
Jiho sudah merasa yakin bahwa Suya tidak akan memperpanjang masalah ini, diapun kembali ke mejanya sendiri. Dalam hatinya dia merasa kagum dengan rasa bijak yang ada pada Suya. Namun dia juga merasakan rasa iri karena Suya tidak pernah memperlakukannya dengan bijak melainkan selalu menggunakan amarah saat berhadapan dengannya. Namun hal itulah yang membuatnya jadi semakin penasaran pada Suya. Siapa sebenarnya dia? Itulah yang selalu dipikirkan Jiho sejak pertama kali bertemu dengan Suya.
Jam istirahat telah usai, serangkaian pelajaran sudah kembali menunggu seluruh siswa sma yeju. Saat ini adalah pelajaran olahraga untuk kelas 2a. Seperti biasa, seluruh siswi berhamburan pergi ke kamar mandi untuk berganti seragam. Begitu juga dengan Suya meskipun siswa yang lain berganti pakaian hanya dikelas.
"Lihatlah, ini sudah kesekian kali dia pergi ke toilet untuk ganti pakaian," ucap Titan.
Jae kebetulan mendengar ucapan Titan,
"Kamu benar, tidak mungkin kan kalau dia malu? Kalau dilihat dari perutnya yang rata begitu untuk apa juga dia malu, apalagi sesama lelaki." ucapnya.
"Kita lihat juga, apa nanti dia juga akan izin lagi ke uks seperti sebelumnya. Sudah dua bulan dia disini tapi kenapa setiap jam olahraga dia selalu pergi ke uks, aku sungguh penasaran soal ini," imbuh Titan.
"Apa kalian juga tahu? Selama ini dia tidak pernah menghadiri club sekalipun. Dia hanya datang tanda tangan absensi lalu pergi begitu saja," ucap Feng yang muncul tiba-tiba.
"Kenapa ya? Kenapa dia selalu menghindari jam olahraga? Dan juga club," setelah mendengar obrolan teman-temannya membuat Jiho jadi kepikiran.
Setelah selesai mereka segera bergegas menuju lapangan. Seluruh siswa segera berbaris untuk memulai pemanasan agar tubuh mereka tidak kram karena pergerakan yang tiba-tiba. Pemanasan berlangsung tak lama.
"Hari ini murid perempuan penilaian lari 800m, untuk yang laki-laki kita lakukan minggu depan. Sekarang kalian bisa bermain basket atau futsal dulu." ucap pak Choi.
Setelah mendapat intruksi dari guru, seluruh siswa segera memposisikan diri masing-masing.
Lagi-lagi Suya menghampiri sang guru,
"Pak, boleh saya ke uks?" ucapnya.
Ini sudah kesekian kali Suya selalu izin ke uks tiap kali jam olahraga dan kali ini pak Choi tidak ingin membiarkannya begitu saja.
"Suya, kenapa kamu selalu saja izin ke uks setiap kali pelajaran olahraga?" ucap pak Choi.
"Lihat, Suya izin ke uks lagi,"
"Iya, kenapa sih emangnya?"
"Dia kenapa sih?"
Beberapa siswa saling melempar pertanyaan melihat ini sudah kesekian kalinya Suya menghindari jam olahraga. Di jam pelajaran lain tak pernah sekalipun Suya melewatkannya. Namun disetiap jam olahraga, tak pernah sekalipun Suya menghadirinya.
"Maaf, pak. Saya hanya merasa tidak enak badan." ucap Suya.
Namun alasan itu sepertinya sudah tidak lagi diterima pak Choi.
"Bapak tidak mengizinkannya, sekarang juga kamu lari keliling lapangan lima kali sebagai peringatan karena kamu selalu bolos pelajaran bapak." perintah pak Choi.
"Tapi pak..." Suya coba menolak perintah pak Choi.
"Tidak ada tapi, segera lari keliling lapangan!"
Kali ini Suya tak mampu membuat pak Choi percaya dan mengizinkannya pergi ke uks dengan alasan tidak enak badan. Terpaksa dia berlari mengelilingi lapangan. Dari kejauhan Jiho memperhatikannya, dia masih terheran dengan jalan pikiran Suya.
Setelah berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima kali, Suya beristirahat dipinggir lapangan, napasnya terengah-engah. Melihat Suya yang nampak kecapekan membuat Jiho menghampirinya sembari membawakan sebotol minuman untuk Suya.
"Nih, minum." ucap Jiho sembari menyodorkan sebotol minuman segar.
"Makasih," balasnya, Suya dengan segera menghabiskan minuman itu agar badannya kembali lebih segar.
"Iya. Ngomong-ngomong..."
"Gak usah tanya kenapa aku selalu izin ke uks," belum sempat Jiho mengutarakan pertanyaannya tapi Suya sudah keburu mencegahnya.
"Ya sudahlah, mau ikut main basket?" ajak Jiho.
"Tidak, aku akan gabung dengan anak futsal." tolaknya.
"Baiklah," Jihopun kembali bermain basket dengan yang lainnya.
Karena gagal izin ke uks, Suya memutuskan untuk ikut siswa lainnya bermain futsal. Meski sebenarnya dia ingin sekali main bola basket, tapi keinginan itu dia urungkan mengingat ada begitu banyak orang disana, dia tak mau ada seorangpun yang tahu kalau dia bisa main basket.
Meski Suya sangat menyukai basket, namun dia juga jago dalam bidang olahraga lainnya seperti futsal. Bahkan beberapa siswi yang menunggu giliran mereka untuk penilaianpun sesekali bersorak untuk Suya setiap kali dia berhasil mencetak gol.
"Anak itu, dia benar-benar penuh bakat. Tapi kenapa dia selalu menolak tawaranku?"
Jiho merasa terkagum dengan kemampuan Suya kali ini. Tanpa terasa waktu berlalu begitu saja. Jam pelajaran telah usai dan seluruh siswa sma yeju berhamburan untuk meninggalkan sekolahan.
"Suya," panggil ketua kelas,
"Kenapa?"
"Tadi kamu jago main futsal, mau gabung sama anak futsal gak?"
"Enggak, gak ada waktu. Lagipula aku juga gak hobby futsal, tadi terpaksa saja karena gak ada pilihan," sahutnya dengan cuek.
"Oh gitu ya, yaudah deh." pungkas ketua kelas.
Dari kejauhan Seori melambaikan tangannya pada Suya dan Suyapun menghampirinya.
"Ada apa?" sapanya.
"Mau pergi bareng?" ajak Seori.
"Aduh, maaf. Hari ini aku harus ke kafe. Robin hari ini tidak bisa masuk kerja, jadi aku gak bisa bolos." sahutnya.
"Robin?"
"Itu, rekan kerjaku di kafe. Kamu gak apa kan pergi sendiri?"
"Huh, ya mau gimana lagi. Tapi nanti weekend nonton yuk, dah lama nih." bujuk Seori.
"Baiklah, kali ini aku pasti luangin waktu." sahut Suya dengansemangat.
"Nah gitu dong. Ya udah, aku pulang dulu. Bye.." Seori pun berlalu sembari melambaikan tangan.
"Bye," Suya kembali membalas lambaian tangan Seori.
"Anak itu benar-benar cari masalah sama aku!" gumam Yuna.
Yuna yang dari kejauhan menyaksikan keakraban Suya dengan Seori menjadi sangat kesal. Membuatnya memikirkan rencana yang kurang baik untuk Seori. Raut wajahnya terlihat sangat kesal.
..
Malam semakin larut, hiruk pikuk juga mulai reda. Suara bising kendaraan yang berlalu-lalang mulai berkurang bahkan sudah jarang. Setelah jam kerjanya usai Suya perlahan melangkahkan kakinya menuju rumah. Namun seperti biasanya dia mampir terlebih dahulu di taman.
Sesampainya di taman itu dia termenung sejenak. Duduk dibangku taman sembari memandangi langit yang begitu luas dan dipenuhi bintang-bintang.
Perasaannya mulai terhanyut, dengan suara yang lirih dia mulai bergumam.
"Apa kabar? Apa kamu juga merindukanku seperti aku yang selalu merindukanmu? Apa aku dari sana terlihat cantik? Aku rindu mendengar suaramu..."
"Siapa yang sebenarnya dia rindukan? Ha? Apa maksudnya dengan terlihat cantik? Apa maksud kata-katanya itu? Atau jangan-jangan..."
"...pada siapa aku harus berteman? Pada siapa aku harus percaya? Aku rindu padamu,"
Pertanyaan-pertanyaan itu selalu Suya ulangi setiap hari saat dia merindukan Minho. Pertanyaan yang tak pernah dia dapatkan jawabannya.
"Suya," sapa seseorang dari kejauhan.
"Jiho? Kamu lagi." gumam Suya.
"Ya..." balasnya sembari duduk disamping Suya,
"...nih," sebotol minuman dia sodorkan pada Suya.
Tanpa berkata apapun Suya menerima minuman itu.
"Kenapa kamu bisa disini?" ucap Suya, dia sedikit penasaran karena sering kali dia memergoki Jiho berada di taman itu.
"Kamu sendiri kenapa setiap malam selalu kesini?" balas Jiho.
"Bukan urusanmu," sahut Suya dengan jutek.
"Kalau begitu juga bukan urusanmu aku mau disini atau tidak," Jiho tak mau kalah dari Suya.
"Ya, terserah kamu, aku juga gak peduli." sahut Suya, ekspresinya terlihat sangat acuh pada jawaban Jiho.
"Oh ya, maaf sebelumnya," ucap Jiho yang sedikit ragu dengan apa yang mau dia sampaikan.
"Kenapa?"
"Maaf, tadi aku sempet dengar kamu bergumam tentang pada siapa kamu harus berteman..."
"Kamu menguping!?" pekik Suya yang terkejut karena Jiho mendengar ucapannya tadi.
"Bukan! Aku baru saja datang dan tidak sengaja mendengarnya." elak Jiho, dia tidak ingin Suya tahu kalau dia mendengar semuanya.
"Terus kenapa?"
"Sebenarnya apa maksud kalimatmu itu?"
Tiba-tiba Suya terdiam, raut wajahnya sedikit masam seolah pikirannya sedang berada dalam masa kelam. Menyadari ekspresi Suya yang seperti itu membuatnya mengurungkan niat untuk melanjutkan topik pembicaraan itu.
"Kalau kamu gak mau cerita, gak usah dijaw..."
"Namanya Minho,..." jawab Suya secara tiba-tiba, membuat Jiho terdiam dan menghentikan ucapannya,
"...orang yang paling aku sayangi sampai saat ini." pungkasnya.
"Dia pacarmu?" tanya Jiho lebih lanjut.
"Ya," suara Suya terdengar lebih sendu kali ini.
"Kalau kamu sangat menyayanginya dan dia juga pacarmu kenapa kamu terlihat mur..."
"Tapi itu dulu, sebelum kematiannya memisahkan kami." potong Suya.
Seperti tersambar petir, hati Jiho merasakan sakit mendengar ucapan Suya tentang kematian Minho. Ingin sekali Jiho merangkul Suya untuk membantunya tetap tegar, tapi dia sendiri masih terkejut akan kalimat itu.
"Maaf, aku tidak bermaksud," ucapnya sembari mencoba mencairkan suasana yang tiba-tiba menjadi sunyi.
"Gak masalah, lagipula kejadian ini juga sudah lama kok. Aku juga sudah terbiasa," ucap Suya, suaranya kali ini terdengar lebih ceria daripada sebelumnya.
"Atau jangan-jangan ini ada hubungannya dengan traumanya waktu itu?"
Jiho tak lagi mampu bertanya lebih dalam. Rasa ingin tahunya untuk saat ini benar-benar musnah saat mendengar kenyataan pahit hidup Suya.
"Kenapa itu wajahmu?" ledek Suya yang menyadari wajah Jiho nampak lebih sedih daripada dia.
"Aku itu selalu penasaran sama kamu," sela Suya,
"Kamu?" jawab Jiho dengan perasaan terheran-heran.
"Kenapa kamu selalu menggangguku?"
"Aku gak pernah mengganggumu," sahut Jiho dengan polosnya.
"Tidak pernah? Lalu kamu selalu saja muncul dihadapanku itu apa namanya kalau bukan mengganggu?" balas Suya.
"Siapa bilang aku mengganggu, aku cuma mau berteman kok itu saja. Aku gak pernah berniat mengganggumu." jelas Jiho.
"Berteman?"
"Ya, kamu bisa berteman denganku, aku juga bisa dipercaya kok," sahut Jiho dengan bangga.
"Kamu jelas-jelas menguping ucapanku."
"Mana ada, aku hanya kebetulan dengar saja. Gak penting ju..."
'drrtt...drrtttt.'
"Bentar, bentar," ucap Suya yang menghentikan omongan Jiho karena ada panggilan telfon masuk.
"Hallo," ucap Suya,
"Hallo, apa benar ini nomor Oh Suya?"
"Iya, maaf ini siapa ya?"
"Maaf sebelumnya kami mendapat nomor ini dari panggilan terakhir saudari Seori..."
"Seori? Lalu mana anaknya? Dan anda siapa?"
"Kami dari rumah sakit, nona Seori saat ini sedang berada diruang IGD..."
"Apa? Apa yang terjadi? Rumah sakit mana? Saya akan segera kesana."
"Rumah sakit WY,"
Setelah mendapatkan nama rumah sakitnya, Suya bergegas kesana.
"Ada apa?" cegah Jiho yang mendapati Suya hendak pergi dengan panik.
"Seori masuk rumah sakit, aku harus segera kesana." sahut Suya yang coba melepas cengkeraman Jiho.
"Aku antar kamu kesana. Aku bawa mobil, kita akan lebih cepat sampai."
"Oke kalau gitu,"
Tanpa pikir panjang Suya menyetujui tawaran Jiho. Saat ini bukan saatnya dia mementingkan egonya dengan menghindari Jiho. Yang dia pikirkan saat ini hanyalah segera sampai dirumah sakit dan melihat kondisi Seori kenapa bisa sampai masuk IGD. Dia sangat takut jika sesuatu yang buruk akan terjadi pada Seori. Sepanjang jalan menuju rumah sakit dirinya sangat tidak tenang, dan tentu saja itu membuat Jiho juga tidak tenang.
"Kamu tenang saja, dokter pasti melakukan yang terbaik." ucap Jiho yang coba menenangkan Suya.
"Bagaimana aku bisa tenang kalau aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan Seori terbaring lemah dirumah sakit. Kalau tahu akan begini aku tadi tidak akan menolak ajakannya untuk keluar bareng. Sial,"
"Sebenarnya Seori itu siapapun? Kenapa kamu khawatir sampai segitunya?"
"Dia sangat penting bagiku, karena dia adalah adikku."
"Adik?"
"Ya, dia adalah adikku. Kamu cepetan nyetirnya!"
"Iya, ini juga udah cepet."
"Jadi Seori adalah adiknya? Pantas saja dia sangat menyayangi Seori dan bahkan melindunginya mati-matian dari Yuna."
Jarak rumah sakit dengan taman tempat Suya tadi lumayan jauh, butuh waktu setengah jam untuk sampai. Sesaat setelah sampai didepan rumah sakit Suya bergegas turun dari mobil dan berlari menuju ruang IGD,
"Maaf, pasien atas nama Hwang Seori dimana?" tanyanya pada petugas registrasi.
"Pasien sedang ditangani diruang IGD, masuk saja diujung lorong belok kanan," sahut penjaga itu.
"Baik terimakasih."
Suya segera berlari menuju ruang IGD, namun setelah memasuki ruangan itu dia tidak menemukan Seori.
"Maaf, dok. Dimana pasien atas nama Seori?" ucapnya pada dokter yang sedang jaga disana.
"Saat ini pasien sedang diruang operasi, anda keluarganya?"
"Iya, dok. Saya kakaknya."
"Baiklah, kalau begitu tolong tanda tangani dokumen ini."
"Baiklah, ini. Sebenarnya adik saya kenapa, dok?"
"Adik anda mengalami penusukan, ada dua tusukan dibagian perutnya." jelas sang dokter.
"Apa? Penusukan? Apa dokter tahu siapa pelakunya?"
"Kalau untuk pelaku saya tidak tahu, tapi tadi ada seseorang yang mengantarkannya kesini. Dia bahkan meninggalkan kontak jikalau ada yang mau ditanyakan. Sebentar saya ambilkan," ucap dokter itu.
"Sial, siapa yang berani macam-macam sama keluarga gue. Kalau sampai ketemu, akan aku hancurkan sampai anak cucu mereka." gumam Suya, amarahnya sudah lagi tak mampu dia bendung.
"Suya, bagaimana Seori?" tanya Jiho yang baru saja masuk.
"Dia sedang diruang operasi. Ada luka tusukan dibagian perutnya."
"Luka? Apa dia mengalami perampokan?"
"Aku masih belum tahu..."
"Ini nomor orang itu," ucap dokter yang menyela pembicaraan mereka.
"Terimakasih, dok." ucap suya.
"Nomor siapa itu?" tanya Jiho.
"Orang yang membawa Seori kesini, bentar aku mau menelponnya,"
'*tuutt...tuuutt..'
"Hallo*?" sahut seseorang dibalik telpon.
"Hallo, apa benar ini saudara Andy?"
"Iya, anda siapa ya?"
"Maaf sebelumnya, saya Suya, kakak dari perempuan yang anda bawa ke rumah sakit."
"Oh, iya, gimana keadaannya?"
"Dia masih diruang operasi. Maaf boleh saya tahu dimana anda menemukan adik saya?"
"Oh itu, saya menemukannya ditaman dekat Vaya residence."
"Baiklah, terimakasih karena anda mau menolong adik saya dan mengantarnya ke rumah sakit. Jika tidak keberatan izinkan saya dan adik saya saat sudah sembuh nanti untuk berkunjung ketempat anda sebagai ucapan terimakasih,"
"*Iya, sama-sama. Semoga adik anda lekas pulih,"
.
"Dibalik sikap dinginnya ternyata dia orang yang sangat hangat*."
"Gimana?" tanya Jiho.
"Seori ditemukan ditaman dekat Vaya residen. Aku akan kesana." sahut Suya.
"Tunggu, Vaya residen? Apa Seori tinggal disana?"
"Tidak, Seori tinggal di apartemen yang dekat dengan galery Sun. Aku lupa nama apartemennya." jelas Suya.
"Apartemen Mape maksudmu?"
"Ah iya itu. Dia tinggal disana."
"Lalu kenapa dia bisa sampai ditaman Vaya? Jelas-jelas itu sangat berlawanan arah. Mape berada diarah utara dari rumah sakit ini, dan Vaya berada diarah selatan. Untuk apa Seori kesana?"
"Jadi keduanya berlawanan arah? Tunggu, taman? Vaya? Sebentar, aku pernah dengar komplek Vaya, tapi dimana ya," gumamnya, Suya merasa pernah mendengar nama komplek ini sebelumnya.
"Pernah dengar? Maksudmu dari Yuna?"
"Ah, benar. Yuna. Sebentar," Suya bergegas mengecek pesan yang sebelumnya dikirim Seori tentang biodata Yuna.
"Ketemu..."
..Lim Yuna, perempuan 16 tahun, tinggal di Vaya residen. Putri tunggal
dari bos kelompok gelap kota S, juga pemilik YN kosmetik...
"...semoga saja dugaanku salah." gumam Suya.
"Kenapa?" Jiho merasa penasaran dengan maksud Suya.
"Ini hanya dugaanku saja. Jangan-jangan ini ulah Yuna." sahut Suya.
"Apa kamu yakin? Meskipun dia selalu saja menyebalkan tapi apa mungkin dia berani sampai seperti ini?" ucap Jiho, dia masih terkejut dengan dugaan Suya.
"Apa kamu tahu identitas keluarga Yuna?" tanya Suya, dia merasa sepertinya Jiho sama sekali tidak tahu fakta bahwa keluarga Yuna adalah keluarga mafia.
"Setahuku mereka punya perusahaan kosmetik." jawab Jiho.
"Itulah kenapa kamu harus tahu seluk beluk seseorang sebelum berteman dengannya," cibir Suya.
"Apa maksudmu?" Jiho sama sekali belum bisa paham dengan arah pembicaraan Suya.
Suya tidak menggubris ucapan Jiho, dia terlihat sedang mencoba menghubungi seseorang.
"Hallo, ada apa?" orang itu menerima panggilan Suya.
"Hallo, pa..."