He Is A Girl

He Is A Girl
14 Sahabat Musuh



"Entah, hari ini hanya sedang tidak ada kerjaan saja. Lagipula kalian masih punya hutang sama aku. Anggap saja ini sebagai sebagian kecil imbalan dariku. Kalian tidak mungkin lupa dengan janji kalian kan!"


"Jangan khawatir, kami masih menyelidikinya. Tapi apa..."


"Jangan terlalu banyak bertanya, terlalu banyak tahu itu tidak bagus untuk ketenangan hidupmu."


"Baiklah. Kenapa kamu memakai masker seperti itu?"


"Ketampananku sangat mempesona, aku tidak mau mereka mengingat wajahku dan mengganggu kebebasanku kedepannya."


"Terserah kamu saja. Kenapa mereka lama sekali."


"Apa mungkin mereka takut bos?" Sahut Qin, salah satu dari club itu.


Club Lion malam ini menantang perkelahian dengan club basket Jiho. Sang ketua tim sangat tidak terim karena teman satu timnya dibikin babak belur oleh temannya Jiho.


"Jika mereka berani tidak datang maka kita pergi ke sekolah mereka." Ucap Lin, bos dari club Lion.


Dari kejauhan nampak beberapa orang berjalan mendekat kearah mereka.


"Sepertinya mereka datang bos,"


"Akhirnya kalian datang juga. Aku pikir kalian tidak punya nyali untuk datang kesini." Ucap Lin.


"Maaf jika mengecewakanmu. Tapi langsung saja. Aku kesini tidak untuk berkelahi." Sahut Jiho.


"Suara ini?"


"Hah, tidak untuk berkelahi katamu?"


"Iya. Aku membawa Joy dan Hero untuk meminta maaf padamu hari ini." Jelas Jiho lagi.


"Ini benar club basket Jiho?"


"Kami tidak butuh permintaan maaf kalian. Kami hanya mau kalian merasakan apa yang teman kami alami."


"Tapi saat itu teman kami juga terluka." Elak Jiho.


"Tapi teman kami sampai harus berbaring dirumah sakit dan bahkan tidak bisa bermain basket untuk beberapa bulan! Apa kalian tahu itu!" Pekik Lin.


"Apa?!"


"Suya, ada apa?" Tanya Lin yang tertegun karena teriakan Suya.


"Suya katamu?" Jiho tak kalah kaget mendengar nama itu disebut.


Jiho pun mendekat kearah seseorang yang mengenakan masker dan menarik masker itu. Dan ternyata dugaannya benar, dia adalah Suya yang dia kenal.


"Kamu ngapain disini?" Pekik Jiho.


"Bukan urusanmu!" Elaknya.


"Hei! Urusanmu dengan kami!" Sela Lin,


"Oke! Club kita memang ada masalah, tapi kenapa dia ada disini? Jelas-jelas dia bukan dari clubmu. Tunggu, apa mungkin kalian minta bantuannya untuk melawan kami?" ucap Jiho pada Lin.


"Sial," gumam Suya.


"Bukan urusanmu aku akan berkelahi dengan bantuan siapa. Yang aku pedulikan adalah kalian mendapatkan balasan atas perbuatan kalian." Tegas Lin kembali.


"Aku sudah katakan aku tidak akan menerima tantanganmu jika itu perkelahian. Aku akan bertanggung jawab atas apa yang menimpa temanmu, apapun itu." Jiho pun juga tidak mau kalah.


"Kamu pikir kamu siapa berani-beraninya bernegosiasi denganku?" Teriak Lin.


"Lin, tenanglah." Ucap Suya.


"Bagaimana aku bisa tenang. Temanku terbaring dirumah sakit dan tidak bisa bermain basket untuk beberapa bulan. Dan lagi kenapa kamu tiba-tiba bersikap lunak seperti ini? Kamu mau membela mereka?" tegas Lin.


"Aku tidak membela mereka. Tapi jika kamu tidak bisa tenang maka semua bisa berjalan diluar kendali kita seperti pada awal." Jelas Suya.


"Suya! Apa maksud semua ini?" Sela Jiho.


"Kamu diam!.." Teriaknya pada Jiho,


"...kamu bahkan tidak bisa membawa temanmu dalam permainan yang sportif tapi masih berani marah! Jika kamu ingin tidak ada perkelahian disini, apa yang bisa lakukan untuk Jimmy?"


"Jimmy? Kamu bahkan mengingat namanya? Kamu benar-benar berteman baik dengan mereka ya rupanya!" Jiho nampak kecewa melihat kedekatan Suya dengan mereka.


"Bukan urusanmu aku akam berteman dengan siapa dan bahkan kamu harus sadar bahwa kita juga buka dalam lingkaran pertemanan jadi berhentilah mencampuri urusanku."


"Lalu jika aku tidak mencampuri kamu akan berkelahi seperti ini? Apa kamu sudah gila!" teriak Jiho.


"Tutup mulutmu! Aku bertanya sekali lagi, apa yang akan kamu lakukan?!"


"Oke, apa yang bisa aku lakukan untuk menebus kesalahan mereka?" Ucap Jiho.


"Lin? Apa yang kamu mau?"


"Keinginanku masih sama. Aku mau mereka merasakan penderitaan yang dialami Jimmy."


"Lin, bisakah kamu menggantinya dengan hal lain?" tanya Suya.


"Tapi..."


"Lin,.."


"Baiklah, bulan depan akan ada pertandingan basket. Jika kami kalah dalam pertandingan itu maka Jimmy juga akan kehilangan beasiswanya untuk pergi ke universitas impiannya. Jika kamu tidak mau ada perkelahian diantara kita malam ini. Maka kamu sebagai ketua club apa bersedia memenangkan pertandingan itu?" Ucap Lin.


"Jika Jimmy tidak ikut main apa dia tetap akan dapat beasiswanya?" Sela Suya.


"Iya, selama club kami bisa menang." Sahut Lin.


"Tunggu, apa yang kamu maksud pertandingan basket yang akan diselenggarakan di sma Heon tanggal 09 nanti?" Ucap Jiho.


"Iya."


"Tapi kami juga main dalam pertandingan itu." Jelas Jiho.


"Kalau begitu kita hanya punya satu pilihan malam ini." Tegas Lin.


"Lin, tenang dulu. Kita bisa bicara baik-baik."


"Suya! Kenapa kamu jadi lemah gini sih? Atau jangan-jangan mereka juga..."


"Bukan!" Pangkas Suya.


"Jiho, aku akan melaporkan perbuatan Joy dan Hero pada pelatih kalian. Biar gimanapun mereka harus mendapat hukuman atas perbuatan mereka." ucap Suya.


"Suya aku mohon rahasiakan ini dari pelatih," keluh Hero.


"Kamu tidak punya hak untuk melarangku. Ini adalah akibat yang harus kamu tanggung atas perbuatanmu. Masih mending aku tidak melaporkanmu pada polisi!" tegas Suya,


"Suya, tapi mereka harus merasakan balasannya," ucap Lin,


"Lin, apa kamu yakin akan menang jika melawan mereka?"


"Ada kamu dan aku, untuk apa aku takut!" tegas Lin.


"Aku batalkan rencanaku membantumu karena mereka mengenaliku. Aku gak mau merusak reputasiku kedepannya." ucap Suya.


"Suya, apa maksudmu jika kami bukan orang yang kamu kenali maka kamu akan membantu mereka melawan kami?!" teriak Jiho.


"hah, terserah kalian. Lin aku akan membantumu lain kali. Dan untuk kalian berdua, silakan apa yang akan kalian lakukan. Aku tidak akan ikut campur lagi. Tapi aku ingatkan, jika kalian tetap ingin berkelahi sementara satu bulan lagi kalian ada pertandingan, maka kalian harus bersiap untuk kemungkinan cidera dan tidak bisa ikut pertandingan. Bagaimana Lin? Lagipula selama masih ada aku kamu tidak perlu khawatir kalah dalam pertandingan apapun." Ucap Suya, Lin hanya terdiam.


"Suya! Apa kamu membela mereka daripada clubmu sendiri?" Pekik Jiho.


"Suya, kamu berasal dari club mereka?" Tanya Lin.


"Bukan. Jiho, dengar. Meskipun kita satu sekolah tapi perlu kamu ingat bahwa aku tidak pernah bergabung dengan club basket, aku yakin kamu juga tahu bahwa aku bergabung dengan club fotografi."


"Lalu maksudmu kamu satu club dengan Lion?"


"Jika iya kenapa? Aku tidak melakukan hal yang salah. Aku hanya melatih mereka tanpa menghianati club kalian. Aku tidak menjadi mata-mata atau apapun itu."


"Tapi kamu seharusnya membela tim dari sekolahmu sendiri."


"Jiho, asal kamu tahu saja. Aku tidak berteman hanya karena satu lingkungan, tapi aku berteman karena satu urusan yang sama. Aku sudah tidak mau lagi berdebat denganmu. Lin, sebaiknya kamu bawa teman-temanmu pulang saja. Meskipun nanti club kalian tidak berhasil menang, aku akan bantu urus beasiswa Jimmy. Kamu tidak usah khawatir. Dan Jiho, kamu sendiri atau aku yang akan bilang dengan pelatih besok silakan kamu putuskan sendiri."


Suya bergegas meninggalkan mereka. Dengan berat hati Lin dan teman-temannya juga pergi begitu saja.


"Jiho, kamu tidak akan melaporkan mereka kan?" Ucap Titan.


"Meskipun aku tidak, tapi Suya pasti akan melakukannya."


"Jiho, kami minta maaf. Karena kami berdua kamu jadi hampir saja terkena masalah."


"Simpan maaf kalian untuk pelatih."


..


"Kalian sudah dengar kabar? Katanya beberapa anak dari club basket ada yang dapat hukuman. Dengar-dengar Jiho juga terlibat."


"Sudah sudah. Berhenti bergosip. Kasihan nanti kalau sampai anak club basket dengar."


"Suya, nanti pulang sekolah mau gak ikut main futsal? Kita tanding dengan kelas 11E." Ajak Jae.


"Oke,"


"*Suya bilang oke?"


"Suya mau?"


"Cepat bilang sama yang lain kalau Suya mau main futsal."


"Wah, ini bakalan seru. Kita harus nonton*."


"Kamu langsung mengiyakan?" Ucap Jae setengah tidak percaya.


"Mau aku batalin?"


"Jangan dong. Kalau gitu nanti kita kumpul habis pulang sekolah di lapangan futsal,"


"Hm,"


"Itu Jiho dan Titan." Ucap Somi.


"Jiho, Titan. Gimana?" Tanya Jae.


"Begitulah, malas bahasnya."


"Oh ya nanti ada tandingan futsal dengan kelas 11E. Apa kamu mau nonton?" Ajak Jae.


"Lihat nanti ya."


"Oh Suya... Oh Suya... Oh Suya..."


"Jiho sini," panggil Somi.


Jiho dan Titan ikut menyaksikan pertandingan futsal melawan kelas 11E.


"Itu Suya?" Ucap Jiho setelah melihat Suya berada dilapangan.


"Iya, tadi saat Jae ajak dia main dia langsung iya tanpa ngeles apapun lho. Makanya kita disini mau lihat dia, hehe." Sahut Somi dengan senang.


"Jiho. Apa kamu tidak merasa ada yang aneh dengan Suya?" Ucap Titan.


"Apa maksudmu?"


"Dia jadi pelatih Lion, tapi mati-matian menolak gabung club basket kita padahal jelas-jelas club kita bisa menjadi hebat. Dan kenapa dia langsung mau ikut futsal padahal bukan club futsal. Sedangkan saat pelatih minta bantuan dia saat pertandingan internasional dia menolak mentah-mentah tapi sukarela membantu lawan kita. Dan apa maksudnya dengan dia memiliki urusan yang sama dengan Lion? Aku merasa banyak sekali yang aneh dari dia."


"Oh Suyaaa... waaa...."


"Apa yang diucapkan Titan memang ada benarnya. Bahkan lebih banyak lagi hal aneh darinya. Sebelumnya saja aku belum mendapat jawaban sekarang ditambah lagi."


..


"Kalian kemarin lihat pertandingan futsal gak? Katanya Suya anak pindahan itu mainnya keren banget lho."


"Iya dikelas gue juga pada heboh bahas dia,"


"Iya, kan. Sayang sekali aku kemarin tidak menyaksikannya."


"Gimana kalau kita samperin aja ke kelasnya? Siapa tahu kita bisa dekat dan berteman dengan dia."


"Ide bagus, kalau gitu nanti saat istirahat kita main ke kelasnya,"


'kriiiing,'