Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 07 : Quest yang merepotkan



Baiklah, apa yang sudah ku dapat satu hari ini. Pertama, aku menjadi anak Dewa yang mempunyai jabatan paling tertinggi dari segala Dewa, kedua aku memperoleh kekuatan overpower yang tak masuk akal, ketiga aku berhadapan dengan seorang Dewa Naga suci yang sekarang menjadi pelayanku, dan sekarang aku mendapat berbagai macam Quest yang tentunya tak sesuai dengan harapanku untuk hidup dengan tenang di dunia ini.


"Haah, satu hari di sini tapi aku sudah terlibat dalam berbagai macam masalah. Sialnya nasibku." Kataku lesu.


Aku memandang langit malam yang gelap sembari memulihkan energi Magni seperti semula. Ini memang salahku karena aku menyerap mananya dengan sangat banyak. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Jika tidak kulakukan itu, maka Magni tidak akan berhenti mengamuk. Jika sudah bangun nanti aku akan mengajarinya soal pengendalian emosi.


Aku kembali menghela nafas. Dengan malas, kuucapkan kalimat yang membuat perasaanku berubah menjadi jengkel. "Buka Quest!"


[ Quest dibuka :


Daftar mana yang ingin anda pilih?


- Quest utama


- Quest sampingan


- Quest batas waktu ]


Tangan kiri ku ( Aku tak bisa menggunakan tangan kanan ku karena sedang menyalurkan energi yang sebelumnya kucuri ke tubuh Magni yang saat ini tengah pingsan ) memegang kepalaku pelan. Entah kenapa ketika aku melihat layar transparan ini kepalaku mendadak sakit.


"Quest utama tolong...." Ucapku pelan.


[ Quest utama dibuka :


- Menjadi seorang Dewa


- Mencari pasangan hidup


- Membangun sebuah kerajaan sendiri


- Memiliki pengikut


- Memiliki penduduk


- Mencari seorang pelayan ✔


- Mengalahkan Rex ad Inferos dan Kesembilan Dewa Sesat


- Memiliki keuangan ( Goal :90/100.000.000 Cleo )


• Kembali? ]


Mataku memandang sayu semua tugas itu. Kata si wanita komputer misterius, ini adalah tugas yang biasa diberikan oleh seorang Dewa pada anak Dewa mereka. Ya, tugas khusus yang diberikan oleh Ras demigod. Tugas ini bertujuan sebagai ujian jika kita ingin menjadi bagian dari mereka. Sebenarnya kita tidak diharuskan menyelesaikan semua tugas ini. Hanya bagi mereka yang ingin menjadi Dewa. Aku mulai berpikir mungkin yang dimaksud Ayah dengan "syarat" adalah ini.


Akan tetapi, walau begitu kita juga tidak boleh berpaling dari tugas ini. Mengabaikan tugas ini, itu berarti sama saja kita mengabaikan perintah dari orang tua kita. Kita akan mendapat dosa dan dibuang ke neraka. Untuk itu kita diharuskan berusaha terlebih dulu, dan jika kita tetap tidak bisa menyelesaikannya sampai kematian kita, ( batas waktunya memang sampai si demigod itu mati ) maka orang tua Dewa kita akan melihat itu sebagai usaha dan memperbolehkan kita tinggal di khayangan. Hanya tinggal, bukan menjadi Dewa. Seperti surga gitulah.


Namun ada satu masalahnya...


"KENAPA HANYA AKU YANG DAPAT BANYAK TUGAS, SEMENTARA DEMIGOD LAIN HANYA DAPAT SATU ATAU DUA SAJA. INI TIDAK ADIL!!!" Teriakku kesal.


Ya, aku satu-satunya demigod yang memiliki lebih dari satu atau dua tugas. Jika kebanyakan demigod lain hanya mendapat setidaknya satu atau dua tugas utama, aku mendapat lebih banyak dari mereka. Dan kuyakin mereka tidak memiliki Quest sampingan maupun Quest batas waktu. Maksudku, untuk apa aku punya Quest sampingan sementara aku sudah mempunyai banyak Quest utama? Benar-benar hal yang tidak masuk akal. Dan apa pula Quest batas waktu itu? Ini sudah kelewatan. Jika terus begini, hidup tenang dan damai ku benar-benar tidak akan pernah terwujud ( kenapa aku bisa tahu semua itu? Tentu saja karena nyonya misterius yang ada di kepalaku ).


"Ayah! Aku mohon datanglah kemari! Aku ingin berbicara denganmu." Aku berseru ke arah langit malam. Memohon agar Ayahku segera turun ke bumi dan menjelaskan tentang Quest-Quest ini. Tapi tidak ada yang terjadi.


Dengan kesal ku lempar empat buah pinus yang terhampar disekelilingku. Namun saat buah pinus itu akan ditelan oleh si jago merah, mendadak buah itu berhenti. Melayang di udara. Aku seketika sadar jika bukan cuma pergerakan buah itu yang berhenti, tetapi aliran mana yang tengah kusalurkan ke tubuh Magni juga ikut berhenti. Udara tak terasa lagi. Daun-daun yang rutin berguguran juga ikut berhenti di udara. Seakan waktu tengah berhenti saat ini.


Itu memang benar.


Seketika aku menoleh ke arah belakang tempat suara itu berasal dan mendapati seorang pria tua yang sangat ku kenali. Dia adalah All Father Miracle, Ayah angkatku. Dengan gagahnya dia berdiri dibelakangku sambil membenarkan posisi dasi itu dari jas putihnya. Seluruh tubuhnya bercahaya hingga aku sempat merasa silau untuk beberapa saat.


Ada apa Rey? Kenapa kau memanggilku?


"Yakin Ayah tidak tahu?"


Ah, soal Quest-Quest itu, ya?


Aku mengangguk pelan.


Tapi, dari mana kau tahu jika kau memiliki beberapa Quest? Aku belum memberitahumu.


"Dari si wanita komputer misterius."


wanita komputer misterius?


"Iya, wanita yang ada di kepalaku. Gaya bicaranya seperti Google Translate Voice dan selalu memberitahuku tentang berbagai hal yang tidak kumengerti."


Oh dia. Hahaha....


Aku kebingungan melihat Ayah tertawa seperti itu. "Ayah kenapa tertawa?"


Bagaimana Ayah tidak tertawa? Kau memberi nama kepada makhluk paling cerdas yang pernah Ayah ciptakan dengan sebutan wanita komputer misterius, haha....


Mukaku memerah. "So-soalnya dia tidak memberitahukan namanya, sih." Kataku malu.


Eh, benarkah? Baiklah aku akan memberitahu nama aslinya padamu. Dia disebut AI-Sys, singkatan dari Artificial Intelligence System. Dia merupakan suatu sistem yang bisa diatur dalam konteks ilmiah. Dia memang ada di bumi, namun tidak ada yang sampai secanggih AI-Sys. Tapi keberadaan AI-Sys juga karena campur tanganku. Jika tidak tentu dia tidak akan tercipta di sini. AI-Sys sudah ku program untuk membantumu. Aku tahu kekuatan keajaiban sangat besar dan tidak bisa dikendalikan dengan mudah. Karena itu aku menciptakan dia untuk membantumu dalam mempelajari sihir dan skill-mu agar tidak lepas kendali dan membuat alam semesta ini menuju kiamat sebelum waktunya.


Aku tersentak. Seketika aku teringat kejadian portal tempo hari. Apa Ayah tahu, ya? Jika kulihat dari wajahnya yang senyum-senyum sendiri, aku menduga Ayah sudah mengetahuinya.


Oh ya, soal Quest itu aku tidak bisa melakukan apapun. Itu sudah menjadi kewajibanmu. Mendapat Quest dari kami, para dewa, itu tandanya kami telah mengakuimu sebagai bagian dari kami. Sekaligus tanda jika kau telah diberkati.


"Ya, ya aku tahu itu. Tapi kenapa aku mendapat Quest lebih banyak daripada yang lain?"


Kau istimewa Rey. Kau adalah anakku. Pewaris dari kekuatan keajaiban dan satu-satunya makhluk yang akan menjadi penerus Dewa Keajaiban. Itupun jika kau mau.


Aku terkejut. "Jadi karena aku adalah anakmu aku mendapat tugas jauh lebih banyak dari yang lain, begitu?"


Ya, kau benar. Tapi karena hal itu jugalah kau menjadi satu-satunya demigod yang tidak punya batas waktu. Itulah keistimewaanmu Rey.


"Apa maksud Ayah?" Tanyaku tak paham.


Rey, kau diberkahi dengan keabadian. Bahkan sebelum kau menjabat menjadi Dewa. Kau tau apa artinya?


Aku menggeleng.


Itu artinya kau bebas ingin menyelesaikan Quest-Quest itu kapan pun kamu mau. Di dunia ini yang bisa membunuhmu hanyalah aku, Tuhan Yang Maha Kuasa, dan dirimu sendiri. Bahkan sang Dewa waktu tidak bisa main-main denganmu. Seharusnya kau senang karena kau adalah satu-satunya Demigod yang tidak punya batas waktu.


"Tidak mungkin...." Aku terkejut dengan penuturan Ayahku. Tidak ada yang bisa membunuhku kecuali atas keinginanku sendiri, Ayahku, dan kehendak Tuhan? Ini Gila. Tapi di samping itu aku juga cukup terkejut saat tahu Ayah juga makhluk ciptaan Tuhan. Kukira Ayah adalah "Tuhan", tapi ternyata dia hanya makhluk ciptaan-Nya.


Yah, aku memang ciptaan-Nya. Aku dan Dewa-Dewi yang lain hanyalah salah satu dari sekian banyak ras yang Dia ciptakan. Seperti halnya ras lain, walaupun kami diberkati dengan keabadian, jika kami dibunuh maka kami juga bisa mengalami kematian. Lain dengan-Nya, yang kekal dan tak mungkin bisa mati. Tugas kami tidak lain hanyalah menjaga salah satu dari banyaknya alam semesta yang Dia ciptakan.


"Lalu apa masih ada makhluk yang lebih kuat darimu?" Tanyaku penasaran.


Tentu saja ada. Banyak sekali makhluk-makhluk yang jauh lebih kuat dari kami yang tentunya juga berasal dari berbagai alam semesta yang berbeda.


Aku mengangguk mengerti. Aku baru tahu jika ada berbagai macam versi alam semesta dan makhluk-makhluk kuat di luar sana. Kukira Ayah adalah makhluk paling kuat, tapi ternyata bukan. Aku semakin bertambah penasaran. Entah karena perasaanku saja tapi aku mendadak yakin jika suatu saat nanti aku akan bertemu mereka satu per satu. Tapi aku tidak tahu kapan. Hanya feeling ku saja. Namun sepertinya itu akan segera terjadi.


Namun saat aku sedang menikmati lamunanku itu, mendadak aku tersentak karena teringat sesuatu. "Tunggu dulu. Jika Ayah bukan Tuhan, kenapa Ayah mengambil Jiwaku dan mengirimku ke alam semesta ini? Bukankah seharusnya aku ada di alam baka dan menunggu sampai Hari Pembalasan tiba? Setahuku seperti itu."


Bukankah sudah kubilang karena aku kagum padamu? Tentu saja terlebih dulu aku telah meminta izin pada-Nya sebelum mengambil jiwamu dan membawamu ke sini.


"Lalu soal teori aku yang tidak bisa dilahirkan kembali ke dunia itu...."


Tidak, teori itu memang benar. Tapi sebagian lainnya karena itu sudah diluar kuasaku. Aku tidak bisa mengembalikan jiwa yang sudah kuambil begitu saja. Kalau kulakukan itu, bukan hanya alam semesta saja yang goyah, tapi kau juga bisa terjebak ke dalam Limbo jika aku sampai gagal melakukan pemindahan jiwamu. Percayalah, kau tidak akan mau ke sana.


"Memangnya apa Limbo itu?" Tanyaku.


Sebuah tempat atau bisa dibilang penjara terburuk sebelum kau dibangkitkan kembali pada saat Hari Pembalasan tiba. Itu adalah dunia di mana jiwa yang tidak terikat dengan langit maupun bumi berkumpul di sana. Biasanya jiwa itu adalah milik orang-orang yang mati bunuh diri. Ketika jiwa telah jatuh ke dalam Limbo, dia akan terkatung-katung ditempat gelap tanpa arah tujuan, berusaha mencari jalan keluar yang sebenarnya tidak akan pernah ada. Kalau kau tetap bersikeras ingin mencobanya maka aku tidak keberatan.


"Eh, tidak-tidak. Aku senang tinggal di sini, hehe...." Kataku dengan senyum yang terkesan dipaksakan ( dan semoga Ayah tak menyadari itu ). Aku lalu berdeham. "Ehm..., Baiklah bagaimana jika kita tinggalkan masalah Limbo dan kembali ke topik kita yang sebelumnya."


"Ting tong, seratus buat Ayah." Kataku senang sambil mengangkat ibu jariku. "Jadi bagaimana? Apa bisa dikurangi?"


Ayah tersenyum lembut. Sempat kupikir jika dia menyetujuinya, tapi sedetik kemudian harapanku hilang ketika melihat Ayah menggelengkan kepalanya perlahan.


Tidak, maafkan aku Rey. Itu sudah menjadi peraturannya.


Aku menghela nafas. Sudah kuduga itu tidak mungkin. Di samping itu aku juga tak bisa memaksa Ayah. Ya sudahlah, lihat sisi baiknya. Setidaknya aku tidak perlu meributkan soal batas waktu.


Oh ya, Rey itu mengingatkanku. Sebagai imbalan karena berhasil menyelesaikan satu Quest, kau akan mendapat hadiah dariku. Katakan, kau mau apa?


"Hadiah? Hadiah apa?"


Rey, ketika seorang demigod berhasil menyelesaikan satu Questnya, maka dia berhak mendapatkan hadiah. Biasanya kami memberi imbalan itu dalam bentuk suatu berkah, atau bisa dibilang dengan kekuatan. Tapi karena kau sudah menerima berbagai macam berkah dariku maka aku akan memberimu sesuatu yang lain. Ayo cepat, katakan kau mau apa?


"Tunggu, memangnya Quest apa yang telah selesai?"


Kau tidak tahu? Coba lihat layar transparanmu. Bagian "mencari seorang pelayan" telah berhasil kau selesaikan.


"Tunggu, kapan aku...." Ucapanku terhenti saat mataku melihat Magni yang terbaring lemas di depanku. Oh, jadi saat dia menyatakan menjadi pelayanku, secara otomatis maka Quest itu selesai. Aku tidak akan menyadari itu jika Ayah tak memberitahuku.


Mataku lalu kembali menatap Ayah. "Kalau begitu, soal aku yang bisa meminta apa saja..., apa itu benar?"


Ya tentu saja, asal bukan soal pengurangan Quest, ya.


Sudah kuduga. Tapi itu tidak masalah. Aku bisa meminta sesuatu yang lain. Coba kupikir dulu. Aku ingin apa ya? Agh, aku kebingungan. Memikirkan ini membuat kepalaku sakit. Aku tidak bisa meminta sebuah berkah lagi, dan aku juga tidak mau meminta itu. Terlalu overpower tidak akan menyenangkan. Aku tidak ingin berakhir menjadi seorang pengangguran yang mempunyai moto menjadi pahlawan karena hobi. Bisa-bisa hidupku akan dilanda dengan kebosanan.


Aku kembali berpikir keras. Mataku bergerak ke segala arah, mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai referensi untuk hadiahku. Setelah mencari cukup lama, padanganku jatuh pada Magni. Apa kubantu saja dia ya? Toh, aku juga tidak terlalu menginginkan imbalanku. Aku sudah punya semuanya. Daripada aku bingung ingin meminta apa, lebih baik imbalanku untuk Magni saja. Dan aku sudah tahu ingin meminta apa.


Rey? Kenapa diam? Apa kau sudah memutuskan imbalanmu?


Aku tersentak. Ucapan Ayah mengagetkanku. "Y-ya, aku sudah."


Kalau begitu apa?


"Aku ingin Ayah menghidupkan kembali Ras naga suci."


Ayah terkejut bukan kepalang. Tapi rasa keterkejutan Ayah seketika menghilang dan berhenti dengan ekspresi wajah yang sangat serius.


Dia sudah cerita ya?


Aku mengangguk. Aku bisa melihat mata Ayah melirik Magni yang saat ini pingsan dan juga tak bisa bergerak karena terkena efek penghentian waktu.


Magni adalah makhluk yang kuat. Dia pintar, cepat belajar, dan juga baik. Kepunahan rasnya tidak lebih adalah karena kesalahanku. Bahkan aku tak pernah bisa melupakan hari itu.


"Apa maksud Ayah?"


Malam sebelum pembantaian itu terjadi, Nico datang ke istana ku untuk memprotes hasil pertandingannya dengan Magni. Tetapi aku menolaknya dan mengatakan jika hasil pertandingan itu adalah suci dan tidak bisa diubah lagi. Mendengar itu Nico lantas marah dan menuduh jika aku bersekongkol dengan Magni. Dia menyebut aku sebagai seorang yang tak adil yang telah mencurangi hasil pertandingan. Tentu saja aku langsung marah dan bermaksud untuk menghabisinya jika bukan karena Ayahnya yang menghentikan aksiku. Sebagai gantinya aku mengusirnya dari khayangan dan mengasingkannya ke Limbo untuk selama-lamanya.


Wajah Ayah berubah muram. Meski cahaya ditubuhnya tak hilang, tapi ekspresi itu membuatnya terlihat agak gelap.


Akan tetapi pengasingan itu tidak membuatnya belajar dari kesalahan. Tidak lama setelah dirinya di asingkan, entah bagaimana caranya Nico berhasil kabur dan lari ke negara naga suci. Dia melampiaskan amarahnya lalu mengamuk dan membunuh semua Ras naga suci. Aksinya lalu dihentikan oleh Magni dan membuat Nico harus melarikan diri ke Altars karena menderita cedera yang sangat parah. Namun kedatangan Magni sangat terlambat.


"Ya, saat dia datang, rasnya sudah tewas tak bersisa." Kataku sedih. "Ayah sendiri Apa yang Ayah lakukan? Apa Ayah tidak bisa berbuat sesuatu saat itu?"


Sayangnya tidak. Sebagai seorang Dewa yang paling berkuasa di khayangan, aku dilarang ikut campur masalah orang lain jika itu tidak menyangkut alam semestaku secara langsung.


Aku terkejut lagi. "Apa-apaan itu? Siapa yang membuat peraturan seperti itu? Sangat tidak masuk akal." Ucapku kesal sementara kulihat Ayah hanya bisa mengangkat kedua bahunya. "Lalu apa yang terjadi pada Magni?"


Magni lalu datang padaku dan memohon agar aku menghidupkan kembali rasnya. Tapi itu mustahil. Menghidupkan makhluk yang telah mati sangat melanggar hukum yang ada. Dan itu berlaku untuk kami semua para Dewa. Untungnya Magni mau mengerti hal itu dan meminta sesuatu yang lain sebagai gantinya.


"Apa itu?"


Dia memohon untuk turun ke Altras agar dia bisa mengejar Nico dan membalaskan dendamnya. Aku melihat kesedihan dan kemarahan dimatanya kala itu. Siapapun pasti akan melakukan hal yang sama jika ada diposisi Magni. Aku yang merasa iba lalu memberinya izin asalkan dia mau menerima Quest dariku.


"Jadi Magni juga dapat Quest?"


Setiap Dewa yang turun ke Altras tanpa mempunyai tujuan untuk mensejahterakan makhluk yang tinggal di sana harus mau mendapat Quest. Ini sama saja dengan hukuman pengasingan. Namun bedanya aku tidak mencabut seluruh kekuatan Magni. Hanya sifat Dewa-nya saja.


"Err... Ayah? Jika Ayah mencabut sifat Dewa-nya, bukankah keabadian Magni juga hilang?"


Ya itulah salah satu resikonya. Tapi kau tenang saja. Umur ras naga suci seperti Magni lebih lama dari yang bisa kau bayangkan. Rentan usia mereka adalah 20.000 tahun, sementara Magni baru di Altars sekitar 1400 tahunan. Jadi kau tidak perlu khawatir dia akan mati sebelum kau menyelesaikan semua Quest-mu itu. Akan tetapi kau juga harus berhati-hati. Magni tidak lagi kekal dan kebal seperti saat dia menjabat sebagai Dewa. Tubuhnya bisa terluka dan juga bisa terkena penyakit.


"Ooh..., itulah kenapa dia takut padaku saat melihat status gilaku waktu itu."


Ya, begitulah. Pokoknya kau harus hati-hati. Kau tidak mau kan salah satu Quest-mu tidak selesai?


"Aku mengerti." Ucapku. Tapi sesaat kemudian aku berubah terkejut. "Eh, apa maksudmu hati-hati? Apa Ayah menyuruhku untuk menjaganya? Bukannya harusnya dia yang menjagaku. Selain itu apa maksud Ayah dengan Quest? Jangan bilang aku punya Quest untuk menjaga dan melindungi Dewa Naga Api Kuno."


Kau tidak tahu? Seharusnya itu baru masuk saat kau memutuskan ingin membantunya. Kalau tidak salah ada di Quest sampingan.


Ah, jadi Quest yang baru masuk itu. Haah..., Ini semakin merepotkan saja. Jika begini kurasa aku harus segera mengucapkan selamat tinggal sekarang. Selamat tinggal kehidupan damai yang menyenangkan, dan selamat datang kehidupan berat yang sangat merepotkan.


"Oh ya, Yah. Aku punya satu pertanyaan lagi." Tanganku membuat gerakan memijat disekitaran dahiku. Itu wajar karena sekarang aku benar-benar pusing. Kurasa itu normal mengingat beban yang akan segera ku tanggung tidak lama lagi. Haduh..., memikirkannya saja sudah membuatku sakit kepala. "Aku pernah mendengar dari Magni jika kau memberi dia beberapa tugas dan salah satunya adalah menjadi pelayanku. Apa itu benar?"


Kau benar. Aku juga memberinya Quest untuk mengalahkan Rex ad Inferos dan kesembilan Dewa sesat. Seperti punyamu.


"Kenapa kau juga memberinya Quest itu? Memangnya, apa hubungannya mengalahkan


Rex ad Inferos dan dendamnya terhadap Nico?"


Itu karena Nico adalah salah satu dari kesembilan Dewa sesat. Jadi,


memberinya Quest itu sama juga dengan membantunya membalaskan dendamnya.


"Aku mengerti. Jadi Quest kami saling berhubungan ya."


Ayah tersenyum senang. Dia lalu melihat jam tangan putih yang terpasang di lengannya dan tiba-tiba sebuah cahaya datang dengan mendadak dari tubuhnya sampai membuat mataku kembali silau.


Jika tidak ada pertanyaan lagi maka aku harus pergi. Tidak baik bagiku berlama-lama di sini.


Cahaya yang berpendar di tubuh Ayah semakin terang dan terang.


Sampai jumpa lagi, Rey. Jika kau perlu aku lagi kau bisa memanggilku. Tapi tidak dalam waktu dekat.


"T-tung--"


Oh, satu lagi. Kumohon, ini permintaanku pribadi.


Ayah menatapku untuk terakhir kali dan menggerakan bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu. Namun sayangnya aku tak bisa mendengarnya dengan jelas karena suara bising dari cahaya yang semakin benderang terang. Dan beberapa detik setelahnya Ayah menghilang, begitu juga dengan penghentian waktu ini. Ketika Ayah telah kembali ke khayangan, waktu kembali seperti semula. Buah pinus yang ku lempar masuk ke dalam api yang membara. Angin mulai terasa kembali. Mana yang ku salurkan juga kembali mengalir seperti sedia kala.


Aku menatap Magni dalam. Nafasnya telah teratur dan kurasa dia tengah tidur saat ini. Haah..., sepertinya perjalanan panjangku baru dimulai sekarang. Banyak sekali yang


kutahu hari ini. Tentang alam semesta paralel, makhluk-makhluk yang berperan di dalamnya, dan keberadaan Tuhan. Belum lagi keterlibatan ku dalam perseteruan dua Dewa yang sudah berlangsung selama ribuan tahun. Beban ini semakin berat saja setiap harinya. Tapi semoga saja tidak terjadi sesuatu yang lebih merepotkan dari ini.


Tatapanku beralih ke langit malam. Pandanganku memandang jauh ke sana. Mencoba menerawang ke arah khayangan melewati bintang-bintang. Sejenak kupikir Ayah memang sengaja melakukannya, tapi kukira karena kesalahanku juga yang memang tak membutuhkan hal itu. Dalam hati ku menyesal.


"Kenapa aku tak mengambil hadiah itu, ya?" Kataku pelan.


Itulah sepenggal kisah penyesalan seorang pemuda yang terjebak di dunia lain. Dipenuhi dengan beban dan masalah yang siap datang kapan saja. Mungkin si pemuda berpikir, jika dia terus mengalami hal seperti ini, Limbo akan jadi tempat liburan yang bagus untuk melepas penat.


  


    


Bersambung....