
Sejak pertandingan futsal hari itu Suya benar-benar menjadi idola banyak siswi. Seringkali beberapa siswi mendatanginya mengajaknya mengobrol ataupun untuk makan di kantin bersama. Namun belum ada seorangpun yang ajakannya diterima oleh Suya.
Sejak hari itu pula Jiho selalu mencari informasi tentang hubungan Suya dengan Lin dari club Lion. Dia merasa curiga dengan rahasia diantara Suya dan Lin. Jiho penasaran kenapa Suya yang baru pindah ke kota S bisa memiliki hubungan dengan Lin yang terkenal dengan tingkah kurang baiknya. Bahkan mereka memiliki tujuan sama seperti yang dikatakan Suya sebelumnya.
"Jiho, tunggu, bagaimana persiapan kalian untuk pertandingan basket minggu depan?" tanya Somi.
"Sejauh ini kami udah latihan dengan maksimal dan juga persiapan yang matang. Ya, jika tidak ada halangan yang besar kami yakin akan memenangkan pertandingan ini. Dengar-dengar kalian besok boleh ikut menyaksikan pertandingan kami," sahut Jiho.
"Benarkah?" Somi merasa sangat antusias mendengar kabar baik ini.
"Kemarin pak Choi sempat bilang begitu sih, tapi besok aku pastikan lagi benar atau tidaknya,"
"Oke, aku tunggu kabar baik darimu. Kalau begitu aku duluan ya, bye,"
Jiho pun juga bergegas meninggalkan kelas. Kelas hari ini berlalu dengan tenang. Saat sampai digerbang, tanpa sengaja Jiho melihat Suya yang berjalan kearah yang berlawanan dari arah apartemen Saka. Tanpa disadari Jiho mengikuti Suya.
"Mau pergi kemana dia?"
Suya berjalan ke sebuah toko pakaian, Jiho hanya menunggunya di luar toko karena tidak ingin sampai ketahuan. Tak selang berapa lama Suya keluar dengan pakaian yang berbeda dan melanjutkan kembali perjalanannya.
"Ada apa dengan pakaiannya itu?"
Pakaian dengan hoodie dan masker dikenakan Suya saat ini. Jiho semakin penasaran dengan tempat tujuan Suya. Sesampainya Suya dipinggiran kota dalam sebuah perkampungan yang terlihat sedikit kumuh. Perkampungan ini tampak seperti perkampungan mati dan nampak seperti sarang penjahat didalamnya.
"Tempat apaan ini? Untuk apa Suya datang ketempat seperti ini?"
Jiho semakin dibuat penasaran. Dia pun memberanikan diri mengikutinya masuk. Namun usahanya digagalkan seseorang.
"Siapa kamu?" ucap orang itu.
"Kalian siapa?!"
Jiho justru balik bertanya karena terkejut akan suara yang tiba-tiba itu. Sikap tubuhnya juga sudah siap untuk menghajar orang lain.
"Ada urusan apa kamu disini?! Siapa yang akan kau pukul dengan sikapmu seperti itu!!" tanya orang itu lagi.
"Kalian sendiri siapa? Aku kesini mencari temanku, dia ada didalam." sahut Jiho.
"Siapa nama temanmu?"
"Suya, namanya Oh Suya, tadi aku lihat dia masuk kesini."
"Tidak ada yang namanya Suya didalam."
"Tapi tadi aku lihat dia masuk kesini."
..
"Bos, diluar ada seorang siswa yang memaksa masuk."
"Siswa?"
"Apa keperluannya?"
"Dia mencari seseorang yang bernama Suya, bos."
"Suya?"
"Iya bos,"
"Katakan padanya tidak ada nama itu disini."
"Sudah, bos. Tapi dia tetap bersikeras ingin masuk untuk memastikan sendiri."
"Bereskan jika dia berbahaya." ucap Bos geng itu.
"Tunggu..!"
"Kenapa, Black? Apa kamu mengenal orang itu?"
"Tidak, tadi sesaat sebelum masuk aku melihatnya mengenakan seragam sma, aku rasa dia tidak berbahaya. Bukankah kita masih ada hal yang harus dibicarakan? Aku tidak punya waktu banyak disini."
"Baiklah, kamu benar. Kalian usir dia dari sini, cukup buat dia takut saja."
"Baik, boss."
"Oke, hal apa yang ingin kamu bahas?"
"Ya, kamu datang ke orang yang tepat. Apa yang bisa aku bantu? Tapi sebelumnya, kamu harus tahu bahwa bayaranku juga tidak sedikit. Semakin besar uangnya semakin cepat dikerjakan."
"Tidak masalah berapapun biayanya. Aku mau kamu cari orang-orang ini."
"Bukankah kasus ini sudah lama terjadi? Untuk apa kamu mencari mereka? Setahuku polisi juga tidak ada yang berhasil menemukan mereka bahkan petunjuk keberadaan merekapun juga tidak ditemukan sehingga kasus ini ditutup lebih cepat."
"Bagaimana kamu bisa tahu?"
"Dulu ada keluarga yang meminta bantuanku untuk mencari mereka. Jika tidak salah mereka adalah keluarga korban. Namun aku saat itu tidak menemukan apapun. Dan aku mendapatkan semua info itu karena dulu sempat ramai diperbincangkan."
"Sial, jadi kamu tidak bisa membantuku sama sekali?"
"Aku akan usahakan lagi meski aku tidak janji, biar bagaimanapun sekarang jaringanku lebih luas daripada dulu."
"Oke, kalau begitu aku tunggu berita selanjutnya. Jika ada kabar hubungi nomor ini,"
"Oke."
..
"Tetap saja aku ingin melihat sendiri kedalam."
"Sorry, kalau kamu gak ada urusan kamu dilarang masuk. Jika kamu memaksa kami juga tidak punya cara lain." ucapnya sembari meregangkan jari jemarinya.
"Sial, kalau aku berantem disini aku pasti akan terluka, pertandingan basket tinggal minggu depan."
Tanpa pikir panjang Jiho segera beranjak dari tempat itu. Meski dia yakin Suya ada didalam namun orang-orang itu nampak jelas tidak ingin dirinya masuk kedalam. Jika bukan karena minggu depan ada pertandingan basket, tentu saja dia akan memaksa masuk.
"Sebenarnya ada urusan apa Suya ditempat itu sampai mereka menyembunyikan keberadaannya. Tempat itu bukan seperti tempat yang baik, tidak mungkin kan jika Suya berada dalam dunia bawah,"
..
"Suya... mau pergi ke kantin bareng?" ucap Lina, siswi dari kelas sebelah.
"Ah, maaf. Aku ingin pergi keruang komputer, tidak ke kantin." tolaknya.
"Ah, begitu ya. Suya..,"
"Iya, kenapa?"
"Boleh aku minta nomor telponmu? Kebetulan aku juga anak fotografi, nanti kalau ada hal-hal yang perlu ditanyakan biar lebih mudah."
"Oh, oke. Ini," ucapnya sembari menunjukkan nomor telponnya.
"Oke, makasih. Kalau gitu aku ke kantin dulu, bye."
Dalam perjalanannya menuju ruang komputer, Suya dihadang Jiho diujung tangga,
"Kenapa?!" ucap Suya.
"Kemarin kamu pergi kemana setelah pulang sekolah?"
"Jadi siswa itu beneran dia?"
"Untuk apa aku harus memberitahumu apa saja kegiatanku. Kamu bahkan bukan orangtuaku, lagipula untuk apa kamu ingin tahu!"
"Kemarin ak..."
Jiho terdiam tak melanjutkan ucapannya.
"Kemarin kenapa?"
"Tidak apa-apa. Aku cuma mau ingetin kamu untuk tidak melakukan hal-hal yang buruk." tegas Jiho.
"Aku? Apakah menurutmu bekerja itu termasuk kedalam hal-hal yang buruk?"
"Pekerjaan apa yang kamu lakukan ditempat seperti itu!?" Jiho mulai menaikkan nada bicaranya.
"Seperti itu? Kafe menurutmu tempat yang seperti apa? Berbahaya? Hina? Tidak, kan? Sudahlah, aku malas berurusan denganmu tiap hari. Apa tidak bisa sehari saja kamu enyah dari pandanganku? Mengganggu saja!"
Suya pun kembali menuju ruang komputer untuk menyelesaikan urusannya. Jiho tidak lagi bersikeras seperti sebelumnya. Dia menahan semuanya hanya agar Suya tidak curiga kalau dia mengikutinya.
"Lain kali aku harus hati-hati dari Jiho. Dia sepertinya mulai curiga denganku sejak kejadian dengan Lin malam itu. Aku harus segera menyelesaikan masalah ini dan kembali secepatnya."