Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 21 : Perjalanan ke kerajaan atas langit.



Reyhanaf Pov.


    


"~Walau makan susah,


Walau hidup susah,


Walau 'tuk senyumpun susah.


Rasa syukur ini karena bersamamu juga susah dilupakan,


Oh ku bahagia~"


    


Dewi Lignum seketika bertepuk tangan sembari tersenyum manis sesaat setelah aku selesai menyanyikan laguku.


"Hebat! kau ternyata jago bernyanyi, Rey-chan." Katanya memujiku.


Aku seketika tersipu malu dan meletakkan ukuleleku di samping dengan kagok. "T-tidak, itu bukan apa-apa. Suaraku tidak mungkin sebagus itu." Ucapku.


"Tidak, sungguh. Suaramu sangat merdu. Bahkan Dewa musik tidak bisa menandingimu." Pujinya.


Aku hanya tersenyum menanggapi sang Dewi. Itu cukup beresiko membandingkan aku yang hanya seorang manusia ( kurasa ) dengan seorang Dewa Musik. Yah, semoga saja dia tidak mengambil bakat bermusikku ketika mendengarnya.


"Omong-omong...," aku mencoba mengalihkan pembicaraan, "sudah sampai mana kita?"


Dewi Lignum memandang ke depan dan menyipitkan matanya. Sedetik kemudian dia menghela nafas. "Sepertinya tujuan kita masih jauh. Kau tahu'kan Rey-chan, tanpa seorang penduduk dari Kerajaan tersebut, sangat mustahil mencapai tujuan dalam waktu singkat. Setidaknya perjalanan ini membutuhkan waktu sekitar 3 hari, jadi kurasa masih lama untuk kita bisa sampai ke sana."


Aku yang gantian menghela nafas. "Jika saja aku bisa menggunakan kekuatan teleportasi instan, pasti akan lebih mudah bagiku untuk menjangkau kerajaannya."


"Aku kan sudah bilang kalau itu mustahil." Tiba-tiba saja Rillia keluar dari dalam anjungan kapal. Dia lalu melompat ke atas atap anjungan kapal, tempat dimana kami duduk bersama. "Tempat itu dilindungi oleh semacam medan energi aneh yang mempunyai kemampuan untuk membelokkan semua jenis sihir. Selain itu lokasi kerajaan Skyriel tersembunyi dari dunia luar. Tempat itu juga selalu berpindah-pindah mengikuti arah angin. Persis seperti awan pada umumnya. Karena itulah sangat sulit menemukan kerajaan itu jika bukan mereka sendiri yang mengundang kita." Jelasnya.


Aku kembali menghela nafas. Mendengar itu hanya membuat perasaan lelah dan bosan yang telah hilang langsung kembali muncul ke permukaan. Tapi mau bagaimana lagi? Apa yang dikatakan Rillia memang ada benarnya. Buktinya aku sudah beberapa kali mengambil kesempatan dengan mencoba peruntunganku melalui teleport, namun tetap saja aku gagal melakukannya. Padahal aku yakin aku sudah menggunakan kekuatan Rege secara maksimal. Sebenarnya sihir macam apa yang mereka gunakan hingga kekuatan dari seorang Prime seperti Rege tidak bisa menembusnya? Apakah itu sihir murni, atau karena artefak-artefak sihir kuno? Entahlah, aku masih belum bisa menjawab pertanyaan itu. Sepertinya, untuk sementara waktu jawaban itu masih menjadi misteri hingga nanti semua itu terjawab saat kami telah sampai di tempat tujuan.


Di atas kapal terbang modern buatan AI-Sys ini, kami tengah melakukan perjalanan menuju kerajaan ras Elf Langit bernama Skyriel. Perjalanan ini sendiri adalah sebuah misi yang diberikan oleh Dewi Naturae padaku saat aku dalam keadaan koma. Kami harus berhasil membujuk ketiga Ras Elf yang tersisa guna membentuk aliansi demi melawan kekejaman Eam, Seorang Prime yang menyamar menjadi pemimpin Prime terdahulu dan berencana untuk menggulingkan kekuasaan Tuhan serta menjadikan seluruh alam semesta sebagai miliknya. Aku sebenarnya sangat malas melakukannya. Tetapi berkat desakan para petinggi dan tetua kerajaan, beserta juga desakan tambahan dari Rillia dan Dewi Lignum, aku akhirnya ( dengan sangat terpaksa ) mau melakukan perjalanan ini.


Kami memilih Skyriel bukan tanpa alasan. Skyriel dipilih karena Rajanya terkenal bijaksana dan mudah diajak bicara. Jadi kemungkinan kami akan terlibat dengan pertarungan sangatlah kecil. Tetapi aku juga harus tetap siaga. Bisa saja perawakan Sang Raja seperti yang baru saja aku gambarkan, namun di dalam hatinya tersimpan jiwa seorang maniak yang suka bertarung. Memang sifat asli seseorang tidak ada yang tahu tapi tidak ada salahnya kan bersiap? Ingat kata pepatah, sedia payung sebelum hujan. Apapun itu bersiaplah kapanpun sebelum terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Mataku lalu beralih memandang ke langit luas yang cerah dan tak berawan. Semilir angin yang datang dari barat menerpa wajahku dengan lembut. Ditambah dengan siulan merdu dari burung-burung yang terbang di samping kami membuat tubuhku terasa semakin rileks. Ah, ini adalah waktu yang bagus untuk bersantai sejenak dan melepas penat dari segala kesibukan. Sedari dulu aku sudah menunggu momen-momen seperti ini. Dan kalau kupikir-pikir lagi, aku tidak merasa keberatan jika memang harus menunggu selama 3 hari kedepan. Maksudku lihatlah sisi baiknya sekarang. Setidaknya aku bisa menikmati waktu bersantai yang selama ini kudiam-idamkan. Contohnya ya seperti saat ini. Apalagi yang tidak lebih bagus dari itu?Langsung saja, tanpa menunggu lama lagi aku segera menjatuhkan diri kebelakang dan tidur terlentang menghadap langit. Kedua tanganku menopang bagian belakang kepalaku dan menjadikannya sebagai sebuah bantal. Dewi Lignum serta Putri Rillia yang melihat tingkahku hanya menghela nafas kecil dan tersenyum. Mungkin mereka mengerti kelelahanku dan memakluminya. Karena faktanya aku memang sudah lelah baik itu secara fisik maupun mental.


Kalian tahu'kan jadwalku sebagai seorang Raja sangatlah padat. Banyak yang harus kukerjakan demi membuat kerajaan yang kupimpin ini sejahtera. Aku harus melakukan inilah, aku harus melakukan itulah, pokoknya banyak sekali sampai aku merasa gumoh karenanya. Ternyata menjadi Raja dari Kerajaan Modern tidak semudah membalikan telapak tangan. Ini terbukti dari hari-hari yang kujalani setiap harinya. Semua terasa sangat panjang nan melelahkan. Hampir tidak ada waktu untuk beristirahat karena aku harus disibukkan dengan berbagai dokumen dan tugas kenegaraan lainnya.


Aku kembali menghela nafas untuk yang kesekian kalinya. Jika membicarakan tentang Raja, pikiranku langsung membawaku kembali ke hari itu. Ini sudah tepat sebulan sejak aku dilantik menjadi Raja baru dari kerajaan Neo-Moudha. Di atas balkon istana, di halaman yang terbentang luas di bawah, suara riuh dari orang-orang yang menyoraki dan mengelu-elukan namaku masih terekam dengan jelas di dalam benakku. Namun, kebisingan itu segera mereda saat Rillia mulai mengumumkan dan memperkenalkanku sebagai Raja baru dari kerajaan Neo-Moudha. Mereka secara serempak bersimpuh hormat padaku. Tidak terkecuali Putri Rillia, Magni, AI-Sys, seluruh petinggi dan tetua kerajaan, dan bahkan seorang Dewi seperti Lignum. Perlakuan mereka ini membuat aku berada di tengah dilema besar. Di satu sisi aku tidak ingin mengecewakan teman-teman serta para penduduk Moudha, tapi di sisi lain aku merasa keberatan dengan semua ini. Mungkin kalian bertanya kenapa aku dengan entengnya mau menerima jabatan tersebut jika aku sendiri masih saja mengeluh dan terus mengeluh. Yah, kalau begitu jangan bertanya padaku. Tanyakan pada orang yang baru saja keluar dari anjungan kapal. Dia yang membuatku ( walau dengan sangat terpaksa ) menerima semua tanggung jawab ini.


Lalu kenapa tidak protes? Siapa bilang? Tentu saja aku protes. Tidak mungkin aku tidak memprotes keputusan sepihak ini. Sedari awal aku memang tidak setuju dengan penyerahan kekuasaan ini. Walau hal ini membuat Quest-ku selesai, tapi tetap saja aku tidak bisa menerimanya. Jawabannya mudah, aku belum siap. Bagaimana aku bisa siap? Dalam sejarah aku hidup di sini dan di duniaku dulu, tidak pernah aku mengikuti yang namanya kegiatan kelompok manapun. Entah itu dalam sebuah organisasi besar atau kelompok kecil di sekolah ( yang ini true story. Sejak aku SD sampai SMA, aku adalah orang yang paling tidak beruntung kalau guruku sudah memberikan sebuah tugas kelompok. Satu-satunya cara agar aku mendapat kelompok adalah berdiam diri sembari menunggu ada kelompok lain yang kekurangan anggotanya. Kalau aku masih tidak mendapat kelompok juga? Ya pasrah saja dan berdoa agar guruku mengalami amnesia esoknya ). Jika itu semua saja tidak pernah kulakukan apalagi menjadi seorang pemimpin?


Kalau aku boleh berpendapat, seharusnya Rillia lah yang lebih cocok menjadi seorang Raja ( lebih tepatnya Ratu sih ). Dia adalah seorang Putri dan merupakan keturunan langsung dari Raja sebelumnya, sudah pasti dia adalah kandidat cocok untuk mengambil posisi tersebut. Namun ketika aku membicangkan ini dengannya, Rillia malah tetap bersikukuh untuk menjadikanku Raja yang selanjutnya. Hal ini semakin diperparah dengan adanya dukungan dari para petinggi dan tetua kerajaan. Selain itu Dewi Lignum juga menyetujui usulan sang adik. Kalau sudah begini maka 1/1.999.999. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku. Impian yang telah kususun dengan sempurna harus kandas tatkala aku harus mau disibukkan dengan pekerjaanku sebagai seorang Raja. Kapan aku bisa hidup dalam kedamaian? Entahlah, jawaban itu hanya Tuhan yang tahu.


Mataku yang sempat tertutup lalu membuka dan memandang kembali langit cerah itu. "Hidup damai ya?" Aku tertawa kecil dan bangun dari tidurku. "Suatu hari nanti aku pasti akan mendapatkannya."


Dewi Lignum yang keheranan memandangku bingung. "Mendapatkan apa, Rey-chan?"


"Ah? Tidak. Aku hanya berkhayal saja. Tidak usah dipikirkan." Kataku.


Sang Dewi ikut bangun dan duduk di sampingku. Wajahnya mendadak berubah murung. "Apa kau masih merasa keberatan soal "itu"?"


Aku meliriknya. "Soal apa?"


"Masa kau tidak tau, "Yang Mulia"?"


Aku memandangnya jengkel. "Menurutmu?"


Melihat tatapanku membuat Sang Dewi cukup kaget. Kepala Sang Dewi kemudian menunduk seakan telah melakukan kesalahan berat. Sebenarnya aku tidak ingin menunjukkan ekspresi itu. Tetapi mungkin karena terlanjur jengkel akibat mengingat kembali kenangan menyebalkan, aku jadi tak sengaja menunjukkan ekspresi itu padanya. Dia terdiam cukup lama sampai akhirnya dia mendekatkan dirinya padaku. Tangannya melingkari lenganku dan memeluknya erat. Aku yang sedikit terkejut memandang wajahnya yang disembunyikan di dalam bayangan.


"Kau masih marah ya, Rey-chan?" Tanyanya manja.


Aku menghembuskan nafas panjang. Lagi-lagi dia mengeluarkan jurus andalannya. Sifat inilah yang paling aku benci dari Dewi Lignum. Sifat manjanya itu membuatku tidak punya pilihan selain memafkannya. Dia terlalu manis untuk dibenci.


"T-tidak. Aku tidak marah." Kataku cepat.


Muka Sang Dewi yang tadi tersembunyi di dalam bayang-bayang, kembali berseri dan menunjukkan senyumnya. "Sungguh, kau tidak marah?"


"Iya, aku tidak marah. Jadi, bisakah kau melepaskan pelukanmu? "itu"mu menekan lenganku." Ujarku dengan wajah merah sambil menunjuk dadanya.


Sang Dewi melihat ke arah yang kutunjuk dan tersenyum nakal. "Oh... Kau nakal ya Rey-chan." Katanya. Dia lalu mendekatkan mulutnya ke telingaku. "Jika kau mau ini lepas, maka kau harus mengelus kepalaku."


"Err... Baiklah. Tapi ingat, setelah aku mengelus kepalamu, kau lepaskan pelukanmu, oke?"


Dia menangguk kecil sembari tersenyum manis.


Aku menelan ludah dan mulai mengangkat tangan kiriku ( saat ini aku tidak bisa menggerakan tangan kananku lantaran dipeluk oleh sang Dewi ). Dengan lembut aku segera mengelus kepala Sang Dewi. Aku bisa merasakan kelembutan dan kehalusan rambut cokelatnya yang wangi. Selagi aku mengelus kepalanya, dia tertawa kecil dan semakin mempererat pelukannya. Ini membuat dadanya juga semakin menempel dengan sangat erat di lengan kananku. Aku bahkan sampai gemetaran karenanya ( maklum efek jomblo dari lahir jadi sekalinya di kasih yang enak, langsung bingung dan panik ).


"Rey-chan, Rey-chan! Aku suka, aku suka Rey-chan! Aku tidak akan pernah melepaskan Rey-chan." Kata Sang Dewi senang.


"D-Dewi!? Bukankah kau sudah berjanji?"


"Enggak, aku enggak akan ngelepasin Rey-chan!"


Serius? Apa semua Dewi seperti ini? Dia bahkan lebih agresif daripada saat pertama kami bertemu. Sebenarnya aku sendiri juga tidak keberatan sama sekali. Lelaki mana sih yang tidak ingin di posisiku? Tapi ada hal lain yang membuatku harus cepat-cepat melepaskan pelukan Dewi Lignum dari lenganku. Dari arah belakangku, Rillia memandangku dengan tatapan kosong. Sial, aku lupa dia masih ada di sini. Di tambah tatapannya yang berubah dingin dan menusuk. Jika dideskripsikan, tatapannya itu bagai pisau yang menghujam punggungku bertubi-tubi.


"D-Dewi, bisakah kau lepaskan sekarang? Ini bisa menjadi buruk."


Si Dewi pohon tetap bersikukuh. Dia menolak untuk melepaskan pelukannya pada lenganku. Aku juga tidak bisa mendorong Dewi Lignum keras. Aku ini orang yang tidak bisa menyakiti wanita. Apalagi dia adalah seorang Dewi. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah mendorongnya perlahan.


"D-Dewi, kumohon lepaskan pelukanmu. Di belakang ada--" Ucapanku langsung terhenti saat jari telunjuk Sang Dewi menyentuh bibirku.


"Jangan pedulikan dia." Katanya. "Lebih baik kita segera nikmati momen ini. Aku tahu kau sangat lelah, jadi lebih baik sekaran--Ugh!"


"Sekarang apa?" Rillia memotong ucapan Sang Dewi dengan mencengkram kepala Kakaknya kuat hingga Dewi Lignum berteriak. Kupingku menangkap bunyi ber'krak yang janggal pada kepala Dewi Lignum.


"Gyaaaah, Kepalaku! Adudududuh!!!"


"Kakak sudah berani ya melakukan itu di depanku." Ucap Sang Putri dingin. "Daripada melakukan maksiat, lebih baik sekarang ayo bantu aku. Ada yang lebih penting yang harus Kakak kerjakan selain menggoda yang mulia Raja." Katanya lagi sembari memperkuat cengkraman tangannya pada kepala Sang Dewi.


"Rillia! Rillia! Kepala Kakak! Kepala Kakak! Kepala Kakak bakal retak!"


"Tuan Rey, aku akan mengurus beberapa "hal" dulu. Aku akan kembali sebentar lagi. Jika kau melihat utusan Kerajaan Skyriel, beritahu aku segera."


"I-iya, aku mengerti." Ucapku gagap. Namun seketika aku tersentak. "Tunggu, utusan? utusan apa?"


Rillia menghela nafas. "Jangan bilang kau lupa. Bukankah aku sudah pernah bilang padamu, aku telah menghubungi Skyriel untuk melakukan kunjungan. Kabar baiknya mereka setuju dan mengirimkan seorang utusan yang akan membawa kita langsung ke Skyriel. Jika tidak, perjalanan ini akan memakan waktu lama dari yang kita bayangkan." Jelasnya.


"Oh begitu... baiklah, aku akan memanggilmu jika aku melihatnya."


Rillia membungkuk, "kalau begitu saya pamit, Yang mulia Reyhanaf."


"A-ah, iya."


"Rillia!! Kakak mohon lepaskan cengkramanmu! Kepalaku, kepalaku bisa hancur! B-bagaimana kalau begini. N-nanti aku akan biarkan kau tidur di kamar Rey-chan malam nanti. Kau bilang kau sangat ingin tidur dengannya, kan? Kau juga bilang bahwa kau su---GYAAAAA!!!"


"Jangan mengatakan yang aneh-aneh. Ayo pergi." Kata Rillia ketus sembari menekan cengkraman tangannya pada tengkorak Dewi Lignum semakin kuat. Dia tidak memperdulikan Kakaknya yang berteriak dengan keras. Rillia lalu segera menyeret Sang Kakak menuju anjungan kapal. Aku yang melihat itu jadi teringat ketika Rillia menyeret Kakaknya di dalam istana. Tapi bedanya kali ini dia menyeret Dewi Lignum dengan mencengkram kepalanya. Kedua orang itu lalu menghilang di balik pintu anjungan dengan suara lenguhan panjang Dewi Lignum yang segera sirna dan berubah menjadi keheningan.


Aku menyaksikan pemandangan itu dalam diam. Rillia benar-benar sangat menakutkan jika sudah marah. Aku harus ingat untuk tidak membuatnya marah di lain waktu. Pandanganku segera beralih kembali ke arah depan. Aku berusaha untuk kembali ke dalam duniaku sendiri. Mencoba merasakan kembali keheningan yang sempat terganggu untuk beberapa saat. Tapi nampaknya itu tidak mudah karena setelah lewat beberapa detik, Magni muncul dari dalam pintu yang langsung terhubung dengan lambung kapal dan mulai memanggilku.


"Tuan Reyhanaf, anda baik-baik saja? Hamba sempat mendengar suara teriakan yang lumayan keras yang berasal dari tempat anda. Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Naga itu.


"Eh? Tidak ada yang terjadi. Mungkin itu hanya imajinasimu saja." Kataku melihat arah lain.


"Ooh... Begitu." Magni mengangguk mengerti. "Oh ya ngomong-ngomong di mana Dewi Lignum? Bukankah dia tadi bersama anda?"


"Err... Dia tadi dipanggil Putri Rillia. Katanya ada masalah penting." Kataku bohong.


Namun ketika Magni ingin berlalu, tiba-tiba saja aku terpikirkan sesuatu. Memang aku pernah bilang jika aku membutuhkan keheningan, akan tetapi di samping itu aku juga sedang membutuhkan seorang teman curhat. Suasana hatiku saat ini sedang tidak bagus. Ada yang mengganjal di sana dan aku ingin mengeluarkannya sesegera mungkin. Magni bisa menjadi pilihan bagus. Aku bisa meminta nasihat darinya perihal posisiku sebagai Raja. Lagipula dia kan juga pernah menjadi Raja. Barangkali dia bisa sedikit memberi tips untuk seorang pemimpin pemula. Tanpa basa basi lagi aku segera memanggil Magni.


"Tunggu!" Ucapku tiba-tiba. Magni yang mendengar seruan ku segera berhenti dan berbalik menatapku. "Temani aku sebentar. Ada yang ingin aku bicarakan." Kataku lagi.


Magni mengangguk. Dia menutup pintu itu terlebih dahulu dan langsung melompat tinggi ke atap anjungan kapal. Dia lalu duduk di sebelahku dan mulai bersiap mendengarkan.


"Apa yang ingin anda bicarakan?" Tanyanya. "Apa ada kaitannya dengan statusmu sebagai Raja?"


Wow dia pintar dalam membaca maksudku. Atau memang sudah ketahuan ya dari raut wajahku? Entahlah, tapi yang terpenting kita sudah mendapatkan poinnya di sini. Aku lalu mengangguk membenarkan pertanyaannya.


"Jadi bagaimana menurutmu?"


Magni mengelus dagunya berpikir. "Mungkin lebih baik anda jalani saja dulu."


"Tapi aku tidak tahu bagaimana caranya menjalankan kerajaan."


"Anda tidak perlu memikirkan tentang bagaimana anda menjalankan kerajaan itu. Yang perlu anda pikirkan adalah bagaimana caranya hidup di kerajaan itu. Jika anda sudah tahu caranya hidup di kerajaan itu, maka anda tidak akan mendapat masalah dalam menjalankan kerajaan itu."


Aku menggaruk kepalaku bingung. "Maksudnya?"


"Berbaurlah dengan masyarakat dan terjun langsung ke dalamnya. Posisikan diri anda sebagai seorang rakyat selain sebagai Raja. Dengarkan dengan bijak permasalahan yang mereka miliki dan segeralah selesaikan masalah mereka dengan keputusan yang tepat. Kadang kita harus tahu kebutuhan apa yang mereka butuhkan bukan kemauan apa yang mereka inginkan. Itulah yang disebut hidup di kerajaan anda." Tutur Magni.


"Tapi itu tetap saja tidak membuat beban yang kutanggung hilang." Kataku.


"Menjadi pemimpin memang berat. Apalagi Raja seperti anda. Tapi menjadi Raja juga bukan alasan Tuan untuk takut. Tuan tidak perlu risau. Pemimpin itu ada karena rakyat yang percaya padanya. Sama halnya dengan kami semua yang juga percaya pada anda, Tuan. Karena itu kami memilih Tuan sebagai pemimpin kami. Jika beban yang Tuan katakan itu memang berat, Tuan punya teman-teman yang siap menolong. Hamba, Rillia, Dewi Lignum, AI-Sys, dan seluruh masyarakat Neo-Moudha. Kami semua akan terus ada di sisi Tuan, karena itu kau tidak perlu takut lagi pada beban itu. Seperti yang Tuan bilang sebelumnya. Kita bersama-sama melewati ini. Tidak peduli apapun yang terjadi, kami akan selalu mengikuti Tuan. Karena Tuan Reyhanaf, adalah penyelamat kami dan juga Raja sejati kami."


Mendengar itu membuat mulutku tak bisa berkata-kata lagi. Aku tak menyangka Magni bisa berbicara sedalam itu. Kukira dia hanya naga besar pemarah. Tapi sepertinya kebijaksanaannya sebagai Dewa masih ada, walau kini dia tidak lagi menyandang gelar tersebut. Aku tersenyum kecil. Magni benar, aku masih punya teman-teman disisiku. Teman-teman yang siap menolong kapanpun aku meminta bantuan. Aku tidak lagi sendiri. Tidak seperti ketika aku masih di duniaku. Terisolasi di dalam kamar bagaikan seorang pasien berpenyakit menular yang sedang dikarantina. Dan saat kesempatan untuk lolos dari jurang tanpa dasar itu muncul, hidupku malah berakhir karena serangan bom bunuh diri.


Tetapi aku bersyukur dapat kesempatan kedua. Aku berterima kasih kepada Tuhan yang telah memberiku kesempatan ini. Jika bukan karena-Nya, aku pasti tidak bisa menebus penyesalanku selama aku hidup di duniaku yang dulu ( bukan maksudku tak hormat pada Ayah. Aku tahu dia yang telah mengambil jiwaku dan mengirimku ke dunia baru ini. Namun, jika tanpa izin dari-Nya, aku tetap tidak bisa mendapat kesempatan itu ).


Aku menghembuskan nafas lega. Aku tidak tahu kenapa, tapi beban yang sebelumnya kurasakan mendadak hilang begitu saja. Seakan-akan beban itu memang tidak pernah ada di sana. Hatiku terasa ringan. Sepertinya pilihan untuk curhat pada Magni adalah pilihan yang tepat. Dengan begini, kekesalan yang aku rasakan sejak sebulan lalu sudah agak berkurang. Aku akan berusaha sebaik mungkin untuk membangun kerajaanku. Karena dibalik itu semua, ada orang-orang yang percaya padaku. Orang-orang yang ingin aku lindungi senyumnya sampai aku tiada nanti. Yah, mengenai soal impianku tadi, kurasa akan mengikuti seiring berjalannya waktu. Jadi kenapa harus terburu-buru?


"Oh ya, ngomong-ngomong apa AI-Sys baik-baik saja? Aku meninggalkan dia sendirian di kerajaan. Kuharap itu tak membuatnya kerepotan." Kataku memulai obrolan lain. Entah kenapa aku mendadak teringat Android kecil itu. Aku sengaja meninggalkan dia di sana agar bisa menggantikan posisiku sebagai Raja. Bukan untuk selamanya, tapi hanya sementara selama aku sedang pergi menjalankan misi.


"Tuan bercanda? Dia adalah ciptaan langsung Dewa Miracle. Tidak mungkin dia bisa kerepotan. Selain itu walau hamba benci mengatakan ini tapi dia itu lumayan kuat. Ditambah dia juga sangat pintar. Dengan kedua bakat itu, dia pasti bisa mengurus Neo-Moudha sendirian. Tuan Reyhanaf tenang saja." Kata Magni.


"Yeah, kau ada benarnya. Tapi aku cukup terkejut saat tahu dia bisa keluar dari dalam kepalaku dan ada di sini bersama kita."


"Bukankah Tuan sudah menanyakannya bagaimana dia bisa ada di sini?"


"Ya, katanya dia merasa terganggu dengan Rege. Karena itu dia keluar dari dalam kepalaku dan memilih untuk mengawasiku secara langsung."


"Heh aneh ya?" Ujar Magni sambil terkekeh. Namun sesaat kemudian dia tiba-tiba terdiam dan berhenti terkekeh. "Tunggu, Rege itu siapa?"


Aku tersentak. Aku lupa jika Magni belum mengetahui si Rege ini. Aku memang berniat untuk merahasiakannya. Aku tidak ingin semua orang tahu jika ada makhluk dengan kekuatan murni tak terbatas yang bersemayam di dalam tubuhku ini. Kalaupun aku ingin memberitahu, harus diwaktu yang tepat. Saat ini bukanlah waktu yang tepat mengingat suasana sedang tenang-tenangnya. Aku tidak ingin merusak momen ini dengan cecaran berbagai pertanyaan yang mungkin akan ditanyakan Magni sekaligus. Bisa-bisa aku akan muntah karenanya.


"Err... Err... d-dia... d-dia...." Ayolah otak, pikirkan sesuatu.


"Dia?" Tanya Magni lagi.


"Err... dia... dia... dia adalah kepribadianku yang lain!" Ucapku spontan. Hanya ini yang bisa kupikirkan. Aku tak bisa memikirkan hal lain lagi. Sebenarnya aku hampir menjawab monster khayalan sampai ku berpikir jika itu terlalu kekanak-kanakan. Selain itu monster khayalan adalah sesuatu, yah bisa dibilang sangat tidak masuk akal. Magni pasti langsung menyadari jika aku berbohong andaikan saja aku menjawab itu.


[ Keperibadian lain? Yang benar saja. Apa hanya itu ide yang bisa kau pikiran? ]


Rege tiba-tiba berkomentar tanpa diminta.


"Berisik! Memangnya kau punya ide yang lebih baik?" Kataku geram dalam hati.


[ Bukan urusanku! Tapi berharap saja semoga naga bodoh itu bisa tertipu. ]


Aku hanya bisa berdecak marah mendengar ucapan Rege. Mataku lalu memandang Magni yang masih terdiam. Dia memperhatikanku dengan tajam. Sesaat kupikir jika aku ketahuan, namun mendadak dengan keras dia tertawa. Sontak saja aku menjadi bingung.


"Ternyata seperti itu. Hamba mengerti. Apa keperibadian lain Tuan itu mempunyai sifat seorang pengganggu?"


"SANGAT!" Aku menekankan ucapanku untuk menyinggung seseorang. Dan sepertinya aku berhasil. Karena dalam beberapa detik setelahnya, orang itu membalas perkataanku.


[ Hei, kenapa kau menekankan ucapanmu itu? Apa kau mau bilang jika aku ini seorang pengganggu? ]


Rege mendadak protes. Tetapi aku memilih untuk tidak memperdulikannya.


Magni lalu kembali tertawa. "Hahaha, sekarang hamba mengerti. Tidak heran jika gadis sekuat AI-Sys bisa terganggu dan memilih keluar dari kepala anda Tuan. Ternyata itu penyebabnya." Ujarnya.


Kami lalu tertawa bersama di atas anjungan kapal ini. Aku sebenarnya tidak ingin tertawa. Namun untuk menyembunyikan kebohonganku, aku harus melakukannya. Dalam hati aku bernafas lega. Syukurlah Magni mempercayai kata-kataku. Tidak kusangka alasan itu bisa membuatnya percaya dengan mudah. Tetapi, di samping hatiku yang terasa lega, ada perasaan bersalah yang mengganjal di sana. Mungkin ini karena aku sudah mengkhianati kepercayaan Magni dengan membohonginya. Yah, mau bagaimana lagi, aku terpaksa melakukannya. Aku tidak ingin dia tahu tentang makhluk yang bersemayam di dalam tubuhku ini. Aku tidak ingin membuatnya khawatir. Apalagi fakta jika nanti makhluk ini adalah penyebab utama kematianku. Kuharap suatu saat nanti, ketika aku menemukan waktu yang tepat untuk menceritakan kebenarannya, Magni tidak membenciku.


"Bicara tentang AI-Sys, apa anda tahu 2 orang penyusup yang menyerang Neo-Moudha?" Magni tiba-tiba bertanya padaku. Aku yang sempat melamun langsung tersadar dan menatap ke arahnya.


"Yeah, dia pernah membicarakan itu. Aku tidak tahu motif dan tujuan mereka. AI-Sys tidak menceritakannya secara detail. Tetapi, dari yang bisa aku tangkap dari ceritanya, kurasa mereka mencari sesuatu."


"Mencari apa?" Tanya Magni.


"Aku belum tahu pasti, namun aku mempunyai firasat jika mereka berdua tidak datang ke kerajaan kita sebagai tamu."


"Apa jangan-jangan mereka adalah anggota Rex ad Inferos?" Magni bertanya lagi.


"Bisa jadi. Karena itu aku segera meningkatkan keamanan begitu AI-Sys menceritakan kejadian tersebut padaku. Bagaimanapun juga keamanan para penduduk adalah yang utama. Kejadian penyerangan Varna bulan lalu tidak boleh sampai terluang lagi. Sebisa mungkin kita harus merahasiakan ini dari masyarakat terlebih dahulu. Jika kejadian itu sampai bocor ke telinga penduduk kerajaan, bisa-bisa akan terjadi kepanikan massal. Mengingat apa yang pernah menimpa mereka beberapa waktu lalu, pasti rasa trauma itu masih ada. Untuk sekarang aku akan mencoba mencari tahu asal dan tujuan mereka. Mustahil mereka hanya mencari sesuatu dan jikapun itu memang benar, bukan tidak mungkin kalau mereka juga akan menyerang? Namun aku belum bisa memastikan itu." Tuturku sambil mengelus dagu.


Mataku lalu beralih memandang Magni. "Setelah perjalanan ini berakhir, aku ingin kita adakan rapat darurat. Kita tidak bisa lagi mentolerir setiap kejadian kecil. Kita juga akan mengajak ketiga Raja Elf sekaligus. Itupun kalau perjalanan ini lancar. Tapi semoga saja begitu." Kataku lagi.


Magni lalu mengangguk dan menempelkan satu tangan di dada. "Hamba mengerti." Ucapnya.


Aku menggigit ibu jariku. Tidak kusangka akan secepat ini. Jika bukan karena AI-Sys, mereka pasti sudah menyusup ke dalam kerajaan. Aku harus lebih waspada lagi. Tidak akan kubiarkan mereka menyerang kembali. Apapun yang terjadi, sebagai seorang Raja, aku bersumpah akan melindungi rakyatku dari segala ancaman. Meski ancaman itu datang dari Dewa sekalipun aku tetap tak peduli. Yang terpenting bagiku sekarang adalah menjaga agar rakyatku tetap aman. Bukankah memang seperti itu yang harus dilakukan oleh seorang Raja?


Aku dan Magni kembali melanjutkan pembicaraan serius mengenai kedua penyusup tersebut. Semua biasa saja. Tidak ada yang aneh dan hanya sebuah pembicaraan biasa. Akan tetapi semua berubah saat sebuah objek terbang aneh terlintas di mataku. Bukan cuma aku, Magni juga melihatnya. Ini membuat debat yang sedang kami lakukan harus dihentikan sementara. Dengan cepat aku segera berdiri dan menyipitkan mataku untuk melihatnya lebih jelas. Tidak terkecuali Magni yang juga melakukan hal yang sama.


"Apa itu?" Tanyaku pada Magni.


"Entahlah." Ucap Magni singkat. "Jika dilihat lagi dia sepertinya seorang manusia." Katanya.


"Apanya yang manusia? Sudah jelas dia mempunyai sayap. Tentu saja dia bukan manusia." Ujarku


"Yah, anda benar juga. Tidak mungkin manusia miliki dua pasang sayap capung di punggungnya. Selain itu dia juga mengenakan zirah dan menggenggam sebuah tombak emas. Hamba bisa menyimpulkan, jika dilihat dari ciri-cirinya, kemungkinan dia adalah seorang Elf." Jelas Magni.


"Elf? Apa yang dilakukan seorang Elf di sana? Terlebih lagi dia kelihatan kebingungan." Kataku. Memang benar dia seperti orang yang tidak tahu arah. Beberapa kali aku lihat Elf itu terbang ke sana kemari tanpa tahu tujuan. Gerak geriknya ini membuatku curiga. Apa dia sedang mencari sesuatu, ya?


Saat aku sedang berpikir keras, tiba-tiba saja Rillia keluar dari anjungan kapal dan datang terburu-buru. Dia kembali melompat ke tempat aku dan Magni berada. Dengan nafas yang terengah-engah, dia memegang kedua pundakku. Ini membuat aku dan Magni menjadi kebingungan.


"Kau kenapa Rillia? Kenapa terburu-buru begitu?" Tanyaku.


"Yang mulia... Cepat masuk ke dalam! Ini darurat!" Kata wanita itu cepat.


Mendengar kata "Yang mulia" membuat mood-ku mendadak turun. Walau aku ini Raja, tapi aku lebih memilih dipanggil seperti biasa. Aku tidak suka dipanggil seperti itu. Apalagi untuk Rillia. Saat wanita itu memanggilku dengan sebutan Yang Mulia, aku seperti merasa bersalah padanya karena telah mengambil alih kedudukan dan haknya.


"Oke pertama, tenang dulu. Dan kedua, bisakah kau berhenti memanggilku seperti itu? jujur saja aku tidak terlalu suka." Kataku.


Rillia lalu menghela nafas. "Baiklah Rey, aku akan berhenti. Tapi kau harus ke dalam kabin sekarang juga."


"Iya, aku mengerti. Tapi coba kau jelaskan dulu ada apa?"


Rillia seperti orang gelagapan. Aku tidak mengerti kenapa dia seperti itu. Tapi ketika Magni mulai memberi peringatan, aku baru menyadari apa yang sebenarnya terjadi di sini.


"Tuan, tornado yang sangat besar sedang menuju kemari!" Seru Magni memperingatkan.


Aku langsung menoleh dan mendapati sebuah tornado berukuran sangat besar ( jika ku deskripsikan, kapal kami hanya seukuran seekor semut ) mendekat dengan kecepatan angin yang luas biasa. Entah darimana datangnya tornado ini, tapi yang jelas sekarang kami sedang dalam bahaya besar.


Yah, setidaknya untuk awakku. Karena untukku, tornado ini bukanlah apa-apa. Haah... baru kubilang ingin bersantai dulu, tapi masalah mendadak datang. Tidak bisakah Raja ini mendapatkan ketenangan walau hanya sedikit saja? Paling tidak hingga kita sampai ke tempat tujuan. Tapi sepertinya kenyataan tidak pernah sesuai dengan harapan. Buktinya, inilah yang terjadi. Lihat saja, jika ini memang benar ulah seseorang, aku benar-benar akan membuat orang itu menyesal seumur hidupnya!


 


   


Bersambung.....