He Is A Girl

He Is A Girl
23 Kakak, Lalui Dengan Tenang



"bapak sudah melihat permainan basketmu saat pertandingan kemarin, kamu sungguh tidak ingin bergabung?" tanya pak Choi.


Dalam pertandingan futsal kelas 2a dibabak final berhasil mengalahkan kelas 3b. Dan saat basket dibabak final, kelas 2a berhasil mengungguli senior mereka dari kelas 3a. Meskipun permainan Suya saat babak final tidak sebagus dibabak penyisihan, hal itu tetap saja membuat pak Choi tertarik dengan bakat yang dimiliki Suya.


"saya mohon maaf, Pak. Saya sungguh tidak ingin bergabung dengan kelompok olahraga apapun. Masa depan yang ingin saya raih tidak ada kaitannya dengan olahraga, saya hanya ingin memokuskan pikiran saya pada hal itu."


"kamu bisa mempertimbangkannya dulu sebelum mengambil keputusan. Biar bagaimanapun bakatmu terlalu sayang jika dibuang begitu saja."


"tidak ada yang perlu saya pertimbangkan, Pak. Saya dari dulu memang sudah bertekad seperti ini. Lagipula tawaran ini bukan kali pertama saya menerimanya. Jadi saya tahu pasti jawaban apa yang harus saya berikan. Sekali lagi saya mohon maaf, Pak."


"apa kamu yakin?"


"saya yakin, Pak. Apalagi saya akan segera kelas 3, saya rasa saya harus lebih fokus pada pelajaran agar dapat lulus sesuai dengan yang saya harapkan."


"sepertinya bapak memang tidak bisa membujukmu lagi. Tapi jika kamu berubah pikiran kapanpun kamu bisa memberitahu bapak,"


"baik, Pak. Kalau begitu saya permisi,"


Suya meninggalkan ruangan pak Choi.


"hah, konyol sekali.." gumamnya.


Cita-citanya adalah menjadi pemain basket. Tapi pada kenyataannya dia harus menolak setiap tawaran yang datang padanya. Pernah sekali dia mencoba bertanding basket, namun ditengah permainan tiba-tiba saja trauma itu muncul lagi. Dan sejak saat itu keluarganya melarang dia untuk berurusan dengan pertandingan basket.


"tunggu..."


Suya menghentikan langkahnya dan mengingat kembali kejadian beberapa hari yang lalu, tepatnya hari pertandingan antar kelas.


"...kemarin aku baik-baik saja saat pertandingan?..."


Suya mencoba mengingat kembali.


"..benar, aku baik-baik saja. Atau mungkin aku sudah sembuh?.."


"..atau apa ada hal yang membuatku tidak mengingatnya?.."


Suya masih belum yakin apakah dia sudah sembuh atau ini hanya kebetulan saja. Pasalnya belum lama ini kejadian Jiho waktu itu masih membuatnya terluka kembali.


"Suya!"


Begitu sampai di kelas, Suya langsung dikerumuni beberapa temannya.


"ada apa? bisa tidak gak usah teriak-teriak?! Aku belum tuli!"


"Suya, bisakah kamu memberikan kami pelajaran tambahan setelah pulang sekolah?" tanya Somi.


Sebentar lagi ujian akhir semester akan dimulai, hal itu tentu saja membuat banyak siswa menjadi kalang kabut terutama mereka yang memiliki nilai pas-pasan.


"gak bisa! Aku banyak pekerjaan sepulang sekolah." tolak Suya.


"tidak perlu lama-lama, kamu bisa bantu 1 jam saja tidak masalah," bujuk Somi,


"betul, lagipula kafe tempat kamu kerja juga buka sore hari kan?" imbuh Alex.


"aku tetap gak bisa. Kalian kan bisa minta anak 5 besar untuk membantu kalian. Aku yakin mereka tidak perlu sibuk bekerja. Alex, bukankah kamu peringkat 3 di kelas?" tolak Suya lagi,


"nilai kami tidak seberapa meskipun menyandang peringkat 5 besar. Sedangkan kamu, kamu mendapat nilai sempurna disemua mata pelajaran." bujuk Somi lagi,


"ayolah, bantu kami ya." bujuk siswa lainnya.


"iya, bantu kami," rengek lainnya.


Suya merasa risih dengan rengekan teman-temannya.


"tunggu dulu, emang dalam rangka apa kalian ini belajar?" tanya Suya,


"ujian akhir semester," jawab mereka serentak.


"UAS?" tanya Suya lagi,


"iya,"


"tunggu, bukankah ujiannya masih 3 bulan lagi?" tegas Suya.


"3 bulan itu tidak lama. Otak kami yang pas-pasan ini butuh waktu untuk mencerna semua pelajaran,"


"iya betul, kamu sih, terlahir genius, jadi tidak mengerti penderitaan kami bagaimana ketika akan ujian." imbuh siswa lainnya.


"semua orang terlahir genius kali, hanya saja tidak semua orang mau mengasahnya sejak dini." elak Suya.


"kami mohon bantu kami ya, atau jika perlu kami bisa kok bayar waktumu," ucap Hanna,


"Aku tetap gak bisa, ini bukan masalah uang."


Suya masih kekeh menolak permintaan teman-temannya.


"sudahlah, jika dia tidak mau jangan dipaksa," ucap Jiho,


"Jiho, tolong jangan ikut campur, kami gak mau kalian berantem dan merusak rencana kami, oke." ucap Somi.


Laura memperhatikan Suya. Memperhatikan setiap ekspresi yang Suya keluarkan. Sejak menjadi teman sekelas, belum pernah sekalipun dia berbincang dengan Suya. Namun dalam 1 bulan ini dia sedikit banyak sudah mengetahui bagaimana Suya saat berada di kelas. Dia merasa Suya tidak semenyeramkan seperti saat pertama kali mereka bertemu.


Menurutnya Suya sebenarnya adalah anak yang ramah, hanya saja orang lain tidak menyadari itu dan mereka juga salah dalam menanggapi setiap perilaku Suya.


Laura terlahir di keluarga yang sangat mapan. Ibunya seorang psikolog yang cukup terkenal dan ayahnya adalah seorang pengacara. Karena pengaruh dari pekerjaan orangtuanya, Laura sedikit banyak mempelajari beberapa arti dari ekspresi seseorang. Karena itulah dia bisa membuat penilaian pada Suya.


"Suya, bisakah kamu membantuku?..."


Laura akhirnya memberanikan diri mendekati Suya dan menanyakan beberapa soal yang tidak dia pahami.


"...bisakah kamu menjelaskan soal ini?"


Suya meraih buku yang dibawa Laura. Dia membaca persoalan itu lalu menjelaskannya pada Laura.


"ini bisa kamu selesaikan dengan 3 cara, pertama..."


Suya menjelaskan semua cara yang bisa dipakai untuk menyelesaikan soal itu. Laura mencoba untuk fokus mendengarkan penjelasan Suya meskipun sesekali dia tidak bisa menahan diri untuk curi pandang pada Suya.


"...gimana? Apa ada yang masih bingung? Sebenarnya ketiga cara itu ada kelebihanny masing-masing, tapi yang paling sering digunakan adalah cara kedua karena itu yang paling simpel karena semua komponen dalam soal sudah diketahui."


"oke, aku paham. Lalu apa biasanya soalnya akan semudah ini? Maksudku semua komponen selalu sudah diketahui disoalnya."


"biasanya dalam soal yang sering keluar, ada beberapa yang sudah lengkap seperti ini, tapi ada juga yang kita harus mencari komponen ini terlebih dahulu. Jujur saja kalau aku lebih suka menghafal cara pertama untuk mengantisipasi jika yang keluar tanpa komponen ini,"


"tapi sayangnya kamu hafal semua caranya ya, jadi iri, hehe." gurau Laura.


"selama kamu menyukainya, hal itu akan mudah tertanam dalam ingatanmu, contohnya sebuah lagu, saat suka dengan sebuah lagu kita pasti akan hafal dengan liriknya, meskipun sudah lama tidak menyanyikannya kita pasti tetap akan ingat liriknya saat menyanyikan lagi. Ya walaupun pasti ada beberapa lirik yang kelupaan tapi karena pernah hafal, dengan adanya lirik yang masih teringat pasti yang lain juga akan teringat lagi. Intinya, kamu harus suka dulu agar lebih mudah menguasainya," pungkas Suya.


"oke makasih ya,"


Laura segera kembali ke mejanya setelah selesai dengan soalnya.


"gimana? Benarkan yang aku katakan?" ucap Somi yang langsung menghampiri Laura.


"iya,"


***


its not fair..


yeah i know..


I just wish I could be there with you..


But I can't...


No I can't...


Suya duduk santai di sebuah kafe, sebuah earphone terpasang dikedua telinganya dan matanya sibuk membaca buku ditangannya. Sudah sangat lama dia tidak bersantai seperti ini. Dia terlalu sibuk dengan urusan Minho sampai lupa untuk merilekskan dirinya sendiri.


Dia melipat ujung buku untuk memberikan tanda. Menutup bukunya, dan memandangi ke arah luar. Dilihatnya seorang anak kecil sedang bermain dengan ibunya. Sesekali anak itu tertawa riang karena candaan ibunya. Senyuman anak itu membuat Suya ikut tersenyum kecil.


Namun saat sedang memperhatikan anak itu, pandangan Suya teralihkan dengan seseorang dengan pakaian serba hitam yang sedang berdiri di seberang jalan. Meski dia tidak yakin apa yang sedang orang itu perhatikan, tapi pandangan orang itu mengarah ke arahnya.


"pandangan orang itu kearah sini. Apa yang sedang dia perhatikan? Aku harus menghampirinya." gumam Suya.


Suya segera bergegas keluar dari kafe untuk menghampiri orang itu.


"kak Suya?"


Sapa Jina yang kebetulan berpapasan dengan Suya didepan kafe.


"Jina?"


"kak Suya lihatin apa?"


"Jina, kakak ada urusan, kakak pergi dulu ya,"


Suya bersiap untuk menyeberangi jalan.


"tunggu, kak. Aku ikut." teriak Jina.


"kamu mau ngapain? Kamu lanjut saja makan, kakak ada urusan penting."


Suya bergegas menyebrang tanpa menghiraukan Jina yang ternyata mengikutinya di belakang.


'tiiinnnn'


"aaaaa..."


Begitu mendengar teriakan Jina, Suya segera menoleh ke belakang dan dengan spontan mendorong Jina agar tidak tertabrak mobil yang melaju ke arah Jina.


'*brak..'


'bugh*..'


Suya berhasil menyelamatkan Jina, namun tidak dengan dirinya. Karena jarak mobil terlalu dekat, dia tidak lagi mampu menghindar. Dia tertabrak dan tubuhnya terpental beberapa meter.


"kak suyaa..." teriak Jina histeris.


'huk..huk..'


Suya mengeluarkan darah dari mulutnya. Samar-samar dia melihat pria yang hendak dia hampiri pergi berlari meninggalkan lokasi itu.


"si..a..pa..di..a.."


Suya tak sadarkan diri setelah sempat bergumam. Jina segera berlari kearah Suya.


"kak..bangun.."


'hiks..hiks..'


"kak Suya, banguunn.."


Orang yang kebetulan berada didekat lokasi menjadi heboh karena kecelakaan itu.


"cepat telepon ambulance," teriak salah satu diantara mereka.


"huaaa..."


"..kak Suya, bangun, maafin Jina, kak,.."


"..aku harus telepon kak Jiho."


Jina segera menghubungi kakaknya untuk minta pertolongan.


**


"haha, ternyata kamu bisa bertindak licik juga ya,"


"iya begitulah, sayangnya tidak berjalan sesuai rencana awal,"


"gak kebayang kalau..."


'drrtt..drrttt..'


"bentar, adik gue telepon,"


"hallo kak.."


'hiks..hiks..'


"kamu kenapa? Jangan menangis, jelaskan pada kakak ada apa?"


"kak Suya..."


'hiks..hiks..'


"kenapa dengan Suya? Kamu berhenti nangis dulu."


"kak Suya kecelakaan.."


"apa? Kecelakaan dimana?"


"di depan kafe Monga,"


"kamu tenang saja, kakak akan kesana sekarang, kakak tidak jauh dari situ."


Jiho segera berlari ke lokasi. Jiho sedang berkumpul dengan teman-temannya di sebuah lapangan basket yang berada di sebuah gedung di belakang kafe Monga. Teman-temannya juga ikut berlari setelah mendengar obrolan Jiho. Dalam kurun waktu kurang dari 5 menit dia sudah sampai di lokasi kejadian.


"kakaakk..." rengek Jina,


"...kak Suya, kak.."


"kamu tenang saja, kak Suya akan baik-baik saja."


Darah berceceran di sekitar lokasi. Jiho sendiri sangat khawatir pada Suya, tapi dia harus tetap tenang agar Jina tidak semakin panik.


"sebentar lagi ambulance akan datang, kamu lebih baik pulang saja, biar kak Suya kakak yang jagain, oke.."


Jina hanya bisa mengangguk setuju.


"bisa kalian anter adikku pulang?"


"kamu tenang saja, kami akan mengantar Jina pulang. Semoga dia baik-baik saja," ucap salah satu temannya.


"oke thanks,"


Tak berselang lama ambulance datang dan Suya dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapat penanganan. Sepanjang jalan Jiho harap-harap cemas. Dia takut sesuatu terjadi pada Suya."


***


"hallo, bos. Target terlibat kecelakaan.."


"apa?!"


"karena ingin menyelamatkan seseorang, dia tertabrak sebuah mobil. Saya sudah berusaha mengejar mobil itu tapi maaf saya kehilangan jejaknya. Dan menurut warga sekitar dia dibawa ke rumah sakit harapan indah,"


"kamu cari seluruh rekaman cctv disana, selidiki sampai ketemu."


"baik, bos."


"pergi ke rumah sakit harapan indah, cepat!"


"baik,"


"sial, rencana kejutanku sia-sia,"


Oh Hoon, kakak kedua Suya, sengaja datang ke kota S untuk memberi kejutan pada Suya. Bahkan sekarang dia sudah hampir tiba di apartemen Saka. Namun kedatangannya justru disambut dengan kabar bahwa adiknya mengalami kecelakaan.


"pasien atas nama Oh Suya?"


"saat ini pasien berada diruang operasi," sahut suster jaga.


Hoon segera bergegas menuju ruang operasi. Di depan ruangan ada seseorang yang terlihat mondar-mandir dengan cemas. Hoon yakin jika itu pasti temannya Suya.


"menunggu operasi?" tanya Hoon pada Jiho.


"iya, teman saya mengalami kecelakaan baru saja masuk."


"pacarnya ya?" ledeknya.


"bukan, hanya teman sekolah, lagipula dia laki-laki." sahut Jiho.


"lalu kenapa begitu khawatir? Tenang saja, dokter pasti lakukan yang terbaik kok." gurau Hoon.


"meskipun demikian tetap aja saya khawatir melihat kondisi dia seperti itu."


"mau sekhawatir apapun juga tidak akan memberi pengaruh pada operasi pasien," sahut Hoon dengan santai.


"itu karena anda tidak merasakan apa yang saya rasakan, saya yakin anda juga akan sekhawatir saya jika ada keluarga ada yang menjadi pasien didalam."


"oh, sungguh? Saya rasa saya akan setenang ini,"


"dasar gila," gumam Jiho.


Beberapa menit kemudian salah satu perawat keluar dari ruang operasi. Jiho segera menghampiri perawat itu.


"bagaimana, sus? Apa teman saya baik-baik saja?"


"pasien masih dalam penanganan. Pasien butuh darah saya akan mengecek ke pmi terdekat, karena golongan.."


"darahnya langka, kan?" sela Hoon.


Jiho dan perawat itu spontan memandang ke arah Hoon.


"bagaimana kamu tahu?" ucap mereka serentak.


"ambil darah saya saja," ucap Hoon.


"apa anda yakin golongan darah anda sama?" tanya perawat itu.


"AB rhesus negatif, kan? Aku adalah kakaknya, jadi sudah pasti cocok," jelas Hoon,


"kakaknya? Kenapa tidak bilang dari awal? Mari ikut saya,"


Sebelum pergi dengan perawat itu, Hoon berbisik pada Jiho.


"kamu lihat, kan. Semua harus dilalui dengan tenang sayang."


Jiho tertegun melihat bahwa orang yang dia umpati orang gila adalah kakak kandung Suya.


"bagaimana bisa dia setenang itu padahal adiknya ada di ruang operasi karena kecelakaan? Benar-benar kakak adik, sama-sama gila."


...----------------...