He Is A Girl

He Is A Girl
21 Umpan Sukses



Akhirnya hari yang ditunggu tiba juga. Pada akhirnya perlombaan antar kelas akan berlangsung selama 2 hari. Setelah melakukan beberapa rundingan, akhirnya kelas 2a memutuskan untuk mengikuti 3 perlombaan, yaitu lari estafet, basket dan juga futsal.


Antusias para siswa begitu besar karena jarang sekali sekolah mengadakan perlombaan semacam ini. Siswa yang tidak menjadi pemain lomba sudah memenuhi kursi penonton tiap cabang olahraga.


Kelas 2a juga sangat heboh kali ini. Tentu saja hal itu tidak nampak pada Suya. Dia sangat kecewa akan hasil dari pemilihan pemain.


**


"Jae, gimana rapat hari ini?" tanya Somi.


Setelah hampir seharian mengikuti rapat, akhirya Jae kembali juga ke kelaa. Kedatangannya sangat dinanti teman-temannya untuk info mengenai hasil akhir bidang perlombaan.


"astagaa.. Aku lelah sekali," ujarnya sembari meneguk sebotol air yang berada diatas meja Somi.


Somi menunggu temannya menghabiskan minumannya dengan sabar.


"jadi gimana?" tanyanya lagi.


"basket, futsal, lari estafet, lari perorangan sama lompat tinggi." sahut Jae,


"banyak juga ternyata. Lalu tiap kelas harus ikut semua atau gimana?" tanya Hanna,


"tidak, yang penting untuk memeriahkannya tiap kelas minimal harus mengikuti 2 bidang perlombaan. Lebih bagus lagi jika bisa semuanya."


"teman-teman..."


Jae pun menjelaskan pada teman sekelasnya mengenai ketentuan tentang lomba secara merinci agar tidak ada kesalahan informasi apapun.


"...dan tentu saja anggota osis tidak bisa ikut berpartisipasi dalam lomba ini. Nanti ibu Lee akan membantu kita berembug kegiatan apa saja yang akan kita ikuti." imbuhnya.


Sembari menunggu ibu Lee datang, mereka berembug sebentar untuk membuat gambaran pesertanya. Tentu saja ada sedikit perdebatan dalam diskusi kali ini. Bahkan Jiho dan juga Suya masih saja sesekali beradu argumen.


"oke, jadi kelas kita akan mengikuti 3 perlombaan ini. Ibu harap kalian bisa memenangkan setiap lomba yang kalian ikuti. Sebenarnya tidak harus menjadi nomor 1, yang penting kita sudah ikut meramaikan acara sekolah."


"baik, Bu."


Setelah berunding dan mendapatkan daftar peserta lomba, ibu Lee segera beranjak dari kelas dan kembali ke kantor. Keputusan peserta ini semua atas pilihan ibu Lee, sehingga tidak ada seorangpun yang berani membantah.


Yang pada akhirnya Suya harus mengikuti 2 perlombaan, futsal dan juga basket. Entah kenapa ibu Lee langsung menunjuk Suya begitu saja tanpa bertanya apapun. Namun begitu lebih baik karena jika bertanya terlebih dahulu tentu saja Suya akan menolaknya dengan tegas.


**


"hah,"


Suya menghela napas dengan berat. Jika dia main bagus hari ini dia takut bakatnya akan terekspos. Namun jika dia bermain asal-asalan, dia takut temannya akan kecewa.


"sial, sejak kapan aku peduli dengan perasaan mereka." gumam Suya.


Melihat Suya yang kebingungan di ujung lorong membuat Somi memberanikan diri mendekatinya untuk memberikan support.


"gak usah gugup," ucap Somi sembari menepuk ringan pundak Suya.


"untuk apa aku harus gugup?" elak Suya.


"lalu kenapa kamu begitu gelisah?"


"ada hal lain yang tidak perlu kamu ketahui."


"oke, kita semua menaruh harapan besar padamu, jadi semangat ya," ucap Somi,


Somi segera kembali pada gengnya setelah membari semangat pada Suya. Dia bisa melihat dengan jelas kalau Suya sedang khawatir saat ini, meskipun dia tidak tahu pasti hal apa yang sedang dikhawatirkan Suya.


Sorakan penonton sudah sangat meriah. Setelah urutan pertandingan usai disusun, para peserta segera menempatkan diri masing-masing. Untuk babak penyisihan akan dilakukan dengan tingkat kelas yang sama.


Karena ini bukan pertandingan resmi, tentu saja waktu pertandingan juga tidak akan selama seperti pertandingan resminya. Untuk futsal hanya akan berlangsung selama 30 menit untuk tiap permainan, begitu juga dengan basket.


JIHOO!!


JIHOO!!


JIHOO!!


Dukungan untuk Jiho terdengar sangat riuh begitu dia memasuki lapangan basket. Jiho adalah bintang basket, tentu saja banyak yang sangat menantikan permainannya. Bahkan kelas lain pun banyak yang mendukung Jiho dibandingkan dengan kelas mereka sendiri.


"waahh, lihat itu Suya.."


Teriak salah satu siswi dari kursi penonton. Tentu saja hal itu membuat siswi lain juga spontan bersorak.


"waaa...."


Kehebohan langsung terjadi saat Suya juga memasuki lapangan, apalagi saat Suya berdiri tepat disamping Jiho. Meskipun tinggi badan mereka tidak sama, tapi pesona mereka berdua tidak bisa dibandingkan lagi. Mereka mampu membius seluruh penonton yang hadir.


SUYA!!


SUYA!!


SUYA!!


Sambutan mereka tak kalah menghebohkan. Dan kabar Suya ikut tanding basket pun segera menyebar luas di sekolah dan hal itu membuat banyak penonton baru yang berdatangan.


"tidak disangka dia sangar populer," bisik Titan pada Jiho.


Pertandingan antara kelas 2a dengan 2d telah dimulai.


"aku akan lihat cara permainan mereka. Karena sudah ada Jiho dan Titan, sepertinya aku tidak perlu terlalu serius. Mereka berdua sudah seharusnya bisa mengalahkan anak 2d tanpa aku. Jadi aku aka lebih tenang kali ini."


Suya sebisa mungkin untuk tidak menggunakan kemampuannya dengan baik. Dia hanya perlu ada untuk melengkapi jumlah tim saja. Itulah yang sedari tadi dia pikirkan. Dia hanya perlu memusatkan pikirannya pada futsal saja.


Meskipun sibuk menggiring bola, Jiho tetap memantau gerak-gerik Suya.


Beberapa saat yang lalu,


"*untuk membuat pak Choi melihat kemampuan Suya, kita harus membuat dia menonjol. Meskipun nanti kita punya kesempatan bagus, sebisa mungkin buat dia lebih banyak mendapatkan bola."


"oke aku setuju. Sepertinya dia juga hanya akan bermain santai karena ada kita berdua."


"maka dari itu kita harus lebih banyak membuat dia mendapatkan bola. Tidak peduli menang atau kalah, kita harus melihat kemampuannya*."


Beberapa saat yang lalu Jiho dan Titan dengan sengaja merencakan sesuatu pada Suya.


Dengan gesit Jiho mengoper bola pada Suya. Suya menerima bola itu karena refleks dan menggiringnya kedepan ring untuk shooting dan mencuri poin. Dari operan itu membuat Suya menambahkan 3 poin untuk kelas 2a.


"sial," gumamnya.


"sudah kuduga dia akan memiliki refleks yang baik,"


Pertandingan akhirnya selesai dengan selisih poin yang cukup besar. 2a berhasil mencetak 89 poin dan 2d berhasil mencetak 64 poin. Besarnya selisih itu membuat kelas 2a sangat bangga dan juga heboh.


"Jiho!" teriak Suya.


Jiho sudah menyiapkan diri jika Suya menyadari akan rencananya.


"apa maksudmu?!"


"maksud apa? Yang tiba-tiba manggil kan kamu, harusnya aku yang ngomong begitu."


"jelas-jelas kamu dan Titan bisa saja mencetak seluruh poin. Kenapa selalu oper padaku?!"


"lah, emang apa salahnya saling oper bola saat bermain? Lagipula kamu juga menerimanya dengan baik. Kenapa? Refleks yang gak bisa dikontrol ya?" ledeknya pada Suya.


"kalian sengaja ingin menjebakku kan?!"


"Suya, kamu gak boleh berpikiran seperti itu pada temanmu." ucap Jiho dengan nada bicara yang dibuat-buat.


"tunggu saja!? Aku akan..."


"akan apa?..." potong Jiho,


"...lagipula wajar saja jika satu kelompok saling oper bola. Dan lagi, aku hanya mengoper bola padamu, bukan memintamu menembakkan poin, kamu bisa saja mengoper kembali bola itu, kan? Tapi nyatanya kamu justru memilih shooting sendiri. Emang ya, kalau naluri itu tidak bisa dibohongi..."


Suya sangat kesal mendengar semua perkataan Jiho .


"...siap-siap saja kamu dipanggil pak Choi," ucap Jiho sembari menepuk pundak Suya dan beranjak pergi.


"sial!"


Suya tak henti-hentinya mengumpat. Dia kesal karena dirinya tidak bisa menyadari sejak awal bahwa dia akan dipermainkan oleh Jiho. Dan bodohnya dia justru memperlancar semua rencana Jiho.


Setelah istirahat hampir 2 jam, kelas 2a akan bertanding futsal dengan kelas 2c. Dalam regu futsal tidak ada Jiho didalamnya. Suya jadi sedikit lebih tenang setelah kejadian di lapangan basket tadi.


"setidaknya kali ini tidak ada yang akan sengaja memanfaatkan aku."


Suya bersiap memasuki lapangan bersama anak-anak lainnya. Penonton juga sudah sangat bersemangat untuk menyaksikan permainan Suya. Pasalnya mereka sangat kagum saat melihat permainan futsal Suya terakhir kali saat itu. Dan Suya tidak pernah lagi main futsal sejak saat itu dan membuat mereka merindukan moment itu.


"Suya, kali ini kami akan sangat mengandalkanmu," ucap Jae.


"aku hanya pelengkap, jadi jangan terlalu berharap padaku. Aku bahkan tidak sering bermain futsal."


Peluit tanda permainan dimulai telah ditiup. Jae dengan lihai menggiring bola dan saling oper bola dengan temannya.


2A! 2A! 2A!


"Suya!" teriak Jae yang lalu menendang operan bola padanya.


Suya menerima operan bola dari Jae dan segera menggiringnya ke gawang dan langsung melakukan shooting tapi sayangnya masih membentur mistar gawang dan gagal mencetak gol. Hal itu tidak membuat mereka berkecil hati karena waktu permainan juga baru saja dimulai.


Dari awal niat hanya ingin jadi pelengkap namun Jae terlalu mengandalkan Suya dan banyak mengoper bola padanya. Suya lagi-lagi menggiring bola ke arah gawang dan mencoba untuk melakukan shooting lagi.


GOOOLLLL!!


Shooting dari Suya berhasil membobol gawang kelas 2c dan membuat penonton yang mendukung 2a menjadi sangat heboh. Jae dan rekannya saling berpelukan untuk merayakannya.


'*degh..degh..'


"perasaan ini*.."


Suya tampak enjoy dengan permainan kali ini. Tidak seperti permainan basket sebelumnya. Jiho yang menyaksikan di kursi penonton pun juga merasakan kalau Suya menikmati permainan ini.


"santai sekali anak itu." gumam Jiho.


Permainan hampir usai, kelas 2c masih belum bisa membobol gawang 2a dan 2a juga masih belum berhasil menambah keunggulan mereka.


'pritt..priitt..priitt.."


Permainan telah usai dengan kemenangan diraih oleh kelas 2a dengan keunggulan 1-0 atas kelas 2c. Seluruh kelas 2a berhamburan menuju lapangan untuk memberikan selamat pada rekan mereka yang sudah bermain dengan baik.


"Suya kamu benar-benar hebat,"


"bahkan permainan basketmu juga hebat,"


Banyak siswi yang mendekati Suya dan memberinya pujian. Siswi dari kelas lain juga tak kalah berantusias untuk mendekati Suya.


Dari kejauhan Jiho hanya melihat kerumunan itu. Dia tersenyum dengan bangga melihat kemenangan rekannya. Dan dia juga bangga karena bisa melihat Suya bermain dengan santai.


"benar katamu..."


Jae menghampiri Jiho yang berdiri berada diujung lapangan.


"...selama dia mendapatkan bola, dia akan melakukan permainan dengan sempurna. Dia awalnya bilang padaku jangan mengandalkannya, nyatanya begitu aku mengoper bola padanya dia akan melakukan yang terbaik. Tidak sia-sia kita memanfaatkan kesempatan ini." ucap Jae.


Lagi-lagi Jiho menyusun rencana untuk menonjolkan skill Suya pada Pak Choi. Dia bekerja sama dengan anak futsal untuk membuat Suya lebih banyak mendapatkan bola dalam pertandingan kali ini. Dan rencana itu berjalan dengan lancar, bahkan sepertinya Suya tidak menyadari itu semua.


"kamu benar, selama ada kesempatan kita harus memanfaatkannya. Kamu segeralah kembali, jangan sampai Suya menyadari rencana kita karena dia sudah tahu jika aku memanfaatkannya saat basket tadi." ucap Jiho.


"oke,"


Jae segera kembali pada rekan-rekannya. Untuk pertandingan final bola basket dan futsal akan berlangsung esok hari. Sedangkan pertandingan lainnya akan selesai hari ini. Untuk lari estafet kelas 2a tidak berhasil meraih peringkat pertama, mereka hanya mampu meraih peringkat kedua. Tentu saja itu juga sudah membanggakan.


***


Jiho berdiri di seberang jalan sembari berpangku tangan. Pandangannya tertuju pada kafe dimana Suya bekerja. Tatapannya mengarah pada Suya yang sedang sibuk dengan pekerjaannya. Sesekali Jiho tersenyum saat melihat Suya tersenyum pada pelanggan.


"dia terlihat jauh lebih hangat jika tersenyum seperti itu." gumam Jiho.


Senyuman itu hanya mampu Jiho lihat saat Suya bekerja. Karena dia tidak pernah sekalipun diberi kesempatan untuk merasakan senyuman itu. Sudah beberapa hari ini Jiho tidak pernah mengganggu Suya. Dia hanya memandangi Suya dari kejauhan saat diluar sekolah.


"apa aku sungguhan jatuh cinta padanya? Hah..."


Jiho menghela napas dengan berat.


"...tapi apa iya?.."


"...Jiho, kamu kenapa sih?..."


"...apa benar aku jatuh cinta pada Suya??..."


"...dari semua perempuan yang aku temui, kenapa..."


"...kenapa aku harus jatuh cinta pada laki-laki."


Jiho membenturkan punggung kepalanya pada pohon tempat dia bersandar. Perasaan aneh yang dia dapatkan dari Suya tidak lagi mampu dia bendung. Dia sungguh sangat tidak percaya jika dia benar-benar jatuh cinta pada Suya. Lelaki yang sejak awal kenal bahkan tidak bisa bicara baik-baik padanya. Lelaki yang dari awal kenal selalu mengajak ribut. Lelaki yang dari awal kenal menyimpan berbagai misteri yang sampai saat ini masih belum dapat dia ungkap kebenarannya.


"mau kemana dia?" gumam Jiho,


Suya terlihat sedang buru-buru pergi ke suatu tempat. Dia melepaskan apronnya dengan tergesa-gesa lalu lari keluar dari kafe. Jiho dengan spontan mengikutinya diam-diam. Dia merasa kali ini pasti akan ada sesuatu info yang sangat berharga buatnya.


**


"..oke aku akan kesana,"