.."


"Lion.. Lion.. Lion*.."


"Yaa.. babak pertama sementara tim Yeju unggul 3 poin. Akankah tim Lion mampu membalikkan keadaan dibabak selanjutnya? Mari kita saksikan kembali.."


..


"Tuan, Hyuk melaporkan jika Suya menjadi pelatih tim lawan Yeju. Akhir-akhir ini sejak kasus nona Seori, Suya lebih aktif dan beberapa kali Hyuk kehilangan jejaknya."


"Anak ini semakin hari semakin kurang ajar. Kamu kirim beberapa orang untuk membantu Hyuk mengawasinya. Jangan sampai dia melakukan tindakan yang berbahaya."


"Baik, Tuan."


"Sayang, apa tidak sebaiknya kita bawa dia pulang saja? Setidaknya disini banyak orang-orang kita yang akan mengawasinya" ucap Sooji, mama dari Suya.


"Sayang, disana juga banyak orang kita. Kita hanya perlu menugaskan mereka untuk mengawasi Suya lebih ketat lagi."


"Tapi kenapa kamu harus mengirimnya kesana? Jelas-jelas tempat itulah yang melukainya."


"Biarkan dia belajar menerima kenyataan kalau Minho memang sudah tiada dan tidak perlu dia mengingat-ingat semua hal itu. Biarkan dia tetap sibuk disana sampai kita bisa menemukan pelakunya duluan."


"Lalu apa sudah ada info dimana pelakunya?"


"Info terakhir yang papa dapatkan mereka ada di negara F, tapi kita tidak memiliki wilayah disana, jadi tidak mudah untuk mendapatkan informasi. Orang-orang disana juga terkenal dengan bayaran yang tinggi. Dalam bekerjasama dengan orang luar mereka tidak peduli dengan kesetiaan selama ada uang."


"Apa perlu mama hubungi teman mama? Mama punya beberapa kenalan disana meskipun mereka tidak memiliki pengaruh yang besar."


"Maksud papa kelompok itu?"


"Papa gak punya pilihan lain. Mereka adalah satu-satunya yang bisa membantu kita."


"Lebih baik kita pikirkan cara lain saja. Mama merasa tidak tenang jika kita harus bekerjasama dengan mereka."


"Baiklah, kita bahas lagi lain waktu."


..


"3 poin, tembakan Jiho tepat dan tim Yeju mendapatkan 3 poin, dengan ini sma Yeju memenangkan babak final kali ini dengan hasil akhir 123 poin untuk tim Lion dan 124 poin untuk tim Yeju. Pertandingan yang sengit dan menegangkan kali ini dimenangkan oleh sma Yeju..."


"yeeaayyy.."


Sorakan bahagia terucap dengan lantang dari penonton sma Yeju.


Dari kejauhan Suya tersenyum kecil. Meski dirinya sedikit kecewa karena tim besutannya kalah, tapi dia tetap bangga karena yang mengalahkan adalah siswa dari sekolahnya sendiri.


Lion pun mendekat kearah Suya,


"Maaf karena kami gagal memenangkan pertandingan ini." ucap Lin dengan nada penuh kekecewaan.


"Tidak masalah, ini hanya sebuah pertandingan. Sudah menjadi hukum alam antara menjadi menang dan kalah dalam sebuah kompetisi. Setidaknya selisih poin juga tidak terlalu memalukan." sahut Suya.


Suya dapat melihat dengan jelas rasa kekecewaan yang tergambar diraut wajah Lin.


"Dan soal Jimmy, kamu tidak usah khawatir. Besok form beasiswa sudah bisa diantarkan ke sekolah kalian. Jimmy dapat melanjutkan pendidikannya." jelas Suya.


"Sungguh? Wah, terimakasih. Mewakili jimmy dan seluruh club aku sungguh mengucapkan terimakasih, aku berjanji akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencari info itu."


"Bagus, kalau begitu aku pergi dulu."


"Meskipun bukan juara pertama, apa kamu tidak ingin menunggu sampai pembagian medali?" tanya Lin.


"Tidak, meskipun kalian menang, aku juga tidak akan menunggu sampai saat itu."


"Baiklah, kalau begitu hati-hati. Sekali lagi terimakasih."


Suya pun beranjak meninggalkan stadion. Dari kejauhan Jiho melihat Suya meninggalkan lapangan. Ingin sekali dia mengejarnya, namun acara belumlah selesai. Sebagai ketua tim, dia tidak mungkin pergi begitu saja.


'drrtt...drrttt..'


"Hallo,"


"Kita bertemu ditempat biasa malam ini, ada hal yang mau aku sampaikan."


"Oke, kita ketemu jam 9."


..


"Selamat ya, kalian benar-benar hebat. Dengan hebat kalian membalikkan keadaan didetik terakhir. Kalian pasti akan jadi pebasket hebat di masa depan." ucap salah seorang penonton pada Jiho.


"Terimakasih." sahut Jiho.


"Ini adalah kartu nama saya. Kemampuanmu sungguh menarik. Jika kamu berniat untuk bergabung dengan club kami, kamu bisa datang ke alamat ini. Kami pasti akan membuat kamu menjadi pebasket yang terkenal kedepannya." ucapnya lagi.


"Terimakasih, kartu ini akan saya simpan dulu. Kalau begitu saya permisi."


..


"Permisi, apa kak Suya ada?"


"Suya? Dia sudah tidak bekerja disini lagi."