Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 06 : Naga yang diliputi kesedihan.



Hening tercipta sesaat Magni mengatakan sebuah nama yang membuatnya terlihat sangat marah. Yang hanya terdengar ditelinga kami hanya suara percikan kecil api unggun. Aku saja tak berani berbicara. Ekspresi muka Magni membuat mulutku seakan terkunci rapat. Tapi lebih baik begitu. Aku tidak ingin mengatakan sesuatu yang bisa membuatnya salah paham dan akhirnya berujung pada perkelahian kami berdua.


"Orang itu, bahkan menyebut namanya saja membuatku ingin menghancurkan sebuah gunung." Katanya geram.


"M-memangnya, kenapa kau sampai sangat membenci orang bernama Nico ini?"


Entah karena rasa penasaran yang tinggi atau sekedar hanya ingin tahu ( sama saja, ya? ), sebuah pertanyaan yang cukup pribadi terlontar dari mulutku yang telah lepas dari kuncinya ( itu menurutku, ya. Tidak tahu deh kalau kalian ).


"Dia..., karena dialah ras naga suci punah!" Seketika api unggun membesar dan membuat suasana menjadi panas. Dalam artian sebenarnya.


Aku terkejut bukan kepalang. Bukan karena api yang mendadak membesar, tetapi karena mendengar pernyataan pelayanku ini. Jadi, si Nico inilah yang telah menyebabkan ras Magni bisa punah!? Pantas saja Magni sangat marah. Aku jadi merasa iba pada Magni. Dia pasti kesepian. Di dunia ini sudah tidak ada lagi rasnya yang tersisa dan hanya dia sajalah satu-satunya yang tetap bertahan. Wajar jika dia mengamuk mencari-cari orang yang telah meleyapkan seluruh keluarganya.


"A-aku tidak tahu. Aku turut berduka. Maafkan aku." Kataku pelan.


Magni mencoba tersenyum meski semburat ekspresi kesedihannya masih terlihat. "Tidak apa-apa, Tuan." Katanya pelan.


Setelah itu keheningan terjadi lagi diantara kami. Rasa canggung memenuhi kami berdua. Aku tidak ingin menanyakannya apa-apa lagi. Itu bisa menyebabkan dia mengingat-ingat kejadian memilukan itu. Selain itu menanyakan sesuatu yang pribadi seperti ini sangatlah tidak sopan.


"Yah, lihat sudah sangat malam. Lebih baik kita tidur." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan. Dengan berpura-pura menguap, kubalikan badanku untuk segera terlelap.


Namun sepertinya Magni tidak terima tingkah palsuku ini. Dengan menggunakan ekornya yang tiba-tiba keluar, Magni membalikkan badanku hingga tatapan mata kami kembali bertemu.


"Tuan jangan coba-coba kabur. Tuan yang telah memulai, Tuan juga yang harus terus mendengarkan sampai selesai."


Aku terkekeh. "Hehe... ketahuan ya." Aku lalu bangkit dan kembali duduk seperti sebelumnya. Dengan tangan terlipat, aku menatap Magni tajam. "Apa kau yakin dengan ini? Maksudku, ini menyangkut hal yang sangat pribadi, loh. Apa kau tidak apa-apa?"


"Tuan tidak usah mengkhawatirkanku. Hamba malah senang jika Tuan bersedia mendengarkan cerita hamba ini sampai selesai."


Aku menghela nafas. "Baiklah kalau begitu, lanjutkan ceritamu."


Magni mengangguk. "Seperti yang kubilang. Aku bertemu dengannya saat pertandingan satu lawan satu. Walau hamba benci mengakuinya, tapi Nico adalah makhluk yang hebat. Setiap kali dia bertanding, lawannya pasti akan kalah hanya dalam hitungan detik."


"Sekuat itukah dia?" Tanyaku.


Magni kembali mengangguk. Tangannya melempar kembali sebuah buah pinus ke dalam api hingga memunculkan suara memercik. "Kekuatan Nico tak bisa dibayangkan. Tapi itu hal yang wajar mengingat dia adalah seorang anak dari Dewa Kegelapan dan Kehancuran."


"Pantas saja...."


"Tapi yang membuatku tak suka adalah kebiasaan buruknya." Sekali lagi Magni melempar buah pinus yang terhampar di sampingnya ke dalam api.


"Apa maksudmu?"


"Dalam pertandingan satu lawan satu, kita tidak diharuskan untuk membunuh lawan. Karena jika kita melakukan itu maka ada kemungkinan bisa memicu terjadinya perang antara Ras. Tapi peraturan ini dilanggar oleh Nico. Setiap kali bertandingan, Nico tak segan membuat lawannya terluka sangat parah bahkan nyaris tewas jika tidak dihentikan wasit." Katanya.


"Hmph... Aku sudah menduga sifatnya itu." Ujarku sambil menyilangkan tangan di dada. "Lalu apa hubungannya denganmu?"


Magni kembali Menyembunyikan kepalanya ke dalam bayang-bayang. Matanya tidak pernah lepas dari api yang menari-nari di atas kayu. "Kurasa ini terjadi karena dia dendam kepada hamba."


"Dendam?"


"Iya, dendam karena hamba berhasil mengalahkanya dan keluar sebagai pemenang."


"Seperti masalah sepele bagiku. Tidak mungkin bangsawan seperti dia dendam dan membunuh seluruh rasmu hanya karena kalah dalam pertandingan."


"Hamba pikir juga seperti itu, tapi itulah kenyataan yang terjadi." Magni melempar lagi buah pinus itu dan kuyakin setelah buah itu habis dia akan melempar batu. "Saat itu hamba bermaksud pulang ke rumah hamba. Selain kangen, hamba ingin memberitahu seluruh ras hamba tentang kemenangan ini. Dan juga melepas penat untuk pertandingan final yang akan datang nantinya."


Aku bisa melihat perubahan ekspresi Magni yang tiba-tiba. Raut kesedihan  kini menyelimutinya. Bahkan api unggun itu mengikuti suasana hatinya. Dari yang semula besar perlahan mengecil hingga seukuran telapak tangan. "Tapi begitu hamba sampai di sana, seluruh rasa naga suci sudah tergeletak tak bernyawa. Hamba dapat melihat bekas pertarungan yang sebelumnya terjadi di sana. Rumah-rumah yang hancur, api yang membakar di sana sini. Hamba begitu syok dan terkejut. Hamba berkeliling ke sana kemari, berteriak-teriak memanggil-manggil yang lain jika kalau-kalau ada yang selamat. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Mereka semua telah mati."


Lalu mendadak api kecil itu perlahan memanas. Raut kesedihan telah hilang dan berganti dengan raut penuh amarah. Kulihat giginya beradu hingga menimbulkan bunyi bergemeretak. Tangannya mengepal keras. Sesaat mataku menangkap percikan api di sela-sela jarinya. "Ini semua gara-gara dia! Nico, aku akan benar-benar membunuhnya!"


"Tunggu, bagaimana kau tahu dia yang melakukannya?"


Aku cukup terkejut mendengar penjelasan Magni, lebih terkejut lagi begitu seluruh tubuhnya berubah menjadi api. Api itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Aku berdiri dengan cepat. Tanganku mengahalau-halau panas yang kurasa tidak berguna sama sekali ( ya, jelaslah! ).


"Tenang Magni!" Aku berusaha menenangkannya, tapi tidak berguna. Kepanikanku semakin menjadi tatkala Magni mengeluarkan gelombang panas yang membakar semua benda. Untungnya aku kebal terhadap panas, jadi aku tidak terlalu terpengaruh. Tapi tetap saja rasa panas itu masih bisa kurasakan.


"Dia harus mati! Nico harus mati! Aku akan membunuhnya! Aku akan menghancurkannya! Aku akan membuatnya menyesal karena telah membunuh rasku!"


Gawat, gawat, gawat, gawat. Inilah mengapa tadi aku ingin mengakhiri pembicaraan ini. Dia sekarang mengamuk! Ini bisa menjadi masalah. Kita sudah hampir sampai tujuan ( walau aku ragu kita benar-benar "hampir" sampai tujuan ) dan aku tidak ingin orang-orang dari Kerajaan itu akan menyadari amukan Magni dan menganggap kami musuh ( sekali lagi aku juga ragu jika ada orang dalam radius 500 meter. Maksudku lihatlah tempat kami. Sangat sepi dan gelap ).


"Magni! Tenang!" Teriakku. Tapi semua itu percuma. Teriakanku tak terdengar olehnya. Aku yang semakin bertambah panik hampir saja kehilangan harapan sampai si wanita komputer misterius berbicara dengan lantang di kepalaku.


[ Bahaya terdeteksi,... Mengidentifikasi bahaya,... Subjek : Naga jantan, level : 5488, ras : God-Fire Dragon/Holy Dragon,... Mengaktifkan protokol keamanan,... Memilih sihir yang sesuai,... Sihir didapatkan. No. 748.383 : Finger Creation, akan aktif dalam 10 detik,... Butuh penjelasan sebelum mengaktifkan sihir? Yes/No? ]


Sepertinya mulai sekarang aku harus mendengarkan penjelasan secara rinci. Kejadian portal tempo lalu tidak boleh sampai terulang. Lebih baik aku memilih Yes.


[ Penjelasan sihir : Finger Creation adalah sihir yang dapat menciptakan berbagai macam senjata dan benda hanya dengan menggambarnya lewat jari. Sihir ini bisa dipakai dimana saja, bisa di air, udara, tanah, bahkan di ruang angkasa. Sihir ini hanya bisa bekerja jika anda membayangkan senjata atau benda tersebut dengan sangat detail. Mulai Dari fisik, kegunaan, dan alat-alat beserta komponennya, Jika tidak, maka sihir ini tidak akan bekerja.


Waktu sepuluh detik habis. Sihir aktif dan siap digunakan. Tetap ingin menggunakannya? Yes/No? ]


Uwaah, kelihatannya rumit. Jika aku harus memikirkan secara detail benda atau senjata yang ingin kugunakan itu pasti akan memakan waktu yang lama. Lebih baik kupilih No.


[ Sihir dibatalkan. Memilih kembali sihir yang sesuai,... Sihir didapatkan. No. 645.390 : Cube Shooter Drain Mana, akan aktif dalam 10 detik,... Butuh penjelasan sebelum mengaktifkan sihir? Yes/No? ]


Baiklah wanita komputer misterius, beri aku penjelasannya.


[ Penjelasan sihir : Cube Shooter Drain Mana adalah sihir penghisap mana jarak jauh yang menggunakan konsep senjata api. Sihir ini bisa menyerap segala macam mana ataupun energi alam sekalipun. Cube Shooter Drain Mana dapat digunakan dengan mengunci target melalui mata dan ditembakkan melalui tangan. Cube Shooter Drain Mana berbentuk seperti kubus transparan yang berguna untuk memenjarakan orang yang menjadi target dan menghisap mananya sesuai keinginan si pengguna. Mana yang terhisap di dalam kubus bisa dipakai sebagai energi/mana si pengguna. Ukuran kubus bisa diatur hingga mencapai 1 Km besarnya.


Waktu sepuluh detik habis. Sihir aktif dan siap digunakan. Tetap ingin menggunakannya? Yes/No? ]


Yang ini sepertinya tidak begitu ribet. Aku akan menghisap mana Magni secukupnya hingga dia pingsan lalu menghentikan amukannya dan membereskan kekacauan ini. Baiklah, aku pilih Yes ( entah kenapa aku terdengar seperti seorang penyanyi yang menjadi juri di acara kompetisi menyanyi di salah satu stasiun televisi yang pernah ku tonton dulu ).


[ Sihir telah dipilih. Sihir siap ditembakkan. ]


Aku berkonsentrasi. Tanganku membentuk sebuah pistol seperti saat main tembak-tembakan ketika aku kecil dulu ( kalian dulu juga pernah, kan? ). Kuarahkan ke arah Magni yang masih berteriak dan tak henti-hentinya menyebarkan gelombang panas yang tentu saja sangat panas.


"Diamlah, Magni!" Teriakku sambil menembakkan sebuah kubus kecil transparan dari ujung jari telunjukku yang tentu saja muncul dengan ajaib. Kubus itu melesat cepat ke arah Magni. Begitu kubus itu sampai di sana, kulebarkan kedua tanganku cepat dan kubus itu seketika membesar mengikuti gerakan kedua tanganku. Kubus itu lalu menjebak Magni didalamnya dan mulai mengerjakan tugasnya.


Magni meronta-ronta ketika kubus itu mulai menghisap mananya. Dia menembakkan api, membakar dinding kubus, membuat ledakan api super besar, tapi sayangnya kubus itu jauh lebih kuat darinya. Sekuat apapun dia mencoba, dia malah membuat kubus itu semakin menyerap mana-nya.


30 menit berlalu, dan pergerakan Magni mulai melemah. Dia terlihat lelah dan pucat. Kurasa karena mananya banyak terserap. Api Magni juga perlahan mengecil dan mengecil. Setelah dirasa mulai tenang, aku menghilangkan kubus itu. Tapi tidak bisa dibilang hilang juga, sih. Kubus itu mengeluarkan Magni yang sekarang pingsan, dan berubah kecil segenggaman tangan. Benda itu melayang pelan ke arahku dan masuk ke dalam tubuhku. Aku bisa merasakan seluruh energi api dan mana Magni mengalir di dalam tubuhku. Jadi benar apa yang dikatakan dalam penjelasan si wanita komputer misterius itu. Mana dan energi yang terserap oleh kubus akan menjadi milik si pengguna sihir ini.


"Mana-nya begitu hangat." Kataku pelan. Aku menatap Magni yang kini sedang pingsan. Lalu Ketika aku tengah membereskan kekacauan yang dibuat oleh pelayanku ini, tanpa kusadari, sebuah suara wanita yang sangat kukenal terdengar di kepalaku.


[ Selamat!


Sihir : Heat Wave, Ultimate Fire Shoot, Explosion Nuclear Power, Shift to Dragon God Fire Body ( In Human Body, Become A Whole Dragon Fire God ), ditambahkan ke dalam status. Anda ingin melihatnya? ]


"Tidak, tidak perlu." Kataku. Aku lalu menghela nafas, Haah..., sepertinya sihirku bertambah lagi. Tak kusangka sihir Cube Shooter Drain Mana sangat berguna. Karenanya aku tidak cuma menyerap mana Magni, tapi juga sihirnya. Mataku menatap seorang pria bersetelan pelayan yang tertidur bersandar pada sebuah pohon. Magni sangat pulas. Tapi kesedihannya tidak hilang begitu saja. Dari sela-sela matanya, aku bisa melihat sebuah air yang turun perlahan menuju pipinya. Namun air itu keburu menguap sebelum mencapai sela bibirnya. Magni mempunyai masa lalu yang kelam sebagai Dewa. Dendamnya pada iblis bernama Nico telah membuatnya seperti ini. Dan kuyakin lanjutan cerita itu berisi tentang Magni yang memohon pada Ayahku untuk turun ke muka bumi guna mencari si iblis yang menghilang entah kemana. Dan kurasa dia tidak akan naik ke khayangan sampai Magni bertemu dengan Nico.


Entah kenapa aku jadi merasa kasihan padanya. Aku ingin sekali membantunya. Begini-begini dia adalah pelayanku dan sudah jadi tanggung jawabku untuk mengatasi segala masalah yang menimpa anak buahku.


[ Quest baru dimasukkan kedalam Quest List! Anda ingin melihatnya? ]


Suara itu kembali muncul. Tapi apa maksudnya Quest?


 


 


Bersambung....