
'kriiiingg'
Bel tanda istirahat telah berbunyi. Karena kemenangan tim basket kemarin, beberapa siswi berbondong-bondong mendatangi kelas Jiho untuk mengucapkan selamat sekaligus menikmati ketampanan yang selama ini mereka idamkan. Sejak kepergian Yuna dari sekolah, beberapa siswi mulai ada yg berani secara terang-terangan mengungkapkan kekagumannya pada Jiho.
"selamat atas kemenangan kakak kemarin," ucap seorang siswi dari kelas sebelah.
"terimakasih," balas Jiho dengan senyumannya yang terlihat sangat ramah,
"waaahhh.. lihat, kak Jiho tersenyum,"
"waahhh,,"
Gemuruh suara para siswi yang sedari tadi mengerumuni Jiho.
Dari sisi lain, teman sekelas Jiho juga merasa bangga atas prestasi yang mereka raih. Ketua kelas berencana untuk merayakan kemenangan mereka dengan makan bersama.
"lihatlah, sejak tidak ada harimau, banyak sekali ternak yang mencari makan sesuka mereka," ucap Somi,
"hush, jangan begitu. Biar bagaimanapun kita dulu juga takut dengan harimau itu." sahut Hanna.
"kamu benar. Tapi meskipun Jiho memang tampan, tapi sejak awal aku tidak pernah merasa tertarik padanya. Jadi aku sendiri juga bingung kenapa aku dulu begitu takut dengan Yuna si brengsek itu." keluh Somi,
"sama. Aku juga tidak pernah sedikitpun perasaan pada Jiho sejak awal kenal. Tapi, saat pertama melihat Suya, aku memiliki perasaan yang aneh. Namun kini perasaan itu sirna sejak aku tahu ternyata dia anak yang cukup kejam. Apalagi dia sudah punya Seori meskipun sudah tidak disini lagi." imbuh Hanna
"Suya memang lebih menarik dari Jiho. Meskipun apa yang kamu katakan bahwa dia sedikit kejam itu benar, tapi coba dipikir lagi, dia hanya bersikap kejam saat keadaan sedang tidak adil, bukan? Menurutku itu tindakan yang sedikit gentle, iya gak?" puji Somi
"Yah, bisa dibilang gitu juga sih. Tapi tetap saja itu terlalu kejam untuk ukuran pelajar seperti kita ini." elak Hanna.
"Somi, bisakah kamu beritahu anak basket lainnya untuk kumpul di lapangan basket pulang sekolah nanti?" ucap ketua kelas yang tiba-tiba memotong obrolan mereka.
"Anak basket? Untuk apa?" tanya Somi.
"Aku berencana untuk merayakan kemenangan tim basket kali ini. Aku akan traktir makan," ucap ketua kelas.
"Lalu, apa selain anak basket boleh ikut?" tanya Hanna dengan senyum penuh harap.
"Tentu saja. Kamu bilang saja sama mereka jika teman sekelas ada yang mau ikut boleh saja. Sementara kamu kasih tahu mereka, aku akan membicarakannya dengan Jiho. Jika Jiho setuju nanti aku umumin setelah istirahat, kebetulan nanti jam belajar mandiri karena guru sedang ada rapat." jelas ketua kelas.
"Baiklah, aku sama Hanna akan pergi sekarang."
Somi dan Hanna bergegas mencari anak basket dari kelas lain. Setiap kali ada kemenangan yang diraih oleh salah satu siswa dari kelasnya, ketua kelas selalu saja mentraktir mereka makan-makan karena ketua kelas adalah anak dari pengusaha resto yang lumayan besar dikota.
Jam istirahat sebentar lagi usai. Beberapa siswa sudah kembali memenuhi kelas dan siswi dari kelas lain juga sudah pergi. Melihat Suya yang juga sudah kembali kekelas membuat Jiho segera menghampirinya.
"Suya," sapa Jiho.
"hem? kenapa?" sahut Suya.
"Maaf karena sudah membuat tim bimbinganmu kalah dalam pertandingan kemarin," ucap Jiho.
"Tidak masalah, lagipula selisih poin kalian juga hanya 1 poin saja. Itu tidak akan menoreh luka apapun pada kami." sahut Suya dengan tenangnya.
"Lalu.."
"Lalu apa?" sela Suya, Jiho tampak ragu-ragu dengan apa yang akan diucapkannya.
"Lalu bagaimana dengan beasiswa itu?" ucap Jiho memberanikan diri.
"Kenapa? Kamu khawatir? Lalu kenapa kemarin kamu tidak kalah saja kalau khawatir?" sindir Suya.
"Jika kami tidak ikut dalam pertandingan tentu saja aku akan dengan sukarela membantu mereka. Tapi kamu juga tahu sendiri, aku tidak mungkin mengecewakan timku sendiri."
"ya ya ya, tidak perlu banyak bicara. Urus saja urusanmu sana." ucap Suya.
"Aku benar-benar minta maaf karena tidak mau mengalah. Aku khawatir kamu..."
"Stop! Apa menurutmu hal sepele seperti ini akan membuatku khawatir? Kamu jangan sok tau! Bahkan meski tim Lion tidak sampai difinal sekalipun juga tidak akan membuat Jimmy kehilangan beasiswanya. Mereka masih punya aku, untuk apa khawatir dengan hal kecil seperti itu." tegas Suya.
"Suya, sebenarnya apa masalah diantara kita? Kenapa sepertinya kamu sangat membenciku?" tanya Jiho.
Sejak awal memang keduanya hampir tidak pernah memiliki obrolan yang santai. Selalu saja berujung dengan perdebatan yang tidak ada habisnya.
"Jangan berbangga diri, kita hanya sebatas kenal. Untuk urusan mendapat rasa benci atau tidak dariku itu kamu tidak punya hak. Kita tidak seakrab itu." tegas Suya lagi.
"Maka dari itu, apa kita tidak bisa berteman biasa? Bagaimanapun kita adalah teman sekelas. Kenapa tidak kita coba berteman seperti yang lainnya?" punta Jiho.
"Jiho, apakah dari dulu selalu seperti ini caramu memulai pertemanan?" tanya Suya yang mulai hilang kesabaran,
"Aku.."
"kenapa aku seperti ini? ini adalah pertama kalinya dalam hidupku aku mengemis dalam pertemanan. sebenarnya aku ini kenapa? apa iya aku hanya penasaran saja dengan semua teka-teki Suya? aku juga bukan kekurangan teman. tapi kenapa aku selalu ingin dekat dengan Suya?"
"..aku hanya tidak ingin kita bermusuhan, itu saja." elak Jiho.
"Jiho, asal kamu tahu saja, aku tidak pernah menganggap kamu atau yang lainnya sebagai musuh. Tapi jika kamu terus-terusan menggangguku seperti ini, maka aku akan benar-benar menganggap kamu sebagai musuhku."
"Tapi Suya, bagai.."
'kriiinngg'
"Lihatlah, bahkan jam istirahat saja tidak mau mendengar obrolan kita. Kamu pergi sana."
Setelah bel berbunyi Suya segera mengusir Jiho. Tanpa penolakan apapun Jiho juga bergegas kembali ke mejanya. Saat semua sudah kembali ketempat masing-masing, ketua kelas segera memberikan pengumuman tentang rencana makan bersama.
"Teman-teman, berhubung guru sedang rapat, maka kita akan belajar mandiri. Tapi ada satu hal yang mau aku diskusikan dengan kalian. Atas kemenangan tim basket kemarin, bagaimana kalau nanti malam kita makan bareng? Aku yang traktir." ucap ketua kelas.
"setuju,"
"aku juga setuju,"
"boleh,"
Hampir seisi kelas mengatakan setuju dengan penuh antusias. Hanya Suya dan Jiho saja yang masih diam membisu.
"Jiho? Bagaimana menurutmu?" tanya ketua kelas.
"Jae, apa tidak sebaiknya diskusikan dulu dengan anak basket lainnya?" ucap Jiho.
"Jangan khawatir, tadi Somi dan Hanna sudah menghubungi mereka. Meraka semua setuju, untuk waktu dan tempatnya ngikut saja kata mereka." ucap ketua kelas.
"Baiklah kalau begitu aku juga setuju." sahut Jiho.
"Oke, kalau begitu nanti malam kita semua makan di Own Resto ya, kalian bisa makan sepuasnya." imbuh ketua kelas.
..
"Kakak mau kemana?" tanya Jina yang mendapati kakaknya berpakaian rapi.
"Kakak ada janji sama anak basket, kamu mau ikut?" ajak Jiho.
"Tidak, aku mau pergi sebentar," tolak Jina.
"Kamu mau kemana jam segini?"
"Mau ketemu teman, aku janji gak akan pulang kemaleman."
"Ya udah, hati-hati. Kalau ada apa-apa langsung telpon kakak. Kakak mau makan di Own Resto. Kamu bisa nyusul kesana atau hubungi kalau mau dijemput pulangnya."
"Siap, bos. Kalau gitu aku berangkat. Dah."
Jinapun bergegas pergi untuk menemui seseorang. Meskipun masih seorang siswi smp, namun Jina sudah nampak dewasa dan juga cantik. Dia juga sudah sedikit mempelajari ilmu beladiri sejak kejadian dengan Suya waktu itu. Dia bertekad tidak ingin membuat kakak juga orangtuanya khawatir.
Setelah beberapa saat, Jinapun sampai ditempat tujuannya.
"Permisi, kak Suyanya ada?" tanya Jina
"Kak Suya sudah tidak bekerja disini?" tanya Jina lagi.
"Iya, sudah seminggu yang lalu dia mengundurkan diri. Kalau tidak salah, bukannya kamu adiknya Jiho ya?"
"Iya, sata Jina adiknya kak Jiho." sahut Jina,
"Bagaimana pertandingan basket Jiho? Apa menang?"
"Tim kakak berhasil menang,"
"Baguslah kalau begitu, tidak sia-sia dia izin untuk tidak bekerja."
"Iya, kalau begitu saya permisi dulu ya. Karena kak Suya juga tidak ada disini, permisi."
Dengan sedikit rasa kecewa Jina melangkahkan kakinya meninggalkan tempat karate. Dalam benaknya dia bertanya-tanya kenapa Suya mengundurkan diri. Kenapa kakaknya tidak memberitahu dia apapun. Malam hari ini dia beranikan diri keluar hanya untuk menemui Suya. Namun hasilnya justru nihil. Disaat rasa kecewa sangat mengganggu perasaannya, tiba-tiba saja terjadi hal tak terduga.
"Kak Suya!" teriaknya.
Dari kejauhan dia melihat Suya dijalan. Suya pun hanya terdiam dan berpikir siapa yang barusan manggil dia. Dari kejauhan terlihat seorang gadis berlari kearahnya.
"Kamu?" ucap Suya terkejut.
"Kakak mau kemana? Oh ya, kakak sudah tidak bekerja di Zhang ya?" tanya Jina.
"Ah itu,"
"Kenapa kak? Kakak sekarang mau kemana?"
"Jina, kakak sekarang ada urusan mendesak. Lain kali kita lanjutkan obrolannya ya, kakak pergi dulu. Bye."
Suya bergegas meninggalkan Jina. Karena ada urusan mendesak yang harus dia kerjanya malam ini.
"Kenapa kak Suya terlihat gelisah gitu ya? Aneh,"
..
"Mari kita bersulang untuk kemenangan Yeju," pekik Jae.
"Cheers,"
Dengan penuh perasaan senang mereka merayakan kemenangan pertandingan kemarin.
"Jae, dimana Suya?" bisik Jiho.
"Apa menurutmu dia cocok dengan acara seperti ini?" sahut Jae lirih.
"Kamu tidak mengajak dia?" balas Jiho.
"Kamu kan tahu sendiri aku umumkan didepan kelas. Tadi sepulang sekolah dia menemuiku bilang tidak bisa ikut karena ada acara malam ini." jelas Jae.
"Acara apa?"
"Mana aku tahu. Aku tidak berani tanya, bertanyapun sepertinya juga percuma."
"Kemana dia? Ah, apa mungkin dia karate? Besok saja aku tanyakan dia."
..kak, aku ke Own resto, ya..
..oke..
"Jina mau kesini," ucap Jiho.
"Kenapa tadi tidak bareng kamu?"
"Tadi dia bilang mau pergi menemui temannya."
Karena tidak bisa berbincang dengan Suya, akhirnya Jina memutuskan untuk ikut dengan kakaknya sebelum pulang kerumah.
"Jina, sebelah sini." panggil Jiho.
Jinapun duduk disamping Jiho.
"Kak, katamu makan dengan anak basket, kenapa orangnya banyak banget?" bisik Jina penasaran.
"Kita memang sedang merayakan kemenangan kemarin," sahut Jiho.
"Jadi mereka semua teman sekelas kakak?" bisik Jina lagi.
"Iya,"
"Lalu kenapa kak Suya tadi tidak kesini?" imbuh Jina.
"Suya? Kamu tadi ketemu dia?" tanya Jiho.
"Iya, tadi aku dijalan ketemu kak Suya. Tapi dia sedang buru-buru jadi aku tidak sempat ngobrol." sahut Jina,
"Terburu-buru?"
"Iya, seperti sedang gelisah gitu. Aku mau tanya tapi kak Suya pergi begitu saja."
"Apa kamu yakin?"
"Full persen yakin."
"Suya kenapa ya? Kenapa dia bisa gelisah? Apa dia sedang ada masalah jadi menolak ikut kesini?"
Perasaan Jiho benar-benar terganggu dengan ucapan Jina barusan. Dia menjadi kepikiran tentang Suya sedari tadi dan beberapa kali terlihat melamunkan sesuatu.
Setelah usai mereka membubarkan diri, begitu juga dengan Jina dan Jiho yang segera bergegas untuk pulang. Diperjalanan, Jina mulai menggali informasi mengenai pengunduran diri Suya dari Zhang.
"Kak,"
"Iya, kenapa?"
"Kenapa kak Suya keluar dari Zhang?"
"Apa?!"
"Kakak gak tahu?"
"Kakak sama sekali gak tau kalau dia tidak kerja disana, kamu kenapa bisa tau?"
"Sebenarnya tadi aku ke Zhang, tapi katanya kak Suya sudah tidak kerja disana lagi. Lalu dijalan waktu ketemu aku mau tanya tapi kak Suya buru-buru pergi. Tapi, aku merasa aneh dengan penampilan kakak malam ini,"
"Aneh kenapa?" Jiho tampak penasaran dengan ucapan adiknya itu.
"Kakak tahu sendiri kan bagaimana modisnya cara berpakaian kak Suya selama ini. Tapi malam ini gaya pakaiannya benar-benar full persen berbeda dari biasanya. Tadi saja hampir aku tidak mengenalinya."
"Apa maksudmu dia memakai hoodie dan celana hitam?"
"Ya, kakak kok bisa tahu? Tadi setelah pergi kak Suya juga langsung memakai masker," imbuh Jina.
"sial.."
"Jina, kamu pulang dulu, ya. Kakak tiba-tiba ingat ada urusan sebentar." ucap Jiho sembari berbalik arah.
"Kakak kenapa?" ucap Jina terheran-heran sembari memandangi kakaknya yang berlari dengan buru-buru.
"aku harap Suya tidak pergi ketempat itu lagi. tidak peduli apapun, aku akan masuk bagaimanapun caranya."
Jiho merasa curiga mungkin Suya kembali mendatangi permukiman kumuh itu lagi. Diapun bergegas menuju tempat itu untuk memastikannya. Perasaannya benar-benar tidak tenang sejak tadi. Khawatir jika Suya melakukan hal yang tidak baik, juga khawatir jika Suya sampai terluka.