Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 13 : Rillia dan Magni vs Varna. Munculnya sang Entitas pertama.



Suasana semakin tegang tatkala Rillia dan Magni saling berhadap-hadapan dengan si monster Varna. Mereka berdua memasang posisi bersiap dengan senjata mereka yang tergenggam sangat erat. Keringat mengalir pelan dari pelipis mereka berdua. Mata mereka menatap lekat monster yang terlihat santai dengan seringai mengerikan yang menghiasi wajahnya. Jari telunjukknya membuat gerakan menekuk beberapa kali seakan mengejek mereka berdua untuk segera maju.


"Cih, dasar makhluk sombong." Gumam Magni. Matanya lalu melirik Rillia. "Aku akan maju, kau serang saja dari belakangku dengan serangan jarak jauh. Kau bisa, Putri?"


"Tunggu, Tuan Magni. Dia tidak bisa diserang menggunakan sihir yang mengandung Mana, ingat? apa kau yakin ingin maju?" tanya Putri Rillia.


"Aku tahu itu. Karena itu aku menggunakan ini." Magni merogoh kantung celana hitamnya dan mengeluarkan sebuah botol kecil yang berisi cairan hijau berpendar.


"Apa itu?"


"Botol energi, mungkin.... Aku tidak tahu persis botol apa ini dan efeknya, Tuan Miracle hanya memberi aku ini sesaat sebelum aku diturunkan ke Altars dulu. Katanya suatu hari nanti, aku akan berhadapan dengan seseorang yang sangat kuat dan untuk bisa menang darinya, aku harus menggunakan sihir yang tidak mengandung Mana. Karena itu Tuan Miracle segera memberi aku botol ini." Jelas Magni. Dia lalu meminum ramuan itu sampai habis, dan seketika itu juga tubuhnya dipenuhi energi yang meluap-luap.


Magni tersentak. Dia belum pernah merasakan energi seperti ini sebelumnya. Energi ini mengalir bagai air sungai yang deras dan tanpa penghalang. Memenuhi setiap jengkal tubuhnya. Magni mengepalkan tangannya dan berkata.


"Ramuan ini luar biasa. Aku merasakan energi yang besar mengalir di dalam tubuhku. Dengan ini, aku yakin bisa mengalahkan monster brengsek itu dengan cepat!" Matanya lalu menatap Rillia. "Seperti kataku Tuan Putri. Aku yang maju dan kau yang akan melakukan serangan jarak jauh. Kau bisa, kan?"


Rillia balas menatap Magni sambil menyunggingkan senyum. "Kau meremehkanku, Tuan Magni?"


Magni juga ikut menyunggingkan sebuah senyuman. Matanya yang berwarna merah menyala menatap kembali ke arah Varna. "Baiklah, waktunya mengalahkan monster menyebalkan itu."


"Hei!" Seru Varna. "Apa kalian sudah selesai ngobrolnya? Aku sudah mulai---"


Trang!!!


Magni tiba-tiba menyerang Varna dengan belatinya. Kecepatan gerak yang luar biasa membuat Magni mencapai Varna dalam waktu kurang dari 0.001 detik. Beruntung monster itu punya reflek yang sama cepatnya sehingga serangan si naga api bisa ditangkis oleh Gauntlet-nya segera.


"Hei, hei, hei! Tidak sopan menyerang orang yang sedang berbicara. Kau memang licik, naga tua."


Sang naga memandang tajam Varna. "Dan kau banyak bicara, monster menjijikan."


Magni kembali melanjutkan serangannya dengan menendang Varna tepat di dagunya. Tentunya dengan kecepatan yang lebih lagi. Tapi lagi-lagi serangannya berhasil ditangkis kembali oleh Varna. Meski dia sendiri harus mau terlempar ke udara akibat gaya dorong yang dihasilkan dari tendangan Magni yang terlalu kuat. Tidak sampai disitu, Magni melompat dan mengayunkan belatinya ke arah Varna secara bertubi-tubi.


Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang! Trang!


Bunyi suara belati Magni yang beradu dengan Gauntlet Varna terdengar nyaring. Mereka baru berhenti saat Varna berhasil mencuri celah dan memukul samping kanan kepala Magni keras. Walau si naga sudah menangkisnya dengan belati serta punggung lengannya, tapi itu tidak bisa menghalau tenaga besar Varna. Monster itu mendorong Magni hingga terlempar kebawah dengan cepat.


"Walau dengan ramuan ini aku masih tidak bisa menahannya!? cih!" kata Magni dalam hati.


Varna ingin meneruskan serangannya, tapi sebuah sulur menangkap tubuhnya, menariknya, mengayunkannya cepat, dan membanting si monster ke tanah keras.


"Jangan lupa, aku juga di sini!" Rillia berseru. Dia lalu mengatupkan kedua tangannya dan segera menepuk tanah cepat. Mendadak tanah bergetar hebat, dan dari dalam sana keluar 11 makhluk berbentuk ular dengan ukuran setara gedung bertingkat 20. Ular-ular itu mempunyai tubuh yang terbuat dari berbagai elemen-elemen. Ada api, air, udara, bumi, es, pasir, kegelapan, cahaya, logam, listrik, dan alam. Kesebelas ular mendongak bersama dan menyemburkan elemen masing-masing dari mulut mereka.


Magni tampak takjub melihatnya. Dia sendiri berhasil mendarat dengan selamat dan tengah berdiri di atas sebuah menara yang masih utuh. Tangannya memutar belati itu lama lalu menyarungkannya kembali.


"Para Naturae spirituum! Mereka adalah roh agung tingkat tinggi yang langka dan merupakan roh pertama yang diciptakan oleh Naturae. Masing-masing roh mewakili satu elemen di Altars. Aku beruntung sekali bisa melihat mereka disini. Tak kusangka gadis itu bisa memanggil mereka semua sekaligus." Katanya terkesima.


Rillia kemudian bangkit. Dia lalu memerintahkan sebuah sulur untuk membawanya naik ke atas sehingga bisa berhadap-hadapan dengan makhluk panggilannya itu.


"ɼᴉƨϝԍuˋ O მnɑʁqᴉɑu ƨbᴉʁᴉϝƨ oɻ ɑɼϝɑʁƨ! ( Dengarlah, wahai roh-roh penjaga Altars! )." Serunya.


Ular-ular itu terdiam mendengar seruan Rillia. Mereka segera berbalik dan menatap tajam dirinya.


"ɑƨ ϝμԍ ouԍ ʍμo ƨnwwouԍq λon ϝo ϝμԍ ɼɑuq oɻ Wonqμɑˋ I ɑƨĸ ɻoʁ λonʁ μԍɼbˋ O მʁԍɑϝ ƨbᴉʁᴉϝ cʁԍɑϝԍq pλ ϝμԍ Ҽoqqԍƨƨ oɻ Иɑϝnʁԍˋ Иɑϝnʁɑԍ· bɼԍɑƨԍ μԍɼb nƨ qԍɻԍɑϝ ϝμԍ cʁnԍɼ wouƨϝԍʁƨ ϝμɑϝ μɑʌԍ ƨɼɑnმμϝԍʁԍq wλ bԍobɼԍ· Bԍcɑnƨԍ oɻ μᴉw ʍԍ ƨnɻɻԍʁ· ∀ƨ ɑ ƨᴉƨϝԍʁ oɻ ϝμԍ ƨɑwԍ woϝμԍʁˋ Iˌw pԍმმᴉuმ λon· ( sebagai orang yang memanggil kalian ke tanah Moudha, aku meminta bantuan kalian, wahai roh agung ciptaan sang Dewi Alam, Naturae. Tolonglah bantu kami mengalahkan monster bengis yang telah membantai kaumku. Karena dialah kami menderita. Sebagai saudara/i dari ibu yang sama, aku memohon padamu )."


Suasana kembali hening. Baik Rillia maupun para roh tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Cukup lama keheningan ini terjadi sampai salah satu ular yang tubuhnya terbuat dari kayu mendekat ke arahnya dan mendesis pelan. Dia memandang lekat Rillia dari atas sampai bawah. Lidahnya yang bercabang terjulur beberapa kali. Ular itu menyipitkan matanya lalu perlahan kembali mundur ke tempatnya. Mulutnya membuka dan akhirnya sang roh agung mulai angkat bicara.


"ʁᴉɼɼᴉɑ ∀qoʁᴉɑ Ƨɑwɑʁɑˋ qɑnმμϝԍʁ oɻ ϝμԍ Ҽoqqԍƨƨ oɻ ɑɼɼ uɑϝnʁԍˋ Иɑϝnʁɑԍ· ԍ ʍᴉɼɼ μԍɼb λon qԍɻԍɑϝ ϝμԍ cʁԍɑϝnʁԍƨ oɻ qɑʁĸuԍƨƨˋ Λɑʁuɑ· Hԍ ʍμo ĸᴉɼɼԍq ϝμԍ ɻoɼɼoʍԍʁƨ oɻ ϝμԍ pԍɼoʌԍq Woϝμԍʁ ɑuq ϝμԍ wnʁqԍʁԍʁ oɻ ϝμԍ ɑxᴉƨ oɻ ∀ɼϝɑʁƨˌ ɼᴉɻԍˋ ϝμԍ Γᴉმunw Λᴉϝɑԍ· Hԍ ʍᴉɼɼ ʁԍbɑλ ʍμɑϝ μԍ qᴉq· ꓵuqԍʁ λonʁ ɼԍɑqԍʁƨμᴉb ʍԍ ɑʁԍ ʍᴉɼɼᴉuმ ϝo ɻᴉმμϝ ʍᴉϝμ λon ( Rillia Alteria Moudha, putri sang Dewi segala alam, Naturae. Kami akan membantumu mengalahkan makhluk kegelapan, Varna. Dia yang telah membunuh pengikut sang Ibunda tercinta dan pembunuh dari poros kehidupan Altars, sang Lignum Vitae. Dia akan membalas perbuatan yang sudah dilakukannya. Di bawah kepemimpinanmu kami bersedia untuk ikut bertarung bersamamu )." Ujarnya.


Rillia tersenyum senang. Dia lalu menundukkan kepalanya sebagai bentuk penghormatan. "ꓕμɑuĸ λonˋ O მʁԍɑϝ მnɑʁqᴉɑu ƨbᴉʁᴉϝ oɻ ∀ɼϝɑʁƨ· I ɑƨĸ ɻoʁ მnᴉqɑucԍ ɻʁow ϝμԍ oɼqԍƨϝ pʁoϝμԍʁƨ ɑuq ƨᴉƨϝԍʁƨ ( Terima kasih, wahai roh agung pelindung Altars. Aku memohon bimbingan dari Kakak-kakak tertua sekalian )."


Sulur itu membawa Rillia naik lebih tinggi kehadapan sang ular kayu. Begitu dia sampai di kepalanya, Rillia segera melompat turun dan mendarat di sana. Busur yang sempat dia hilangkan saat memanggil para roh agung dimunculkan kembali. Tangan kirinya menarik tali busur itu dan panah keemasan yang sama juga muncul secara ajaib dari sana.


Magni tidak ingin ketinggalan pesta. Dalam wujud manusianya, dia terlihat terbang mendekati Rillia. Tangan sang naga sudah menggengam erat belati andalannya sedari tadi. Mata merahnya melirik sang Putri yang ternyata juga tengah meliriknya. Satu anggukan kepala bersamaan menjadi pertanda jika masing-masing dari mereka telah siap kapanpun.


Di lain sisi Varna bersikap agak santai. Dia hanya bangun dan meluruskan kembali tulang-tulangnya yang terasa pegal akibat bantingan sulur Rillia. Dia sempat melihat ular-ular besar itu, tapi sang monster malah bertindak acuh tak acuh. "Sudah belum persiapannya? Aku sudah bosan menunggu." Katanya.


Rillia hanya diam menanggapi ucapan sang monster. Dia lalu mengangkat satu tangannya tinggi dan mulai berseru kembali. "ԍʌԍʁλouԍˋ ɑϝϝɑcĸ¡ ( semuanya, serang! )"


Seketika itu juga kesebelas ular melesat secara bersamaan ke tempat Varna berada. Magni juga ikut menyerang dan memeriahkan suasana. Dia yang telah sampai lebih dulu langsung membuka mulutnya lebar dan menyemburkan api putih yang panasnya di bawah panas api hitam Varna.


Si monster yang melihat serangannya  itu segera menghindar dan melompat tinggi ke angkasa. Dengan menjadikan udara sebagai pendorong, dia melesat cepat ke arah Magni dengan tangan siap meninju. Sial bagi si naga, dia tidak sempat menghindar karena terlalu fokus pada pengendalian apinya.


BUAK!


Tinju keras Varna mendarat tepat di muka sang naga. Seharusnya Magni sudah terpental jauh mengingat tinjuan yang Varna berikan terbilang sangat keras. Bahkan saking kerasnya sampai menimbulkan gelombang kejut yang cukup hebat. Tapi berkat sihir penguat ketahanan tubuhnya, Magni bisa bertahan. Dia segera menangkap tangan Varna dan meremasnya hingga tulang-tulang di dalam lengannya remuk.


"Aaaargh...!!!" Teriak Varna kesakitan. "Sialan kau Magni... Ukh.... Kau akan membayarnya!!!"


Varna ingin melancarkan serangan tinjunya lagi, namun sebelum dia sempat melakukannya Magni sudah melemparnya lebih dulu ke bawah. Tubuh Varna yang jatuh bebas meluncur cepat menuju mulut ular yang terbuka lebar. Cahaya kemerah-merahan yang terpancar dari mulut si ular berganti dengan sebuah semburan api super besar yang berkobar-kobar. Varna yang menyadarinya segera membuat pertahanan dengan tentakel hitamnya. Ini memang berhasil untuk mencegah dia terbakar hidup-hidup, akan tetapi ledakan yang tercipta akibat api yang bertubrukan dengan perisai tentakelnya membuat dia harus terpental jauh keluar dari kerajaan. Tubuhnya yang melayang tak tentu arah menabrak beberapa pohon besar sampai akhirnya si monster jatuh di hutan yang sepi.


Varna terbatuk beberapa kali lalu menepuk-nepuk tubuhnya yang kotor terkena debu. "Dasar makhluk-makhluk lemah sialan. Aku tidak bisa menetralkan mereka karena mereka semua memiliki energi Alam. Terutama si Naga brengsek Magni. Botol yang dia minum itu sepertinya memberinya kekuatan tambahan. Aku tidak merasakan Mana pada dirinya. Akun penasaran, sebenarnya ramuan apa yang dia minum? Ah, sudahlah. Berpikir seperti ini hanya buang-buang waktu. Lebih baik aku akan akhiri ini dengan cepat. Dasar sial! Lihat saja aku akan menghabisi mereka semua!"


Disaat sang monster sedang asik menggerutu, dari arah utara, sebuah panah emas berukuran besar menuju dirinya. Kecepatan Panah emas yang luar biasa itu menimbulkan angin yang menyapu semua benda. Entah itu pepohonan, bebatuan, tanah, atau benda lainnya yang berada di jalur si panah. Varna mengetahui serangan itu. Tapi dia hanya melirik santai sembari bangkit dari duduknya. Saat panah itu hampir mengenai dirinya, Varna menyerongkan tubuhnya dan menangkap panah itu hanya dengan tangan kosong.


"Heh, mau berapa kalipun mainan ini tidak akan berpengaruh pada--"


BZZZZTTTTT!!!!


"AAAAAAAAAAAHHH!!!!"


Varna mendadak tersetrum sengatan listrik berkekuatan jutaan volt sesaat tangannya menggengam erat panah emas itu. Percikan selimut biru yang menyelimuti tubuh si monster membuat tubuhnya mengejang tidak berhenti. Tapi itu tidak membuat Varna tidak bisa melakukan apa-apa. Dengan tenaga yang tersisa Varna berusaha keras untuk menjentikan jarinya agar dia bisa melakukan teleportasi. Saat ibu jari dan telunjuknya bertemu, Varna segera melakukan jentikan dan seketika dia berpindah tempat dalam sekejap. Tapi tidak ke tempat yang jauh, dia hanya muncul di tempat yang sama. Namun bedanya tidak ada lagi panah pada tangannya. Benda itu tergeletak tak jauh dari tempatnya berteleport. Percikan kecil listrik masih terlihat di sekujur badan panah pertanda masih ada listrik yang tersisa mengalir di tempat itu.


Varna jatuh bertumpu pada lututnya. Serangan listrik tadi hampir mendapatkannya. Tangannya yang mengepal keras memukul tanah dan menimbulkan dentuman serta getaran kecil. Mukanya terlihat lebih kesal dari yang sebelumnya. Gigi bertaringnya beradu keras hingga menimbulkan suara bergemeretak yang sama kerasnya. Sang monster benar-benar murka.


"Sudah cukup! Ini terakhir kalinya aku dipermainkan seperti ini! Aku akan membunuh kalian semua sampai kalian merasa menyesal karena sudah dilahirkan. Aku bersumpah." Tegas Varna. Tapi sayangnya keinginannya harus kembali tertunda lantaran sebuah sulur menangkapnya dari bawah tanah.


Sulur itu membawanya naik ke atas langit dimana sudah ada kesebelas roh agung, Rillia beserta Magni di sana menunggunya. Varna berusaha melepaskan diri, Namun usahanya sia-sia lantaran lilitan sulur itu semakin menguat setiap dia menggoyangkan tubuhnya. Matanya menoleh ke arah wanita yang berdiri di atas kepala ular bertubuh kayu. Tatapan kebencian yang diarahkan padanya tak membuat wanita itu gentar. Dia malah balik menatap Varna dengan tatapan yang sama.


"Varna, kau telah membawa banyak penderitaan kepada kaumku dan juga banyak orang. Sekarang waktunya bagimu untuk membayarnya." Rillia lalu merentangkan kedua tangannya dan di saat yang sama ribuan sulur keluar dari dalam tanah dan berdiri beriringan di belakang Putri mereka menunggu perintah selanjutnya. Kesebelas roh agung juga bersiap diposisi mereka dengan mulut terbuka menampilkan elemen masing-masing. Sementara Magni mencabut belatinya, dan menciptakan satu lagi belati yang terbuat dari api putih yang menyala-nyala di tangan kirinya.


Varna teridam di lilitan sulur itu. Lalu tiba-tiba saja sang monster kegelapan tertawa dengan kerasnya. Ini membuat semua orang yang ada di sekelilingnya bingung.


Rillia mengerutkan keningnya. "Apa yang lucu, monster!?"


"Tentu saja kalian!" Kata Varna di sela-sela tawanya.


"Apa maksudmu?" Tanya Magni.


"Kalian pikir kalian sudah mengekangku? Kalian salah! Aku adalah makhluk absolut yang tak bisa dikekang oleh siapapun dan apapun. Tidak denganmu atau juga dengan sulur jelek ini." Varna menggunakan tenaga yang lebih besar dari pada sebelumnya. Urat-urat di ototnya timbul seiring tenaga yang diberikannya juga semakin besar. Lalu suara retakan terdengar dari sulur yang tak kuat menahan beban sang monster. Suara itu semakin menguat dan menguat sampai akhirnya sang sulur tak sanggup lagi dan hancur berkeping-keping.


Rillia, Magni, dan kesebelas Roh Suci terkejut. Mereka tidak percaya jika sulur itu bisa dengan mudah dihancurkan oleh tenaga Varna. Seharusnya sulur Naturae adalah sulur suci yang kekuatannya tidak diragukan lagi. Sulur ini bahkan bisa mengekang makhluk setara Dewa sekalipun. Selain itu, sulur-sulur tersebut juga mengandung energi Alam yang telah diperkuat. Mustahil bagi makhluk hidup untuk lepas dari cengkramannya. Akan tetapi Varna bisa menghancurkannya dengan sangat mudah semudah seseorang mematahkan tusuk gigi.


Varna memegangi lehernya yang terasa kaku. Bunyi berkretek dari tulang yang diluruskan terdengar nyaring. Dia menatap semua musuhnya dengan tatapan tajam. "Biar ku beritahu pada kalian perbedaan antara aku dan kalian semua."


Rillia, Magni, dan kesebelas roh agung bersikap waspada.


"Perbedaan antara aku dan kalian semua adalah...." Varna menjentikan jarinya dan melakukan teleportasi. Tiba-tiba saja sang monster sudah berada di depan roh agung berelemen besi dalam kedipan mata.


Roh itu tampak terkejut. Dia memandang lekat monster yang tengah menyeringai padanya itu.


"Ambisi untuk menjadi yang terkuat!"


BUAK!


Varna meninju roh itu sangat keras hingga dia terpelanting dan jatuh dengan posisi perut di atas. Hidungnya terlihat penyok akibat tumbukan keras yang Varna berikan. Roh berwujud ular itu mengejang sebentar lalu menghilang menjadi debu.


Rillia, Magni, beserta roh agung yang tersisa terkejut bukan kepalang. Mereka tidak percaya jika makhluk seperti Varna dapat membunuh roh agung yang notabene-nya mempunyai kekuatan setara para Dewa.


"Mu-mustahil!" Ucap Rillia tak percaya. "Tidak mungkin dia bisa membunuh roh agung dengan mudahnya."


Varna tersenyum mengejek. "Percayalah, Tuan Putri. Karena itu sedang terjadi di sini." Varna kembali menghilang dan muncul di depan roh agung berelemen tanah dalam sekejap. Tangannya mengepal keras dan meninju ular itu kuat.


BRUAK!


Sang roh agung seketika mati dengan tubuh yang berhamburan menjadi kerikil-kerikil kecil.


"Ada yang ingin lagi?" Ucap Varna mengejek.


Bukannya takut, para roh Agung yang tersisa malah lebih murka daripada biasanya. Apalagi Rillia. Hari ini di telah kehilangan kerajaannya, kaumnya, Kakaknya Lignum, dan sekarang saudaranya para roh agung. Bagaimana gadis itu tidak murka?


"BRENGSEK KAU, VARNA!!!" Erang Rillia.


Dengan mata menyala Rillia dan para roh agung menerjang ke arah Varna secara bersamaan. Salah satu roh agung berelemen es maju lebih dulu dan membuka mulutnya. Dia membuat semburan es yang sanggup membekukan apa saja. Tapi Varna tak melihat itu jadi masalah. Dia terbang ke sana kemari menghindari semburan es yang datang mengejarnya. Akibatnya, hutan yang berada di bawah mereka menjadi beku karena terkena semburan es nyasar itu.


Gagal dengan semburan es, roh api dan angin ambil giliran. Mereka menyemburkan elemen masing-masing dan menggabungkannya menjadi satu. Sebuah semburan api yang diperkuat oleh angin mengejar Varna kemanapun dia pergi. Tapi sayangnya Varna begitu lincah sehingga serangan tersebut juga gagal mengenainya.


Varna melirik ke arah belakang dan tertawa keras. "Ahahahaha, Apa ini? Kalian sebut itu serangan? Serangan kalian tidak ada yang bisa mengenaiku---"


Ucapan Varna terpotong saat Magni muncul entah dari mana dan langsung mencengkeram leher si monster dengan cakar naganya. Naga itu juga tampak marah dengan perbuatan Varna. Bagi para Dewa maupun makhluk lain, roh adalah sesuatu yang suci dan patut dihormati. Apalagi bagi mereka yang mendapat julukan Roh Agung. Karena itu Magni tidak bisa membendung kemarahannya lagi saat melihat Varna membunuh dua Roh agung.


"Kau... KAU AKAN MATI HARI INI, MAKHLUK SESAT!" Magni membuka mulutnya dan mengeluarkan api putih yang langsung membakar wajah Varna.


Akan tetapi walau telah dibakar seperti itu Varna masih bisa bergerak. Tangannya perlahan mengepal dan segera meninju wajah sang naga sampai membuat semburan api yang keluar dari mulutnya berhenti. Saat cengkraman Magni pada leher Varna melemah, si monster melakukan salto kebelakang dan menyepak ubun-ubun Magni menggunakan tumitnya. Naga itu meluncur bebas kebawah dan jatuh dengan keras hingga menimbulkan suara jatuh yang cukup kuat.


"Nafasmu bau sekali, naga tua." Ucap Varna. Tapi ketika dia ingin kembali melesat pergi, sebuah laser cahaya memotong tubuh Varna menjadi dua. Tubuh bagian bawahnya yang terlepas dari pinggang Varna jatuh menuju lubang hitam yang tiba-tiba saja muncul di bawahnya. Lubang itu langsung menelan bagian tubuh Varna hingga tak terlihat lagi.


Ternyata itu adalah perbuatan dari roh cahaya dan roh kegelapan. Mereka berhasil mencuri celah dan segera melakukan serangan begitu Sang monster lengah. Tapi sepertinya itu tak cukup untuk menjatuhkan Varna. Sang monster hanya melirik mereka sebentar dan kembali memandang ke depan.


"Membuatku terpotong menjadi dua bukanlah sebuah kemenangan." Kepalanya menoleh dan menatap kedua roh itu tajam. "Seharusnya yang kalian serang adalah kepalaku, bukannya bagian bawah tubuhku. Jika hanya bagian bawah aku bisa menumbuhkannya kembali."


Tentakel-tentakel yang berada di punggung Varna bergerak turun dan membentuk sebuah pinggang. Lalu terus turun membentuk paha, betis, dan yang terkahir adalah kaki. "Lihat? Sudah kubilang kan?" Ucapnya. "Dan sekarang waktunya kalian untuk mati."


Varna lalu menjentikan jarinya dan berteleport ke tempat roh cahaya. Monster itu memukulnya keras sampai roh itu jatuh tersungkur. Lalu Varna kembali berteleport dan kali ini ke tempat roh kegelapan. Dia melakukan hal yang sama dan membuat sang roh agung itu juga jatuh menghantam tanah. Mereka berdua mengejang sebentar dan berubah menjadi cahaya bagi Roh agung berelemen cahaya dan menjadi asap hitam bagi roh agung berelemen kegelapan.


"Lemah! Lemah! Lemah! Lemah!  Lemah!" Kata Varna santai. "Kalian semua lemah!"


Mata Rillia terbelalak tak percaya. Sudah 4 roh agung yang mati. Ini benar-benar gila. Varna sudah sangat keterlaluan. Wanita itu menggeram marah. Matanya dipenuhi oleh amarah kebencian. "BRENGSEEKKK!!!!" Rillia berteriak keras. "AKU AKAN MEMBUNUHMU, VARNAAA!!!"


Seketika panahnya berubah menjadi putih bersih. Aura keemasan menyelimuti panah itu. Lalu tanpa menunggu lagi Rillia menembakkan Panah itu kuat. Ledakan yang dihasilkan dari lepasnya anak panah itu dari busur Rillia sempat membuat gelombang kejut yang cukup dahsyat. Panah itu meluncur dengan kecepatan cahaya. Meluncur cepat ke arah Varna yang memandangnya santai. Saat panah itu berada di jarak 1 meter darinya. Varna meninjunya dan membuat panah itu hancur menjadi serpihan.


"Aku sudah mengatakannya, bukan? Aku ini absolut." Ucapnya. "Dan sebagai catatan...." Varna membelah dirinya menjadi 6 menggunakan sihir kloning. Masing-masing kloningannya menjentikan jari dan berteleport ke tempat roh agung yang tersisa. Varna sendiri juga ikut menjentikan jarinya dan berteleport tepat di hadapan roh agung berelemen kayu yang membawa Rillia di atasnya.


"....pakailah sihir yang lebih kreatif. Sihirmu terlalu mudah di baca."


Buum!! Buum!!!


Dua roh agung berelemen api dan air hancur.


Rillia melirik pembantaian itu dan meneteskan air mata. "Hentikan...."


Buum!!! Buum!!!


Dua roh agung kembali dihancurkan. Kali ini roh agung berelemen udara dan roh agung berelemen listrik.


"Ini sebagai pelajaran untuk tidak mengacaukan rencana Sang penguasa kegelapan sejati."


Buum!!! Buum!!!


Dua roh agung berelemen pasir dan juga roh agung berelemen es ikut hancur.


.


"Hentikan...."


Varna bersiap untuk melakukan serangan akhir. Dia sudah mengambil ancang-ancang siap meninju. "Selamat tinggal para roh penjaga Altars."


"HENTIKAN!!!!!"


BUUM!!!


Suara dentuman kuat menggema di seantero langit. Rillia pikir jika roh agung berelemen kayu itu juga telah dihancurkan, tapi entah kenapa dirinya merasa ada yang aneh. Pasalnya jika roh agung berelemen kayu ini hancur, Rillia pasti jatuh ke bawah. Tapi kenapa dia tidak merasa seperti jatuh. Untuk memeriksa keadaan Rillia membuka matanya yang sempat tertutup pelan. Namun seketika matanya langsung terbelalak lebar saat melihat kejadian di hadapannya. Di sana, seorang remaja laki-laki dengan kaus robek bekas tusukan benda tajam tengah menghadang pukulan maut Varna dengan tangan kosong. Laki-laki itu menoleh ke arah Rillia dan menyeringai seram.


"Yo, Putri Naturae. Sudah nangisnya? Lebih baik kau melihat ini. Aku jamin kau akan terhibur!" Ujarnya senang.


  


  


Bersambung....