
"Tuan, ini data yang tuan minta," ucap Zhen sembari menyodorkan sebuah amplop cokelat berisi sebuah data
Oh Soo segera membuka amplop itu dan membacanya dengan teliti.
"Semua aman-aman saja?"
Oh Soo masih serius dengan file-file itu.
"Seperti yang tuan lihat, tidak ada info yang mencurigakan. Namun menurut Hyuk, dari awal memang Jiho sering kali mengikuti Suya. Dugaan kami Jiho tidak ada niat jahat pada Suya namun sepertinya dia merasakan sesuatu sehingga mencurigai Suya. Dia juga sempat menolong Suya saat ada beberapa orang yang coba mengganggu Suya. Dan juga,.."
Zhen tiba-tiba ragu untuk melanjutkan ucapannya,
"Dan juga?"
Zhen masih terdiam,
"Zhen?!"
"Dia.. Suya sempat kambuh dan dia melihat semuanya," jelas Zhen,
"Apa?!"
Oh Soo tercengang mendengar ucapan Zhen. Sudah setahun lebih Suya tidak pernah kambuh sakitnya.
"Bagaimana bisa? Sudah setahun lebih dia tidak pernah kambuh, apa penyebabnya?" tanya tuan Oh,
"Saat itu Suya dan Jiho sedang berkelahi, lalu tanpa sengaja tangan Jiho tertimpa lampu taman," jelas Zhen.
"Bukankah Hyuk sudah ditugaskan untuk menjauhkan Suya dari taman?"
"Maaf, tuan. Selama ini Hyuk hanya mengawasi saja."
Oh Soo merasa sedikit khawatir setelah mendengar penjelasan Zhen. Dia takut anaknya akan kembali ke masa kelamnya. Meskipun dia sengaja mengirim Suya ke kota S, namun dia tidak ingin jika Suya sampai kembali ke masa itu. Dia hanya ingin Suya menerima kenyataan jika Minho memang sudah tiada dan juga merelakannya tanpa dendam pada siapapun, termasuk pada pelaku penyebab kecelakaan yang sampai saat ini belum diketahui keberadaannya.
"Tuan, apa tidak sebaiknya kita segera cari pelakunya?" tanya Zhen,
"Apa menurutmu itu solusi terbaik?"
"Saya tidak berani menjamin ini solusi terbaik, tapi jika kita menemukan pelakunya mungkin saja Suya akan menghentikan semuanya dan kembali hidup normal."
Dugaan Zhen cukup masuk akal. Tuan Oh tak membalas ucapan Zhen, dalam benaknya masih ragu apa ini solusi terbaik untuk Suya. Bagaimana jika itu justru menjadi boomerang?
'tok..tok..'
"Pa,"
Oh Min, putra sulung Oh Soo yang datang membuyarkan ketenangan dalam ruangan itu.
"Ada apa, pa? Kenapa sepertinya sedang berbincang serius sekali," tanya Min,
Tanpa pikir panjang, tuan Oh pun mengalihkan perbincangan.
"Ada apa kamu kesini?" tanya tuan Oh,
Min sadar bahwa ayahnya sengaja mengalihkan pertanyaannya. Namun dia tidak akan ambil pusing kali ini.
"Ini data yang anda minta. Tahun ini profitnya sangatlah memuaskan dibanding tahun lalu. Tahun ini naik 40%," jelas Min.
Sudah 2 tahun Min menjabat sebagai direktur utama. Sejak kepemimpinannya, perusahaan selangkah demi selangkah semakin maju. Semakin memberikan keuntungan yang sangat menggiurkan. Oh Soo juga semakin tenang dan yakin jika suatu saat harus menyerahkan seluruh urusan perusahaan pada anak sulungnya itu.
"Sungguh menakjubkan, alangkah baiknya jika adikmu bisa sedikit mendapatkan kehebatan sepertimu, tentu kalian akan menjadi kolaborasi yang sangat apik." puji tuan Soo,
"Apa menurut anda anak anda itu tidak berguna?" sindirnya,
"Semua anakku sangat berguna, tentu saja kalian semua sangat hebat."
Dengan bangga tuan Oh menepuk pundak Min, dia merasa sangat bangga dengan anak-anaknya yang sangat berbakti dan juga berbakat.
Oh Min memiliki keahlian yang sangat mirip dengan ayahnya, ahli dalam mengurus bisnis perusahaan. Meski sejak kecil kedua orangtuanya tidak pernah memaksakan Min untuk belajar bisnis guna mewarisi usaha orangtuanya, namun sudah sejak kecil ketertarikannya pada bisnis sangat besar.
...
"kak, gimana kak Suya?"
Keesokan harinya, hal yabg pertama kali dibahas Jina dengan kakaknya adalah tentang Suya.
"Suya.."
..degh..degh..'
"..bahkan hanya mendengar namanya saja membuatku resah, sial,"
"kaakk.."
Teriakan Jina langsung membuyarkan lamunan Jiho,
"Dia baik-baik saja, kemarin kakak melihatnya sedang santai-santai di taman." jelas Jiho,
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Aku kemarin benar-benar khawatir,"
"Sudah, habiskan dulu sarapanmu,"
Merekapun segera menyantap sarapannya dan bergegas untuk aktivitas masing-masing.
Hari ini Jiho berencana untuk pergi ke Zhang dan bertanya mengenai alasan Suya keluar dari kerjaannya. Dia merasa pasti ada alasan yang kuat kenapa dia sampai merelakan pekerjaan itu.
Hati Jiho benar-benar tidak karuan rasanya, Suya selalu saja mengganggu pikirannya. Hal itu membuatnya semakin penasaran dan merasa terikat oleh kehadiran Suya. Kadang hatinya berbisik lirih,
"apa ini yang namanya jatuh cinta?"
Namun logika Jiho selalu saja mencoba menyangkal perasaan itu karena bagaimanapun dia merasa masih normal dalam perasaan. Dia selalu menyangkal bahwa dia tidak mungkin menyukai Suya yang seorang lelaki.
Dalam perjalanan menuju Zhang, tiba-tiba Jiho melihat Lin bersama beberapa orang yang terlihat seperti seorang berandalan. Jiwa penasarannya pun muncul dengan sangat cepat. Segera dia mengurungkan diri untuk pergi ke Zhang dan memutuskan untuk mengikuti Lin karena dia merasakan akan ada hal yang berguna jika dia mengikuti Lin.
"Mau kemana dia dengan orang-orang itu? Mereka sepertinya bukan anak Lion," gumamnya seorang diri.
Sudah cukup lama Jiho mengikuti Lin. Tempat yang dituju Lin cukup jauh dan berada dipinggiran kota. Namun hal itu tidak menyurutkan keinginan Jiho. Dengan sangat hati-hati dia tetap mengikuti Lin, hingga sampailah mereka pada sebuah rumah tua ditepi danau. Rumah itu dari luar nampak seperti sarang hantu juga penjahat.
"Sial, mereka masuk kedalam rumah itu. Sebaiknya aku mendekat dan mencari celah untuk melihat kedalam," gumamnya.
..
"Suya, ini markasmu?" sindir Lin setelah memasuki rumah itu,
Orang yang ditemui Lin adalah Suya.
"Tak perlu basa basi," sahut Suya,
"Baiklah. Ini adalah data orang-orang yang menjadi anggota geng yang kamu cari. Mereka adalah anggota aktif pada saat kejadian itu. Dan ini adalah bos mereka waktu itu dan ini profilnya," jelas Lin,
Suya tercengang saat melihat profil orang itu.
"Marga ini?" gumamnya tak percaya.
"Ya marga itu. Aku yakin kita memiliki pemikiran yanh sama," imbuh Lin,
"Tapi mana mungkin," elak Suya,
"Suya, aku yakin kamu bukan baru sekarang menggeluti dunia seperti ini. Hal seperti ini sangatlah mungkin terjadi."
Suya tak menjawab ucapan Lin. Dia masih mencerna informasi yang diberikan Lin.
"Coba kamu hubungkan ini semua dengan petunjuk-petunjuk yang sudah kamu dapatkan selama ini,"
Lagi-lagi Suya terdiam, mencoba mengingat kembali segala petunjuk yang dia dapat selama ini terutama petunjuk dari bos Yang terakhir kali itu.
"Sementara hanya itu yang mampu aku dapatkan, aku harus pergi, ada urusan yang harus aku kerjakan." ucap Lin.
"Baiklah. Oh ya, lain kali jangan berpakaian seperti itu, itu akan menarik perhatian banyak orang," ucap Suya.
"Oke, bye,"
Lin segera meninggalkan tempat itu bersama rekannya. Suya masih berdiam diri sembari membaca semua file yang dia dapatkan. Mencoba merangkai semua petunjuknya.
'brak'
Tak selang lama saat Lin keluar, tiba-tiba ada suara dobrakan pintu. Suya pun tertegun saat melihat sosok Jiho berdiri tepat didepan pintu sembari menatapnya dan berjuta pertanyaan tersirat dengan jelas diwajah Jiho.
Tanpa pikir panjang Suya segera merapikan filenya dan menyimpannya agar tak terbaca oleh Jiho.
"Jiho?! Apa-apaan kamu!" pekik Suya,
"Suya. Apa yang kalian bahas barusan?"
Dengan langkah tegas, Jiho berjalan mendekat kearah Suya.
"Bukan hal yang penting. Kamu juga tidak perlu tahu apapun tentang urusanku," elak Suya.
"Bukan hal penting? Lalu kenapa kamu nampak gugup seperti itu?"
Suya memang sedikit gugup saat mengetahui Jiho yang datang. Suya merasa terlalu meremehkan Jiho. Tidak disangka tempat yang dia anggap paling aman ternyata diketahui oleh orang yang sama sekali tidak dia inginkan untuk tahu.
"Untuk apa aku harus gugup hanya dengan kehadiranmu." elaknya lagi,
"Suya, sebenarnya kerjasama apa yang kamu jalankan dengan Lin? Kamu tidak terlibat hal kriminal, kan?"
"Kenapa raut wajah Jiho berubah jadi ekspresi khawatir seperti itu?" pikir Suya.
Tanpa menghiraukan kekhawatiran Jiho padanya, dia berjalan keluar meninggalkan rumah itu.
"Suya,"
Jiho coba menghentikan Suya dengan menahan tangannya.
"Jiho, lepaskan. Lepaskan sebelum aku lepas kendali." ucap Suya dengan tegas.
Jiho pun melepaskan genggamannya karena dia tidak mau bertengkar dengan Suya.
"Lalu apa yang kalian lakukan?" tanya Jiho lagi,
Suya tetap tidak menghiraukan Jiho dan terus melanjutkan langkahnya. Jiho pun juga tetap mengikuti Suya.
"Jiho! Bisakah kamu berhenti mengikutiku?!" pekik Suya.
"Bisakah kamu memberitahu aku juga?"
"sial, Jiho tidak bisa dianggap enteng,"
"Jiho, dengar. Aku tidak pernah sedikitpun mencampuri urusanmu. Aku juga tidak pernah sedikitpun mengganggu kehidupanmu. Jadi, mari kita lakukan hal yang sama, kamu juga jangan mengganggu urusanku. oke?"
"Kamu bisa menggangguku juga bila perlu,"
Dengan santai Jiho menjawab semua tolakan Suya.
"Jiho! Sebenarnya kamu itu kenapa sih! Kamu itu sangat mengganggu! Mengganggu!"
Suya sudah mulai jengkel dengan tingkah Jiho kali ini.
"Aku begini karena.."
Jiho terdiam.
"Karena apa! Cepat katakan! Kita selesai semua hari ini sekalian. Katakan!"
Suya semakin hilang kesabaran. Namun Jiho tak mampu lagi melanjutkan ucapannya. Dia terdiam.
"Dasar aneh!" umpat Suya.
Suya segera berbalik meninggalkan Jiho yang masih terdiam. Jiho hanya memandangi Suya yang berjalan menjauh dan meninggalkannya.
"aku bahkan tidak tahu aku menjadi seperti ini karena apa," gumam Jiho.
..
...