He Is A Girl

He Is A Girl
08 Pekerjaan



"Stop!" ucap Titan tiba-tiba menghentikan langkah teman-temannya.


"Kenapa?" Tanya Roy.


"Ada apa?" Imbuh Jiho.


"Lihatlah, bukankah itu Suya?" Ucap Titan sembari menunjuk kearah kafe in.


"Ah, benar. Itu Suya." Sahut Jae yang juga menyadari jika Suya berada didalam sana.


"Gimana kalau kita masuk?" Ajak Titan.


"Mau apa?" Jiho tiba-tiba saja merasa kurang setuju dengan ide Titan.


"Tentu saja untuk beli minuman. Kalian pasti juga haus kan setelah latihan?" Kekeh Titan.


"Iya," sahut beberapa siswa serentak.


Dengan berat hati Jiho mengikuti teman-temannya masuk ke kafe.


"*Apa karena kerja dia jadi tidak pernah ke taman dan main basket disana lagi?"


'Triiing*'


"Selamat datang," sapa Suya dengan ramahnya.


"Mereka?"


"Hei bro!" Sapa Titan dengan keras.


"Siapa mereka?" Bisik Robin pada Suya.


Suya hanya menjawab dengan mengangkat bahunya.


"Wah, ternyata kamu bisa bersikap ramah juga ya," ledek Titan.


"Maaf, mau pesan apa?" Dengan senyum terpaksa Suya coba menahan emosinya.


"Kamu mengabaikanku?" Tiada henti Titan selalu memancing emosi Suya.


Dari kejauhan pemilik kafe memperhatikan mereka.


"Hei, kalau mau ngajak berantem jangan disini! Kalau gak ada niatan untuk beli, lebih baik kalian keluar." Ancaman lirih dia layangkan pada Titan.


"Wah, bagaimana bisa kamu memperlakukan pelanggan seperti itu?" Titan benar-benar tak lelah mengganggu Suya.


"Titan! Cukup. Kamu tidak malu?" Jiho yang merasa kesal coba menghentikan Titan.


"Maaf, ada yang bisa dibantu?"


Tak berselang lama karena merasa ada yang aneh, sang pemilik kafe mendatangi mereka.


"Ah, maaf bu. Teman kami membuat kafe jadi tidak nyaman." Sahut Jiho dengan sopan.


"Ah, maaf. Saya hanya menyapa teman saja." Jelas Titan.


"Oh, jadi kalian temannya Suya?" Ucap pemilik kafe.


"Benar, kami berdua teman sekelasnya, kalau mereka dari lain kelas."


"Sial,  kalau sampai ada masalah aku akan hajar Titan sampai hancur."


"Sekelas?"


"Iya, kami siswa dari sma yeju." Sahut Titan.


"Suya?" Panggil pemilik kafe.


"Iya, bu."


"Kamu segera keruangan saya." Ucap pemilik kafe seraya meninggalkan meja pemesanan.


"Titan! Jika sampai aku kehilangan pekerjaan ini, aku akan membuatmu tidak bisa lagi memegang bola basket!" Ancamnya pada Titan sebelum dia beranjak keruang pemilik kafe.


"Jadi Suya masih siswa sma?" Tanya Robin.


"Iya, apa ada masalah?" Sahut Titan yang merasa ada yang aneh.


'Plak,'


Spontan saja Jiho memukul kepalanya.


"Hei, kamu pikir semua pekerjaan bisa dikerjaan oleh anak sma. Tidak semua orang mau mempekerjakan anak sma, bodoh. Kamu lihat sendiri akibatmu mengganggunya. Kamu masih ada muka buat ajak dia gabung klub basket? Ah, aku bener-bener malu dengan cara pemikiranmu." Keluh Jiho.


"Ah, sial. Aku bahkan tidak tahu soal itu." keluh Titan.


"Ah, kasihan sekali anak itu." Keluh Robin.


"Kasihan?" Sahut Jiho dan Titan serentak.


"Sebenarnya aku ketemu dia juga belum lama ini. Pemilik toko ini adalah bibiku, karena aku sedang libur kuliah, maka bibi memintaku membantu di kafe. Bibi bilang semenjak mempekerjakan Suya kafe jadi ramai tapi Suya bekerja ditempat lain juga sehingga tidak bisa ke kafe setiap hari. Aku dan bibi berpikir mungkin dia anak kuliahan yang sedang mencukupi hidupnya. Aku dengar dari bibi juga bahwa dia hidup seorang diri disini." Jelas Robin.


"Tenyata dia memiliki sisi kelam dibalik sikapnya itu."


"Lalu, apa dia akan dipecat?" Titan jadi sedikit khawatir mendengar ucapan Robin.


"Kenapa? Merasa bersalah?" Cerca Jiho.


"Itu tergantung pada bibi." Sahut Robin dengan pasrah.


"Kalian lebih baik pulang duluan saja. Aku akan menunggu hasilnya dan meminta maaf padanya. Jangan sampai memancing amarahnya saat melihat kita semua masih disini." Pinta Jiho pada teman-temannya.


Titan dan yang lainnyapun meninggalkan kafe.


.


"Maaf, bu. Saya tidak jujur dari awal. Saya bener-bener butuh pekerjaan untuk menyambung hidup juga untuk biaya sekolah saya. Karena saya memang salah, saya tidak keberatan jika ibu akan memecat saya, tapi saya sangat berharap masih bisa bekerja disini." Ucap Suya dengan lembut.


"Ini juga salah saya karena tidak memperjelas kondisimu sebelumnya, saya hanya asal menerima karena saya sangat butuh pekerja. Jadi kamu benar masih siswa sma?"


"Iya, bu."


"Huft, Suya,"


"Iya,"


"Apa sekolahmu baik-baik saja?"


"Ha? Maksud ibu?"


"Kamu masih sma dan harus bekerja, apa sekolahmu baik-baik saja? Apa pekerjaan tidak mengganggu nilai-nilaimu?"


"Ah, soal itu. Ibu tidak perlu khawatir, percaya atau tidak, nilaiku selalu mendekati sempurna."


"Syukurlah kalau begitu."


"Jadi, ibu tidak akan memecat saya?"


"Hah, siapa bilang ibu mau pecat kamu! Kamu hari ini pulang dulu saja. Ibu lihat kamu berusaha dengan keras menahan emosimu saat menghadapi temanmu tadi. Ibu yakin hubungan kalian tidak baik disekolah, jadi kamu tenangkan dirimu dulu. Ibu gak mau emosimu akan berimbas kepada para pelanggan."


"Ah terimakasih, bu. Saya benar-benar gak apa-apa, saya bisa kembali bekerja."


"Pulang sekarang atau saya beneran akan pecat kamu."


"Ah, baiklah. Kalau begitu saya permisi, bu."


Begitu keluar dari ruangan pemilik kafe, Suya segera berganti pakaian dan meninggalkan kafe. Meski sangat penasaran melihat Suya pergi begitu saja, namun Robin menahan diri untuk tidak menanyakan keadaannya untuk saat itu. Lebih baik dia mendengarkan dari bibinya saja.


Jiho perlahan mengikuti Suya dari belakang. Dengan langkah perlahan Suya menuju ke taman, dimana dia tidak pernah pergi ke taman ini lagi sejak kejadian dengan Jiho waktu itu.


'Drrttt...drrtttt...'


HPnya bergetar, sebuah panggilan video.


"Hallo,"


"Where are you?"


"Taman..."


"What? Hei, you should go home, right now! What are you doing there! Don't be crazy!"


"Nothing, i'm just miss him."


Nada suara Suya begitu sendu saat mengucapkan kalimat rindu itu.


.


"Dia sedang merindukan siapa?"


Tanpa disengaja Jiho mendengar semua pembicaraan Suya dengan orang itu.


"Suya, listen to me. I don't care if you wanna be naughty or you'll be another self. But you must know that i won't you miss him even it just a few. I won't you do mistake again."


"Ehm. I'm okey. I just feel..."


"Stop! You didn't wrong. Oke! That's accident."


"Ehm, i know."


"If you know, stop come to park and go home now! Remember me! Don't even come to park again!"


"Ya, btw, why you call me?"


"Nothing, i just wa..."


"Don't worry, i'm fine. I know that Seori told you, right?"


"Promise me! You'll always be happy and never sad or cry again. If you do that all again, i'll pick you up back to Amerika and i'll hold you up in home."


"Yes, sir. I'm promise," sahut Suya dengan senyum kecil.


"Don't be smile, it's fake."


Suya hanya tersenyum kecil mendengar kalimat itu. Dia pun mengakhiri panggilan itu dan bergegas untuk kembali ke apartemen.


.


"Kenapa orang itu melarang Suya pergi ketaman? Dan Seori? Apa mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian waktu itu?" Pikiran Jiho jadi tak terkendali. Rasa penasarannya semakin membesar. Belum juga hal yang sebelumnya dia ketahui tapi sudah ditambah dengan teka-teki lainnya.


..


"Suya," teriak Seori dari kejauhan.


"Hai," balasnya,


"Kamu ada rencana apa akhir pekan ini?"


"Kenapa? Kamu mau ngajak aku kencan?" Ledek Suya,


"Kencan apaan, sabtu besok akan ada pameran seni digedung A, apa kamu bisa temani aku kesana?"


"Ah, maaf. Aku ada kerjaan sabtu ini."


"Hah, kamu sekarang benar-benar sibuk ya," keluh Seori,


"Maaf, sepertinya sekarang aku menjadi pekerja keras demi menyambung hidup, haha,"


"Kamu tertawa setelah berkata seperti itu? Seram sekali."


Keduanya memasuki sekolah sembari bercanda gurau.


.


"Yuna, lihat! Bukankah itu Seori dan Suya?" Ucap Mona.


"Mana?"


"Itu, didekat lobi, mereka sedang bercanda apa sampai tertawa begitu."


Begitu melihat kearah mereka berdua membuat Yuna nampak kesal. Diapun berjalan kearah mereka.


"Yuna kamu mau ngapain?" Pekik Mona,


"Kamu sih pakai acara kasih lihat Yuna segala."


"Hei Seori!"


'Prang..'


"Ah, tanganku." Ucap Seori sembari memegang tangannya yang terasa sedikit terkilir.


"Riri, tanganmu baik-baik saja? Ayo kita kerumah sakit sekarang," ucap Suya dengan penuh kekhawatiran.


"Aku baik-baik saja. Cuma sedikit terkilir mungkin." Seori coba menenangkan Suya karena dia paham betul bagaimana tabiat Suya.


"Lim Yuna!"


Teriakan Suya membuat siswa yang lainnya pun berhenti dan memandang kearah mereka.


"Aw. Kamu kenapa sih? Kenapa kamu begitu bahagia saat bersamanya? Tapi kenapa kamu mengabaikanku selama ini!" Yuna secara spontan mengungkapkan kekesalannya pada Suya.


"Kenapa katamu? Hei! Coba kamu pikirkan baik-baik. Aku pindah baru satu bulan yang lalu tapi kamu begitu ingin mendekatiku padahal sebelumnya kamu sangat tergila-gila dengan Jiho. Kamu pikir orang akan merasakan ketulusan perasaan seperti itu? Jangan gila kamu. Dan asal kamu tahu, aku ini..."


"Suya!"


Seori segera menghentikan ucapan Suya.


"Ah, sial."


'Plak'


Sebuah tamparan bersarang diwajah Yuna. Suya terlihat sangat marah.


.


"Jiho, bukankah itu Suya dan Yuna?"


"Kamu benar, ayo kita kesana."


.


"Apa kamu tahu betapa pentingnya tangan yang sehat untuk seorang pelukis? Jika sampai terjadi sesuatu dengan tangan Seori, aku pastikan kamu akan merasakan hal yang sama. Tidak hanya tamparan kecil saja tapi aku akan menghancurkan wajahmu sampai kamu merasakan malu untuk hidup didunia ini!" Ancaman Suya kali ini tidak main-main.


"Suya, cukup," Seori kembali coba menenangkan Suya.


"Biarkan, biar dia tahu dia sedang berurusan dengan siapa. Ayo, aku bawa kamu ke rumah sakit."


"Baiklah,"


Suya memapah Seori dan memanggil sebuah taksi untuk mengantarnya ke rumah sakit.


Jiho yang menyaksikannya masih tertegun dengan kalimat Suya.


'*Berani-beraninya kamu mau melukai tangan seorang atlet! Gue bunuh juga lo!'


'Apa kamu tahu betapa pentingnya tangan yang sehat untuk seorang pelukis?'


"Saat itu, dia juga aneh setelah lampu menimpa tanganku. Apa semua ini ada hubungannya dengan kenangannya dimasalalunya*?"


"Jiho!" Teriakan Titan membuat Jiho kembali tersadar.


"Ah, ada apa?"


"Apa yang sedang kamu pikirkan?"


"Bukan, apa-apa. Ayo kita kekelas."


..


"Semua baik-baik saja, tangannya akan kembali pulih saat bengkaknya sudah sembuh."


"Ah, syukurlah tidak ada hal buruk." Desah Suya yang merasa lega setelah mendengar penjelasan dokter.


"Hei, yang luka tanganku, kenapa kamu yang begitu tegang?"


"Hehe, iya, ya."


"Hish, dasar. Kalau begitu kami permisi, dok. Terimakasih." Ucap seori.


"Mau kembali ke sekolah?" Tanya Seori.


"Moodku sudah hancur, tidak ada mood lagi untuk kembali ke sekolah."


"Baiklah, bagaimana kalau kita shopping saja?"


"Kenapa tadi kamu menghentikanku?" ucap Suya,


Seori menghentikan langkahnya.


"Suya, jangan sampai kamu mengambil keputusan gegabah dan menyesal dikemudian hari."


"Maksudmu?"


"Aku hanya tidak mau kamu menyesal saja setelah mengatakannya."


"Hem, baiklah."


..


"Kamu mau kemana?"


"Ikut kakak,"


"Ikut? Kakak akan ke club,"


"Iya aku tahu. Apa tidak boleh?"


"Boleh saja,"


Jina dan Jiho berangkat menuju club dimana Jiho mengajar disana.


"Ini gajimu, dan ini bonusnya."


"Bonus? Saya bahkan tidak pernah lembur kenapa dapat bonus?"


"Kamu ingat Reta?"


"Iya, saya beberapa kali membimbingnya. Kenapa, pak?"


"Kemarin dia ikut kompetisi dan berhasil mendapatkan medali emas. Ini adalah medali pertamanya selama dia ikut kompetisi."


"Lalu apa hubungannya dengan saya? Lagipula saya hanya beberapa kali membimbingnya."


"Itu dari sudut pandangmu. Tapi tidak dari sudut pandangnya. Dia berkata pada orangtuanya bahwa dia bisa mendapatkan medali itu karena support darimu, dan orangtuanya merasa berterimakasih makanya memberimu bonus. Mereka datang beberapa hari yang lalu tapi kamu tidak sedang ada jadwal melatih hari itu."


"Ah, begitu. Kalau begitu terima kasih, pak."


"Sama-sama."


"Kalau begitu saya keluar dulu, pak."


"Iya, silakan."


"Yes, kalau gini terus aku tidak perlu khawatir lagi,"


"Kakak?!"


Jina begitu terkejut saat melihat Suya yang baru saja keluar dari kantor pemilik club.


"Kamu?" Suya juga tidak kalah terkejut.


"Kalian saling kenal?" Jiho sendiri juga bingung melihat adiknya dan Suya saling mengenal satu sama lain.


"Ya, dia kakak yang aku ceritakan waktu itu, yang membantuku dari preman." Jelas Jina.


"Apa? Jadi kamu yang menolong adikku?"


"Oh, jadi dia adikmu? Aku tidak berniat menolongnya, hanya kebetulan lewat." Elak suya.


"Aku datang ke apartemen kakak tapi tidak ketemu kakak waktu itu." Ucap Jina.


"Kamu kesana?" Suya sedikit terkejut mendengar kenekatan Jina.


"Iya, beberapa hari setelahnya. Ngomong-ngomong sepertinya kalian berdua saling kenal?"


"Dia adalah Oh Suya teman sekelas kakak, baru pindah bulan lalu."


"Oh begitu. Lalu kak Suya ada urusan apa disini?" Tanya Jina dengan manisnya.


"Kerja." Sahut Suya singkat.


"Apa?!" Jina dan Jiho terkaget dengan jawaban Suya.


"Kamu kerja disini?" Jiho coba menegaskannya kembali.


"Iya. Kenapa?" Sahut suya dengan tenang.


"Jadi kak Suya bekerja disini dan kak Jiho tidak mengetahuinya?"


"Jiho, Jina, kalian disini?"


Pemilik club tiba-tiba muncul,


"Ah, pak Park, apa kabar?" Sapa Jina dengan ramah.


"Baik. Oh iya, kenalkan. Ini adalah Suya, dia yang selama ini menggantikan Jiho saat tidak bekerja." Jelas pak Park.


"Jadi dia bekerja disini?" Pekik Suya.


"Iya, apa ada masalah?"


"Ah, tidak ada, pak. Saya permisi, pak."


"Ah, iya. Hati-hati."


"Pantas saja saat ditaman dia susah sekali dikalahkan, ternyata dia juga seorang pelatih."


Suya pun bergegas meninggalkan club. Dia masih tidak menyangka bahwa Jiho juga menjadi pelatih disana. Kabar ini sungguh mengejutkan baginya, terlebih lagi sudah hampir sebulan terakhir ini dia benar-benar menghindari Jiho. Dia pun jadi bimbang untuk terus bekerja atau tidaknya.


"Jina, kamu pulang sendiri, ya. Kakak ada urusan sebentar."


"Kakak mau kemana?"


"Kamu pulang saja, nanti kakak kabari lagi."


"Hish, dasar. Saya juga permisi, pak."


Jinapun pamit dan berjalan pulang.


.


"Suya, tunggu."


"Mau apa lagi kamu?"


"Apa kamu tidak mau menjelaskan padaku?"


"Hah? Apa yang perlu aku jelaskan?"


"Kenapa kamu bekerja kesana-kemari sementara kamu saja bisa tinggal di apartemen saka?"


"Apa hubungannya apartemen dengan pekerjaanku. Kamu jangan mengada-ada."


"Saka adalah apartemen terbaik dikota ini. Tidak sembarang orang bisa memilikinya..."


"Sial, aku sama sekali tidak tahu akan hal ini. Ayah sudah atur semuanya untukku."


"...apa kamu tidak mau menjelaskannya?"


"Seo Jiho. Rasa penasaran yang berlebihan itu tidak baik, dan jika kamu mengetahui banyak hal tentang sesuatu yang tidak ingin diungkapkan itu akan berbahaya untukmu."


"Aku tidak peduli."


"Hei! Kamu sebaiknya jangan pernah lagi mengusikku. Jangan sampai aku kehilangan kesabaranku!"


"Aku tidak takut. Lagipula diantara kita belum diketahui siapa pemenangnya, jadi aku tidak akan pernah mendengarkan kata-katamu."


"Kau!"


"Apa?"


Suya berusaha keras untuk tidak menghajar Jiho. Dia sekuat tenaga menahan emosinya dan pergi begitu saja.


"Kamu kabur lagi,"