He Is A Girl

He Is A Girl
13 Rahasia Jahat



"Syukurlah kamu baik-baik saja. Sebenarnya kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" ucap Suya.


"Aku juga tidak tahu. Tapi malam itu aku mendapat pesan atas namamu, jadi aku pergi kesana." jelas Seori.


"Iya aku tahu. Aku sudah mengecek ponselmu. Lain kali jangan lagi percaya dengan pesan spam seperti itu. Kecuali jika memang aku menelponmu. Lagipula itu juga bukan nomorku, kamu ini bisa-bisanya percaya begitu saja."


"Iya aku tahu aku juga salah. Sebelumnya aku juga sudah merasa aneh kenapa kamu bisa tersesat. Tapi karena kamu memang masih baru disini jadi aku pikir itu sungguhan." jelasnya lagi.


"Sudah, sudah. Jadikan ini semua sebagai pelajaran. Aku gak mau kejadian seperti ini terulang lagi untuk yang kesekian kalinya."


"Iya. Aku janji. Aku tidak akan membuat kamu kehilangan siapapun lagi. Janji." ucap Seori dengan sungguh-sungguh.


Meski raut wajah Suya nampak tenang, namun Seori sangat yakin bahwa ada penyesalan besar yang sedang dia pikirkan. Kejadian kelam terulang lagi dalam hidupnya. Dan membuat Seori merasa tidak nyaman.


"Oh iya. Setelah diperbolehkan pulang, aku akan mengirimku kembali ke Amerika. Aku gak mau kamu tetap disini karena kedepannya akan lebih bahaya lagi buat kamu."


Suya sudah mendapatkan semua informasi dari Hyuk dan juga Zhen mengenai kejadian yang menimpa Seori. Dia berencana untuk balas dendam dan memusnahkan semua keluarga Yuna tanpa terkecuali.


Suya tidak akan memberi ampun pada siapapun yang berani berbuat jahat pada keluarganya. Dengan identitasnya tentu saja bukan hal yang sulit jika ingin menghancurkan kelompok tertentu.


"Apa kamu juga akan kembali?" tanya Seori.


"Tidak. Aku akan disini sampai lulus." sahutnya.


"Apa kamu yakin? Lalu bagaimana jika kamu tidak baik-baik saja saat aku tidak ada."


"Kamu pikir aku masih anak-anak. Lagipula siapa yang melindungi siapa?" ledek Suya.


"Baiklah. Aku tidak akan menyusahkanmu kali ini. Tapi kamu harus janji untuk selalu hati-hati dan setiap hari harus melakukan panggilan video." rengek Seori dengan manjanya.


"Baiklah,"


Setelah beberapa hari akhirnya Seori sudah diperbolehkan pulang. Dan dihari yang sama pula dia kembali ke Amerika bersama Zhen. Saatnya pula untuk Suya kembali ke kehidupan sekolahnya.


..


"Lihat, itu Suya." bisik seorang siswa yang kebetulan melihat Suya memasuki gerbang sekolah.


"Iya. Dengar-dengar dia hampir seminggu tidak masuk sekolah hanya karena merawat siswi pindahan itu." sahut siswa lainnya.


"Iya , aku dengar juga begitu."


Dengan sikap cueknya Suya berjalan penuh percaya diri dan tenang. Dalam hatinya dia sudah memiliki rencana besar untuk membalas kejadian yang menimpa Seori. Dari belakang nampak Jiho dan Titan baru saja memasuki sekolah dan menyapa Suya.


"Suya!" teriak Jiho.


Teriakan Jiho begitu nyaring membuat siswa lainnya memusatkan pandangan mereka pada Suya yang berjalan di lobi.


"Suya? Apa dia sudah berangkat?" gumam Yuna.


Teriakan Jiho terdengar oleh Yuna dan dia bergegas menuju lobi untuk menyapa Suya.


"Suyaaa...." teriak Yuna dengan manja.


Sebelumnya Suya hanya akan mengabaikannya, namun kali ini berbeda.


"Hai," sapa Suya dengan senyum penuh makna.


"Suya tersenyum padaku!"


Dalam hati Yuna sangatlah merasa senang. Ini adalah kali pertama Suya merespon dirinya.


"Apa aku tidak salah lihat? Suya tersenyum pada Yuna? Apa mungkin akan ada hal besar yang terjadi?" bisik Titan pada Jiho.


"Ssttt... Lihat saja apa yang akan terjadi."


"Kamu kenapa tidak masuk beberapa hari ini?" Yuna coba memulai percakapannya.


"Aku? Tentu saja menyiapkan hadiah untukmu." sahut Suya.


"Hadiah? Untukku? Hadiah apa?" Yuna nampak antusias mendengar ucapan Suya.


"Coba kau nyalakan televisi itu dan tunggu 40 detik lagi."


"Tv? Oh oke." tanpa curiga sedikitpun Yuna menyalakan tv yang berada dilobi


"Pemirsa. Seperti yang anda lihat saat ini, pimpinan dari YN kosmetik ditangkap oleh pihak kepolisian..."


"Ayah?" ucap Yuna tertegun.


"...*dalam penyidikan pimpinan YN terlibat dalam bisnis dunia bawah tanah dan telah beberapa kali terlibat dalam pembunuhan demi memenangkan sebuah tender bisnis. Demikian berita ini kami..."


'Bip*'


Yuna segera mematikan tv, siswa yang menyaksikan berita itupun memandang sinis padanya.


"Kenapa! Apa lihat-lihat?!" dengan penuh amarah dia memaki setiap pasang mata yang memandang kearahnya.


Suya tersenyum dengan sangat puas.


"Suya! Apa maksud semua ini? Apa ini semua ulahmu!" bentaknya pada Suya.


Suya dengan perlahan berjalan kearahnya.


"Ya! Ini semua ulahku..."


"Apa ini yang dia maksud dengan tahu lebih jelas untuk berteman?"


"... apa kamu merasa tersentuh? Lim Yuna, dengan kejam beraninya menyuruh seseorang untuk mencelakai Seori. Kamu pikir aku akan diam saja. Kita lihat saja berapa lama kamu akan tetap disini. Aku masih berbelas kasihan hanya menghancurkan ayahmu. Saranku, kamu jangan lagi mencari masalah denganku atau aku juga akan menghancurkanmu dan membuatmu hidup segan mati tak mau!"


Suya berlalu meninggalkan Yuna setelah mengancamnya dengan kejam. Yuna masih terdiam. Perasaannya begitu terpukul. Airmatanya menetes membasahi pipinya. Dengan segera dia berlari keluar dari sekolah menaiki sebuah taxi.


Setiap pasang mata yang menyaksikan kejadian ini pun masih juga tertegun. Mereka tidak menyangka jika Suya ternyata orang yang bisa melakukan hal seperti itu tanpa rasa gemetar sedikitpun.


Suasana kelas menjadi sedikit canggung. Beberapa tatapan aneh tertuju kepada Suya. Jiho pun memberanikan diri untuk mendekati Suya.


"Suya," sapanya.


"Kenapa? Jika kamu merasa tidak enak maka lupakanlah. Aku sudah terbiasa seperti ini."


"Bukan. Aku cuma mau tahu gimana kondisi Seori?"


"Owh, dia sudah membaik. Aku juga sudah mengirimkan kembali ke Amerika. Ngomong-ngomong terimakasih."


"Hah?"


"Karena malam itu kamu mengantarku ke rumah sakit."


"Ow itu. Tidak masalah. Kita kan teman,"


"Teman? Cih, kamu jangan bersikap impulsif."


"Ya terserah kamu. Yang penting bagiku kita adalah teman."


"Terserah, pergilah jangan meng..."


"Suya." suara Jun yang tiba-tiba memotong pembicaraan Suya dengan Jiho.


"Mau apa kamu!" Suya nampak tidak senang saat Jun menyapanya.


"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Jun.


"Tidak ada hal yang ingin kubicarakan denganmu." tolaknya pada Jun.


"Tapi aku..."


"Sudah kubilang! Jangan pernah memasuki kehidupanku! Lebih baik kamu menyerah saja dan pergi jauh-jauh dari sini! Jangan tunggu kesabaranku menghilang!" bentaknya, membuat seisi kelas tiba-tiba menjadi hening.


"*Kenapa mereka selalu bertengkar sejak awal?"


"Sepertinya mereka saling kenal akrab sebelumnya*."


"Baiklah. Jika kamu memang ingin aku menyerah aku akan mengabulkannya. Aku akan pindah sekolah besok. Semoga dengan aku menuruti kemauanmu ini kamu bisa sedikit memberikan maafmu untukku." jelas Jun dengan berat hati.


"Jangan pernah berharap apapun!" sahut Suya dengan ketus.


Keesokan harinya Jun benar-benar tidak berangkat ke sekolah. Beberapa siswa saling bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Semua jawaban ada pada Suya namun tidak ada seorangpun yang berani untuk bertanya kenapa.


"Suya, kepala sekolah memanggilmu." ucap Jae.


"Hm,"


Suya berjalan menuju ruang kepala sekolah. Dari awal dia sudah sadar akan resiko yang akan menimpanya jika dia mengungkap identitas keluarga Lim, namun dia sudah memikirkan semua dengan matang dan akan menghadapi apapun resikonya. Dia juga sangat yakin jika bukan kemauannya atau ayahnya dia tidak akan dikeluarkan dari sekolah.


"Permisi pak."


"Duduk. Suya, apa yang kamu lakukan?"


"Seperti yang bapak ketahui."


"Apa kamu tahu akibat dari perbuatanmu itu?"


"Tidak membuat onar disekolahan? Kamu dengan terang-terangan membuat teman-temanmu menyaksikan pak Lim ditangkap dan baru saja keluarga Jun memberikan surat penyataan keluar dari sekolah. Bapak mendengar bahwa itu semua permintaanmu. Apa ini yang kamu bilang bukan membuat onar?"


"Semua yang bapak katakan memang benar. Lalu apa inti yang bapak inginkan? Saya keluar dari sekolah juga? Dan esok akan ada artikel heboh dengan judul korban bully di sma Yeju dipaksa keluar sekolah oleh kepala sekolah. Wah, sepertinya itu akan sangat menarik. Apa perlu kita coba, pak?" tanpa rasa takut sedikitpun Suya dengan berani mengintimidasi kepala sekolah.


"Kamu mengancam saya?" pekik sang kepala sekolah.


'Klak'


Tiba-tiba pintu terbuka.


"Apa salahnya jika dia benar mengancam anda?" ucap seseorang yang baru saja masuk.


"Tuan Zhen?"


Kepala sekolah tertegun saat melihat Zhen masuk keruangannya.


"Kenapa? Apa saya mengganggu anda?"


"Tentu saja tidak, silakan duduk."


Kepala sekolah memperlakukan Zhen dengan sangat hormat.


"Kamu kembali ke kelas. Urusan kita belum selesai!" bisik kepala sekolah pada Suya.


"Siapa yang menyuruh anda meminta dia pergi?" ucap Zhen yang mendengar bisikan itu.


"Ah, maaf tuan Zhen. Ini hanya masalah kecil, tidak ada hubungannya dengan tuan Zhen." ucap kepala sekolah.


"Sepertinya saya terlambat menyampaikan. Oh Suya, anak terakhir dari Oh Soo. Pendiri sekaligus pemilik sma Yeju." ucap Zhen dengan tenang namun menusuk.


Mendengar ucapan Zhen membuat kepala sekolah diam seketika dan raut wajahnya menjadi sedikit takut.


"Jadi, Suya adalah putra dari pemilik sma Yeju?" tanyanya memastikan kembali.


"Iya. Dan semua tindakannya barusan adalah atas perintah ayahnya. Jadi saya harap masalah ini selesai cukup sampai disini dan juga simpan baik-baik untuk anda sendiri apa yang baru saja anda ketahui. Kami permisi."


Zhen dan Suya meninggalkan ruangan kepala sekolah. Kepala sekolah masih kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Kenapa kamu kesini?" tanya Suya pada Zhen.


"Sudah kuduga kamu akan kena masalah. Untung aku datang tepat waktu. Kalau tidak entah apa yang akan terjadi." sahut Zhen.


"Kamu pikir aku akan semudah itu ditindas? Dalam hidupku hanya ada menindas bukan ditindas. Orang yang bisa menindasku masih belum lahir didunia ini." sahut Suya dengan penuh percaya diri.


"Iya deh iya. Sore nanti aku akan kembali, apa kamu mau ikut? Nona Seori selalu merengek ingin melihatmu dan setiap hari mendatangi tuan besar agar membawamu kembali."


"Aku tidak bisa ikut. Aku ada kerjaan akhir pekan ini. Sampaikan saja salamku untuk pak tua itu juga mama. Bilang sama pak tua itu tidak usah sok-sokan peduli setelah semua yang dia lakukan padaku. Dan untuk Seori nanti biar aku bicara sendiri."


"Baiklah. Tapi, apa kamu tidak bisa mengikhlaskan semuanya dan kembali saja dengan nyaman kerumah?"


"Aku akan mencari kemanapun sampai orang itu ditemukan. Kamu tidak perlu khawatir, aku baik-baik saja sampai saat ini."


"Kamu hanya menyembunyikannya saja, aku tahu betul bahwa kamu tidak mungkin baik-baik saja."


"Sudahlah, kelas sebentar lagi dimulai. Aku pergi dulu."


"Yah, teruslah melarikan diri. Aku pergi."


Keduanya berjalan berlawanan. Suya bergegas kembali ke kelas dan Zhen berlalu meninggalkan sekolahan. Kali ini usahanya untuk membujuk Suya kembali gagal. Dia sudah tidak lagi mampu berbuat banyak. Didalam keluarga Oh, Suya adalah orang yang paling keras kepala dan susah untuk dibujuk jika sudah memutuskan sesuatu.


"Suya, ada apa kepala sekolah memanggilmu?" Tanya Jiho.


"Bukan masalah apa-apa." Sahutnya.


"Apa kamu yakin?"


"Apa kamu bisa berhenti bertanya?"


Suya makin kesal dengan sikap Jiho yang selalu ingin ikut campur urusannya.


"Jiho," seru Titan,


"Ada apa? Kenapa wajahmu tegang begitu?"


"Ikut aku sebentar," Titan menarik tangan Jiho agar bisa berbicara diluar kelas.


"Ada apa?"


"Kamu ingat club basket Lion yang tempo hari sempat nantang kita lalu club kita kalah?" Ucap Titan.


"Iya aku ingat, tapi tidak dengan wajah mereka, aku kan waktu itu tidak ikut main,"


"Tidak peduli dengan wajah mereka, beberapa hari yang lalu Joy dan Hero terlibat perkelahian dengan salah satu anggota mereka."


"Kalian bodoh? Ngapain pakai berkelahi? Kalau sampai pelatih mendengar ini kita semua bisa kena masalah."


"Iya aku tahu. Ketua club itu merasa tidak terima dan menantang kita duel. Kalau kita tidak datang malam ini, maka mereka akan datang ke sekolah."


"Mereka minta tanding ulang?"


"Aku tidak akan khawatir jika hanya tanding basket. Dia nantang tawuran. Dia tidak terima anggotanya dibikin babak belur."


"Sial. Kalian kenapa begitu bodoh sih!"


"Sekarang kita gimana?"


"Dimana mereka ingin bertemu?"


"Taman K, apa kita akan meladeni mereka?"


"Oke. Kamu ajak Joy dan Hero. Sebisa mungkin kita harus berdamai. Aku tidak masalah jika hanya bertanding basket. Tapi untuk berkelahi sebisa mungkin harus dihindari."


"Baiklah, aku akan kasih tau Joy dan Hero. Oh ya, apa perlu kita minta Suya untuk bergabung?"


"Sebisa mungkin jangan ada orang luar club yang tau."


..


"Suya, aku penasaran kenapa kamu bisa benci banget dengan Jun?" Ucap Jae


"Hanya masalah pribadi dimasalalu." Sahut Suya.


"Jadi kalian pernah kenal sebelumnya?"


"Iya, pernah satu sekolah."


"Lalu..."


"Aku tidak menjawab pertanyaan lainnya."


"Hm, baiklah. Tapi lain kali bersikaplah baik pada teman-teman yang lain. Mereka jadi semakin menjauh sejak masalahmu dengan Yuna kemarin."


"Terserah mereka mau gimana, aku hanya berteman dengan orang yang mengenalku apa adanya. Aku tidak butuh teman baru disini. Asal kamu tahu saja, aku disini karena ada perlu yang harus aku lakukan, bukan untuk mencari teman."


"Terserah kamu, aku hanya mengingatkan saja."


"Oke thanks,"


..nanti malam aku perlu bantuanmu jam 9 di taman K, aku tunggu..


..oke..


..


"Datang juga, aku pikir kamu sibuk."


"Ada masalah apa? Bukannya ini bukan wilayah kalian?"


"Beberapa hari yang lalu Jimmy dihajar oleh club yang pernah kami kalahkan. Hari ini aku mau kamu bantu kami balas dendam."


"Berkelahi?"


"Iya, kamu tentu tidak keberatan kan?"


"Selama tidak membuat lawan mampus sih oke aja."


"Jangan khawatir, aku hanya ingin memberi mereka sedikit pelajaran saja. Tidak ada niatan sampai membasmi mereka."


"Baguslah, jika sampai membunuh itu niat kalian maka kalian duluan yang akan aku bunuh."


Mereka tertegun mendengar ucapan itu.


"Bos, apa kita aman minta bantuannya?" Bisik salah satu dari mereka.


"ssttt.."


"Kamu jangan khawatir. Kami masih tahu batasan. Tapi semua hal bisa saja terjadi diluar kendali kita, lalu kenapa kamu masih mau membantu kami?"