
Adhan dan agra msih melongo atas keputusan besar yg di ambil Yudi.
Adhan dan agra sedang berada di halaman kediaman YUDI HENDRAWAN.
"Graa gw gk yakin Novi mau" Ucap Adhan menileh pada agra yg masih fokus pada pemandangan di hadapannya.
Agra hanya menganggat kedua bahunya.
"Gw takut gra takut Novi nolak" Ucap adhan menutup wajah nya dengan kedua telapak tangannya.
"Terima Takdir"
"Srah ah gw mau liat adek gw" Ucap adhan lalu melenggang pergi.
"Jadi Gtu keyy. Apa yg harus aku lakuin" Ucap Novi.
Keyla terseyum.
'Kamu harusnya bisa memeilih yg terbaik Vii. Kamu masih pnya Adhan. Sedangkan aku? Sekarang sebatangkara' lirih keyla di dalam hatinya.
"Viii Ikuti kata hati vii" Ucap keyla. "Apa kata hatimu?" Novi msih diam, ia bingung apa yg harus ia pilih.
"Jika hatimu percaya untuk menerima, maka terimalah. Jangan bimbang atas semuanya Ada Allah yg mengaturnya" Tutur Keyla.
setelah memikirkan keputusannya. Novi pun ahirnya mempunyai sebuah keputusan yg tepat, Dan ia memilih menggunakan Hati dan juga pikirannya.
*Tokktokktokk*\*Suara pintu di ketuk\*
"Masuk!!" Ucap Novo dan keyla bersamaan.
Adhan pun masuk kedalam kamar Novi. ia melihat Novi dan keyla duduk di Ranjang, ia terseyumm.
"Kau sudah mendingan Vii??" Tanya adha Yg di jawab anggukan oleh Novi.
"Baguslah".
"Ehh kalian kesini di hubungin sama ayah?" tanya novi menoleh pada keduanya.
Adhan dan keyla menggeleng.
"Terus??"
"Akuu!!" Ucao seseorang di ambang pintu. Seorang tersebut adalah FERNANDO AGRA ZACKRY MAHESA.
Novi mengerutkan dahinya.
Agra terseyum ia berjalan menuju tempat mereka bertiga.
Agra menoleh pada adhan. Adhan yg mengerti tatapan agra pun mebghela napas.
"Jadii yg nyuruh kita ke sini tu Vii. Dia!!" Tegas adhan smbil menunjuk agra.
"Hah??"
"Yg nyuruh kita kesini buat liat kamu itu. Bang agra" Ucap keyla.
"Ohh" Ucap Novi mengangguk ngangguk.
"Loo loo loo Kok gk bingung ato apa"Ucap agra membulatkan matanya.
"Hmm gmana??" Tanya Novi menatap agra.
"Prffttt" Keyla dan adhan hanya menahan tawanya.
"Gk!" Ucap agra selepas itu melenggang pergi keluar kamar.
"Bang agra knapa??" Tanya nya msih menatap Pintu kamarnya setelah kepergian agra.
Keyla dan adhan hanya menganggat kedua bahunya smbil terseyum menahan tawa.
"Kiii Ayah mana?" tanya novi menatap adhan.
'Duhhh gmana yak, masa iya gw jujur klo Omm yud lagi beberes' Guman adhan di dalam hatinya.
"Emmm anuu Omm Yudd ada di kamar"Ucap Adhan.
Novi menundukk.
'Batin aku knapa ngerasa ayah bakalan pergi. Pokoknya keputusan apa nantinya, Aku gk mau pisah sama ayah!' Batin Novi.
"JANGAN!!" tahan Adhan.
"Knapa?" Tanya Novi.
"Emm anuu Omm Yud bilang dia mau mandi yaa mandi" Ucap adhan cengengsan.
Novi mengerutkan dahinya. "Ada yg kalian sembunyiin?" Ucaonya menoleh pada Keyla dan adhan.
"Enggak!!" Tegas adhan dan keyla bersamaan.
"Oke. Aku mau keluar" Ucao Novi.
'Klo keluar gk papa mungkin yakk' Batin adhan.
Saat Novi hendak bangun dari duduknya. Adhan mencegahnya. "Bentar!!"
"Kenapa?" Adhan menghela napas lalu,
Adhan menoleh ke arah pintu kamar Novi.
"AGRAAA!!!!" teriak Adhan dri dalam kamar Novi.
"Haduhh pak jangan teriak teriak" UCap keyla menutup telingannya menggunakan telapak tangannya.
"Hehehhehe takut Si agra gk denger" Ucap adhan.
Tak lama kemudian agra sudah datang. "GK USAH TERIAK TERIAK!!" geram agra dengan wajah yg sudah merah dan napas yg sudah ngos ngosan.
"Hehehhe sori bro" Ucap adhan menepuk nepuk pundak agra.
"Apa hah!"
Adhan menoleh pada Novi dan keyla, lalu ia menuntun agra untuk menjauh.
"Hisss apaan!" Geramnya Berusaha menghempaskan tangan adhan dari pundaknya.
"Suttt diam" Ucap adhan smbil membawa agra keluar kamar Novi.
"Sekarang apa?!"
"Novi sama keyla nyariin Omm Yud" Ucap adhan berbisik di telinga agra.
"So?"
"Hiss elo lupa kah hah!" Geram adhan.
Agra mengutkan dahinya, lalu ia memutar memori di kepala nya.
"Ohh ya ya" Ucap nya setelah mengingat apa yg harus ia lakukan.
"sekarang tau apa yg harus lo lakuin?"
Agra mengangguk.
"Laa gtu doang jawabnya"
Agra pun menoleh pada adhan "Terus??".
"Ya elu telpon Evan lah, Yakin Loo bisa sendiri" Ucap adhan.
"Ngapain?"
"Elo lupa kahh ogep!"
"Lupa apaan?"
Adhan mengusap wajahnya kasar. "Tanpa si Eponnn kita bakalan bisa bikin alasannn Tuan Fernanado!!" Geram adhan menatap agra.
"Owhh oke oke!"