He Is A Girl

He Is A Girl
24 Penyamaran Aman



Seusai mendonorkan darahnya untuk Suya, Hoon segera kembali menemui Jiho yang masih setia menunggu di ruang operasi. Raut wajah cemasnya masih sama seperti sebelumnya.


"kamu masih disini?" ucap Hoon.


"kamu benaran kakaknya Suya?" tanya Jiho mencoba memastikan lagi.


Tentu saja itu sungguh diluar nalar, bagaimana bisa dia sempat bercanda saat adiknya tidak sadarkan diri dan juga banyak kehilangan darah seperti itu. Siapapun pasti akan mempertanyakan kebenaran hubungan mereka.


"iya, benar,"


"kakak kandung?" tanyanya lagi.


"kandung, dari ayah dan ibu yang sama. Tepatnya aku 3 tahun lebih tua darinya. Cukup?"


"lalu, bagaimana bisa kamu setenang ini saat Suya masih didalam mempertaruhkan nyawanya?"


"bukankah tadi sudah kujelaskan?"


"benar-benar gila,"


"yaps, aku sudah sering mendengar pujian itu."


Hoon benar-benar membuat Jiho berpikir bahwa dia adalah psikopat.


"oh ya, apa kamu akrab dengan Suya?"


"tidak, kami hanya teman sekelas,"


"kalau gitu, kamu bisa pulang. Ada aku yang akan menjaganya. Jangan khawatir, aku akan memberitahumu kalau dia sudah siuman."


"tidak, aku akan disini sampai dia sadar." tolak Jiho.


"tapi aku tidak mengizinkan,"


"aku tidak peduli, lagipula aku yang membawanya kesini."


"tapi aku keluarganya. Kamu tidak bisa bersaing soal ini."


"aku akan tetap disini."


"aku tidak suka jika orang lain ikut campur urusan keluargaku." tegas Hoon.


Nada bicaranya berubah 180°, yang sedari tadi santai dan penuh gurauan kini dia seolah-olah akan melahap semua orang. Bahkan raut wajahnya juga berubah, tidak ada lagi senyum keisengan.


"apa tidak bisa jika aku tetap menunggunya? Lagipula aku tidak akan melakukan apapun padanya."


"sudah aku katakan. Aku tidak suka orang lain menyampuri urusan keluargaku. Apalagi keluarga TNI sepertimu."


"bagaimana.."


"aku yakin sedikit banyak kamu sudah tau bagaimana kehidupan Suya, kan?! Tentu saja aku lebih dari apa yang kamu lihat padanya."


"maksudmu Suya..."


"dia tidak akan terlibat dalam hal buruk apapun. Tapi tidak dengan aku. Aku akan melakukan apapun demi keamanan adikku. Aku tidak mau ada seorangpun yang berada didekatnya saat dia terluka kecuali keluargaku sendiri. Aku harap kamu bisa tutup mulut atas kecelakaan ini atau kamu akan menanggung akibatnya."


"tapi kenapa?"


"kamu tidak memiliki hak untuk tahu. Aku harap kamu sudah meninggalkan tempat ini sebelum Suya dibawa keluar dari ruang operasi."


"oke, aku akan pergi. Tapi setelah Suya dibawa keluar. Aku akan pergi setelah melihatnya."


"kamu pergi sebelum dia keluar, atau aku akan menyuruh orangku menyeretmu keluar saat ini juga."


Jiho tidak mampu berbuat banyak. Apapun yang dia lakukan tetap saja Hoon tidak mengizinkan dia disini. Dengan berat hati dia meninggalkan rumah sakit.


"kamu bahkan menakut-nakuti anak kecil." ledek Ray, orang kepercayaan Hoon.


"mau gimana lagi, itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Suya. Awas saja, kalau sudah sadar nanti, gua pitas kepala tuh anak. Geram gue."


"cih, kau ini. Bukankah akhirnya kamu bisa melihat adikmu yang sesungguhnya setelah sekian tahun?"


"kamu benar, tapi dalam kondisi seperti ini? Lebih baik aku tidak melihatnya. Untung saja kita berada di kota S. Jika tidak, entah keributan apa yang bakal dia timbulkan."


"sudah-sudah, semoga saja semua cepat kembali normal." ucap Ray,


"ya, aku harap begitu. Oh ya, jangan sampai orang rumah tahu."


"selama tuan besar tidak menyuruh orang untuk mengawasi Suya, aku rasa kabar ini akan aman. Tapi masalah ada di Hyuk. Aku tidak jamin dia bisa tutup mulut atau tidak."


Hoon segera menghubungi Hyuk untuk memastikan anak itu tutup mulut. Biar bagaimanapun, Hoon tidak ingin membuat orangtuanya khawatir.


Sudah hampir 5 jam namun operasinya masih belum selesai. Setelah Suya sudah keluar nanti, Hoon berencana membawa Suya pulang ke markas dan merawatnya disana. Keluarganya memiliki tenaga medis sendiri untuk mengantisipasi segala kecelakaan yang terjadi atas pekerjaan mereka.


Tepat setelah 5 jam 38 menit Suya akhirnya dibawa keluar dari ruang operasi. Dan langsung dibawa ke markas dengan sebuah ambulance yang sudah Hoon siapkan.


Melihat adiknya terbaring tak sadarkan diri seperti ini membuat Hoon merasa tidak nyaman. Meskipun Suya sering terbaring di rumah sakit, namun ini pertama kalinya Hoon melihat adiknya tak sadarkan diri akibat sebuah kecelakaan. Dan entah kapan adiknya itu akan tersadar.


"kak..."


Dengan suara lirih Suya memanggil Hoon yang tengah tertidur diujung ranjang.


"kamu sudah sadar? Syukurlah."


Hoon segera memanggil Sam, dokter andalannya, untuk mengecek keadaan Suya apakah semua sudah normal.


"syukurlah semuanya dalam keadaan normal dan tidak menimbulkan cidera otak apapun"


"akhirnya, kamu sadar juga, sudah 4 hari kamu tidur nyenyak. Mimpi apaan sih sampe gak bangun-bangun."


"kakak...kenapa...bisa...disini?"


"ceritanya panjang, yang penting sekarang kamu pulihkan diri dulu. Besok aku akan ceritain semuanya."


"siapa..yang..membawaku.."


"..ke..rumah..sakit..kak?"


"teman sekolahmu. Si Jiho itu."


"jadi..dia..tahu..semua?"


"tidak, kamu jangan khawatir, kakak berhasil mengusir dia sebelum kamu keluar dari ruang operasi.."


Setelah 4 hari tidak sadarkan diri, hal pertama yang Suya khawatirkan adalah penampilannya. Bagaimana tidak, dia yang biasanya tampil gentle dengan potongan rambut cowok modis saat ini terbaring lemah diatas ranjang dengan rambut hitam panjang tergerai dan dada yang sedikit menonjol, menunjukkan pada siapapun bahwa dia adalah seorang gadis remaja dengan paras yang cantik.


Wig yang selama ini dia kenakan terpaksa dilepas oleh dokter di ruang IGD karena terdapat luka di kepalanya. Serta korset yang dia kenakan untuk menahan dadanya juga dilepas oleh dokter. Sebelum Suya dibawa pulang oleh kakaknya, dokter sempat berpesan untuk tidak terlalu sering menggunakan korset untuk kedepannya.


Tentu saja pesan dokter itu tidak Hoon sampaikan padanya karena dia sudah sering sekali mendapat peringatan itu dari dokter pribadi keluarga Oh yang sudah mengetahui identitas asli Suya sejak kecil dan tidak pernah dia indahkan.


Identitas yang selama ini dia tutupi sejak kematian Minho. Dia khawatir jika ada orang lain melihatnya dengan penampilan seperti saat ini.


"...bahkan hal yang kamu khawatirkan pertama saat bangun adalah penampilan, aku heran apa yang ada di dalam otak mungilmu itu."


Suya hanya tersenyum getir. Tidak ada gunanya dia berdebat dengan kakaknya. Apalagi kondisinya masih sangat lemah saat ini.


"kamu istirahat aja, kakak masih ada urusan, kita ngobrol lagi kalau kamu sudah sehat, oke," ucap Hoon sembari membelai lembut kepala Suya.


Suya menganggukkan kepala sembari tersenyum kecil.


**


"apa yang sudah kamu temukan?" tanya Hoon pada salah satu anak buahnya yang waktu itu mengawasi Suya.


"saya menemukan ini, kecelakaan itu sepertinya disengaja." jelas bawahannya itu.


"jadi korbannya?" tanyanya memastikan kembali.


"saya masih menyelidikinya, arah mobilnya tidak menuju pada nona, tapi pada orang yang mengikuti nona."


"apa dia orang penting?"


"bukan, bos. Dia hanya seorang murid SMP, orangtuanya memang dokter dan tentara, tapi saya tidak menemukan sedikitpun masalah dalam keluarganya."


"mereka sejak awal bersama? dia dekat dengan Suya?"


"tidak, bos. Malam itu mereka berpapasan di depan pintu kafe saat nona hendak pergi. Hubungan mereka juga hanya sebatas kenal, tapi kakak orang itu adalah teman sekolah nona, dia yang mengantar nona ke rumah sakit."


"owh, jadi begitu. kamu cepat cari tahu siapa perempuan ini dan laporkan tindakannya pada polisi, jangan biarkan dia lolos begitu saja."


"baik, bos."


**


Kabar ketidakberangkatan Suya sudah disampaikan pihak sekolah namun dengan alasan ada keperluan.


"jangan bilang Suya melarikan diri dari kita," cletuk Somi.


"astaga, ya nggak mungkinlah. Kamu ini ada-ada aja."


Jiho masih khawatir karena belum mendengar kabar terbaru bagaimana kondisi Suya. Entah sampai kapan dia harus memendam rasa penasarannya karena sama sekali tidak bisa menemui Suya.


Setiap hari Jiho mendatangi apartemen Saka dan berharap bertemu dengan Suya. Namun sampai hari ini usahanya tak membuahkan hasil apapun. Dia masih saja belum bisa menemui Suya.


"sudah hampir seminggu, apa dia baik-baik saja?" gumamnya.


"siapa yang gak baik-baik saja?" tanya Titan yang mendengar gumam Jiho.


"tidak," elak Jiho.


"oh ya, kamu tidak dengar kabar soal Suya? Sudah hampir 1 minggu dia absen. Urusan penting apa yang membuatnya izin selama ini?"


"entahlah, aku juga tidak tahu."