Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 23 : Janji, dan rencana yang beresiko, Lagi!



Bingung, heran, sekaligus terkejut dan kagum. Itulah beberapa perasaan yang kurasakan saat melihat jet tempur serta misil itu. Semua perasaan itu tercampur aduk menjadi satu dan merambat ke seluruh tubuhku sampai-sampai aku tak bisa menggambarkannya. Situasi yang sangat membingungkan ini menimbulkan berbagai pertanyaan yang seketika mulai bermunculan dan segera memenuhi kepalaku dengan cepat. Pasalnya, bagaimana bisa sebuah jet tempur modern lengkap dengan rudalnya bisa ada di dunia ini? Dunia yang notabene-nya adalah versi lain dari bumi zaman Pertengahan. Ditambah lagi jet itu juga memiliki desain model yang sangat mirip dengan F-22 Raptor. Sebuah jet tempur siluman buatan Amerika Serikat ( aku tahu karena dulu aku pernah bermain permainan peperangan Pesawat di HP-ku. Aku sudah mengkoleksi beberapa jenis jet tempur dari berbagai negara, jadi tidak heran aku bisa mengenali dengan mudah kalau itu adalah Jet tempur jenis F-22 Raptor milik Amerika Serikat ). Jika ini di dasari oleh kebetulan, kurasa itu kurang tepat. Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Pasti ada penyebab bagaimana jet itu bisa ada di sini. Entah itu karena sebuah portal yang menuju langsung ke duniaku ( yang mana sangat kuharapkan kemunculannya ), atau ini semua karena campur tangan seseorang?


Entahlah, tapi dari kedua teori diatas, aku lebih memilih ke arah campur tangan seseorang. Kenapa? Jet F-22 mempunyai desain yang rumit bagi penduduk dunia ini. Berbeda jika mereka memang sedari dulu mempunyai sebuah kapal atau pesawat terbang. Namun sayangnya itu tidak mungkin karena zaman modern dunia ini baru saja dimulai. Pionirnya tentu saja adalah kami, orang-orang dari kerajaan Neo-Moudha. Jika kalian berasumsi ada rakyatku yang menyebarkan desain jet tempur buatan AI-Sys maka aku tak bisa menyangkalnya. Kemungkinan itu memang ada, akan tetapi tetap saja itu mustahil. Zaman yang kami mulai ini masih terhitung sangat baru. Sekitar 1 bulan lalu dan itupun kami juga belum menyebarkannya ke seluruh penghuni Altars. Jadi sangat tidak mungkin kalau kami adalah orang yang melakukan campur tangan itu.


Satu-satunya jawaban yang masuk akal untuk menjawabnya adalah pemanggilan. Magni dan Dewi Lignum pernah berkata kalau beberapa Dewa memiliki hak untuk melakukan pemanggilan orang dari dunia lain, walau sebagian ada beberapa kasus yang menyebutkan jika orang-orang kerajaan juga bisa melakukan pemanggilan ini ( biasanya mereka yang bergelar Mage Emperor yang dapat melakukan itu, tetapi mereka hanya bisa melakukannya sekali saja. Karena untuk satu lingkaran pemanggilan, dibutuhkan mana yang besar dan juga banyak ).


Tujuan pemanggilan ini terdiri dari banyak hal. Ada yang bertujuan untuk mengalahkan angkara jahat serta memberikan keadilan di dunia ( biasanya mereka yang disebut Pahlawan ), dan ada juga yang hanya dipanggil untuk diberi kehidupan kedua ( seperti aku contohnya ). Masih banyak faktor lain yang menjadi penyebab munculnya orang-orang dari dunia lain. Tapi yang paling sering dan terkenal adalah kedua faktor itu.


Sebagai informasi, Alam semesta kedua ini luas. Banyak kehidupan yang terdapat diberbagai planet selain di Altars. Karenanya pemanggilan ini tidak berfokus hanya di Altars saja. Namun semua ini masihlah sebuah teori yang dijabarkan oleh para Dewa. Rahasia sesunguhnya terdapat di Ayah angkatku. Hanya dia yang tahu apakah terdapat kehidupan di luar sana atau tidak. Secara dia adalah Dewa semesta alam, jadi bukan hal yang tabu baginya untuk tahu isi alam semestanya sendri. Meski mereka pada akhirnya tahu jika ada planet lain selain Altars, tapi untuk kehidupannya sendiri kurasa itu masih menjadi perdebatan ( tebak mirip dengan siapa? ).


Aku menggigit ibu jariku. Berusaha keras untuk mencerna kejadian membingungkan ini. Jika memang benar kelompok Caelum Rebelles melakukan pemanggilan, maka munculnya jet tempur F-22 Raptor serta rudal yang mengejar kami bukanlah sebuah kebetulan belaka. Ada dalang dibalik ini semua dan aku harus mengetahuinya. Dan caraku untuk melakukannya adalah dengan menangkap si pilot, memeriksa jetnya, dan membongkar misil itu ( tentunya kalau aku bisa menangkap benda itu sebelum dia mengenai kami dan meledak dengan kekuatan yang dahsyat ).


Baiklah, waktunya bergerak. Namun saat kakiku baru akan melangkah keluar ruangan, Magni, Rillia, Dewi Lignum, dan juga Caelo datang dengan tergesa-gesa. Mereka mengelilingiku dengan wajah penuh harap. Dan aku tahu apa yang mereka inginkan.


"Tuan, apa yang terjadi!?" Tanya Magni.


"Iya, kenapa lampu Alarm terus menyala?" Kali ini Dewi Lignum yang bertanya.


Yah, aku sudah menduga ini. Kurasa tidak ada pilihan lain selain aku harus menjelaskan semuanya. Tapi pertama-pertama aku harus menenangkan mereka terlebih dahulu. Akan sulit bagiku untuk menjelaskan keadaan jika mereka dalam keadaan panik.


"Kalian semua tenang." Aku mulai berbicara. "Situasinya saat ini tengah rumit. Untuk sekarang kalian harus---"


"Benda terbang itu!!!" Caelo yang berdiri di samping Rillia mendadak berseru sehingga ucapanku terpotong. Matanya menatap nanar ke arah jendela depan. Tepatnya ke arah sesuatu dibalik jendela itu. Ya, apalagi kalau bukan jet tempur tersebut.


Dengan amarah yang meluap-luap, Caelo lalu mengeluarkan tombak emas yang sempat dia sembunyikan dengan sihirnya. Dia ingin segera menerjang ke arah jendela itu, sampai aksinya langsung kuhentikan dengan menangkap lengannya cepat. Gelombang kejut yang dihasilkan dari penghentian paksa ini sampai membuat beberapa kertas dan barang-barang lain terlempar. Bahkan saking kuatnya, gelombang itu sampai membuat jendela kapal retak dan berlubang. Padahal jendela kapal itu terbuat dari kaca anti peluru yang bisa dibilang sangat tebal.


Dengan tanganku masih menggenggam lengannya, kutatap wajahnya yang membuat ekspresi seakan menuntut penjelasan atas aksiku ini padanya. Ya, aku tidak menyalahkannya, dia pantas membuat ekspresi itu. Namun aku tidak punya pilihan lain. Aku menghentikan Caelo bukan tanpa alasan. Selain mencegahnya bertindak ceroboh, aku tidak ingin kapal ini rusak karenanya. Bisa repot aku kalau bagian depan kapalku hancur gara-gara Caelo tidak bisa mengendalikan emosinya.


"Hey tenanglah, jangan gegabah, oke?" Ujarku padanya.


"T-tapi mereka telah menyerang kerajaanku. Aku tidak bisa membiarkan mereka lepas begitu saja!" Kata Caelo.


"Iya aku tahu, tapi kau juga harus menggunakan logika. Kau tidak bisa main serang saja seperti itu sementara kau sendiri saja belum tahu kemampuan mereka. Jika kau ceroboh, maka mereka akan dengan mudahnya mengalahkanmu. Kau mengerti?" Aku menjelaskan.


Caelo terdiam. Perlahan tapi pasti, lengannya yang seakan meronta dari genggamanku lama-kelamaan melemas. Saat aku merasa dia mulai sedikit agak tenang, aku melepaskan lengannya. Rillia mendekat ke arah Caelo dan memeluk lelaki itu. Dia paham perasaan yang dialami Caelo karena dia juga pernah mengalaminya. Baik aku maupun Rillia tidak menyalahkan Caelo atas tindakannya. Menurutku sikapnya masih terbilang wajar. Siapa sih yang tidak kesal jika bertemu seseorang yang pernah menyerang keluarga dan temanmu? Tentu semua orang akan kesal. Tidak terkecuali Caelo.


"Kau sudah baikan?" Tanyaku padanya.


Caelo melepas pelukannya dan menjawab dengan anggukan kepala pelan.


"Bagus, maaf karena telah menghentikanmu. Aku tidak bermaksud mencampuri urusan pribadimu." Kataku.


"Itu tidak masalah. Aku yang harusnya minta maaf pada anda. Karena emosiku, aku hampir membuat kapal ini rusak untuk yang kedua kalinya." Ujar Caelo menyesal.


"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah anda mempunyai sebuah ide, Tuan?" Tanya Magni tiba-tiba.


Aku memegang daguku dan mulai berpikir. Mataku menatap Magni yang berdiri didepanku. "Magni apa kau bisa membantuku menangkap benda terbang itu?"


"Itu sudah pasti, Tuan!" Katanya bersemangat.


"Kalau begitu lakukan. Tapi usahakan jangan sampai membunuh pengemudinya. Kita membutuhkan dia hidup-hidup, kau mengerti? Oh ya dan kalau bisa jangan hancurkan juga benda terbang yang dia bawa itu. Kita juga membutuhkannya untuk diteliti."


Magni menangguk dan membungkuk padaku. "Hamba mengerti. Kalau begitu hamba mohon pamit." Setelah itu Magni berubah jadi api dan menghilang dari hadapan kami. Meninggalkan bunga-bunga api kecil indah yang berterbangan di sekitar ruangan.


Sedetik setelah kepergiannya, tepat dari arah luar terdengar raungan hewan buas yang sangat keras. Dari raungannya saja aku bisa menebak siapa dia adanya. Bukti semakin diperjelas dengan terlihatnya sebuah bayangan seekor naga yang mengejar sebuah jet dari balik jendela di depan kami. Naga itu meliuk-liuk dan menyemburkan api ke arah jet yang terlihat kewalahan. Semua orang menatap kagum pemandangan itu, tidak terkecuali Dewi Lignum. Namun berbeda denganku. Aku justru khawatir dengan serangannya itu. Akan tetapi aku yakin dia bisa melakukan perintahku dengan benar. Yah, berharap saja dia tidak kebablasan menghancurkan jet itu bersama dengan si pilot di dalamnya.


Meninggalkan Magni bersama jetnya, mataku lalu beralih ke Dewi Lignum. "Dewi, aku serahkan pelindungan kapal ini di tanganmu. Sebisa mungkin lindungi kapal ini dari segala serangan. Kau bisa?"


Sembari tersenyum, sang Dewi mengepalkan tangannya dan menepuk dadanya. "Serahkan padaku, Rey-Chan. Aku akan lindungi kapal ini seperti aku melindungi cinta kita."


Pipiku seketika merona mendengar ungkapan sang Dewi. "Eh...?! I-iya itu bagus." Ucapku salah tingkah. Melihat itu Dewi Lignum hanya tertawa kecil yang mana malah membuatku bertambah malu. Ah, Dewi Lignum, lihat saja aku pasti aku membalikan keadaan ini.


"Ehem, err... Putri Rillia...," ujarku berdeham sembari beralih ke arah sang Putri dengan pipi yang masih merona merah, "kau yang memegang kendali kapal. Hindari segala macam serangan yang datang. Kau mengerti?"


Rillia lalu menoleh dan menatapku serius. Walau sesekali dia menatap tajam Kakaknya sehingga membuat Dewi Lignum bergidik. "Aku mengerti. Kau bisa serahkan itu padaku."


"Dan Caelo..." Panggilku.


"I-iya Tuan Reyhanaf?"


"Apa kau punya semacam kartu undangan ke kerajaanmu?" Tanyaku.


Caelo yang awalnya kelihatan kebingungan dengan kata-kataku, seketika tersenyum dan mengerti. Dia lalu mengeluarkan sebuah batu kristal berwarna putih dari sakunya. "Ini adalah batu kristal asli dari wilayah kami. Batu ini berguna sebagai alat pembentukan portal yang akan membuka jalan ke kerajaan kami dalam sekejap. Untuk cara pakainya cukup mudah. Anda tinggal hancurkan saja batu ini dan dalam sekejap anda akan langsung berpindah ke kerajaan kami."


Aku mengambil batu itu dari tangan Caelo dan memperhatikannya. "Jadi bisa dibilang penggunaannya hanya sekali pakai?"


"Itu benar."


"Lalu berapa orang yang bisa dibawa oleh batu ini?" Tanyaku lagi.


"Maksimal 5 orang dan itu tidak termasuk dengan kendaraan."


Aku kembali memegang dagu. "Jadi begitu." Ucapku pelan. "Lalu bagaimana dengamu? Apa kau punya sesuatu untuk kembali ke kerajaanmu?"


"Anda jangan khawatir. Kami para penduduk Skyriel mempunyai sebuah sihir khusus yang berguna sebagai pembuka jalan antara kami dengan kerajaan kami. Cara kerjanya memang mirip dengan batu itu, tetapi bedanya kami bisa melakukannya sesuka hati kami." Jelas Caelo.


"Apa kendaraan bisa kau bawa juga?"


"Tentu saja. Sihir ini sangat berbeda dengan Batu itu. Kami bisa membawa apa saja asal mana kami mencukupi. Tetapi, sihir ini dapat dimiliki bagi mereka yang bergelar tentara kerajaan. Dan kabar baiknya aku adalah salah satu dari mereka."


"Kalau begitu bagus." Ucapku singkat.


"Memangnya kenapa Tuan bertanya seperti itu?" Tanyanya.


"Aku ingin agar kau membuka jalan ke kerajaanmu selagi aku dan Magni menahan serangan mereka. Jika situasi semakin memburuk kau segera gunakan sihir itu untuk membawa kita keluar dari sini." Jelasku. "Apa kau bisa melakukannya?"


"Tentu aku bisa." Katanya mantap.


Mendengar itu membuat senyum di wajahku mengembang. Aku lalu menempelkan tangan kananku pada pundaknya lembut. "Kalau begitu aku mengandalkanmu. Oh dan Caelo, sebelum aku lupa aku ingin memberitahumu satu hal lagi." Tangan kiriku lalu terangkat dan....


Ctak!


Suara jentikan jariku terdengar menggema ke seluruh ruangan. Dan di saat yang bersamaan, waktu seketika terhenti. Semua makhluk hidup maupun makhluk tak hidup berhenti bergerak. Bahkan saat mataku berpaling ke arah jendela depan, Magni juga terlihat membeku di udara. Bersamaan dengan api yang keluar dari mulutnya dan juga jet yang mencoba bermanuver ke samping.


Tetapi, semua itu tidak berlaku untuk kami. Selain aku, Caelo yang telah kupegang pundaknya tidak terpengaruh dengan sihir ini. Elf itu nampak terkejut dengan apa yang telah kulakukan. Dia beberapa kali melihat sekeliling dengan mulut menganga dan mata terbuka lebar. Dia bahkan mencoba menyentuh pipi Rillia yang membeku dengan jari telunjuknya beberapa kali. Yah, mungkin sekedar untuk memastikan apakah wanita itu benar-benar membeku atau tidak.


"Ini sangat hebat, Tuan Reyhanaf!" Serunya takjub. "B-bagaimana kau melakukan ini!!?"


"Sihir nomor 22443 : Freezing Time. Itulah namanya."


"J-jadi maksudmu kau bisa menghentikan waktu?"


Aku mengangguk.


"Nah, Caelo sekarang dengarkan aku." Kataku memulai percakapan. Mataku menatap wajahnya dengan serius. Begitupun dia juga melakukan hal yang sama dengan yang kulakukan. "Apa benar sihirmu bisa mengangkut apa saja ke kerajaanmu?"


"Iya itu benar. Selama manaku cukup kurasa bukan hal yang tidak mungkin aku bisa melakukan itu." Katanya.


"Kalau begitu aku ingin kau melakukan apa yang kukatakan. Seperti yang kubilang sebelumnya, jika situasi memburuk, aku ingin kau membawa kami, tetapi hanya kau dan orang-orang yang berada di dalam kapal."


Caelo seketika kebingungan dengan ucapanku. "T-tunggu, apa maksudmu? Aku tidak mengerti."


"Jika memang situasi bertambah buruk, bawalah Rillia, Dewi Lignum, beserta kapal ini ke kerajaan Skyriel. Aku khawatir semua serangan mereka hanyalah umpan belaka. Pasti mereka bersembunyi disuatu tempat, menunggu kita lengah supaya mereka bisa ikut masuk ke dalam portal."


"I-itu tidak mungkin! Portal kami rumit dan sangat susah untuk dimasuki oleh sembarang orang. Walau itu hanya satu benda atau makhluk hidup, mereka yang berbeda mana ataupun energi tidak akan bisa melawatinya. Kalaupun bisa, portal itu pasti akan memberikan tujuan yang berbeda." Bantah Caelo.


"Ya aku mengerti. Tapi siapa tahu mereka telah menemukan caranya. Kau mungkin tidak sadar, namun kemungkinan-kemungkinan seperti itu bisa terjadi kapan saja. Jadi untuk mencegah kemungkinan itu benar-benar terjadi, kita harus bermain aman dengan mengecohnya." Tuturku.


"Tapi, bagaimana?"


"Kau tahu misil dibelakang sana yang terus mengejar kita? Itulah alasannya. Misil itu telah diprogram untuk terus mengikuti kapal ini kemanapun dia akan pergi. Jadi agar kapal ini bisa terbebas, aku akan mencoba mengecoh misil itu agar dia berhenti mengejar kalian dan malah berbalik mengejarku. Saat kesempatan itu datang, kau akan membuka portal itu dengan cepat dan segera lakukan pemindahan. Kau tenang saja. Aku akan pastikan tidak akan ada yang mengikuti kalian dari belakang. Percayalah padaku." Terangku.


"Kalau memang begitu kenapa tidak gunakan kekuatanmu saja? Seperti sekarang, kau bahkan bisa menghentikan waktu. Sudah pasti sangat mudah bagimu untuk menghentikan benda yang kau sebut misil itu." Ujar Caelo.


"Itu tidak bisa. Selain sihirku mempunyai batas waktu ( Maksimal satu sihir tingkat tinggi mempunyai batas waktu 1 menit pemakaian.  Setelah itu jika sudah melawati batas waktu, aku harus menunggu sihirnya selama 3 jam untuk bisa dipakai kembali. Tetapi semua batas waktu ini hanya berlaku pada kekuatan pemberian Ayah. Rege beda lagi urusannya. Kemampuan Rege tidak berdasar pada mana tetapi energi kosmik murni. Jadi semua batas waktu itu sama sekali tidak berlaku untuk kekuatan Rege ), misil itu juga memancarkan gelombang elektromagnetik aneh yang dapat menetralkan semua jenis sihirku ( termasuk semua kemampuan Rege juga tidak bisa digunakan ). Aku sudah mencobanya. Jadi, mau dari tingkat manapun, semua sihir yang ku keluarkan tetap tidak berguna di hadapan misil tersebut." Jelasku.


Caelo terlihat lemas. "Jadi begitu. Apa memang tidak ada cara lain lagi?" Tanyanya yang kujawab dengan gelengan kepala.


"Aku mengerti. Baiklah aku akan menuruti perintahmu." Kata Caelo.


"Ingat, jangan sampai Dewi Lignum maupun Rillia tahu. Mereka pasti tidak akan mengizinkanku melakukan rencana ini." Kataku memperingatkan.


"Akan aku pastikan mereka tidak akan mengetahuinya." Katanya. "Tetapi ada satu yang mengganjal di dalam pikiranku. Jika kami bertiga telah melakukan perpindahan, bagaimana denganmu dan Tuan Magni?"


Aku menghembuskan nafas dan tersenyum. Tangan kananku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan sebuah batu kristal putih cantik. "Kau ingat ini?" Ucapku.


Caelo lalu menepuk jidat dan terkekeh. "Oh ya aku lupa. Aku yang memberikan ini padamu. Dengan itu ini sekarang aku bisa tenang. Jadi kapan rencana ini akan dimulai?"


"Tunggu sampai ada tanda dariku. Lalu ketika tanda itu muncul, kau langsung melakukan perpindahan dengan cepat. Apa kau mengerti?"


"Aku mengerti. Lalu tandanya seperti apa?" Tanya Caelo.


"Kau akan tahu saat waktunya tiba." Jawabku.


"Oh, bagaimana dengan Tuan Magni? Kau sudah memberitahu dia juga?".


"Sudah kulakukan sejak awal."


Dia kembali tersenyum. "Baguslah. Aku lega mendengarnya."


"Kalau begitu kita mulai. Ingat, jangan sampai kedua wanita itu tahu!" Tegasku.


"Kau bisa mengandalkanku." Katanya singkat.


Aku tersenyum lega. Berharap saja rencana ini berjalan dengan lancar. Aku kembali menjentikkan jariku dan seketika semua kembali normal. Semburan api Magni maupun sang naga sendiri beserta jet itu kembali bergerak. Rillia maupun Dewi Lignum juga sudah kembali sedia kala. Bahkan kapal ini dan misil yang mengejarnya juga bergerak seperti sebelumnya. Semua telah kembali seakan tidak pernah ada kejadian "waktu berhenti" yang baru saja terjadi.


Mataku lalu melirik ke arah Caelo dan berkedip padanya. Sementara itu, Caelo yang juga tengah melihatku menggangguk seraya mengangkat ibu jarinya. Tingkah kami ini membuat Rillia dan juga Dewi Lignum merasa keheranan. Tetapi mereka hanya bisa menerka tanpa tahu arti dibalik tanda yang kami buat. Fakta jika aku telah membuat kembali sebuah rencana yang mungkin bisa mengancam nyawaku. Kejadiannya persis seperti saat aku membuat rencana dengan menancapkan pedang silver yang digunakan Varna untuk menebang pohon suci Dewi Lignum ke perutku sendiri. Ugh, mengingatnya saja sampai membuat perutku kembali merasakan rasa sakit itu.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan, Rey-Chan?" Dewi Lignum mendadak bertanya.


Aku yang sedang berpikir tiba-tiba tersentak mendengar ucapan Dewi Lignum. "Eh, apa?"


"Tugas! Jika masing-masing orang sudah mendapatkan tugas, lalu kau akan melakukan apa?" Kata Rillia.


"Bagian misil masih kosong, kan?"


"Jadi maksudmu kau yang akan bertugas mengurus benda terbang yang mengejar kita saat ini itu? Apa tidak terlalu berbahaya?" Rillia terlihat khawatir.


"Dia benar Rey-Chan. Itu akan sangat berbahaya. Lebih baik kau di sini bersama kami." Kali ini Dewi Lignum yang khawatir.


Aku menghela nafas. "Kalian tenang saja. Jangan khawatir. Aku janji pada kalian jika aku tidak akan melakukan sesuatu yang ceroboh dan membuat kalian sedih. Kalian mengerti?" Kataku pada mereka dua.


Kedua Kakak beradik itu hanya menggangguk perlahan tanpa mengatakan sepatah kata pun.


Aku lalu berbalik dan bersiap untuk melakukan tugasku. Tetapi mendadak aku terhenti lantaran bajuku ditarik pelan oleh tangan seseorang. Saat ingin kulihat siapa orang yang telah melakukannya, Dewi Lignum buru-buru memelukku dari belakang. Walau aku tidak bisa melihatnya, bisa kurasakan jika sang Dewi menyembunyikan wajahnya pada punggungku.


"Jangan pergi...." Ucapnya pelan.


Aku terkejut mendengarnya. Apalagi saat dia mulai mengeratkan pelukannya padaku.


"Kumohon... Aku punya firasat buruk kalau kau tidak akan kembali. Tetaplah di sini."


Aku kembali menghela nafas. Tidak kusangka Dewi Lignum akan bereaksi seperti ini. Bahkan reaksinya ini berbanding terbalik dengan karakternya yang suka jahil dan juga ceria. Yah, ini ini cukup membuatku kaget. Ternyata orang yang ceria sepertinya bisa memiliki sifat seperti ini juga, ya. Benar-benar sebuah perubahan karakter yang sangat drastis. Tapi sayangnya aku tidak bisa berlama-lama lagi. Waktu semakin menipis. Aku harus melakukan sesuatu pada misil itu sebelum kapal ini kehabisan bahan bakar. Jika telat, kapal ini beserta penumpangnya akan berada dalam bahaya.


"Dewi Lignum, bisa kau lepaskan aku?" Kataku lembut.


Dia menggeleng. "Tidak mau!"


"Haah... Sepertinya tidak ada jalan lain." Tanpa dia duga aku menggunakan kekuatan teleportasi instanku untuk berpindah tempat. Aku yang tadinya berada di depan Dewi Lignum kini sudah berada di belakangnya. Dia yang kebingungan mencoba untuk mencariku. Kepala Sang Dewi baru menoleh dengan cepat saat tahu aku ada dibelakangnya. Namun sebelum dia sempat mengucapkan sepatah kata, tanganku memegang dagunya dan mengecup bibirnya lembut.


Dalam ciuman singkat itu aku bisa merasakan kelembutan bibir Dewi Lignum yang serasa manis seperti madu. Mataku yang sempat terpejam mengintip sedikit untuk melihat reaksi Sang Dewi. Kukira dia akan marah atas tindakan kekurangajaranku ini, tapi Dewi Lignum hanya menatapku dalam diam dengan wajah yang merona merah.


Apa dia benar-benar marah, ya? sumpah, aku tidak bermaksud berbuat hal yang tidak sopan seperti ini. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa melakukan hal seperti ini. Yang aku pikirkan hanya ingin membuatnya tenang dan nyaman, namun inilah yang terjadi. Tanpa berlama-lama lagi aku segera melepas bibir Sang Dewi. Perasaan canggung lantas memenuhi tubuhku kala Dewi Lignum masih terdiam di sana dengan wajah memerah. Apalagi saat mataku menatap Rillia, dan Caelo yang terbelalak dengan mulut menganga. Ahh sial ini memalukan~ tanganku dengan cepat menutup kedua wajahku yang juga segera merona merah padam. Langsung saja aku membungkuk cepat ke arah Dewi Lignum guna meminta permohonan maaf darinya atas aksi kekurangajaranku barusan.


"M-m-m-maaf! A-a-a-aku tidak sengaja Dewi! S-s-semua terjadi begitu saja. A-aku tidak bermaksud untuk--" Belum sempat aku menyelesaikan permohonan maafku, bibir Dewi Lignum segera menghentikannya. Ya, dia balas menciumku. Aku yang sempat terkejut, akhirnya terlarut dalam momen itu walau aku tahu masih ada Rillia dan Caelo di sini ( Yang jomblo jangan ngiri, ya. Becanda. ).


Lama kami menjadikan dunia ini serasa milik pribadi, sampai akhirnya Dewi Lignum melepaskan ciumannya. Matanya yang cantik menatapku dalam-dalam. Tanganku mengelus pelan pipinya yang lembut. Ah, dia sangat cantik. Terlalu cantik malah. Lalu, tidak lama kemudian, Dewi Lignum segera memelukku.


"Kumohon kembalilah dengan selamat. Jika kamu tidak ada, a-aku... a-aku tidak punya alasan lagi untuk hidup di dunia ini." Kata Dewi Lignum dengan wajah khawatirnya.


Aku terdiam, lalu tersenyum. "Tenang saja. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku pasti akan kembali. Aku janji." Janjiku sembari membalas pelukan Sang Dewi. Jujur aku tidak ingin momen seperti ini berakhir. Tapi ada pekerjaan yang harus aku selesaikan.


Tepat sesaat kami melepas pelukan kami, mendadak aku kembali melakukan teleportasi dan berpindah ke luar kapal. Bukan di dek-nya, tetapi di udara. Aku melayang sambil menatap wajah Dewi Lignum yang terlihat terkejut sekaligus juga sedih dari balik jendela. Ah, sepertinya setelah ini selesai aku harus meminta maaf lagi padanya.


Mataku lalu melirik ke arah misil yang mengejar kami. Ternyata ukurannya lebih besar dari dugaanku. Sekitar sebesar gerbong kereta. Misil itu tidak terlihat ingin meledakkan kapal, tetapi malah terlihat seperti mengikuti dari belakang. Ternyata dugaanku benar. Tujuan misil ini adalah mengikuti kami sampai kami berpindah ke kerajaan Skyriel. Karena misil ini memancarkan gelombang elektromagnetik aneh, kemungkinan dia bisa memasuki portal lebih besar. Pancaran gelombangnya mungkin bisa mengacaukan portal itu hingga terdapat dua kemungkinan. Pertama, misil itu mengacaukan portal dan berpindah tempat bersama kami lalu meledak di Kerajaan Skyriel atau kedua, misil itu hanyalah umpan untuk membuka jalan bagi musuh-musuh yang sedari awal mengawasi.


Tetapi terus berpikir dan berspekulasi tidak akan ada hasilnya. Tidak ada pilihan lain aku harus melakukan sesuatu. Rencana itu dimulai sekarang!


  


 


Bersambung.....