
Hiruk pikuk pengguna jalan membuat suasana menjadi ramai. Dengan langkah yang santai Suya berjalan mengelilingi pusat kota S. Mencoba menenangkan segala konflik perasaan yang sedang membebaninya. Selain itu dia juga ingin segera mengenal dengan baik lingkungan kota S. Meskipun dulu dia sempat tinggal di kota S, namun itu sudah sangat lama dan saat itu dia masih anak kecil yang bahkan tidak bisa tahu pasti mana arah utara dan selatan.
'kriing'
"Selamat datang di kafe In," sapa sang penjaga kafe dengan ramah pada Suya yang baru saja masuk.
Seorang perempuan hampir paruh baya berdiri dibalik meja pemesanan dengan perutnya yang sudah membesar. Senyum ramah terukir dengan manis diwajahnya yang sudah tidak muda lagi.
"Permisi, saya baru saja baca selebaran didepan, apa masih ada pekerjaan disini?" tanya Suya.
Sang pemilik kafe tidak langsung menjawab ucapan Suya. Sejenak dia termenung melihat ekspresi Suya yang sangat dingin dan tenang untuk seseorang yang sedang membutuhkan pekerjaan.
"Anak ini terlihat jutek. Bagaimana kalau pelangganku kabur? Tapi wajahnya sangat tampan, mungkin itu bisa jadi daya tarik tersendiri, lagipula sebentar lagi aku akan cuti melahirkan aku tidak bisa menunggu pelamar lainnya lagi."
"Ah, benar. Saya masih butuh seorang pekerja disini, apa kamu berminat?" Tanya perempuan itu,
"Jika menurut anda saya memenuhi syarat tentu saja saya bersedia. Tapi saya tidak bisa bekerja dipagi hari, apa masih bisa?"
"Selama kamu tidak terlibat dalam kriminal tentu saja aku akan menerimamu. Tentu saja tidak masalah, lagipula kafe ini buka disore hari. Tapi seperti yang kamu lihat, kafe ini tidaklah terlalu besar jadi aku juga tidak bisa menggajimu tinggi. Namun bila penjualan melonjak maka aku akan memberimu bonus, bagaimana?"
"Baiklah, terimakasih. Lalu kapan saya bisa mulai kerja?"
"Kamu bisa datang besok jam 5 sore."
"Terimakasih, Kalau begitu saya permisi,"
Akhirnya Suya mendapat pekerjaan untuk menyambung hidupnya. Sudah hampir satu minggu dia berada di kota S, selain masih harus menyesuaikan diri dengan lingkungan sekolahnya, dia juga masih harus beradaptasi dengan lingkungan dunia kerja. Ini akan menjadi pengalaman pertamanya dalam dunia kerja. Selama ini jika dia ingin menghasilkan uang dia hanya akan mengikuti kompetisi.
"Meskipun aku sudah dapat pekerjaan di kafe, aku harus tetep mencari pekerjaan tambahan lain. Aku gak nyangka akan berada dititik seperti ini. Aku harus mencari beberapa info tentang kompetisi didaerah sini."
Hari semakin larut, dia pun memutuskan untuk segera berjalan pulang. Suasana terdengar lebih tenang daripada saat hari masih sore. Seorang diri dia melewati setiap gang menuju apartemennya. Ditengah perjalanan, samar-samar dia mendengar suara seseorang meminta tolong. Segera dia mencari arah sumber suara itu. Setiap gang kecil dia telusuri untuk menemukan suara itu.
"Tolong lepasin saya. Saya beneran gak punya uang." Rintih seorang gadis.
Seorang gadis berseragam smp diganggu oleh beberapa orang di gang kecil. Gaya mereka seperti seorang preman.
"Kamu bilang gak punya uang? Kamu mau bohongin kami!" Kecam salah satu preman,
"Saya sungguh gak punya uang." Keluhnya lagi.
"Kalau kamu gak mau kasih uangmu, bagaimana kalau..."
"Kalau apa!" Teriakan Suya menghentikan ucapan preman itu.
"Siapa itu? Mau ikut campur urusan orang lain saja!" Teriak preman itu.
Suya masih diujung gang dan wajahnya tidak terlihat. Perlahan dia berjalan kearah mereka.
"Orang lain? Kamu berani mengganggu adikku dan berani bilang orang lain!" Sahut Suya dengan tetap tenang.
"Adikmu?"
"Kakak? Kenapa suaranya agak berbeda?"
"Iya! Jadi lepasin adikku sebelum aku menghabisimu!" Ancam Suya dengan berani.
"Lepasin?! Kamu pikir kami akan percaya begitu saja?" Preman itu sama sekali tidak percaya dengan ucapan dari Suya.
"Jadi kamu mau pakai kekerasan?"
"Siapa kakak ini? Bagaimana dia bisa begitu berani menantang para preman ini. Mereka bertiga, bagaimana kakak ini bisa menang. Aku sangat berharap kakak benar-benar lewat sini,"
"Jadi kamu menantang kami bertiga? Punya nyali juga lo rupanya."
"Siapa takut. Bahkan jika kalian bersepuluh aku juga tidak akan takut. Pengecut seperti kalian yang hanya berani mengganggu anak kecil bukanlah apa-apa bagiku."
"hahaha sombong sekali anak ini. Kamu sendiri yang cari mati!"
Ketiga preman itu pun bergegas kearah Suya untuk memulai perkelahian. Dengan penuh kegesitan, Suya menghadang setiap pukulan yang mengarah padanya. Sejauh ini belum ada satupun pukulan dari preman itu yang mampu mengenai tubuhnya. Namun justru sebaliknya, para preman itu sudah beberapa kali mendapat pukulan dari Suya.
"*Wah, kakak ini hebat sekali. Selain kakak, baru kali ini aku melihat ada yang begitu hebat dalam bertarung."
'hahh,,,hahh*,,'
Napas para preman terdengar terengah-engah. Sepertinya mereka sangat kewalahan menghadapi Suya yang hanya seorang diri.
"Bagaimana? Masih sanggup?" Ledek Suya.
Preman itu tak mampu menjawab sedikitpun.
"Hei! Kamu kenapa cuma diam disitu! Cepat sini ikut pulang!" Teriak Suya pada gadis itu.
Tanpa berpikir panjang gadis itu segera berlari kearah Suya, akhirnya mereka bisa terlepas dari para preman itu.
"Kakak baik-baik saja?" Tanya gadis itu, dia nampak sedikit khawatir pada Suya.
"Dimana rumahmu?" Tanya Suya tanpa menghiraukan kekhawatiran gadis itu.
"Ha?" Gadis itu merasa bingung.
"Dimana rumahmu? Biar aku antar kamu pulang. Gak baik anak kecil keluyuran malam-malam." Tegas Suya.
"Anak kecil?"
"Oh, rumahku dikompleks Y." Sahut gadis itu.
"Kakak gak tahu kompleks Y?"
"Kalau tahu apa masih perlu aku bertanya? Aku baru satu minggu disini. Kamu kasih tahu saja jalannya, biar aku antar kamu pulang. Kalau perlu pakai bus juga gak apa, nanti aku yang bayar."
"Ah, tidak perlu. Kakak cuma perlu anter saja sampai halte, nanti aku bisa naik bus sendiri kok," Jelas gadis itu.
"Baguslah kalau begitu. Aku jadi gak perlu repot-repot." Balas Suya dengan lugas.
"Tadi khawatir, sekarang kenapa jadi dingin begini."
"Kakak tinggal dimana? Apa kakak sudah hafal jalan pulang? Biar gimanapun kakak baru seminggu disini." Gadis itupun berbalik khawatir pada Suya.
"Aku tinggal di apartemen Saka. Jadi tidak mungkin tersesat meski baru sehari disini."
"Apa? Apartemen Saka? Itu adalah tempat termegah dikota S. Kakak ini pasti anak orang kaya. Dari gaya pakaiannya saja juga sangat stylish."
"Ah, ternyata kakak tinggal disana."
Tanpa terasa mereka sudah sampai dihalte terdekat. Keduanya saling ngobrol meski seringkali Suya tidak menanggapi omongan gadis itu.
"Oh, iya. Hampir saja lupa. Kenalin kak, namaku Seo Jina, nama kakak siapa?"
"Apa itu bus arah rumahmu?" Ucap Suya saat melihat sebuah bus datang.
"Ah, benar. Aku pergi dulu kalau gitu. Dadah kak." Gadis itu berjalan menuju bus sembari melambaikan tangannya.
"Marga Seo. Hem, aku benci berurusan dengan marga itu."
Setelah Jina pergi, Suya pun juga bergegas untuk pulang. Disaat sudah beberapa blok dia lewati, tiba-tiba saja pandangan matanya tertuju pada sebuah bangunan yang cukup ramai. Diatas pintu masuk gedung itu tertuliskan Klub Karate Zhang. Sungguh suatu hal yang menyenangkan baginya bisa menemukan sebuah klub karate yang sangat dekat dengan apartemennya. Dia pun bergegas masuk kedalam klub itu.
"Permisi. Maaf saya baca didepan katanya disini membutuhkan seorang pelatih karate, apa saya bisa gabung disini?"
"Kamu mau jadi pelatih disini?"
"Iya. Saya memang tidak memiliki sertifikat sebagai pelatih. Terlebih lagi saya masih seorang siswa sma, tapi anda bisa menguji dulu kemampuan saya. Saya yakin kalau saya mampu menjadi pelatih yang baik." Bujuk Suya.
"Sebelumnya juga anak sma, apa sekarang anak sma semenakutkan itu?" Gumam pemilik klub itu.
"Maaf, anda bicara apa?"
"Ah, bukan apa-apa. Baiklah, sebelumnya aku akan menguji kemampuan kamu dulu. Tapi jika kamu lolos, aku tidak bisa mempekerjakanmu setiap hari karena aku sudah memiliki pelatih lainnya. Alasanku mencari pelatih lagi karena pelatih yang sebelumnya mulai bulan depan hanya bisa melatih disini 3x dalam sepekan. Jadi kamu akan bekerja saat dia tidak bisa melatih. Bagaimana?"
"Tidak masalah, kebetulan saya juga ada pekerjaan paruh waktu lainnya disebuah kafe. Jadi itu justru bisa membuat saya tidak terlalu kecapekan." Sahut Suya.
"Baiklah, dua minggu lagi kamu bisa datang kesini untuk menguji kemampuanmu."
"Baik, terimakasih. Saya permisi."
Suyapun meninggalkan klub itu. Perasaannya sangat senang karena bisa melakukan hal yang paling dia sukai. Sudah tak sabar baginya untuk mengikuti ujian pelatih itu. Dengan langkah ceria dia bergegas menuju apartemennya.
..
'laalaaalaalaa..'
Jina bersenandung ria begitu masuk kedalam rumah. Ekspresinya terlihat sangat bahagia.
"Hei! Menang lotre?" Ledek Jiho.
"Kakak! Ahh aku seneng banget hari ini." Sahut Jina dengan penuh antusias.
"Kenapa? Sampai bersenandung seperti itu." Jihopun dibuat penasaran dengan tingkah laku adiknya.
"Tadi pas pulang dari tempat les aku digangguin preman..."
"Apa! Lalu mana yang luka?" Pekik Jiho.
"...dengerin dulu! Aku memang digangguin preman. Tapi aku sama sekali tidak terluka karena ada seorang lelaki, ah bukan, seorang malaikat datang menyelamatkanku. Dan dengan berani menghajar para preman itu." Jelas Jina dengan perasaan menggebu-gebu.
"Hei! Sadarlah, mana ada malaikat yang berkelahi, kamu ini ada-ada aja."
"Kakak harus percaya sama aku, aku serius."
"Iya, iya. Kakak percaya sama kamu."
"Ini adalah pertama kalinya aku bertemu dengan kakak tampan yang sangat pemberani seperti dia. Dengan berani dia menantang 3 preman sekaligus demi menyelamatkan aku."
"Hah, karena dia sudah menyelamatkanmu maka terserah kamu aja deh mau muji dia gimana. Ngomong-ngomong siapa namanya?"
"Nah, itu dia. Baru saja aku mau menanyakan namanya tapi bus keburu datang. Tapi jangan khawatir, aku tahu tempat tinggalnya. Dia tinggal di apartemen Saka."
"Kamu sempat tanya tempat tinggalnya tapi tidak sempat tanya namanya?"
"Hehe, itulah bodohnya aku. Oh ya, kapan-kapan kakak temenin aku kesana ya, aku mau kasih hadiah sekalian ucapin terimakasih."
"Terserah kamu saja,"
"Oke, deal. Udah ya, aku mau mandi dulu."
"Dasar,"
...
please support me