
Kakiku melangkah dengan letoy tatkala kami menuju sebuah kota yang sempat ingin ditenggelamkam ke tanah oleh Magni, si Dewa naga pemarah. Menjadi pelayan apanya. Menggendongku saja dia tidak mau.
Baiklah, aku mengaku. Dia memang sempat menawariku untuk digendong, namun aku menolaknya. Acara gendong-menggendongku sudah berlalu ketika umurku beranjak 11 tahun. Beda lagi jika dia menggendongku dalam wujud naga. Akan tetapi ketika aku meminta itu darinya, dia malah menjawab :
"Maaf, Tuan. Manaku hampir habis saat aku melakukan perubahan tadi. Jika aku melakukannya sekali lagi, maka aku akan masuk dalam mode tidur dan akan terbangun 4 malam mendatang."
Jika itu yang dia bilang maka aku tidak bisa memaksanya. Aku tidak ingin menunggu selama 4 malam hanya untuk menjaganya terlelap. Itu akan membosankan sekaligus membuang-buang waktu.
Kalian juga pasti bertanya-tanya kenapa aku juga tidak menggunakan akselerasiku seperti saat menuruni gunung. Soal itu coba kalian tanyakan pada pelayan baruku. Dia melarangku menggunakan semua sihir secara penuh kecuali jika memang terdesak.
Sebenarnya, dia melarangku bukan tanpa alasan. Suatu kali aku pernah mencoba untuk membuat sebuah portal penghubung agar perjalananku menjadi lebih mudah. Bukannya portal yang kudapat, aku malah membuat sebuah lubang hitam dengan gravitasi yang tentunya sangat besar. Jika bukan karena bantuan Magni dan wanita misterius dipikiranku, aku yakin kami tidak lagi eksis di alam semesata ini.
Yang itu memang kesalahanku. Aku terlampau luput dalam memilah sihir-sihirku. Aku sempat melihat jajaran dari sihir keajaiban, dan mataku tak sengaja menangkap sebuah sihir bernama Colossus Portal. Kukira sihir itu akan membentuk sebuah portal teleportasi mengingat nama sihirnya ada kata-kata portal. Tapi nyatanya aku keliru. Memang dia membentuk sebuah lubang berwarna hitam yang berputar mirip seperti portal kebanyakan, namun portal yang dibentuk oleh sihir ini adalah portal pelahap ruang dan waktu alias lubang hitam. Benar-benar sebuah sihir yang mematikan ( jika kalian melihat kejadian itu, aku yakin kalian akan ngompol di celana ).
Tapi kejadian itu adalah murni ketidaksengajaan dan ketidaktahuanku. Asal kalian tahu saja, daftar sihirku itu ribet. Bercabang-cabang dan sangat banyak ( Kata si wanita misterius, aku mempunyai lebih dari 1.000.000 jenis sihir utama dan 40.000.000.000 sihir sampingan. Hanya ingin kalian tahu. ). Jadi sangat sulit bagiku untuk memilih sihir yang berbahaya dan yang tidak. Penjelasan yang dibawakan oleh si wanita misterius juga sangat sukar dimengerti. Terlebih untuk orang sepertiku, yang kapasitas otaknya hanya lewat gerbang depan sekolah tanpa masuk ke dalamnya.
"Ayolah, Magni. Izinkan aku menggunakan sihirku. Aku lelah berjalan." Rengekku.
"Maaf Tuan Reyhanaf, sayangnya aku tidak bisa melakukan itu. Jika anda ingin menggunakan sihir tingkat tinggi, anda harus belajar dulu tentang sihir tingkat dasar. Jika tidak, kejadian tadi akan terulang kembali. Anda tentu tidak mau kan, jika Ayah anda harus merancang ulang semesta gara-gara anda?"
Aku menghembuskan nafas panjang mendengar kata-kata Magni. Berjalan kaki seperti ini bukanlah gayaku. Motoku adalah mencapai sesuatu secara instan dan kembali tanpa merasa lelah. Selalu kutekankan saat aku ingin makan atau membeli sesuatu. Itulah kehidupan Nolep-ku yang berharga. Ah, indahnya masa itu. Kapan biasa terulang, ya? Yang kutahu dan yang kupahami itu sangat mustahil. Ayahku tak mengindahakan permintaanku agar aku diberi kesempatan kedua dibumi. Alasannya sederhana, namun cukup rumit. Begini, jika kita sudah pernah hidup di satu semesta dan kita mati, maka hubungan antara jiwa kita dan semesta tempat kita tinggal sebelumnya akan terputus. Tetapi ada sebuah pengecualian terhadap tubuh kita. Beberapa kasus ada yang hanya mengambil tubuh kita untuk di tempatkan di semesta yang kita tinggali sebelumnya. ( sebenarnya hanya rancangannya saja sih, seperti copy-an diri kita, akan tetapi semua 'rancangan' itu kembali bermula dari awal atau lebih jelasnya, kembali menjadi tubuh seorang bayi. Dan sudah pasti jika rancangan itu tanpa melibatkan jiwa kita didalamnya ). Aku juga kurang mengerti, tapi dari yang kudengar, dewa-dewi melakukan itu sebagai bentuk penghargaan untuk kita. Tubuh kita di sana masih ada, akan tetapi jiwanya yang berbeda. Kalau kita bersikukuh ingin diberi kesempatan kedua, maka yang terjadi adalah kelahiran bayi seiras. Artinya akan ada dua kau di satu semesta. Saat jiwa kita memaksa kembali ke satu semesta yang sama dengan tubuh kita, maka akan terjadi penyesuaian. Dengan kata lain kita akan kembali memiliki tubuh kita. Tapi bukan berarti kita kembali ke tubuh kita yang lama. Tubuh baru akan tercipta dengan jiwa kita didalamnya. Dan dengan asumsi itu maka muka, suara, gerakan, watak, emosi, bagian tubuh, akan sama dengan tubuh kita yang lama. ( pengecualian dengan jenis kelamin. Tapi beberapa ada yang memiliki jenis kelamin yang sama ).
Inilah yang memulai peristiwa Doppelganger. Sebuah persitiwa dimana terdapat dua orang yang benar-benar mirip, bahkan seperti kembaran. Dan biasanya jika kau menjumpai atau melihat doppelganger dirimu, maka salah satu dari kalian akan mati tidak lama lagi. Sebenarnya ini hal yang wajar. Tujuannya adalah untuk membuat alam semesta seimbang. Jadi kematianmu atau kembaran tak sedarahmu adalah sebagai bentuk alam semesta menyeimbangkan tatanannya agar tak goyah. Itulah alasannya kenapa kita tak diperbolehkan hidup kembali di dunia yang pernah kita tinggali. ( Untuk penjelasan panjang nan ribet ini, kusampaikan rasa terima kasih pada si wanita komputer misterius. ).
Meninggalkan cerita tentang kelahiran kembali, perjalanan kami menuju kota sudah memasuki fase 2. Sore yang mengundang kegelapan perlahan mendekat. Memaksa kami untuk bermalam di hutan yang sepi. Magni tak menyarankan membangun tenda di tengah jalan. Katanya berbahaya, bisa ditabrak. Aku hanya mengangguk-angguk saja mendengar ocehannya. Lagipula orang ***** mana yang mau tidur ditengah jalan dengan resiko terinjak atau terlindas sesuatu? Ada-ada saja pelayan baruku ini.
Akhirnya malam tiba dan yang terdengar hanya suara percikan api unggun yang menyinari kami berdua. Ditengah keheningan malam itu, mata biruku melirik si naga yang sibuk dengan belatinya. Kira-kira apa yang membuat dirinya sampai turun ke Altras, ya. Aku tidak sempat menanyakannya lagi karena terlalu terkejut saat Magni mendeklarasikan dirinya sebagai pelayan seumur hidupku. Rasa penasaran langsung menjalar disekujur tubuhku layaknya sengatan listrik 300 volt. Pertanyaan demi pertanyaan muncul dibenakku layaknya pelanggan makanan cepat saji di hari libur. Begitu banyak hingga kupikir akan tertumpah keluar melalui telingaku.
Kenapa dia turun ke dunia ini? Apa tujuannya? Kenapa Ayah memberinya banyak tugas yang kedengarannya begitu merepotkan, dan yang terpenting, siapa itu Nico? Kenapa Magni ingin menghancurkannya? Semua pertanyaan itu terkurung di dalam pikiranku dan memberontak ingin keluar. Kalau sudah begini, bisa-bisa aku tidak akan bisa terlelap dengan cepat. Hanya ada satu yang harus kulakukan. Menanyakannya secara langsung.
"Hei, Magni." Ucapku dengan punggung menyandar di batang pohon.
Dia bersingut menatapku. Kepalanya tertunduk menunjukkan rasa hormatnya padaku. "Tuan?"
"Boleh kutanya sesuatu?"
"Silahkan, hamba akan dengan senang hati menjawab."
"Apa tujuanmu sebenarnya?"
Dia menatapku bingung. "Maksud Tuan?"
"Tujuanmu. Kenapa kau turun ke Altars? Apa yang kau cari sebenarnya?"
Dia terdiam lama. Mukanya menunduk tersembunyi dalam bayang-bayang malam. "Tujuan, ya? Bukankah hamba sudah mengatakan tujuannya."
Aku mengibaskan tangan. "Bukan itu. Itu aku juga tahu. Yang kutanyakan adalah tujuanmu yang asli. Sebelumnya kau bilang ingin menghancurkan orang bernama Nico, kan? Siapa sebenarnya dia? Kuyakin dia bukan bagian dari tugasmu."
Magni kembali terdiam lama. Wajahnya masih menunduk bersembunyi. Cukup lama dia bertingkah seperti itu. Kupikir, mungkin dia tidak mau menceritakannya, bisa saja ini menyangkut masalah yang sifatnya pribadi. Tetapi, tidak lama kemudian wajahnya terangkat dengan tatapannya yang tajam ke arahku. Saat kukira dia marah, mulutnya membuka dan mulai mengatakan kebenarannya.
"Jika Tuan berkenan, izinkan hamba menceritakan sebuah kisah sedikit. Ini dimulai sejak lama sekali. Akupun tak ingat jelas kapan tepatnya ini dimulai, tapi aku yakin jika sudah lama sekali aku memendam perasaan benci ini."
"Tapi," Magni melanjutkan, "dengan keuletan dan ketekunan hamba, hamba berhasil keluar dari neraka itu. Prestasi hamba yang terus meningkat, membuat hamba terpilih menjadi pemimpin sekaligus kepala dari ras naga suci. Kenaikan jabatan ini disambut baik dan diterima oleh rekan-rekan naga suci lainnya. Bahkan, beberapa menyarankan hamba untuk mengikuti seleksi Dewa."
"Tunggu!" Aku memotong. "Seleksi Dewa? Apa ada yang seperti itu?"
Kepala Magni mengangguk. "Ketika kau sudah mempunyai kekuatan yang mumpuni dan kepemimpinan yang diakui, kau akan direkomendasikan menjadi Dewa. Beberapa ada yang menjadi Dewa karena orang tua dewa mereka mewariskan kekuatan dewatanya, tapi ada juga yang mengikuti seleksi seperti yang hamba jelaskan." Jelasnya.
"Ehh... seperti itu." Aku bangkit dan segera duduk tegak. Mendengarkan cerita Magni membuat rasa penasaranku bertambah setiap detiknya. Bahkan rasa penasaran ini jauh lebih kuat daripada saat aku membaca novel detektif. Menunggu apakah sang penjahat akan tertangkap atau si protagonis yang terbunuh. Yah, semacam itulah. "Lalu, apa yang terjadi?" Tanyaku memburu.
"Hamba memenuhi keinginan ras hamba yang mendukung hamba menjadi Dewa. Kekuatan dan kepimpinan hamba yang sudah diakui, juga membuat Tuan Miracle tergerak hatinya untuk mendukung agar hamba mengikuti seleksi itu."
"Eh? Sampai Ayah juga?"
Magni mengangguk dan tersenyum. "Beliau adalah panutan hamba. Sejak dulu hamba kagum dan terpesona akan keagungan beliau. Sebagai Dewa paling kuat disemesta, beliau sangat bijakasana. Hamba pun bisa menjadi seperti sekarang, berkat pertolongan dan dorongan beliau. Bagi hamba, Tuan Miracle adalah penyalamat hamba ketika hamba sudah remuk dan hancur. Dorongan dan pertolongan yang selalu beliau berikan, membuat hamba kembali bangkit dan menjadi seperti sekarang. Menjadi Dewa Naga yang disegani dan ditakuti. Walau hamba tiada sekalipun, hamba akan selalu berutang budi kepada beliau. Karena itu beliau adalah orang pertama yang hamba akui setelah Tuan Reyhanaf. Jangan tersinggung ya, Tuan Reyhanaf."
"Tidak, tentu saja tidak. Aku mengerti dengan perasaan kagummu yang sangat besar pada Ayah. Jika aku ada diposisimu, aku pun akan melakukan hal yang sama. Aku juga punya orang yang kukagumi. Walau kuyakin tidak akan mungkin bisa menemuinya lagi di sini, tapi rasa kagumku pada orang itu tidak akan hilang. Sebenarnya lebih ke arah berterima kasih, sih. Karena dialah, aku bisa selamat dari jurang maut tanpa dasar. Aku yakin pasti aku sudah terjatuh dan tak bisa memanjat keatas untuk melihat cahaya lagi jika bukan karenanya."
Mataku berubah sayu saat mengungkit-ungkit orang itu. Rasa kagum dan terima kasih Magni pada Ayah angkatku, mengingatkanku akan rasa terima kasihku pada seseorang yang sangat kusayangi. Meski dia sudah tiada, rasa terima kasih ini tidak akan pernah hilang. Sama seperti Magni, rasa ini akan terus ada dan tidak akan hilang meski kami sudah di dunia yang berbeda. Nah, Ian. Apakah kau bisa mendengarku? Jika suatu hari nanti kita kembali bertemu, ingatkan aku untuk membayar hutang ini. Ini berat, loh.
"Hehehe...." tanpa sadar aku terkekeh pelan saat mengingat sahabatku itu. Magni yang melihat aku yang terkekeh, menatap dengan bingung.
"Tuan baik-baik saja?"
Aku tersenyum kecil sembari menghapus air mata yang sempat menetes dari sela-sela mataku. "Tidak, aku baik-baik saja." Kataku. "Lalu apa yang terjadi selanjutnya? Apa kau mengikuti seleksi dewa itu?"
"Hamba mengikutinya. Tes seleksi itu sangat berat dan banyak peserta yang ikut serta. Mereka terdiri dari berbagai macam ras. Bahkan beberapa ada yang dari ras manusia. Tesnya sendiri terdiri dari 5 kategori. Diantaranya adalah ketangkasan, level kekuatan, kepemimpinan, dan kepintaran. Untungnya hamba berhasil mengikuti itu semua. Hamba lulus dengan nilai sempurna dan berhasil masuk ke tes selanjutnya, yaitu pertarungan satu lawan satu."
"Pertarungan satu lawan satu?"
Magni mengangguk. "Bagi kami para dewa, pertarungan satu lawan satu dianggap suci. Selain tidak memakan korban terlalu banyak, pertarungan ini berfungsi untuk mencari makhluk yang terkuat diantara yang terkuat. Walau pemenang yang dicari dipertarungan ini ada 5 orang, tapi kami harus mendapat gelar juara satu."
"Kenapa begitu? Bukannya pemenangnya ada 5 orang?"
"5 orang memang akan menang dan terpilih menjadi Dewa baru. Tapi lain bagi mereka yang mendapat juara satu. Bagi sang juara satu, dia akan mendapat tempat tersendiri di istana khayangan, dimana tempat itu merupakan tempat berkumpulnya ke-10 Dewa utama. Dia akan menjadi salah satu Dewa utama. Mereka yang terpilih juga mempunyai tugas yang sama pentingnya di semesta ini. Dan yang pasti dia akan mendapat pengikut lebih banyak dari Dewa baru."
"Oh, begitu."
Muka Magni mendadak muram seketika. Dari sini, walau terhalang oleh kegelapan malam, aku bisa melihat jelas kebencian yang terlukis jelas di wajahnya yang rupawan. "Dan saat itulah aku bertemu dengan dia...."
"Apa? Dia siapa?" Aku memburu.
Dari balik bayang-bayang itu, matanya menatap tajam memancarkan aura membunuh yang mengerikan. "Nicorus Quae Devorator, sang Acrhdemon kuno penguasa kegelapan."
Bersambung....