Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 16 : Aftermath



Magni membuka matanya perlahan. Dia berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya matahari yang masuk ke matanya. Tangannya lalu memegangi kepalanya yang masih terasa sakit. Ini semua karena monster sialan itu. Dia menyepak kepalanya begitu keras dan sampai sekarang, rasa sakit akan sepakan itu masih belum hilang. Jika dia bertemu dengan monster itu lagi, Magni bersumpah akan membalasnya lebih parah. Dia lalu mencoba untuk bangkit, tetapi gerakannya tiba-tiba saja terhenti ketika telinganya menangkap suara sayup-sayup seorang gadis yang memanggil namanya. Dia tidak tahu suara siapa itu, tapi entah kenapa dia seperti mengenlanya.


"Tuan Magni...."


Suara itu terdengar dan kali ini persis tepat di sampingnya. Dia melirik ke arah itu dan di sana dia bisa melihat siluet seseorang yang tengah duduk di dekatnya. Orang itu tengah menyalurkan sebuah sihir yang diduga sebagai sihir penyembuh. Magni semakin yakin karena sedikit demi sedikit rasa sakit pada kepalanya hilang. Mungkin karena mereka jugalah penyebab Magni bisa sadar sekarang.


"Si-siapa...?" Tanyanya. Matanya lalu melirik ke arah siluet yang lebih besar. Siluet itu berdiri tepat disamping si siluet pertama. Bayangan yang berbentuk menyerupai seekor ular besar, berdiri di depannya. Mengintai sang mantan Dewa naga dengan mata menyala hijaunya. Magni sempat merasa panik karena mengira itu adalah Dewa kematian Mortem yang ingin mencabut nyawanya. Namun saat penglihatannya mulai membaik, dia segera lega karena tenyata itu adalah Roh agung Arbor.


"Tenang Tuan Magni, ini kami." Ucap siluet itu yang ternyata adalah Rillia.


"A-apa yang terjadi...?" Ucapnya linglung.


"Kami menemukan anda terluka sangat parah dengan kondisi kepala yang hampir rengkah. Anda hampir saja tewas jika kami tak cepat memberikan pertolongan pertama. Aku segera menggunakan sihir pemulihanku untuk mengobatimu, dengan bantuan dari roh agung Arbor tentunya." Jelas Rillia.


Magni tercekat. Kepala rengkah? Dia segera bangun dan memeriksa kepalanya cepat. Sedetik kemudian dia kembali menghembuskan nafas lega saat tangannya tak merasakan celah apapun pada kepalanya. Dia lalu melirik mereka berdua dan tersenyum.


"Terima kasih. Aku berhutang nyawa pada kalian." Ucapnya sembari berdiri. "Jika kalian berdua di sini, itu artinya Varna sudah dikalahkan. Sepertinya kedatanganku tidak memberi bantuan yang berarti, ya?"


Rillia juga ikut berdiri. "Tidak, itu salah! Kami sangat bersyukur karena mendapat bantuan anda. Jadi jangan bilang jika anda tidak memberikan bantuan apapun." Protes Rillia. "Selain itu bukan kami yang mengalahkan Varna. Monster itu masih hidup dan saat ini tengah bertarung dengan lelaki yang datang membantu kami pertama kali."


Magni menatap ke bawah dan memegang dagunya. "Jadi begitu, kalian juga dikalahkan ya." Matanya lalu melirik Rillia. "Omong-omong, siapa lelaki yang saat ini tengah bertarung dengan dia?"


"Dia bilang namanya Reyhanaf atau apalah itu."


Magni tiba-tiba terdiam. Dia menurunkan tangannya perlahan dan segera memburu Rillia cepat. Tangannya memegang kedua bahu wanita itu lalu menggoyang-goyangkannya. "Reyhanaf?! Apa kau baru saja bilang Reyhanaf!!?"


Rillia hanya menjawab dengan mengangguk cepat disertai ekspresi terkejutnya.


Magni tersenyum dengan air mata berlinang di pipinya. Dia mundur perlahan lalu jatuh terduduk sembari mengusap air matanya. "Syukurlah, syukurlah anda baik-baik saja Tuan." Ucapnya.


Sementara itu Rillia dan roh agung Arbor saling pandang bingung. Kenapa Dewa seperti Magni harus menjatuhkan air matanya hanya untuk seorang manusia? Terlebih lagi dia memanggilnya dengan sebutan Tuan. Sebenarnya ini juga bukan hal baru bagi Rillia. Saat pertama kali Magni datang dan menyelamatkannya dari serangan Varna, sang naga juga menyebut Reyhanaf dengan sebutan Tuan. Tidak cuma itu, Magni juga mengamuk dan marah besar saat melihat Reyhanaf yang terbujur kaku dengan pedang yang menancap pada perutnya. Kejadian itu juga hampir membuatnya bertarung dengan Magni jika dia tak cepat menjelaskan.


"Err... Tuan Magni. Memangnya apa hubunganmu dengan lelaki bernama Reyhanaf ini?" Rillia mencoba bertanya di tengah keharuan sang Naga. "Kau juga memanggilnya dengan sebutan Tuan. Sebenarnya ada apa ini?"


Magni kembali tersenyum. "Sebenarnya, Tuan Reyhanaf itu---"


"Maaf aku menyela, Tuan Magni." Rillia mendadak memotong ucapan Magni. "Ada sesuatu yang tidak beres." Katanya.


Rillia menghentikan pembicaraan Magni bukan tanpa sebab, akan tetapi ini karena perasaan tidak enak yang tiba-tiba dirasakannya. Selain dirinya, Roh agung Arbor juga merasakan hal yang sama. Ini terlihat dari gelagat anehnya yang sedari tadi tidak berhenti menoleh ke sana kemari. Mau tidak mau Rillia harus bertindak sedikit kurang ajar pada sang Dewa Naga agar dia bisa fokus memeriksa keadaan sekitar.


"Tidak apa-apa. Aku juga sepertinya merasakan hal yang kau rasakan." Kata Magni.


Rillia menoleh dengan ekspresi kaget. "Benarkah? K-kau tidak marah?"


"Buat apa aku marah pada orang yang telah memperingatkan sebuah bahaya padaku." Ujar Magni. "Sekarang kembali ke masalah utama. Menurut instingku, aku merasakan sesuatu yang tidak beres dari arah selatan."


"Aku juga merasakan hal yang sama." Ujar Rillia.


Lalu, di saat mereka bertiga sedang serius memperdebatkan tentang perasaan tidak enak mereka, tiba-tiba saja sebuah gempa mengguncangkan tempat mereka berdiri. Gempa yang cukup kuat ini membuat beberapa pepohonan tua tumbang. Burung-burung berterbangan panik dan tidak lama setelahnya, sebuah laser super besar berwarna hitam kemerah-merahan meratakan hutan di samping mereka.


Roh agung Arbor bertindak cepat. Dia membuat pelindung dari akar pohon sehingga mereka bertiga tidak terkena efeknya. Guncangan dan suara ledakan keras yang terjadi di luar kubah pelindung terdengar sangat jelas. Akan tetapi setelah 2 menit berselang, guncangan serta gemuruh dari suara ledakan itu tak terdengar lagi. Semua menjadi hening walau suara angin yang berhembus masih bisa didengar oleh mereka.


"Apa sudah selesai?" Tanya Magni.


"Entahlah, tapi aku akan memeriksanya." Rillia menatap Roh Agung Arbor dan memberikan sebuah anggukan kepala.


Seakan mengerti, Roh agung Arbor membuka kubah itu sedikit agar Rillia bisa keluar. Mata hijaunya seketika menatap sedih kala melihat hutan yang dulu asri kini telah berubah menjadi sebuah padang gurun tandus begitu dia melangkah keluar dari sana. Api berkobar di mana-mana. Pohon-pohon tumbang di segala penjuru. Dan lebih parahnya lagi, di samping kanannya, terdapat sebuah jurang yang sangat besar dengan luas sekitar 2 kilometer yang dihiasi listrik hitam kemerah-merahan. Padahal seingatnya di sana tidak ada jurang. Ini membuatnya sangat terkejut. Begitu juga dengan Magni dan roh agung Arbor.


Tetapi ada yang membuat mereka bertiga lebih terkejut lagi. Sesosok monster sebesar gunung tengah terbakar oleh api hitam yang menyala-nyala hebat. Monster itu terlihat kesakitan dan bergerak ke sana kemari guna menyingkirkan api yang membakar dirinya. Tapi kelihatannya semua itu percuma lantaran sekeras apapun dia mencoba, api itu masih membakarnya dengan ganas.


Magni manatap tidak percaya. "B-bukankah itu...."


"I-itu Varna." Sambung Rillia.


"K-kenapa dia bisa terbakar? Oleh Ignis lagi. Dia akan habis." Kata Magni.


Rillia tak bisa berkata-kata. Dia kemudian melirik Roh agung Arbor yang juga tengah meliriknya sambil mengangguk.


"bʁᴉucԍƨƨˋ ϝμԍʁԍˌƨ uo wᴉƨϝɑĸᴉuმ ᴉϝˋ ϝμɑϝˌƨ μᴉw· ( Putri, tidak salah lagi itu dia. )" Kata Roh agung Arbor.


"∀uq ϝμԍ ʁԍɑƨou ʍμλ μԍ მoϝ pnʁuԍq ᴉƨ····  ( Dan yang jadi penyebab kenapa dia bisa terbakar adalah.... )"


"ꓕμԍ bʁᴉwԍ¡ Hԍ ᴉƨ qԍɻᴉuᴉϝԍɼλ ϝμԍ cɑnƨԍ¡ ꓕμԍʁԍ ɑʁԍ ouɼλ ɑ ɻԍʍ bԍobɼԍ ʍμo cɑu couϝʁoɼ pɼɑcĸ ɻɼɑwԍƨˋ ɑuq ԍʌԍʁλouԍ I ĸuoʍ ᴉƨ uoϝ ɑϝ ϝμᴉƨ bɑʁϝλ· Oɻ conʁƨԍˋ ԍxcԍbϝ ɻoʁ ϝμԍ bʁᴉwԍ· ( Si Prime itu! Sudah pasti dia penyebabnya! Hanya ada beberapa orang saja yang dapat mengendalikkan api hitam, dan semua orang yang kutahu tidak ada di pesta ini. Tentunya kecuali si Prime itu. )" Jelas Roh agung Arbor.


"on ɑʁԍ ʁᴉმμϝ· ꓕμԍuˋ ʍԍ wnƨϝ მo ϝμԍʁԍ ᴉwwԍqᴉɑϝԍɼλ· ( Anda benar. Kalau begitu, kita harus segera ke sana. )"


Roh Agung Arbor mengangguk. Mereka baru ingin pergi ke tempat Monster itu berada, namun mendadak tubuh besar Varna mengecil dan mengecil. Ini membuat mereka kembali terkejut untuk yang kesekian kalinya.


"Kenapa dia tiba-tiba menghilang?!" Tanya Rillia.


"Tidak, dia hanya mengecil. Tapi yang terpenting kita telah tahu posisinya. Lebih baik kita cepat sebelum semuanya terlambat." Kata Magni. Dia segera kembali memunculkan sayap apinya sementara Rillia melompat dan mendarat di kepala Roh agung Arbor. Mereka kemudian pergi ke arah monster Varna pertama kali terlihat.


Perjalanan mereka menuju tempat pertarungan tidak begitu sulit, terutama untuk Roh agung Arbor dan Rillia. Ini karena hutan yang tadinya lebat telah berubah menjadi tanah tandus tiada berpohon. Sisa dari hutan itu hanyalah beberapa tunggul pohon dan tentunya pohon-pohon yang tumbang. Itu juga sedikit.


Namun baru beberapa meter mereka bergerak, perjalanan mereka harus kembali terhambat ketika mereka merasakan hembusan gelombang kejut yang cukup kuat. Magni sampai harus turun kembali akibat terkena gelombang kejut itu. Dan bukan hanya itu saja yang menjadi penghalang perjalanan mereka. Sesaat gelombang kejut itu berlalu, datang getaran gempa bumi yang mengakibatkan tanah menjadi retak dan bahkan membuat daratan terbelah menjadi dua karenanya. Tentunya dengan skala yang super besar. Rillia, Magni, maupun roh agung Arbor segera menghindar cepat dari retakan yang berubah menjadi jurang super dalam itu. Bahkan, dasarnya saja tidak terlihat.


"A-apa yang sedang terjadi?!" Rillia berkata panik.


Magni mendongak dan menatap ke arah Rillia yang berada di atas kepala roh agung Arbor. "Hei Putri, apa kau yakin di sana pertarungan Tuan Reyhanaf? Maksudku ini terlalu gila, bahkan untuk Tuanku."


Rillia kembali saling pandang dengan Roh agung Arbor. Si Putri Dark Elf lalu menoleh ke arah Magni. "Aku yakin itu dia."


"Jika seperti itu maka kita harus segera bergegas." Kata Magni. "Ini membuatku khawatir."


Tanpa berlama-lama lagi mereka kembali bergerak. Kali ini temponya lebih dipercepat. Baik Rillia maupun Magni tidak ingin sesuatu menimpa lelaki itu, terlebih lagi si naga. Dia terlihat lebih cemas daripada biasanya. Kejadian saat melihat Reyhanaf tewas sudah cukup membuatnya terpukul. Dia telah gagal melindungi Tuannya karena terlambat datang. Tapi sekarang itu tidak akan terjadi lagi. Magni tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Dia harus di sana tepat waktu sebelum dia terlambat.


Ternyata jarak antara mereka bertiga dan pertarungan itu terpaut cukup jauh. Untungnya mereka memakai sihir peningkatan fisik untuk meningkatkan kecepatan sehingga tidak memerlukan waktu yang lama untuk akhirnya mereka bisa sampai di sana. Tetapi sayangnya semua sudah terlambat saat mereka datang. Pertarungan telah usai dan hanya menyisakan sisa-sisa pertarungan yang bisa dibilang sangat gila. Bagaimana tidak? Di depan mereka bertiga, terdapat sebuah kawah yang teramat luas dan dalam. Tidak hanya cuma satu, melainkan puluhan kawah dengan ukuran yang berbeda-beda tersebar di semua tempat. Dan yang paling besar adalah yang ada di depan mereka bertiga ini. Retakan tanah yang memanjang dengan kedalaman yang menakjubkan juga terlihat di mana-mana semakin memperkuat betapa dahsyatnya pertarungan Reyhanaf alias Rege si Prime dan Varna si Jendral Kegelapan.


"Lihat tempat ini, hancur tak bersisa." Magni menelaah semua sudut tempat dengan ekspresi terkejutnya. "Pertarungan yang sangat dahsyat."


"Anda benar. Ini berada di level yang berbeda."


"Tapi dimana dia? Di mana Tuan Reyhanaf?" Tanya Magni memburu.


Rillia mencari, dan tatapannya segera berhenti pada seorang lelaki yang berada tepat di tengah-tengah kawah. "Itu dia!"


Dengan cepat Magni mencari arah yang di tunjuk Rillia. Matanya lalu berhenti mencari tatkala mendapati seorang lelaki berdiri dengan kepala memandang langit di tengah-tengah kawah tersebut. Persis seperti yang Rillia bilang. Tanpa membuang waktu, Magni segera turun untuk menemui Tuannya itu. Dengan perlahan dia mendekati Reyhanaf yang masih terdiam memandang langit tak berawan. Tangannya ingin menggapai pundak lelaki itu sampai aksinya terhenti oleh suara Reyhanaf.


"Magni, kau'kah itu?" Tanyanya tanpa menoleh.


Magni menempelkan satu tangan di dada lalu menunduk hormat. "Iya, Tuan Reyhanaf. Ini hamba." Katanya.


Reyhanaf membalikkan badannya dan memandang Magni. Matanya yang disebelah kiri berkilat hitam. Dia tersenyum dan menghampiri pelayannya itu. Tangannya menggapai pundak sang naga lalu meremasnya lembut.


"Kau tidak apa-apa? Kulihat ada bekas luka pada kepalamu. Kau tenang saja, kita akan obati ini nanti."


Magni mengangkat kepalanya. Dia tak tahan dengan suasana haru ini. Sedetik air mata sang naga kembali meleleh pelan ke pipinya. Dia hanya berdiri di sana sambil terisak. "Syukurlah, Tuan selamat. Hamba kira hamba kehilangan Tuan juga. Ini semua salah hamba. Hamba sudah lalai menjaga Tuan. Maafkan hamba."


"Kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula itu juga adalah kecelakaan. Jadi kau tidak perlu khawatir. Aku juga tidak akan kemana-mana sebelum tujuan kita tercapai. Aku sudah berjanji bukan?"


Sang naga menatap Tuannya dalam. Dia mengelap air matanya lalu mengangguk setuju. Tetapi ada sesuatu yang mengganggunya. Tangan kiri dan selendang hitam itu. Lalu perubahan warna pada rambut dan matanya, membuat Reyhanaf terlihat mencolok.


Lelaki itu menyadari tatapan penasaran pelayannya. "Oh ini? Ini hanya penampilan baruku. Aku mendapatkan beberapa skill dan sihir ketika bertarung melawan Varna. Bagaimana apa cocok denganku?"


Mata Magni masih membelalak lebar menatap Tuannya itu ketika dia bertanya padanya. Magni kemudian tersadar dan kembali mengangguk tanda setuju menjawab pertanyaan yang diberikan Reyhanaf. "Iya, cocok sekali. Tapi perubahan warna rambut itu, lalu mata anda, selendang yang terbuat dari api hitam, dan tangan kiri yang berselimut besi berwarna silver itu, bagaimana bilangnya ya, sangat...."


"Mencolok?" Terka Reyhanaf cepat. "Yah, kurasa memang terlihat seperti itu. Aku tidak bisa melakukan apapun karena sepertinya ini permanen."


"Selendang dan tangan itu juga?"


Magni menghembuskan nafas lega. "Syukurlah. Untuk sesaat hamba berpikir akan terus berdekatan dengan Ignis Inferni sepanjang waktu."


Reyhanaf terkejut. "Kau tahu api ini juga?"


"Tentu hamba tahu. Itu adalah api yang berasal dari neraka utama. Api itu sangat panas dan konon katanya, itu adalah api yang tidak akan pernah bisa padam walau ditenggelamkan ke dalam lautan sekalipun." Tutur Magni.


"Kalau begitu kau juga tahu ini?" Reyhanaf menunjuk ke tangannya yang berselimut besi silver.


"Physicorumium. Besi yang tak bisa dihancurkan. Besi itu adalah besi terkuat di alam semesta dan juga berasal dari surga utama."


"Kau tahu banyak, ya."


"Tidak juga. Hamba hanya tahu beberapa dari buku kuno tentang alam semesta utama."


Reyhanaf hanya mengangguk-angguk paham. Matanya lalu melirik ke arah seorang gadis dan seekor ular raksasa kayu yang masih berdiri di tepi kawah. Dari raut wajahnya, mereka nampak waspada. Mengamati setiap gerak-gerik Reyhanaf kalau-kalau ada suatu tindakan yang dikiranya berbahaya. Tentu saja ini membuat Reyhanaf bingung. Terlebih lagi Magni.


"Bukankah itu Rillia?" Tanya Reyhanaf.


"Benar Tuan." Jawab Magni.


"Ada apa dengannya? Tampangnya seperti sedang mengintai seorang musuh." Kata Reyhanaf sembari menggaruk-garuk kepala.


"Err... Apa mau kupanggilkan?"


Reyhanaf menghilangkan selendang hitamnya dan juga besi silver itu dari tangannya. "Boleh." Ucapnya. "Tapi jika mereka tidak mau jangan memaksa mereka. Cukup panggil aku saja, nanti aku yang akan datang ke sana."


Magni kembali menunduk hormat. "Baik, Tuan." Dia lalu mengeluarkan sayap apinya lagi dan terbang ke arah gadis serta ular raksasa itu.


Sesampainya di sana, Magni langsung menegur Rillia yang bersikap kurang sopan pada Tuannya itu. "Tuan Putri, ada apa denganmu? kenapa kau bersikap seperti itu pada Tuanku?"


Rillia membelalak. "D-dia Tuanmu? Orang itu Tuanmu?"


Magni menunjukkan ekspresi kurang suka. "Iya, dia adalah Tuanku. Memangnya kenapa? Apa kau mempunyai masalah dengan itu?"


"T-tidak, hanya saja aku cukup terkejut. Aku tidak menyangka jika kau mempunyai seorang Tuan."


Magni menatap Rillia sebentar, lalu berpaling darinya. "Tuanku sudah memanggil kalian. Lebih baik kita segera menemuinya." Ujarnya.


Rillia terlihat ragu-ragu. Matanya melirik ke arah Roh agung Arbor. "Hoʍ? ( Bagaimana? )"


"Iϝ ᴉƨ oĸɑλ· Hԍ ƨԍԍwƨ μɑʁwɼԍƨƨ· I qᴉq uoϝ ɻԍԍɼ ϝμԍ ƨɑwԍ ɑnʁɑ ɑƨ ʍμԍu I ɻᴉʁƨϝ ɻԍɼϝ ᴉϝ· Bԍƨᴉqԍƨ ϝμɑϝ μԍ μɑƨ ɑɼƨo μԍɼbԍq nƨ· ( Tidak apa-apa. Dia sepertinya tidak berbahaya. Aku tidak merasakan aura yang sama seperti saat aku pertama kali merasakannya. Di samping itu dia juga telah menolong kita. )" Kata Roh agung Arbor.


Rillia tersenyum. "I nuqԍʁƨϝɑuqˋ ɼԍϝˌƨ wԍԍϝ μᴉw· ( aku mengerti, ayo kita temui dia. )"


Mereka berdua segera menuruni kawah dan berlari kecil menemui Reyhanaf. Reyhanaf melambai menyambut kedatangan sang Putri dan Rillia juga membalas lambaian tangan lelaki itu.


"Jadi, kau berhasil mengalahkan dia?" Tanyanya.


"Sepertinya begitu."


Rillia tiba-tiba menundukkan kepala hormat sampai membuat Reyhanaf kaget. "Terima kasih, Reyhanaf. Berkat kau salah satu ancaman terbesar alam semesta telah hilang selamanya dari Altars. Kau juga telah menyelamatkan aku dan juga roh agung Arbor, karena itu kami akan selalu mengingat kebaikanmu ini sampai akhir waktu."


Reyhanaf yang merasa tidak enak segera berkata. "Tidak perlu seperti itu. Tidak pantas bagi seorang Putri menunduk pada seorang gelandangan seperti aku. Aku yang seharusnya menunduk padamu, Putri kerajaan Moudha."


Rillia mengangkat kepalanya dan tertegun. Dia tidak menyangka orang yang mempunyai kekuatan setara para Dewa ini memiliki sikap yang begitu rendah hati. Hal ini membuat hati Rillia sedikit tersentuh.


Sang Putri lalu tersenyum simpul. "Kau terlalu merendah, Reyhanaf." Katanya. Namun beberapa detik berselang, wajahnya berubah murung meski senyuman tipis masih terpatri di wajahnya yang cantik. "Tapi gelar yang kau sebutkan tadi, sepertinya aku tidak memerlukannya lagi."


Reyhanaf menatap bingung. "Loh, kenapa? Bukankah kau seorang Putri?"


Rillia menatap kosong ke arah angkasa. "Sebelum kau datang menyelamatkanku waktu itu, Varna sudah menyerang Kerajaan kami dengan bala tentaranya. Rakyatku dibantai habis dan seluruh Kerajaan hancur akibat invasi mereka. Kami mencoba melawan, namun sihir aneh Varna menyebabkan perlawanan kami tidak berarti sama sekali. Dalam keadaan sekarat, ketika aku terluka parah dan hampir mati tertimpa bangunan, Varna membantai satu per satu rakyatku. Membunuh mereka sedikit demi sedikit hingga aku tidak lagi merasakan mana Rakyatku sama sekali."


"Tunggu, jadi?"


"Ya, ras Dark Elf telah punah. Hanya tinggal aku sendiri sekarang. Aku tidak tahu apakah masih ada yang selamat atau tidak. Tapi jika memang ada maka... Hiks... Aku... Hiks... Ingin bertemu... Membangun... Hiks... kembali seperti... Hiks... dulu...."


Tangis Rillia pecah. Dia jatuh bertumpu pada lututnya lalu berteriak sedih. Air mata membanjiri pipinya. Sang roh agung mendekatkan moncongnya lalu mengelus pelan rambut Rillia. Dia mengerti kesedihan yang dialami Rillia karena dia juga mengalami hal yang sama. Dari kesebelas roh yang ada, cuma tinggal dia saja yang tersisa.


Magni juga begitu. Dia terenyuh mendengar cerita Rillia karena dia sangat mengerti bagaimana perasaan Sang Putri. Rasnya juga mengalami hal yang sama dan sekarang hanya ada dirinya seorang di dunia ini. Tangannya mengepal keras. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh naga itu. Dalam kekesalannya dia hanya bisa mengutuk perbuatan Varna dan kelompoknya. Rencana mereka dalam membinasakan rasa Elf adalah hal kejam dan tak bisa dimaafkan. Apalagi setelah dia tahu jika Varna juga menjadi penyebab pohon Lignum bisa tumbang.


"Ini terlalu kejam. Aku tidak menyangka mereka akan melakukan hal keji seperti ini demi mencapai tujuan mereka." Magni menoleh ke arah Reyhanaf. "Tuan, apa ada yang bisa Tuan lakukan?"


Reyhanaf menggeleng pelan. "Maaf, aku tidak bisa melakukan apa-apa. Sihir waktuku entah kenapa tidak bekerja. Dia selalu bertuliskan Error saat aku mencobanya. Mungkin sihir ini telah di banned atau semacamnya." Katanya.


[ Kenapa kau tidak coba kekuatan Sang Prime. ]


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari kepala Reyhanaf. Dan dari suaranya, sepertinya ini adalah Rege.


"Apa maksudmu?" Tanya Reyhanaf menggunakan pikirannya.


[ Apa kau ingin menyelamatkan kaum Dark Elf? Jika begitu aku tinggal memberikan kekuatanku padamu. Anggap saja ini sebagai balasan karena telah membuatku bersenang-senang. Lagipula ini adalah bagian dari kesepakatan kita. ]


Reyhanaf terkejut. "Kau serius? Apa bisa?"


[ Memangnya aku itu kau yang tidak bisa melakukan apapun?! Aku adalah Prime, tidak ada dalam kamusku kata-kata "tidak ada yang dapat dilakukan"! Aku ini adalah makhluk terkuat di alam semesta manapun. Jika hanya urusan menghidupkan orang mati atau mengembalikan keadaan seperti sedia kala akulah jagonya. Jadi jangan seenaknya saja meremehkan kekuatan absolutku! ]


"Kalau begitu kita harus segera menolongnya."


[ Tapi kau harus ingat. Kau hanya bisa menghidupkan orang yang sama sebanyak tiga kali. Jika orang itu mengalami kematian lebih dari tiga kali maka tidak bisa digunakan lagi. Walau aku bilang jika aku bisa melakukan apapun, tapi ada batas yang tidak boleh kulewati. Jika aku melakukannya secara terus-menerus, aku dan tentunya kau akan menghadapi murka Tuhan. Percayalah kau tidak akan suka saat melihat-Nya murka. Camkan kata-kataku itu baik-baik, kau mengerti? ]


"Aku mengerti."


[ Jika kau sudah mengerti, segera jentikkan jarimu dan bayangkan kau ada di Moudha. Kita akan berteleport langsung ke sana. ]


"Tunggu, bagaimana dengan Magni dan yang lain?"


[ Ya ajak merekalah bodoh! Kau ini selalu membuat kesal ya. ]


"Aku tahu itu, tapi bagaimana caranya!?"


[ Haaah... kenapa aku harus mempunyai kau sebagai rekan kerjaku. Seharusnya aku menerima saja ajakan orang itu. Begini, pikirkan saja mereka ada dalam genggamanmu lalu jentikkan jarimu secara bersamaan. Dan tada, kau sudah berada di Moudha lengkap dengan temanmu. Kau paham? ]


Reyahanaf membuat ekspresi kesal. "Paham, paham. Baiklah akan kucoba dan sebaiknya kau pastikan ini bekerja."


Reyhanaf mengatur nafasnya. Pikirannya berkonsentrasi penuh. Dia lalu membayangkan tangannya menggenggam Magni, Rillia dan tubuh ular besar itu. Persis seperti yang diarahkan Rege. Setelah semenit berlalu, jarinya menjentik dan secara ajaib mereka sudah berada di gerbang masuk Kerajaan Moudha.


Magni serta Rillia dan juga roh agung Arbor terkejut bersamaan. Yang mereka ingat jika mereka tengah berada di tempat pertarungan Reyhanaf dan Varna, tapi kenapa tiba-tiba mereka sudah ada di depan pintu masuk Moudha. Ini membuat mereka terdiam sebentar sampai mereka menyadari jika yang melakukan hal itu adalah Reyhanaf seorang.


Magni menatap Reyhanaf dengan tidak percaya. "Tuan Reyhanaf, anda jangan-jangan menggunakan teleportasi instan?"


"Yah, kurasa seperti itu."


"Bagaimana bisa anda melakukan teleportasi instan seperti itu. Apalagi kau melakukannya dengan kami bertiga dan tanpa menyentuh tubuh kami."


"Itu... Pokoknya nanti ku beritahu. Tapi sekarang ada hal yang lebih penting." Reyhanaf berjalan mendekati Rillia yang masih terisak. Dia lalu berjongkok dan mengusap kepala Rillia hingga membuatnya terdiam. Mata hijaunya yang basah oleh air mata menatap Reyhanaf yang tersenyum padanya.


Magni menatap heran. "Hal penting apa itu Tuan?"


"Apalagi? Ya menghidupkan seluruh Kerajaan Moudha dan membangunnya seperti semula."


  


  


Bersambung....