
Mataku terbuka seketika dan mendapati diriku terbangun di sebuah kamar yang cukup besar. Bahkan luasnya melebihi tempat tinggalku yang berupa kos-kosan murah. Suasannya sangat hening. Hampir tidak ada suara kecuali suara desiran angin yang menyapu gorden jendela. Jadi itu semua cuma mimpi? aku rasa tidak. Setelah semua perbincangan yang kulakukan dengan Sang Dewi Alam, bisa dibilang itu adalah sebuah visi. Visi yang harus aku jalani sesegera mungkin. Tidak, akan lebih baik jika aku melakukannya sekarang. Menunggu hanya akan membawa lebih banyak masalah. Jika aku terus menunda-nunda, sesuatu yang lebih merepotkan daripada harus menjadi seorang Dewa akan muncul. Aku tidak ingin itu terjadi.
Tapi, jika aku harus memulai, mulai darimana? mencari ketiga ras Elf lain ibarat mencari jarum ditumpukan jerami. Mereka bisa dimana saja di dunia yang luas ini. Akan sulit mencari mereka jika hanya sendiri. Aku sendiri baru beberapa hari di sini. Jika aku nekat, bukannya ke tempat ketiga Elf tinggal, aku malah akan ujung dunia. Asal kalian tahu, Altars sangat luas. Luasnya saja melebihi Bumi ( sebagai perbandingan, Bumi memiliki luas sekitar 500 juta kilometer, sementara luas Altars sekitar 80 milyar kilometer. Sangat luas bukan? ). Karena itu aku memerlukan bantuan untuk mencapai jalan tercepat. Dan kupikir Rillia adalah orang cocok untuk misi kali ini. Dia sudah lama di Altars ( terlihat dari umurnya yang sudah mencapai 3000'an lebih ). Selain itu Rillia juga berasal dari ras Elf. Dia pasti tahu dimana letak keluarga tak sedarahnya tinggal. Mungkin dia juga tahu jalan tercepat untuk mencapai salah satu dari ketiga ras Elf yang lain. Dengan begitu akan lebih mudah bagiku dalam menyelesaikan misi. Baiklah, aku akan mencoba menanyakannya. Memberitahu wanita itu segalanya termasuk visi yang baru saja kuterima.
Aku lalu mencoba bangun dan bermaksud untuk segera menemui Rillia guna membahas tentang visi yang baru saja kuterima ini. Namun mendadak aku merasakan seluruh badanku berubah menjadi berat. Jika diperhatikan, ini bukan sleep paralysis. Aku bisa tahu karena aku pernah terkena satu kali. Tapi ini beda. Aku masih bisa merasakan kaki dan tanganku. Hanya saja aku tidak bisa bangun. Aku lalu membuka selimut yang menutupi tubuhku ( tentunya dengan kekuatanku. Jika tidak bagaimana caranya aku membuka selimut ini? ) dan melirik ke arah samping kananku. Seketika itu juga aku langsung terkejut bukan main saat melihat seorang wanita tanpa busana tidur dengan nyenyaknya di atas lenganku dan menjadikannya sebagai bantal yang empuk. jadi ini yang membuatku tak bisa bangun? Terlebih lagi ada satu hal yang lebih penting. Kenapa dia telanjang!? Aku bisa melihat semuanya mulai dari lekukan pinggang, dada besar itu dan... Uuh... Aku tidak mau membicarakannya.
Mataku memandangi wajahnya yang teramat dekat dengan wajahku. Rambut cokelatnya tergerai beberapa kali terkena hembusan angin yang menyegarkan. Malah ada yang nyasar sampai masuk ke mulutku. Jika dipikir-pikir dia cantik juga. Aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Ah, sial ini membuat "Adik"ku bangun. Ayolah, jangan di depan wanita ini. Tapi ini sudah tak terelakkan. Jika "Adik"mu bisa bangun di pagi hari tanpa berpikiran yang macam-macam, apalagi kalau ada wanita seksi yang tidur disampingmu? Dalam keadaan telanjang pula.
Ini gawat. Selagi dia masih tidur, aku harus segera menyingkir. Dengan perlahan, aku akan mencoba menopang kepalanya dengan tangan kiriku agar tangan kananku bisa keluar. Tapi ketika aku ingin menggerakannya, tangan kiriku juga tidak bisa digerakkan. Kepalaku lalu menoleh ke arah kiri, tempat dimana tangaku itu berada. Dan saat kubuka bagian selimut yang menutupi tangan kiriku, aku kembali terkejut ketika mendapati seorang gadis, berusia sekitar 14 tahun ( jika dilihat dari muka dan tubuhnya ), ikut tidur dengan lengan kiriku sebagai bantalnya. Dalam keadaan telanjang juga lagi. Siapa lagi ini?! Aku bisa-bisa diciduk jika ketahuan. Orang-orang akan menyangka aku ini pedofil!
Mataku memperhatikan wajahnya lekat. Kurasa aku pernah bertemu dengannya. Tapi di mana. Aku beralih memandang langit-langit kamar yang dihiasi lampu gantung yang cantik. Mencoba mengingat-ingat siapa gadis ini adanya. Siapa ya? Cukup lama aku mencoba mengingat wajah gadis ini, sampai akhirnya aku berhasil mengingatnya.
Rambut putih, dan kristal biru cerah di dahinya. Tidak salah lagi, dia adalah AI-Sys! Kenapa dia bisa di sini? Bukankah dia seharusnya ada di pikiranku? Tapi kesampingkan itu dulu. Ada yang lebih penting daripada membahas kenapa super komputer seperti dia bisa keluar dari dalam kepalaku....
Bagaimana caranya keluar dari situasi ini!!?
Drap! Drap! Drap! Drap! Drap!
Disaat yang bersamaan suara langkah kaki bergema di telingaku. Makin dekat dan makin dekat hingga tak terasa keringat dingin mengucur deras dari wajahku bagai air terjun yang mengalir. Lalu peristiwa yang sebenarnya sangat tidak kuinginkan itupun terjadi. Pintu seketika di dobrak dan Rillia dengan serampangan masuk ke kamarku dengan wajah marahnya. Ya, tamat sudah.
"Dimana dia? Dimana Kakak yang seenaknya saja itu?" Teriaknya tiba-tiba.
Jadi dia mencari Kakaknya dan bukan aku? Syukurlah. Aku seketika bisa bernafas lega. Tapi kenapa dia mencari kakaknya? Di sini pula. Di samping itu, untuk apa Kakaknya bersembunyi di sini?
"Kak Lignum dimana kau?" Serunya memanggil.
Tunggu, apa dia baru saja mengatakan Lignum? Ini aneh. Bukankah Kakaknya itu sedang berdiri dengan kokoh di tengah-tengah kerajaan. Seharusnya sih seperti itu mengingat dia adalah sebuah pohon setinggi puluhan meter dan juga karena aku sudah menghidupkan semua orang kembali, jadi otomatis Kakaknya pasti sudah berdiri dengan kokoh ditempatnya. Lalu kenapa dia mencari Kakaknya di sini? Apa jangan-jangan....
Kapalaku seketika menoleh ke arah kanan. Tempat dimana si wanita misterius itu tidur di lenganku. Dan benar saja. Sebuah jari telunjuk yang lentik menempel di bibirku. Mata hijau sang wanita tersenyum nakal sembari memberi tanda dengan jarinya agar aku diam.
"Tenang, pahlawanku. Jika kau berisik, maka si Adik yang cerewet itu akan menemukan kita." Ucapnya pelan. Dia menggerakan kepalanya dan mendekatkan bibirnya tepat ke telingaku. Lalu mulutnya membuka dan dia mulai berbisik pelan.
Hentikan, Hentikan, Hentikan, Hentikan. Ini bisa gawat! Nafasnya, aku bisa merasakan nafasnya begitu dekat hingga membuatku geli.
"Kau tidak mau kan, kesenangan ini berakhir...."
Kesenangan? Kesenangan apa yang di bicarakan? Aku benar-benar tidak tahu. Aku masih polos.
"Ayolah, jangan pura-pura seperti itu. Aku tahu kau mau. Apa kau yakin kau tidak ingin...." Tangannya secara perlahan merayap ke arah "Adik" kecilku.
Oi, Oi, Oi, Oi, Oi, Oi! Gawat, gawat, gawat. Hentikan. Apa kau tidak lihat? Adikmu sedang mencarimu!
Tangannya hampir saja sampai ke daerah terlarang itu, jika aksinya tidak dihentikan oleh Rillia yang tiba-tiba saja datang dan menyibak selimut yang menutupi kami. Saat melihat kami, dia hanya menatap diam dengan wajah seramnya. Aku saja sampai bergidik ngeri dibuatnya. Seakan ada yang berdiri dengan hawa membunuh super besar dibelakangnya.
"Oi, apa yang kalian lakukan?" Tanyanya datar. Matanya melirik ke arah AI-Sys, lalu ke arahku bergantian. "Aku sangat khawatir padamu karena kau pingsan selama 2 minggu. Tapi entah kenapa perasaan itu hilang seketika saat melihat kau yang sudah bangun malah bermesraan dengan Kakakku dan gadis kecil itu. Kalau Kakakku aku bisa maklum. Dia sudah sering melakukan itu sejak dua minggu yang lalu. Tapi, sampai gadis itu juga?"
Tunggu, dia melakukan itu padaku selama 2 minggu?
Ah, bodolah. Yang penting aku harus menjelaskan kesalapahaman ini. Aku segera bangkit dan dengan panik mencoba menenangkan Rillia. "J-jangan salah paham dulu! A-aku tidak tahu apa-apa, sungguh!"
"Oh... Lalu apa kedua bukti itu belum cukup bagimu?"
Aku melirik kedua wanita yang ada di tempat tidur ini bergantian. Dengan wajah yang bisa dibilang tidak baik-baik saja, aku berkata terbata-bata. "E-e-err ini... A-aku...."
Rillia hanya menghela nafas. Dia kemudian melihat Kakaknya dan menjewer telinga wanita itu lalu menyeretnya dari tempat tidur ini.
"Kyaaah... Rili, apa yang kau lakukan ini sakit tahu. Beginikah caramu memperlakukan Kakakmu yang baru saja hidup kembali?" Lignum berbicara dengan nada manjanya.
Rillia menatap dengan sinis. "Sudah diam. Ayo ikut aku ke ruangan Raja-Ratu, orang-orang sudah menunggumu." Katanya. Dia lalu melirikku. "Dan Rey, hari ini aku percaya padamu. Tapi jika kulihat kejadian seperti ini lagi besok, maka kau habis. Urus AI-Sys dan segera berpakaian dengan pakaian yang sudah kusiapkan. Aku dan rakyatku juga menunggumu di ruangan Raja dan Ratu." Lalu dia melenggang pergi dengan Lignum yang diseretnya bagaikan hewan ternak. Padahal aku cukup yakin dia adalah Dewi.
Aku menghembuskan nafas panjang. Rencana untuk memberitahu Rillia perihal visi yang kuterima gagal. Dengan ekspresi wajah serta aura seperti itu, siapa yang berani padanya walau hanya sekedar bertanya. Haah.... ini lebih sulit dari yang aku duga. Ada saja masalah yang datang menghampiriku. Masalah ini lah, masalah itu lah. Kepalaku jadi pusing memikirkannya. Mataku lalu melirik AI-Sys yang masih tertidur dengan pulasnya. Sejenak aku berpikir, bagaimana bisa dia keluar dari dalam kepalaku. Dan lebih anehnya lagi, apa Rillia baru saja memanggilnya AI-Sys? Darimana dia tahu namanya? Entahlah. Nanti saja kutanyakan padanya saat dia bangun.
Aku lalu menggeser kepala AI-Sys yang menindih lengan kiriku agar aku bisa bangun dari tempat tidur. Kakiku melangkah perlahan menuju kamar mandi. Daripada memikirkan sesuatu yang sudah pasti tidak diketahui jawabannya, lebih baik aku pergi mandi dan menyegarkan kepalaku. Kamar mandinya cukup besar ( bagaimana aku bisa tahu? Dari tempat tidur saja sudah terlihat. Ini karena memang pintunya saat itu terbuka lebar, jadi aku bisa tahu ruangan itu adalah kamar mandi ). Dengan shower, bak mandi, toilet duduk, dan wastafel. Aku segera masuk ke dalam ruangan dengan kaca sebagai pondasinya. Di sana aku segera menyalakan shower dan membiarkan airnya mengaliri tubuhku. Ah, segarnya. Kapan terakhir kali aku mandi ya? Kurasa sejak aku datang pertama kali ke dunia ini. Sudah lama sekali aku tidak merasakan hal ini.
Aku segera mengambil sabun dan mulai membersihkan diriku. Setelah seluruh tubuhku telah tertutupi sabun, aku kembali menyalakan shower itu lagi. Aku kembali mematikannya saat semua sabun hilang dari tubuhku. Tanganku lalu mengambil handuk dan segera berjalan keluar dari kamar mandi menuju lemari. Seperti yang Rillia bilang, aku segera berpakaian dengan pakaian yang telah dia siapkan ( karena memang hanya ada pakaian itu saja di dalam sana ). Aku tidak ingin membuatnya lebih marah dari ini. Bisa-bisa aku diubah menjadi tanaman. Tidak, aku masih senang menjadi manusia, terima kasih.
Tanganku menggapai sebuah kemeja putih polos dan celana panjang kain berwarna hitam. Tidak lupa juga aku mengenakan sepatu boot hitam panjang yang ada di bagian bawah lemari. Setelah aku selesai mengenakan semua pakaian itu, aku lalu mengambil jaket hitam lengan panjang dengan paduan warna biru di sisi-sisinya. Jaket itu seperti jubah dengan panjang semata kaki ( mirip jubah Hokage tapi lebih sedikit ketat ). Tanpa berpikir panjang lagi aku segera mengenakan jubah itu
"Boleh juga. Ternyata Rillia pandai memilih pakaian." Ucapku di depan cermin yang menyatu pada lemari. "Tapi kenapa aku memakai pakaian rapih seperti ini ya?"
"Itu karena Anda akan dilantik menjadi Raja baru."
Tiba-tiba sebuah suara menyahuti pertanyaanku. Asalnya persis dari arah belakang. Saat aku menoleh, AI-Sys sudah duduk di sana sambil menatapku.
Saat dia melakukan itu, aku segera memalingkan wajahku. Aku tahu dia terlihat masih kecil, tapi tetap saja ketika aku melihat tubuh telanjang seorang gadis, itu membuatku malu.
"Oh ya, aku ingin bertanya sesuatu padamu, bagaimana caranya kau bisa ada di sini, dan kenapa Rillia bisa tahu dirimu? Lalu kenapa, kau terdengar sedikit lebih manusiawi. Tidak seperti suara google translate yang dulu kudengar?" Tanyaku masih dengan posisi memalingkan wajah.
"Nanti akan saya beritahu. Tapi anda punya janji dengan Nona Rillia, ingat? Jika anda tidak cepat, anda akan telat dan Nona Rillia akan kembali marah nanti. Waktu anda tersisa : 00:14:44."
Aku menepuk jidatku. Astaga aku lupa. Aku terlalu penasaran dengan AI-Sys sampai aku tidak menyadari jika aku ada janji dengan Rillia untuk bertemu di ruangan Raja-Ratu. Aku harus segera ke sana secepat mungkin. Akan tetapi belum sempat aku berangkat, ada satu masalah yang harus kuselesaikan sekarang.
"Dimana ruangan itu berada?!!" Kataku panik.
"Itu mudah. Anda harus belok ke kanan, telusuri lorong istana sampai Anda menemukan sebuah tangga. Naik tangga itu dan masuk ke dalam pintu besar berlapis emas yang berada di lantai 3. Tetapi jika anda--"
"Ah kelamaan." Potongku tiba-tiba. "Aku sudah telat. Aku berangkat dulu AI-Sys. Jangan lupa untuk berpakaian, ya!"
Tanpa babibu lagi aku segera meluncur ke ruangan Raja dan Ratu. Aku mengikuti arahan yang dikatakan AI-Sys tadi. Dan benar saja, setelah aku menyusuri beberapa lorong, dan naik ke tangga menuju lantai 3 ( tentunya dengan bantuan kekuatanku lagi ), aku akhirnya sampai di depan sebuah pintu besar berlapis emas. Dengan satu dorongan aku membuka pintu itu dan membuat orang-orang yang ada di dalamnya terkejut.
"Reyhanaf?! Kau kenapa kelelahan seperti itu? Apa kau berlari?" Ujar Rillia menghampiriku dengan berlari kecil.
Dengan nafas terengah-engah. Aku mencoba menjawabnya. "A... aku... I-i... ya ... Hah... Hah... Hah.... " Aku sangat kelelahan sekali. Aku tidak tahu kenapa tapi sepertinya efek sehabis menghidupkan kembali orang yang sudah mati masih ada.
"Ya ampun. Kenapa kau tidak menggunakan Lift?"
Aku memandang Rillia dengan bingung. "A.. Apa? Lift?"
"Iya. Benda yang bisa menaikkan dan menurunkan orang dari satu lantai ke lantai yang lain itu." Kata Rillia.
Aku semakin bingung. "K-kenapa kau tahu Lift? Lagipula memangnya benda itu ada di dunia ini?"
"Apa maksudmu? Tentu saja benda itu ada. Itu." Tangan Rillia menunjuk ke arah pintu berlapis emas yang berada di pojok ruangan.
Aku sebenarnya tidak mempercayai hal ini. Tidak mungkin benda seperti itu ada di dunia ini. Tapi ketika aku melihat pintu itu terbuka ke samping dan mengeluarkan seorang lelaki dari dalam sana, baru aku mempercayainya. Bukan masalah kebukanya. Bunyi khas "ting" dari lift itulah yang membuatku percaya. Selain itu tepat di atas pintunya, terdapat angka digital yang menunjukkan lift itu sedang kemana.
Aku seketika terguncang. Apa mungkin lift memang sudah ditemukan di dunia ini? Itu bisa Jadi. Atau mungkin itu hanya kebetulan. Yah, sebuah kebetulan. Begitulah yang aku pikirkan, sampai aku menyadari bahwa kamar mandi yang baru saja aku gunakan sangat mirip dengan kamar mandi yang ada di kamar-kamar hotel bintang lima. Pantas saja aku merasa nyaman di sana.
"Rey, kau tidak apa-apa?" Rillia bertanya khawatir.
Aku menatap gadis itu dengan tatapan sedikit syok. "Ah? Oh tidak. Aku tidak apa-apa. Oh ya, ada sesuatu yang ingin---"
"Lupakan itu! Kita bahas lain kali saja." Kata Rillia memotong ucapanku. "Ada sesuatu yang lebih penting dan harus kau lakukan segera. Sebentar lagi kita akan melakukan perkenalan. Jadi pastikan kau terlihat berwibawa dan gagah agar Rakyat percaya padamu."
Aku kembali menatapnya bingung. "Perkenalan? Perkenalan apa?"
"Sudah ayo ikut. Rakyat sudah menunggu."
"Eh, tunggu---" Ucapanku terhenti karena Rillia telah menarik lenganku lebih dulu.
"Ayo cepat!" Rillia semakin menarikku dan membimbingku ke arah sebuah tirai merah cepat. Ini membuatku tidak sempat untuk membuatnya menjelaskan apa yang terjadi.
Saat aku menembus tirai itu bersama dengan sang Putri Elf, aku seketika terkejut bukan kepalang. Sorak sorai dari penduduk kerajaan memeriahkan suasana begitu melihat kami berdiri di atas sebuah balkon. Suara-suara kegembiraan terdengar memenuhi area kerajaan.
Rillia mengangkat tanganku ke atas. "Hidup Penyelamat kerajaan dan Raja baru kita, Tuan Reyhanaf!" Dia tiba-tiba berteriak keras.
Tunggu! Apa katanya?
"Hidup sang Raja!" Dan yang lainnya mulai berteriak bersamaan.
"Hidup Raja Reyhanaf!" Teriak Rillia lagi.
"Hidup sang Raja!!!" Semua penduduk bersorak kembali.
Aku melepaskan genggaman tangan Rillia. "Rillia apa maksudmu? Apa maksud "Raja" itu?"
"Iya kau Raja. Raja baru dari kerajaan baru. Reyhanaf Miracle...."
Aku seketika ternganga ketika tatapanku beralih memandang seluruh kerajaan ( itu karena aku ada di atas balkon. Jadi pemandangan seluruh kerajaan bisa terlihat ). Alih-alih protes, aku malah terkagum-kagum sampai mataku tidak lepas memandang pemandangan menakjubkan ini. Di depanku, sebuah kerajaan yang baru telah tercipta. Kerajaan modern pertama di Altars. Lengkap dengan gedung-gedung pencakar langit dengan ribuan jendela yang memantulkan cahaya mentari, balon-balon udara dan kapal-kapal yang terbang melayang menghiasi langit Altars, serta jalan-jalan beraspal dengan berbagai kendaraan roda empat dan dua yang nampak lalu lalang.
Mataku kemudian beralih melirik Rillia dan dibalas dengan senyumannya yang manis.
Dari balik bibirnya, dia berkata dengan riang. ".... selamat datang di, Neo-Moudha!"
Bersambung....