Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 15 : Kekuatan dari sang Raja.



Author Pov...


Hening. Rillia hanya bisa melongo tanpa bisa berkata-kata. Di depannya, Reyhanaf menghentikan satu tinjuan Varna hanya dengan satu tangannya. Seakan pukulan yang telah membunuh kesepuluh Roh Agung itu bukanlah sesuatu yang berarti baginya. Lelaki itu tersenyum menyeringai dan entah kenapa auranya terasa berbeda. Dan satu lagi hal yang membuat Rillia kehabisan kata untuk diucapkan, pedang silver berselimut api hitam yang sebelumnya menembus tubuh lelaki itu, kini telah hilang tanpa jejak. Bekasnya masih ada, yaitu robekan pada bajunya yang terlihat seperti bekas tusukan, namun yang menjadi pertanyaannya, dimanakah pedang itu?


"K-kau...--"


"Kau tidak apa-apa, Tuan Putri? Tadi itu hampir saja." Reyhanaf memotong ucapan Rillia sembari menyeringai. "Oh ya, aku lupa memperkenalkan diriku. Namaku Reyhanaf dan aku akan menghancurkan musuh itu untukmu, hahahaha..."


Rillia masih diam terpaku. Apa benar itu adalah lelaki yang bertarung bersamanya beberapa waktu lalu? Entah kenapa dia sangat berbeda. Bukan cuma auranya, tapi gaya bicara dan gerak tubuhnya juga berbeda.


"Jangan bengong begitu Putri," Reyhanaf lalu memandang ke arah Varna yang juga nampak terkejut dengan kedatangan lelaki tersebut. Tangannya lalu melepas tinju itu dan membuat gerakan menyentil yang diarahkan tepat ke dahi Varna, "tidak ada yang berbeda dariku, semua masih sama. Tinggiku, rambutku, mataku, suaraku, walau sedikit agak dalam sih. Aku juga bahkan mengenakan pakaian yang sama. Hanya saja ada sedikit perubahan kecil."


BUUUMM!!!


Dengan satu setilan pada dahi sang monster, Varna terpental jauh seakan terkena sebuah pukulan yang begitu kuat. Bunyi menggelegar yang keluar dari sentilan Reyhanaf mampu menciptakan sebuah gelombang kejut dan angin yang berderu-deru. Varna melayang cepat tanpa arah. Dia beberapa kali menabrak pepohonan hingga akhirnya tubuhnya dihentikan oleh sebuah tebing batu.


Rillia kembali terkejut. Bahkan kali ini tubuhnya mendadak sedikit gemetar. Bagaimana tidak? Reyhanaf mementalkan Varna sebegitu jauhnya hanya menggunakan sentilan pada dahi si monster. Lagipula, apa-apaan efek gelombang kejut dahsyat tadi? Ini sangat tidak wajar. Perbedaan kekuatannya tiba-tiba meningkat dua kali, tidak seratus kali lipat dari sebelumnya.


Reyhanaf lalu menoleh ke arah Rillia. "Putri bisa kau urus Magni? Dia kelihatannya hampir mati, hehehe, bercanda. Tapi ini serius, kau harus menolongnya cepat. Soal orang ini serahkan saja padaku. Aku yang akan mengurusnya. Aku akan menyusulmu 2 menit lagi, jadi jangan khawatir. Kau mengerti?" Katanya.


Rillia hanya mengangguk pelan. Melihat itu membuat Reyhanaf hanya tersenyum. Dia mengangkat ibu jarinya dan menghilang menjadi serpihan debu. Sesaat setelah Reyhanaf pergi, Rillia langsung menghembuskan nafas yang telah dia tahan dengan sekuat-kuatnya. Keringatnya mengucur deras serta tubuhnya menggigil layaknya berada di tengah badai salju. Nafasnya naik turun tidak teratur bagai orang berlari puluhan kilometer tanpa minum setetes air pun. Aura yang dipancarkan oleh Reyhanaf sangatlah kuat. Dia merasa seperti tenggelam ke dalam lautan dan ditarik hingga menuju dasarnya. Auranya benar-benar berbeda dengan saat mereka baru pertama kali bertemu. Hanya ada dua penjelasan yang dapat membuatnya masuk akal. Pertama, Reyhanaf berhasil menyerap semua kekuatan dari api hitam beserta pedang tersebut atau kedua, Reyhanaf yang itu bukanlah Reyhanaf yang sebenarnya.


Roh penjaga yang tersisa, yaitu roh agung berelemen kayu, melirik Rillia dengan mata besarnya. Dia sepertinya tahu ketakutan yang melanda gadis itu.


"∀ʁԍ λon ɑɼɼ ʁᴉმμϝˋ wλ ɼɑqλ? (Anda tidak apa-apa, Tuan Putri? )" Tanya roh itu.


Dengan gemetar serta nafas yang tersengal-sengal Rillia menjawab. "I-Iˌw ɻ-ɻᴉuԍ· ( A-aku tidak a-apa-apa. )"


"qᴉq λon ĸuoʍ ϝμᴉƨ wɑu? ( apa anda kenal dengan pria tadi? )" Tanya roh itu lagi.


"λ-λԍƨˋ I ĸuoʍ· ( y-ya, aku kenal. )"


"I ɑw ƨnʁbʁᴉƨԍq· I qᴉquˌϝ ԍxbԍcϝ λon ϝo ĸuoʍ ɑ bʁᴉwԍ· ( Saya terkejut. Saya tidak menyangka anda kenal dengan seorang Prime. )"


Rillia menatap roh itu bingung. "bʁᴉwԍ? ( Prime? )"


"ԍƨ· Iɻ ๅnqმᴉuმ ɻʁow ϝμԍ ƨwԍɼɼ ɑuq ɑnʁɑˋ ϝμԍʁԍˌƨ uo qonpϝ μԍ ᴉƨ ɑ bʁᴉwԍ· ( Ya. Jika ditilik dari bau dan auranya, tidak salah lagi dia adalah seorang Prime. )" Ujar roh itu.


"bʁᴉwԍ?ʍμɑϝ ᴉƨ bʁᴉwԍ? ( Prime? apa itu Prime? )"


"Иɑϝnʁɑɼɼλˋ ᴉɻ λon qo uoϝ ĸuoʍ ϝμɑϝ· bʁᴉwԍ ᴉƨ ouԍ oɻ ϝμԍ ԍxϝᴉucϝ ɑucᴉԍuϝ ʁɑcԍƨ· ∀ccoʁqᴉuმ ϝo ɼԍმԍuqˋ ϝμԍλ ԍxᴉƨϝԍq pԍɻoʁԍ ɑɼɼ ʁɑcԍƨ ʍԍʁԍ cʁԍɑϝԍq· ꓕμԍλ ɑʁԍ ԍʌԍu oɼqԍʁ ϝμɑu ϝμԍ ∀uმԍɼƨ ɑuq ɑɼƨo nƨˋ ϝμԍ ᴉwwoʁϝɑɼƨ· on conɼq ƨɑλ ϝμԍλ ɑʁԍ ϝμԍ ɻᴉʁƨϝ ʁɑcԍ ᴉu ϝμԍ nuᴉʌԍʁƨԍ· ( Wajar jika anda tidak tahu itu. Prime adalah salah satu ras kuno yang sudah punah. Menurut legenda, mereka sudah ada sebelum semua ras diciptakan. Bahkan mereka itu lebih tua daripada Malaikat dan juga kami, para makhluk abadi lainnya. Bisa dibilang mereka adalah ras pertama yang ada di alam semesta. )" Jelas Roh itu. "Bnϝ μouԍƨϝɼλˋ ϝμᴉƨ ɑɼƨo ƨnʁbʁᴉƨԍq wԍ· I qo uoϝ ƨnƨbԍcϝ ᴉɻ ϝμԍʁԍ ᴉƨ ouԍ oɻ ϝμԍw ɼԍɻϝ· ∀ƨ I ʁԍcɑɼɼˋ ϝμԍ bʁᴉwԍ ʁɑcԍ μɑq uoϝ pԍԍu ƨԍԍu ɻoʁ ɑ ɼouმ ϝᴉwԍ ɑɻϝԍʁ ꓕμԍ Էᴉʁƨϝ oɻ Ղnqმwԍuϝ Dɑλ· ( Tapi jujur, ini juga cukup mengejutkan saya. Saya tidak menduga jika ada seorang diantara mereka yang masih tersisa. Yang saya ingat, ras Prime sudah lama tidak terlihat keberadaannya sejak Kiamat pertama terjadi. )" Tambahnya.


Rillia melongo kembali. Tebakan keduanya benar, Reyhanaf yang tadi, bukankah Reyhanaf yang asli. Meski wajah dan tubuhnya sama, dia bukanlah Reyhanaf. Pantas saja aura serta kekuatannya sangat berbeda.


"ꓕμԍuˋ ʍμɑϝ ɑʁԍ ʍԍ ʍɑᴉϝᴉuმ ɻoʁ? ( Kalau begitu, apa lagi yang kita tunggu? )" Buru Rillia. "ʍԍ wnƨϝ cɑϝcμ nb ƨoou¡ ( kita harus segera menyusulnya! )" Buru Rillia.


"∀ʁԍ λon ƨnʁԍ bʁᴉwԍ ᴉƨ ɑu ɑpƨoɼnϝԍ pԍᴉuმ ʍᴉϝμ ɑ boʍԍʁ ouԍ ɼԍʌԍɼ pԍɼoʍ Ҽoq· ( Apa anda yakin? Prime adalah makhluk absolut dengan kekuatan satu tingkat di bawah Tuhan. )"


"Wԍɑuᴉuმ? ( Artinya? )"


"ꓕμɑϝ wԍɑuƨˋ ϝμԍ boʍԍʁ μԍ μɑƨ ᴉƨ ƨo ƨϝʁouმ ϝμɑϝ ᴉϝ cɑu qԍƨϝʁoλ ϝμԍ ԍuϝᴉʁԍ nuᴉʌԍʁƨԍ ɑuq ԍʌԍʁλϝμᴉuმ ᴉu ᴉϝ· Iu ɻɑcϝˋ Iˌw ƨnʁԍ ᴉɻ μԍ ʍɑuϝƨˋ μԍ ๅnƨϝ uԍԍqƨ ϝo ƨuɑb μᴉƨ ɻᴉuმԍʁƨ ϝo wɑĸԍ ᴉϝ boƨƨᴉpɼԍ· ( Itu artinya, kekuatan yang dia miliki sangatlah kuat sehingga dapat menghancurkan seluruh alam semesta dan semua yang ada di dalamnya. Bahkan saya yakin jika dia mau, dia hanya perlu menjentikkan jari untuk membuat semua itu menjadi mungkin. )"


Rillia menelan ludah. "Iƨ ϝμɑϝ ƨϝʁouმ? ( Sekuat itukah? )"


Roh itu mengangguk perlahan karena takut Rillia akan jatuh dari kepalanya. "Bnϝˋ ᴉɻ ϝμԍ bʁᴉucԍƨƨ ᴉuƨᴉƨϝƨˋ ϝμԍu ʍԍ cɑu ƨԍԍ ᴉϝ· Bnϝ ʍᴉϝμᴉu ɑ ƨɑɻԍ qᴉƨϝɑucԍ· ( Tapi jika Tuan Putri memaksa, maka kita bisa melihatnya. Namun dalam jarak yang aman."


"ꓕμԍuˋ ʍԍ ɻoɼɼoʍ μᴉw· ( Kalau begitu kita susul dia. )"


"ԍƨˋ bʁᴉucԍƨƨ· ( Baik, Tuan Putri. )"


Sang roh segera melesat cepat ke arah Reyhanaf pergi. Dengan penciuman dan indra perasa si Roh, mereka dapat mengikuti jejak aura yang ditinggalkan oleh Reyhanaf. Namun di sela-sela perjalanan mereka, Rillia teringat sesuatu.


"Astaga, Tuan Magni! Aku sampai melupakan dia." Ucapnya kaget. "ԍ wnƨϝ ϝnʁu ϝo ϝμԍ bɼɑcԍ oɻ Γoʁq Wɑმuᴉˋ ϝμԍ Ҽʁԍɑϝ Ƨbᴉʁᴉϝˋ ∀ʁpoʁ· ( Kita harus berbalik ke tempat Tuan Magni Roh agung Arbor. )"


"ԍƨˋ bʁᴉucԍƨƨ· ( Baik, Tuan Putri. )" Arbor sang Roh agung alam berbalik arah cepat sampai membuat Rillia hampir terjatuh. Dia melesat dengan lincahnya menuju ke tempat sang mantan Dewa naga itu.


Di sepanjang perjalanan, Rillia menatap sedih ke arah bangkai-bangkai para Roh agung yang tak sengaja mereka lewati. Hati Rillia seakan teriris melihat mereka. Tak terasa setetes air mata jatuh dari pipinya dan menghilang terbang terbawa angin. Walau bagaimanapun juga ini adalah salahnya. Jika dia tak memanggil mereka, pasti para Roh penjaga masih hidup sekarang.


"Էoʁმᴉʌԍ wԍ· Iɻ I qouˌϝ cɑɼɼ λon მnλƨˋ ϝμԍu λon მnλƨ ʍouˌϝ ԍuq nb ɼᴉĸԍ ϝμᴉƨ· ( Maafkan aku. Jika aku tak memanggil kalian, maka kalian tidak akan bernasib seperti ini. )" Kata Rillia pelan.


Sang Roh Agung penjaga alam, Arbor, membisu. Rillia pikir Arbor marah atas ulahnya. Namun dia malah tersenyum kecil dan berkata dengan lembut. "bʁᴉucԍƨƨˋ λon qouˌϝ uԍԍq ϝo ɑboɼoმᴉzԍ· Eʌԍʁλϝμᴉuმ ϝμɑϝ μɑbbԍuԍq ϝoqɑλ ᴉƨ uoϝ λonʁ ɻɑnɼϝ· ԍ μɑʌԍ cowԍ ɑϝ λonʁ ƨᴉucԍʁԍ ʁԍdnԍƨϝ ɑuq onʁ oʍu ʍᴉɼɼ· ԍ ɑʁԍ ϝμԍ მnɑʁqᴉɑu ƨbᴉʁᴉϝƨ oɻ ∀ɼϝɑʁƨ ɑuq μɑʌԍ pԍcowԍ bɑʁϝ oɻ onʁ qnϝλ ɑƨ მnɑʁqᴉɑu ƨbᴉʁᴉϝƨ ϝo bʁoϝԍcϝ ϝμᴉƨ ɼɑuq ϝo qԍɑϝμ· Eʌԍu ᴉɻ ʍԍ qᴉԍ ϝμɑϝ wԍɑuƨ ʍԍ qᴉԍ ʍᴉϝμ μouoʁ· ꓕμԍʁԍ ᴉƨ uo ʁԍwoʁƨԍ ɻʁow onʁ μԍɑʁϝƨ ɻoʁ pԍᴉuმ cɑɼɼԍq pλ λon· ԍ ɑɼƨo ʍᴉɼɼ uԍʌԍʁ pԍ ɑuმʁλ ɑϝ λon ɻoʁ cɑɼɼᴉuმ nƨ μԍʁԍ· Ƨo I pԍმ λon ϝo ʍᴉbԍ ɑʍɑλ ϝμoƨԍ ϝԍɑʁƨ ɑuq qouˌϝ pԍ ƨɑq ɑuλwoʁԍ· ԍ ɑɼɼ ʍԍuϝ ϝμʁonმμ ϝμᴉƨ ϝoმԍϝμԍʁ· ԍ ɑʁԍ pʁoϝμԍʁƨˋ ɑuq λon ʍᴉɼɼ ɑɼʍɑλƨ pԍ ϝoმԍϝμԍʁ· ∀ɼϝμonმμ ᴉu ๅoλ ɑuq ƨoʁʁoʍ· ( Tuan Putri, Anda tidak perlu meminta maaf. Semua kejadian yang terjadi hari ini bukanlah kesalahan Anda. Kami datang atas permintaan tulusmu dan kemauan kami sendiri. Kami ini adalah Roh penjaga Altars dan sudah menjadi bagian dari tugas kami sebagai Roh penjaga untuk melindungi tanah ini sampai mati. Jikapun kami mati itu artinya kami mati dengan terhormat. Tidak ada rasa menyesal dari hati kami karena sudah dipanggil olehmu. Kami juga tidak akan pernah marah padamu yang sudah memanggil kami ke sini. Jadi saya mohon pada anda hapus air mata itu dan jangan bersedih lagi. Kita bersama melewati ini. Kita adalah saudara dan saudara selalu bersama. Walau dalam suka maupun duka. )"


Rillia tertegun. Dia tidak menyangka jika sang Roh Agung sangat peduli padanya. Rillia ingin menangis haru, tapi dia tahan karena tak ingin membuat Roh Agung Arbor juga ikut bersedih. Dia lalu mengelap air matanya dan mencoba untuk tetap tegar. Roh Agung Arbor benar, dia tidak sendiri. Dia bersama dengannya dan juga Tuan Magni serta lelaki bernama Reyhanaf. Tidak ada yang akan menyalahkannya, karena bagaimanapun juga mereka berjuang untuk perdamaian Altars. Sebuah senyum terlukis di wajahnya yang ayu. Dia menatap sang Roh Agung dan menepuk kepalan Roh itu pelan.


"ꓕμɑuĸ λon pᴉმ pʁoϝμԍʁ· I bʁowᴉƨԍ I ʍᴉɼɼ qԍɻᴉuᴉϝԍɼλ bʁoϝԍcϝ Wonqμɑ ɑuq ∀ɼϝɑʁƨ· ꓕμᴉƨ ᴉƨ wλ bʁowᴉƨԍ ɻoʁ ɼᴉɻԍ· ( Terima kasih, Kakak. Aku berjanji aku pasti akan melindungi Moudha dan Altars. Ini adalah janjiku seumur hidup. )" Janji Rillia. Dia lalu kembali berdiri dengan pandangannya yang menatap lurus ke depan. Ekspresinya yang serius menandakan jika sang Tuan Putri sudah kembali bangkit. "∀ɼʁᴉმμϝ ϝμԍ Ҽʁԍɑϝ Ƨbᴉʁᴉϝˋ ɼԍϝˌƨ ƨɑʌԍ Wonqμɑ ɑuq ∀ɼϝɑʁƨ¡ Bnϝ ɻᴉʁƨϝ ʍԍ μɑʌԍ ϝo ƨɑʌԍ Wʁ· Wɑმuᴉ ɻᴉʁƨϝ· μɑϝ qo λon ϝμᴉuĸ Ҽʁԍɑϝ Ƨbᴉʁᴉϝ ɑმʁԍԍ ( Baiklah Roh Agung, ayo kita selamatkan Moudha dan juga Altars! Tapi pertama-tama kita harus menyelamatkan dulu Tuan Magni. Bagaimana? Roh Agung setuju? )"


Sang Roh Agung menjawab dengan mendesis tanda setuju. Dia kemudian mempercepat laju gerakannya agar mereka cepat sampai ke tempat sang mantan Dewa Naga berada.


Sementara itu di tempat lain, Varna melenguh pelan di dalam lubang tebing yang tercipta dari tabrakannya. Dahinya yang sempat hancur oleh sentilan Reyhanaf kembali pulih secara perlahan. Dia lalu merangsek keluar dari lubang tebing itu dengan nafas yang terasa sesak. Varna beruntung masih dapat hidup. Jika dia tidak memakai perlindungannya, sudah pasti kepalanya hancur dan berserakan di mana-mana.


"Kekuatan macam apa itu?" Ucapnya. "Dia membuatku terpental jauh hanya menggunakan sentilan?! Selain itu dia juga membuat kepalaku hampir hancur berantakan. Ini tidak bisa dipercaya."


Varna lalu melayang ke angkasa dan segera melesat terbang ke arah utara cepat. "Aku harus mundur. Kekuatan orang itu... Kekuatannya benar-benar tidak masuk akal. Aku tidak percaya mengatakan ini tapi harus kuakui, levelnya jauh di atasku." Katanya. Dia tak habis pikir, bagaimana bisa seorang yang tadinya bukan tandingan bagi si monster, mendadak menjadi kuat dengan kekuatan yang tak bisa dibayangkan. Padahal sebelumya, lelaki itu hanyalah seekor lalat baginya, bahkan dia sempat sekarat karena menusuk dirinya sendiri dengan senjata mematikan Varna. Sebenarnya apa yang telah terjadi?


Varna menggeleng cepat. Yang terpenting sekarang adalah memberitahukan ancaman ini pada atasannya. Ini adalah informasi berharga yang harus dia sampaikan dengan segera. Jika tidak, seluruh rencana yang telah mereka susun selama bertahun-tahun akan hancur dalam kedipan mata. Lelaki itu adalah ancaman nyata yang harus mereka waspadai. Tidak bisa dianggap remeh. Karena itu Varna harus bergerak secepat mungkin. Dalam keadaan tengah terbang dengan kecepatan yang luar biasa, Satu tangannya lalu direntangkan ke depan dan kemudian membuat gerakan memutar searah jarum jam. Selang beberapa detik berlalu, sebuah portal dimensi muncul secara ajaib di depannya. Varna ingin segera memasuki portal itu, namun sayangnya mendadak portal itu menghilang tanpa jejak.


Varna terhenti di angkasa. Dia kebingungan karena walau dia sudah beberapa kali mencoba lagi dan lagi, tetap saja tidak ada yang terjadi.


"Apa-apaan ini?!" Varna kembali mencoba sihirnya, namun hasilnya tetap sama. Nihil. "Kenapa sihir ku tidak bekerja?"


"Coba tebak kenapa?"


Varna menoleh cepat kebelakang dimana suara itu berasal. Matanya seketika membelalak saat mendapati Reyhanaf tengah melayang dengan tangan terlipat di dada.


"Terkejut? Aku juga sama! Aku tidak menyangka kau bisa selamat dari sentilan itu. Biasanya makhluk hidup manapun akan hancur kepalanya kalau ku sentil seperti itu." Ucapnya lagi.


Varna menggertakan giginya. "Kau... Seharusnya kau sudah mati! Aku melihat kau menusukkan senjata itu ke perutmu sendiri. Bagaimana bisa kau masih hidup!?" Tanyanya. "Selain itu dimana senjata itu sekarang?"


"Oh, maksudmu tusuk gigi itu? Entahlah, aku tidak tahu."


"T-tusuk gigi?!" Varna terkejut bukan kepalang. Matanya terbelalak dengan mulut yang tak bisa berucap. Di Alam semesta ini, hanya ada tiga orang yang boleh meremehkan senjata pembunuh Tuhan. Pertama orang gila, kedua orang bodoh yang menyombongkan kekuatannya, dan ketiga orang yang kekuatannya melebihi senjata itu sendiri. Dan sialnya, Varna dengan sangat terpaksa harus berhadapan dengan pilihan ketiga.


Reyhanaf kemudian menatap Varna tajam dengan seringai mulutnya yang semakin lebar. "Nah, karena sebelumnya kau sudah bersenang-senang, sekarang waktunya giliranku untuk bersenang-senang."


Varna tiba-tiba merasakan energi yang meluap-luap dari tubuh Reyhanaf. Aura yang memancar keluar bahkan sanggup membuat atmosfer disekitar mereka berubah drastis. Tekanan yang besar sekaligus berat yang diberikan aura tersebut sanggup membuat gempa berkepanjangan yang bahkan bisa dirasakan dari atas udara. Burung-burung dan hewan-hewan yang terkena dampak aura tersebut, saling memekik panik. Mereka berlarian dan berterbangan ke segala arah untuk mencari tempat perlindungan yang aman. Tapi tidak untuk Varna. Tidak ada tempat aman baginya. Varna tidak bisa lari maupun bersembunyi, karena dimanapun dia akan melakukannya, Reyhanaf seperti akan telah siap di sana untuk menunggunya. Layaknya seorang Malaikat pencabut nyawa yang asli. Melihat bagaimana Reyhanaf menyeringai, itu sudah cukup untuk menjawab semua kemungkinan kecil dia bisa lolos dari orang itu. Aura kekuatan tidak masuk akal yang dirasakan Varna bukanlah omong kosong. Karena itulah dia ketakutan sekarang. Dimata sang monster, tidak ada lagi seorang Reyhanaf maupun seorang manusia yang pernah mencoba untuk bunuh diri demi mengalahkannya. Kini, dimatanya hanya ada sesosok makhluk berkekuatan absolut yang sangat mustahil untuk dia lawan.


Secara reflek Varna melesat mundur kebelakang sejauh 20 meter. Dia benar-benar menjaga jarak dari orang itu. Nafasnya naik turun sementara keringat dinginnya tak kunjung berhenti mengalir. Ketakutan Varna terhadap orang depannya telah mengambil alih tubuhnya. Gemetar akan ketakutan pada kematian membuat Varna hanya bisa menatapnya tanpa berbuat apa-apa sedikitpun.


Sekarang dia tahu siapa makhluk di depannya. Dia perlahan-lahan mengingat ketika Reyhanaf memancarkan aura besar untuk menekannya. Fakta jika anak itu bukanlah seorang manusia ada benarnya. Dia lebih dari itu. Bahkan seorang Dewa sekelas Miracle sekalipun bukan tandingan dari lelaki itu. Tidak salah lagi. Selain dari Tuan Rex ad Inferos, aura seperti ini hanya dimiliki oleh satu makhluk saja. Makhluk yang sudah punah milyaran tahun lalu. Prime.


"K-kau seorang Prime?" Tanya Varna.


"Oh, rupanya kau menyadarinya, ya? Ya itu benar, aku memang Prime."


Varna tersenyum. Ini pertama kalinya dia tersenyum sejak bertarung dengan Reyhanaf tadi. "K-kalau begitu kita berada di pihak yang sama."


Reyhanaf menelengkan kepalanya. "Kenapa kau berpikiran seperti itu?"


"Tuan kami adalah seorang pemimpin dari para Prime. Karena kau adalah seroang Prime, maka otomatis kau berada di pihak kami. Bukankah seharusnya seroang rakyat harus mengikuti Rajanya?"


Lelaki itu masih menelengkan kepalanya. "Kata siapa?"


Varna mendadak terdiam. "Eh?"


"Kau kira aku akan mengikutinya hanya karena dia adalah Raja? Kau salah. Aku tidak akan pernah mengikuti seorang Raja palsu."


Senyum di wajah Varna seketika menghilang. "K-kalau begitu kami bisa membantumu."


"Membantu?"


"Y-ya. Aku tahu kalau itu bukanlah tubuh aslimu. Tubuh aslimu jauh tersimpan dan terkurung di dalam tubuh anak itu. Anak yang sekarang ada di depanku." Kata Varna.


Reyhanaf atau yang ternyata adalah Rege, si Prime, terdiam. Matanya masih memandang tajam Varna yang mencoba bernegosiasi dengannya.


"Jadi begini kesepakatannya. Kau bersedia untuk mengikuti kami, dan kami akan langsung mengeluarkanmu dari tubuh anak itu. Bagaimana?"


Varna kembali memainkan ritmenya. Senyumnya seketika muncul kembali. "Y-ya, kau bisa bebas. Asalkan kau mau bergabung dengan kami." Ujarnya.


Si monster menjadi percaya diri. Dia berpikir Rege akan tergiur dan mau bergabung menjadi pengikut Rex. Tapi sesaat kemudian sebuah cengkraman kuat melanda lehernya. Varna tidak menduga itu. Semua terjadi sangat cepat. Tiba-tiba saja Rege sudah mencekik lehernya tanpa dia bisa menyadari itu. Tangan kekar Varna berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkraman tangan Rege pada leher itu. Tetapi sayangnya rege lebih kuat darinya. Varna memandang si makhluk abstrak dengan ketakutan. Apalagi setelah melihat mata merah menyala Rege dan seringai mengerikan yang kembali terlukis di wajahnya. Langsung saja keringat dingin Varna mengucur lagi.


"Maaf saja ya, aku tidak tertarik. Tawaran anak ini lebih menggiurkan daripada tawaranmu. Jadi, buang jauh-jauh dari pikiranmu itu. Oh dan satu hal lagi. Aku ini punya dendam tersendiri dengan pimpinanmu itu. Jadi akan kupastikan jika organisasi kalian beserta dengan pemimpin palsumu itu akan hancur. Dan untuk memulai deklarasi ini, kau yang akan menjadi pertama. Bagaimana menurutmu? Permainan ini akan menjadi menyenangkan, loh. Dengan adegan penculikan, penghancuran, amarah, dan kesedihan lalu goalnya akan terjadi happy ending dengan kepala pemimpin dan para petinggi organisasi kalian sebagai trophy kemenangannya. Oh aku tidak sabar ingin melakukan semua hal itu. Oouh, Ini pasti akan seru!"


"K-kau su-sudah gila!" Varna masih berusaha melepaskan cengkraman tangan Rege. "Ren-rencana menjijikkanmu i-itu tidak akan bi-bisa me-menghancurkan k-kami. K-kau yang ak-akan han--- ARGGHHH!!!!"


Ucapan Varna terputus ketika Rege menguatkan cengkramannya. Lalu jari telunjuk Rege ditempelkan dibibirnya sebagai tanda diam. "Ssst... Permainan akan segera dimulai."


Bwoooshh!!!


Tiba-tiba Varna tebakar hebat oleh api hitam yang sebelumnya ada di senjatanya. Api itu membakar dengan kobaran yang sangat besar hingga hawa panasnya sanggup membakar beberapa pepohonan yang ada di bawah mereka. Bahkan kebakaran hutan terlihat memajang sampai 3 kilometer jauhnya.


"AAAAAAAAAAAHHHH!!!!!" Varna berteriak kesakitan sekencang-kencangnya. Tubuhnya menggeliat liar ke sana kemari. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Api hitam itu terus membakar tubuhnya dengan ganas. Varna juga tidak bisa menghilangkan api itu lantaran sihir No-Mana-nya hanya bekerja pada energi Mana. Dan Ignis adalah salah satu api yang tidak mengandung energi Mana. Api itu terbuat dari energi murni. Jadi mustahil bagi monster itu untuk bisa menghilangkannya. Ini benar-benar hari yang sangat sial bagi Sang Monster. Pada awalnya dia melirik mereka dari atas, kini sekarang dialah yang harus mendongakkan kepalanya untuk melihat lelaki itu. Dari balik sang api, mata Varna sempat melirik Rege dengan tatapan terkejut.


Seakan mengetahui arti dari tatapan itu, Rege berkata. "Jangan terkejut begitu. Wajar jika aku bisa mengendalikan api unggun ini. Ini tidak ada apa-apanya bagiku. Tapi nggak tahu deh kalau kalian. Yah, paling tidak kau hanya akan berubah menjadi abu, tak apa kan?"


Senyuman mengejek Rege yang terpatri di wajahnya membuat Varna geram. Tangannya yang tiada berkulit lagi diakibatkan oleh api hitam itu mengepal keras. "J-jangan... Sombong hanya karena kau seorang Prime! A-akan kutunjukkan padamu jika kaum Dunia Kegelapan tidak selemah seperti yang kau pikirkan!"


Mata Varna mendadak menyala merah dan seketika tubuhnya berubah menjadi besar dan semakin besar hingga menyamai ukuran sebuah gunung. Dengan tanduk besar lagi panjang serta muka mengerikan mirip babinya, Varna telah kembali kebentuk monsternya. Ini cukup efektif untuk melepaskan cengkraman tangan Rege pada lehernya.


"Menjadi besar? Dasar bodoh. Bukankah itu membuatnya menjadi lebih mudah diserang?"


Varna membuka mulutnya lebar dan memunculkan cahaya hitam kemerahan dengan petir berwarna serupa mengelilinginya. Cahaya ini juga muncul pada 4 tentakel besar di belakangnya. Seperti sedang mengisi energi, cahaya itu bertambah besar dan besar setiap detiknya. Tekanan yang diberikan juga tak kalah dahsyatnya dengan tekanan aura milik Rege.


"KAU AKAN HANCUR!!!!" Teriak Varna.


Tetapi Rege hanya menanggapinya dengan santai. Jarinya lalu membentuk gerakan menjentik dan kemudian...


CTAK!


Bunyi jentikkan jari menggema dan secara mengejutkan sekaligus bersamaan, tubuh besar Varna langsung terbakar api hitam yang sebelumnya pernah membakarnya. Api yang bertambah besar itu membuat Varna kelojotan. Konsentrasi pada sihirnya terganggu sehingga menjadi liar dan tak terkendali. Laser hitam yang keluar dari mulut serta keempat tentakelnya menembak ke segala arah. Ada yang menyasar ke gunung hingga membuatnya terbelah dua, ada yang menembak ke arah angkasa hingga menciptakan badan petir berwarna hitam kemerah-merahan, dan ada yang menyasar hutan lalu membuat hutan itu hancur tak bersisa. Tapi untuk yang terakhir tembakkannya tepat meluncur ke arah Rege. Namun walaupun tepat sasaran, Rege dapat menghentikannya hanya dengan satu jari telunjuk. Laser besar itu seketika terbelah menjadi dua dan berlalu melewatinya.


"AAARGH!!! AAAAAARRRRRGGHH!!!!" Teriakan Varna semakin menjadi-jadi. Ini karena tubuhnya dilengkapi dengan sihir regenerasi sehingga pemulihan lukanya dengan luka yang diterima menjadi sinkron dan menimbulkan rasa sakit yang berkepanjangan.


Sementara Varna terus tersiksa, Rege hanya jongkok di udara sambil mengorek kupingnya dengan jari kelingking. Matanya lalu melihat tajam dan sambil marah, Rege berteriak ke arah Varna yang tersiksa. "Woi, bisakah kau kecilkan suaramu!?Aku sedang berkonsentrasi di sini!"


"SI-SIALAN KAU.... PRIME...!!!"


"Hah, kau terlalu berisik. Baiklah, waktunya mengakhiri ini."


Rege menjentikkan jarinya lagi. Dan seketika api hitam yang membakar tubuh monster itu menghilang. Sesaat setelah api menghilang, Asap hitam mengepul tebal dari tubuh Varna yang gosong. Monster raksasa itu tidak bergerak dan perlahan tapi pasti ukurannya juga bertambah kecil dan kecil sampai kembali ke ukuran semula. Tubuh Varna bergetar dengan nafas yang naik turun tak teratur. Dia ingin bangkit namun satu kaki Rege yang muncul secara tiba-tiba langsung menginjak kepalanya keras sampai menimbulkan kawah besar dan gempa yang cukup dahsyat.


Retakan tanah yang terus menjalar diakibatkan dari injakan kaki Rege ke kepala Varna membuat beberapa daratan terbelah. Bahkan sampai menciptakan celah jurang yang cukup dalam.


"Permainan ini tidak seru. Kau bukan lawan yang tangguh. Aku kecewa." Kata Rege. Dia mengangkat kakinya dari kepala Varna dan menatap sinis monster itu. Rege lalu berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Varna.


Namun baru selangkah Rege pergi, Varna yang sedang terkapar tak berdaya mendadak bangkit dan mengarahkan tinju mematikannya kearah wajah Rege. Sial bagi si Prime. Dia tidak menyadari tinju itu. Dengan telak Varna meninju mukanya sesaat Rege menoleh ke arah belakang.


BUAK!!!


BUUUUUM!!!


Angin dahsyat yang timbul akibat tinju itu meratakan hutan yang berdiri di belakang Rege sampai dengan jarak 1 kilometer. Asap dan debu langsung mengepul memenuhi hutan begitu Varna selesai dengan tinjunya. Dia berdiri lemas. Semua lukanya memang telah sembuh, namun dia mendadak merasakan rasa nyeri pada kepalan tangannya. Matanya melihat kepalan tangan itu dan seketika membelalak saat tahu tangannya telah remuk tak berbentuk. Tangan itu patah dengan jari-jarinya yang mengarah ke segala arah.


"AAAAAHH!!!" Varna kembali berteriak histeris. Dia jatuh berlutut sembari memegangi tangannya yang patah dengan parah. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa tangannya patah seperti ini? Tidak mungkin dia mengalami ini hanya karena meninju wajah Rege. Dia telah mengerahkan seluruh energinya pada tinju itu. Bahkan roh agung saja tidak kuat menahan tinjunya. Situasi semakin diperburuk ketika telinganya mendengar suara langka kaki di tengah kepulan asap dan debu yang mengepul di sekelilingnya.


Varna pikir mungkin itu hanya halusinasinya, namun semua seakan runtuh saat melihat Rege keluar dari dalam kepulan asap yang tebal sembari menyeringai padanya. Ini semakin diperparah ketika Rege keluar dari sana tanpa luka sedikitpun. Bahkan tidak ada luka sama sekali di wajahnya. Seharusnya wajah itu telah hancur berkeping-keping sekarang.


"Harus kuakui, tadi sangat mengejutkan. Pukulanmu ternyata kuat juga. Aku sampai bergetar karenanya. Tapi sayangnya itu masih tidak cukup kuat untukku." Rege berdiri 2 meter di depan Varna. "Karena waktu sudah hampir habis dan karena si penulis juga sudah kewalahan, lebih baik kita akhiri ini sekarang."


Varna mentap heran sambil masih meringis kesakitan.


Rege lalu membuat gerakan menjentikkan jari pada tangannya. "Jika aku harus menilai, pertarungan ini cukup membosankan. Tapi itu tertutupi dengan serangan tadi. Yah, nilaiku sekitar 5/10 untuk pertarungan ini. Dan satu lagi, Terima kasih karena sudah bermain denganku. Selamat tinggal dan sampai jumpa, Varna The General of Darkness."


CTAK!


Suara jentikkan jari kembali menggema memenuhi hutan yang telah berubah menjadi padang gurun sekali lagi. Lalu sesaat setelah jentikkan itu, hal yang mengejutkan sekaligus mengerikan terjadi. Varna perlahan berubah menjadi serpihan debu. Mulai dari tangannya yang remuk lalu berlanjut menuju lengannya dan seluruh tubuhnya.


Varna seketika panik. Dia sampai jatuh terduduk saking paniknya. "Apa ini!? Apa yang terjadi padaku?!"


"Tidak ada. Hanya saja kau akan menghilang."


"Me-menghilang? Apa maksudmu menghilang?"


"Yah, menghilang. Direduksi menjadi atom. Itu hukuman karena telah kalah."


"Lalu apa gunanya pertarungan tadi!? Daripada bertele-tele dengan menyiksaku, kenapa kau tak gunakan sihir ini sejak awal?!"


"Sudah kubilang, ini adalah permainan. Jika aku langsung kebagian akhirnya, dimana letak keseruannya. Itu akan sangat membosankan. Sesuatu yang tidak seru seperti itu bukanlah gayaku."


"Dasar brengsek! Kau akan membayarnya, Prime!!! Aku bersumpah! Ingatlah kata-kataku ini!"


Varna semakin menghilang berubah menjadi serpihan-serpihan. Teriakan panik, kemarahan, dan pekikannya terdengar sangat keras hingga mungkin bisa di dengar sampai jarak yang sangat jauh. Bahkan dia mengeluarkan berbagai sihir tingkat tinggi untuk memulihkan tubuhnya. Tapi sayangnya itu percuma, tubuhnya tetap berubah menjadi serpihan debu. Matanya menatap nanar ke arah Rege yang masih tersenyum menyeringai padanya, sampai akhirnya Varna menghilang sepenuhnya dari dunia.


Rege merentangkan tangannya lebar dan dengan seringai mengerikan yang terpatri di wajahnya itu dia berucap pelan. "Game Over."


____________________________________


☆ Status ☆


☆ Nama : Primus Rege Potestatem


☆ Usia : Unknown


☆ Ras : Prime


☆ Level : Unknown


☆ Title : Silver Tongue, The King.


**PEMBERITAHUAN LANJUT :


SUBJEK ADALAH IMMORTAL. MAKHLUK ABSOLUT BERKEKUATAN TAK TERBATAS. HAMPIR MAHA KUASA. LEVEL, HP, MP, SKILL, GIFT YANG MENYANGKUT SUBJEK DITIADAKAN DENGAN ALASAN SUDAH TERLANJUR KUAT.


JIKA ANDA MELIHAT INI, DISARANKAN UNTUK SEGERA MENINGGALKAN SUBJEK. DILARANG MELAKUKAN KONTAK YANG BISA MEMBUAT SUBJEK MERASA TERSINGGUNG. JIKA TERLANJUR DILAKUKAN, MAKA BERDOA SEMOGA ANDA DITEMPATKAN DI SURGA.


SUBJEK DIKETAHUI TIDAK MEMILIKI BATAS ENERGI. SUBJEK DIKETAHUI MENGGUNAKAN ENERGI YANG UNIK BERNAMA PRIME CORE. ENERGI YANG SUBJEK GUNAKAN TIDAK MENYANGKUT ENERGI MANAPUN DI SEMESTA.


MENCOBA MENYERAP ENERGI SUBJEK MENGGUNAKAN KEMAMPUAN PENYERAP APAPUN ADALAH TINDAKAN BODOH YANG BERUJUNG PADA KEMATIAN.


SUBJEK DIKETAHUI ABADI. TIDAK BISA DIBUNUH OLEH APAPUN DI SELURUH ALAM SEMESTA. BAHKAN JIKA ANDA MENGGUNAKAN SENJATA PEMBUNUH TUHAN. SATU-SATUNYA YANG BISA MEMBUNUH SUBJEK ADALAH RAS MEREKA SENDIRI ATAU TUHAN ITU SENDIRI.


KEBANYAKAN DARI RAS SUBJEK DIKETAHUI KERAS KEPALA. MENCOBA BERNEGOSIASI DENGAN SUBJEK ADALAH TINDAKAN BODOH. ANDA AKAN MATI SEBELUM KESEPAKATAN MENCAPAI MUFAKAT.


DILARANG KERAS MELAWAN, BERTARUNG, ATAU MENCOBA MEMBUNUH SUBJEK. ANDA AKAN MATI SEBELUM BISA MENCOBANYA.


SUBJEK DIKETAHUI TIDAK MEMBUTUHKAN MAKAN SEPERTI DAGING, SAYURAN, REMPAH-REMPAH, MAUPUN BUAH-BUAHAN.


SUBJEK DIKETAHUI HANYA MAKAN DARI SEGALA JENIS ENERGI SEMESTA.


SUBJEK DIKETAHUI HAMPIR TAHU SEGALANYA.


PEMBERITAHUAN LEBIH LANJUT DAPAT DITANYAKAN LANGSUNG PADA SUBJEK. DISARANKAN UNTUK MENGGUNAKAN KOSAKATA YANG BAIK JIKA INGIN BERKOMUNIKASI DENGAN SUBJEK.


DILARANG KERAS BERTERIAK, MENGANCAM, MENGINTIMIDASI, ATAU MENCEMOOH SUBJEK. SALAH SEDIKIT ANDA BISA MEMBUAT SUBJEK TERSINGGUNG DAN BERAKHIR DENGAN KEMATIAN ANDA**.


____________________________________


Bersambung...