Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 12 : Kedatangan Sang mantan Dewa Naga. Pertarungan dua lawan satu.



Author Pov....


  


 


BUAK!


Rillia kembali terjatuh bergulingan saat Varna melayangkan tinjunya pada muka wanita cantik itu. Walaupun dia telah memasang sihir pelindung, tapi Varna dapat dengan mudah menghancurkan pelindung itu semudah anak kecil menghancurkan telur. Luka-luka yang terlihat hampir di sekujur tubuhnya menjadi penanda jika dia bukanlah tandingan bagi si Jendral Kegelapan.


"Menyerah saja, Tuan Putri." Ujar Varna. "Kau tak akan bisa menang." Monster itu kembali melesat secepat kilat dan menyepak perut Rillia keras saat wanita itu mencoba untuk berdiri.


Buak!


"Bluargh...!" Wanita malang itu terbang ke langit tinggi berkat tendangan maut Varna. Monster itu menyeringai dan menghilang dalam kedipan mata. Dia lalu kembali muncul tepat di atas Rillia dan hendak melayangkan satu tendangan lagi pada perut si Putri Elf.


Akan tetapi, aksinya digagalkan saat satu sulur menangkap kakinya. Sulur itu mengayunkan Varna ke bawah lalu menghantamkan tubuh monster itu ke tanah keras hingga menimbulkan dentuman yang cukup kuat. Tak berhenti sampai di situ, sulur-sulur lainnya ikut berpartisipasi dan mengeroyok Varna tanpa ampun.


Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak! Bruak!


Varna menjadi bulan-bulanan semua sulur-sulur itu. Dia seperti tidak diberi kesempatan untuk bernafas. Setiap kali satu sulur berhasil dihancurkannya, setiap kali itu juga satu sulur baru muncul menggantikan sulur yang gugur.


Saat sulur-sulur lain sibuk menghajar Varna, satu sulur menghampiri Rillia yang jatuh bebas ke bawah. Sulur itu bergerak cepat menangkap tubuh sang Putri dan meletakkannya pelan di atas tanah. Rillia mengerang lemah. Matanya melirik Varna lalu beralih ke arah Reyhanaf yang terbaring tak berdaya dengan senjata Varna yang tertancap di perutnya.


"Anak... muda...." Rillia bangkit perlahan. Dia mendekati Reyhanaf dengan tubuh yang terombang-ambing ingin jatuh. Namun demikian Rillia berusaha keras untuk menjaga keseimbangannya demi mencapai lelaki yang menyelamatkan nyawanya itu.


"Hey..., bangunlah...." Rillia menggoyang-goyangkan tubuh Reyhanaf yang semakin mendingin begitu sampai di sana. Tapi sayangnya tidak ada reaksi sama sekali dari si lelaki misterius ini. "Ayolah, manusia. Kau tidak selemah ini, kan?"


Buum!!!


Suara ledakan keras di belakang Rillia membuat wanita itu segera menoleh cepat. Matanya seketika terbelalak lebar saat melihat Varna berhasil menghancurkan semua sulur-sulurnya hanya dengan sekali serangan. Mereka semua terpencar ke segala arah dalam keadaan terpotong-potong.


"Percuma saja, Putri. Dia sudah mati." Kata Varna. Bola matanya lalu melirik ke arah Reyhanaf yang terbaring sekarat. "Ternyata, meski zaman sudah jauh terlewati, manusia tetaplah ras yang bodoh, ya." Ujarnya.


Di sisi lain Rillia bersikap waspada. Dia melindungi Reyhanaf dalam bayangnya dan kembali menciptakan busur andalannya. "Menjauhlah, monster!"


"Aku sarankan kau lebih baik menyingkir, Putri Rillia. Di sana ada benda pribadi yang mesti kuambil kembali. Kau tidak ingin ini semakin jauh, bukan?"


Rillia menciptakan panah berwarna hijau keemasan. "Kuperingatkan Varna, Jika kau mendekat satu langkah lagi, aku akan benar-benar membunuhmu!"


"Kau menggertak! Seharusnya kau juga tahu jika perbedaan kekuatan yang kita miliki sangatlah jauh. Jadi, menyingkirlah dan mungkin aku akan mempertimbangkan untuk menyisakan satu Dark Elf nanti." Kata Varna sembari melangkah satu langkah ke depan.


"Aku bilang... MENJAUH!" Rillia melepaskan serangannya dan menerbangkan panah yang tadi sudah dimantrai. Panah itu melesat dengan kecepatan kilat hingga saking cepatnya, Varna sampai tidak tahu jika panah itu sudah menancap tepat di kepalanya. Serangan ini sempat membuat si monster bingung sesaat sampai-sampai langkahnya terhenti karenanya. Tangan bercakarnya meraba-raba kening itu untuk mencari benda yang tertancap di sana. Lalu saat Varna berhasil menemukan benda itu, dia segera mencabutnya dan mematahkannya menjadi dua.


"Oh, jadi ini yang kau--"


DUAR!!!


Ucapan Varna terpotong saat panah yang tadi dipatahkannya tiba-tiba meledak dengan sangat hebat. Ledakan itu mampu menciptakan getaran gempa dan hembusan angin yang lumayan kuat. Cukup kuat untuk menerbangkan beberapa puing bangunan berukuran sedang. Tidak ada tanda-tanda dari si monster kegelapan. Di sana hanya ada api yang berkobar dengan asap hitam yang menyertainya.


Rillia tahu jika serangan tadi tidak akan berpengaruh besar pada Varna. Apalagi sampai membuatnya mati. Tidak, itu tidak mungkin terjadi. Karena itu seakan tak ingin membuang kesempatan sesaat ini, dia segera mengangkat tubuh Reyhanaf dan membopongnya ke tempat yang lebih aman. Namun sialnya, belum juga mereka bergerak selangkah, insting bahaya Rillia mengirimkan sinyal kejut pada kepalanya. Dia merasakan hawa membunuh yang luar biasa besar dari tempat Varna meledak. Hanya ada satu jawaban, si monster sialan itu masih hidup. Ini gawat. Kemunculannya terlalu cepat. Dia belum sempat membawa Reyhanaf ke tempat aman.


"Tuan Putri, kau melakukan kesalahan besar. Baiklah, kalau itu maumu, tapi jangan salahkan aku jika seluruh kerajaan Moudha rata dengan tanah, Yang Mulia Putri Rillia."


Tiba-tiba Varna berteriak sangat keras dan memunculkan hembusan angin yang luar biasa kuat. Jika Rillia tak bereaksi cepat dengan berpegangan pada busur yang dia tancapkan ke tanah, dia dan Reyhanaf pasti sudah terlempar ke udara karena hembusan anginnya.


"Sungguh kekuatan yang dahsyat." Pikir Rillia.


Tapi keterkejutannya tidak sampai di situ. Mata sang Putri kembali terbuka lebar ketika melihat tubuh kecil Varna bertambah besar dan semakin besar. Ukurannya yang terus bertambah setiap detiknya membuat mulut Rillia tak sanggup untuk menutup kembali. Varna yang tadinya hanya monster berukuran setinggi 2 meter, berubah menjadi monster mengerikan berukuran 4000 meter. Perubahan Varna tidak hanya sekedar tinggi badannya saja, tapi meliputi semua bentuk tubuh serta wajahnya.


Wajahnya berubah lebih seperti seekor **** dengan ribuan gigi tajam yang menghiasi mulutnya. Kedua tanduknya bertambah panjang dan besar. Tubuhnya lebih gemuk sehingga kaki dan tangannya hampir tak terlihat. Tapi itu juga karena faktor besar pada tubuhnya yang menyamai sebuah gunung. Ketika perubahannya telah mencapai titik sempurna, Varna berteriak kembali dan menyebabkan separuh Moudha hancur rata dengan tanah akibat angin hebat yang keluar dari raungannya.


"AKU SUDAH MUAK BERMAIN-MAIN DENGANMU PUTRI! INI SAATNYA MENGHANCURKAN MOUDHA SEUTUHNYA!!!" Serunya.


Gigi Rillia beradu dan menimbulkan bunyi bergemeretak. Mustahil dia menang dari monster itu. Melawan ukuran 2 meternya saja sulit apalagi jika bertambah menjadi 4000? Dia bisa dibuat jadi telur dadar oleh Varna. Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus melarikan diri? Dia bisa saja melakukan itu, namun kecintaannya pada Moudha dan juga pohon suci Lignum membuat dia harus tinggal dan bertarung.


"MATILAH KALIAN!!!" Varna kembali berseru dan menciptakan sebuah bola energi hitam dari mulutnya. Energi itu berkumpul dan menimbulkan badai petir di mana-mana. Tekanan yang diberikan bola energi itu sanggup membuat gempa yang cukup besar. Beberapa puing-puing bangunan terangkat serta hancur saat melayang terbang menuju bola hitam itu.


Mulut Rillia tak bisa berkata apa-apa. Mustahil dia bisa lolos dari serangan seperti itu. Jangankan dia, Moudha saja tidak akan bisa lepas dari kehancuran. Varna benar-benar serius ingin membuat Moudha rata dengan tanah. Sekarang apa? apa yang harus dilakukannya? Apa Rillia harus menyerah? Apa dia harus menerima nasib dan pasrah menunggu untuk dihancurkan? Jangan bercanda! Rillia bukan orang seperti itu. Sebagai Putri dari Kerajaan paling disegani, Rillia menolak pasrah dan menyerah. Kata "pasrah dan menyerah" adalah kata-kata yang tidak akan pernah ditemukan dalam kamus kehidupannya. Oleh karena itu dengan sangat terpaksa dia harus menggunakan "kartu As"nya. Rillia tahu resiko yang harus dia terima dari menggunakan sihir ini. Tapi sayangnya sudah tidak ada cara lain lagi. Rillia harus melakukannya atau dia akan kehilangan semuanya.


Matanya lalu melirik Reyhanaf dan tersenyum lembut padanya. Dia meletakkan lelaki itu perlahan ke tanah dan mengelus rambutnya lembut. "Hey, manusia. Aku sangat yakin kalau kau belum mati. Jadi pastikan kau akan melihatku menang nanti. Kau sudah berjuang keras. Kini saatnya giliranku untuk berjuang. Terima kasih karena sudah menyelamatkanku dan berusaha melindungi kerajaanku. Aku akan mengingat kebaikanmu ini sampai kita dipertemukan kembali di Coelum." Katanya.


Rillia lalu memandang Varna tajam. Tangannya mengepal keras dan tiba-tiba saja sebuah aura hijau tua menyelimuti tubuh Rillia. Kerikil serta batu-batu kecil terangkat. Atmosfer berubah di sekitar Rillia. Kedua tangannya lalu melipat seperti orang berdoa dan memunculkan sebuah simbol yang bersinar terang di dahinya. Sama seperti saat simbol pelayan muncul di dahi Magni.


Sinarnya yang sewarna dedaunan memancar hingga ke angkasa. Menarik perhatian para burung-burung cantik berwarna keemasan. Mereka berputar mengelilingi sinar itu sambil berkicau merdu seakan tak mempedulikan bahaya yang datang dari seekor monster di depan mereka. Mata besar Varna menyipit. Ternyata dia cukup tertarik juga pada sinar hijau itu, walau konsentrasinya pada bola hitam itu masih tetap dilakukannya. Dari raut wajahnya, dia sepertinya tahu sinar itu. Seingatnya, itu adalah sinar yang pernah membunuhnya pada akhir Perang Besar ribuan tahun silam.


"NATURAE...." Ucapnya di sela-sela konsentrasinya. "KAU SELALU IKUT CAMPUR! TAK AKAN KUBIARKAN KALI INI KAU MENGGANGGU!"


Wajah Varna lalu mendongak ke angkasa dan membiarkan bola yang ada di mulutnya semakin bertambah besar. Semakin besar dan semakin besar hingga melewati ukuran tubuhnya. Angin menderu-deru dengan hebat, petir menyambar-nyambar berulang kali tanpa henti, dan gempa yang semakin menjadi-jadi membuat tanah seakan ingin terlempar dari tempatnya. Lalu ketika bola Varna berhenti membesar, seketika itu juga fenomena-fenomena alam ikut berhenti. Suasana berubah sunyi senyap seketika dan hanya ada suara kicauan burung yang masih berkicau di sekitaran sinar hijau itu. Bola mata Varna yang terdorong kebelakang dan hanya menampakkan bagian putihnya saja, kini telah kembali normal dengan pupil yang menatap lekat ke arah si Putri kerajaan.


"ๅๅǝɥ uᴉ noʎ ǝǝS, Putri Rillia!"


Dan saat itu juga Varna menembakkan bola hitam yang mengarah langsung ke arah Rillia yang sekarang tengah fokus pada sihirnya. Semakin lama, bola hitam raksasa yang melesat sangat cepat itu semakin mendekat tiap detiknya. Serangan mendadak ini sempat membuat Rillia terkejut, tapi itu tak membuat sang Putri bergeming dari tempatnya. Dia tetap fokus dan penuh konsentrasi. Jika dia berhenti sekarang, maka tidak akan ada kesempatan lain. Sihir ini merupakan sihir terkuat yang bisa dia keluarkan, dan juga merupakan satu-satunya cara untuk mengalahkan Varna selama-lamanya. Karena itu sihir ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dapat digunakan.


Rillia benar-benar berada di antara dilema besar sekarang. Di satu sisi bola hitam mematikan yang terus mendekat bisa membunuhnya dalam sekejap, dan di sisi lain Rillia yang ingin berpegang teguh pada pendiriannya untuk tetap terus berkonsentrasi pada sihirnya agar berhasil. Dia ingin mengambil pilihan untuk tetap terus berkonsentrasi pada sihirnya, tapi sialnya dia harus menerima fakta jika sihirnya ini masih belum siap sepenuhnya. Dia masih membutuhkan beberapa menit untuk dapat menggunakannya secara penuh. Namun sayangnya dia tidak punya waktu sebanyak itu.


Ini semua karena dampak dari ingatnya Varna akan sihir Rillia hingga membuat sang monster lebih bereaksi cepat dengan menembakkan bola hitam itu lebih dulu darinya. Rencana Rillia buyar seketika karenanya. Lalu apa yang harus dilakukannya sekarang? Apakah dia harus membatalkan sihir, membawa Reyhanaf bersamanya, dan bersembunyi di dalam tanah selagi Moudha hancur berkeping-keping, atau tetap berkonsentrasi dan bertahan pada sihirnya dengan resiko tubuh hancur tak bersisa? Kepala Rillia seakan ingin pecah memikirkan semua ini dan sempat membuat konsentrasinya hampir terbuyarkan. Untung saja dia masih bisa mengatasinya, jika tidak maka sia-sia sudah perjuangannya.


Mata hijau Rillia sempat melirik ke arah langit, tempat dimana Ibunya tinggal. Dengan mata yang menitikkan air, dia berdoa padanya. "Bu, aku mohon padamu, dan kumohon kabulkanlah doa ku. Tolong aku dan beri aku sedikit lagi waktu untuk menyelamatkan Moudha dan manusia ini. Aku bergantung padamu.... " Ucapnya dalam hati.


Tapi langit seakan membisu. Suasananya sepi, ditambah tidak adanya lagi suara kicauan burung keemasan karena pemilik suara itu sudah terbang entah kemana. Rillia sebenarnya sudah menduga ini, doanya selalu tak pernah dikabulkan. Selama hidupnya hanya Lignum dan keluarga mortalnya'lah yang menemani sampai sekarang. Lignum pernah bilang bahwa Ibu mereka selalu menyanyangi dan menjawab doa anak-anaknya. Tapi apa? Dia tidak pernah mendapatkan gilirannya. Sepertinya Naturae terlalu sibuk pada anak-anak lain hingga dirinya selalu dilupakan. Bahkan disaat genting seperti sekarang.


Yah, mau bagaimana lagi? Mau kesal pun tidak berguna. Sekarang hanya kematian yang ada di depan matanya. Janjinya dengan Reyhanaf telah kandas. Keinginannya untuk melindungi Moudha telah sirna. Sekarang dia sudah siap untuk menerima hadiahnya, dihancurkan oleh bola raksasa yang ada di depannya. Ucapan selamat tinggal selalu dia dendangkan dalam hati. Selamat tinggal manusia asing, selamat tinggal rumah tercinta, dan selamat tinggal Kakak tercinta. Perjalanan sang Putri Dark Elf, Demigod dari Dewi Naturae, dan pejuang wanita paling pemberani, berakhir di sini.


Setidaknya itulah yang Rillia pikirkan, sampai seekor naga berukuran raksasa menghempaskan bola hitam yang hanya tinggal berjarak satu meter dari tempatnya dengan ekor berapinya. Bola hitam itu melambung tinggi, sangat tinggi sampai melewati Varna dan juga gunung yang tampak sangat kecil di kejauhan. Menimbulkan ledakan masif super besar yang dentuman ledakannya terdengar oleh mereka bertiga. Padahal jaraknya sekitar 5 mil. Bahkan karena ledakan itu, gunung yang sempat dilewati oleh bola hitam itu, hancur tak bersisa karena tertelan oleh ledakan dahsyat yang tengah terjadi sekarang.


Naga itu menyeringai dan tertawa keras. "AHAHAHAHA, HOME-- TUNGGU, APA YA KATA TUAN REYHANAF SOAL SEBUTAN UNTUK BOLA YANG DIPUKUL HINGGA MELAMBUNG JAUH SAMPAI MELEWATI BANGUNAN BERNAMA STADION? HOME... HOME... OH YA, HOME RUN!!!" Sang Naga bergembira ria di tengah hempasan angin dari ledakan dahsyat yang baru saja terjadi. Dia lalu menoleh ke arah Rillia yang masih terkejut dengan kehadirannya.


"ANDA TIDAK APA-APA, TUAN PUTRI?" Tanyanya.


Rillia hanya menjawab dengan anggukan pelan pada kepalanya. Mata sang Naga lalu beralih pada sosok tubuh yang ada dibelakang Rillia. Perlahan tapi pasti, mata besarnya berubah terbelalak begitu dia mengenali siapa pemilik tubuh itu adanya. Suara menggeram yang memperlihatkan deretan gigi yang tajam terdengar bersamaan dengan asap putih yang keluar dari lubang hidungnya. Tubuhnya bergetar dan tanpa sadar setitik air jatuh dari sela-sela matanya. Tiba-tiba saja, sang naga mendongak dan mengeluarkan raungan keras disertai dengan semburan api super besar ke angkasa.


"SIAPA YANG SUDAH MELAKUKAN INI PADA TUANKU?!!" Berangnya. Dia lalu melirik Rillia penuh amarah. "APA INI ULAHMU, PUTRI?"


Langsung saja Rillia menggeleng cepat. Selain memang bukan dia yang melakukannya, Rillia juga tidak ingin berhadapan dengan satu monster berbahaya lagi. Menghadapi Varna saja sudah sulit apalagi ditambah dengan Magni. Ya, Rillia mengenali mantan dewa naga itu. Dia sering sekali berkunjung hanya untuk mencicipi nasi goreng buatan Ayahnya. Tapi sejak kematian Ayahnya 1000 tahun lalu, Magni menjadi jarang kembali ke Moudha. Tapi ada beberapa desas-desus yang menyatakan jika ada beberapa konflik yang melibatkan sang Dewa Naga di khayangan sana. Mungkin itulah alasan kenapa Magni jarang berkunjung. Entahlah itu masih sebuah desas-desus. Rillia belum tahu pasti.


"ITU ADALAH PERBUATANKU, NAGA LINGLUNG!" Teriak Varna dari balik punggung si naga.


Belum sempat Magni menoleh, sebuah tentakel hitam legam yang berasal dari sihir Varna menangkap tubuh besarnya dan membantingnya ke tanah dengan kuat. Tabrakan keras tubuh raksasa Magni pada tanah menimbulkan sebuah gempa super besar. Puing-puing bangunan serta sejumlah bongkahan tanah dari berbagai ukuran terlempar ke udara. Rillia dan Reyhanaf bahkan hampir ikut terlempar jika sulur-sulur yang muncul dari bawah tanah itu tak segera melilit tubuh mereka berdua.


Seakan belum cukup hanya dibanting, sebuah bola hitam yang sama datang dari arah atas. Beruntung Magni menyadari serangan tersebut dan segera menggunakan semburan apinya untuk mendorong bola itu naik. Cara ini ternyata efektif dan berhasil membuat si bola kembali terdorong jauh ke langit. Bola hitam yang seharusnya meledak diperut Magni, kini malah meledak dengan sangat hebat di atas sana. Ledakannya menimbulkan gelombang kejut dahsyat yang sanggup menjatuhkan beberapa bangunan tinggi yang masih tersisa. Padahal jarak bangunan dan ledakan itu sendiri terpaut 3 kilometer jauhnya.


Si naga meraung-raung mencoba melepaskan diri. Giginya yang tajam berusaha keras menggigit tentakel itu. Walau membutuhkan waktu sekitar 3 menit, tapi Magni berhasil membuat tentakel itu putus menjadi dua. Begitu Magni telah terbebas dari cengkraman Varna, sayapnya lantas terkembang lebar dan dalam satu hentakan keras di tanah dia terbang ke langit dengan cepatnya. Sang naga lalu menatap penyerangnya dengan tatapan yang tentunya penuh rasa amarah. Mulutnya lalu terbuka dan memperlihatkan secercah cahaya merah terang di dalamnya. Pada mulanya memang tidak terjadi apa-apa, sampai di detik kesepuluh tubuh Varna mendadak berlubang tanpa sebab.


Si monster meraung-raung berteriak kesakitan. Di tengah rasa sakitnya, dia memandang sang naga besar dengan kebingungan. Begitu juga dengan Rillia. Wanita itu nampak terkejut untuk kesekian kalinya. Bagaimana bisa Magni melukai Varna tanpa melakukan apapun selain membuka mulutnya? Sihir apa yang digunakannya? Setahu Rillia, tidak ada jenis sihir yang tak mempunyai bentuk maupun suara. Semua jenis sihir memiliki itu. Tapi untuk ini Rillia tidak bisa menjelaskan apapun.


"NAGA SIALAN, DENGAN APA KAU MELUKAIKU!?" Varna berucap sembari meringis. Meski lukanya perlahan menghilang karena faktor regenerasi, rasa sakit yang menjalar akibat luka tersebut masih dirasakan oleh Varna.


Magni hanya diam saja menanggapi ucapan Varna. Dia kembali membuka mulutnya dan mengeluarkan secercah cahaya yang sama. Varna yang tidak bisa menebak arah serangan sang naga harus mau menerima saat tubuhnya kembali dibuat berlubang. Kali ini lubang di tubuh Varna tidak cuma satu, melainkan 3 sekaligus. Di dada, di leher, dan di kepalanya. Tidak sampai di situ, Magni terus melakukan serangan yang sama sampai lubang yang ada di tubuh Varna bertambah dan bertambah. Dirinya baru berhenti ketika bagian tubuh yang tersisa dari Varna adalah satu mata besarnya. Magni yang telah digelapkan oleh kebencian memberikan Varna satu serangan terakhir. Mulut Naga itu membuka sekali lagi dan "Pof" lenyaplah bagian terakhir dari tubuh Varna.


Magni turun perlahan ke tanah. Dia melirik sang Putri lalu Reyhanaf bergantian. Awan tebal menyelimuti tubuhnya secara tiba-tiba. Rillia pikir itu bagian dari serangan sang naga, tetapi begitu melihat seorang pria berambut merah yang mengenakan setelan jas keluar dari awan itu, dia menjadi lega. Ternyata itu hanya sihir perubahannya.


Mata Magni yang berwarna merah memandang sendu Tuannya itu. Meski dia baru beberapa hari menjadi pelayan Reyhanaf, tapi Magni tetap saja merasa sedih. Ini adalah kegagalannya sebagai seorang pelayan. Dia telah gagal untuk melindungi Tuannya. Seharusnya dia tetap berada di samping Tuannya, bukannya malah bertarung dengan burung besar itu.


"Maafkan aku, Tuan Reyhanaf...." Ucap Magni pelan. Kedua tangannya mengepal keras dengan gigi yang beradu bergemeretak. "Ini semua adalah semata-mata karena kesalahanku. Jika aku langsung menolongmu waktu kau jatuh dan jika saja aku lebih cepat datang membantumu, mugkin kau tidak akan menjadi seperti ini. Aku... Telah gagal menjadi pelayanmu." Sesalnya. Mata sang naga lalu beralih ke arah Rillia.


"Aku juga meminta maaf padamu, Tuan Putri. Maafkan aku karena telah menuduhmu. Rasa benci dan amarahku hampir membuatmu menjadi sasaran amukanku. Aku tidak menyangka jika Varna dalang dibalik semua ini. Sekali lagi maafkan kekurangajaranku." Katanya sembari membungkuk.


Rillia hanya bisa melongo kaget menyikapi perubahan sikap Magni yang drastis. Tidak biasanya Dewa yang satu ini meminta maaf. Padahal saat Ayahnya masih hidup dulu, Magni selalu bersikap arogan dan egois. Jika dia tidak mendapatkan apa yang dia inginkan, Magni selalu mengancam akan menyebarkan wabah pada kerajaannya. Akan tetapi walau dia mengancam seperti itu, dia tidak pernah melakukannya. Karena dibalik sikap egois dan arogan itu, Magni adalah pribadi yang baik. Hanya saja emosinya selalu tidak terkontrol. Dia selalu cepat tersinggung dan terbawa emosi. Ayahnya bahkan sampai harus membuat beberapa pengumuman agar rakyatnya berhati-hati dalam berbicara jika Magni sedang berkunjung ke kerajaan mereka.


"Putri Rillia," panggil Magni yang sudah kembali berdiri seperti biasa, "hentikan saja sihirmu. Bahaya telah lewat. Ada baiknya jika kau menyimpan manamu untuk membangun kembali Moudha." Usulnya.


Rillia mengangguk kembali.


"Aku akan pergi sebentar mengurus jasad Tuan Reyhanaf. Aku akan kembali dan membantu sebisaku. Jadi kau tidak perlu---"


BUAK!!!!


Tanpa diduga sebuah sepakan keras mendarat di kepala sang naga hingga membuatnya harus terlempar jauh ke arah selatan. Tubuhnya yang terus terdorong kebelakang menabrak beberapa menara tinggi sampai mereka semua roboh karenanya. Tidak cukup sampai disitu, sebuah tentakel yang entah datang darimana mengambil kaki Magni dan menyeretnya keluar dari bangunan yang menimpanya. Tentakel itu mengangkat tubuhnya tinggi dan membantingnya ke tanah berulang-ulang dengan keras. Saat sang naga sudah berubah lemas, tentakel itu melemparnya ke atas langit kuat. Magni yang belum sempat untuk membuka matanya kembali dihujam serangan berupa pukulan tepat di perutnya. Pukulan itu menyebabkan sang naga memuntahkan darah segar dan membuatnya meluncur bebas ke bawah dengan cepat. Saking cepatnya suara benturan Magni yang menabrak bumi serta gelombang kejut yang muncul setelahnya dapat dirasakan sampai jarak 2 km.


Prok... Prok... Prok...


Suara tepukan pelan membuat Magni melirik ke arah samping kirinya. Dia tidak bisa menggerakan tubuhnya lantaran terlalu sakit untuk dilakukan.


"Sang Dewa yang naif. Mencoba mencari sesuatu yang sangat mustahil untuk di cari." Asap tebal menghalangi si pemilik suara, namun Magni dapat mengenal dengan jelas suara siapa ini.


"B-bagaimana kau--"


"Hidup? Itu sudah pasti. Tidak ada yang bisa melenyapkan Tuan Varna semudah itu." Ujar Varna sombong. Tubuhnya berubah kembali keukurannya yang normal serta penampilannya juga kembali seperti sebelumnya. Lengkap dengan zirah silver yang dia kenakan pertama kali. Bedanya ada beberapa tentakel hitam yang menempel di punggungnya dalam keadaan siap menyerang.


Magni berdecak kesal. Dia harus mengakui jika lawannya ini sangat tangguh. Varna dapat dengan mudah bisa lolos dari serangan sihir Magni. Sebelumya tidak ada yang bisa lolos dari sihir ini, bahkan Nico saja sampai kewalahan dibuatnya. Apa lebih baik dia menggunakan sekali lagi? Itu ide bagus. Dia bisa kembali menyerang Varna dan kali ini Magni benar-benar akan memastikan jika Monster itu akan lenyap tak bersisa.


Dengan susah payah Magni mencoba bangkit walau tubuhnya bergetar kecil. Matanya menatap tajam Varna yang masih menunjukkan senyum sombongnya. Tanpa menunggu aba-aba lagi, Magni membuka mulutnya cepat dan memunculkan kembali cahaya yang sama. Tapi sayangnya sang monster telah memprediksi itu. Dengan kecepatan kilat, Varna menangkap wajah Magni dan membantingnya kembali ke tanah. Merasa kurang puas, Varna lebih menekan lagi kepala Magni lebih dalam ke tanah sampai membuat si naga kelonjotan kesakitan.


BRUAK!


Suara kepala Magni yang berhasil di tekan ke dalam tanah. Bersamaan dengan itu, tubuhnya menegang sedikit lalu berhenti tak bergerak lagi.


"Aku sudah melihat trikmu, naga tua. Kau mengubah api menjadi cahaya panas yang terfokus pada satu titik. Untuk membuatnya sempurna, kau menciptakan sebuah cahaya yang tidak terlihat dan juga tidak menimbulkan bunyi. Selain itu kecepatan cahaya yang mencapai 300.000.000 km/jam membuat aku tidak dapat menghindari seranganmu. Tapi sayangnya kali ini berbeda. Trikmu tidak akan berhasil karena kecepatan cahayamu, masih jauh dari kecepatanku. Kau tidak akan bisa melukaiku lagi sekarang. Lagipula sihirmu itu menggunakan Mana. Apa kalian para Dewa lupa siapa aku ini?"


Varna bediri dan mengangkat Magni ke atas dengan mencengkram kuat wajahnya. Sementara tangan kanan mencengkram wajah Magni, tangan kiri sang monster di angkat setengah. Kelima tentakelnya menghampiri telapak tangannya yang terbuka dan seketika menciptakan bola hitam yang sama saat Varna berubah menjadi besar. Tapi Varna hanya membuatnya sebesar bola basket. Dia tidak ingin mengambil resiko ikut tertelan sihirnya sendiri.


"Selamat tinggal, Dewa Magni." Ucapnya sembari menyeringai. Tanpa babibu lagi Varna menyerang Magni dengan mengincar perut si naga. Tapi serangannya meleset karena Magni telah jatuh terlebih dulu sebelum bola itu mengenainya.


Varna mendadak terdiam. Tiba-tiba saja dia merasakan rasa perih yang amat sangat perih ditambah ngilu pada tangan kanannya. Ketika matanya melihat itu, tangan kanan Varna telah hilang dari tempatnya. Tangan itu jatuh ke bawah dengan cucuran darah yang membasahinya. Lalu mendadak ratusan sulur pohon datang dari bawah kakinya dan mengurung Varna di dalam bola sulur merambat.


Sebuah sulur mendekati tubuh Magni dan menarik naga itu menjauh. Magni yang sadar dirinya tengah di tarik melirik kecil siapa orang yang melakukan ini padanya. Sulur itu lalu berhenti tepat di depan seorang wanita cantik yang mengenakan gaun daun putih keemasan. Kini Magni bisa melihat siapa orang itu adanya. Dia adalah Rillia. Penampilannya telah berbeda dengan yang sebelumnya. Luka-lukanya telah sembuh, rambutnya yang tadinya pendek berubah menjadi panjang, dia juga mengenakan gaun kebesaran para Dewa. Karena Ibunya seorang Dewi alam, otomatis Rillia mengenakan pakaian kebesaran Ibunya, yaitu berupa gaun panjang keemasan bermotif pohon suci dan mahkota daun pada kepalanya. Magni sempat berpikir, jika ditambah dengan simbol di dahi Rillia, dia kelihatan persis seperti Ibunya.


Rillia menatap tajam bola sulur itu. Dia mengangkat tangan kanannya setengah dan seketika mengepalkannya cepat. Tiba-tiba saja bola sulur itu mengecil dan semakin mengecil. Rillia lalu memandang remeh bola sulur lalu berkata.


"bʁᴉcĸ ϝμɑϝ qԍƨbᴉcɑpɼԍ cʁԍɑϝnʁԍ ʍᴉϝμ λonʁ ƨμɑʁb ϝμoʁuƨ! ( tusuk makhluk hina itu dengan duri tajam kalian )." Katanya. Dan Rillia kembali membuka telapak tangannya cepat. Seketika itu juga ratusan sulur-sulur tajam muncul dari dalam bola sulur itu. Menembus cangkang tersebut dari dalam. Darah menetes-netes dari ujung sulur-sulur tajam tersebut. Hanya ada satu kemungkinan. Itu adalah darah Varna dan dia telah mati. Tapi sayangnya itu hanyalah sebuah kemungkinan, karena sekarang Varna meledakkan bola sulur itu dan keluar dari dalamnya dengan berdarah-darah.


Dengan penuh amarah dia memandang Rillia. Bola hitam di tangan kirinya ingin segera dilemparkannya ke arah wanita itu. Namun gerakannya mendadak terhenti oleh sebuah sulur yang menangkap tangan kirinya dari bawah. Varna berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri, tapi semua sia-sia. Sulur-sulur ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Ini pasti karena perubahan Rillia. Ya, perubahan itu pasti mengacu pada sulurnya sehingga menghasilkan sulur yang lebih kuat dan cepat. Bukan hanya itu, meski sulur itu dikontrol dengan sihir, namun sihir yang digunakan bebas dari Mana. Dengan kata lain, Rillia menggunakan sebuah energi yang tidak mengandung Mana sama sekali. Dan energi tersebut bernama energi alam.


"Jadi begitu. Itulah kenapa aku tidak bisa melawan sulur ini dengan mudah. Energi Alam ini sangat menjengkelkan. Naturae... kau wanita brengsek!" Umpat Varna saat mengetahui energi yang digunakan Rillia.


Ya, Rillia merupakan Demigod dan satu-satunya Demigod yang dapat menggunakan energi lain selain energi Mana. Akan tetapi walau dia bisa menggunakan energi tersebut, dia sendiri tidak bisa memakai energi ini dengan leluasa. Ada batas waktu selama 1 jam yang bisa Rillia manfaatkan. Jika lewat dari itu, maka tubuhnya tidak akan sanggup menerima kekuatan besar tersebut dan mengakibatkan kegagalan pada organ-organ vitalnya lalu berujung pada kematian. Lain dengan Ibunya, yaitu Dewi Naturae, yang bisa menggunakan energi tersebut dengan sesuka hati.


Kenapa Dewi Naturae yang seorang Dewi di Altars bisa mempunyai energi lain yang notabene-nya sangat berbeda dari Energi mana yang merupakan energi utama dan energi penunjang kehidupan bagi seluruh makhluk di semesta, termasuk Dewa-Dewi Altars? jawabannya hanya satu, dari orang tuanya. Alih-alih tercipta dari Mana seperti Dewa-Dewi kebanyakan, Dewi Naturae tercipta dari Entitas kuno tertua bernama Natura. Sesosok makhluk absolut yang berasal dari ras pertama di semesta yang mempersonifikasikan Alam sekaligus pionir dari energi baru yang bernama sama.


Karena hal inilah Dewi Naturae dapat memiliki energi selain Mana. Dan kekuatannya ini juga menurun pada anak-anaknya yang mana telah membawa kemenangan besar pada Perang melawan Varna 4000 tahun lalu. Contohnya Rillia sekarang.


"Lepaskan aku, ******!" Teriaknya. Tapi Rillia tidak menggubris teriakannya. Dia malah kembali berucap menggunakan bahasa Naturae yang membuat Varna bertambah kesal karena telah merasa diabaikan.


"Cnϝ μᴉƨ ɼԍɻϝ μɑuq ɑuq ƨʍɑɼɼoʍ ϝμԍ pɼɑcĸ pɑɼɼ ( potong tangan kirinya dan telan bola hitam itu )." Kata Rillia. Sulur-sulur itu terdiam sesaat dan langsung melaksankan perintah yang diberikan oleh Putri mereka.


Satu sulur melesat cepat ke arah tangan kiri Varna dan memotongnya segera, sementara sulur-sulur lain menangkap bola hitam itu dan mengurungnya di dalam penjara bola akar pohon. Bola hitam itu sempat meledak tapi ledakannya tidak begitu hebat karena dikurung oleh sulur-sulur milik Rillia. Satu-satunya korban dari ledakan itu adalah sulur yang mengurungnya sendiri. Mereka berubah menjadi gosong karena terbakar.


"Argh..., Si-sialan kau, Putri Rillia!" Ucap Varna menahan sakit. Walau kedua tangannya telah sembuh dan kembali utuh, tapi rasa sakitnya masih membekas di pikiran Varna. Dengan amarah yang meluap-luap, Matanya menatap Rillia tajam, lalu kemudian berganti ke arah Magni.


"Kalian berdua akan menerima akibatnya karena telah membuatku kesal. Aku akan memberikan hadiah pada kalian. Kali ini, mari kita bertarung secara serius." Katanya.


Magni yang telah pulih melompat ke samping Rillia. Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah belati yang menjadi senjata andalannya. Kepalanya lalu menoleh ke arah Rillia dan tersenyum padanya. "Kau siap, Putri?"


Rillia membalas senyuman Magni. Tangan kirinya memunculkan busur yang juga menjadi senjata andalannya lengkap dengan panah keemasan ditangan kanannya. "Kau tidak perlu bertanya, Tuan Magni."


"Kalau begitu, datanglah padaku kalian berdua!" Ucap Varna dengan seringai yang menghiasi wajahnya.


Dan pertarungan dari ketiga makhluk berbeda ras itupun dimulai!


  


  


Bersambung....