He Is A Girl

He Is A Girl
25 Keluarga Suya



Hyuk adalah pengawal kepercayaan Oh Soo untuk melindungi Suya. Dia sudah dilatih sejak usia dini baik itu beladiri maupun ilmu pengetahuan. Tentu saja bukan sembarangan Oh Soo membawanya ke kediaman Oh.


Oh Soo adalah seorang pengusaha hebat. Berbagai bidang usaha yang dia buka akan menunjukkan perkembangan yang sangat menakjubkan. Dia bisa meraih kesuksesan tentu saja atas dukungan istri dan anak-anaknya.


Istrinya, Li Sooji, adalah seorang desainer perhiasan. Sebelum menikah dengan Oh Soo, dia adalah ahli waris dari perusahaan perhiasan terbesar di kota S milik orangtuanya karena dia anak tunggal. Dia sangat dikagumi banyak kaum hawa, selain kaya dia juga sangat genius dalam berbisnis. Namun hanya Oh Soo yang berhasil membuatnya jatuh cinta.


Dari pernikahan itu mereka dikaruniai 3 orang anak, 2 putra dan seorang putri.


Oh Min, anak pertama mereka kini sudah menginjak usia 23 tahun. Diusianya yang masih segitu, dia sudah menjabat sebagai direktur utama di perusahaan ayahnya sejak usia 21 tahun. Soo dan Sooji tidak pernah meminta Min untuk meneruskan usaha orangtuanya. Tapi sejak kecil Min sudah sangat menyukai dunia bisnis. Apalagi dia sebagai anak tertua dalam keluarga Oh.


Lalu adiknya, Oh Hoon, saat ini berusia 19 tahun. Meski masih diusia remaja, tapi kelakuannya sudah melebihi kakaknya. Dia sama sekali tidak mau ikut campur dalam dunia bisnis orangtuanya. Satu-satunya yang ingin dia warisi adalah kelompok Mowe.


Kelompok Mowe adalah kelompok mafia terbesar di Asia. Kelompok itu adalah kelompok besutan Oh Soo ketika dia belum menikah. Setelah menikah dia tidak membubarkan kelompok itu tapi justru memperluasnya sampai seperti sekarang ini.


Hoon tidak ingin memperebutkan Dangu Grup yang sekarang dijalankan oleh kakaknya. Dia sama sekali tidak tertarik. Dibalik ketampanannya diusia yang masih remaja, Hoon memiliki watak yang tegas dan kejam. Dia tidak akan bergeming jika sudah memasuki dunia mafia. Dia akan menjadi lebih kejam dari ayahnya kala itu. Tak ada sedikitpun rasa takut didirinya.


Yang terakhir adalah Oh Suya, putri kesayangan seluruh keluarga. Sifatnya yang ceria dan wajahnya yang cantik membuat dia digemari banyak orang. Seperti ibunya kala muda dulu. Suya sangat ramah dan memiliki banyak teman.


Tapi itu dulu, sebelum kejadian 3 tahun lalu merenggut nyawa Minho. Kini yang orang lihat dia adalah seorang anak laki-laki yang tak diketahui tujuan hidupnya akan seperti apa. Publik tidak ada yang tahu pasti bagaimana anak-anak dari Dangu Grup. Sejak awal, Oh Soo tidak pernah sekalipun mengekspos anaknya.


Publik mengenal Oh Min belum lama sebelum dia menjabat sebagai direktur utama di perusahaan. Publik tahu jika Soo memiliki 3 anak, tapi sampai saat ini baru wajah Min saja yang sudah terekspos.


***


"selamat ulang tahun, sayang."


Suya baru bangun dari tidurnya. Ketika membuka pintu kamar, seluruh keluarganya meneriakkan ucapan selamat ulang tahun dengan penuh kebahagiaan.


"ayo tiup lilinnya," ucap mamanya sembari menyodorkan kue yang dia bawa.


Sebelum meniup lilin, Suya memejamkan mata untuk membuat beberapa permohonan. Setelah meniup lilin, satu persatu keluarganya memberikan pelukan hangat sebagai bentuk kasih sayang.


"kali ini mau dirayain gak?" tanya Min,


"enggak usah lah, kak. Besok aja kalau udah kelas 3 SMP, dirayain bareng teman-teman sekolah itung-itung sebagai kenang-kenangan." ucap Suya.


"bagaimana kalau kita family time? Mumpung hari libur." ajak Min,


Suya akhirnya liburan bersama keluarganya sekaligus merayakan ulang tahunnya yang ke 13. Rona kebahagiaan terpancar dari dirinya.


Minho, Seori dan Jun juga tak lupa mengucapkan selamat meski baru via telepon. Suya merasa sangat bahagia memiliki sahabat yang begitu menyayanginya dan lagi dia juga sangat senang memiliki Minho sebagai pacarnya.


Seori mengajak Suya untuk merayakan ulangtahunnya di kafe Anlas dan Suya menyetujui itu. Dia ngikut apapun rencana Seori. Setelah mendapat persetujuan Suya, Seori segera menelpon Jun untuk mengajak Minho ke kafe itu dan memberikan kejutan pada Suya.


"oke, aku akan bilang pada Minho." ucap Jun yang lalu mematikan panggilan telepon dari Seori.


..kita kumpul di taman Suwe jam 9..


"kali ini aku akan beri kamu pelajaran, Suya pasti akan sangat kecewa jika dia tidak datang." gumam Jun.


Jun kembali merencanakan hal buruk pada hubungan Minho dan Suya. Dia dengan sengaja memberikan rencana palsu pada Minho.


Hari sudah malam, rencana yang dirancang jam 5 belum juga dimulai hingga sekarang jam 7 malam. Minho masih belum datang ke kafe Anlas. Sudah 2 jam mereka menunggu Minho.


"mau sampai kapanpun dia tidak akan datang,"


"sudahlah, mungkin dia sibuk. Kita mulai saja, ajak Suya."


Suya sudah lelah menunggu Minho yang tak kunjung datang. Akhirnya mereka hanya bertiga merayakan ulang tahun Suya.


"oke kalian pulang duluan aja, aku masih ada perlu," ucap Suya.


"kamu mau kemana jam segini?"


"rahasia, hehe,"


Begitu acara selesai, mereka membubarkan diri. Jun tentu saja tidak tenang meninggalkan Suya. Dia pada akhirnya mengikuti kemana Suya pergi larut malam begini.


Suya berjalan dengan santai menuju sebuah taman. Jika sedang sedih, dia akan pergi untuk memberi makan kucing jalanan.


Dari kejauhan Jun masih mengikutinya dan berusaha agar tidak ketahuan. Tapi perasaannya mulai was-was ketika arah tujuan Suya nampak seperti arah taman Suwe.


Dan benar saja, Suya pergi ke taman Suwe untuk memberi makan beberapa kucing liar disana. Lalu samar-samar dia mendengar ada keributan. Dia segera mencar sumber suara itu.


Dari balik semak-semak dia melihat ada perkelahian. Lebih tepatnya pengeroyokan. Seseorang dihajar oleh 6 orang bertopeng. Suya memicingkan matanya untuk melihat wajah-wajah mereka. Dan betapa terkejutnya Suya saat melihat siapa yang sedang dihajar itu,


"Min..."


Suya hampir saja berteriak karena terkejut melihat bahkan orang yang sedang dihajar habis-habisan adalah Minho. Namun keburu Jun membungkam mulutnya dari belakang.


"jangan teriak, jangan sampai mereka menyadari keberadaan kita," bisik Jun pada Suya.


"Jun, itu Minho, gimana bisa aku diam saja?! enggak, aku harus bantu dia."


Suya ingin beranjak untuk membantu Minho, tapi Jun sekuat tenaga menahannya dan lagi-lagi dia membungkam mulut Suya. Suya meronta agar Jun melepaskannya. Namun Jun mengerahkan sekuat tenaga agar Suya tidak ikut campur.


Setelah Minho sudah babak belur dan tidak sadarkan diri, para preman itu pergi meninggalkannya. Melihat mereka sudah pergi, Jun segera melepaskan Suya dan Suya langsung berlari ke arah Minho.


"Minho, bangun.."


Derai airmata tak mampu lagi Suya bendung. Melihat orang yang dia sayangi terkapar tak sadarkan diri dengan darah mengalir dimana-mana.


Ambulance segera membawa Minho ke rumah sakit. Dengan perasaan campur aduk Suya tidak mampu mengontrol dirinya. Minho dibawa ke ruang IGD untuk mendapat perawatan.


"Suya!"


"Tante..."


'huaaa...'


Suya menangis sejadinya didalam pelukan mamanya Minho. Begitu juga dengan mamanya yang ikut meneteskan airmata.


"kenapa bisa begini? Bukankah dia sedang merayakan ulang tahunmu?" tanya mama Minho.


"aku gak tau tante.. Minho tidak datang di pesta, saat aku jalan-jalan ke taman, aku..aku..aku melihat Minho sudah tak sadarkan diri seperti itu.." jelas Suya terbata-bata.


Mama Minho kembali memeluk Suya untuk membuatnya tenang.


"kamu tenang saja, Minho pasti baik-baik saja, oke."


'hiks..hiks..'


Suya masih saja menangis tersedu meskipun tante Farah sudah menenangkannya.


"sudah, jangan menangis, tante yakin semua akan baik-baik saja. Tante sudah lapor polisi, jadi nanti kamu bantu berikan keterangan ya jika diperlukan,"


Suya mengangguk, dia bersedia melakukan apapun untuk Minho.


"dok, bagaimana kondisi anak saya?"


"kami sudah melakukan yang terbaik. Pasien berhasil diselamatkan namun masih kritis..."


"syukurlah," ucap tante Farah,


"...tapi sepertinya..."


"sepertinya apa, dok?" sela Suya,


"...sepertinya cidera dilengannya akan permanen.."


"maksud dokter?"


"...luka dilengannya sangat parah, sehingga kemungkinan pulih hampir tidak ada..."


"maksud dokter tangannya lumpuh?"


"...tidak, bukan lumpuh. Dia masih bisa menggunakan tangannya untuk untuk beraktivitas biasa. Tapi untuk aktivitas berat itu tidak mungkin lagi..."


"apa dia masih bisa bermain basket?"


"...tidak, semua jenis olahraga yang berpusat pada tangan tidak bisa dia lakukan mulai sekarang.."


Suya terkulai lemas setelah mendengar penjelasan dokter. Bagaimana bisa Minho tidak bisa lagi bermain basket padahal impiannya adalah menjadi pemain basket internasional.


"tante..aku sedang mimpi kan, tan?..iya kan, tan?!" ucap Suya histeris.


Tante farah hanya mampu memeluk Suya untuk membuatnya tenang. Dia melihat Suya sangat terpukul dengan hal ini.


"Suya, kamu harus tenang. Minho masih bisa melanjutkan hidupnya saja itu sudah lebih dari cukup. Tante mohon kamu tenang, ya."


Begitu selesai menjalani operasi, Minho dipindahkan ke ruang ICU untuk mendapat perawatan intensif selama 2x24jam.


Suya dan tante farah hanya bisa memandangi Minho dari luar ruangan. Memandangi Minho yang sedang tidak sadarkan diri. Memandangi Minho yang sedang berjuang antara hidup dan mati.


Beberapa hari setelahnya, Minho sudah bisa dijenguk meski belum sadarkan diri. Setiap hari Suya selalu setia menemani Minho. Dia bahkan izin dari sekolah hanya demi bisa berada di rumah sakit selama 24jam.


"Suya, kamu sebaiknya pulang dan istirahat. Biar tante yang menjaganya." ucap tante farah.


"aku gak papa, tan. Aku mau disini sampai dia sadar."


Tante Farah hanya mendengus pasrah.


"oh ya, ini HP Minho, kamu tahu kata sandinya? Siapa tahu ada info penting, tante beli makan dulu, ya."


Suya menerima HP itu dan mencoba beberapa kemungkinan sandi yang bisa digunakan. Namun semua gagal. Suya mencoba menggunakan sidik jari dan ternyata berhasil.


Suya mengecek beberapa pesan masuknya. Sampai pencariannya terhenti pada sebuah pesan masuk bertuliskan.


'kita berkumpul di taman Suwe jam 9'


Yang membuat dia terkejut bukan isi pesannya, tapi pengirim pesan itu.


"Jun?..." gumamnya,


"...kenapa dia mengajak ketemu di taman Suwe?.."


Suya segera berlari keluar dan pergi mencari Jun untuk menanyakan apa maksud pesan itu. Suya menghubungi Jun menanyakan keberadaannya. Tanpa curiga sedikitpun, Jun memberikan alamat tempat dia berada saat itu.


Disepanjang jalan Suya bertanya-tanya dalam hatinya, kemungkinan apa yang terjadi sampai Jun harus mengirim pesan seperti itu.


"Jun!" teriak Suya begitu bertemu dengan Jun.


"ada apa? Kenapa kamu begitu buru-buru begitu?"


"apa maksudnya...?"


Suya menunjukkan pesan masuk itu pada Jun didepan wajahnya.


"...kenapa kamu mengirim pesan seperti ini pada Minho? Dan tidak mengatakan kafe Anlas?!"


"Suya, kamu tenang dulu..."


"bagaimana aku bisa tenang?! Kita sahabatan! Tapi lihat apa yang kamu lakukan! Kamu mencelakai sahabatmu sendiri, Jun!"


Suya sangat marah pada apa yang sudah dilakukan Jun.


"ini semua karena kamu!..."


Jun langsung hilang kesabaran setelah Suya membentaknya.


"...apa-apa selalu Minho. Kamu bahkan tidak melihatku sedikitpun. Aku suka sama kamu, kamu tidak sadar itu, kan?! Dimatamu hanya Minho, Minho dan Minho!"


"kamu gila!..."


"iya aku gila! ini semua karena kamu!" bentak Jun.


"KAU!!..."


Suya sudah mencapai batas emosinya.


"...MULAI SAAT INI! KAMU BUKAN LAGI TEMANKU! JANGAN PERNAH LAGI MASUK DALAM DUNIA KAMI! JIKA KAMU BERANI MENYENTUH MINHO LAGI! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!"


Suya langsung pergi setelah mengucapkan ancamannya pada Jun.


"haaahh..."


'prang..'


Jun sangat kecewa dengan Suya, dia membanting gelas yang berada didepannya, hal itu membuat seisi kafe menatapnya penuh rasa heran.


Sejak saat itu, Jun dan Suya tidak lagi saling berkomunikasi. Meski sangat marah, Suya tidak melaporkan hal itu pada polisi. Mengingat rasa persahabatan yang dulu pernah mereka jalani. Suya hanya menceritakannya pada Seori.


Seori mencoba menanyakan tujuan Jun mengirim pesan itu. Namun jawaban Jun tidak memberikan petunjuk apapun.


"aku hanya memberinya alamat palsu, niatku hanya membuatnya tidak menghadiri ulang tahun Suya agar Suya kecewa dengannya. Untuk kejadian selain itu aku sama sekali tidak tahu apapun."


...****************...


mohon dukungannya ya 🤗


...----------------...


...****************...