He Is A Girl

He Is A Girl
20 Kita Semua Teman Sekelas



"Suya, bisakah kamu mengajariku cara menyelesaikan soal ini?" tanya Somi pada Suya.


Suya menjelaskan caranya pada Somi dengan rinci dan jelas beberapa soal yang sudah dijelaskan sebelumnya namun Somi masih belum memahaminya. Suya nampak dengan sabar menjelaskannya. Saat ini ekspresinya nampak begitu hangat tidak seperti biasanya.


Jiho yang baru datang melihat ketenangan diwajah Suya menjadi sedikit kesal. Kesal karena dia tidak pernah mendapati Suya berhadapan dengannya dengan ekspresi sehangat itu.


"Jiho," panggil Titan,


"Lihatlah, sejak kapan mereka sedekat itu?" imbuhnya lagi.


"Entahlah, gak ada urusannya juga sama kita," kata Jiho.


"Sepertinya dia sudah mulai mau bersosialisasi dengan teman-teman," imbuh Jae,


"kenyataannya tidak pernah mau berteman denganku,"


"Jiho?"


"Jiho!"


"Iya,"


Teriakan Jae menyadarkan Jiho dari lamunannya.


"Kamu kenapa? Seperti sedang putus cinta saja raut wajahmu itu!" ucap Titan,


"Sepertinya memang iya," gumam Jiho lirih,


"Kamu bilang apa?" tanya Jae yang tidak begitu jelas mendengar keluhan Jiho.


"Tidak ada. Oh ya, sore nanti aku tidak bisa ikut latihan ya, aku ada urusan," ucap Jiho,


"Baiklah." ucap Jae dan Titan serentak.


Mereka pun kembali ke kursi masing-masing sambil menunggu pelajaran dimulai. Tak selang berapa lama bel berbunyi dan kelas menjadi tenang.


"Pagi semuanya," sapa pak Kim dengan ramahnya.


"Pagi, pak,"


"Sebelum pelajaran dimulai, bapak ada dua pengumuman," ucap pak Kim,


Para siswa pun saling berguman dan berbisik satu sama lain pengumuman apa yang ingin disampaika pak Kim,


"Pertama, hari ini kelas kita kedatangan siswa baru," ucap pak Kim,


"Lagi?" ucap salah satu siswa,


"Murid baru lagi?" imbuh siswa lainnya.


"Kenapa kelas kita selalu kedatangan murid baru pak?" keluh Hanna pada pak Kim.


"Betul,"


Seisi kelas nampak gemuruh mendapati berita mereka akan mendapatkan teman baru lagi. Belum juga setahun mereka sudah mendapat siswa baru tiga kali ini.


"Semuanya tenang. Bukankah menyenangkan jika kita punya teman baru. Menambah jumlah teman kita." jelas pak Kim,


"Menambah jumlah teman?" ucap beberapa siswa secara serentak.


Beberapa siswa memandang kearah Suya setelah pak Kim berbicara mengenai menambah teman.


"Kenapa menatapku?! Kalian tidak perlu menganggapku ada, aku tidak akan marah sama sekali." ucap Suya yang merasa sedikit risih ditatap oleh teman-teman satu kelas.


"Sudah, sudah. Kalian ini apa-apaan melihat Suya seperti itu. Biar bagaimanapun kalian teman sekelas, ingat itu," imbuh pak Kim,


"Dia tidak pernah menganggap teman kelasnya ada," gumam Jiho,


Pak Kim memanggil murid baru itu untuk masuk kelas. Seorang siswi memasuki kelas dengan penuh percaya diri. Langkahnya begitu tenang nembuatnya terlihat sangat anggun dan mempesona. Ditambah dengan wajahnya yang cantik serta rambut panjangnya yang terurai memberikan nilai tersendiri pada penampilannya.


"Perkenalkan, nama saya Laura Wijaya, biasa dipanggil Lala. Saya sebelumnya sekolah di sma Tunas Jaya di kota E, namun karena pekerjaan orangtua, saya pindah kesini. Mohon bimbingan teman-teman semua,"


"Oke, jika ingin mengenal Laura lebih dalam kalian bisa ngobrol nanti seusai pelajaran. Laura, kamu bisa duduk disana, nanti kita bisa ubah tempat duduk setelah pelajaran usai," ucap pak Kim,


Saat ini meja kosong ada dipaling belakang, atau tepatnya kursi dibelakang Suya.


"Pak,"


"Iya, ada apa, Jiho?"


"Bisakah saya yang duduk dibelakang? Biarkan Laura duduk disini. Nanti tidak usah ubah tempat duduk juga tidak masalah, pak." ucap Jiho yang dengan sengaja ingin mendekati Suya.


"dia pasti sengaja,"


"Baiklah, Laura silakan duduk."


"Lalu yang kedua apa, pak?" tanya Jae,


"Yang kedua, karena 3 minggu lagi sekolah kita akan memperingati ulang tahun ke-20, maka pihak sekolah akan mengadakan kompetisi antar kelas."


"Kompetisi apa pak?" tanya seorang siswa,


"Kompetisi olahraga. Basket, futsal, lari estafet dan beberapa olahraga lain." jelas pak Kim,


"Bukankah itu terlalu banyak, pak?" ucap Somi,


"Itu baru permintaan kepala sekolah. Untuk pastinya nanti baru akan dibahas dengan osis."


"Setiap kelas harus mengirim perwakilan disetiap cabang olahraga, pak?"


"Apa kalian berencana untuk tidak ikut sama sekali?" tanya pak Kim.


"Bukan, pak. Hanya memastikan saja."


"Untuk detailnya nanti akan dibahas anak osis. Jae, sekarang kamu kumpulin anak osis ya. Kita rapat sebentar lagi. Saya akan panggil pak Kepsek dam pak Choi. Kalian bisa belajar sendiri atau mungkin berunding untuk lomba ini tapi jangan berisik, jangan sampai mengganggu kelas lain." tegas pak Kim,


"Baik, pak."


Jae segera memanggil anggota osis lainnya dan menuju ruang rapat osis.


"Temen-temen, gimana nih menurut kalian? Jika semua cabang olahraga tadi dilombakan, apa saja nih yang kira-kira kelas kita akan ikutan? Oh, ya. Laura, sebelumnya kenalkan, yang barusan keluar adalah Jae, dia ketua kelas kita juga ketua osis. Aku Somi, wakil ketua kelas. Ini Hanna, bendahara kelas. Yang lainnya nanti bisa kenalan sendiri ya setelah kita bahas lomba." jelas Somi,


"Salam kenal semuanya, kalian bisa panggil aku Lala saja, biar cepat akrab," sahut Laura sembari tersenyum tipis.


"Oke, La. Jadi gimana teman-teman? Ada yang punya usulan?"


"Gimana kalau kita ikut semua cabang?" ucap Titan,


"Semua cabang?"


"Iya, semua cabang,"


"Tapi kelas kita hanya beberapa orang saja yang suka dan luwes dalam olahraga. Yang lainnya aku yakin belum setengahnya saja pasti sudah menyerah."


"Justru karena itu, kita kan gak tau keunggulan kota dimana, jadi tidak ada salahnya kita coba semua cabang." jelas Titan,


"Masuk akal juga, sih."


"Aku gak setuju," ucap Jiho.


"Kenapa? Ideku itu cemerlang, kan. Siapa tau kita bisa memenangkan semua cabang," imbuh Titan.


"Jika bisa memenangkan, tapi bagaimana jika sebaliknya? Bagaimana jika sudah ikut semua cabang tapi justru tidak ada yang berhasil satupun? Bukankah itu akan memalukan?" sindir Jiho,


"Masuk akal juga sih," sahut Somi yang nampak plin plan,


"Memalukan? Tunggu sebentar. Jiho?! Sejak kapan kamu peduli pada hal-hal seperti itu? Malu? Kamu? Apa ada yang salah denganmu hari ini? Sejak tadi datang kamu aneh sekali," cerca Titan tanpa henti.


"Terserah kalian juga, sih. Aku hanya mengungkapkan pendapatku saja." pungkas Jiho.


"Sebenarnya masuk akal juga sih pendapat Jiho. Sepertinya kita lebih baik mengikuti cabang yang kita kuasai saja, seperti basket, futsal dan lari. Biar bagaimanapun kita unggul dalam olahraga itu." imbuh Somi,


"Iya juga, ya. Tapi jika kita ikut basket dan futsal jumlah kita kurang. Kelas kita hanya ada 10 cowok." ucap Hanna.


'srak'


"Kita sedang membahas pertandingan, kenapa kamu diam saja?!"


Sindiran sengit Jiho lemparkan pada Suya yang sedari tadi hanya berdiam diri tanpa sepatah kata apapun.


"Jiho! Kamu kalau mau cari masalah bisa bilang saja." balas Suya.


"Aku tidak cari masalah. Kita sedang berunding, kamu sebagai 'anggota kelas 2a' juga sudah seharusnya memberi usulan."


Jiho sengaja memberikan penekanan pada kata anggota kelas 2a.


"Hah, apa penglihatan dan pendengaranmu sudah bermasalah? Apa kamu tidak melihat dan tidak mendengar siapa saja yang juga hanya diam sedari tadi!?" ucap Suya dengan kesal.


"Sudah, sudah. Jiho, Suya, kalian jangan berdebat."


Somi coba melerai keduanya agar tidak semakin menjadi-jadi. Jangan sampai baku hantam kembali terulang antar keduanya.


"Suya, apa kamu ada usulan?" tanya Somi,


"Kamu silakan tanya pada siapapun, selain aku tentunya. Aku tidak berminat sama sekali." sahut Suya.


"Kalau yang lainnya gimana?"


"Bukankah satu orang bisa mengikuti beberapa cabang?"


"Itu masuk akal juga, tapi bagaimana jika waktunya berbenturan? Meskipun aku tidak tahu pasti, tapi aku yakin acara ini hanya akan berlangsung sehari saja."


"Semoga saja waktunya lebih dari sehari. Kan lumayan tuh bisa bebas dari pelajaran beberapa hari,"


"hahaha,"


"Oh, ya, Suya, jika kita ikut futsal, kamu harus ikut, oke." ucap Somi yang tiba-tiba teringat permainan apik Suya waktu itu.


Suya tak mengiyakan ajakan Somi, dia hanya memandang Somi dengan ekspresi datar.


"Diam artinya iya. Oke. Berarti kita sudah pasti akan ikut futsal. Lalu untuk basket gimana ini? Jae kemungkinan besar tidak akan ikut pertandingan karena dia ketua osis. Kelas kita anak basket hanya Jiho, Titan, Jae dan Alan. Tanpa Jae kita masih butuh dua orang lagi,"


"Alex, Bimo, kalian bisa main basket?" tanya Somi,


"Aku sama sekali tidak bisa main basket," sahut mereka berdua serentak.


'srak..srak'


Lagi-lagi Jiho menendang-nendang kursi Suya.


"Woii, mereka sedang cari kelompok basket, kamu gak mau mengajukan diri?"


'brak..'


Suya beranjak dari duduknya dan menggebrak meja, dia sangat kesal karena sedari tadi Jiho selalu mengganggunya.


"Jiho!" pekiknya,


Para siswa pun seketika terdiam setelah mendengar teriakan Suya.


"Apa?" sahut Jiho dengan santainya.


"Jika kamu sendiri tidak mau mengajukan diri, maka kamu juga tidak perlu mengumpankan orang lain, paham!?"


"Aku? Aku tentu saja sudah pasti aku akan ikut. Dan aku juga tidak mengumpankan siapapun," elaknya dengan santai.


"Lalu?! Apa aku juga harus mengikuti semua cabang, begitu? Jadi kalian tidak usah ngapa-ngapain, kalian hanya perlu berleha-leha saja, biarkan aku yang melakukan semuanya, gitu?!" bentak Suya pada Jiho,


"Jiho hari ini kenapa?" bisik salah seorang siswa,


"Jiho hari ini kenapa selalu cari masalah dengan Suya?" bisik lainnya.


"Jika bisa seperti itu tentu saja aku setuju, sangat setuju." balas Jiho,


"Kau!"


Suya tanpa sadar mencengkeram keram baju Jiho. Namun dengan segera Titan memisahkan keduanya.


"Kalian apa-apaan, sih! Kalian berdua sebaiknya diam saja. Kita semua tidak butuh pendapat apapun dari kalian berdua!" bentak Titan.


Suya segera melepaskan Jiho dan kembali duduk meskipun hatinya sangat kesal pada Jiho.


"Jiho, kamu apa-apaan sih," gumam Titan,


Jihopun segera merapikan bajunya sembari menenangkan perasaannya. Sedari pagi moodnya sudah berantakan sejak melihat Suya dan Somi pagi tadi.


"Somi, lebih baik kita sudahi saja, kita tunggu dulu informasi terbaru dari Jae nanti," pinta Titan,


"Baiklah,"


Somipun kembali kemejanya sebentar lalu menghampiri Laura,


"Hai," ucap Somi ramah,


"Hai," balas Laura,


"Maaf, ya. Baru hari pertama masuk sudah disambut dengan kegiduhan seperti tadi, hehe." kata Somi,


"Gak usah khawatir. Mereka sepertinya tidak akur, ya?" tanyanya pada Somi,


"Ya begitulah. Yang dibelakang itu Seo Jiho, dia ketua tim basket dan club karate. Kalau yang didepan itu namanya Oh Suya, dia juga anak pindahan kayak kamu. Dia pindah sekitar 6 bulanan yang lalu. Dia sejak datang sampai sekarang tidak pernah bergaul dengan kita, kerjaannya menyendiri. Anak-anak menjuluki dia Raja Es Kejam. Dari awal mereka gak pernah akur.."


"Gossipin apa, nih?" ucap Hanna yang tiba-tiba ikut nimbrung,


"Itu, tuh." balas Somi sambil melirik arah Suya dan Jiho.


"Kenapa julukannya kejam?" tanya Laura lebih lanjut,


"Jelas saja, dia baru masuk sekitar 3 bulan tapi sudah berani membuat salah satu siswi yang mengganggu pacarnya dikeluarkan dari sekolah." jelas Somi,


"Dia punya pacar di sekolah ini juga?"


"Kemarin iya. Setelah sebulan disini pacarnya juga pindah, tapi karena kecelakaan, dia akhirnya kembali ke sekolah lamanya."


"Maksudmu kecelakaan karena siswa yang dikeluarkan itu?"


"Yaps, betul sekali." sahut Somi,


"Tapi kita juga tidak tahu sih dia pacarnya atau bukan. Tapi dia sangat perhatian dan menjada cewek itu. Dan perlakuannya bener-bener tidak seperti seorang teman. Kita sempat berpikir adiknya, tapi kita seangkatan dan marganya juga berbeda." imbuh Hanna,


"Lalu kenapa mereka bisa tidak akur?"


"Kita sih tidak tahu pasti masalah mereka apa, tapi semakin kesini hubungan mereka semakin sengit saja. Lebih tepatnya sejak Jiho mengajak Suya masuk club basket.."


"Betul, betul."


"..sejak saat itu Jiho selalu coba mendekati Suya. Tapi sepertinya Suya merasa terganggu dan jadilah bermusuhan seperti saat ini." pungkas Somi,


"Oh, begitu. Unik-unik ya kalian,"


"Lambat laun kamu akan semakin memahami kami." ucap Hanna,


"Kalau misal kamu ada pelajaran yang tidak dimengerti kamu bisa bertanya pada kita. Kita akan bantu sebisa mungkin," ucap Somi,


"Kita?" sindir Hanna,


"hehe, bergaya sedikit kan gpp, haha." ujar Somi sambil senyum-senyum.


"Jangan percaya sama dia. Kelas kita urutan pertama si Suya itu, kedua Jiho, ketiga Alex, kalau cewek andalan kita si Jeje. Meskipun kamu menyaksikan pemandangan yang tidak menyenangkan antara Jiho dan Suya tadi, kamu tidak perlu takut untuk mendekati mereka. Terutama Suya, meski dia dingin seperti itu, tapi saat kita tidak paham pelajaran dia bersedia mengajari kita." jelas Hanna,


"Intinya kita semua teman sekelas, jadi meskipun kadang ada selisih paham sedikit, tetap saja harus saling bantu dan saling support, oke."


"Makasih, ya. Kalian sudah menerimaku sejak hari pertama masuk. Aku sempat takut jika sampai dikucilkan." balas Laura.


***


...maafkan jika ceritanya ngelantur 😁...