He Is A Girl

He Is A Girl
01 Awal sekolah baru



Hembusan angin pagi menyibakkan tirai jendela bersamaan dengan kicauan burung. Sinar matahari mulai memasuki kamar menyilaukan wajahnya yang masih terbalut selimut. Perlahan dia meregangkan tubuhnya.


"Aaaaaa....hhmmmm."


Dengan langkah sempoyongan dia berjalan menuju kamar mandi dan bersiap untuk pergi ke sekolah.


'drrttt...ddrrrtttt...'


"Hallo, ma."


"Hallo, sayang. Kamu sudah mau berangkat sekolah?"


"Iya, ma."


"Hati-hati, sayang. Jika terjadi sesuatu jangan lupa hubungi mama."


"Hm."


Ibunya baru saja menutup telponnya. Ini hari pertamanya menuju sekolah, dia baru saja pindah dari Amerika ke kota S di negara China. Dia pindah seorang diri, orangtuanya masih tetap tinggal di Amerika. Meski masih menyesuaikan diri di lingkungan baru, tapi dia sudah terbiasa hidup sendiri. Saat masih di Amerika dia juga sering tinggal sendiri tanpa orangtuanya.


"Kalau bukan karena ayah, aku gak akan mau pindah sampai sejauh ini. Gila aja. Yang pasti aku tidak akan membiarkan mereka tahu aku ini orang yang seperti apa. Dan aku tidak akan menuruti ayah untuk semua penampilanku. Aku tetap akan seperti ini. Huhh, semoga aja kali ini aku akan damai di sekolah, jangan sampai aku ketemu dengan orang rese lainnya." Keluhnya.


Alasannya pindah ke kota S karena saat di Amerika dia berkali-kali terlibat dalam perkelahian didalam sekolah dan juga sudah beberapa kali pindah sekolah. Karena sangat kesal dengan tingkah laku dia, ayahnya memutuskan untuk mengirimnya ke kota S dan tinggal seorang diri serta menghidupi dirinya sendiri kecuali untuk biaya sekolah. Ayahnya hanya memberi dia beberapa uang yang hanya cukup untuk bertahan hidup paling lama 2 minggu, setelahnya dia harus mencari uangnya sendiri.


Kelas terdengar sangat bising, para siswa saling berbicara satu sama lain. Ada pula yang sedang serius belajar.


"Hahaha, kamu saja yang penakut." Ledek Lia.


"Bukan, bukan. Aku hanya kaget saja," elak Anna.


"Haha,"


Gelak tawa terdengar nyaring dari obrolan mereka.


"Waahhh, itu Jiho," teriak seorang siswi,


"Itu Jiho." Sahut siswi lainnya,


"Waa Jihooo.."


Setiap kali Jiho datang banyak siswi yang histeris menyebut namanya. Seo Jiho adalah siswa terfavorit di sma Yeju. Sikapnya yang cuek membuatnya terlihat keren dimata seluruh siswi. Dia juga jago dalam karate dan main basket. Bahkan dia juga salah satu pemain utama tim basket sma Yeju.


"Jiho!..." Teriak Yuna.


Yuna adalah siswi paling cantik sma Yeju dan juga siswi yang paling ditakuti disekolah. Dia sudah menyukai dan mengejar Jiho sejak awal masuk sekolah. Tapi Jiho tidak pernah menanggapinya sama sekali. Yuna dan 2 orang temannya, Sina dan Mona merupakan siswi yang paling ingin dihindari siswi lainnya. Ketiganya tidak akan segan membully siapapun yang akan merusak mood mereka.


"...akhir pekan mau nonton denganku tidak?" Bujuk Yuna.


Jiho tidak menghiraukan tawaran Yuna.


"Udah ditolak berkali-kali masih saja seperti itu."


"Ssttt... nanti kedengar mereka kamu bakal kena masalah."


Beberapa siswi menggunjing Yuna setelah melihat sikap manjanya pada Jiho.


"Jiho! Mau ya." Rayu Yuna lagi, dia tidak akan menyerah sampai Jiho menerima ajakannya.


Tiba-tiba Jiho berhenti tepat didepan pintu kelasnya.


"Yuna!" Ucapnya.


"Iya, ada apa? Kamu mau terima tawaranku?" Jawab Yuna dengan penuh semangat.


"Ini sudah dikelas 2A, kelasmu sudah terlewat." Sahut Jiho tenang sembari melanjutkan langkah dan masuk kedalam kelas.


"Hahaha,"


Beberapa siswa yang menyaksikan Jiho dan Yuna dibuat tertawa setelah mendengar ucapan Jiho. Karena merasa kesal, Yuna pun segera pergi dan kembali kekelasnya.


"Jiho, Jiho. Kamu emang kejam ya." Ledek Titan, sahabat Jiho sejak kecil.


"Kenapa? Kamu iri karena tidak diperhatikan oleh Yuna?" Dengan santai Jiho balas mengejek Titan.


"Haha, mana mungkin. Meskipun cewek didunia ini tinggal Yuna saja, aku tetap tidak mau pacaran dengannya. Lebih baik aku menjadi gay saja, haha." Sahut Titan.


"Tunggu! Jangan-jangan kamu selama ini tidak pernah pacaran karena kamu gay? Kamu naksir aku ya!" Pekik Jiho dengan polosnya.


'plak'


Satu pukulan dari Titan bersarang dikepala Jiho.


"Kamu gila apa! Meskipun aku gay, aku gak bakalan naksir gunung es kayak kamu."


"Terserah deh."


"Aku gak ikut."


"Kenapa lagi? Kemarin kamu gak ikut nanti juga enggak. Pak Choi nanti bisa marah. Kamu kan pemain inti dalam tim. Dan pertandingan juga sebentar lagi lho." Bujuk Titan,


"Hari ini aku ada perlu. Besok aku baru bisa."


"Perlu apa? Aku ikut ya,"


"Basketmu?"


"Aku kan gak perlu latihan udah ahli." Ucap Titan dengan penuh percaya diri.


'Kriiing,,'


Bel masuk sudah berbunyi. Siswa segera duduk dikursi masing-masing. Tak selang berapa lama wali kelas masuk untuk mengabsen dan menyampaikan beberapa hal.


"Selamat pagi," ucap ibu Lee Eunbi, wali kelas 2a.


"Pagi, bu."


"Hari ini kelas kita akan ada siswa baru."


"Wuuu.."


Sorak para siswa.


"Tenang, tenang. Silakan masuk."


Kelas tiba-tiba sunyi. Setiap pasang mata memandang kearah pintu masuk. Seorang siswa tampan memasuki kelas, kakinya yang jenjang membuat langkahnya yang tegap terlihat bagaikan seorang model papan atas. Wajahnya yang menawan membuat seluruh siswi dikelas dibuatnya tak berkedip.


"Waah, dia tampan sekali."


"Baiklah, kamu bisa perkenalkan dirimu." Pinta bu Lee.


"Hai, aku Oh Suya." Ucapnya singkat.


Sikapnya dan ekspresi wajahnya sangatlah dingin.


"Hanya itu saja?" Tanya bu Lee yang masih tertegun dengan ketenangan Suya.


"Em," sahutnya.


"Baiklah, karena hanya itu saja, mungkin dari kalian ada yang mau ditanyakan tentang Suya?" Bu Lee coba mencairkan kecanggungan yang diciptakan Suya.


"Saya, bu"


"Iya, Somi?"


"Suya, kamu berasal darimana? Kenapa kamu pindah sekolah?" TanyanSomi,


"Saya, bu. Kenapa wajahmu sangat tampan?" Imbuh Hanna.


"Kenapa namamu seperti seorang gadis?" Ledek Titan.


Beberapa siswa dibuat tertawa setelah pertanyaan Titan terlontar.


"Sepertinya aku bakalan terlibat masalah lagi disini."


"Suya, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya seorang siswi lainnya.


"Huuuu.."


Sorakan siswi lain menghujani siswi itu.


"Cukup, cukup. Biarkan Suya menjawab pertanyaan kalian." Redam bu Lee.


"Aku dari Amerika." Sahut Suya singkat,


"Wahh,"


"Aku ingin sekali berteman dengannya." Bisik seorang siswi.


"Bu, apakah saya boleh duduk?" Ucap Suya.


"Ah, iya. Kamu bisa duduk disebelah sana." Ucap bu Lee sembari menunjuk kearah kursi kosong dipojok belakang.


"Wah, sikap dinginnya sungguh mempesona." Bisik Hanna.


"Iya," sahut Somi


"Dasar pengganggu."


...