
"Suya, kamu mau makan siang bareng?" Rayu Yuna.
"Gak," tolak Suya dengan tegas.
"Gimana kalau kita kekantin bareng saja?" Rayunya lagi.
"Gak, aku ada janji dengan Seori."
"Seori lagi? Kenapa sih kamu selalu pergi dengannya!" Bentaknya yang merasa tidak terima karena selalu mendapat penolakan.
"Bukan urusanmu. Kamu lihat itu si Jiho? Dia sedang santai lebih baik kamu pergi bersamanya saja. Lagipula kamu sudah lama 'menyukainya'."
"Kenapa kamu selalu lebih mementingkan Seori tapi tak pernah sekalipun menerima tawaranku!" Pekiknya.
"Siapa juga yang mau sama orang gak tulus kayak kamu, yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kemauannya tanpa melihat itu merugikan orang lain atau tidak."
"Aku beneran tulus sama kamu." Imbuhnya.
"Bukankah itu juga yang kamu ucapkan pada Jiho dulu?" Ledek Suya.
'Brak,'
Yuna dengan keras menggebrak meja Suya.
"Kamu tega bilang seperti itu padaku? Kamu akan menyesalinya!" Ancam Yuna.
"Kita lihat saja siapa yang akan menyesal," Suya meremehkan ancaman Yuna tanpa takut sedikitpun. Yuna bergegas keluar dari kelas Suya dengan penuh amarah, dia merasa sangat diremehkan oleh Suya.
"Suya? Kamu kenapa melakukan itu pada Yuna? Apa kamu tahu siapa dia sebenarnya?" Ucap Jiho, dia sedikit khawatir jika sesuatu akan terjadi pada Suya.
"Bukan urusanmu." Dengan langkah santai Suya pergi begitu saja dari hadapan Jiho tanpa memperdulikan peringatannya.
"Anak itu! Ingin sekali aku menghajarnya." Gumam Jiho,
"Lalu kenapa kamu tidak menghajarnya? Setelah aku pikir-pikir, kenapa kamu selalu jadi lembek saat berhadapan dengan Suya? Apa kamu menyembunyikan sesuatu?" Suara Titan membuyarkan amarah Jiho saat ini.
"Apa maksudmu dengan menyembunyikan sesuatu. Lagipula dia juga gak merugikanku, jadi untuk apa aku harus keras padanya." balas Jiho.
Tanpa dia sadari, ucapan Titan memang ada benarnya. Selama ini dia selalu bertindak tegas pada siapapun yang membuatnya kesal sehingga dia mendapat julukan gunung es disekolahan. Tapi kali ini setiap berhadapan dengan Suya dia selalu saja menjadi sosok yang lemah dan lebih menahan segala emosinya.
"Kamu kenapa?" Seori sedikit curiga setelah melihat raut wajah Suya yang nampak menahan amarah.
"Bukan apa-apa, hanya kesal pada seseorang saja. Ohya, apa kamu tahu sesuatu tentang Yuna?" tiba-tiba Suya penasaran pada profil Yuna yang mana dia selalu saja bertingkah sok berkuasa di sma yeju.
"Lim Yuna? Kenapa kamu penasaran? Apa dia melakukan sesuatupadamu? Apa dia mengancammu? Perlu bantuanku?" bertubi-tubi pertanyaan Seori berikan pada Suya.
"Iya, cukup bantu aku dengan info dia saja. Lainnya serahkan samaaku." pintanya pada Seori.
"Baiklah, tunggu sepuluh menit lagi, kamu akan dapat semuanya. Oh ya, kamu apa ada sesuatu dengan Jiho sebelumnya?" ucap Seori untuk mengobati rasa penasarannya.
"Apa maksudmu?" sahut Suya.
"Enggak, hanya saja aku merasa kalau Jiho itu memperlakukanmu dengan sangat aneh. Atau jangan-jangan dia tahu?" karena Seori tidak mendapatkan jawaban apapun dari Jiho soal sikapnya pada Suya, Seori pun memberanikan diri untuk mengungkit masalah ini pada Suya sendiri.
"Aku gak pernah ada hal apapun dengan dia. Dan gak mungkin dia tahu yang sebenarnya karena aku gak pernah menunjukkan tanda-tanda apapun. Atau jangan-jangan dia gay?!" hayalan Suya mulai kemana-mana.
"Maksudmu!" Seori merasa bingung dengan tuduhan Suya.
"Coba saja kamu bayangin, kamu ingat kejadian aku sampai masuk rumah sakit?" tanyanya pada Seori.
"Iya, kenapa dengan itu?" rasa penasaran Seori semakin membara.
"Malam sebelumnya aku datang ke taman dekat kafe. Aku memang setiap selesai dari kafe selalu kesana, dan dia tiba-tiba muncul disana katanya mau menemui seseorang. Dan kamu tahu, orang yang dia maksud itu aku. Spontan dong, aku bilang aku ini masih normal. Yakali. Untuk itulah apa mungkin dia seorang gay." jelasnya pada Seori.
"Bagaimana jika dia bukan gay," ucapan Seori terdengar sedang membela Jiho.
"Kamu membelanya? Emang darimana kamu punya keyakinan seperti itu?" Suya merasa sedikit aneh setelah mendengar ucapan Seori.
"Ya aku hanya asal menebak saja. Siapa tahu saja dia menyukaimu karena murni dari hatinya bukan karena fisikmu." jelas Seori.
Suya hanya terdiam mendengarnya, entah kenapa dia jadi kepikiran dengan pemikiran Seori barusan.
Namun tak selang beberapa saat dia kembali tersadar, "hish, kamu ini. Gak mungkinlah ada hal seperti itu." elaknya.
"Kenapa harus gak mungkin, lagipula ya, sampai kapan kamu mau seperti ini coba? Apa kamu gak mau hidup normal? Mencintai dan dicintai orang lain. Kamu bukan lagi anak kecil yang harus bersembunyi dibelakang sosok orang lain untuk melindungi dirimu. Kamu sekarang sudah cukup jadi dirimu sendiri untuk melindungi kehidupanmu. Kegelapan tidak akan mendapat cahaya jika kamu tidak pernah coba untuk membuat lubang diantaranya. Kamu paham maksudku kan?"
Seori sangat ingin Suya kembali pada kehidupannya yang normal seperti anak sma lainnya , tapi Suya justru bertentangan dengan keinginannya itu.
"Seori, justru karena aku bukan anak kecil lagi maka aku tahu apa yang aku lakukan selama ini. Kamu tidak usah khawatir. Aku begini bukan untuk menolak takdir, aku hanya melakukannya karena mungkin aku sudah terbiasa seperti ini. Tapi kamu tidak usah khawatir. Aku masih menjalani hidupku dengan normal kok. Dan aku juga merasakan mencintai dan dicintai juga, kamu tenang saja." elaknya.
Meski dia paham betul dengan kekhawatiran Seori, tapi dia merasa masih nyaman dengan kehidupannya saat ini.
"Mencintai? Dicintai? Pada siapa? Oleh siapa? Minho? Suya sadarlah!" pekik Seori yang mulai geram dengan pemikiran Suya.
Suya terdiam sejenak, menarik napas dalam-dalam dan perlahan mengeluarkannya,
"Apa ada yang salah dengan itu..." suaranya terdengar sedikit sendu,
"...lagipula tidak ada alasan yang mengharuskanku untuk melupakannya. Kamu tahu itu kan." imbuhnya, Suya coba membela dirinya sendiri.
"Entah apa yang kamu pikirkan, tapi satu hal yang harus kamu sadari! Minho sudah pergi, dia sudah tiada. Kamu harus sadar akan hal itu. Dia pasti tidak akan tenang jika kamu menyiksa diri seperti ini." kelugasan Seori semakin menekan perasaan Suya.
Terlihat dengan jelas bahwa Seori ingin menyadarkan Suya akan kondisi hubungannya dengan Minho. Hubungan yang tak akan pernah bisa kembali sampai kapanpun karena kematian sudah membawa Minho pergi darinya.
"Sudahlah, kita bicarakan lagi nanti. Aku harus kembali ke kelas, kabari aku jika kamu sudah mendapat info tentang Yuna." Suya jelas sekali coba menghindar dari desakan Seori.
"Hah... lagi-lagi kamu melarikan diri jika aku membicarakannya.Pergilah, pergi sana!" Seori tak mampu berbuat banyak.
Sudah berkali-kali dia membicarakan topik yang sama pada Suya namun selalu saja berujung pada Suya yang pergi tanpa menjelaskan keputusannya.
Pikiran Suya jadi sedikit terganggu dengan ucapan Seori barusan. Selama ini dia selalu saja melarikan diri jika pembicaraan sudah mengarah pada Minho, kekasihnya yang sudah meninggal bertahun-tahun yang lalu karena sebuah kecelakaan. Kejadian itu selalu saja menjadi bayang-bayang kelam dalam hidupnya. Dia merasa semua ini terjadi karena kesalahannya, ia merasa dialah penyebab dari kematian Minho saat itu. Kehidupannya yang kacau saat ini juga bermula setelah kecelakaan itu. Dia seperti mengubah dirinya sendiri menjadi sosok orang lain dengan penampilan dan jiwa yang berbeda tapi masih dengan luka dan perasaan yang sama.
'Bruk,'
"Aw..." karena pikirannya sedang tidak fokus, Suya menabrak seseorang,
"...hei! Kalau jalan lihat yang bener dong!" teriak siswa itu.
"Ah, maaf," ucap Suya sembari membungkukkan badan. Namun tanpa membantu siswa itu berdiri Suya hendak melanjutkan langkahnya dan meninggalkan siswa itu.
Siswa itupun merasa tidak terima,
"hei berhenti!" teriaknya.
Suyapun menghentikan langkahnya,
"iya, ada apa? Aku sudah minta maaf." sahutnya.
"Apa kamu pikir minta maaf saja cukup?" ucap siswa itu.
"Lalu kamu mau apa?" sahut Suya dengan sedikit kesal.
Melihat Suya yang menunjukkan ekspresi kesal membuat siswa itu juga semakin geram.
"Mauku apa? Tentu saja kamu harus ganti rugi! Kita tidak tahu apakah aku ada patah tulang atau tidak setelah kamu menabrakku tadi," ucapnya.
"Owh, jadi kamu mau meminta uangku untuk mengecek ke rumah sakit apakah kamu ada luka atau tidak?" Suya menegaskan kembali maksud siswa itu.
"Iya, itu kamu tahu," sahut siswa itu.
Suyapun tersenyum sinis,
"hah, baiklah jika itu maumu, tapi dengan
satu syarat," ucap Suya dengan penuh makna.
"Apa itu." siswa itu mulai terpancing dengan ucapan Suya.
Dengan langkah perlahan Suya berjalan kearah siswa itu,
"Tentu saja aku harus benar-benar membuatnya patah dulu, baru aku akan memberikan semua uang yang kamu butuhkan," ucapnya sembari meregangkan otot jemarinya.
Melihat Suya yang mendekat dengan ancaman seperti itu membuat siswa itu sedikit khawatir. Suya terlihat seperti bersungguh-sungguh pada ucapannya barusan. Meskipun begitu, dia masih saja mau mengganggu Suya.
"Kamu pikir aku takut? Coba saja maju kalau kamu berani melawan anak dari club karate. Paling juga nanti kamu akan kena masalah dan dikeluarkan dari yeju." ucapnya dengan sombong.
Mendengar ucapan siswa itu sama sekali tidak membuat Suya gentar,
"Club karate? Uuhhh, kedengerannya serem deh. Tapi... apa kamu gak merasa kasihan pada club karate?" cletuk Suya.
"Apa maksudmu!" teriak siswa itu.
"Ya menurutmu gimana? Anggota clubnya memakai nama club hanya untuk melindungi dirinya sendiri dengan tujuan memeras orang lain. Apa menurutmu tidak kasihan dengan club itu," sahut Suya dengan penuh sindiran.
"Beraninya kamu!" pekik siswa itu seraya melayangkan sebuah pukulan pada Suya namun berhasil dihindari.
"Hah, ngakunya dari club karate, tapi mengenai pukulan anak fotografi saja gak mampu. Aku saranin mending kamu pindah club drama saja deh. Kemampuan aktingmu lumayan lho," tanpa henti Suya selalu memancing kelemahan siswa itu.
Siswa itu semakin geram dengan kesombongan yang ditunjukkan Suya, amarahnya semakin memuncak. Kedua tangannya mengepal dan bersiap untuk melayangkan pukulan pada Suya lagi. Namun tiba-tiba saja seseorang menghentikannya.
"Hentikan! Gio, apa yang kamu lakukan?" ucapnya untuk menghentikan siswa itu, Gio, melayangkan pukulan pada Suya.
"Jiho? Kenapa kamu disini?" ucap siswa itu yang terkejut melihat kedatangan Jiho.
Tanpa menanggapi pertanyaan Gio, Jiho kembali mengulang pertanyaannya,
"Aku tanya sekali lagi, apa yang kamu lakukan?" ucapnya.
Suya hanya berdiam diri menyaksikan Jiho yang tiba-tiba datang tapi langsung menginterogasi siswa itu bukan dirinya. Siswa itupun coba memancing amarah Jiho dengan menjelekkan Suya agar Jiho mau berpihak padanya.
"Dia baru saja menabrakku tapi gak mau bertanggungjawab dan malah menjelek-jelekkan club kita." ucapnya.
"Apa yang dia ucapkan itu benar?" tanya Jiho pada Suya.
Suya pun menanggapi omongan Jiho,
"Ya bisa dibilang setengah benar setengah salah sih," ucapnya santai.
Namun disisi lain Gio merasa tidak terima dengan pernyataan Suya itu.
"Apa kamu mau bilang bahwa aku mengada-ada?" teriaknya dengan kesal.
Jihopun mencoba mencairkan suasana,
"Gio tenanglah. Marah tidak akan menyelesaikan masalah."
Jiho khawatir jika Suya akan menanggapi Gio dengan emosi juga. Namun Suya masih menunjukkan ekspresi yang santai.
"Jadi dia beneran dari club karate? Kasihan sekali club itu," ucapnya.
Sikap santai yang ada pada Suya membuat Gio jadi semakin kesal,
"Jiho, kamu dengar sendiri kan apa yang baru saja dia ucapkan,"
Meski Jiho sudah mendengar sendiri ucapan itu keluar dari mulut Suya, namun dia merasa ada maksud tersendiri dari ucapan itu.
"Hah, entah karena apa club karate bisa menerima orang sepertimu, tapi satu hal yang harus kamu tahu, karate itu untuk perlindungan diri dari bahaya serangan orang pada kita. Bukan tameng untuk menindas dan memeras orang lain. Jika kamu menjadikannya seperti itu maka kamu salah besar dan kamu juga gak pantas untuk mengemban predikat sebagai anak dari club karate, itu hanya akan mempermalukan club itu sendiri," ucap Suya pada Gio.
Mendengarnya membuat Jiho jadi berbalik curiga pada Gio,
"Apa maksudnya dengan memeras orang lain?" tanyanya pada Gio. Gio hanya terdiam.
"Asal kamu tahu ya, anak ini meminta uang padaku hanya karena aku menabraknya. Dia berkata bahwa mungkin saja dia mengalami patah tulang padahal lecet saja tidak. Tentu saja dong aku bersedia memberinya uang asal dia juga bersedia tulangnya aku patahkan beneran," imbuh Suya dengan senyuman sinisnya.
"Kamu emang perlu dikasih pelajaran ya!" teriak Gio.
Suya mendekat kearah Gio,
"Pelajaran? Oke aku tunggu, silakan kalian berdua diskusikan dulu pelajaran apa yang akan kalian berikan. Kalau sudah segera kabari aku, karena aku hari ini sibuk jadi maaf aku pergi duluan. Jangan lupa segera kabari, byee..." ucapnya seraya berlalu meninggalkan Jiho dan Gio.
"Jangan pernah berurusan lagi dengannya, kali ini aku berhasil menolongmu tapi tidak untuk lain kali." tegas Jiho.
Gio sedikit tertegun dengan ucapan sang ketua club tersebut.
"Apa maksudnya dengan menyelamatkanku?".
Mendengar pertanyaan bodoh itu membuat Jiho menarik napas dalam-dalam.
"Hah, kamu tahu kan club karate Zhang?" ucapnya.
"Iya, itu adalah tempat kerjamu dan juga club karate terbesar dikota ini. Lalu kenapa?" balas Gio.
Jiho benar-benar sudah kehabisan cara untuk menghentikan Gio dari rasa dendamnya. Terpaksa dia mengungkapkan hal ini.
"Ya kamu benar, dan dia adalah pelatih disana bersamaku. Kamu sekarang masih kepikiran untuk melawannya? Ya kalau kamu sudah bosan hidup sih silakan saja, aku gak akan melarangmu. Tapi jika kamu masih ingin baik-baik saja maka lupakan saja." jelasnya.
Tentu saja info ini membuat Gio terkaget.
"Jadi dia adalah pelatih di Zhang? Tidak heran dia dengan lihai menghindari semua pukulanku," gumamnya.
"Ingat! Jangan lagi berurusan dengannya!" ucap Jiho
memperingatkan Gio kembali.
Jiho bergegas kembali kekelas setelah mengingatkan Gio. Dia sangat berharap agar Suya tidak menaruh dendam sedikitpun pada Gio. Setelah sampai dikelas, Jiho segera menghampiri Suya.
"Aku minta maaf atas perlakuan Gio tadi," ucapnya.
Suya pun memandang kearah Jiho dan membalas ucapan itu,
"Kenapa? Kamu takut aku menaruh dendam danĀ melukainya diluar sana?" ucapnya.
Jiho paham jika itu merupakan sindiran untuk dirinya, namun dia tidak ingin masalah ini berkepanjangan apalagi sampai terbawa ke luar sekolah.
"Aku hanya tidak ingin kalian berselisih paham untuk hal sepele," imbuhnya.
Melihat gelagat Jiho membuat Suya semakin merasa kecurigaannya itu benar.
"Heh, hei! Itu tergantung dari gimana anak itu bersikap padaku, simple kan. Sudah sana, aku gak mau membahas hal yang gak penting seperti ini."