He Is A Girl

He Is A Girl
06 Teman Lama



"Apa kamu yakin dia tinggal disana?"


"Iya, dia sendiri yang bilang saat itu."


Jiho dan adiknya pergi ke apartemen saka. Jina ingin berterimakasih dengan Suya atas bantuannya malam itu. Dia sengaja mengajak kakaknya agar tidak merasa canggung saat bertemu nanti. Sesampainya di apartemen tersebut, Jina segera menanyakan info tentang Suya pada petugas resepsionis.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" Sapa resepsionis itu.


"Iya, saya mencari seseorang. Kakak tingginya sekitar segini, potongan rambut pendek, kulitnya putih." Jina menjelaskan postur Suya berdasarkan pada ingatannya.


"Maaf, boleh saya tahu namanya?"


"Nama? Ah saya tidak tahu namanya. Apa kakak tidak mengenali ciri-ciri yang saya sampaikan?"


"Maaf ya, kami tidak bisa bantu."


"Apa anda yakin orang itu tinggal disini? Petugasnya saja tidak mengenali ciri itu." Keluh Jiho, dia merasa sudah jauh-jauh datang kesana.


"Kakak. Aku yakin dia tinggal disini." Elak Jina.


"Hah, terserah kamu aja lah,"


"Maaf, apa boleh kami menunggu disana?" Tanya Jina pada petugas sembari menunjuk arah ruang tunggu.


"Baik, silakan."


Jina sangat ingin bertemu dengan Suya, dia dan kakaknya memutuskan untuk menunggu. Banyak orang berlalu lalang di lobi apartemen itu. Namun sedari tadi Jina tak sekalipun melihat Suya diantara mereka.


"Hei, sampai kapan kita akan menunggu? Sudah satu jam kita disini. Lebih baik kita pulang saja."


"Baiklah," Jina tampak lesu karena gagal bertemu dengan Suya.


Setelah mengantar Jina kerumah, Jiho pergi jalan-jalan keluar sebentar. Dengan santai dia menikmati seluruh pemandangan yang dia lalui. Jalanan sangat sepi karena jauh dari pusat kota, tempat yang tenang untuk menghindari setiap masalah. Disaat dia sedang duduk menikmati indahnya malam, samar-samar ia mendengar suara perkelahian. Ia bergegas mencari sumber suara itu. Tak jauh dari tempatnya, ia melihat perkelahian diantara seseorang dengan beberapa lawan.


"Hebat juga dia, bisa menyerang sekaligus menangkis serangan meski hanya seorang diri." Pujinya.


Sebelum dia ingin ikut campur, dia mengamati dulu kira-kira apa yang terjadi. Namun disela-sela dia mengamati, dia merasa tidak asing dengan sosok yang dikeroyok itu.


"Kenapa postur tubuh itu seperti tidak asing bagiku?" gumam Jiho.


"Suya?" Sebilah cahaya mengenai wajah sosok itu, membuat Jiho mampu dengan jelas mengenali bahwa itu Suya.


'Brak'


Tendangan Jiho mengenai salah satu dari mereka.


"Siapa kamu! Hajar mereka!"


"Kamu gak papa?"


'Bugh..bugh,'


"Jiho? Ngapain kamu disini?"


'Bugh..'


"Kamu sendiri ngapain terlibat perkelahian seperti ini?"


"Bukan urusanmu."


'Bugh..brak,'


Setelah lumayan lama, akhirnya Suya dan Jiho memenangkan perkelahian itu. Beberapa tubuh mereka terdapat luka memar.


"Kalau sampai aku melihat kalian masih berkeliaran disini lagi, aku tidak akan segan-segan membuat kalian tidak lagi mampu melihat indahnya dunia." Ancam Suya.


"Kamu cukup kejam juga." Ledek Jiho.


"Kamu kira aku... awaas" teriak Suya.


'Brak,'


Saat mendengar teriakan Suya, secara refleks Jiho mengangkat kedua tangan untuk melindungi kepalanya. Namun satu tendangan Suya mendarat tepat didada seorang preman yang hendak memukul Jiho dengan balok dan membuat preman itu jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri.


"Berani-beraninya kamu mau melukai tangan seorang atlet! Gue bunuh juga lo!" Ancam Suya dengan kesal.


Sembari memapah temannya yang tak sadarkan diri, preman-preman itu melarikan diri meninggalkan Suya dan Jiho.


"Jadi kamu khawatir padaku?" Jiho menggoda Suya setelah seluruh preman itu pergi.


"Jangan besar kepala. Aku hanya tidak mau terlibat masalah dengan 'sang kapten' basket kebanggaan ini."


"Ah, terserah kamu deh. Ngomong-ngomong kenapa kamu terlibat perkelahian dengan preman-preman itu? Itu terlalu bahaya untuk kamu lawan seorang diri." Jiho nampak khawatir melihat luka dibeberapa tubuh Suya.


"Hei! Berhentilah bersikap seolah kita dekat. Dan lagi, aku tidak meminta bantuanmu sama sekali dan karena kamu ikut campur secara suka rela, maka aku tidak akan membayar biaya pengobatanmu sama sekali. Oke. Aku pergi." Suya pergi begitu saja.


"Hei! Setidaknya kamu harus mengantarku ke rumah sakit!" Teriak Jiho.


"Bukan urusanku. Bye," dengan santai Suya melambaikan tangannya tanpa membalikkan badan sama sekali.


"Anak itu benar-benar tidak tahu terimakasih..." Keluh Jiho.


"Berani-beraninya kamu mau melukai tangan seorang atlet! Gue bunuh juga lo!"


"...sepertinya dia tidak sedingin kelihatannya."


Jiho bergegas mencari apotek atau klinik terdekat untuk mengobati lukanya.


Keesokan harinya,


"Suya, ada apa dengan wajahmu? Kamu berantem?" Tanya Jae yang khawatir saat melihat luka lebam diwajah dan juga ujung bibir Suya.


"Aku gak papa. Gak usah khawatir."


"Apa kamu yakin?"


"Hm,"


"Baiklah, kalau kamu perlu ke rumah sa... oh, Jiho! Wajahmu?..." Perhatian Jae terpecah saat melihat Jiho juga terluka diwajahnya.


"...tunggu, jangan bilang kalian berkelahi?"


"Jangan khawatir, lukaku aku dapat karena pertandingan." Sahut Jiho.


"Ah, syukurlah kalau begitu, aku pikir kalian berkelahi. Suya, kamu yakin tidak mau mengobati lukamu?"


"Dia belum mengobati lukanya?"


"Berhentilah merengek atau aku akan menghajarmu juga." Suya mulai kesal melihat Jae yang bersikap berlebihan.


"Juga?"


"Hei Jaehun! Moodku hari ini benar-benae buruk. Jadi tutuplah mulutmu!"


"Jae, berhentilah terlibat dengannya. Kamu lihat sendiri tempramennya seperti itu." Ucap Feng.


"Jangan khawatir. Karang yang keras lama-lama juga akan roboh karena ombak. Bu Lee bilang dia disini seorang diri dan tidak memiliki orangtua, aku takut dia akan salah pergaulan maka dari itu aku ingin sekali berteman dengannya agar bisa memberinya nasehat jika dia melakukan kesalahan, tapi ternyata tidak semudah itu. Sikapnya berkali lipat lebih dingin daripada Jiho."


"Nih," Jiho menyodorkan sebuah plester luka pada Suya.


"Gak perlu." Tolak Suya.


"Pakai ini! Atau lukamu akan terinfeksi." Jiho coba memaksa Suya agar mau memakai plester itu.


'Srak'


Dengan kesal Suya berdiri dari tempat duduknya dan berbisik pada Jiho.


"Menjauhlah! Jangan sampai apa yang gagal dilakukan preman semalam aku lakukan saat ini juga. Paham!"


Jiho tidak melawan sedikitpun. Dia hanya terdiam sedangkan Suya berlalu keluar dari kelas.


"Kenapa Jiho begitu peduli dengan Suya?"


Jam istirahat sudah berdering, seperti biasanya seluruh siswa bersiap untuk menuju kantin dan memuaskan perut masing-masing.


"Oh Suya!" Teriak seseorang dari luar pintu.


Seisi kelas 2a dibuat terkejut oleh asal suara itu. Seorang siswi cantik dengan rambut panjang terurai berjalan kearah Suya.


"*Siapa gadis itu?"


"Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya?"


"Dia cantik sekali."


"Seragamnya belum bernama, dia pasti anak baru*."


Suya masih tertegun dengan kehadiran sosok itu.


"Hwang Seo Ri?" Ucap Suya dengan lirih.


"Suyaa..."


Gadis itu langsung memeluk Suya tanpa permisi. Seluruh siswa dibuatnya kembali terkaget. Dengan berani gadis itu memeluk Suya,


"...aku sangat merindukanmu."


"*Rindu? Apa dia kenal Suya?"


"Apa dia kenal Suya? Atau mungkin temannya dari Amerika?"


"Jangan-jangan dia pacarnya Suya*."


Suya sama sekali tidak menolak atau coba melepas pelukan itu.


"Wajahmu kenapa?..." Gadis itu memegang wajah Suya dengan kedua tangannya.


"Kenapa Suya dari tadi hanya diam saja?"


"...apa kamu kalah dalam bertanding?..."


"*Bertanding?"


"Apa Suya seorang petarung*?"


"Apa sudah kamu obati? Ayo ik..."


"Hei!'


Tiba-tiba saja sebuah teriakan menghentikan ucapan gadis itu.


"Lepaskan tangan kotormu dari wajah Suya!" Teriak Yuna.


"Lepaskan?? Kenapa aku harus melepaskan tanganku? Aku mau memeriksa ada apa dengan wajahnya. Emangnya kamu siapa! Kenapa aku harus nenurutimu! Bahkan kenal saja tidak, kamu pikir kamu itu ratu, ha?!" Balas gadis itu dengan berani.


"Kau! Berani kamu membantahku! Suya adalah milikku!"


"Kenapa aku harus takut padamu? Apa aku gak salah dengar? Katamu dia milikmu? Hei, kalau mau mimpi jangan disekolah, diatas kasur sana,"


"Beraninya kau! Dasar ******"


Kesabaran Yuna benar-benar sudah habis. Dia mengangkat tangannya dan hendak menampar gadis itu. Tapi dengan sigap Suya segera menahan tangan Yuna sebelum mengenai wajah gadis itu.


"*Lihat,"


"Lihat itu."


"Suya menahan tangan Yuna*."


"Lim Yuna! Aku peringatkan kamu! Dia bukan ******! Namanya Hwang Seo Ri! Kalau kamu berani menamparnya, jangan salahkan aku kalau aku akan membalasmu dengan seratus kali tamparan dan bahkan aku akan memotong tangan kesayanganmu ini!" Suya menghempaskan tangan Yuna.


"*Suya?"


"Bukankah dia terdengar kejam*?"


"Tapi Suya..."


"Tidak ada tapi apapun. Sekali lagi kamu mengganggunya, aku benar-benar akan menghabisimu!" Ancaman Suya membuat seisi kelas menjadi hening.


"Hei! Berhenti menakut-nakuti mereka. Ayo aku bawa kamu ke uks dulu habis itu aku traktir kamu dikantin sebagai perayaan karena kita bisa satu sekolah lagi." Seori menggandeng tangan Suya dan berjalan meninggalkan kelas.


"*Ini pertama kalinya Suya begitu menerima kontak fisik dari orang lain."


"Suya begitu perhatian, apa dia kekasihnya*?"


"Jiho, apa mungkin gadis itu adalah kekasihnya Suya?" Ucap Titan penasaran.


"Mana aku tahu."


"Kekasih? Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu!" Gerutu Yuna, dengan penuh kekesalan dia beranjak dari ruang 2a.


..


"Seori! Bagaimana bisa kamu ada disini? Dan seragam ini, kenapa kamu pindah lagi?"


"Tentu saja kasih kejutan buat kamu. Jika kamu tanya kenapa maka aku juga hanya bisa bertanya kenapa kamu kesini lagi?"


"Hei! Aku serius!"


"Hah, setelah bibi bilang kamu dipindahkan kesini, aku memutuskan untuk ikut denganmu."


"Kamu becanda? Lalu studymu gimana? Kamu gak bisa menjadikannya candaan, itu adalah masa depanmu."


"Apanya yang perlu dikhawatirkan, toh juga sma yeju jadi incaran banyak universitas kedokteran."


"Bukan masalah dokter, seni lukismu yang aku tanyakan!"


"Owh itu. Aku sudah daftar les seni lukis di salah satu galery ternama dikota S."


"Ah, begitu. Syukurlah."


"Oh ya, kenapa kamu bisa dibuang sampai sini? Kamu bahkan tidak menghubungiku."


"Apa tidak ada kata yang lebih baik dari dibuang? Lagipula aku takut mengganggu kompetisimu. Aku berencana memberitahumu saat kamu selesai, tapi aku lupa, hehe."


"Wah, wah,. Lihatlah, aku mati-matian membujuk ayahku agar aku bisa pindah kesini dan kamu dengan mudahnya malah melupakanku?"


"Aku akhir-akhir ini sibuk bekerja, ayah tidak akan memberiku uang selain untuk biaya sekolah, jadi aku sampai lupa memberitahumu."


"Ah, malangnya kesayanganku, apa perlu aku menghidupimu?"


"Ah jika nona cantik ini tidak keberatan maka saya akan menerimanya dengan senang hati."


"Haha, dasar kamu ini. Oh iya, mengenai si Lim tadi, apa dia menyukaimu?"


"Ah, membahasnya membuat kepalaku mau mendidih. Asal kamu tahu, sejak dia masuk sma yeju, dia selalu menempel pada Jiho, kapten tim basket. Tapi sejak aku pindah, dia dalam sekejap berpindah mendekatiku. Hatinya bener-bener tidak memiliki ketulusan sama sekali."


"Wajah dan penampilan kamu juga berperan penting dalam hal ini lho."


"Ah, sial. Aku sudah berharap ini akan jadi sma terakhirku, tapi aku ragu akan hal itu."


"Hiss, kau ini. Awas saja jika kamu pindah sekolah lagi. Kamu gak mau kan temanmu ini juga pindah sekolah terus-terusan?"


"Siapa juga yang suruh kamu ngikut mulu."


"Karena aku gak punya pilihan lain. Emang kamu gak ada rencana ikuti kemauan paman?"


"Kamu kan tahu sendiri,"


"Aku paham perasaanmu, meski tidak bisa sekarang tapi aku berharap secepatnya kamu akan kembali. Lagipula kemampuan beladirimu sudah sangat mahir."


"Hah, biar semua berjalan seiring dengan jalannya waktu."