
Semua orang yang terdiri dari pria berusia 20 sampai 60 tahunan seketika berdiri kala Raja Fortis memasuki ruang rapat. Ruangan dengan luas tidak lebih besar dari lapangan tenis itu berisi sebuah meja persegi panjang dengan 13 baris kursi ( 6 di sisi kiri, 6 lagi di sisi kanan, dan satu kursi dengan desain mewah di bagian paling depan tepat di tengah ). Lukisan-lukisan bernuansa abad pertengahan juga terlihat menghiasi ruangan tersebut. Raja berambut panjang berwarna putih itu lalu duduk di bagian kursi paling ujung, dimana semua orang bisa melihat dirinya.
"Semuanya sudah berkumpul di sini?" Raja Fortis bertanya. Matanya mengeliling melihat semua staff kerajaan termasuk perwakilan dari Kerajaan Moudha, Rillia yang duduk kembali sesaat sang Raja duduk di kursinya. Berbeda dengan Caelo yang tetap berdiri di samping Rillia. Setelah yakin jika semua orang telah hadir, Raja dari Kerajaan Skyriel ini memulai rapat darurat tersebut.
"Seperti yang kita tahu, saat ini kita tengah mengalami krisis. Diones Alggertis, mantan Jendral Skyriel dan pemimpin dari organisasi pemberontak Caelum Rebelles, tengah gencar-gencarnya melakukan serangan ke kerajaan kita. 2 minggu lalu, mereka mencoba menginvasi kerajaan melalui kota Skybridge dengan kendaraan dan persenjataan yang belum kita lihat sebelumnya. Kerajaan hampir jatuh, namun kita berhasil mengatasinya. Lalu menurut laporan tamu kita, Putri Rillia, mereka mencoba menyusup ke kerajaan melalui senjata aneh yang disebut sebagai misil. Senjata itu memiliki semacam alat yang mampu menetralisir semua sihir. Jika bukan karena Raja bernama Reyhanaf itu, bukan tidak mungkin kali ini kita akan kalah."
Semua orang yang ada di ruangan seketika berbisik-bisik dan berbicara satu sama lain. Mereka memperbincangkan senjata yang tadi disinggung oleh Raja Fortis. Tapi tidak sedikit juga yang menyinggung nama Reyhanaf.
"Lalu apa ada cara bagi kita untuk menangkal senjata itu?" Seorang Elf tua yang berada di barisan kursi keempat sebelah kanan mendadak bertanya.
Sang Raja menggeleng lemah. "Sayangnya untuk sekarang, kita belum menemukan cara melawannya."
Semua orang kembali berbicara satu sama lain. Mereka dilanda kecemasan yang luar biasa. Itu wajar mengingat musuh telah menciptakan senjata yang tak bisa dilumpuhkan.
"Ini bencana." Tiba-tiba seoarang pria Elf di barisan kursi keenam sebelah kiri berkomentar. "Jika sihir saja tidak bisa bekerja melawannya, maka apa yang bisa kita lakukan? kita akan dilumat habis seperti sarapan di pagi hari kalau-kalau mereka kembali untuk menyerang kita."
"Memangnya seberapa berbahayanya senjata ini?" Pria Elf berkumis dan berkepala plontos bertanya. "Jika hanya menetralisir sihir, kita mungkin bisa mengatasinya dengan persenjataan kita. Kita tinggal meminta beberapa pandai besi untuk membuat senjata dan peralatan non sihir terkuat untuk melawan senjata itu." Usulnya.
"Masalahnya tidak semudah itu." Rillia yang sedari tadi diam mulai buka suara.
"Apa maksud anda, Putri Rillia?" Tanya Elf berkepala plontos tersebut.
"Menurut Raja kami, misil itu terbuat dari besi yang sangat kuat. Daya tahannya luar biasa bahkan baja saja tidak bisa menembusnya. Aku tidak bermaksud menakut-nakuti, tapi memang begitulah kenyataannya." Ungkapnya.
Suara menelan ludah terdengar dari beberapa orang di ruang rapat kala Rillia selesai berbicara. Kekhawatiran mereka seakan menjadi kenyataan. Tidak dapat diragukan lagi oleh mereka, jika suatu saat nanti penyerangan itu akan kembali, maka kehancuran Skyriel sudah dipastikan berada di depan mata.
Raja Fortis nampak berpikir keras. Satunya-satunya cara yang dia punya telah gagal tanpa harus dicoba terlebih dulu. Ini bisa menjadi masalah besar jika Skyriel sampai jatuh ke tangan Jendral penghianatnya itu. Raja Fortis tahu betul tabiat dari pria itu. Sifat kejam dan cara yang memerintah yang bersifat diktator akan menghancurkan Skyriel sedikit demi sedikit. Kerajaan yang tadinya damai, akan berubah menjadi neraka dalam sekejap. Dan buruknya lagi, dia tidak bisa melakukan apapun sebagai seorang Raja.
"Namun...." tiba-tiba Rillia menyambung ucapannya dan membuat Raja Fortis serta para staff kerajaan kembali mengarahkan pandangan mereka padanya, "....kita bisa memancing senjata itu sehingga tidak menargetkan kerajaan ini."
Raja Fortis mengubah posisi duduknya. "B-bagaimana caranya?" Tanyanya antusias.
"Dengan suhu panas." Kali ini Caelo yang menjawab. Seluruh pandangan seketika beralih tertuju pada Elf itu. "Kita bisa memancingnya dengan suhu panas. Kata Tuan Reyhanaf, sesaat sebelum dia mengorbankan dirinya, dia akan memancing misil itu dengan suhu panas. Suhu panas merupakan umpan yang tepat bagi misil itu. Menurut Tuan Reyhanaf, misil yang mereka gunakan merupakan jenis yang mengincar energi panas. Jika kita bisa membuat sebuah roket atau bola api dengan suhu yang pas, maka kita bisa mengecohnya untuk menyerang ke area lain. Bahkan ke kapal musuh." Jelas lelaki itu.
"Ini mungkin bisa dilakukan." Seorang Elf berumur 30'an yang duduk di sebelah Rillia menyetujuinya. "Tapi seberapa panas untuk bisa memancing senjata itu?"
"Sepanas yang bisa kita ciptakan. Kalau perlu, sampai suhu 25 Mecroma ke atas." Kata Caelo ( Sebagai catatan, Mecroma adalah satuan Suhu di Altars. Mecroma sendiri adalah Mataharinya Altars. Jadi orang-orang di planet Altars menggunakan panas dari Mecroma untuk mengatur tingkat kepanasan sesuatu. 1 Mecroma \= 28° Celcius ).
Sang Raja mengelus janggut panjang berwarna putihnya. Dia kembali berpikir. Memang benar itu mungkin bisa dilakukan. Tapi apakah itu berhasil? kekhawatiran yang terlukis pada wajah tuanya ini tertangkap oleh mata Caelo yang segera menyakinkan Rajanya itu.
"Rajaku, yakinlah. Hanya ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan dari ancaman misil itu. Jika tidak kita lakukan, maka apalagi yang harus kita perbuat? dalam situasi sekarang, kita harus berani mengambil resiko. Urusan gagal kita pikirkan belakangan. Yang terpenting adalah keselamatan Skyriel."
Suara hembusan nafas yang berat terdengar dari mulut sang Raja Elf langit. Dia mengusap wajahnya lalu kembali mengelus janggutnya. "Jika ini memang satu-satunya cara yang bisa kita gunakan, maka tidak ada pilihan lain. Bagaimana menurut kalian?" Katanya sembari matanya memandang semua orang yang ada di ruangan.
Kepala semua staff mengangguk tanda setuju. Tidak ada yang memprotes sang Raja.
"Baiklah, Jendral Bart."
Seorang lelaki tegap berbadan besar penuh otot yang mengenakan zirah lengkap dengan pedang yang terselip pada pinggangnya, bangkit dari duduknya dan langsung bersikap siap. "Siap Rajaku." Tegasnya.
"Aku ingin kau pergi ke tempat para pandai besi dan berdiskusilah dengan mereka. Minta mereka membuat sebuah alat atau sebuah bola meriam penghantar panas yang bisa menahan suhu lebih dari 25 Mecroma. Katakan pada mereka bahwa--"
"Mohon izin memotong pembicaraan Yang Mulia." Potong Rillia tiba-tiba.
Semua orang termasuk sang penguasa kerajaan Skyriel, Raja Fortis, kembali memandang mantan Putri kerajaan Moudha.
"Kenapa kau tiba-tiba memotong ucapanku, Putri Rillia?" Tanya Raja Fortis.
"Hamba mohon maaf sebelumnya Yang Mulia. Hanya ada sesuatu yang harus hamba katakan pada Yang Mulia." Ujar Rillia dengan kepala menunduk.
"Apa itu?"
"Hamba ingin mengatakan, untuk masalah senjata penghantar panas ini, izinkan hamba turut serta untuk berdiskusi dengan para pandai besi kerajaan." Ucap Rillia.
"Hoo... apa yang hendak kamu lakukan?" Tanya Raja Fortis kembali.
Rillia mengangkat kepalanya dan menatap sang Raja serius. "Hamba ingin membantu proses pembuatan senjatanya. Hamba mempunyai cetak biru tentang konsep senjata penghantar panas yang memungkinkan kita untuk dapat mengendalikannya dari jarak jauh, sehingga "umpan" ini bisa membuat misil menjauh dari kerajaan dengan maksimal." Ujar gadis Dari Elf itu.
"Bisa dikendalikan dari jarak jauh? senjata apakah itu?"
"Ini disebut Roket Penghantar Panas atau RPP."
"RPP?" Jendral Bart berucap sembari menaikkan satu alisnya kebingungan.
"Sebuah senjata yang memungkinkan kita untuk bisa mengendalikannya walau dari jarak yang sangat jauh sekalipun. Senjata ini juga bisa menghasilkan panas sampai suhu 840° Celcius atau sama dengan 30 Mecroma."
"30 Mecroma?! Itu gila. Bagaimana bisa senjatamu menciptakan panas sampai 30 kali Mecroma?" Tanya seorang lelaki muda berumur sekitar 25'an dengan rambut klimis yang disisir kebelakang. Kacamatanya berkilat-kilat penuh dengan rasa penasaran ketika menatap sang Putri.
"Tentu saja ada. Raja kami memiliki ilmu pengetahuan yang maju. Karena itulah kerajaan kami bisa bangkit dengan cepat setelah peristiwa penyerangan itu." Kata Rillia.
"Peristiwa penyerangan? apa yang terjadi pada Moudha? apa jangan-jangan Diones juga menyerang kalian?" Tanya Raja Fortis penasaran.
Rillia menggeleng. "Lebih buruk lagi. Varna, Jendral kegelapan bangkit kembali dan membumihanguskan seluruh Moudha."
Secara bersamaan semua orang tersentak kaget mendengar ucapan Rillia.
"Karenanya, seluruh ras Dark Elf musnah dan bahkan Dewi Lignum juga ikut menjadi korbannya. Aku sendiri juga hampir kehilangan nyawaku jika bukan karena Tuan Reyhanaf yang menolongku disaat-saat terakhir." Jelas Rillia lagi.
"Sampai Dewi Lignum juga?! Ini benar-benar bencana. Suatu malapetaka besar. Aku tidak tahu jika makhluk sesat itu juga membunuh seorang Dewi yang merupakan sebuah pohon kehidupan penopang kehidupan para Elf. Aku turut berduka, Putri Rillia. Aku benar-benar menyesal. Jika aku tahu, maka aku akan mengirimkan bantuan sesegera mungkin. Sial! Kenapa hal-hal buruk ini selalu terjadi!?" Kata Raja Fortis sembari menggebrak meja dengan satu tangan. Ini membuat semua orang yang hadir langsung terdiam.
"Anda tenang saja Raja Fortis. Anda tidak perlu melakukan itu karena semua sudah kembali seperti sedia kala." Ujar Rillia.
"Apa maksudmu?"
"Berkat Tuan Reyhanaf, seluruh penduduk yang mati karena ulah Varna hidup kembali. Bahkan Dewi Lignum juga ikut dihidupkan. Bukan hanya itu, Tuan Reyhanaf juga mengembalikan kerajaan Moudha seperti semula serta mengubahnya menjadi kerajaan maju yang makmur." Ungkap gadis itu.
"Jadi, kau mau bilang jika si Reyhanaf ini bisa menghidupkan orang yang sudah mati, begitu?" Tanya salah seorang pria tua yang duduk dibarisan paling belakang.
Semua yang hadir di ruangan kembali berbisik-bisik untuk kesekian kalinya. Mereka memperdebatkan tentang kebenaran cerita yang dikatakan Rillia. Banyak dari mereka yang meragukan cerita itu. Semua itu wajar karena tidak mungkin ada orang yang bisa menghidupkan orang yang sudah mati. Bukan menghidupkan dalam bentuk mayat hidup, melainkan makhluk utuh tanpa kehilangan akal sehat seakan kematian tidak pernah datang menghampirinya. Ditambah Rillia bilang jika Reyhanaf itu juga menghidupkan seorang Dewi yang sudah mati. Itu benar-benar sesuatu yang sangat sangat mustahil.
Kenapa dibilang mustahil? sihir menghidupkan orang yang telah mati adalah sihir terlarang yang sudah tidak terlihat lagi sejak 400.000 tahun lalu ( kecuali untuk para Dewa. Itu juga mereka harus dapat izin terlebih dahulu dari Tuhan. ). Para Dewa secara tegas telah melarang kemampuan ini untuk digunakan karena bisa mengacaukan hukum alam dan mengakibatkan keseimbangan alam semesta goyah. Selain itu pelanggaran yang didapat karena menghidupkan orang mati akan sangat berat. Tidak peduli kemampuan itu digunakan untuk tujuan kebaikan atau kejahatan. Konsekuensi yang diterima tetaplah sama. Masuk ke dalam kerak Neraka terbawah dan ditolak oleh Surga. Karena inilah kenapa perlahan-lahan kemampuan terlarang itu semakin lama semakin hilang ditelan bumi. Sekarang, kemampuan itu hanya menjadi sebuah kemampuan mitos yang hanya bisa diceritakan dari dongeng orang tua pada anak-anak mereka. Mungkin kekuatan ini memang masih ada, tapi akan sangat sulit untuk mempelajarinya sampai ke level di mana si pengguna bisa menghidupkan orang secara normal tanpa membuat target sihir mereka menjadi mayat hidup ( Ghoul ).
"Itu tidak mungkin. Menghidupkan orang yang sudah mati merupakan hal mustahil yang hanya bisa dilakukan oleh Dewa. Manusia sepertinya tidak mungkin memiliki kemampuan seperti itu. Ditambah lagi, sihir menghidupkan orang yang sudah mati telah lama menghilang dari tanah Altars. Tidak ada yang pernah melihat sihir itu lagi sejak bangsa Elf pertama datang ke tanah ini ratusan ribu tahun lalu." Kata pria tua berkepala gundul itu.
"Tapi ini benar. Buktinya ada bersama kalian." Ucap Rillia.
"Ada bersama kami? Maksudmu jangan-jangan...." Raja Fortis bermaksud untuk berdiri dan pergi keluar ruangan. Tapi aksinya dihentikan oleh Rillia.
"Jangan Yang Mulia. Saat ini dia sedang dalam suasana hati yang membuatnya tidak boleh diganggu. Lebih baik jika Yang Mulia ingin menemuinya maka aku sarankan untuk mencobanya di lain waktu."
Sang Raja kembali duduk di kursinya dengan wajah kecewa. Ini membuat semua orang di ruangan kebingungan.
"Jadi wanita yang daritadi menunduk saat pertama kali datang ke sini itu adalah dia?" Tanya Raja Fortis.
Rillia mengangguk.
"Bodohnya aku. Kenapa aku tak bisa mengenali mananya ya?"
"Suasana hatinya sedang tidak bagus. Jadi perlahan-lahan aura Dewi-nya memudar." Rillia berdehem. "Kembali ke topik, seperti yang kukatakan tadi, aku akan membantu membuat senjata itu. Dengan senjata itu, aku yakin misil-misil yang akan menyerang Skyriel bisa diatasi dengan mudah."
Semuanya saling pandang. Ada sedikit rasa ketidakpercayaan pada tatapan mata mereka. Jika rencana yang tadi mereka rancang sebelumnya tidak berhasil, apa yang membuat rencana Rillia ini akan sukses? dan yang terpenting apa senjata itu bisa diciptakan, mengingat rancangan yang dibawakan Rillia merupakan sesuatu yang belum pernah mereka lihat.
Rillia menyadari keraguan mereka. Gadis itu lalu berdiri dan berkata dengan tegas.
"Kalian tenang saja. Aku pastikan rencana ini akan berhasil. Dengan rencana ini, kita bisa melawan balik mereka. Jadi, untuk sekarang dan seterusnya tolong percayalah kepada kami. Kami di sini ingin menolong kalian. Karena ancaman yang datang bukan hanya dari orang bernama Diones itu saja, tapi dari Sang Kegelapan juga. Mereka sudah mulai bergerak dan mulai mengincar ras yang paling dicintai Dewi Naturae, Yaitu kita para Elf. Jika kalian ingin bukti, maka akulah yang kalian cari. Aku sudah menyaksikan sendiri penyerangan mereka. Mendengarkan rencana mereka yang ingin menghabisi kita semua para Elf di seluruh penjuru Altars. Untuk itulah kita harus saling percaya dan menolong."
Semua orang terdiam, tidak terkecuali Raja Fortis. Cukup lama orang nomor satu di Kerajaan Skyriel itu terdiam, sampai dia berdiri dan menatap semua yang hadir di rapat itu serius.
"Tuan Dyuene dan Tuan Rayka." Panggil Raja Fortis.
Kedua pria beda usia yang duduk berdampingan di kursi paling belakang segera berdiri mendengar panggilan Raja Fortis.
"Hubungi para kepala kerajaan Elf Hutan, Elf Api, dan Elf Air. Katakan pada mereka kita akan mengadakan pertemuan mendadak dalam 3 hari kedepan. Jika mereka menolak, katakan saja ini "situasi darurat 6". Mereka tidak akan pernah menolak."
Para staf saling pandang dengan wajah cemas. Situasi darurat tingkat 6 adalah situasi yang digunakan para Elf jika keadaan benar-benar terlampau gawat. Seperti ancaman besar yang sanggup memusnahkan suatu Ras atau yang terjadi sekarang ini. Dalam sejarah, hanya satu kali situasi ini pernah dikeluarkan, yaitu saat peperangan dengan Varna ribuan tahun lalu.
""B-baik Rajaku!"" Kata mereka berdua berbarengan.
Pandangan Raja Fortis lalu beralih ke arah Jendral Bart. "Jendral Bart." Panggilnya.
"Siap Rajaku."
"Seperti yang aku katakan sebelumnya, kau dan Rillia pergi dan diskusikan ini kepada para pandai besi. Dan karena sepertinya rancangan yang Tuan Putri bawa ini juga sedikit memakai ilmu yang berhubungan dengan zat dan kimia, diskusikan hal ini juga dengan beberapa pakar alkimia kerajaan. Aku mau kejelasan dalam waktu 4 hari."
"Siap, Rajaku!" Kata Jendral Bart mantap. Dia lalu melirik Rillia. "Tuan Putri Rillia, harap ikuti saya."
Sang Putri mengangguk dan berlalu bersama Jendral Bart. Diikuti oleh Caelo dari belakang. Tapi sebelum dia pergi, Sang Putri sempat membungkuk hormat pada Raja Fortis.
"Terima kasih karena sudah percaya padaku, Yang Mulia." Katanya.
Raja Fortis tersenyum. "Itu tidak perlu. Kau telah memberikan informasi berharga dan pengetahuan kerajaanmu untuk membantu kerajaan kami melawan para pemberontak itu. Seharusnya kamilah yang harus berterima kasih padamu. Terima kasih Tuan Putri, kebaikanmu pasti akan kami balas." Katanya.
Putri Rillia tersenyum dan kembali membungkuk hormat. Gadis itu lalu berlalu bersama Caelo dan Jendral Bart keluar ruangan.
Mata Raja Fortis lalu melihat para anggota stafnya. "Untuk semua orang, aku ingin kalian menutup mulut untuk sementara sampai kita bisa memahami situasi ini. Aku tidak ingin terjadi kebocoran yang bisa menyebabkan kepanikan massal. Jika ada yang membocorkan tentang pembicaraan yang dilakukan pada rapat ini, maka akan ada konsekuensi berat yang akan dijatuhkan. Aku harap kalian mengerti. Baiklah, hanya itu yang ingin aku sampaikan. Terima kasih atas kehadiran kalian. Rapat ini selesai." Setelah itu sang Raja pergi bermaksud meninggalkan ruang rapat.
Para staf ikut berdiri dan juga bermaksud untuk meninggalkan ruangan sampai sebuah suara ledakan kuat disusul oleh getaran gempa menghentikan mereka. Getarannya sangat kuat bahkan sanggup membuat retakan pada dinding ruangan. Semua orang berpegangan pada tiang penyangga dan meja untuk menjaga agar mereka tidak terjatuh. Tapi tidak sedikit yang akhirnya limbung ke tanah.
Para pengawal Raja Fortis yang sedari tadi berdiri di samping kanan dan kirinya langsung mengambil gerakan. Mereka segera menggunakan tubuh mereka sebagai tameng hidup untuk melindungi Raja Fortis. Meski tidak ada atap yang akan menimpa Raja mereka, namun kedua orang itu harus bertindak sebagimana pekerjaan mereka.
Selang beberapa menit, getaran gempa berhenti. Semua kembali tenang seperti sedia kala, tapi tidak dengan ekspresi para staf dan sang Raja. Mereka terlihat cemas bahkan ada yang sampai ketakutan.
"Apa itu barusan?" Kata seorang pria.
"Apa ini penyerangan?" Ucap seorang pria tua.
"Tidak mungkin mereka menyerang sekarang. Apakah ini akhir dari Skyriel?"
"Semua tenang!" Seru Raja Fortis yang membuat semua orang terdiam. "Daripada berbicara saja, lebih baik kalian periksa apa yang terjadi."
"""Baik Rajaku!""" Kata mereka semua. Namun baru mereka ingin keluar ruangan memeriksa keadaan, Jendral bart muncul dari balik pintu dengan nafas terengah-engah.
"Rajaku..! Hah... Hah...." Panggilnya.
Sang Raja berjalan mendekati Jendralnya itu. "Ada apa Tuan Bart? kenapa kau sampai terengah-engah seperti itu. Dan dimana Putri Rillia?" Tanyanya.
"Putri.... Putri... Dia.... Dia...."
"Ada apa bicara yang jelas!" Kata Raja Fortis tak sabar.
"Sesaat kami keluar, sebuah ledakan besar terjadi. Tanpa berpikir panjang, kami berdua bersama dengan Tuan Caelo segera berlari menuju asal dari ledakan itu. Kami sempat mengira jika ledakan itu berasal dari penyerangan yang dilakukan oleh Diones. Tapi ketika kami berhasil keluar istana, kami menemukan sesuatu yang lain."
"Apa itu?"
"Seekor naga..., seekor naga setinggi gunung memporak-porandakan kota."
Seketika semua orang terdiam dalam keheningan. Begitu juga dengan Sang Raja yang terlihat sangat terkejut.
Bersambung....