
Gelap.
Hanya itu kata untuk menggambarkan ruangan ini. Entah bagaimana caranya aku bisa ke ruangan super gelap ini. Saat aku bangun tiba-tiba saja aku langsung berada di sini. Selebihnya aku tidak mengingat apapun. Semuanya seakan hilang terhisap suatu lubang hitam. Menghilang begitu saja. Yang bisa kuingat hanya namaku. Reyhanaf Putra.
Rey....
Mendadak sebuah suara memanggilku dan membuat aku sedikit terkejut. Suara itu menggema seakan-akan dia berbicara menggunakan sebuah megaphone.
Rey.
Suara itu terdengar lagi. Namun tidak seperti tadi. Kali ini lebih jelas. Suaranya agak berat seperti suara seorang pria paruh baya berumur 50-an.
"Siapa itu?"
Aku mencoba menanggapi meski sedikit merasa ketakutan.
Aku adalah Dewa.
Dewa? Apa itu benar? Aku sedikit ragu. Bukannya aku tidak percaya adanya Dewa, tapi mengaku pada seseorang jika kau adalah Dewa merupakan sesuatu yang sangat mustahil untuk dipercaya. Tapi meski begitu aku mencoba memakai logika. Maksudku, mana ada suara seseorang yang bisa menggema seperti itu. Ditambah dia juga tahu namaku.
Kau pasti kebingungan kan? Apakah aku ini Dewa atau bukan.
Kenapa dia bisa tau yang aku pikirkan. Apa benar dia ini Dewa? Lalu tiba-tiba saja sebuah cahaya yang sangat terang menyinari ruangan gelap ini. Aku bahkan harus menutupi mataku dengan kedua tangan agar tidak terkena silauan cahaya tersebut.
Seperti yang kubilang, aku adalah Dewa. Aku adalah Dewa tertinggi diantara yang tertinggi. Aku yang menciptakan alam semesta kedua dan semua makhluk di dalamnya. Aku juga yang telah mengirim jiwamu ke ruangan ini agar kau tidak jatuh ke dunia bawah.
Jadi dia benar seorang Dewa. Ah, aku sudah lancang. Apakah aku akan langsung dimasukkan ke dalam Neraka? Mendadak aku bergetar ketakutan.
Tenang, kau tidak perlu takut. Aku tidak akan mengirimmu ke dalam sana.
"B-benarkah itu?"
Cahaya yang sangat terang itu perlahan memudar dan berganti dengan seorang pria berjas putih. Semua yang ada ditubuhnya berwarna putih. Mulai dari rambut, kumis, janggut, mata, pakaian jas yang dia kenakan semua berwarna putih. Senyuman yang ditunjukkannya padaku sangat damai. Dia lalu mengangguk pelan menanggapi ucapanku dan mendekat perlahan ke arahku.
Aku adalah Miracle. Bisa dibilang aku adalah Dewa keajaiban.
Aku bingung. "Bukankah anda bilang jika anda adalah Dewa semesta alam?"
Itu benar. Tapi sebelum menjadi Dewa semesta alam aku adalah Dewa keajaiban.
Ah, aku masih belum paham. Lebih baik aku bertanya pertanyaan yang lain.
"Lalu apa yang telah terjadi padaku? Bagaimana aku bisa sampai ke sini dan satu lagi, apa benar aku sudah mati?"
Soal kau mati itu memang benar. Tapi apa kau yakin ingin mengetahui bagaimana kau mati?
Jadi benar aku sudah mati. Kakiku mendadak lemas. Aku sempat syok, namun kuputuskan untuk tidak terlalu lama. Itu akan menimbulkan sesuatu yang akan sulit untuk dihilangkan dari pikiran.
Jadi bagaimana? Apa kau ingin mendengar bagaimana kau bisa mati?
Tuan Miracle bertanya sekali lagi. Dengan perasaan siap aku mengangguk cepat. "Iya, tolong."
Reyhanaf, kau mati secara heroik. Kau mati karena menolong banyak orang.
Aku terkejut. "Aku mati karena menolong orang...?"
Iya. Saat itu kau tengah berada di halte bus untuk berangkat ke kantor guna wawancara kerja. Lalu secara tidak sengaja kau melihat seorang ******* yang siap meledakkan sebuah bom dikerumunan banyak orang. Dengan berani kau berlari ke arah ******* itu. Kau menjatuhkan ******* itu dan menahan gerakannya dengan tubuhmu agar dia tidak bisa bergerak. Kau berteriak "Ada Bom!" pada semua orang sehingga orang-orang berhamburan keluar halte untuk menyelamatkan diri. Tapi malang bagimu. Kau tidak sempat melakukannya karena bom itu meledak sesaat setelah semua orang berhasil keluar. Berkat dirimu tidak ada banyak korban jiwa yang berjatuhan. Korban akibat ledakan itu hanya kau dan ******* itu sendiri. Setelah kejadian heroik itu kau dikenal sebagai seorang pahlawan negara yang rela mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan banyak nyawa.
Aku tertegun mendengar cerita Tuan Miracle. "Benarkah itu Tuan Miracle?"
Itu benar dan aku sangat kagum padamu. Kau rela mengorbankan nyawamu demi menyalamatkan orang lain.
"Ah, kau terlalu berlebihan." Ucapku malu-malu.
Jangan merendah. Kau mempunyai jiwa seorang pahlawan. Karena itulah aku membawamu ke sini.
Aku langsung tersipu. Siapa yang tak merasa begitu jika dipuji oleh seorang Dewa semesta alam? Sudah pasti hatiku rasanya sangat senang.
"Em, Dewa. Aku ingin bertanya lagi. Apa nama tempat ini dan untuk apa aku dibawa kemari?"
Apa tidak apa-apa? Kurasa aku terlalu banyak bertanya.
Tidak, tidak apa-apa. Malah itu bagus. Kau jadi tahu apa yang tidak kau ketahui.
Dia membaca pikiranku lagi. Sebenarnya aku tidak merasa itu masalah. Tapi sebagian diriku merasa tidak nyaman. Ya, bisa dibilang seperti melihat privasi atau hal pribadi orang lain. Bukankah itu tidak sopan?
Maaf, jika itu membuatmu merasa tidak nyaman. Aku akan menghentikannya.
Tiba-tiba ekspresinya berubah murung meski sebuah senyum masih terlihat di wajahnya. Apa aku keterlaluan? Dia adalah Dewa loh! Lebih baik aku meminta maaf. Mungkin aku memang sudah terlalu berlebihan. Seharusnya aku lebih sopan lagi jika berbicara dengan seorang Dewa. Atau lebih tepatnya tidak membicarakannya di dalam pikiranku. Apalagi untuk Dewa agung seperti Tuan Miracle yang dengan baik hati mau mengambil jiwaku agar tidak terjatuh ke dunia bawah. Selain itu dia juga mau repot-repot menemuiku langsung serta memuji tindakan heroikku. Ah, aku merasa bersalah. Aku harus minta maaf!
"M-maaf, bukan maksudku begitu. Aku tidak keberatan jika anda membaca pikiranku. Aku sangat senang malah. Aku benar-benar minta maaf. Tolong maafkan aku atas ketidaksopananku ini."
Ah, tidak usah dipikirkan. Aku yang salah. Membaca pikiran orang memang sesuatu yang tidak sopan. Kalau begitu aku akan menghentikannya. Oh, ngomong-ngomong agak kurang nyaman jika kita berbicara di tempat seperti ini. Bagaimana kalau kita pindah?
Tuan Miracle lalu menjentikkan jarinya dan secara tiba-tiba membuat kami berpindah ruangan. Ruangan itu berbeda dengan ruangan gelap tempat aku terbangun. Ini lebih seperti ruang tamu. Ada sofa, meja, dan futnitur rumah lainnya.
Duduklah, Rey.
Tuan Miracle mempersilahkan aku duduk. Dengan malu-malu aku menuruti keinginannya. Dia kembali menjentikkan jari dan secara ajaib dua buah cangkir, satu teko teh, dan segelas gula kotak muncul di atas meja. Tuan Miracle mengambil teko teh itu dan menuangkan teh ke dua buah cangkir. Mata putihnya yang sedari tadi sibuk menatap cangkir dan teko itu segera berpindah ke arahku.
Mau berapa gula?
"Eemm... 1 saja cukup."
Aku menjawab dengan malu-malu. Tuan Miracle yang melihat tingkahku hanya tersenyum lembut. Dia lalu mengambil satu balok gula dengan penjepit gula dan mecelupkannya ke cangkir tehku.
Silahkan diminum.
Tuan Miracle mengambil cangkirnya dan langsung menyeruput tehnya. Begitu juga denganku. Tunggu, kenapa kita malah melakukan acara minum teh? Sebenarnya tujuan Tuan Miracle membawaku kemari itu untuk apa? Langsung saja aku bertanya ketika Tuan Miracle selesai menyeruput tehnya.
"Err, Tuan. Sebenarnya kenapa kita ke sini?"
Oh, maaf. Aku sampai lupa.
Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan padamu.
Wajah sang Dewa berubah serius. Ada apa ini? Mendadak suasannya menjadi menegangkan.
Kau akan menjadi anakku.
Eh?
Kenapa ekspresimu begitu? Kukira kau akan--
"EEEEHHHH???!!!"
--terkejut....
"A-a-a-a-a-a-apa maksudmu Tuan Miracle?!!"
Aku mendadak sangat terkejut. Apa maksudnya?! Aku menjadi anaknya!? Aku benar-benar tidak mengerti. Tiba-tiba saja kepalaku terasa sakit. Sakit karena terkejut dan berusaha menerka-nerka apa yang tengah terjadi di sini.
Tenang, Rey. Tenang.
Tenang?! Mana bisa aku tenang! Coba saja bayangkan jika ada seorang Dewa semesta alam yang mendadak menjadikanmu seorang anak. Tentu saja kau akan sangat terkejut, atau bahkan kehilangan nafas seketika. Dan kedua hal itu tengah terjadi padaku sekarang ini.
Rey, tenang! Tarik nafas..., hembuskan..., tarik nafas..., hembuskan...,
Aku mengikuti ucapannya. Perlahan tapi pasti aku sudah agak baikan. Walau sebenarnya aku masih sedikit terkejut.
Bagaimana? Merasa lebih baik?
Aku mengangguk pelan. Kuambil kembali cangkir teh itu dan menyeruput airnya sampai habis. "Maaf, reaksiku berlebihan."
Tidak apa-apa. Itu wajar saja. Aku juga akan bereaksi seperti itu jika jadi kau.
"Jadi, kenapa kau ingin menjadikanku anakmu?"
Rey, apa kau tahu Demigod?
"Demigod? Bukankah mereka adalah manusia setengah Dewa?"
Kau benar. Tapi kebanyakan para Demigod adalah anak kandung dari Dewa atau Dewi itu sendiri. Biasanya Dewa atau Dewi akan menikahi seorang manusia fana dan melahirkan seorang anak. Jika si anak memiliki potensi yang dimiliki oleh orang tua Dewa atau Dewi-nya, maka anak ini bisa disebut sebagai Demigod.
Aku menggangguk-angguk mengerti.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
Seperti yang kubilang. Aku akan menjadikanmu anakku supaya kau menjadi salah satu Demigod itu. Demigod adalah ras terkuat di dunia yang akan kau datangi nanti. Aku akan memberikan detilnya padamu saat sampai di sana.
Aku terkejut. Dunia yang akan kudatangi? Apa maskudnya?
"Tunggu, apa maksud anda dengan dunia yang akan kudatangi? Memangnya aku akan dikirim ke mana?"
Tuan Miracle tersenyum.
Sebuah dunia baru. Dunia yang bernama Altars. Itu adalah dunia yang aku ciptakan.
"Altars?"
Tempatnya mirip dengan bumi. Mulai dari cuaca, ekosistem, dan udara, serta airnya. Semua mirip. Hanya beda dimensi dan makhluk di dalamnya saja.
"Biar kutebak. Pasti ada sihir, naga, dan makhluk fantasi lainnya kan?"
Oh, ternyata kau sudah tahu.
Ternyata benar. Berarti dunia yang kudatangi mirip seperti cerita dalam game dan anime yang pernah aku lihat saat aku masih hidup. Kurasa ini patut dicoba.
Jadi bagaimana? Kau berminat?
"Baiklah, kurasa aku akan mencobanya Tuan Miracle."
Ayolah, jangan memanggilku seperti itu. Kita kan sudah menjadi Ayah dan Anak. Panggilah aku dengan sebutan yang seharusnya.
Aku menghela nafas. Sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Bukannya aku tidak mau memanggilnya ayah. Tapi karena aku merasa itu kurang sopan untuk memanggil "Ayah" pada seorang Dewa tertinggi sepertinya.
"Baiklah, Ayah. Aku akan menerimanya."
Aku menekankan kata "Ayah" dengan nada suara yang bisa dibilang terpaksa.
Nah seperti itu.
Aku kembali menghela nafas untuk yang kedua kali. Kulihat di depanku Tuan Miracle tersenyum puas. Dia lalu menjentikkan jarinya dan secara tiba-tiba sebuah sinar yang sangat terang menyelimuti seluruh tubuhku. Aku yang terkejut segera berdiri karena panik.
"A-apa ini!?"
Tapi sinar itu tak bertahan lama. Lama kelamaan, sinar itu menyusut dan menyusut sampai menghilang sepenuhnya. Aku menatap Tuan Miracle, berharap dia mau memberikan penjelasan atas sinar yang menyelimuti tubuhku semenit yang lalu.
Tenang tidak usah panik. Aku tadi sedang memberikan seluruh kekuatanku padamu.
Apa? Seluruh kekuatannya?
Baiklah, ini saatnya kau pergi.
"T-tunggu dulu--"
Selamat jalan anakku. Kita akan bertemu lagi. Selamat tinggal.
Dan sang Dewa pun menjentikkan jarinya untuk yang terakhir kali. Kenapa aku bilang untuk yang terakhir kali? Sebab saat Tuan Miracle melakukan itu, aku sudah berpindah ke hutan lebat yang sangat sepi.
Dasar! Apa seluruh Dewa akan membuang anaknya ke tempat antah-berantah seperti ini. Jika dilihat dari sifatnya sih, kurasa iya. Hah, padahal dia baru saja menjadi ayahku. Tapi belum sehari aku menjadi anaknya, dia sudah membuangku. Malangnya aku.
Dan dengan dibuangnya diriku di hutan ini, petualanganku di dunia lain pun dimulai.
Bersambung....