He Is A Girl

He Is A Girl
12 Awal Pertemanan



"...aku butuh bantuan papa." ucap Suya.


Dia tidak punya pilihan lain selain meminta bantuan pada ayahnya. Koneksi dan anak buah ayahnya pasti dapat membantunya menemukan dalang dari kasus Seori.


"Kamu terlibat masalah apa lagi?! Sudah papa bilang, kamu harus hidup mandiri disana dan berhenti berbuat onar."


"Ini bukan masalah hidupku disini, pa."


"Lalu apa!"


"Aku butuh bantuan Zhen,"


"Zhen? Kamu terlibat kasus apa?"


.


"Siapa Zhen? Kenapa papanya langsung bisa tahu Suya sedang ada kasus."


.


"Sebenarnya sekarang Riri sedang ada diruang operasi..."


"Apa! Maksudmu Riri sekarang ada dikota S bersamamu? Kenapa dia bisa diruang operasi? Apa yang kalian ributkan sampai dia terluka? Kamu mau papa membunuhmu, ha!"


"Papa dengerin dulu. Aku tidak berantem dengannya..."


"Lalu kenapa? Jangan-jangan masalah yang sama?"


"Iya," sahut Suya dengan nada sendu.


"Suya! Kesabaran papa sudah mulai habis. Sampai kapan kamu mau seperti itu, ha? Sampai kapan kamu mau berubah? Kamu lihat sekarang akibatnya?"


"Tapi kan pa, meskipun aku berubah juga hal seperti ini bisa saja terjadi." Suya mencoba membela dirinya dari desakan sang ayah.


"Tapi setidaknya kan jika seorang lelaki bisa melindungi diri mereka, berbeda dengan anak gadis."


.


"Apa maksud pembicaraan mereka?"


.


"Pa! Apa ini saat yang tepat untuk berdebat? Papa sebenarnya mau bantu aku apa enggak?"


"Oke. Papa akan suruh Zhen kesana sekarang. Kabari setiap keadaan Riri pada papa."


"Baiklah, makasih. Jangan sampai mama dan keluarga Riri tahu tentang ini."


"Ya, kabari papa setiap perkembangannya."


"Iya,"


Akhirnya Suya berhasil mendapat bantuan dari ayahnya dan dia sedikit lega karena cepat atau lambat masalah ini akan segera terselesaikan.


"Papamu?"


"Iya,"


"Tadi kamu bilang jangan sampai keluarga Seori tahu?"


"Iya, sebenarnya bukan adik kandungku."


"Owh, sekarang apa yang akan kamu lakukan?"


"Aku akan menunggunya, aku akan bertindak saat Zhen sudah datang,"


"Zhen? Dia siapa? Dan datang dari mana?"


"Dia adalah asisten pribadi ayahku, dari Amerika."


"Asisten pribadi? Sepertinya kamu bukan dari keluarga sembarangan, bahkan kamu juga tinggal di apartemen saka."


"Itu tidak penting. Oh ya, makasih ya udah anterin aku kesini. Kamu bisa pulang sekarang."


"Aku akan disini nemenin kamu."


"Aku gak apa sendirian," tolak Suya.


"Ada kalanya kamu juga butuh seorang teman, pokoknya aku tetap akan disini." dengan teguh Jiho tetap memaksa untuk menemani Suya.


"Hm, terserah kamu." Suya hanya bisa pasrah mendengar penolakan Jiho.


"Nah gitu dong. Suya,"


"Kenapa?"


"Aku itu selalu merasa kamu punya sebuah rahasia besar." ucap Jiho, sudah lama sekali dia menyimpan pertanyaan ini.


"Iya." jawaban Suya sangat singkat.


"Iya? Apa itu?" lanjut Jiho.


"Bukan lagi rahasia kalau aku ceritakan. Benar, kan?"


"Iya juga sih. Tapi kan gak ad..."


"Berhentilah, aku bukan tipe orang yang semudah itu percaya dengan orang lain."


"Kenapa? Aku bisa dipercaya kok orangnya. Atau mau aku kasih tahu satu rahasiaku? Biar kita bisa saling menjaga rahasia."


"Jiho, dengar ya, mau seperti apapun penawaranmu, bagiku itu percuma. Kamu membagikan rahasiamu hanya karena ingin tahu rahasiaku, apakah ada yang jamin bahwa rahasiaku yang kamu ketahui akan aman? Apa ada juga jaminan bahwa rahasiamu yang kamu ceritakan itu benar adanya? Kita butuh umpan untuk memancing, kan? Jadi bagiku itu hanyalah tipuan." pungkasnya.


"Hem, oke kalau begitu. Tapi kalau kamu butuh teman cerita, jangan sungkan-sungkan datang padaku ya," pinta Jiho.


"Kamu kenapa sih, kepo amat."


"Biarin. Oh ya, Seori juga dari Amerika?"


"Iya,"


"Lalu dia kenapa pindah kesini?"


"Ikutin aku,"


"Ngikutin kamu? Segitunya?"


"Iya, ini sudah kesekian kalinya dia pindah sekolah karena ngikutin aku, aku juga heran dengan jalan pikirnya mau gimana. Jelas-jelas tujuan dia adalah seorang dokter, tapi selalu saja ikut aku pindah sekolah meskipun tidak ada jurusan kedokteran. Tapi kali ini kebetulan Yeju adalah sma incaran universitas kedokteran, jadi ya dia sedikit amanlah."


"Tunggu dulu, kamu tadi bilang kesekian kalinya?" tanya Jiho, dia merasa ada yang janggal dengan ucapan Suya itu.


"Iya, kesekian kalinya." jelas Suya.


"Jadi maksudmu kamu sering pindah sekolah?"


"Iya. Kalau gak salah ini adalah pindahanku yang ketujuh." sahut Suya dengan entengnya.


"Ketujuh? Kamu sudah tujuh kali pindah sekolah? Ngapain?"


"Apa menurutmu ada alasan lain?"


"Tunggu, aku masih gak paham alasanmu yang sebenarnya."


"Hah," Suya hanya menghela napas mendengar ucapan Jiho.


"Kenapa kamu malah menghela napas begitu? Apa ada yang salah?"


"Sebenarnya alasan aku bisa langsung mencurigai Yuna karena kasus ini pernah terjadi sebelumnya."


"Maksudmu Seori pernah mengalami ini?"


"Bukan, tapi orang lain. Hanya saja penyebabnya sama."


"Jadi seseorang yang menyukaimu melukai orang lain yang juga menyukaimu?"


"Ya,"


"Astaga, segitunya ya,"


"Ya, itulah kenapa aku tidak bisa percaya pada siapapun."


"Lalu dia bagaimana kondisinya?"


"Yang satu buta sampai sekarang, keluargaku sudah sempat menawarkan untuk operasi, namun dia menolak. Dia enggan untuk bisa melihat kembali setelah mengetahui semua kenyataan yang ada." jelas Suya.


"Kenyataan?"


"Iya,"


"Tapi tadi kamu bilang yang satu? Apa ada yang lain lagi?"


"Ya." sahut Suya singkat, namun ekspresinya sangat tidak enak untuk dilihat.


Jiho menyadari perubahan ekspresi wajah Suya menunjukkan ada hal yang sepertinya sangat melukai perasaannya. Diapun tidak berani untuk melanjutkan pertanyaannya. Mereka berdua terdiam sejenak. Suasana menjadi semakin hening.


"Dia," ucapan lirih Suya menghilangkan kesunyian diantara mereka.


Jiho masih terdiam, dia enggan untuk bertanya dan hanya akan menunggu Suya bercerita dengan sendirinya.


"Dia meninggal dunia," pungkas Suya.


Jiho semakin tertegun dengan jawaban itu. Suyapun setelah mengatakannya menjadi sedikit murung. Seolah-olah luka lama yang sudah dia kubur dalam-dalam digali kembali dan lukanya kembali terbuka.


"Maaf, karena aku membuatmu mengingat luka lamamu," ucap Jiho, dia merasa bersalah pada Suya.


"Ya, gak apa." Suya menanggapinya dengan senyum datar.


"Keluarga Seori?" seorang dokter keluar dari ruang operasi.


"Iya, dok. Bagaimana keadaannya?"


"Operasi berjalan lancar, untung saja luka pasien tidak terlalu dalam sehingga tidak melukai organ dalamnya. Hanya butuh pemulihan beberapa hari kondisinya sudah bisa dipastikan baik-baik saja. Tapi tetap harus jaga kondisi. Saat ini pasien sudah dipindahkan keruang rawat." jelas dokter.


"Baik, dok. Terimakasih."


"Sama-sama, saya permisi."


"Syukurlah kamu baik-baik saja," gumam Suya.


"Ayo kita keruangan Seori," ajak Jiho.


Keduanya menuju ruang rawat Seori. Suya sudah merasa sedikit lega karena Seori tidak terluka parah. Tapi dia juga masih khawatir karena masih belum bisa menemukan dalang dibalik semua ini.


"Riri, si bodoh ini. Kamu kok bisa sampai kayak gini sih. Setelah sembuh nanti kamu lebih baik kembali saja. Kamu hanya akan dalam bahaya jika bersamaku."


"Kenapa Suya sampai berpikiran seperti itu?"


"Suya, maaf mengganggu, sebenarnya kalian ada masalah apa sih? Kenapa kamu bilang Seori hanya akan dalam masalah jika bersamamu? Apa kamu yakin kalau ini ulah orang yang menyukaimu? Siapa tahu ini murni perampokan," sela Jiho.


"Kalau ini memang perampokan aku justru akan lebih tenang. Tapi kamu tahu sendiri, tidak ada satupun barangnya yang hilang. Apa menurutmu ada perampokan yang seperti itu? Kamu tunggu saja sampai aku selesai menyelidiki ini semua. Kamu akan mengerti saat itu." tegas Suya.


'drrttt...drrrtt'


"Halo, Zhen,"


"Halo, Nona. Tadi aku dapat perintah dari tuan besar untuk membantumu."


"Iya, tadi aku minta papa untuk membantuku. Aku mau kamu selidiki siapa dalang dibalik ini semua. Kejadiannya ada di taman Vaya. Kamu cukup menemukan siapa pelakunya. Sisanya biar aku yang menyelesaikan."


"Baik, Non. Apa kamu ada hp nona Seori?"


"Ada ini. Tapi tidak ada apapun, aku tadi sudah cek semua riwayatnya."


"Aku butuh hpnya, aku akan menyuruh Hyuk ketempatmu sekarang untuk memulihkan ponselnya, aku yakin bahwa ponsel itu sudah direkayasa."


"Hyuk ada disini? Oke segera suruh dia ke rumah sakit harapan indah,"


"Baik, aku segera kerjakan."


"Siapa?" tanya Jiho,


"Zhen," sahut Suya.


"Owh. Kamu mau makan sesuatu? Biar aku beliin,"


"Aku kan sudah bilang akan menemanimu sampai Seori sadar,"


"Ya udahlah, terserah kamu."


..


"Semua sudah saya kerjakan sesuai perintah anda,"


"Bagus," gumam Yuna.


"Apanya yang bagus?" Mona merasa penasaran dengan ucapan Yuna.


"Si ****** itu. Aku berhasil memberinya pelajaran,"


"Pelajaran? Kamu apakan dia?"


"Lihat saja besok pagi. Uh, rasanya aku sudah tidak sabar untuk menyambut hari esok."


"Tapi kamu gak melakukan kejahatan kan?" tuding Mona.


"Mana mungkin, kamu kan tahu seharian ini kita bersama," elak Yuna.


"Ya kan siapa tahu kamu menyuruh seseorang. Biar gimanapun kan itu juga termasuk kejahatan. Apalagi itu bahaya."


"Sudahlah, daripada kita pusing-pusing, mending kita shopping, aku yang traktir deh," ajak Yuna.


"Sungguh? Oke,"


Keduanya bergegas menuju sebuah mall untuk shopping. Yuna nampak sangat bersemangat sejak memdapatkan kabar dari orang suruhannya. Namun tanpa dia sadari bahwa dia berurusan dengan orang yang salah. Dia sudah berani-berani mengganggu kehidupan Suya. Suya tidak akan pernah sedikitpun tinggal diam jika ada yang macam-macam dengan keluarganya.


..


Tanpa sepatah kata apapun keduanya saling berdiam diri. Keheningan rumah sakit membuat suasananya semakin mencekam. Namun tak selang berapa lama suasana mulai mencair saat seseorang datang menghampiri Suya.


"Suya!" panggil orang itu.


"Hyuk!? Akhirnya kamu datang juga. Ini hp Riri." ucap Suya sembari memberikan hp Seori pada temannya itu.


"Ah, oke."


Hyuk adalah salah satu orang kepercayaan ayah Suya. Dan dia pula yang selama ini sering menjaga Suya saat di Amerika. Usianya hanya terpaut 1 tahun lebih tua dari Suya. Namun dia sudah berhasil lulus dari universitas ilmu teknologi yang cukup terkenal.


Dirinya sudah bekerja untuk keluarga Suya sejak usia 10 tahun, dimana dia pertama kali dipertemukan dengan ayah Suya tanpa sengaja dan ditawari untuk biaya pendidikan dan berhasil mendapat tawaran loncat kelas. Sejak saat itulah dia mengabdikan diri pada keluarga Suya.


"Dia temanmu?" bisik Jiho.


"Ah iya, kenalin, ini Hyuk temanku sejak kecil. Hyuk, kenalin ini Jiho." ucap Suya.


"Ya," sahut Hyuk singkat. Hyuk tampak serius mengotak-atik ponsel Riri.


"Dia memang begitu sikapnya, kaku," bisik Suya pada Jiho.


"Aku dengar! Kamu pikir kamu ramah?" hujat Hyuk pada Suya.


"Hish, nih bocah! Oh ya, kenapa kamu bisa disini?" tanya Suya, dia mencoba mengobati rasa penasarannya.


"Kamu pikir kamu dibuang kesini lalu aku bisa kemana?!" ujar Hyuk.


"Hei! Aku tidak dibuang ya!" elak Suya.


"Ah, tidak dibuang? Lalu apa?" sindirnya.


"Sepertinya Suya bukan berasal dari keluarga sembarangan. Orang ini juga kemampuan komputernya sangat bagus."


"Ya setidaknya tidak dibuang juga kali, buktinya saja ayah tetap memberiku uang saku dan membelikanku apartemen yang terbaik dikota ini."


"Ah, begitu? Lalu apa uang sakumu kurang sampai harus bekerja di kafe dan tempat karate?" sindirnya lagi,


"Kamu! Kamu selama ini ngikuti aku ya!" pekik Suya,


"Kamu pikir aku disini buat ngapain?! Ah, ingin sekali rasanya aku menghajarmu. Gara-gara kamu aku jadi harus kembali ke kota menyebalkan ini." keluh Hyuk.


"Tidak terlalu menyebalkan juga kok,"


"Ah, jadi kamu sudah nyaman disini? Atau karena..."


"Tunggu! Jangan bilang yang kasih tahu kakak waktu itu juga kamu!?" Suya segera mengalihkan pembicaraan Hyuk.


"Ah, soal taman?"


"Kan betul, pantas saja dia tahu. Kamu memang rusuh ya," Suya menjadi geram dengan tindakan Hyuk.


"Oh ya, kamu bukannya anak yang waktu itu ada ditaman dengan Suya?" tanya Hyuk pada Jiho.


"Iya," sahut Jiho.


"Kamu juga kan yang membantunya melawan preman waktu itu?" tanyanya lagi.


"Iya, jadi kamu tahu saat itu?" Jiho nampak tertegun dengan pertanyaan Hyuk.


"Ya, aku juga disana," sahutnya santai.


"Lalu kenapa kamu tidak menolong Suya?"


"Menolongnya? Untuk apa? Aku dibayar untuk mengawasinya bukan untuk menolongnya dengan semua urusannya." sahut Hyuk.


"Kau!" Jiho geram begitu mendengar jawaban Hyuk.


Disisi lain Suya dengan santai menyaksikan keduanya berargumen. Suya sudah paham dengan semua tugas Hyuk, jadi dia tidak merasa tertekan dengan itu. Sudah menjadi kesepakatannya dengan kedua orangtuanya kalau dia bersedia dikawal Hyuk asal Hyuk tidak mencampuri urusan Suya meskipun Suya dalam keadaan bahaya kecuali jika Suya mengucapkan minta bantuan.


"Kenapa? Kenapa kamu geram begitu? Kamu tidak lihat itu dia biasa saja,"


"Bagaimana kamu bisa tega begitu saat ada orang yang kesusahan?" pekik Jiho.


"Tanpa bantuan dari kamu ataupun aku sekalipun, dia juga akan menang. Ngapain aku harus repot-repot."


"Bagaima..."


"Apa?!..." tiba-tiba Hyuk menghentikan ucapan Jiho,


"...apa kamu menyukainya sampai bertindak seperti itu?"


"Hei! Mana mungkin! Aku ini masih normal tahu! Lagipula..." Jiho tiba-tiba terdiam dan tak melanjutkan ucapannya,


"Kenapa diam?" cerca Hyuk.


"Sudah-sudah, kalian semakin tidak terkendali tahu!" Suyapun melerai keduanya.


"Jadi dia tidak..."


"Ya," sahut Suya sambil menggelengkan kepalanya.


"Ah, begitu," sahut Hyuk.


"Tidak apa maksud kalian?" Jiho merasa ada yang aneh dengan sikap Hyuk dan Suya.


"Sudah! Gimana ponselnya?" Suya dengan tegas menghentikan keduanya.


"Hampir selesai."


"Bagus."


..


"Sebenarnya apa maksud ucapan mereka semalam? Kenapa aku merasa mereka menyembunyikan sesuatu dibalik ucapan itu."


"Jiho!" sapa Titan,


"Woi,"


"Kamu mikirin apa? Kok serius banget. Oh ya, semalam kamu ngapain kerumah sakit?"


"Bagaimana kamu tahu?"


"Itu, semalam kakak katanya lihat kamu bersama seseorang diruang icu. Siapa yang sakit?"


"Ah, itu. Seori masuk rumah sakit."


"Seori? Maksudmu kekasihnya Suya? Kenapa?"


"Kekasih?"


"Bukannya begitu?"


"Aku lebih baik tetep merahasiakan kalau sebenarnya mereka hanyalah saudara bukan pasangan."


"Iya, Seori yang itu. Semalam dia dirampok dan mengalami beberapa luka."


"Sungguh? Lalu bagaimana keadaannya? Kasihan sekali dia."


"Aku masih tidak tahu gimana keadaannya."


"Tapi kenapa kamu bisa tahu kalau Seori dirampok? Kamu bersama Seori? Kamu diam-diam mau rebut dia dari Suya?"


'plak'


"Aw,. Kamu apaan sih!"


"Kamu pikir kalau aku sedang bersama dia lalu aku akan membiarkan dia dirampok gitu? Menurutmu aku akan diam saja? Dan lagi merebut apa coba maksudmu. Kamu saja sana kalau mau." tegas Jiho.


"Ah, iya juga ya. Lalu bagaimana kamu bisa tahu?"


"Aku gak sengaja ketemu Suya ditaman. Lalu pihak rumah sakit menghubunginya. Karena kebetulan aku bawa mobil makanya aku antar dia."


"Oh, begitu."


"Oh Suyaa...." teriak Yuna dari luar kelas.


Dia melihat seisi kelas namun tak ada sedikitpun tanda-tanda keberadaan Suya.


"Titan, dimana Suya?" tanyanya.


"Mungkin gak masuk. Denger-denger sih Seori masuk rumah sakit. Mungkin dia lagi merawatnya." Sela Jiho.


"Merawatnya? Sial kenapa gak sekarat saja sekalian. Hish." gumam Yuna.


"Yuna! Jaga ya omonganmu! Jangan sampai ucapanmu menjadi pisau untukmu sendiri!"


"Jiho! Jadi kamu juga mau melindungi ****** itu!" bantah Yuna.


"******? Lebih baik kau perhatikan lagi siapa yang ****** sesungguhnya!"


"Kau! Awas...."


"Yuna, sudah. Jangan berantem dengan Jiho. Kita pergi saja." Mona coba melerai keduanya karena banyak pasang mata yang menyaksikan mereka berargumen.


Dengan kesal Yuna segera pergi dari ruang kelas Suya. Dia sangat geram karena Suya masih saja peduli dengan Seori.


"Kenapa tidak mati saja sekalian!" gumamnya.


"Yuna, kamu jangan seperti itu."


Mendengar Yuna berkata seperti itu membuat Mona sedikit tidak suka dan merasa Yuna sedikit keterlaluan.


"Apa! Kamu mau membela ****** itu juga!" sahutnya.


"Bukan, bukan seperti itu. Jika perkataanmu didengar orang lain itu tidak baik. Jika sesuatu benar-benar terjadi pada Seori, nanti orang lain akan berpikir kamu yang melakukannya." jelas Mona.


"Aku tidak peduli."


Mona hanya terdiam. Tidak mungkin Yuna akan mendengarkan nasehatnya meskipun seribu kali dia mengatakannya.


..


'biip...biip...biiip'


"Suya," ucap Seori dengan lirih. Suya pun terbangun dari tidurnya dan segera menggenggam tangan Seori dengan erat.


"Kamu sudah sadar. Aku akan panggil dokter, kamu tunggu sebentar." ucapnya yang langsung berlari keluar mencari dokter.