
Pelajaranpun berlangsung dengan tertib sampai waktu istirahat tiba. Beberapa siswa segera mendekati meja Suya.
"Jiho, lihatlah." Ucap Titan.
"Apa?"
"Sepertinya dia akan jadi sainganmu deh," ucap Titan saat melihat meja Suya dikerumuni banyak gadis.
"Bukan urusanku." Sahut Jiho seraya beranjak meninggalkan kelas menuju lapangan basket.
"Hai, Suya." Sapa Hanna.
"Hm," sahut Suya dengan cuek.
"Kenalin aku Hanna."
"Aku Somi, kamu boleh panggil aku baby," ucap Somi dengan genit.
"Kamu apaan sih," Hanna merasa risih mendengar nada bicara Somi.
"Biarin. Suya, kamu tinggal dimana sekarang? Boleh aku main kerumahmu? Bagaimana kalau kita tukeran nomor HP?"
Suya masih saja dengan diamnya. Dia sebenarnya sangat terganggu dengan celotehan siswi itu tapi dia masih belum punya alasan untuk meninggalkan kerumunan itu.
"Suya," panggil seorang siswa.
"Ya," sahutnya.
"Aku Jae, ketua kelas 2a sekaligus ketua osis, bu Lee memintaku membawamu keliling dan mengambil seragam olahraga." Ucap sang ketua kelas.
"Baiklah."
"Kamu tunggu saja diujung ruangan, aku ke toilet sebentar." Ucap Jae.
"Ah, oke." Suya pun beranjak dari kursinya.
"Ah, ketua kelas ganggu aja deh," keluh Somi.
"Untung saja bisa bebas. Sebenarnya mereka kesini cari ilmu apa cari pasangan sih"
'Bruk,'
"Ahh," rintih seorang siswi.
"Ah, maaf. Kamu baik-baik saja?" Karena sedang melamun, Suya tak sengaja menabrak seorang siswi.
"Hei! Kalau jalan pak..."astaga, ganteng banget,""
"Maaf, maaf, aku bantu kamu berdiri."
Meski Suya sudah menawarkan bantuan, tapi sepertinya siswi itu sedang terbius dengan pesona Suya. Dia hanya terdiam melamun dan menatap wajah Suya dengan pikiran kosong.
"Halloo..."
"Ah, iya." Lambaian tangan Suya membuyarkan lamunannya.
"Kamu gak apa kan?" Suya kembali memastikan kondisi siswi itu.
"Ya, aku baik-baik saja."
"Baguslah. Aku duluan, masih ada perlu."
"Ya," jawabnya.
Dia memandangi punggung Suya yang perlahan menjauh darinya. Sepertinya hatinya mengalami getaran cinta pada Suya.
"Hei, kamu kenapa," panggil temannya yang baru saja datang.
"Dia ganteng banget," ucapnya tanpa sadar.
"Siapa? Jiho? Sudah pastilah."
"Bukan, dia...dia... ah sial, kenapa aku tidak tanya namanya."
"Ah, sepertinya kamu lagi demam deh."
"Dia benar-benar sangat tampan," ucapnya lagi.
"Hei Yuna! Apa kamu jatuh hati pada orang lain? Lalu bagaimana dengan cintamu untuk Jiho? Sudah pupus?" Ucap Mona.
"Ah, iya Jiho. Ayo kita lihat dia dilapangan basket, dia pasti sedang latihan." Cletuk Yuna setelah tersadar dari pesona Suya.
"Astaga, belum ada satu menit dia sudah berganti perasaan." Keluh Mona.
Suya dan Jae berjalan berkeliling sekolah. Seperti saat Suya baru saja memasuki kelasnya, saat ini pula banyak pasangan mata yang menatapnya dan saling berbisik.
"Siapa itu,"
"Lihat, lihat, dia ganteng banget."
"Siapa itu yang bersama ketua osis?"
"Siapa itu, aku belum pernah melihatnya disini,"
"Lihat itu, apa dia siswa pindahan?"
Banyak siswa yang saling bertanya setiap kali Suya lewat didekat mereka. Suya merasa sangat tidak nyaman dengan keadaan saat ini. Seolah-olah dia ingin membungkam setiap mulut yang berbisik tentangnya.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong kenapa kamu pindah sekolah?" Tanya Jae yang tiba-tiba membuyarkan amarah Suya.
"Bukan apa-apa." Sahut Suya dengan cueknya.
"Hem, sepertinya kamu tipe orang yang pendiam ya?"
"Hm,"
"Astaga, bener-bener deh. Meskipun begitu jangan lupa untuk tetap menjalin hubungan yang baik dengan teman kelasmu."
"Hm,"
"Huft..," Jae menghela napas setelah mendengar pernyataan Suya.
"... oh iya, kamu mau ikut club apa untuk extra?"
"Berikan saja formulirnya padaku."
"Baiklah."
Meski sudah berusaha keras untuk bisa mengobrol banyak, usaha Jae sepertinya sia-sia. Suya hanya menjawab ucapan Jae dengan sangat singkat.
Setelah kembali ke kelas, Jaw segera memberikan form club pada Suya.
"Suya, ini form club, kalau sudah isi segera kumpulkan padaku." ucap Jae sembari menyodorkan selembar form untuk gabung club extra pada Suya.
"Oke,"
Mendengar Jae menyerahkan form club membuat beberapa siswi segera mendekat pada Suya.
"Suya, bisakah kamu ikut club menyanyi?" Ajak salah satu siswi.
"Jangan, lebih baik modeling. Bentuk tubuhmu sangat bagus untuk jadi model." Sela siswi lainnya.
"Jangan, Suya. Lebih baik ikut drama saja."
Melihat mereka begitu ambisius membuat Suya merasa risih. Raut wajahnya sudah menunjukkan rasa tidak suka. Melihat ekspresi Suya yang tidak senang membuat Jae bertindak.
"Hei, hei. Bisa tidak kalian tidak ikut campur hobby orang lain?" Ucap Jae.
"Jae, kamu apaan sih, ganggu aja deh." Keluh seorang siswi.
"Kenapa? Udah sana!" Jae mengusir kerumunan siswi itu.
"Thanks," ucap Suya.
"Gak masalah." Balas Jae.
Setelah berhasil mengusir kerumunan siswi yang mengganggu Suya, Jae duduk dikursi sebelah Suya. Dia berencana untuk mendekati Suya agar dia bisa berteman dengan Suya. Meskipun baru hari pertama bertemu, tapi Jae merasakan ada hal spesial dalam diri Suya
'drrttt...drrttt'
"Telfonmu bunyi tuh," ucap Jae yang melihat handphone Suya bergetar.
"Hallo," sapanya.
"Hello, my little sweety."
Ucap seorang pria dari balik telfon.
"Hei! Don't call me like that. It's look like you call your girlfriend!"
Cletuk Suya dengan sedikit kesal.
"Haha, okey, sorry. By the way, are you okay? If you in trouble don't forget to tell me,"
Balas pria tersebut.
"Ya, i'm fine. Never mind. Nobody can bother me, except you!"
"Really? That's sound good. Oh, sorry for this, but I use your room right now,"
"Whats! Hei! Go away from there! If you touch anything you'll die!" pekik Suya yang membuat siswa lainnya tertegun.
"Kenapa dia?" Ucap seorang siswa.
"Sepertinya dia sedang ngobrol dengan seseorang ditelepon." Imbuh siswa lainnya.
"Baby, calm down. You make your friends affraid. Okey, i think you're busy. So, i won't bother you. Bye."
Pria itu menutup telfonnya begitu saja. Suya justru semakin kesal dibuatnya.
"Dasar orang gila." Keluh Suya seraya melempar handphonenya keatas meja.
"Ada apa? Anak-anak dibuat kaget olehmu." Jae coba memastikan keadaan yang sedang terjadi.
"Maaf," sahut Suya.
"Oh, ya. Kenapa kamu bisa berbahasa S jika baru pindah dari Amerika?" Jae pun akhirnya mengungkapkan rasa penasarannya.
"Huft..." Suya menghela napas sebelum membalas pertanyaan Jae.
"...denger ya, aku tidak suka ribut. Aku suka ketenangan, jadi aku gak suka orang lain ikut campur dalam kehidupanku. Tapi, karena ini adalah hari pertamaku masuk sekolah dan ada yang bilang bahwa aku harus 'menjaga' hubungan baik dengan teman kelasku maka aku akan memberitahumu sekali saja. Meski aku dari Amerika, tapi aku dari kecil tinggal di kota S sampai tamat taman kanak-kanak. Dan yang baru saja telfon adalah kakakku, dia sekarang tinggal di Amerika, puas? Sekarang lebih baik kamu diam."
Dengan ekspresi dingin, Suya mengakhiri ucapannya. Hampir seluruh siswa tertegun mendengar ucapan Suya yang terkesan menakutkan.
"Hei lihatlah. Dia begitu tega mengucapkan kalimat seperti itu." Bisik seorang siswa.
"Jahat banget gak sih,"
"Karakter sama wajahnya sama-sama dingin," imbuh siswa lainnya.
"Lebih baik jangan terlibat dengan dia." Tambah lainnya.
"Wah, dia sungguh mempesona," ucap Lia.
"Wah, semakin dia cuek dia semakin tampan," imbuh siswi lainnya.
Setelah mendengar penjelasan Suya, Jae pun menarik diri dan kembali ke kursinya. Seluruh niat awal untuk mendekati Suya ia urungkan terlebih dahulu. Dia gak mau dihari pertama Suya bergabung dengan kelas 2a terjadi ketidaknyamanan.
Bel pulang sekolah sudah berdering. Seluruh siswa berhamburan meninggalkan kelas masing-masing.
Seperti rencana awal sebelumnya, Jiho dan Titan meninggalkan sekolah. Mereka harusnya ikut latihan sore ini, namun karena Jiho ada perlu maka dia izin dari latihan.
Beberapa hari kedepan adalah hari ulangtahun Jina, adik perempuan Jiho. Hari ini dia berencana untuk membelikan kado untuk adiknya.
"Jadi yang kamu maksud acara penting itu membeli kado untuk Jina?"
Titan nampak kecewa dengan hasilnya membolos dari latihan ternyata hanya untuk membeli sebuah kado.
"Hm."
"Kenapa kamu tidak bilang dari awal! Aku pikir kamu akan pergi berkencan." keluhnya pada Jiho.
"Hei, kamu juga main ikut saja. Lagipula kalau aku mau berkencan mana mungkin aku mengajak orang lain."
"Ah, kamu menipuku."
"Siapa suruh kamu begitu bodoh," ledek Jiho.
Setelah kadonya sudah dibeli, mereka segera berjalan pulang.
"Jiho, bukankah diujung jalan ini ada lapangan basket. Bagaimana kalau kita main bentar disana?" Ajak Titan.
"Baiklah. Yang kalah harus bayarin makan malam, ya."
"Oke deal."
Merekapun melanjutkan perjalanan mereka. Hari sudah mulai senja, hiruk pikuk kendaraan sudah mulai padat bersamaan dengan jam pulang kerja. Tak selang lama, mereka sampai dilapangan basket yang sebelumnya mereka bicarakan.
'*buk...buk' 'clang'
'buk...buk...buk..'
'clang*,'
Dari arah lapangan terdengar seseorang sedang bermain bola basket dan beberapa kali memasukkan bola kedalam ring dengan sempurna.
"Wah, lihat. Dia terlihat pandai bermain basket..." Puji Titan dengan antusias.
"...ayo kita ikut dia main." Ajak Titan.
"Tunggu..." Jiho menghadang Titan dengan tangannya.
"...bukankah itu anak baru yang tadi?" Ucap Jiho setelah dengan seksama mengamati wajah orang itu.
"Benarkah?" Titanpun menajamkan penglihatannya.
"Lihatlah dengan benar."
"Ah, kamu benar dia si Suya. Ternyata dia jago juga main basket. Bagaimana kalau ajak dia ikut club kita?"
"Jangan,"
"Kenapa? Kamu takut kalah terkenal dari dia ya?" Ejek Titan.
"Bukan, aku hanya tidak suka jika seseorang bermain basket karena permintaan orang lain." Elak Jiho.
"Terserah kamu deh, aku sih berharap dia bisa gabung dengan tim ki... wah wah, lihat! Dia mau menembak dari tengah lapangan."
Keinginan Titan tiba-tiba terbuyar saat melihat Suya yang mau mencoba memasukkan bola dari tengah lapangan.
'buk,,buk'
Suya meregangkan badannya dan mendrible bola dengan tenang.
'buk..buk'
Suya melemparkan bola kearah ring dari tengah lapangan. Lemparannya begitu penuh percaya diri, dan 'clang' bola berhasil masuk kedalam ring.
"Kemampuannya boleh juga."
"Jiho, kamu lihat? Sekali coba dia bisa melakukannya. Kita berdua saja butuh beberapa kali baru bisa masuk. Tunggu apalagi, ayo kita tawarin dia gabung tim basket." Titan nampak tidak sabar setelah melihat kemampuan Suya.
"Sudah aku bilang, biarkan dia menentukan pilihannya sendiri. Ayo kita pulang, kali ini aku akan traktir kamu."
"Hei, kamu yakin mau meninggalkan dia?"
"Ayo pulang."
"Baiklah."
"Akan sangat menguntungkan jika dia bisa bergabung dengan tim basket sekolah. Apalagi sebentar lagi akan ada pertandingan internasional dan tim kita pasti akan dengan mudah memenangkannya. Tapi bagaimana caranya agar dia mau bergabung?"
Meski sebelumnya Jiho mengatakan tidak akan meminta Suya gabung dengan club basket, namun sepanjang perjalanan pulang dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Sekarang obsesinya hampir sama dengan Titan.
Sesampainya dirumah Jiho melihat adiknya ketiduran diruang tamu. Dia bergegas meletakkan kado yang dia beli ke kamar dan kembali untuk membangunkan adiknya. Sang adikpun terbangun dan beranjak menuju kamarnya. Jiho hanya tinggal berdua dengan adiknya. Ayahnya adalah seorang tentara yang hampir sebulan sekali saja tidak pernah ada dirumah lebih dari sehari. Sedangkan ibunya adalah seorang dokter bedah disebuah rumah sakit ternama dipusat kota. Meski saling berjauhan namun hubungan keluarga ini tetap terjalin dengan harmonis.
Setelah selesai mandi Jiho merebahkan tubuhnya diatas ranjang. Pikirannya masih terbayang dengan sosok Suya yang dia lihat dilapangan sore tadi. Dia merasa terganggu dengan hal itu. Dia merasa ekspresi Suya sangat aneh saat bermain basket tadi. Seolah dia bermain basket tepat setelah dia mengalami suatu kesedihan. Ekspresi itu tergambar jelas diwajah Suya.
...