Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 09 : Moudha diserang! Akhir kisah sang Pohon Kehidupan.



Reyhanaf Pov....


"Aku menang lagi! Kau kalah Magni! Huahahahaha!" Aku tertawa seram layaknya karakter jahat di film-film.


Sementara aku tertawa bahagia, Magni mendengus kesal sampai kepulan asap putih keluar dari kedua lubang hidungnya. "ITU CURANG TUAN REYHANAF! PERMAINAN INI TIDAK ADIL!" Katanya. Sayap besarnya mengepak sekali lagi. Angin lembut meniup wajahnya pelan dan mencoba untuk menghiburnya dari kekesalan. Tapi sepertinya itu tak berhasil karena si naga sudah sangat jengkel.


"Jangan protes, Magni. Kalau sudah kalah ya kalah." Kataku dengan tangan terlipat di dada.


"BAGAIMANA HAMBA TAK PROTES? TUAN MENGGUNAKAN KEKUATAN PIKIRAN UNTUK MEMBACA PIKIRAN HAMBA. SUDAH JELAS SEMUA TEBAKAN YANG HAMBA BERIKAN TELAH DIKETAHUI JAWABANNYA." Ujarnya.


"Ahahahaha. Itu namanya startegi, Magni. Kita harus bermain pintar jika kita sedang menghadapi lawan yang lebih kuat." Jelasku.


"ITU BUKAN STRATEGI. ITU NAMANYA CURANG!" Katanya kekeh.


"Itu tidak benar." Elakku. "Sebelum aku punya kekuatan ini, aku sudah mahir bermain tebak-tebakan. Lagipula tebakanmu gampang ditebak. Jadi bukan salahku jika aku berhasil menebak semua pertanyaan yang kau berikan."


Magni mengangkat satu alisnya. "BENARKAH?"


"Baiklah, aku mengaku. Aku menggunakan kekuatanku untuk menjawab pertanyaanmu. Tapi tidak seluruhnya aku menjawab pertanyaanmu dengan kekuatan telepatiku."


"HAMBA MERAGUKAN ITU."


Aku berdeham. "Sudahlah, daripada kita terus berdebat soal ini, bagaimana jika kita fokus pada tujuan kita. Apa kau tahu kita sudah sampai mana?" Kataku mencoba mengganti topik lain.


Magni yang menyadari itu hanya bisa menghela nafas panjang. "HAAH... JIKA HAMBA TIDAK SALAH, SEHARUSNYA SEBENTAR LAGI KITA SAMPAI."


"Benarkah? Itu berita bagus. Pantatku sudah pegal karena terlalu lama duduk di kepalamu." Aku menempelkan tanganku di dahi membentuk tanda hormat. "Lalu dimana kerajaan itu?"


"HMM... SEBENTAR...." Mata Magni mengedar mencari kerajaan itu. Lalu saat dia menemukannya, matanya kembali tertuju padaku. "TUAN LIHAT POHON BESAR ITU, KAN?"


Aku menyipitkan mataku ke arah yang ditunjuk oleh Magni. Pada mulanya aku tak bisa melihat apa-apa dikarenakan terhalang oleh kumpulan awan yang tebal. Namun ketika awan yang menghalangi telah menghilang, rasa takjub dan kagumku bercampur menjadi satu tatkala mataku mendapati sebuah pohon raksasa berdiri menjulang tinggi sampai menembus ke awan. Pohon itu sangat besar. Belum pernah kulihat pohon sebesar itu dalam hidupku. Bahkan dibumi saja tidak ada pohon yang bisa sampai setinggi itu. Jika dibandingkan dengan gunung, pohon itu mempunyai tinggi yang hampir sama dengan gunung Everest di Himalaya.


"POHON ITU BERNAMA LIGNUM VITAE, TUAN." Ujar Magni tiba-tiba hingga membuat lamunanku akan rumah terbuyarkan.


"Lignum apa?"


"LIGNUM VITAE. DIA ADALAH SALAH SATU DAN YANG TERTUA DARI KEEMPAT POHON KEHIDUPAN DI ALTARS." Ujar Magni sembari melirik ke arah ku. "LIGNUM JUGA MERUPAKAN TUMPUAN KEHIDUPAN PARA ELF. TANPANYA, PARA ELF TAK BISA MENGGUNAKAN SIHIR MEREKA SECARA PENUH. DITAMBAH DIA JUGA MERUPAKAN DEWI DARI PARA ELF, DAN ANAK DARI DEWI PALING BERPENGARUH DI ALTARS YAITU NATURAE, TENTUNYA DIA SANGAT DIPUJA DAN DIHORMATI OLEH PARA ELF ITU." Jelasnya.


Aku menganggukkan kepala mengerti. Tak kusangka jika pohon itu jelmaan seorang Dewi. Apalagi mereka berjumlah 4, dan otomatis maka ada tiga ras Elf lagi di dunia ini selain Dark Elf. Aku tersenyum licik. Yah, jika aku ditolak di sini, setidaknya masih ada 3 lagi yang akan menanti. Betul tidak?


Kami lalu terbang lebih dekat untuk memastikan jika itu benar kerajaan Moudha. Namun sesampainya kami di atas langit kerajaan, kepulan asap hitam tebal terlihat di mana-mana. Rasa takjub dan kagum yang sebelumnya pernah kurasakan langsung hilang begitu telingaku menangkap suara jeritan-jeritan ketakutan.


"Asap apa itu?" Tanyaku.


Kulihat Magni menatap tajam ke arah asap-asap hitam yang keluar dari bangunan-bangunan yang terbakar. "SEPERTINYA MOUDHA DISERANG, TUAN."


Letupan kecil ( karena aku berada di atas langit, maka yang bisa kulihat hanyalah letupan-letupan kecil. Padahal itu mungkin saja ledakan besar ) terjadi di mana-mana. Tak jarang juga kulihat beberapa bangunan ambruk dan runtuh.


"Kita harus membantu mereka." Kataku.


"ANDA BENAR TUAN. KITA SEBAIKNYA--"


Belum sempat Magni menyelesaikan kata-katanya, seekor burung yang sangat aneh ( jika ku deskripsikan, burung itu terlihat seperti Pterodactyle dari zaman dinosaurus. Tapi lebih besar. Seukuran Magni, lah. ) menabrak kami hingga membuatku terpelanting dari tubuh Magni dan terjun bebas ke bawah. Mataku sempat melihat Magni beradu kekuatan dengan si burung sampai semuanya berganti dengan daun-daun dari pepohonan.


Tuan Reyhanaf, putra Miracle....


Bangunlah...


Kami....


Membutuhkanmu....


Aku membuka mataku. Entah karena kepalaku yang sedang pusing atau aku masih dalam keadaan setengah terjaga, aku seperti mendengar suara. Suaranya milik seorang wanita. Tapi aku tidak tahu siapa itu. Apa mungkin itu suara hantu? Ah, tidak mungkin. Masa siang-siang begini ada begituan sih? Walau aku berada di hutan yang gelap dan sepi, aku masih tidak percaya dengan hal-hal seperti itu.


Kugelengkan kepala cepat untuk menyingkirkan pikiran aneh itu sejauh-jauhnya. Aku tak ingin memikirkan yang aneh-aneh dulu. Yang terpenting sekarang adalah memikirkan keadaan Magni dan kerajaan itu. Hingga saat ini, Magni belum menunjukkan keberadaannya. Apa mungkin dia masih bertarung dengan burung aneh itu? Sepertinya begitu. Mengingat ukurannya yang sama dengan Magni, kemungkinan mereka masih adu kekuatan di atas sana.


Buumm!


Suara ledakan kembali terdengar dan membuat tanah bergetar hebat. Itu pertanda bagiku untuk segera keluar dari hutan ini dan membantu mereka. Dengan lemas aku mencoba bangkit. Jatuh dari ketinggian ribuan meter ternyata bisa sesakit ini. Andai saja Shield Protector-ku tidak aktif di waktu yang tepat pasti aku sudah jadi rempeyek.


[ Itu tidak benar. Jika Shield Protector anda tidak aktif, anda masih bisa selamat tanpa terluka sedikitpun. Ini karena Damage Resistance anda sudah melebihi batas normal, oleh karena itu walau anda jatuh dari ketinggian ratusan atau jutaan kilometer sekalipun anda masih bisa selamat. ]


AI-Sys mendadak berbicara sampai membuatku hampir terlompat karena kaget. "Kumohon jangan lakukan itu lagi. Kau hampir membuatku terkena serangan jantung."


[ Itu juga mustahil. Dalam silsilah keluargamu dan juga riwayat kesehatanmu yang sekarang, tidak ada tanda tentang penyakit jantung. Disamping itu anda juga tidak bisa terkena penyakit jantung karena seluruh penyakit yang ada di dalam tubuh anda sudah dinetralisir. ]


Aku menghela nafas saat mendengar penjelasan AI-Sys yang tak perlu. "AI-Sys, itu hanya ungkapan. Sudahlah lupakan itu. Ada yang lebih penting daripada membahas sesuatu yang tak perlu. Seperti keluar dari hutan ini dan menyelamatkan kerajaan itu. Bagaimana? Apa kau tahu caranya?"


[ Akan saya usahakan. Menyerap informasi.... Sesuatu yang diperlukan untuk keluar dari hutan.... Buka status... Gift telah dipilih.... Memilih Gift.... ]


Tunggu, dia bisa membuka dan mengutak-atik statusku? Oh ya aku lupa. Dia kan juga pernah mengedit statusku.


[ Gift God Eye dipilih.... Memilih kembali Gift.... Gift Teleportation dipilih.... Mensinkronisasikan Gift.... Gift berhasil di sinkronisasi.... Gift aktif dan bisa digunakan. ]


Mataku mendadak menjadi terang kala AI-Sys selesai dengan urusannya. Energi-energi yang tak bisa kujelsakan menjalar ke seluruh tubuhku bagai ular yang merayap. Aku merasa pikiranku menjadi terbuka.


"Apa itu tadi?"


[ Jawab : itu merupakan efek dari Gift yang sebelumnya diaktifkan. Gift God Eye memberikan efek penerangan mata yang sempurna. Efek visual diperbarui bahkan sampai ketingkat Nano Molecular. Anda bisa melihat ke seluruh dunia bahkan semesta itu sendiri. Gift Teleportation memberikan efek energi luar biasa pada tubuh yang mampu membawa anda kemana saja bahkan dalam level jagat raya. Jika kedua Gift digabungkan, maka anda akan mudah dalam menemukan kerajaan itu. Cukup tinggal menggunakan Eye God sebagai pencari arah dan langsung gunakan Teleportation begitu tempat yang dicari sudah ditemukan. ]


"Kalau begitu bagaimana cara menggunakan Eye God? Jika hanya Teleportation aku tahu caranya."


[ Jawab : pejamkan mata anda. Fokuskan kekuatan mana mengalir di bola mata anda. Lalu tunggu hingga 6 detik dan ucapkan nama lokasi yang ingin anda tuju. Maka secara otomatis, pengelihatan anda akan langsung terbawa ke lokasi yang anda sebutkan tadi. ]


Oh, begitu. Ternyata gampang juga.


[ Penjelasan selesai. Ada yang ingin ditanyakan lagi? ]


"Tidak, itu saja. Terima kasih AI-Sys." Ucapku.


Baiklah, ini saatnya untuk mencoba. Pertama aku memejamkan mataku. Ku fokuskan manaku sampai menjalar naik ke kepalaku dan berputar di bola mataku. Seperti yang AI-Sys katakan. Tidak butuh waktu lama untuk manaku sampai di sana. Hanya butuh jeda sekitar 7 detik ( terlambat 1 detik. Entah karena aku yang belum berpengalaman atau karena aku jarang berlatih ), aku sudah bisa merasakannya berputar searah jarum jam. Dalam hati ku katakan "Moudha" Dan segera kubuka mataku cepat.


Ini bekerja! Seperti menaiki sebuah kendaraan yang melaju 400km/jam, pengelihatanku bergerak dan mencari-cari lokasi yang dituju. Berkelok-kelok diantara pepohonan, melewati sebuah danau, bebatuan hingga gunung tinggi, dan tanpa kusadari penghilatanku sudah berada di depan sebuah gerbang yang telah hancur berantakan. Mayat-mayat yang sepertinya dari bangsa Elf dan makhluk yang aku tak tahu dari jenis apa bergelimpangan dimana-mana. Api berkobar di segala penjuru dan menimbulkan asap hitam yang bergerak naik menembus awan. Ternyata benar kerajaan itu sedang di serang. Dan dilihat dari situasinya, sepertinya mereka akan kalah. Aku harus membantunya. Tapi sebelum itu ada satu hal yang jadi pertanyaanku....


"Emm... AI-Sys, bagaimana caranya aku membatalkan Gift ini?" Tanyaku bingung.


[ Jawab : itu mudah. Anda cukup memejamkan mata anda dan buka mata anda kembali. ]


Aku melakukan perintahnya. Kututup mataku sebentar dan sesaat kemudian kubuka mataku kembali, penglihatanku sudah seperti sedia kala. Sekarang tinggal menggunakan Gift yang satu lagi. Karena aku sudah tahu tempatnya, maka tidak sulit bagiku untuk menggunakan teleportation. Tapi aku tidak bisa sembarangan menggunakannya. Aku harus tahu situasinya dan lawan apa yang akan kuhadapi nanti. Jika aku langsung berteleport kedalam kerajaan itu bisa beresiko. Aku harus berteleport diluar kerajaan, tepatnya di depan gerbangnya. Itu lebih bagus daripada harus menghadapi lawan yang aku tak tahu seperti apa kekuatannya. Oke, ini saatnya. Teleport!


Zink!


Zink!


Aku berhasil lagi. Aku sampai tepat ke depan gerbang yang sebelumnya kulihat saat menggunakan God Eye. Mayat-mayat yang sama juga ada disekelilingku. Kondisi mereka banyak yang mengenaskan. Beberapa ada yang tinggal setengah badannya saja, lalu ada tubuh yang tergeletak tanpa kepala, serta ada juga yang tertimpa bangunan dan hanya menampakkan tangan atau kakinya saja. Pemandangan mengerikan ini sempat membuatku mual, tapi untungnya aku masih dapat menahannya. Menurutku reaksiku ini adalah sesuatu yang wajar karena selama hidupku aku belum pernah melihat mayat yang penuh darah seperti ini ( selain dari internet. Itu juga terpaksa karena saat aku sedang asik menjelajahi salah satu web sosial media, seorang anak kecil yang bermain internet di sebelahku tengah menonton video korban kecelakaan yang bisa kubilang tidak sesuai jika ditonton oleh anak seusianya. Sumpah, jika mengingatnya lagi, selera makan ku seketika langsung hilang ).


Kembali ke mayat-mayat tadi, kebanyakan dari mereka berasal dari ras Dark Elf. Tapi tidak sedikit juga ada kumpulan mayat dari makhluk yang tak bisa dijelaskan jenisnya ini. Aku mendekati mayat makhluk itu. Jika kuperhatikan dengan saksama, tubuh kekar itu, dua gigi bagian bawah yang mencuat ke atas, dan hanya mengenakan cawat sebagai pakaian, bisa ku simpulkan dia ini berasal dari ras Orc yang pernah kulihat di film-film fantasi Amerika. Senjatanya pun sama, yaitu gada dan kapak besar ( walau tak jarang kulihat juga ada pedang, tombak, dan panah ).


"Tolong kami...."


Suara merintih tertangkap oleh telingaku, membuat aku reflek menoleh kebelakang. Tepat di sana, seorang wanita muda berkulit gelap dan bertelinga runcing merintih kesakitan. Dia salah satu dari dari ras Dark Elf. Meski tubuh bagian bawahnya telah tertimpa oleh bangunan, dia masih memiliki tenaga untuk berbicara. Tanpa menunggu lama segera ku hampiri wanita itu.


"Tolong bantu kerajaanku... Uhuk!" Katanya lirih sembari memuntahkan darah segar.


"Tenang, aku akan membantumu!" Kataku. Tapi saat aku ingin menggunakan sihirku, dia menangkap tanganku erat.


"Itu tidak perlu... uhuk... waktuku tidak lama lagi...." Ucapnya lemah. "Kumohon padamu wahai manusia asing.... ini sebagai permintaan terakhirku.... kumohon, bantulah kerajaan kami...."


Aku menepis tangannya. "Simpan permintaan terakhirmu untuk nanti. Sekarang diam dan biarkan aku berkonsentrasi. Tenang saja, kau tidak perlu khawatir. Aku akan menyelamatkan nyawamu." Kataku. Kuarahkan tanganku pada bangunan yang menimpanya dan segera melafalkan satu sihir yang sempat kutemukan saat mengotak-atik statusku ketika aku tengah berada di atas langit. Sihir ini sempat dilarang oleh AI-Sys karena dapat mengacaukan hukum alam. Ya, sihir No. -4463, sihir pembalik waktu, Recovery. Salah satu sihir terlarang yang ada di statusku. Sihir bernomor minus yang dapat melawan hukum yang ada di jagat raya. Aku harus menggunakannya karena jika tidak, wanita itu tidak akan bisa selamat ( plus jangan beritahu Magni soal ini. Karena kalau dia sampai tahu, Magni akan mengomeliku seperti seorang ibu-ibu ).


[ ʎɹǝʌoɔǝɹ! ]


Seperti memundurkan sebuah rekaman video, bangunan yang menimpanya perlahan melayang ke atas dan tersusun kembali seperti saat bangunan itu belum ambruk. Bukan hanya bangunan saja, si wanita itu juga terkena efek sihirku. Bagian tubuh yang hancur karena tertimpa bangunan itu mendadak pulih seperti sedia kala. Luka-luka yang dideritanya juga menghilang sepenuhnya.


"Ini ajaib." Katanya takjub. "Sihir apa yang kau gunakan, manusia? Aku tidak pernah melihat sihir seperti ini sebelumnya."


Aku membantunya berdiri. "Err... bagaimana kalau kita lupakan itu dan beralih ke hal yang lebih penting. Bukankah saat ini kerajaanmu tengah diserang."


Dia terkejut. "Kau benar. Kalau begitu kita harus segera masuk ke dalam kerajaan dan membantu rakyatku." Katanya.


Dengan tergesa-gesa kami masuk ke dalam kerajaan yang telah runtuh. Berbeda dengan suasana di luar kerajaan, di dalam malah lebih parah lagi kerusakannya. Bagunan-bangunan telah jatuh. Mayat-mayat tergeletak hampir di semua tempat, jauh lebih banyak daripada di luar kerajaan. Hatiku cukup tersayat saat melihat mayat seorang ibu dan seorang anak mati dalam keadaan berpelukan dengan damai. Meski bisa kubilang keadaannya sangat mengenaskan. Maksudku, apa yang lebih tidak mengenaskan dari mayat seorang ibu dan anak yang mati terbakar. Bahkan wajahnya tak bisa dikenali lagi. Aku bisa saja menggunakan satu lagi sihir bernomor minus yang kutemukan, tapi sihir itu sangat menyalahi hukum alam. Sihir itu adalah sihir yang memiliki fungsi untuk membangkitkan orang yang sudah mati. Kalian tahu sendiri jika membangkitakan orang mati adalah sebuah pelanggaran besar. Karena itu aku tak ingin bermain-main dengan masalah hidup dan mati seseorang ( beda kasusnya jika orang itu masih memiliki nafas dalam tubuhnya. Aku masih bisa menggunakan sihir Recovery padanya tanpa takut melanggar hukum alam. Yah, meski bermain-main dengan waktu adalah sebuah pelanggaran, tapi untuk menyelamatkan seseorang kenapa tidak? ).


"Apa yang terjadi di sini?" Ujarku pelan sembari menatap sekeliling. Namun saat aku tengah terpaku dengan keadaan sekitar, seruan si wanita membuatku tersadar dan menoleh ke arahnya.


"Ayo. Kita harus cepat ke istana kerajaan." Ujarnya terburu-buru. Dia kembali berlari dengan sangat cepat. Ras Elf memang lincah ( apalagi wanitanya ). Mereka bisa berlari hingga setara dengan kecepatan maksimal sebuah sepeda motor. Untungnya aku bisa mengimbanginya sehingga aku tidak terlalu tertinggal.


"Hei, nona!" Panggilku. "Apa yang sedang terjadi di sini?"


Tanpa menoleh wanita Dark Elf itu berkata. "Pasukan kegelapan. Mereka menyerang kami!" Jawabnya. "Mereka adalah bawahan dari yang terhina di Altras. Mereka menyerang kami sebagai awal dari kebangkitan Tuan mereka."


"Kebangkitan?"


Dia mengangguk. "Menurut kabar burung yang kudengar, jika sang Raja kekacauan dan kegelapan akan segera bangkit. Sebagai awal dari tujuannya untuk menguasai dunia, kerajaan kami diserang karena dianggap sebagai ancaman yang merepotkan. Dan firasatku mengatakan jika bukan cuma ras Dark Elf saja yang jadi sasaran. Sepertinya mereka mengincar ketiga ras Elf lainnya."


"Kenapa begitu?"


"Kami para ras Elf memiliki kekuatan yang besar. Kami adalah ras yang dicintai oleh Dewi mana. Selain itu kekuatan kami juga akan bertambah berkali-kali lipat karena Dewi Lignum yang selalu menyertai kami."


"Maksudmu pohon kehidupan?"


Dia kembali mengangguk. "Tapi seperti lebah yang kebingungan setelah ratunya mati, jika itu terjadi pada pohon suci kami, maka kami juga akan bernasib sama seperti lebah itu." Ujarnya.


Aku memegang dagu. "Dengan kata lain, mereka mengincar pohon kehidupan!"


"Itu adalah hal yang aku takutkan." Ada nada bergetar dalam kalimatnya. "Jika pohon kehidupan sampai mati, maka kami tidak punya kekuatan untuk melawan mereka. Dicintai oleh Dewi Mana tidak menjadi jaminan kami bisa selamat dari pembantaian besar ini. Dan jika ini berlanjut ke kerabat jauh kami, maka ras Elf di seluruh dunia dipastikan akan punah."


"Dan akan tetap seperti itu, selamanya sampai dunia ini berada di tangan kami."


Sebuah pedang besar menghujam kepala wanita itu dengan kecepatan luar biasa. Andaikan aku tidak bergerak cepat untuk menyelamatkannya, aku yakin kepala wanita itu sudah terpisah dari tubuhnya.


Kami melompat jauh dan mendarat di reruntuhan gedung yang berbeda. Didepan kami, seorang lelaki besar dengan zirah berwarna perak, kedua tanduk di kepalanya, dan pedang besar berselimut api hitam berdiri dengan ponggahnya. Matanya yang berwarna merah menatap kami tajam. Terlebih saat menatapku. Tatapannya padaku membuat bulu kuduku bergidik.


"Siapa dia?" Ucapku.


"Dia adalah jendral kegelapan, Varna. Dan seharusnya dia sudah lama mati saat perang besar empat ribu tahun lalu."


Si jendral tersenyum. "Kau juga seharusnya sudah mati Tuan Putri Rillia."


Apa katanya? Tuan Putri? "Tunggu, kau seorang Putri!? Berarti kau juga seorang...." Aku secara sigap memeriksa statusnya.


____________________________________


☆ Status ☆


☆ Nama : Rillia Alteria Moudha


☆ Usia : 2973 tahun


☆ Ras : High Dark Elf


☆ Level : 1563


☆ Title : The Princess of Moudha, The Princess of Nature, The Daughter of Naturae


☆ Hp : 245.480.000


☆ Mp : 345.890.000


☆ Magic :


¤ Plant Manipulation


¤ Nature Manipulation


¤ Regeneration


¤ Nature Energy Absorption


¤ Goddess of Nature Form


¤ Water Manipulation


¤ Earth Manipulation


¤ Poison Manipulation


¤ Summoning Spirit of Nature


¤ Healing


¤ Crystal Manipulation


¤ Weather Manipulation


¤ Shield


¤ Erotion Manipulation


¤ Wind Manipulation


¤ Flight


¤ Teleportation


¤ Acceleration


☆ Skill :


¤ ATK : 1.998.999


¤ DEF : 800.000


¤ INT : 889.000


¤ M. ATTACK : 999.000


¤ M. DEF : 2.500.000


¤ M. RESISTANCE : 2.000.000


¤ AGI : 1.999.800


¤ STR : 1.980.000


¤ VIT : 3.000.000


¤ HEALTH : 2.999.999


¤ DMG : 3.850.000


¤ DMG. RESISTANCE : 2.900.800


☆ Gift :


¤ Imortality ( Sebagai seorang dari ras Elf, mereka diberi berkat keabadian )


¤ Goddess Form


____________________________________


Ternyata benar! Statusnya mengatakan jika dia memang seorang Putri. Dia juga seorang Demigod lagi! Ini terlihat dari Title yang dia punya. Di situ tertulis "The Daughter of Naturae". Itu berarti jika dia adalah seorang Demigod dari Dewi Naturae ( aku menyebutnya Dewi karena di bagian Magic, ada tertulis Goddess of Nature Form. Itu artinya Rillia adalah anak seorang Dewi ( perempuan ) bernama Naturae, bukan Dewa ( laki-laki ) ).


"Tunggu, apa kau baru saja mengecek statusku?" Tanya Putri Rillia tiba-tiba. Dia melirikku dengan wajah agak terkejut. Ternyata saat kau mengecek status seseorang, orang itu bisa merasakannya. Aku baru tahu itu. Tapi kalau aku ingat-ingat lagi, aku pun juga pernah merasakannya juga.


"Sudahlah, lupakan. Nanti saja bicaranya. Kita harus mengurus orang itu terlebih dahulu." Katanya lagi.


Aku hanya bisa mengangguk pelan mendengar ucapannya.


"Bukankah aku sudah membunuhmu ketika kami menyerang gerbang masuk kerajaan?" Ujar makhluk itu santai sembari memanggul pedang api dipundaknya. "Kenapa kau masih hidup?"


"Kematianku hanya ada dalam mimpimu makhluk hina! Aku akan membalas semua perbuatanmu pada kerajaanku!" Putri Rillia merentangkan satu tangan kedepan dan menciptakan sebuah busur berwarna hijau daun. Sementara tangan kanan memegang busur, tangan kirinya membuat gerakan memanah dan secara ajaib sebuah panah muncul di tangan kirinya.


"Sekarang tinggalkan kerajaanku, atau kali ini kau yang akan mati!" Ancamnya sambil membidik Varna dengan panah itu.


"Mainan itu bukan tandingan bagi sang jendral kegelapan. Jadi lupakan saja impian menyedihkanmu untuk membunuhku." Kata Varna.


"Cih!" Rillia hanya bisa berdecak kesal mendengar kata-kata Varna.


Sementara itu Varna melirik ku dengan tatapan kurang mengenakkan. "Dan kau... aku tak pernah melihatmu. Auramu membuatku ingin muntah. Siapa kau?"


"Aku?" Aku tersenyum kecil. "Hanya orang luar yang dipaksa untuk ikut campur masalah orang lain."


Sang Jendral menunjukkan seringainya. "Kalau begitu kau bukan orang penting, kan? Hanya seorang badut yang kebetulan lewat. Statusmu juga sepertinya sangat menyedihkan."


Menyedihkan? ah, sepertinya dia tengah melihat Statusku yang sedang di Hide oleh AI-Sys.


"Yah, itu tidak masalah. Lagipula setelah Lignum tumbang, maka tidak ada lagi yang tersisa." Ujarnya melanjutkan.


Rillia tampak terkejut sekali ketika mendengar ucapan Varna. "Kau gila! Dewi Lignum adalah pohon suci. Kalau kau membunuhnya, kau akan berhadapan dengan murka Dewa." Serunya memperingatkan.


"Menurutmu kami peduli? Para Dewa hanyalah kumpulan badut menyedihkan dengan kekuatan. Mereka pikir menjadi Dewa adalah sesuatu yang sangat membanggakan? Mereka salah! Dewa adalah sebuah simbol dari keberadaan hampa yang muncul saat orang-orang lemah menyembahnya. Kekuatannya hanya sebatas pada seberapa banyak dia dipuja dan dianggungkan. Keberadaannya tak lain hanyalah sebuah gambaran dari ketidakmampuan suatu makhluk dalam mencapai sesuatu. Sebenarnya kita ini tidak terikat pada kekuatan mereka, melainkan merekalah yang terikat pada kekuatan kita. Ketika kita berhenti menyembah dan memujanya, kekuatan yang mereka banggakan akan hilang. Khayangan akan hancur dengan sendirinya. Dan status Dewa yang mereka banggakan akan hilang selama-lamanya. Jadi apa definisi Dewa itu sebenarnya, selain ras payah menyedihkan yang menggantungkan kekuatannya pada ras yang lebih lemah dari mereka."


Tubuh Varna perlahan melayang ke udara. Dia mengangkat pedangnya tinggi hingga memunculkan sebuah api hitam besar yang berkobar lebih cepat dari pada sebelumnya. "Akan kutunjukkan pada kalian jika Dewa dan Dewi hanyalah ras biasa yang tak patut untuk dianggungkan!"


Bola mata Rillia membesar tatkala menyadari sesuatu dari gerakan mencurigakan Varna. "O-oi, jangan-jangan kau...?"


Aku yang merasakan kekuatan besar pada pedang si jendral juga memasang reaksi yang sama seperti Rillia. "Mana yang terkumpul pada pedangnya sangat besar. Tidak mungkin dia akan menyerang kita dengan kekuatan itu. Dia juga bisa terkena dampaknya. Kecuali...."


Aku melirik Lignum. Seketika langsung kusadari jika serangan yang akan dilancarkan Varna bukanlah untuk kami, melainkan untuk pohon raksasa itu. Tapi sayangnya aku terlambat. Karena saat aku ingin menghentikan orang gila itu, dia telah lebih dulu menebaskan pedangnya ke udara. Menciptakan jejak tebasan horizontal hitam yang membesar tiap detiknya menuju pohon raksasa itu. Lalu....


Zratt!!!


Lignum terkena serangan Varna. Pohon besar itu oleng kebelakang dan jatuh dengan dramatis. Kejatuhannya membuat gempa yang sangat kuat dan suara dentuman yang cukup dahsyat. Pohon Dewi yang menjadi tumpuan bagi para Elf sekaligus Kakak dari ketiga pohon kehidupan itu, kini telah mati. Haah... Ini semakin bertambah merepotkan saja.


Bersambung.....