
Reyhanaf Pov.
Magni terkejut, Rillia berhenti menangis serta menatapku dengan tatapan yang sama seperti Magni berikan, dan ular besar itu? Dia yang paling syok. Mataku memandang ke arah mereka satu per satu. Kenapa mereka memasang ekspresi seperti itu? Apa mereka tekejut karena aku bilang ingin berniat menghidupkan seluruh Dark Elf yang mati? Yah, sepertinya begitu.
"Apa maksudmu dengan menghidupkan kembali kerajaan ini, Tuan Reyahanaf?" tanya Magni memburu. "Apa dengan menghidupkan seluruh Elf yang mati?"
Seperti biasa Magni selalu cepat menanggapi niatku.
"Yah, seperti itulah." Jawabku santai.
"Tapi, kau tidak bisa melakukan itu Tuan!" Magni berkata.
"Aku tahu, aku tahu. Jika aku melakukannya maka aku melanggar hukum alam dan mengganggu keseimbangan alam bukan?" Kataku. "Tapi apa tidak bisa dikecualikan jika kita ingin membantu orang? Kau juga pasti merasakan apa yang dirasakan oleh Rillia Bukan?"
"I-iya, tapi tetap saja---" Perkataan Magni terhenti ketika tangan Rillia menggengam lengannya. Dengan wajah sedihnya, Putri Dark Elf itu memohon lirih.
"Kumohon. Jika itu memang bisa dilakukan, maka hanya kali ini saja. Kali ini... Aku mohon padamu, Dewa. Aku mohon." Tangsinya kembali pecah.
Magni yang melihatnya menjadi iba. Dia berada ditengah kebimbangan, itu terlihat jelas dari wajahnya. Aku menghembuskan nafas panjang. Tatapanku lalu beralih ke arah ular besar yang entah kenapa sedari tadi terus menatapku. Aku tak tahu itu. Apa mungkin dia juga melarang tindakanku ini?
"Kau yang bernama Reyhanaf, bukan?"
Mendadak aku mendengar suara di kepalaku. Suaranya sangat berat seperti pria berumur 60'an. Pertama aku menyangka jika Rege kembali berbicara padaku. Namun ternyata suara yang berdengung di kepalaku ini adalah milik si ular itu. Dia terus menatapku nanar dengan mata besarnya. Ini sedikit membuatku risih, namun aku mencoba untuk tenang dan menjawab perkataannya. Tentunya juga melalui telepati.
"I-iya benar, aku Reyhanaf." Kataku gugup. Entah kenapa ketika aku berbicara dengan orang yang lebih besar dariku aku menjadi gugup. Apa ini karena dia adalah ular setinggi gedung bertingkat.
"Perkenalkan namaku adalah Arbor. Salah satu dari kesebelas Roh agung yang menjaga elemen alam dan sekaligus saudara tak sedarah dari Rillia. Pernyataanmu yang ingin menghidupkan kembali kerajaan ini, sempat membuatku terkejut. Apa kau berniat untuk menghidupkan semua orang yang telah di bunuh Varna?"
"Aku memang berniat seperti itu. Tidak sepantasnya mereka mati sia-sia hanya karena ulah orang gila yang ingin berusaha untuk mencapai tujuannya dengan cara yang tidak masuk akal." Jawabku.
"Kau mempunyai hati yang mulia. Pantas Tuan Miracle memilihmu sebagai anak angkatnya."
Tiba-tiba aku gantian terkejut. Dia tahu tentang hubunganku dan Ayah?
"Apapun yang ingin kau lakukan ini, aku akan menyetujuinya. Tapi kau harus ingat satu hal. Menghidupkan orang yang sudah mati adalah suatu pelanggaran hukum yang sangat berat karena akan ada kemungkinan dapat mengacaukan hukum dan keseimbangan alam semesta yang ada. Karena itu kita tidak bisa bermain-main dengan hidup matinya seseorang. Bahkan sang Dewa Agung Tuan Miracle saja harus meminta izin dulu pada Tuhan saat ingin membawamu ke dunia ini, kau ingat?"
"Yeah, aku tahu." Ucapku. "Tapi aku ingin bertanya padamu. Kenapa kau sangat yakin aku bisa menghidupkan orang yang sudah mati, padahal kita baru pertama bertemu." Tanyaku tiba-tiba. Beneran, ini membuatku penasaran. Padahal aku yakin aku baru pertama melihatnya, tapi kenapa seolah-olah dia sudah tahu jika aku mempunyai kekuatan yang tidak masuk akal?
"Sebenarnya aku ragu kalau kau yang akan melakukannya."
Sudah kuduga.
Ular itu lalu melirik penuh curiga padaku. "Tetapi jika "orang dalam" itu ikut terlibat, maka sesuatu yang tidak mungkin akan menjadi mungkin."
Aku seketika terdiam. Orang dalam? Apa yang dia maksud itu Rege? Tidak salah lagi, pasti yang dimaksud oleh ular itu adalah dia. Tapi kenapa dia bisa tahu jika ada makhluk super kuat yang terpendam di tubuhku ini? Apa mungkin saat aku berganti tubuh dengannya? Ya, pasti saat itu. Argh, padahal aku berniat untuk menyembunyikannya, tapi kenapa sampai ketahuan?
"Putri Rillia menyadari itu."
Ular itu mendadak mengatakan sesuatu yang membuatku kembali tercekat. "Rillia tahu? Arghh...! Ini semakin rumit." Mataku melirik ular itu. "Bagaimana dia bisa tahu?"
"Saat kau datang menyelamatkan kami, dia menyadari ada yang berbeda denganmu. Selain aura mu yang tiba-tiba menjadi besar dan mematikan, gaya bicara serta gerak tubuhmu juga berbeda. Dari situlah dia sadar kalau kau bukanlah kau yang sebenarnya." Jelas si ular.
Aku menutup wajahku malu. Mataku kembali melirik si ular lagi dari celah-celah jariku. "Lalu siapa lagi?" Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang penting hingga aku reflek membuka kembali wajahku. "Apa Magni juga tahu?!"
"Tidak, sepertinya dia tidak tahu. Tapi cepat atau lambat dia pasti tahu." Kata si roh agung bernama Arbor ini.
Aku mendadak lesu. "Kau benar. Haah... Situasi ini semakin rumit saja setiap menitnya." Kataku lemas.
"Nah sekarang, apa yang akan kau lakukan? Reyhanaf Putra Miracle. Apa kau akan tetap melakukannya, atau mundur dan membiarkan alam semesta bekerja dengan semestinya?"
Aku menutup mataku dan berpikir lama. Memang benar yang dikatakannya. Jika hal ini kulakukan, maka ada kemungkinan ini bisa merubah susunan alam semesta. Tapi setelah kupikir-pikir lagi tidak ada salahnya aku "melanggar" sedikit. Toh tidak mungkin aku menghancurkan seluruh alam semesta dengan menghidupkan beberapa orang saja kan ( beberapa yang kumaksud di sini adalah sekitar satu juta orang. Tapi itu masih bisa dibilang sedikit, kan? Maksudku ayolah, ada lebih dari triliunan makhluk hidup yang tersebar di berbagai semesta. Masa hanya dengan menghidupkan tidak kurang dari satu persen kehidupan bisa menyebabkan kiamat? Tidak mungkin sama sekali. Atau mungkin saja )?
"Jadi bagaimana? Apa kau masih berniat ingin menghidupkan orang-orang itu? bagaimana?" Tanya Roh agung Arbor.
Aku membuka mataku. Tatapan serius ku arahkan padanya. Aku lalu menyunggingkan sebuah senyuman dan dengan mantap aku menjawab. "Apa kau tidak dengar kata-kata ku? Sudah pasti aku akan melakukannya. Tidak peduli seberapa banyak yang akan mengejarku nanti, aku tidak akan pernah mundur. Karena itulah jalan nin--- eh prinsipku!"
Kulihat sang roh agung tertegun. Walau tidak jelas, aku bisa melihat senyuman diwajahnya. Dan tiba-tiba saja dia mendadak menundukkan kepalanya yang sebesar truk tronton kepadaku.
"Hormatku padamu, Reyhanaf Miracle. Aku tahu ini terlalu cepat, tapi izinkan aku mengucapkan terima kasih karena sudah mau menolong kami."
Aku tersenyum. "Tidak masalah. Sudah menjadi tugas kita untuk saling tolong menolong." Kataku. Aku lalu maju selangkah dan bersiap untuk melakukan sihir yang dimaksud.
"Magni, Rillia." Panggilku pada kedua orang yang ada di depanku ini. Seketika mereka berdua menoleh ke arahku secara bersamaan. "Minggirlah, aku akan melakukan sihirnya sekarang."
Mendengar itu membuat sang naga mendadak protes. "Tuan Reyhanaf, anda masih tetap ingin melakukan itu? Apa anda tidak tahu konsekuensinya jika anda tetap melakukannya?"
Aku kembali terdiam. Mataku melihat Rillia yang melihatku dengan tatapan sedihnya. Aduuh... Entah kenapa dia terlihat lebih imut jika seperti itu. Tidak, malah tambah imut.
"Aku tahu, Roh agung Arbor sudah memberitahukan padaku tadi."
Tatapan sang naga beralih ke Roh agung Arbor. "Apa benar begitu, Tuan Arbor?"
Roh agung hanya menunduk menjawab pertanyaan Magni.
"Lalu apa kau setuju?" tanya Magni.
Roh agung Arbor kembali mengangguk. Magni terlihat memprotes keputusan si ular dan mencoba berbicara dengannya. Namun setelah fase debat yang cukup lama, Magni tiba-tiba terlihat lesu menandakan jika dia telah kalah beradu argumen dengan sang roh agung penjaga alam. Tentunya di dalam ruang pikiran mereka masing-masing ( secara harfiah ). Aku bisa saja menguping pembicaraan mereka, tapi itu adalah tindakan yang tidak sopan.
"Baiklah, jika kau tidak keberatan, maka aku juga akan menyetujuinya." Katanya lesu. Magni lalu berjalan gontai ke pinggir tepat di sebelah sang Roh agung. Setelah itu dari arah belakangnya, Rillia bangkit dan mengikuti dari belakang.
"Semua sudah siap?" Ujarku. Secara serentak mereka bertiga mengangguk bersamaan.
Rillia mendadak maju selangkah dan melipat kedua tangannya seperti berdoa. "Reyhanaf, kumohon tolong hidupkan kembali keceriaan Moudha seperti dulu." Katanya memohon padaku dengan sendu.
Aku tersenyum dan mengangkat satu ibu jari. "Kau tenang saja. Aku adalah pria yang selalu memegang kata-kataku!" Ujarku. Mataku sempat melirik ke arah Rillia yang tersenyum dengan bahagianya sambil mengangguk senang.
Aku lalu memejamkan mataku dan segera menghubungi Rege lewat alam bawah sadarku. "Kami sudah siap, Rege."
[ Akhirnya, selesai! Kukira tidak akan pernah berakhir. Sudah cukup basa-basinya? ]
"Seperti biasa, mulutmu sangat pedas. Sudahlah, cepat lakukan saja. Tidak baik bagimu jika selalu sarkastis."
[ Iya-iya aku mengerti. Jika bukan karena kesepakatan ini aku ogah membantumu. Okey, sebelum dimulai kau harus tahu satu hal penting. ]
Aku mengangkat satu alis. "Apa itu?"
[ Jurus ini memakai energi yang cukup banyak untuk dipakai. Kau akan kehabisan energi sebanyak 98% jika sendirian. Karena itu aku akan membantumu dengan memberikan energiku. Jadi, jangan sampai kau mati kehabisan energi. Awas saja jika itu terjadi. Kau tidak akan tenang walau kau tinggal di surga sekalipun. Kau paham? ]
Aku menelan ludah. "B-baik, aku paham!"
[ Bagus. Sekarang ikuti arahanku. Pertama, buat gerakan menjentikkan jari dengan kedua tanganmu. Lalu, pikirkan orang yang ingin kau hidupkan kembali. Tidak perlu spesifik, cukup pikirkan siapa saja yang ingin kau hidupkan. Contoh jika kau ingin menghidupkan satu desa, maka tinggal sebutkan, "aku ingin menghidupkan kembali semua orang yang mati di desa Silver", maka secara otomatis seluruh desa akan hidup kembali tanpa kau sebut nama atau membayangkan wajah mereka sekalipun. Kemudian, setelah sudah tinggal jentikkan kedua jarimu dan poof, mereka kembali hidup seperti tidak terjadi apa-apa. Mudah, kan? ]
Aku mengangguk mengerti. Ternyata caranya cukup mudah. Tidak bisa dibayangkan olehku jika aku harus menghidupkan mereka satu per satu sambil menyebutkan nama. Bisa-bisa mulutku sudah berbusa pada hitungan ke-200.
[ Tapi ada satu hal lagi yang perlu kau ingat. Saat kau sedang menghidupkan seseorang, pastikan kau tetap fokus karena jika tidak maka gerbang akhirat akan tertutup dan kau tidak bisa menghidupkan mereka lagi sampai 2 bulan kedepan. Apa sampai di sini kau paham? ]
"Aku paham."
[ Kalau begitu lakukan cepat. Aku ingin segera tidur. Aku capek, kau tahu? ]
"Hei, jika aku ingin menggunakan kekuatanmu lagi bagaimana?" Tanyaku.
[ Ya tinggal gunakan saja. Kekuatanku kan sudah kuberikan padamu. Masa kau lupa. ]
"Hehehe, aku lupa." Ucapku terkekeh.
[ Yeee... Curut. Sudahlah cepat lakukan! ]
"Iya, iya. Kau ini pemarah sekali."
Aku memejamkan mataku dan mengikuti setiap langkah yang dikatakan Rege. Di dalam pikiranku, aku memikirkan orang-orang yang ingin aku hidupkan. Tapi karena Rege mengatakan tidak perlu spesifik, jadi aku akan menyebutkan : semua makhluk yang telah di bunuh Varna dan pasukannya satu hari ini. Aliran energi yang besar mendadak mengalir di dalam tubuhku hingga saking besarnya aku mulai merasa jika energi itu memancar keluar. Menyebabkan angin menderu hebat dan membuat rambutku bergoyang-goyang cepat ditiupnya.
Aku tidak tahu lagi kejadian alam apa yang selanjutnya terjadi saat aku tengah berkonsentrasi. Tapi mendengar dari ucapan serta seruan panik Magni dan Rillia, sepertinya aku telah menciptakan badai petir sekaligus tekanan aura yang membuat seluruh badan mereka merinding gemetar.
Sudah cukup lama aku berkonsentrasi dan hingga tanpa kusadari energi yang kubutuhkan sudah terkumpul sangat banyak. Langsung saja tanpa menunggu lama lagi, aku segera membuka mataku dan menjentikkan kedua jariku disaat yang bersamaan. Pada mulanya memang tidak terjadi apa-apa. Aku sempat mengira jika sihirku ini gagal. Namun tiba-tiba terjadi sebuah kejadian diluar nalar yang tidak bisa dijelaskan oleh manusia ( meskipun aku tengah berada di dunia fantasi dimana hal aneh adalah lumrah, tetap saja kejadian ini sangat tidak masuk akal). Di atas langit nan cerah, muncul retakan super besar yang membentuk celah. Celah berwarna hitam itu terbuka semakin lebar dan lebar. Memperlihatkan bagian dari tata surya yang belum pernah kulihat sebelumnya. Maksudku, planet mana yang mempunyai 8 cincin berwarna merah? Tidak di galaksi Bima Sakti tempat di mana planetku tinggal dulu.
[ Cepat, rentangkan kedua tanganmu ke arah celah itu seperti ingin menggapainya! ]
Suara Rege tiba-tiba terdengar nyaring di dalam kepalaku. Aku hampir saja terlonjak kaget karenanya.
[ Sudah, jangan banyak omong. Cepat lakukan perintahku atau kesempatanmu hilang? ]
Aku hanya memanyunkan bibirku mendengar perintahnya. Memangnya siapa dia? Seenaknya saja memerintahku seperti itu. Tapi apa boleh buat? Aku terpaksa melakukannya agar aku bisa menghidupkan kembali semua orang. Tanpa bertanya apapun lagi aku segera menuruti perintahnya.
[ Bagus, tetap seperti itu. Itu berguna untuk menyalurkan energimu agar celah tersebut tetap terbuka sampai kau selesai. ]
Suara Rege lalu kembali menghilang seperti terlelan bumi. Apa dia selalu seperti itu? Datang dan pulang seenaknya tanpa diantar ataupun dijemput. Seperti jalangkung saja. Biarlah, lagipula tidak penting juga memikirkan hal seperti itu. Lebih baik aku fokus pada hal yang kulakukan saat ini.
Tapi, mencoba untuk fokus adalah sesuatu yang paling sulit disaat seperti ini. Mataku tak henti-hentinya memandang kejadian tersebut dengan ekspresi takjub sekaligus ngeri. Begitu juga dengan Rillia, Magni, serta Roh Agung Arbor. Apalagi saat ratusan, tidak jutaan cahaya putih muncul dan berhamburan keluar dari dalam celah. Hilang sudah fokusku ini karenanya. Cahaya-cahaya itu terbang berpencar dan turun perlahan ke bumi. Lalu seketika hilang saat menembus tubuh orang-orang yang terbaring tak bernyawa di sana. Pemandangan ini membuat kami hanya merasa takjub dan tidak ada lagi perasaan ngeri yang muncul.
"K-keren...." Ucapku spontan karena terlalu terpesona oleh kejadian ini.
"Itu adalah jiwa-jiwa orang mati." Kata Magni tiba-tiba.
Aku menoleh ke arahnya. "Jiwa orang mati?"
"Ya, biasanya saat seseorang atau suatu makhluk mati, jiwa mereka akan keluar dari tubuh mereka dengan berbentuk seperti sebuah bola yang berwarna putih. Lalu jiwa itu akan terangkat ke langit untuk langsung diberi penghakiman oleh Dewa. Hamba sendiri walau tinggal di khayangan pun jarang melihat jiwa-jiwa orang mati. Apalagi sebanyak ini." Jelas Magni.
"Kenapa?"
"Kami para Dewa jarang berurusan dengan hal-hal seperti itu. Kecuali untuk Dewa Kematian dan Dewa Penghakiman. Karena itu sudah menjadi bagian tugas mereka. "
Aku mengangguk-angguk paham. Tapi entah kenapa semakin lama aku merasa semakin berat. Ini seperti kau mengangkat beban dan terus ditambah setiap detiknya. Kakiku mendadak gemetar dan tanganku seperti mau patah. Jangan-jangan inilah beban yang Rege bicarakan.
[ Kau akhirnya paham kan? ]
"Rege...."
[ Ini terjadi karena jumlah jiwa yang kau hidupkan. Semakin banyak jiwa yang dihidupkan, maka semakin banyak pula tekanan dan energi yang diberikan. ]
Jadi begitu. Argh, ini menyakitkan. Seluruh badanku seperti ditekan kebawah. Kaki-kakiku berubah lemas dan membuatku jatuh bertumpu pada kedua lutut. Magni menjadi panik saat aku mulai mengerang kesakitan. Padahal aku sudah mencoba untuk menahannya, tapi kelihatannya percuma. Rillia serta roh agung Arbor juga terlihat melakukan hal yang sama. Mereka mendekatiku dan memandangku sembari memanggil-manggil namaku.
"T-Tuan Reyhanaf, kau tidak apa-apa!!? Apa yang terjadi!?" Magni lebih dulu ambil bagian dengan mencecariku berbagai pertanyaan.
"Reyhanaf, ada apa denganmu!? Kenapa kau kesakitan seperti itu?!" Kali ini Rillia yang ikut.
"A-aku tidak apa-apa...." Aku mencoba tegar. Aku melihat wajah khawatir mereka dan aku tidak ingin kembali mencemaskan mereka lebih dari ini.
"Kau yakin? Kau terlihat kesakitan tadi." Kata Rillia.
"A-aku yakin...." Kakiku mencoba untuk bangkit. Walau gontai, namun aku akhirnya bisa berdiri meski masih sedikit gemetar. "...i-ini hanya efek sampingnya saja. Aku masih bisa menahannya... Hehehe...." Aku terkekeh.
"Sebaiknya kita hentikan saja. Apa Anda tidak lihat? Efek sampingnya saja sampai membuat Anda kesakitan seperti tadi. Daripada melanjutkannya, maka---"
"Sudah kubilang aku masih sanggup!" Aku memotong ucapan Magni tegas. "Jangan coba-coba untuk menghentikanku. Kau paham?"
Naga itu terdiam lama. Mungkin dia masih terkejut dengan bentakanku tadi. Magni lalu menundukkan kepalanya dan membungkuk hormat. "Hamba paham. Maafkan kekurangajaran hamba, Tuan Reyhanaf."
Aku tidak meliriknya. Saat ini aku tengah berusaha untuk fokus menahan tekanan dari jurus ini. Walau lambat, aku bisa merasakannya terus mendorongku kebawah. Untung saja aku dibantu Rege saat mulai merasakannya untuk pertama kali. Jika tidak aku pasti menjadi telur dadar sekarang.
Akan tetapi meski sudah dibantu oleh Rege, aku masih sedikit kewalahan. Entah itu dari Mana yang terus menipis atau tekanan yang terus menekankanku dengan kuat. Namun aku harus bertahan agar mereka yang mati sia-sia bisa tetap hidup dengan kesempatan kedua yang akan mereka miliki.
[ Bersiaplah, Rey! ]
Rege tiba-tiba memperingatkanku. "Bersiap? bersiap untuk apa?" Tanyaku bingung.
[ Yang besar akan datang. ]
Tiba-tiba sebuah tekanan yang lebih berat datang hingga tanah yang kupijak langsung retak seketika. Semua badanku serasa ditarik ke bawah dengan kekuatan yang luar biasa. Selain sakit, aku juga tidak bisa bergerak sedikitpun. Bahkan menggerakan bibir pun aku tak bisa.
Magni dan Rillia melihatku dengan khawatir. Tapi aku berusaha menghibur mereka dengan senyuman yang seperti kalian tahu sangat sulit untuk dilakukan. Aku sampai harus bersusah payah untuk menunjukkan ekspresi itu agar mereka percaya jika aku baik-baik saja. Padahal mah tidak.
[ Itulah rasanya menghidupkan makhluk tingkat atas. ]
Rege berceloteh.
"M-maksudmu?"
[ Lihat celah itu dan kau akan mengerti. ]
Aku mengikuti ucapannya. Dan seketika itu juga aku langsung kembali terkejut saat melihat sebuah bola raksasa putih bercahaya keluar dari dalam celah hitam itu. Bukan cuma aku saja yang terkejut bukan kepalang, namun Magni beserta Rillia dan Roh agung Arbor juga begitu. Lebih dari sebelas bola dengan ukuran yang hampir menyamai sebuah bulan muncul satu per satu. Kesebelas bola itu lalu berpencar ke segala arah dan salah satunya masuk ke dalam batang pohon besar yang merupakan bagian dari Pohon suci Lignum.
"I-itu Jiwa Dewa!" Celetuk Magni. "Jangan-jangan anda juga bermaksud menghidupkan Dewi Lignum!?"
Seraya kata-kata Magni membuat sang Putri dan Roh agung Arbor kembali tersentak untuk yang kesekian kalinya.
"Kau tidak sedang bercanda kan Tuan Magni?!" Rillia tiba-tiba berbicara. Air mata kembali meleleh sekali lagi dari matanya yang indah. "A-aku tidak percaya. Kau pasti cuma bercanda, kan?"
Magni menggeleng. "Tidak. Kurasa Tuan Reyhanaf tidak hanya membangkitkan seluruh kerajaan Anda. Jika Dewi Lignum juga dan kesepuluh jiwa yang ikut keluar bersamaan dengan jiwa Dewi Lignum adalah benar jiwa kesepuluh Roh Agung yang tewas, itu berarti satu hal. Tuan Reyhanaf berusaha membangkitkan seluruh makhluk yang mati oleh Varna. Itu artinya tidak terkecuali Dewi Lignum dan kesepuluh Roh agung." Jelasnya.
"Yah, itu benar. Aku memang berniat menghidupkan kembali orang-orang yang dibunuh Varna. Bukan hanya seluruh penduduk Moudha, namun juga Dewi kalian dan kesepuluh Roh penjaga yang ikut tewas." Kataku pada mereka melalui telepati ( habisnya aku tidak bisa menggerakan mulutku sih. Jadi aku pilih cara alternatif yang lain ).
"Suara ini, apakah itu kau Tuan?" Tanya Magni.
"Tentu saja ini aku." Kataku. Mataku lalu melirik Rillia ( tentunya dengan susah payah ) yang melihatku dengan air mata yang mengalir. "Sudah kubilang, kan? Aku akan kembali menghidupkan kerajaanmu seperti dulu."
Rillia lalu jatuh bertumpu pada lututnya dan kembali menangis tersedu-sedu. Meski sambil terisak, aku dapat mendengar ucapan terima kasih itu berkali-kali. Bahkan Roh agung Arbor juga ikut mengucapkan rasa terima kasihnya dan menunduk padaku hormat.
Yosh, ini membuatku kembali bersemangat. Entah kenapa seketika beban karena tekanan ini mendadak seperti menghilang setelah mendengar ucapan terima kasih dari mereka. Jika sudah begini aku tidak boleh mengecewakan mereka yang sudah percaya padaku. Akan aku pastikan jika kerajaan ini akan bangkit kembali.
[ Hei, jangan senang dulu. Masih ada yang harus kau lakukan. ]
Tiba-tiba Rege berseru. "Apa itu?" Tanyaku.
[ Tahap Akhir. ]
Aku mengangkat satu alis. "Tahap akhir? tahap ini saja belum selesai kau malah ingin melompat ke tahap lain."
[ Berhenti berlagak bodoh, Rey. Aku tahu kau juga merasakannya. Itu bukan hanya sekedar sebuah perasaan senang akan rasa terima kasih dari mereka. Kau menjadi ringan karena pengembalian jiwa ke tubuh orang-orang yang telah mati telah selesai. Makanya kau tidak merasakan tekanan itu lagi. Disamping itu Aku cukup kagum padamu. Kau bisa menahan jiwa orang yang berjumlah jutaan dengan sangat baik. Apalagi setelah ditambah sebelas jiwa tingkat tinggi. Biasanya mereka yang tidak bisa menahannya akan segera berubah menjadi telur dadar saat jiwa itu pertama kali datang. Aku jadi semakin tertarik kepadamu, Rey. ]
"Hentikan, kau membuatku jijik, tau?" Kataku sembari merinding. Tapi benar juga katanya. Pantas saja aku tidak merasakan tekanan itu lagi. Ternyata karena proses pengembalian jiwa telah selesai. Aku memandang celah itu dan memang benar tidak ada lagi jiwa-jiwa yang turun. Itu berarti, tugasku sudah selesai?
[ Apa kau tidak dengar yang kukatakan tadi? Masih ada satu tahapan lagi yang mesti kau lakukan sebelum semuanya selesai. Yaitu Tahapan Akhir. ]
Aku menghela nafas. Apa dia tidak bisa lebih lembut lagi kalau berbicara. Kupingku sudah sakit ini. "Lalu, tahapan akhir itu seperti apa?" Tanyaku.
[ Sebuah penyelesaian. Kita akan menghidupkan mereka semua sekaligus! ]
Aku tercengang. "A-apa?! Menghidupkan mereka semua?! B-bagaimana caranya?"
[ Cukup mudah. Jentikkan saja kedua tanganmu sebanyak dua kali. Maka mereka akan hidup seperti tidak terjadi apa-apa. ]
Hanya itu? Lebih mudah dari yang kukira. Aku pikir akan ada hal-hal lain, tapi ternyata tidak. Yah, jika hanya itu maka lebih baik kulakukan dengan cepat. Aku kembali berkonsentrasi. Lalu sedetik kemudian aku segera menjentikkan kedua tanganku seperti yang Rege bilang.
CTAK! CTAK!
Suara jentikkan jariku menggema di seantero tempat. Sesaat setelahnya, bumi bergetar pelan serta memunculkan angin yang berhembus sedikit kencang. Suara seperti lonceng raksasa di menara tinggi juga ikut menggema, bersamaan dengan keluarnya cahaya menyilaukan dari tubuh orang-orang yang terkapar tak bernyawa di sekitar kami. Tidak hanya di tempat kami, cahaya itu juga muncul satu per satu di berbagai tempat hingga sinarnya menyinari kerajaan yang sudah tak utuh lagi itu. Terlebih lagi saat cahaya yang keluar dari pohon Lignum. Sungguh menyilaukan sampai aku mengira jika aku buta karenanya.
"C-cahaya apa ini!?" Ucapku kaget sembari menghalangi sinar itu dengan kedua tanganku.
"I-ini adalah cahaya kehidupan." Ujar Magni. Matanya seketika terbelalak ketika dia melihat suatu kejadian mustahil yang terjadi di depannya. Bukan hanya Magni, namun aku, Rillia dan juga Roh agung Arbor juga menunjukkan ekspresi yang sama. Ketika semua cahaya semakin meredup sedikit demi sedikit, semua mayat yang terkapar di sekitar kami bangkit kembali. Bukan sebagai mayat hidup, namun hidup seutuhnya dengan pikiran masih milik mereka sendiri.
Satu per satu mereka bangkit dari kematian. Tidak terkecuali yang tubuhnya tak utuh ataupun tertimpa bangunan, tua sampai muda, wanita maupun lelaki, semua hidup kembali. Bahkan bagian tubuh yang terluka dan juga hilang seketika kembali seperti semula seakan tidak pernah ada luka di sana sama sekali. Mereka yang bangkit memandang bingung ke arah kami yang juga melihat mereka dengan tatapan yang sama.
Aku yang paling bingung di sini. Kejadian ini membuat kepalaku serasa ingin pecah. Tidak kusangka aku benar-benar bisa menghidupkan mereka semua. Aku bersyukur aku bisa menepati janjiku pada Rillia. Rasanya sangat lega melihat sang Putri tersenyum bahagia seperti itu. Hatiku mendadak ikut senang.
Tapi kenapa aku merasa sangat lelah ya? Seakan energiku terserap habis oleh sesuatu. Kakiku mendadak lemas, kepalaku serasa berputar-putar, dan mataku berkunang-kunang. Magni menyadari kejanggalan pada diriku. Dia ingin segera membantuku, namun aku sudah keburu jatuh tak berdaya. Suara panggilan panik Rillia serta seruan keras Magni dapat kudengar sebelum semuanya menghilang dan kegelapan datang berikutnya.
[ Aku sudah menepati janjiku dan kini saatnya kau membayar. Jangan pernah menyesal dengan keputusan yang kau buat. Kau yang memintaku melakukan ini maka aku pun bersedia melakukannya. Tetapi untuk diriku sendiri. Ngomong-omong terima kasih atas makan malamnya. Sungguh lezat. Kini saatnya aku untuk tidur. Jika kau perlu bantuanku lagi, maka dengan senang hati aku akan membantumu. Selamat malam dan selamat mimpi indah. Reyhanaf sang Putra Miracle. ]
Bersambung....