Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 24 : Senjata menyusahkan dan Sang Called.



[ Ayolah apa tidak bisa lebih cepat? Menunggumu membuatku merasa sangat bosan. ]


"Tutup mulut bisa?! Kau kira aku sedang apa!?" Kataku meradang.


[ Tentu saja aku tahu kau sedang apa. Kau mencoba menggunakan rencana yang lebih efesien agar pacar abadimu tidak khawatir. Tapi sayangnya kau terus menemui jalan buntu saat melakukannya. Sama seperti penulis yang menulis cerita ini. ]


"Kalau sudah tahu makanya cepat bantu aku! Dengan kekuatanmu aku yakin rencana ini akan selesai lebih cepat. Aku tak bisa menggunakan kekuatan pemberian Ayah karena gelombang elektromagnetik itu selalu menghalangi. Jadi satu-satunya harapanku hanyalah kekuatan besarmu itu." Kataku.


[ Lalu kenapa kau tidak menggunakannya? ]


"Jika aku bisa sudah kulakukan dari tadi. Entah kenapa saat aku ingin menggunakan kekuatanmu, aku tidak bisa melakukannya. Seperti kekuatan ini di kunci atau semacamnya." Ungkapku.


[ Karena memang itu yang terjadi. ]


Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu? jangan bilang kalau kau yang mengunci kekuatanmu sendiri."


[ Tepat sekali. ]


Aku terkejut. "Apa?! Kenapa kau lakukan itu!? kita punya kesepakatan ingat? jangan bilang kau mengingkari kesepakatan yang kita buat?"


[ Oh ayolah, berhenti bersikap manja! Aku melakukan itu karena ada alasannya. Apa kau ingin mati lebih cepat? asal kau tahu tubuhmu tidak bisa menampung kekuatan besarku apa kau mengerti!? Saat membangkitkan orang-orang di Moudha, kau saja hampir mati jika bukan karena aku yang berjuang keras memulihkan tubuhmu. Untuk sekarang, lebih baik gunakan rencana awalmu. Itu lebih baik daripada kau mencoba untuk bunuh diri. Misil itu hanyalah mainan anak-anak. Beri dia hal yang diinginkan, maka dia akan mengikutimu. Setelah itu terserah padamu. Sebagai catatanmu, jika ingin memakai kekuatanku gunakan secara bertahap. Ya ampun... jika ini selesai ingatkan aku untuk melatihmu. Jujur, kau harus banyak berlatih nanti. Sudahlah, aku pergi tidur dulu. Jangan ganggu aku kecuali kau mati atau sekarat, paham?! ]


"Tapi kenapa tadi aku baik-baik saja menggunakan kekuatanmu sebelumnya?"


[ Itulah kenapa tadi kubilang kau ingin mati. Apa kau tidak paham juga dasar otak udang! Kau ini masih dalam kondisi pemulihan. Kau sudah menggunakan beberapa kekuatan besarku serta kejadian dengan Varna beberapa waktu Lalu saat aku mengendalikan tubuhmu. Lalu belum lama ini kau dengan entengnya menggunakan kekuatanku sekali, dan lebih menakjubkannya lagi kau menggunakan yang tingkat tinggi. Jika sekali lagi kau gunakan meski yang tingkat rendah, kujamin kita akan segera bertatap muka lagi. Tidak di sini, tapi di neraka. Tempat dimana kau disiksa oleh malaikat dan juga olehku! Dadi, sawise aku nerangake kabeh iki kanggo sampeyan, opo saiki sampeyan wis ngerti, cah bagus? ]


Aku tertunduk. "Ngartos, mbah." Ucapku pelan ( tunggu, apa? ).


[ Bagus. Sekarang gunakan otakmu dan biarkan aku beristirahat! ]


Setelah itu sambunganku dengan Rege pun terputus.


Aku seketika menghela nafas berat. Sepertinya memang tak ada jalan lain. Aku harus menggunakan rencana awalku. Mungkin ini akan membuat mereka berdua khawatir sedikit, tapi cuma ini satu-satunya cara yang bisa kulakukan.


Sial! Punya kekuatan over power namun tak bisa kugunakan secara maksimal. Ini semua karena gelombang itu aku menjadi tak berdaya seperti ini. Gelombang itu sangat aneh. Baru pertama kali aku menjumpai gelombang elektromagnetik seperti ini. Setahuku EMP hanya bekerja pada benda-benda yang bersifat elektronik, namun kali ini gelombang itu juga menyasar pada sihir dan kekuatan murni milik Rege. Walau aku tahu sebenarnya kekuatan Rege bisa saja menghapus misil itu semudah membalikan telapak tangan. Contohnya saja sihir Freezing Time yang belum lama kugunakan. Dia bisa menghentikan laju misil itu tanpa terpengaruh dengan gelombang itu sama sekali. Itu berarti kekuatan Rege bisa dengan mudah menghentikannya.


Akan tetapi saat ini aku tak bisa menggunakannya. Rege menguncinya sehingga aksesku pada kumpulan kekuatan maha besar itu menjadi terputus. Sebenarnya ini juga demi kebaikanku. Aku memang merasa sedikit lelah dan pegal di sekujur badan. Bahkan tanpa kusadari aku sempat mengalami mimisan. Mungkin inilah efek samping dari menggunakan kekuatan Rege secara terus menerus. Tubuhku terlalu lemah untuk bisa mengatasinya. aku harus memperkuat lagi tubuhku agar aku bisa menggunakan kekuatan Rege secara maksimal.


Aku juga tidak bisa menggunakan Mundus untuk saat ini. Kemampuan Anti Penetral Energinya memang berguna untuk melawan gelombang itu, tetapi bukan berarti dia bisa menyerap energi. Ledakan misil itu tidak bisa diprediksi. Aku masih belum tahu sejauh apa efeknya dan kerusakan apa yang bisa ditimbulkannya manakala dia meledak. Karena itu kurasa menyimpan senjata itu untuk sementara adalah hal tepat. Aku tidak ingin mengambil resiko yang bisa membahayakan teman-temanku.


Aku menghela nafas berat. Sepertinya memang tidak ada cara lain lagi. Aku akan menjadi umpan dan memancing misil itu agar menjauh dari kapal sehingga Caelo bisa melakukan tugasnya. Sebenarnya darimana asal gelombang itu? bagaimana cara mereka memanipulasi gelombang EMP menjadi bekerja pada sihir. Mungkin ini bisa menjadi pertanyaan baru yang harus selalu ku simpan. Suatu hari aku akan membuka kembali pertanyaan ini dan menyelidiki asal gelombang tersebut dan juga jet tempur itu. Untuk sekarang, menyelamatkan mereka berdua dan mengantarkannya ke Skyriel dengan aman itu lebih penting. Mereka bisa memperingatkan tentang penyerangan yang akan datang dan mengatur rencana untuk melawan orang-orang ini.


"Magni, kau sudah siap?" Tanyaku melalui telepati.


"Aku siap, Tuan. Pilot dan kendaraan terbang mereka berhasil kuamankan. Sisanya ada padamu." Jawab Magni.


"Bagus. Sekarang terbang sejauh yang kau bisa. Jika misil ini memang bisa meledak, makan ledakan ini tidak akan kecil." Kataku memperingatkan.


"Lalu, anda sendiri bagaimana?"


"Kau jangan khawatir. Aku sudah memprediksi ledakan ini. Meski ada gelombang itu sekalipun, aku tidak akan mati. Aku akan memanggilmu begitu selesai."


"Baik, Berhati-hatilah Tuan." Magni memutus komunikasinya dan kulihat bayangan naga menjauh. Saatnya rencana ini dimulai ( sebagai catatan, aku melakukan semua ini sembari terus mengikuti misil yang terbang dengan kecepatan 300km/jam ).


"Sihir nomor 233 : Super Heat."


Tubuhku seketika mengeluarkan suhu panas yang luar biasa besar. Bahkan hutan yang jaraknya 800 meter di bawahku secara instan terbakar. Misil ini merupakan model yang mempunyai pendeteksi panas dalam rancangannya. Aku bisa tahu karena aku melihatnya ketika aku menggunakan penglihatan tembus pandang untuk mencari alat yang menghantarkan gelombang elektromagnetik. Dengan suhu panas yang aku ciptakan ini, mustahil misil itu menolak untuk mengejarku. Dan benar saja. Secara perlahan, jalur misil melenceng ke arah kanan tepat di mana aku berada. Untuk terus menariknya, aku pelan-pelan terbang menjauh. Sedikit demi sedikit, misil terus melenceng dan semakin melenceng dari jalur. Hingga pada akhirnya misil itu secara penuh melepas target utamanya dan mulai berbalik mengejarku.


Aku menghela nafas lega. Syukurlah rencana ini berjalan sesuai yang aku harapkan. Karena jika tidak aku benar-benar tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Sekarang tinggal menyelesaikan rencana ini.


"Caelo, kau bisa mendengarku?" Kataku kembali melalui telepati.


"Sangat jelas, Tuan Reyhanaf."


"Sekarang berpindahlah!"


"Apa? berpindah? Tunggu, jadi itu tandanya?" Tanya Caelo.


"Memangnya kau mengharapkan apa? ledakan besar? sudah cepat lakukan!"


"B-baik!"


Mataku melihat medan energi berwarna hijau yang mendadak muncul seketika dan mengurung kapal kami. Percikan listrik menjalar ke segala arah. Lama kelamaan, percikan-percikan itu berkumpul pada satu titik ( tepat di depan moncong kapal ) dan menciptakan sebuah sambaran listrik berwarna serupa. Sambaran yang menyasar udara kosong itu menciptakan sebuah portal yang cukup besar. Cukup untuk membuat sebuah kapal sebesar rumah tingkat 3 masuk melewatinya. Ledakan kecil dari percikan listrik hijau yang masih tersisa selepas portal menutup menjadi penanda jika Caelo berhasil melakukannya. Kapal itu telah berpindah, dan ini membuat hatiku seketika merasa lega.


Senyum terlukis di wajahku. Semoga mereka sampai dengan selamat di Skyriel. Sekarang tugasku adalah mengurus misil yang terus mengejarku tanpa henti ini. Tadinya aku bermaksud ingin langsung meledakkannya dengan bola api. Tapi mengingat misil ini bisa menetralisir kekuatan apa saja, maka aku mengurungkannya. Satu-satunya cara agar misil ini berhenti mengejarku adalah dengan membiarkannya mengenaiku sehingga kami meledak bersama.


Namun itu ide buruk karena walau tadi aku bilang tidak akan mati, tapi jika aku terkena secara langsung, maka aku bisa saja mati secara instan. Aku harus memikirkan cara lain yang sedikit aman dan tidak membahayakan nyawaku. Rege tidak akan memaafkanku jika itu benar-benar terjadi. Tapi bagaimana? apa dengan mengecohnya? aku berpikir untuk menabrakkannya dengan benda lain. Seperti gunung di hadapanku itu. Dia tinggi, kokoh, dan kuat. Sangat cocok untuk menjadi sasaran peluru nyasar di belakangku. Namun gunung itu tak mempunyai cukup panas. Aku harus mentransfer panas di tubuhku dengan gunung itu. Dengan begitu misil ini akan berhenti mengejarku dan malah meledakan gunung itu sebagai gantinya.


Memang nasib yang sangat sial. Aku tidak menduga jika apa yang dikatakan oleh Dewi Naturae benar-benar menjadi kenyataan. Tidak kusangka aku akan bertemu secepat ini. Seseorang yang bisa memanipulasi penetral barang elektronik sehingga dia juga bisa menetralkan energi seperti Mana. Terdengar seperti seorang yang menggunakan cheat bagiku ( aku tahu, aku juga termasuk ).


Aku lalu melesat lebih cepat daripada sebelumnya. Mungkin setara dengan kecepatan suara. Aku mengumpulkan energi panas yang menyelimuti tubuhku dan memindahkannya pada kedua tanganku. Untungnya aku berada di area pegunungan, yang mana terdapat banyak pegunungan dengan berbagai jenis dan ukuran. Jadi aku mempunyai sedikit waktu untuk membuat jarak.


Mataku melirik kebelakang dan melihat misil itu. Karena aku menambah kecepatanku, jarak antara aku dan misil itu semakin lama semakin merenggang. Bagus, dengan ini tinggal memilih gunung mana yang akan kujadikan umpan. Aku melihat satu gunung di depanku. Ukurannya tinggi ( namanya juga gunung, ya pasti tinggi ), dia juga kokoh dan terlihat kuat. Sudah keputuskan, gunung itu akan menjadi target umpan. Aku segera memusatkan energi panas yang ada di tanganku dan tanpa berlama-lama lagi langsung menembakkannya ke gunung tersebut.


Blast!


Energi panas itu menabrak gunung itu keras. Seketika suhu panas luar biasa besar menyelimuti seisi gunung hingga lapisan terluar gunung berubah menjadi lava pijar. Aku bermanuver tajam ke kiri cepat untuk menghindar. Kulihat misil tidak memperdulikanku lagi dan tetap melesat lurus menuju gunung itu. Ini berhasil. Sekarang tinggal pergi sejauh mungkin untuk menghindari efek ledakan. Tapi itu tidak semudah kelihatannya. Karena tepat sedetik misil itu berjarak 2 meter dari gunung, lautan cahaya terang membanjiri seluruh area sampai kukira ada matahari kedua.


Aku terbutakan oleh cahaya itu hingga aku kehilangan kontrol pada sihir terbangku dan jatuh bebas ke bawah. Penglihatanku masih berwarna gelap, sampai aku tidak melihat ledakan supermasif yang datang setelahnya. Menelanku dan juga area sekitarnya. Sayup-sayup sempat kudengar suara Magni memanggil hingga suara itu menghilang dan berganti dengan suara keras dari ledakan yang merupakan ledakan terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah dunia ini.


 


  


*****


  


 


Caelo berdiri mematung di depan pintu kamar. Wajahnya terlihat sedih dengan perasaan bersalah yang amat sangat. Ekspresi wajahnya seketika berubah ketika pintu kamar terbuka. Suara berderit dari engsel pintu yang berkarat memecah keheningan. Rillia keluar dari kamar dengan wajah murungnya. Caelo segera menghampiri tunangannya itu dengan ekspresi wajah yang sama dengan Rillia.


"Bagaimana? apa Dewi baik-baik saja?"


Rillia menggeleng perlahan. "Dia baik-baik saja. Tapi dia butuh waktu."


"Rilli, a-aku sungguh sungguh minta maaf. Aku tidak tahu jika kehilangan Tuan Reyhanaf sangat membuatnya terpukul seperti itu. Jika aku tahu begini maka aku akan berusaha menolak rencananya saat itu." Sesal Caelo.


Rillia kembali menggeleng. "Tidak, ini bukan salahmu. Kita tidak punya pilihan lain. Jika rencana ini tidak kita lakukan, maka kita tidak akan pernah sampai ke sini. Kau sudah melakukan tugasmu dengan baik."


"T-tapi...."


"Sudah tidak usah kau pikirkan. Lebih baik kita tinggalkan Kakak sendiri untuk sementara. Kita juga harus memberitahukan ini pada Yang Mulia untuk segera melakukan pertemuan untuk menyusun rencana selanjutnya. Penyerangan tadi mungkin hanya perkenalan. Mereka pasti hanya melakukan percobaan pada serangan itu. Jika kita tidak mengantisipasi ini, sesuatu yang lebih besar akan terjadi." Tutur Rillia.


"Baiklah. Tapi apa menurutmu Yang Mulia Reyhanaf akan baik-baik saja?"


"Apa yang kau bicarakan. Dia adalah orang terkuat yang pernah kutemui. Dia pasti baik-baik saja. Selain itu Tuan Magni bersamanya. Jadi kau tidak perlu khawatir." Rillia menggapai tangan Caelo. "Ayo kita segera keruangan Raja."


Walau terasa berat Caelo mengiyakan ucapan Rillia. Mereka lalu berjalan pergi meninggalkan Dewi Lignum menuju ruangan Raja dan Ratu untuk bertemu dengan Raja Elf Langit Fortis Aggamentu.


Di dalam kamar, Dewi Lignum tidur tertelungkup dengan wajah yang disembunyikan di dalam bantal. Tidak ada suara lain di dalam ruangan itu. Kecuali suara berdesir Sang angin yang mencoba menghibur Sang Dewi dari luar. Tapi tampaknya itu tak berhasil. Sang Dewi masih terdiam di sana tanpa melakukan apapun. Beberapa bunga di ruangan menjadi layu, termasuk sebuah pohon yang ada di luar jendela. Seakan mereka ikut merasakan kesedihan yang di alami Sang Dewi.


"Pembohong...." Ucapnya pilu. "Kenapa kau malah membuat rencana payah itu dan pergi begitu saja? kalian manusia selalu mengingkari janji kalian. Aku benci...."


Suara isakan tiba-tiba terdengar dari sang Dewi. Tubuhnya menggigil pelan dengan tangan yang mencengkram erat selimut yang ditidurinya.


"Aku benci kau...! Dasar pembohong.... Reyhanaf... Aku... Aku...." Sang Dewi sekarang menangis. Dia mengangkat kepalanya dan memperlihatkan air mata yang mengalir dari kedua bola matanya.


"....aku merindukanmu. Jadi aku mohon kembalilah.... Hiks...."


Sang Dewi akhirnya terbenam dalam tangisnya. Bersamaan dengan terbenamnya matahari di penghujung hari.


Sementara itu di suatu tempat. Tempat yang telah hancur tak berbentuk dan penuh dengan bekas hitam karena terbakar. Seorang lelaki berumur 40 tahunan bersama dengan pria tua berjalan beriringan. Lelaki berjubah hitam itu, menunduk dan mengambil sejumput tanah di tangannya. Dia mencengkram tanah yang lebih terlihat seperti kaca. Bunyi pecahan kaca yang khas terdengar memecah keheningan kala lelaki itu meremasnya. Lelaki itu kemudian berdiri dan menepuk kedua tangannya untuk membersihkan kaca yang masih menempel.


"Bagaimana?" Tanya pria tua dengan tongkat kayu yang tergenggam di tangan kanannya itu.


"Sepertinya percobaan ini berhasil. Tak kusangka kerusakannya akan menjadi seperti ini." Jawabnya.


"Ya, ini jauh melebihi bayangan kita." Pria tua itu ikut mengambil segenggam tanah yang telah berubah menjadi kaca. "Tapi ini juga tidak bisa dibilang berhasil. Target kita adalah Skyriel. Namun lelaki misterius itu berhasil mengecohnya. Sepertinya dia tahu tentang senjata kita ini."


"Aku sependapat. Apa menurutmu dia itu 'Called'?"


"Kurasa begitu. Ditambah kapal yang ditumpanginya, tidak ada yang seperti itu di Altars." Ujar si pria tua.


"Jika dia hanya seorang Returned maka itu bukan masalah. Tapi jika dia itu seorang Second Chance atau seperti yang tadi kau bilang, maka dia benar bisa menjadi masalah bagi rencana kita. Kita harus menyusun ulang rencana dan menggunakan taktik lain. Terlebih lagi kita harus mengumpulkan informasi tentangnya."


"Yeah, aku setuju." Ucap si pria tua tersebut. "Ngomong-ngomong apa kau khawatir soal anggota kita yang tertangkap. Aku tak bisa menghubunginya dengan Wireless Walkie Talkie ini." Si pria tua menekan kuping kanan yang ternyata ada semacam headset kecil tepat di lubang telinganya.


"Biarkan saja dia. Walau sekeras apapun, mereka tidak bisa membuatnya buka mulut. Lebih baik kita sekarang kembali dan laporkan ini pada pimpinan. Dia pasti sedang menunggu laporan kita." Si lelaki menekan kuping kanan yang ternyata juga ada semacam headset kecil di sana. "Kami selesai. Jemput kami."


"Hehehe... untuk pria tua sepertiku. Alat-alat asing ini sangat berguna. Kita tidak perlu repot menghabiskan mana untuk komunikasi jarak jauh." Kekeh pria tua itu menampakkan deretan gigi yang tak lagi lengkap.


"Yeah, ini jauh lebih mudah. Tidak sia-sia kita melakukan pemanggilan besar itu. Selain dia mempunyai ambisi yang sama seperti kita, dia juga berbakat dalam menciptakan sesuatu." Kata lelaki itu dengan senyum mengerikan pada wajahnya.


"Dengan dia, menginvasi Skyriel menjadi tak sesulit sebelumnya. Jika saja pak tua sialan itu tidak memblokir sihir portal pimpinan, maka Skyriel pasti sudah jatuh sejak dulu."


Lelaki itu memandang langit yang kian bertambah gelap. Dia mengangkat satu tangannya, dan membuat gerakan seperti menggenggam sesuatu. "Jangan khawatir. Cepat atau lambat kerjaan itu akan jatuh ke tangan kita."


Tiba-tiba suara berisik baling-baling datang dari arah langit sana. Tidak lama setelahnya, angin kencang datang dan menerbangkan debu serta benda-benda kecil lainnya. 4 cahaya lampu muncul dari gelapnya langit malam dan menyinari kawasan yang sempat gelap gulita.


Perlahan tapi pasti, keempat cahaya lampu itu membesar dan terus membesar. Membuat area yang berada di sekitar si lelaki dan si pria tua berubah terang. Lalu sebuah kendaraan berat berbentuk oval dengan bagian keseluruhan yang terbuat dari besi termasuk ekornya, turun tidak jauh dari sana.


Suara mesin rotor penggerak baling-baling perlahan mati dan baling-baling yang ada di bagian atas maupun ekornya juga ikut melakukan hal yang sama. Semakin lama putarannya semakin melemah hingga akhirnya kedua baling-baling tersebut mati secara total. Seorang lelaki lain mengenakan setelan hitam dan kacamata berkaca persegi turun dari dalam kendaraan itu. Rambut rapi yang disisir dibelakang ditambah dengan sepatu pantofel kulit hitam yang menutupi kakinya, membuat dirinya terlihat elegan. Tangannya lalu membenarkan dasi merah yang terpasang di kerahnya dan kemudian berjalan mendekati kedua pria itu.


Tidak hanya dia yang turun. Dua orang lagi dengan seragam militer lengkap dengan armor dan helm kepala bercorak loreng hijau ikut turun dan berjalan di belakang si pria elegan. Senjata Rifle berjenis M16 berwarna hitam gelap yang mereka pegang seperti mengisyaratkan jika mereka adalah tentara elite dan bukanlah seorang badut atau hanya sekedar mencoba kostum Halloween.


"Jadi, bagaimana?" Tanya lelaki elegan itu.


"Senjata itu sangat luar biasa. Kita harus memproduksi secara besar-besaran." Seru si pria tua.


"Dia benar. Dengan senjata seperti ini, menguasi Skyriel, tidak Altars, bukan suatu omong kosong belaka lagi." Imbuh si lelaki.


Lelaki elegan itu mengambil sebatang rokok dari dalam sakunya dan menyalakannya. Dia menghisap rokok itu dalam, lalu menghembuskan asapnya perlahan. "Jangan terlalu terburu-buru. Senjata itu tidak lain adalah sebuah prototype. Aku masih memerlukan beberapa hal sebelum membuatnya sempurna."


Si pria tua membuat ekspresi terkejut. "Kau bilang itu masih dalam tahap percobaan?"


"Iya. Aku ingin membuat ledakan yang lebih heboh lagi dari ini. Dan untungnya aku tahu bagaimana membuatnya." Kata si lelaki elegan. Dia kembali menghisap rokok itu dan mengeluarkan asapnya pelan. "Jika kita ingin menciptakan sebuah mahakarya, maka kita harus bersabar. Seperti yang pernah dikatakan seorang pria dari timur, keindahan suatu senjata bukan dilihat dari bagaimana bentuk dan rupanya, tapi dilihat dari banyaknya korban yang bisa dia ciptakan. Membunuh jutaan orang, bukanlah sebuah mahakarya, tapi membunuh milyaran sampai triliunan orang itu baru mahakarya." Ungkapnya.


Si lelaki berjubah tertawa keras. "Oh, ya Dewa. Kau benar-benar gila, kawan. Aku suka cara berpikirmu."


"Terima kasih pujiannya." Lelaki elegan itu kemudian menjatuhkan rokoknya ke tanah dan menginjaknya sampai padam. "Ayo kita kembali. Pimpinan pasti ingin mendengar cerita kalian."


Mereka kemudian berjalan ke arah kendaraan itu dan masuk kedalamnya. Suara rotor mesin baling-baling kembali menyala dan membuat bising sekitar. Angin kencang ikut berhembus bersamaan dengan baling-baling yang semakin berputar cepat. Tidak lama kemudian, kendaraan itu terangkat dan kembali mengudara. Meninggalkan kawasan yang telah rusak dan menghilang di balik awan malam.


  


  


Bersambung....