Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 20 : Dua orang misterius.



Author Pov.


  


 


Seminggu yang lalu....


  


  


Angin berhembus pelan di sepanjang gurun tandus tak berpenghuni yang sepi. Debu-debu dan kerikil berterbangan mengikuti arah sang angin yang terbang bebas entah kemana. Tunggul-tunggul pohon terlihat kokoh menempel pada tanah, sementara tubuh mereka? Berserakan disegala penjuru. Ratusan kawah berbeda ukuran mendominasi, disertai dengan jurang-jurang dalam yang terdapat hampir di mana-mana. Menandakan jika pertarungan yang sebelumya terjadi antara seorang manusia dan juga seorang monster sangatlah begitu dahsyat.


Ini sudah seminggu sejak pertarungan itu berlangsung. Namun, perubahan yang signifikan masih belum terlihat sedikitpun. Kondisi masih sama, hanya saja daun-daun dari pohon yang tumbang telah menyerah pada pegangannya dan jatuh ke tanah dengan dramatis. Menjadi kering lalu berubah layu sampai kemudian hilang tertiup angin. Hujan yang datang belum lama ini juga turut ambil bagian. Walau tidak memberikan banyak kompensasi yang berarti. Mungkin bagi kita, tapi lain cerita dengan para makhluk kecil penikmat kedamaian.


Hujan yang datang tiga hari lalu itu membawa berbagai kenikmatan bagi mereka. Akibat dari hujan deras itu, beberapa kawah berubah menjadi danau-danau kecil. Cukup untuk tempat berendam bagi sekelompok Angges ( sejenis angsa atau bebek, namun bersayap empat dan berbulu layaknya kucing ) yang datang setiap migrasi tahunan. Tidak lupa kadal Magree serta hewan-hewan kecil lainnya yang ikut ambil bagian sebagai tempat untuk menghilangkan dahaga.


Akan tetapi ternyata bukan hanya mereka saja yang ada di hutan tandus ini. Dua orang lelaki mengenakan jubah tudung berwarna abu-abu hitam berjalan perlahan tak tentu arah. jika dilihat dari postur tubuhnya, mereka berdua adalah lelaki. Yang satu berpostur tinggi sementara yang satu lagi pendek.


Si lelaki bertubuh tinggi terlihat sedang mengamati keadaan sekitar dengan seriusnya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu. Mata kuning keemasannya secara lihai melihat ke segala arah. Tak jarang dia berhenti di satu tempat hanya untuk mengamati sesuatu. Tapi sesaat setelahnya dia kembali bergerak meneruskan perjalanannya.


Kelakuannya ini berbanding terbalik dengan lelaki bertubuh pendek yang berjalan di sampingnya. Lelaki itu terlihat cuek dengan keadaan sekitar. Apalagi dengan tingkah aneh si lelaki bertubuh tinggi. Dia menanggapi itu santai tanpa rasa peduli yang berarti. Tapi lama kelamaan ada rasa jengkel yang perlahan muncul dari dalam dirinya. Ini terlihat jelas dari mulutnya yang mulai melengkung ke atas tanda jika lelaki itu kesal. Kesebarannya pun habis saat si lelaki bertubuh tinggi berhenti untuk yang ke sekian kalinya. Ini membuatnya tidak bisa menahan diri hingga tanpa sadar dia menegur rekannya itu dengan marah.


"Kau lama sekali. Aku sudah muak berhenti setiap kali kau merasakan sesuatu. Sebenarnya kau sudah menemukannya atau tidak sih?" Katanya kesal.


Mendengar nada suara yang tidak mengenakan dari mulut rekannya, si lelaki bertubuh tinggi juga ikut meradang. "Apa kau tidak bisa sabar!? Mencari sisa-sisa energi bukanlah hal mudah. Apalagi sisa energi ini hampir tak dapat kurasakan lagi."


"Tch, ini sangat membosankan! Yang kita lakukan hanya berjalan memutar tak tentu arah. Ini membuat kakiku mati rasa. Andai saja pemimpin tidak memberi kita tugas ini, kita pasti sudah bersenang-senang sekarang." Kata si lelaki bertubuh pendek.


"Berhentilah mengeluh dan terus mencari. Kau pikir aku juga ingin tugas ini? Ada sesuatu yang lebih penting yang harus kuurus daripada mengurus jendral menyedihkan itu. Dia memang tidak berguna. Kalah melawan manusia dan membuat senjata penting seperti Argento Ferro hilang seperti ini. Apa dia tak tahu pentingnya senjata itu bagi kekuatan militer kita?" Cerocos Lelaki bertubuh tinggi itu.


"Argento Ferro, pedang pemberian Malaikat Michael pada Pahlawan Ellenias semasa Perang Enderga di alam semesta ke-44 500.000 tahun silam. Dicampur oleh besi terkuat dan api terpanas di semesta. Merupakan satu dari dua puluh senjata pembunuh Tuhan yang keberadaanya sangat dirahasiakan. Dan senjata itu hilang tanpa jejak. Benar-benar ironi." Gumam Si lelaki bertubuh pendek sembari kepalanya mendongak memandang langit.


Si lelaki bertubuh tinggi terkekeh. "Hehe... Ironi? Aku lebih suka menyebutnya kemalangan. Sulit dipercaya jika pemimpin memberikan kepercayaan senjata sespesial itu pada orang bodoh sepertinya."


"Ya, kali ini aku setuju padamu, Acror. Sudahlah cepat cari kembali pedang itu. Aku ingin ini cepat selesai. Tanganku sudah gatal ingin melenyapkan beberapa negara dan membunuh jutaan orang." ujar lelaki itu pendek.


"Ya, aku tahu." Lelaki tinggi yang ternyata bernama Acror ini segera melanjutkan aktivitasnya yang sempat terhenti. Dengan memusatkan energi pada pikiran serta indra perasanya, Acror dapat merasakan segala macam energi yang tersebar di mana-mana. Untuknya, Acror membedakan energi menjadi 5 jenis. Yaitu kuning untuk cahaya, hitam untuk kegelapan, hijau untuk kehidupan, ungu untuk gelombang, dan abu-abu untuk benda tak bergerak seperti batu, pasir, tanah, dan lain-lain.


Argento Ferro mempunyai susunan energi yang unik. Karena itulah Acror dapat dengan mudah membedakan energi yang dipancarkan oleh pedang tersebut. Argento memiliki energi ringan, namun sangat padat. Kepadatannya inilah yang menjadi kuncian bagi Acror dalam menemukan senjata itu. Sebenarnya kombinasi kepadatan serta keringanan energinya terdapat pada material yang ada di dalam pedang. Ignis mempunyai energi yang ringan karena pada dasarnya dia adalah api. Sementara untuk energi yang padat tentunya dimiliki oleh Physicorumium.


Seharusnya mudah saja untuk menemukan senjata itu, jika energinya masih ada. Namun kali ini Acror harus bersusah payah karena kepadatan sang pedang yang biasanya dapat dirasakan hingga jarak bermil-mil jauhnya, tiba-tiba hilang atau lebih tepat mengecil sampai seukuran butiran gula. Inilah yang menjadi penyebab kenapa Acror sering kali berhenti di tengah jalan tiap kali dia merasakan energi yang padat. Kepekaannya terhadap energi Argento membuat indra perasanya bingung lantaran kepadatan sang pedang yang perlahan menipis setiap detiknya. Akibatnya dia sering salah target dan selalu menyasar pada permata Mana atau batu jimat yang sering dipakai oleh penyihir-penyihir ( kebanyakan permata Mana dan batu jimat yang diciptakan maupun terbentuk secara alami mempunyai energi Mana yang lumayan padat lantaran konsentrasi Mana yang terkandung di dalamnya tidak dapat dikeluarkan secara maksimal. Ini berakibat Mana menjadi terkumpul di dalam permata atau batu sehingga malah memberikan energi pada si permata, alih-alih keluar dan menyatu dengan alam. Cara kerjanya mirip seperti termos yang menyimpan air panas ).


"Ini percuma!" Kata Acror tiba-tiba.


Rekannya memandang bingung. "Ada apa?".


"Kepadatan energinya semakin menipis. Sisa-sisa energi yang tersebar juga sama buruknya. Jika ini terus terjadi, kemungkinan kita menemukan senjata itu menjadi sangat kecil."


"Lalu apa yang harus kita lakukan? Kita tidak boleh pulang dengan tangan hampa. Pimpinan sudah cukup marah dengan kejadian minggu lalu. Jika kita pulang sekarang, pimpinan tidak akan segan-segan membunuh kita berdua."


Acror terdiam berpikir. Rekannya benar, pemimpin mereka pasti tidak mengharapkan anak buahnya pulang dengan tangan kosong. Salah-salah, mereka berdua yang akan menjadi sasaran empuk untuk melampiaskan kekesalannya. Berpikir, pasti ada cara keluar dari masalah ini. Akan tetapi walau dia berpikir sekeras apapun hasilnya selalu percuma. Tidak ada ide ataupun rencana cadangan yang keluar dari dalam kepalanya. Jika dibiarkan ini bisa menjadi masalah besar bagi mereka berdua.


Namun saat kedua orang itu tengah dilanda kecemasan yang luar biasa, Acror tiba-tiba merasakan secercah energi yang sangat dikenalinya. Kepadatan yang pas dan warna campuran antara silver dan merah kehitam-hitaman yang khas, tidak salah lagi ini adalah energi dari Argento Ferro!


"Glaba, aku menemukannya!" Seru Acror pada rekan bertubuh pendeknya itu.


Wajah si lelaki bertubuh pendek yang dipanggil Glaba mendadak berseri. "Kau yang benar? Ahahaha, ini keberuntungan bagi kita." Katanya. "Lalu, dimana senjata itu?"


"Tidak jauh. Ayo!"


Tanpa berlama-lama lagi mereka berdua segera bergegas menuju tempat yang dimaksud. Tidak lama bagi mereka untuk sampai di tempat tujuan. Hanya membutuhkan waktu sekitar 3 menit, kaki mereka telah berhenti berlari. Didepan mereka, tertancap sebuah pedang usang berkarat di tanah gersang tanpa pohon maupun tanaman lain. Pedang itu dengan kokoh berdiri di sana. Sesekali angin meniup gagangnya lembut. Menerbangkan debu yang menempel padanya.


Acror mendekati pedang itu perlahan, sementara Glaba memperhatikan dari jauh. Tangannya menggapai gagang pedang itu dan memegangnya erat. Acror terdiam sesaat lalu pandangannya beralih ke rekannya yang menunggu dengan gelisah.


"Bagaimana?" Tanya Glaba cepat.


"Aneh. Energinya sangat kecil. Jika kudeskripsikan, energi pedang ini tidak lebih besar dari butiran pasir." Jawab Acror.


Glaba kaget. "Bagaimana bisa seperti itu? Apa kau yakin itu pedang yang benar?"


"Aku yakin. Buktinya gagang pedang ini terbuat dari bagian pohon kuno Othoya."


"Jika itu memang benar, apa yang telah terjadi? Bukankah energi dari Physicorumium seharusnya tidak bisa hilang begitu saja?"


"Seharusnya begitu, tapi sepertinya ada suatu penyebab utama kenapa Argento bisa tidak memiliki Physicorumium di badan pedangnya lagi." Ujar Acror


"Maksudmu?"


"Sepertinya ada yang menyerap seluruh energi pada Argento. Dan bukan hanya energinya saja. Material Physicorumium yang terkadung di dalam badan pedang itu pun juga ikut terserap. Mungkin itu yang menjadi penyebab kenapa Argento menjadi pedang usang sekarang."


Glaba ternganga tidak percaya. "Tidak mungkin. Lalu bagaimana dengan api hitam itu? Apa api itu juga ikut terserap?"


"Sepertinya."


"Jangan main-main Acror. Tidak ada yang bisa menyerap energi sebanyak itu. Apalagi fakta jika dia juga menyerap Physicorumium dan Ignis Inferni sekaligus. Kau pasti membual." Tukas Glaba.


"Jaga omonganmu Glaba! Untuk apa aku membual padamu sementara nyawaku sedang dipertaruhkan di sini." Balas Acror. "Selain itu buatlah dirimu lebih berguna. Pikirkan jalan keluar untuk masalah ini atau apalah yang akan kau lakukan nanti untuk menyelamatkan bokongmu dari amarah pimpinan. Jangan tahunya hanya uang dan otot saja."


Glaba menggertakan gigi kesal. Dia tidak terima telah dihina seperti itu. "Kau pikir kau berbicara dengan siapa, Hah?! Aku adalah Primus Acror. Aku adalah orang yang mengendalikan dunia ini. Jika aku mau aku bisa membuatmu menghilang hanya dengan menjentikkan jariku!" Ancamnya


"Lalu, apa kau pikir aku takut dengan itu? Kau pikir hanya kau yang seorang Prime di sini? Asal kau tahu saja kau itu hanya salah satu dari sekian banyak percobaan yang dilakukan oleh pemimpin kita. Jadi berhentilah bersikap konyol dan fokus pada pekerjaan!" Ujar Acror berang.


Glaba menggertakkan giginya lagi. "Cukup, Acror! Lebih baik kita selesaikan saat ini juga! Akan kutunjukkan padamu kalau aku lebih kuat dari---"


"Tunggu!" Acror mendadak memotong omongan Glaba. "Kau merasakan itu?"


"Jangan mengalihkan pembicaraan! Urusan kita tadi belum selesai!"


"Aku tidak sedang mengalihkan pembicaraan! Aku tadi sempat merasakan energi Argento kembali. Tapi arahnya dari selatan ke arah hutan itu." Kata Acror sembari menunjuk ke salah satu hutan yang terbilang masih lebat tertutup pepohonan.


"Lihat? Membual! Kau bilang jika energi Argento sudah habis. Tapi tiba-tiba saja kau bilang jika kau kembali merasakan energinya kembali. Sudah jelas kau ingin mengindari pertarungan ini, kan?"


"Terserah apa katamu. Tapi yang jelas aku akan mengikuti jejak energi ini sebelum menghilang sepenuhnya. Jika kau masih mau berdiam di sini itu tak masalah. Tapi jangan salahkan aku jika pimpinan membunuhmu terlebih dahulu." Tutur Acror. Tubuhnya mendadak memancarkan cahaya kuning keemasan yang sangat menyilaukan. Tiba-tiba dalam sekali lompatan, Acror meluncur bagai roket dan terbang ke arah yang menjadi tujuannya.


Sementara itu Glaba yang masih jengkel hanya bisa mengumpat tidak jelas. Dia lalu berdiam dan berpikir. Walau sebenarnya dia benci mengakui ini, tapi mungkin yang dikatakan Acror ada benarnya. Selain itu dia tidak ingin menanggung semua kesalahan ini sendiri. Apalagi sampai di bunuh oleh pimpinannya itu. Tidak, dia masih ingin hidup lebih lama. Karena itu dia memutuskan untuk mengikuti rekannya itu pergi. Dengan sekali jentikkan, tubuh Glaba mendadak berubah ringan dan melayang di udara. Matanya yang berwarna abu-abu melihat jejak asap yang ditinggalkan rekannya dan terbang dengan cepat mengikutinya.


Di angkasa, Acror terbang terburu-buru. Kecepatannya semakin bertambah dan bertambah di setiap detiknya. Selain kecepatannya, Acror juga memperkuat indra perasanya agar dia tidak mudah kehilangan jejak energi itu. Lagipula ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk meredakan kemarahan pemimpinnya pasca gagalnya Varna minggu lalu.


Namun saat Acror sudah berada dekat dengan energi itu, dia tiba-tiba saja berhenti saat melihat sebuah pohon yang cukup besar dan tinggi. Kakinya mendarat dengan perlahan di atas pucuk pohon dan matanya memandang tajam ke depan. Bukan, bukan pohon ini yang dicarinya, melainkan sesuatu yang ada di depannya. Bahkan saking menariknya sampai si Prime terbelalak karenanya.


"Apa-apaan itu...?"


Hanya itu kata-kata yang keluar dari mulutnya saat mata sang Prime tak lepas memandang puluhan bangunan aneh berdiri tegak dengan tinggi yang menjulang ke awan. Bangunan itu hadir berbagai bentuk dan kelihatannya dalam tahap pembangunan. Berbagai makhluk aneh yang tak bisa dijelaskanya terbang ke sana kemari membawa berbagai material bangunan. Makhluk itu berjumlah lebih dari seratus. Mereka mempunyai tubuh berkilau putih dan keempat sayap yang bergerak memutar cepat ke samping. Tapi yang lebih membuatnya takjub adalah makhluk itu dapat membuat berbagai bangunan dalam waktu cepat. Bahkan satu bangunan setinggi 20 meter bisa selesai dalam waktu 30 menit. Itu bahkan lebih cepat dari Arcoleia. Acror tak pernah melihat makhluk itu sebelumnya.


"Apa yang sedang kau lihat, sok pintar!" Glaba tiba-tiba datang dari belakang dan hampir membuat Acror terjungkal karena kaget.


"Bisakah kau tidak melakukan itu?!" Acror kembali berdiri tegak di pucuk pohon. "Aku sedang mengamati sesuatu. Hei, bisakah kau beritahu aku apa makhluk itu?"


Mata abu-abu Glaba mengikuti arah yang ditunjukkan Acror. Dia menyipit sebentar dan menggeleng. "Tidak, aku tidak tahu." Katanya. "Tunggu, kerajaan macam apa itu? Aku tidak pernah melihat kerajaan dengan bangunan seperti itu."


"Itulah yang jadi pertanyaanku. Seharusnya tempat itu adalah lokasi dimana kerajaan Elf yang dihancurkan Varna minggu lalu berada. Tapi kenapa berganti dengan kerajaan dengan bangunan aneh seperti itu?"


"Siapa peduli. Yang lebih penting, apa energi itu sudah kau dapatkan?"


Acror menggeleng. "Masih belum. Tapi lokasinya sudah kudapatkan. Dan dia berada di dalam kerajaan aneh itu."


"Kalau begitu apalagi yang kita tunggu? Segera kita ketuk pintu depannya dan hancurkan segala hal yang menghalangi jalan, seperti yang biasa kita lakukan."


"Jangan! Kita harus menyelidiki dulu kerajaan macam apa itu. Salah-salah kita akan berhadapan dengan orang yang telah membunuh Varna." Ujar Acror.


"Kau takut, ya?" Glaba menyunggingkan senyuman pada Acror tanda mengejek.


"Aku bukannya takut, tapi hanya berhati-hati. Kau tahu kan, Varna adalah Prime generasi kelima. Walau generasi paling bawah, dia masih seorang Prime. Ya meskipun dia lebih suka menyebut dirinya makhluk dunia bawah atau kegelapan daripada seorang Prime. Intinya jika seorang Prime asli bisa kalah dengan mudah tanpa perlawanan, apa jadinya kita yang seorang Prime Tiruan?" Jelas Acror.


Glaba hanya dapat terdiam mendengar kata-kata Acror.


"Lebih baik kita mengawasi dulu dari sini. Setelah kita tahu situasinya, maka kita akan langsung menyerang mereka. Lagipula kita juga hanyalah tim pencari."


"Lalu kita harus apa sekarang?"


"Itu akan membosankan!"


"Jangan mengeluh terus! Kau harus bersabar jika mau mendapatkan hasil yang bagus." Tegas Acror.


Sembari melayang di udara, Glaba merengutkan wajahnya dan melipat kedua tangan di dada. Sejak dulu dia paling benci dengan yang namanya menunggu. Dia lebih suka beraksi daripada berdiam diri mengawasi keadaan. Situasi seperti ini sangatlah membosankan. Yah, begitulah yang dia pikirkan, sampai kebosanan itu mendadak hilang saat matanya menangkap sebuah pipa besi lonjong aneh yang melayang ke arah mereka. Pipa besi itu bergerak sangat cepat karena pendorong roket yang ada di belakangnya. Semakin dekat, pipa besi yang ternyata adalah sebuah misil berdaya ledak tinggi itu mengunci mereka berdua.


Glaba dan Acror tidak menyadari itu sampai benda itu meledak dengan kekuatan yang besar. Ledakan yang sangat merusak itu menciptakan  gelombang kejut kuat serta hembusan angin yang sangat kencang. Meski meledak di udara, ledakan itu mampu menciptakan kawah walau tidak seluas kawah bekas pertarungan Reyhanaf dan Varna. Hanya 10x lebih kecil saja.


Dari dalam asap yang mengepul tebal tanpa henti, dua orang keluar dalam keadaan compang-camping serta dipenuhi luka-luka serius. Acror dan Glaba dalam keadaan yang tidak benar-benar baik. Beberapa anggota tubuh mereka telah hilang entah kemana. Namun berkat kekuatan regenerasi mereka yang cepat, luka yang serius serta fatal dapat disembuhkan dengan mudah.


"Sial! Apa-apaan itu tadi!?" Seru Glaba.


"Entahlah, tapi sepertinya ada orang lain selain kita berdua."


Mata mereka menelaah keseluruh pelosok bersamaan. Setiap jengkal mereka telusuri guna mencari pelaku penyerangan itu. Tapi sayangnya mereka tidak bisa menemukan siapapun. Lalu entah darimana datangnya, saat mereka sedang asik mencari, satu lagi misil datang dan kali ini bukan hanya satu melainkan ada lima bahkan sepuluh. Masing-masing misil mempunyai daya ledak yang sama dengan misil yang pertama.


Dengan cepat Acror segera membuat medan energi pelindung, dan beruntungnya semua itu berhasil menahan serangan misil-misil tersebut. Setelah serangan selesai dan ledakan berhenti, Acror menghilangkan medan pelindungnya. Dia lalu terbang lebih tinggi agar bisa keluar dari kepungan kepulan asap yang tercipta karena hasil dari ledakan beruntun tadi. Begitu juga dengan rekannya, Glaba. Dia juga melayang lebih tinggi dan segera mengikuti rekannya itu.


Dia atas langit yang cerah sedikit berawan, Acror mencari si penyerang dengan wajah marahnya. "Siapa kau!!? Kaluar atau akan aku ratakan wilayah ini!" Serunya keras.


"Jangan hanya berbicara. Langsung saja ratakan tempat ini." Celetuk Glaba. "Kalau hanya menggertak, mereka tidak akan mau mendengar. Itulah kenapa otot lebih penting daripada otak!"


Glaba mengangkat kedua tangannya ke atas dan secara mengejutkan bongkahan besar material tanah, pohon-pohon, serta benda-benda lainnya terbang ke atas seperti kehilangan berat. Bahkan material cair seperti air juga ikut terangkat ke atas. Bukan hanya itu, saat Glaba mengetahui ada kerikil yang ikut terangkat, dia menjentikkan jarinya dan tiba-tiba saja kerikil kecil itu berubah menjadi bongkahan batu yang besar.


"Glaba, apa yang kau lakukan!? Kau tidak perlu sampai menggunakan kekuatan besar seperti itu!" Protes Acror.


"Biarkan saja. Biar orang itu tahu siapa bosnya di sini." Glaba lalu mengatupkan kedua tangannya dan di saat yang bersamaan, bongkahan tanah serta material-material lainnya menyatu mengikuti gerakan tangannya. Membentuk bola besar yang menyamai seukuran gunung. Matanya menatap tajam dan tertuju pada kota yang sedang di bangun itu. Dengan seringai pada wajahnya dia melempar bola itu jauh dengan pikirannya tepat ke arah kerajaan tersebut.


"Glaba, kau sudah terlalu jauh! Kenapa kau mengarahkan bola itu ke sana? Bukankah kau ingin mengincar si penyerang itu?"


"Untuk seorang lelaki yang mengikuti jalan kegelapan kau terlalu lembut. Kau bilang energi itu ada di sana bukan? Daripada menunggumu membuat rencana payah, lebih baik kita langsung saja serang mereka. Lagipula cepat atau lambat kita juga akan menyerang mereka bukan?" Tutur Glaba.


"Lalu bagaimana dengan si penyerang itu?"


"Siapa peduli, mungkin dia sudah tewas dan menjadi satu dengan bola indahku itu."


"K-kau...."


"Sekarang ucapkanlah selamat tinggal kerajaan aneh, hahahahaha!" Glaba tertawa keras di saat bola besar itu semakin mendekati kerajaan. Akan tetapi tiba-tiba saja terjadi hal yang tidak disangka-sangka olehnya.


Ketika bola itu sudah berjarak 20 meter dari kerajaan, mendadak bola itu hancur berkeping-keping. Bukan tanpa sebab bola itu hancur begitu saja. Ada sebuah sinar laser misterius yang langsung menghujam sang bola hingga membuat bola itu meledak dan hancur seketika. Laser itu sendiri datang dari arah hutan yang masih terbilang lebat karena memang tidak terkena efek kekuatan Glaba.


Acror dan Glaba terkejut seketika. Terlebih untuk Glaba. Dia sepertinya yang sangat terkejut. Bagaiamana bisa laser yang ukurannya tidak lebih besar dari bola ciptaannya bisa hancur dengan sangat mudah? Itu benar-benar mustahil. Padahal, sesaat sebelum bola itu dilemparkan, Glaba sudah mengubah massanya menjadi seberat bulan. Tapi kenyataan yang harus diterima Glaba tidak sesuai dengan ekspetasinya.


"B-bagaimana bisa!?"


"Itu karena massa dan energinya." Acror angkat bicara. "Massa dan energi laser itu lebih padat dan lebih berat dibandingkan dengan bola milikmu."


"I-itu tidak mungkin. Bagaimana penyerang itu bisa mengendalikan massa dan energi dengan mudah? Bahkan dia juga bisa menyesuaikan berat dan kepadatannya secara tepat. Sihir apa yang dia gunakan?" Glaba melongo tak percaya.


"Entahlah. Tapi mulai sekarang kita harus berhati-hati. Aku rasa penyerang kita lebih kuat daripada yang kita duga."


"Jadi begitu ya? Baiklah, kalau itu maumu."


Kata-kata Glaba membuat perasaan Acror menjadi tidak enak. "Glaba, apapun yang mau lakukan, hentikan itu! Kita bahkan belum melihat siapa penyerang kita."


"Persetan dengan itu semua. Aku tidak sudi dilecehkan seperti ini. Dia bahkan belum menunjukan jati dirinya. Itu artinya dia meremehkan kita. Karena itu jika dia tidak mau keluar, maka aku yang akan membuatnya keluar dengan MENGHANCURKAN DARATAN INI!"


Glaba mengeluarkan energi yang lebih besar dari yang sebelumnya. Sampai-sampai gempa yang cukup kuat mengguncang dengan hebat. Padahal saat itu Glaba sedang melayang di udara, tapi tekanan yang diberikan energinya sanggup menciptakan gempa yang dapat menguncang apa saja. Bongkahan tanah dan material-material lainnya kembali terangkat ke udara. Meninggalkan tempat mereka ke sisi sang Prime.


Acror yang melihat rekannya mengeluarkan energi yang sangat besar tidak mampu berbuat apa-apa. Dia tau tabiat rekannya itu. Jika sudah mengamuk, maka sulit untuk menghentikannya. Tapi lain ceritanya dengan laser yang kembali datang dengan tiba-tiba.


Glaba yang sibuk berkonsentrasi pada energinya harus mau terkena serangan mendadak itu. Dia tidak bisa mengindari serangan yang begitu cepat. Bahkan mata Acror pun tak menyadari jika ada sebuah serangan laser dadakan yang mengarah pada rekannya. Dengan ganas, laser mematikan itu menerjang bahu Glaba hingga membuat bagian tubuh itu lenyap beserta lengannya.


Saat itu juga Glaba langsung berteriak kesakitan. Lengannya hilang dan darah segar terus mengucur deras dari luka tersebut. Konsetrasi pada energinya hilang seketika dan membuat bongkahan tanah serta material-material yang terangkat ke atas jatuh kembali ke bawah. Gempa menghilang dan keadaan kembali seperti sedia kala.


Acror segera bertindak cepat. Dia menutup luka rekannya dengan sihir penyembuh. Darah memang berhenti mengalir, tapi tangan Glaba tidak bisa tumbuh kembali. Acror sendiri bingung karena seharusnya Glaba bisa meregenerasi tangannya. Tapi walau mereka telah menunggu lama, tangan lelaki itu tak kunjung beregenerasi.


"A-ada apa ini? Kenapa tanganku tidak tumbuh kembali?" Glaba berkata panik.


Acror memegang dagu. Sejenak dia tersentak mengingat sesuatu. "Itu Negatif energi. Hanya itu penyebab yang masuk akal."


Glaba menatap Acror bingung. "Negatif apa?"


"Sebuah energi yang berada jauh di luar dimensi kita. Energi itu berada di dimensi negatif yang terdapat di kedalaman Limbo. Energi itu bersifat terbalik dari energi positif yang seharusnya. Kekuatan kita didasari dengan energi positif. Entah itu dari energi Mana, Alam, Tenaga Dalam, ataupun Kosmik. Kesemua energi itu mengandung energi positif. Sifat dari negatif energi adalah melawan balik energi postif. Jadi jika kekuatan regenarismu dibuat oleh energi yang mengandung energi positif, maka energi negatif mengubah dan memutarbalikkan itu semua. Itulah kenapa tanganmu tidak bisa tumbuh kembali."


"Kenapa aku tidak pernah mendengar energi negatif? yang ku tahu kemampuan untuk menetralkan suatu energi disebut Anti-Energy. Seperti yang dimiliki orang itu."


"Energi negatif bersifat tersembunyi. Itu tidak bisa dideteksi atau dirasa. Tidak banyak yang tahu tentang energi negatif. Hanya ada segelintir orang yang tahu energi negatif dan yang kutahu kesemuanya tidak ada di semesta kedua ini." Jelas Acror. "Tapi entah kenapa ada yang berbeda."


"Berbeda?"


"Energi negatif ini tidak seperti energi negatif pada umumnya. Seperti telah dimodifikasi. Bentuk, kepadatan, serta warnanya sedikit berbeda dari yang pernah kulihat. Ini menakjubkan sekaligus menakutkan. Siapa kiranya orang dibalik ini semua?"


Glaba terdiam. Matanya lalu melirik ke arah tangannya yang sedang disembuhkan Acror. "Kalau begitu kenapa kau bisa menggunakan kemampuanmu padaku?"


"Sederhana. Aku menggunkan energi netral. Energi antara positif dan negatif. Energi ini adalah energi yang kubuat sendiri. Bahkan rancangan asliku tidak bisa menggunakan energi ini. Itu artinya aku telah berevolusi." Jelas Acror. "Lupakan soal itu, yang terpenting adalah kita mundur. Walau aku punya energi netral, aku tidak bisa setiap saat menggunakannya. Energi ini mempunyai batasnya sendiri."


"Sial. Kenapa kau tidak hancurkan dia dengan energi netralmu."


Acror menopang tubuh Glaba. "Kau ini tuli atau apa!? Sudah kubilang kan kalau energi ini ada batasnya. Daripada bunuh diri, lebih baik kita mundur untuk sementara waktu. Kita akan memikirkan cara lain."


"Tch!" Glaba hanya bisa berdecak kesal. Tapi dia harus setuju untuk yang satu ini. Jika mereka melanjutkan, bisa-bisa mereka mati sebelum mengambil kembali energi Argento. Saat ini, walau bertentangan dengan prinsipnya, mundur adalah pilihan terbaik.


Acror baru ingin kembali terbang sampai satu suara menghentikan mereka. Bukan hanya suara, namun sebuah medan energi berhasil menjebak mereka berdua. Acror lengah. Jika bukan karena rekan bodohnya ini, mungkin kejadian seperti ini bisa ditanggulangi.


"Medan energi?! Dan kepadatannya sangat pas."


[ Kalian tidak diizinkan untuk pergi. ]


Ucap sebuah suara. Acror berbalik dan mendapati seorang gadis kecil berambut putih dengan pakaian aneh yang begitu ketat. Di dahinya terdapat kristal biru yang berkilau. Dia berdiri dihadapannya dengan menodongkan sebuah senjata.


[ Kalian telah melanggar beberapa pelanggaran dan mempunyai niat untuk mencelakakan penduduk Moudha. Karena itu sebagai hukuman kalian akan ditangkap dan diinterogasi. Sebaiknya kalian ikut tanpa melakukan perlawanan. ]


"Cih, kenapa aku harus mengalami ini." Mata Acror menatap gadis kecil yang ada di depannya. "Maaf, bukannya aku tidak mau, tapi rekanku sedang terluka, jadi kami harus buru-buru."


[ Perawatan akan dilakukan di dalam Kerajaan. Jadi kau jangan khawatir. Sekarang ikut aku. ]


Acror menghela nafas. Jika mereka tidak pergi sekarang juga itu bisa menjadi masalah. Selain itu Acror juga merasakan ada hawa keberadaan yang sangat besar mendekat selain dari gadis kecil itu. Ini gawat. Mereka harus segera pergi sekarang juga.


Acror menatap gadis itu untuk terakhir kali lalu kemudian tersenyum. "Maaf, nona kecil. Aku menolak."


Sebuah ledakan cahaya terjadi tiba-tiba di dalam bola medan energi itu. Cahaya yang sangat menyilaukan itu bahkan terlihat hingga radius 2 kilometer. Gadis kecil itu sempat kaget karenanya. Dia menghalangi cahaya itu dengan tangannya, lalu berganti dengan kacamata pilot yang muncul dari penutup telinganya.


Cahaya itu berlangsung cukup lama sampai meredup dan meredup lalu menghilang sepenuhnya. Di saat yang sama, di dalam bola medan energi itu, Acror dan Glaba sudah tidak terlihat lagi. Kedua orang itu telah menghilang entah kemana. Membuat gadis itu kebingungan heran dibuatnya.


Di tengah keheranan sang gadis kecil, dari arah belakangnya, seorang wanita datang dengan menaiki sebuah sulur kayu. Wanita itu berambut cokelat panjang dan mengenakan gaun panjang putih bersih. Mata hijaunya menatap heran ke arah gadis kecil yang tadi.


"AI-Sys, ada apa? Aku sempat mendengar ledakan dan kilauan cahaya. Apa yang terjadi?"


Gadis itu tak menjawab. Dia menatap kosong ke sebuah gunung, lalu beralih ke wanita tadi.


[ Tidak, tidak ada apa-apa. ]


Alis wanita itu terangkat satu tak yakin. "Sungguh?"


Gadis itu mengangguk.


[ Ayo kita pergi, Dewi. Pekerjaan ini harus selesai sebelum Tuanku bangun. Dia pasti akan terkejut nanti. ]


"Baiklah, kalau itu yang kau katakan. Ayo."


Mereka lalu kembali menuju kerajaan yang ada di belakang mereka. Meninggalkan kerusakan yang ditimbulkan oleh dua orang misterius yang datang entah darimana. Tapi sejenak gadis itu berpikir, mungkin suatu saat nanti, mereka akan dipertemukan kembali. Ya, dan saat ini masih sangat lama.


  


  


Bersambung....