
Hari telah berganti, suasana baru juga sudah bertambah. Dengan sikap tenangnya Suya berjalan menuju sekolah. Hari ini adalah hari kedua ia masuk sekolah. Harapannya tidak lain hanya agar hari ini tidak menjadi lebih buruk dari hari pertamanya memasuki sekolah baru. Setelah berjalan cukup lama dari halte pemberhentian terakhir, kini dia sudah sampai di depan gerbang sekolah.
Beberapa pasang mata memandanginya dengan kekaguman. Wajah yang menawan, bentuk tubuh yang tegap dan juga menarik. Meskipun merasa risih, dia mencoba mengabaikan siswa-siswa yang membicarakannya diam-diam. Mencoba untuk tetap tenang agar tidak menimbulkan masalah yang tidak diperlukan.
Di dalam kelas juga sudah nampak riuh. Para siswa dan siswi saling berbincang satu sama lain dengan asyiknya. Suya bergegas menuju tempat duduknya dan dihampiri sang ketua kelas.
"Suya, formnya?" Jae meminta form club yang kemarin diserahkan padanya.
"Oh, ini." Suya menyerahkan form yang sudah dia isi kepada Jae.
"Fotografi?" Jae sedikit terkejut membaca pilihan Suya.
"Iya, kenapa?" Suya pun tak kalah terkejut saat melihat ekspresi Jae.
"Kamu yakin ingin mengambil kelas tambahan fotografi?" tegas Jae.
"Iya, sejauh ini hanya itu yang membuatku tertarik. Apa ada masalah dengan pilihanku?"
"Tidak, tentu saja tidak. Hanya saja terlalu disayangkan. Aku pikir kamu akan ikut salah satu dari club olahraga."
Setelah mendengar ucapan Jae, Suya tersadar bahwa Jae ingin membuatnya memilih club basket seperti dirinya. Biar bagaimanapun postur tubuh Suya sangatlah cocok untuk menjadi pemain basket. Suya pun segera merespon ucapan itu.
"Tidak tertarik. Aku memang bisa olahraga, tapi aku tidak akan terlalu fokus disana."
"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan segera serahkan form ini pada ibu Lee."
Jae segera kembali kekursinya. Tak lama kemudian Titan mendekatinya dan mencari tahu apa pilihan Suya.
"Jae, apa club yang dia pilih?" Bisik Titan.
"Fotografi." Sahut Jae.
"Oh, oke."
Setelah mendapatkan info club pilihan Suya, Titan segera mencari Jiho dan memberitahukan apa pilihan Suya.
"Lalu kenapa?" elak Jiho.
"Apa kamu sungguh tidak ingin dia gabung di tim kita?"
"Aku tidak suka memaksa orang lain."
"Aku tidak memintamu untuk memaksa dia. Coba saja kamu tanya dia dulu. Kalau dia menolak, baru aku juga akan menyerah. Kamu kan sudah lihat sendiri bagaimana permainannya kemarin. Dengan kemampuan seperti itu tentu saja akan sangat bagus untuk memperkuat tim kita. Pikirkanlah semua keuntungan yang akan kita dapatkan jika dia bersedia bergabung." Bujuk Titan,
"Hiss, baiklah. Aku akan bicara dengannya."
Jiho akhirnya memutuskan untuk menawarkan Suya gabung dengan tim basket. Semua yang diucapkan Titan memang benar adanya. Kesempatan seperti ini tentu saja tidak boleh disia-siakan sama sekali.
"Suya," sapa Jiho.
"Ya," sahut Suya yang tampak acuh.
"Apa kamu mau coba gabung tim basket?" Ucap Jiho tanpa basa-basi.
"Kenapa?" Suya merasa ada yang janggal dengan ajakan Jiho.
"Tidak ada, hanya saja dilihat dari postur tubuh dan tinggi badanmu cocok saja kalau ikut tim basket." Jelas Jiho.
"Benarkah? Tapi sayangnya aku tidak tertarik dengan clubmu itu. Jadi jangan berharap aku akan bergabung didalamnya." tolak Suya dengan tegas.
"Coba kamu pikirkan sekali lagi. Ini semua bagus untuk masa depanmu nanti. Asal kamu tahu saja, club basket akan mengikuti pertandingan beberapa minggu lagi. Ini saat yang bagus untuk menunjukkan bakatmu." bujuk Jiho.
"Bakatku? Kenapa kamu bicaranya lancar sekali? Seolah-olah kamu memahamiku dengan baik. Apakah aku semenarik itu sampai dalam semalam kamu bisa menggali informasi sampai pada bakatku? Bahkan aku sendiri tidak tahu apa bakat yang aku miliki."
"Tapi..."
"Titan stop,"
Jiho segera memotong ucapan Titan yang sepertinya ingin bilang bahwa mereka melihat Suya kemarin malam.
"Aku tidak mencari info apapun. Aku hanya sedang mencari anggota baru untuk tim basket saja. Aku harap kamu akan memikirkannya kembali nanti." ucap Jiho.
"Apa kamu bersedia jadi pramugari?" Suya berbalik tanya pada Jiho.
"Ha? Maksudmu?" Jiho sama sekali tidak paham dengan pertanyaan Suya.
"Dilihat dari postur dan tinggi badanmu cocok saja kalau ikut pramugari." Tanpa ragu Suya membalikkan alasan dari ajakan Jiho.
"Hei! Kamu berani..."
"Titan! Hentikan..." Jiho segera menahan Titan yang sepertinya terpancing emosi dengan ucapan Suya.
"Lihat deh dia berani banget sama Jiho."
"Iya, apa dia tidak tahu kalau Jiho raja karate disekolah,"
"Dia pasti habis sama Jiho."
Berbagai gunjingan mulai terdengar samar-samar diantara siswa yang menyaksikan Jiho dengan Suya. Namun hal itu sama sekali tidak mengganggu pikiran Suya. Dia sama sekali tidak menghiraukan gunjingan teman-temannya. Baginya hal ini sudah biasa.
"Kamu pikir aku tidak berani hanya karena statusku sebagai anak baru?" Suya merasa tertantang setelah melihat reaksi Titan.
"Maafkan temanku yang emosi." Jiho mengucapkan permintaan maaf mewakili sikap Titan.
Dengan tegas Suya tetap menolak ajakan Jiho. Jiho pun juga akhirnya menyerah dan kembali menuju mejanya. Namun dalam benaknya ada rasa kecewa atas penolakan Suya. Dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Suya dibalik penolakan itu. Namun dia tidak tahu hal apa itu.
"Aku akan mencari tahu tentang orang ini."
'kriing,'
Bel pelajaran membuat ketegangan itu menghilang dalam sekejap. Jiho dan Titan, juga siswa lainnya segera menempatkan diri dimeja masing-masing dan menyiapkan diri untuk seluruh pelajaran hari ini.
"Sial. Baru hari kedua dan aku sudah tidak bisa menahan diri." gumam Suya.
Emosinya sangat meledak saat ini, namun dia sekuat tenaga menahan agar tidak menimbulkan masalah kemudian. Meski hampir saja Titan merusak pertahanannya, tapi dia masih bisa mengontrol diri kembali.
"Baiklah, bapak harap tugasnya bisa dikumpulkan minggu ini."
"Iya, pak."
Pak Kim segera meninggalkan kelas setelah terdengar bel jam istirahat berbunyi. Beberapa siswa berhamburan pergi menuju kantin.
"Jiho!"
Suara Yuna terdengar sangat nyaring. Dengan langkah lari kecilnya dia menghampiri Jiho.
"Jiho..." dengan sikap manja Yuna mendekati meja Jiho.
"...mau kekantin bareng?" Ajak Yuna.
"Kamu saja, aku gak lapar. Aku ada janji latihan sama anak-anak." Tolak Jiho.
"Setidaknya kamu harus makan dulu sebelum latihan agar tubuhmu tidak lemas." bujuk Yuna lagi.
"Aku tidak perlu kamu untuk mengingatkan aku makan. Jadi berhentilah menggangguku hari ini."
"Ayolah, hari ini ad... Oh! Kamu!"
Pandangan Yuna teralihkan pada Suya yang baru ingin beranjak pergi dari kelas dan kebetulan saja lewat didepan Yuna. Yuna segera beranjak mendekat pada Suya.
"Kamu!" Ucap Yuna yang terkaget karena bertemu lagi dengan Suya.
"Apa Yuna mengenal Suya?" Ucap Hanna.
"Entah," sahut Somi.
"Kamu mengenalku?" Suya nampak cuek menanggapi Yuna.
"Hei, kamu lupa. Kemarin kamu menabrakku dilorong." Terang Yuna.
"Oh, itu kamu." sahut Suya dengan santainya.
"Kenalin aku Lim Yuna. Dari kelas 2c." Yuna mengulurkan tangannya.
"Oke," Suya sama sekali tidak mempedulikan uluran tangan Yuna.
"Oke?" Yuna hampir tidak percaya mendengar respon Suya.
Selama ini begitu banyak siswa yang ingin mendekati juga berjabat tangan dengan Yuna. Meski dikalangan para gadis dia terlihat kejam, namun dimata siswa lelaki Yuna adalah tipe gadis idaman. Selain cantik dan berbakat, dia juga berasal dari keluarga terpandang. Keluarganya memiliki usaha kosmetik yang cukup terkenal dan juga dihormati. Itulah alasan kenapa tidak ada yang mau mencari masalah meskipun Yuna melakukan kesalahan.
"Hei, kamu berani menolak Yuna?" Mona terlihat kesal melihat sikap cuek dari Suya.
"Apa kualifikasimu untuk bertanya seperti itu? Apakah tubuh dan hidupku kamu yang mengendalikan?" Dengan tanpa beban Suya menekankan ucapannya pada Mona.
"Hehe, jangan hiraukan Mona, dia memang gampang marah. Kalau boleh tahu siapa namamu?" Yuna coba mencairkan kecanggungan.
"Kenapa? Beberapa saat yang lalu kamu datang kesini dengan sikap manja untuk menggoda Jiho, lalu tak selang lama kamu menanyakan namaku. Apa kamu berencana mendayungi dua perahu sekaligus? Kalau kamu sesenggang itu, lebih baik kamu bantu temanmu ini membenahi akhlaknya, oke?" Setelah mengakhiri kalimatnya, Suya segera beranjak meninggalkan kelas.
Suasana kelas masih tegang setelah perselisihan Yuna dan Suya. Banyak siswa yang mengagumi keberanian Suya dalam menanggapi Yuna dan teman-temannya. Selama ini meski Jiho tidak pernah menanggapi perasaan Yuna, namun dia tidak pernah berbuat atau berkata kasar pada Yuna. Suya adalah orang pertama yang berani memprovokasi Yuna.
Rasa kecewa tergambar dengan sangat jelas diwajah Yuna. Dia merasa harga dirinya dipermalukan oleh orang yang bahkan tidak terlalu terkenal.
"Mona, kamu bantu aku cari tahu siapa anak itu." pintanya pada sahabatnya itu.
"Oke,"
Mencari informasi sangatlah mudah bagi Mona. Ayahnya ada seorang gubernur dan beberapa anggota keluarganya menjadi anggota kepolisian.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan padanya?"
"Aku akan mendapatkannya. Didunia ini tak ada seorangpun yang mampu menolak pesonaku. Aku akan mendapatkannya bagaimanapun caranya." ucap Yuna dengan penuh percaya diri.
"Jadi maksudmu kamu menyerah atas Jiho dan beralih pada siswa itu? Dari gosip yang beredar, katanya kelas 2a kemarin ada siswa pindahan yang lumayan menawan. Aku rasa dialah orangnya."
"Ini akan menjadi menarik."
Untuk memperbaiki moodnya, Suya berjalan menuju atap sekolah. Tempat dimana jauh dari kerumunan siswa dan juga tempat ternyaman dari semua sudut sekolah.
"Siapa sebenarnya Lim Yuna ini? Kenapa dia memiliki kepercayaan diri seperti itu? Dan ekspresi anak-anak saat aku melawannya seperti menyiratkan suatu kekaguman padaku. Apa mungkin dia salah satu 'penguasa' disini? Haruskah aku memberinya pelajaran?" gumam Suya.
"Ah, sial! Masa bodoh dengan memberinya pelajaran, yang harus aku pikirkan sekarang adalah bagaimana aku mencari uang untuk bertahan hidup. Tanpa koneksi aku tidak bisa mengikuti kompetisi. Terpaksa aku harus mencari pekerjaan sepulang sekolah. Masa muda yang menyedihkan. Lihat saja, kelak aku akan buktikan pada orang tua itu betapa hebatnya aku meski tanpa bantuannya."
...