Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 22 : Misteri yang terkuak!



Pernahkah kau merasa jika hidupmu itu tidak sesuai dengan yang kau harapkan?


Ya itulah yang kurasakan. Berharap mendapat ketenangan dan kedamaian tapi malah masalah yang terus berdatangan yang kudapatkan. Sejak pertama datang ke sini hingga sekarang, masalah demi masalah terus berdatangan bagai daun yang jatuh berguguran dari sebuah pohon tua. Bertarung dengan naga, menyelamatkan seluruh kerajaan, menjadi Raja, lalu sekarang, berhadapan dengan sebuah tornado raksasa yang entah darimana asalnya. Kapan aku bisa menikmati kedamaian jika masalah terus saja datang menghampiriku? Kapan!!?


Haah... Tidak ada gunanya juga aku meratapi hal ini. Kurasa ini memang sudah menjadi bagian dari takdirku. Yah terima saja apa adanya. Siapa tahu aku akan mendapat balasan yang setimpal karena kesabaranku ini. Yang terpenting adalah menghadapi masalah yang datang dengan tabah. Seperti sekarang.


Tornado itu menerjang ke arah kami dengan sangat ganas. Dia menerbangkan apa saja yang berada pada jalurnya. Mulai dari pohon, batu-batu besar, sampai makhluk hidup malang yang tak sempat menyelamatkan diri. Bahkan tornado itu juga mengikis sebuah gunung hingga habis tak bersisa.


Aku segera mengambil langkah cepat. Sebelum tornado itu berada lebih dekat lagi dengan kami, Aku langsung melompat maju ke arah pusaran angin itu dan merentangkan satu tangan ke depan. Aksiku sempat di teriaki Magni dan Rillia yang kaget. Namun aku memilih untuk melanjutkannya. Aku tahu tindakanku ini terbilang gila, karena itulah kedua orang itu meneriakiku. Tetapi aku juga tahu kalau mereka berdua juga tak bisa menghadapi tornado itu sendirian ( bukannya aku tidak percaya, tetapi aku hanya tidak ingin sesuatu yang tidak kuinginkan terjadi pada mereka berdua ).


"Sihir nomor 444262 : BLACK HOLE." Ucapku begitu posisiku telah berada tepat di depan sang tornado.


Seketika sebuah lubang hitam yang biasa dikenal banyak orang ( terutama di duniaku ) muncul pada telapak tanganku yang terbuka. Ukuran yang kubuat sangatlah kecil, hanya sebesar koin 100 perak. Tetapi daya rusak yang bisa diakibatkannya tidak bisa dianggap remeh. Lubang hitam adalah sesuatu yang sangat dahsyat sekaligus objek paling mematikan di alam semesta. Begitu sebuah lubang hitam terbentuk, dia akan langsung menghisap apa saja yang berada di dalam jarak hisapnya. Bahkan sebuah lubang hitam juga dapat memerangkap cahaya hingga cahaya itu tidak bisa kabur darinya. Itulah sebabnya aku memilih untuk tidak membuat ukurannya sedikit lebih besar. Jika itu kulakukan, maka dampak yang akan diterima bisa lebih berbahaya lagi. Semua isi planet ini beserta dengan si planet itu sendiri, akan lenyap tak bersisa tertelan oleh "sang monster hitam". Tentunya kita tidak ingin itu terjadi ( sebenarnya saat aku pertama kali ke Altars, aku pernah mengalami kecelakaan yang sama. Aku tidak ingin kejadian mengerikan itu terjadi lagi. Karena itulah aku tidak ingin mengambil resiko ).


Tanpa ampun, sang monster langsung menyerap seluruh tornado raksasa itu bagai seseorang yang sedang menyeruput semangkuk mie. Kejadian itu terjadi dalam waktu singkat. Hanya sekitar 0,02 detik. Dan dalam waktu itu juga semua yang berada pada jarak hisap "sang monster hitam" juga ikut terkena imbasnya. Tidak peduli mau itu batu, tanah, udara, air, pohon, makhluk hidup, hingga cahaya matahari sekalipun juga ikut terserap ke dalamnya. Mereka berubah panjang dan meregang seperti spaghetti. Tercabik-cabik menjadi jutaan potongan kecil, sampai pada akhirnya terhisap, dan tidak akan pernah terlihat lagi untuk selamanya. Sebuah pemandangan yang bahkan membuat Dewa seperti Magni sampai bergidik ngeri.


Melihat efek yang ditimbulkan semakin bertambah besar dan besar, aku segera menutup telapak tanganku cepat untuk "mematikan" sang lubang hitam. Untung saja cara ini berhasil dan semua material yang sempat ikut melayang mendekati telapak tanganku, mendadak berhenti serta mulai berjatuhan ke tanah satu per satu. Aku menatap Elf itu tajam. Pada awalnya aku memang tidak bisa melihat Elf terbang itu dengan jelas, namun saat pengelihatanku sudah dipertajam, kini aku dapat melihatnya. Aku tidak tahu apakah dia pelaku dari penyerangan tadi atau bukan. Tapi yang jelas, jika dilihat dari ekspresi terkejutnya itu, kurasa memang dialah dalang dibalik munculnya tornado tadi. Dari raut wajahnya, aku bisa menduga jika Elf itu tidak menyangka kalau aku yang seorang manusia biasa bisa dengan mudah meleyapkan sihirnya.


Kecurigaanku padanya ini semakin bertambah manakala dia mencoba kabur. Tanpa pikir panjang lagi aku segera menggunakan teleportasi instanku untuk menjangkau tempat si Elf terbang itu. Dia hanya terdiam menatapku. Mulutnya seakan terkunci hingga tak bisa mengeluarkan kata-kata. Tubuhnya bergetar ketakutan dan basah oleh keringat dingin. Aku menatap Elf itu tajam. Kuperhatikan dia dari ujung kaki sampai ujung kepala. Jika dilihat dari pakaian serta bentuk tubuhnya, dia berjenis kelamin laki-laki. Berambut putih, bermata biru muda berkilau, dan mengenakan zirah silver yang terlihat kokoh. Tombak emas yang di genggamnya ikut bergetar seraya mengikuti irama tubuhnya.


Untuk sejenak dia menunjukkan gerak-gerik aneh. Namun, gerak-geriknya seketika terhenti saat aku mempengaruhinya menggunakan Gift Aura Domination. Seperti melihat hantu, tubuhnya mendadak semakin bertambah gemetar dengan keringat dingin yang mengucur semakin deras.


"Apa kau yang menyerang kami?" Ucapku dengan nada yang sedikit mendominasi.


Dia tidak menjawab.


"Aku tanya sekali lagi, apa kau yang menyerang kami?" Aku mengulangi pertanyaanku.


Dia masih tidak menjawab. Apa dia terlalu ketakutan sampai tidak bisa menjawab pertanyaanku? Jika sudah begini aku sendiri yang susah. Lebih baik aku mencoba melihat isi kepalanya. Siapa tahu aku bisa mengetahui maksudnya.


Akan tetapi saat aku ingin menggapai kepala si Elf dengan tanganku, Rillia muncul tiba-tiba dengan sulur pohonnya dan langsung menangkap tanganku itu cepat. Aku sih tidak terlalu terkejut. Itu karena aku sudah menyadari kehadirannya sebelum dia muncul. Namun hal yang dilakukan selanjutnya lah yang membuatku terkejut. Rillia mendadak bersimpuh padaku seperti orang yang melakukan kesalahan. Ini membuatku bingung sekaligus penasaran.


"Apa yang kau lakukan Rillia?" Tanyaku sembari menghentikan Gift Aura Domination-ku. Aku tidak ingin dia terkena efeknya juga.


"Maafkan, aku Tuan Reyhanaf karena berlaku tidak sopan. Meski memang dia yang telah menyebabkan tornado tadi, tapi aku tidak akan membiarkan kau melakukan apapun padanya." Katanya.


Jadi memang dia pelakunya. Tapi kenapa Rillia melindunginya?


"Lalu, kalau kau tahu jika dia yang membuat tornado tadi, kenapa kau melindunginya?"


"Sekali lagi maafkan aku Tuan Reyhanaf. Itu karena dia adalah...."


Tiba-tiba saja, diluar dugaan si Elf merangkul pundak Rillia dan membawanya mundur bersamanya. Sekitar 5 kaki dari tempatku melayang. Dia mendekap perempuan itu erat dan menghunuskan tombaknya ke arahku. Sejenak kupikir dia akan menyanderanya, tapi dekapannya pada Rillia lebih seperti melindunginya.


"Menjauh kau monster! Aku tidak peduli jika kau mempunyai kekuatan Dewa sekalipun. Tapi jika kau sampai berani menyentuh tunanganku, aku akan membuat kau menyesal seumur hidup!" Ancamnya.


Tunggu, apa katanya? Tunangan?


"Caelo, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku, dengarkan aku dulu!" Ucap Rillia memberontak.


"Cɑu uoϝ¡ on ĸuoʍ ϝμɑϝ I bʁowᴉƨԍq Hᴉƨ Hᴉმμuԍƨƨ ʁoԍu ϝo ɑɼʍɑλƨ ɼooĸ ɑɻϝԍʁ λon ¡ μɑϝԍʌԍʁ μɑbbԍuƨˋ I ʍᴉɼɼ ɑɼʍɑλƨ bʁoϝԍcϝ λon ԍʌԍu ᴉɻ I μɑʌԍ ϝo ɻᴉმμϝ ɑ wouƨϝԍʁ ɼᴉĸԍ μᴉw¡ ɑɻϝԍʁ ɑɼɼˋ ʍμλ qᴉq λon μɑʌԍ ϝo ĸuԍԍɼ ᴉu ɻʁouϝ oɻ μᴉw ԍɑʁɼᴉԍʁ ʍμɑϝ qᴉq ϝμԍ wouƨϝԍʁ qo ϝo λon ¡¡? ( Tidak bisa! kau tahu kan aku sudah berjanji pada Yang Mulia Roen untuk selalu menjagamu!? apapun yang terjadi, aku akan selalu melindungimu, bahkan walau aku harus melawan monster seperti dia! lagipula, kenapa juga kau harus bersimpuh di depannya tadi? apa yang sudah dilakukan monster itu padamu!!? )" Tutur Elf bernama Caelo itu.


"ƨoˋ uoʍ ɼԍϝ მo oɻ wԍ ɻᴉʁƨϝ ɑuq ɼᴉƨϝԍu ϝo wλ ʍoʁqƨ¡ ( makanya, sekarang kau lepaskan aku dulu dan dengarkan perkataanku! )" Tegas Rillia.


Caelo terdiam lama. Lalu tidak lama kemudian dia mulai melonggarkan dekapannya pada pundak Rillia. Satu buah sulur seketika datang sesaat Caelo melonggarkan dekapannya. Sulur itu berguna sebagai pijakan karena seperti yang kalian tahu, Rillia tidak bisa melayang layaknya aku dan si Elf itu. Jadi Rillia menggunakan sulur itu agar bisa mengobrol dengan kami yang sedang melayang di atas langit. Dia lalu mengatur nafasnya yang sempat terasa sesak untuk beberapa saat. Aku menduga jika si Elf itu terlalu keras mendekapnya sehingga Rillia menjadi sesak nafas. Setelah nafasnya kembali normal, Rillia kembali bersimpuh padaku yang mana membuatku merasa tak nyaman.


"Tuan Rey, Aku mohon maafkan dia. Aku yakin jika dia tidak bermaksud seperti itu." Kata Rillia.


"Baiklah, tapi bisakah kau berhenti bersimpuh seperti itu? Bersikap biasa saja, jangan terlalu formal. Jika Magni saja ku larang melakukan itu, apalagi kau Rillia. Kau itu sudah kuanggap sebagai teman dekatku. Jadi aku mohon hilangkan batasan Raja dan Rakyat ini. Bersikaplah seperti saat pertama kali kita bertemu, kau mengerti?" Tuturku.


Rillia bangkit dan terdiam. Sesaat kemudian dia mengangguk pelan.


"Oh, apa jangan-jangan kau melakukan itu karena takut aku akan melukai tunanganmu? Kau tenang saja, aku tidak akan melakukan apapun padanya." Kataku lagi.


Sekali lagi dia terdiam. Tapi sikap diamnya ini seakan memberitahu jika apa yang kukatakan barusan adalah benar. Aku menghela nafas dan tersenyum. Tatapanku lalu beralih ke arah Caelo yang langsung memasang kuda-kuda saat mata kami bertemu satu sama lain. Yah, aku tak menyalahkannya. Wajar jika dia bersikap seperti itu. Siapa yang tidak langsung memasang kuda-kuda jika bertatap muka dengan lawan yang notabene-nya lebih kuat darimu? Semua orang pasti akan melakukan hal yang sama.


"Namamu Caelo, benar?" Kataku mencoba memulai percakapan. "Perkenalkan, aku Reyhanaf Putra Miracle. Raja dari Kerajaan Neo-Moudha. Aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu. Pertama, kenapa kau menyerang kami?"


Pada mulanya Caelo tidak menjawab. Dia hanya melayang di sana sembari terus menatapku dalam diam. Namun begitu Rillia menyikut perutnya dan memberikan tatapan penuh amarah, dia akhirnya mulai mau bekerjasama. Walaupun mata berwarna biru mudanya itu tidak henti-hentinya terus memperhatikan setiap gerak-gerikku. Ya ampun, orang ini sangat waspada.


"S-sebelumnya maafkan saya. Saya tidak tahu jika anda adalah Raja yang akan menjadi tamu undangan kami. Saya kira anda adalah salah satu dari anggota Caelum Rebelles yang ingin menyerang Skyriel."


Aku menatapnya bingung. "Caelum Rebelles?"


"Kelompok pemuja Phaulius Tempestas. Mereka golongan oposisi yang menentang kenaikan Raja kami, Tuan Fortis Aggamentu. Sudah bertahun-tahun kami berperang melawan mereka. Tapi baru-baru ini mereka melakukan perlawanan secara besar-besaran." Jelas Caelo.


"Apa maksudmu? Apa maksud dari serangan besar-besaran yang baru saja kau bilang?" Tanya Rillia tiba-tiba dengan wajah yang terlihat sangat khawatir.


"2 minggu lalu, mereka melakukan invasi ke Kerajaan kami. Mereka memang sering melakukannya, tapi yang ini sedikit berbeda. Bahkan kami sampai kewalahan menghadapi mereka."


"Apa? Apa yang terjadi?" Tanya Rillia memburu.


Namun sebelum Caelo sempat menjawab pertanyaan Rillia, aku segera menghentikannya. "Kalian berhenti. Terlalu berbahaya berbicara di sini. Lebih baik kita lanjutkan pembicaraan ini di kapal."


Ctak!


Bunyi jentikan jariku yang terdengar sangat nyaring menjadi pertanda jika kita sudah berada di dalam kabin kapal. Ya, aku menggunakan teleportasi instanku untuk berpindah tempat. Di sini sudah ada Magni dan Dewi Lignum yang menunggu. Sebelumnya aku sudah menyuruh mereka untuk ke kabin kapal terlebih dahulu menggunakan kekuatan telepatiku. Karena itulah mereka bisa di sini.


"A-apa yang terjadi?" Tanya Caelo bingung. "Apa kita melakukan teleportasi?"


"Iya." Ucapku singkat.


"Ini menakjubkan. Kau melakukan teleportasi pada seseorang tanpa menyentuhnya." Pujinya kagum.


"Yah, itu sudah biasa." Ucapku tersipu.


"Soal tornado tadi, aku minta maaf. Kami sedang dalam masa krisis dan aku ditugaskan oleh Raja untuk menyerang siapa saja yang menggunakan benda-benda aneh yang tentunya bukan berasal dari sini. Aku benar-benar tidak tahu jika kapal ini adalah milik kalian. Hampir saja aku menyerang tunanganku sendiri. Aku mohon maafkan ketidaktahuanku ini." Sesal Caelo sambil membungkuk.


"I-itu tidak masalah. Kau hanya menjalanankan tugas yang diberikan. Jadi ini bukan salahmu. Santai saja." Kataku sambil tersenyum dan mengibaskan tanganku.


Caelo mengangkat kepalanya dan ikut tersenyum. "Terima kasih, Tuan Reyhanaf. Kau memang murah hati." Katanya.


Matanya lalu mengedar melihat sekeliling kabin. Sepertinya dia cukup terkesan dengan interior yang ada di dalam kabin ini. Ya itu wajar saja, karena aku membawa beberapa desain dari duniaku. Sebut saja kulkas, AC, dan interior-interior lain yang tentunya tidak ada di Altars. Caelo masih mengagumi interior kabinku, sampai mendadak mata birunya terhenti saat melirik ke arah Dewi Lignum dan Magni yang berada di seberang meja. Pada awalnya dia bersikap biasa, namun sedetik kemudian dia terjungkal kebelakang kaget.


"D-DEWI LIGNUM D-DAN DEWA MAGNI!!?" Seru Caelo keras karena saking karetnya.


Tepat di seberang meja yang membatasi kami, kedua Dewa dan Dewi itu hanya tersenyum melihat reaksi Caelo. Ya siapa sih yang tidak kaget saat melihat dua makhluk yang sangat dipuja-puji oleh Ras mereka tiba-tiba saja ada di ruangan ini bersamanya.


Tanpa berlama-lama lagi Caelo langsung bersujud saat itu juga. "S-salam Dewi Lignum, salam Dewa Magni. M-m-maafkan hamba karena tidak menyadari kehadiran kalian. Dan juga maafkan kelancangan hamba yang sudah berusaha menyerang kapal ini. Hamba tidak tahu kalau kalian berdua juga ada di kapal terbang ini. Sekali lagi maafkan hamba." Ujarnya.


"Itu tidak masalah, sayangku. Maafmu kami terima." Ucap Dewi Lignum lembut sembari tersenyum.


Kecuali Magni, mukanya nampak masam. Sepertinya dia tidak akan memaafkan Caelo.


"Tapi sayangnya kau salah Dewi. Aku bukanlah seseorang yang dengan gampangnya memaafkan seperti dirimu."


Sudah kuduga.


"Kau sudah berusaha untuk menyerang kami. Tapi yang lebih tak bisa kumaafkan adalah fakta bahwa kau telah menghina Tuanku dan mencoba untuk melukainya. Sebab itulah aku tidak akan pernah memaafkan---baiklah aku memaafkanmu." Ujarnya mendadak panik. Bukan tanpa alasan dia tiba-tiba memaafkan Caelo. Itu karena aku yang menatap Magni nanar sembari memaksanya untuk memaafkan Si Elf lewat telepati. Jika tidak kulakukan masalah akan kembali ruyam.


Caelo mendongak dan menatap tidak percaya ke arah Magni. "Sungguh? A-anda memafkan saya?"


"Kau beruntung anak muda. Jika bukan karena Tuanku, aku pasti sudah menaruh kutukan mengerikan padamu." Ujar Magni.


"Begitukah? Syukurlah Terima kasih Dewa Magni." Ujar Caelo bernafas lega. "Oh, ngomong-ngomong, di mana Tuan anda? Aku juga ingin berterima kasih sekaligus meminta maaf padanya juga."


Magni melipat tangannya di dada. "Dia ada disebelahmu."


Caelo lalu menoleh ke arah kanan dan menatap aku yang sedang tersenyum padanya. Seketika Caelo kaget bukan kepalang. Yeah, aku juga sudah menduga reaksi itu akan terjadi.


"J-jadi, k-kau adalah Tuan dari Dewa Magni." Katanya panik.


Aku hanya menjawabnya dengan menganggukkan kepala.


"Lalu, apa kau mempunyai masalah dengan itu? Apa kau tidak senang dan kecewa karena Tuan Reyhanaf adalah Tuanku?" Magni tiba-tiba masuk ke dalam obrolan.


"T-tidak bukan begitu. A-aku hanya terkejut saja."


"Elf kecil, lancang sekali kau ini. Aku akan mengajarimu pelajaran yang tidak akan pernah kau---"


"Magni hentikan!" Tegasku. Magni segera menuruti ucapanku dan terdiam. Bagaimanapun juga sikapnya ini sudah keterlaluan. "Aku memanggilmu ke sini bukan untuk mencari keributan. Jika kau masih saja seperti itu lebih baik kau keluar dari ruangan ini, apa kau mengerti?!"


Dia terdiam. Aku menghela nafas. Aku lalu melihat Caelo yang masih sedikit takut padaku. Entah itu karena bentakkanku atau karena takut dikutuk oleh Magni.


"Kau tidak perlu takut seperti itu. Aku tidak akan berbuat sesuatu yang menyakitimu dan orang lain. Lagipula selama ada tunanganmu di sampingmu aku tidak akan bisa menyentuhmu." Kataku sembari melirik Rillia yang segera melihat ke arah lain dengan pipi merona.


"K-kau sangat murah hati, Tuan Reyhanaf. Maaf sebelumnya aku terlalu lancang hingga ingin melukaimu waktu itu. Sekali lagi terima kasih dan terimalah permohonan maafku ini." Sesalnya sembari membungkuk.


"Sudahlah angkat kepalamu. Kau tidak perlu membungkuk seperti itu. Aku sudah memaafkanmu kok." Ucapku lembut.


Namun tiba-tiba saja suara Menjengkelkan kembali terdengar di kepalaku.


[ Tingkah murah hatimu terlihat menjijikkan. Apa kau pernah melihat dirimu sendiri mengatakan itu sambil memandang cermin? Kujamin kau akan merasakan hal yang sama sepertiku. Tidak, Mungkin lebih mirip ketika kau secara sengaja melihat kembali riwayat status dan fotomu 11 tahun lalu di salah satu situs social media berlambang f. Kau bahkan sampai rela menghapus akunmu dan membuat lagi akun yang lain saking malunya. Hahaha... Aku sampai tertawa jika mengingat kejadian itu. ]


Lagi-lagi Rege dengan asal kembali berbicara di dalam kepalaku. Jujur, itu membuatku kesal. Apalagi saat dia kembali mengungkit hal yang seharusnya sudah kulupakan. Selain itu darimana dia tahu aku pernah melakukan itu?


"Berisik kau, dasar parasit abstrak! Apa maksudmu mengungkit-ungkit kejadian sialan itu?! Tidak bisakah kau diam saja di dalam kepalaku?" Kataku geram di dalam hati.


[ Hey, itu bukan salahku. Salahkan si penulis yang jarang memunculkan aku diceritanya. Lagipula hanya melihat dan mendengarkan membuatku merasa sangat bosan. Aku juga butuh hiburan, kau tahu!? ]


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, tapi jika ingin mencari sebuah hiburan, apakah harus dengan membongkar aib seseorang?"


[ Pfft...! Ayolah, itu hanya bercanda. Dan lagi, kejadiannya sudah lewat 11 tahun lalu, kan? Tidak mungkin kau masih ingat foto-foto alay itu. ]


"Tadinya memang aku tidak ingat, tapi berkat kau, aku kembali mengingat kenangan buruk itu. Sekarang diamlah dan jangan bicara. Aku ada permasalahan penting yang harus diselesaikan." Kataku kesal.


[ Ya ya baiklah, terserah apa katamu. Tapi jangan pikir aku mau menuruti keinginanmu. Aku masih ingin berbicara banyak hal. Sampai saat itu, aku akan terus mengawasimu dari sini. Dan mengawasi yang kumaksud adalah mengganggunmu, hahahahaha! ]


Setelah itu Rege mematikan percakapan. Dasar makhluk muka rata. Sudah datang seenaknya, pergi juga seenaknya. Tingkahnya ini lebih mirip jalangkung daripada makhluk absolut berkekuatan Dewa. Apa dia benar-benar ras murni? Entahlah daripada terus memikirkan dia, lebih baik aku menghadapi masalah yang ada di depanku ini. Tapi saat aku ingin kembali memulai topik yang sempat tertunda, semua orang menatapku dengan tatapan heran. Terlebih lagi Caelo. Dia hanya diam sembari menatap aneh diriku. Ada apa ini? Apa ada sesuatu di wajahku? Aku menatap Rillia yang hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari menepuk jidatnya pelan. Ah, aku tahu sekarang. Ekspresi Rillia memberi aku semua jawabannya. Mereka semua melihatku sedang kesal-kesal sendiri seperti orang kurang waras. Pantas saja semua orang terdiam.


"Err... Tuan Reyhanaf, apa anda baik-baik saja?" Caelo mencoba berbicara padaku. "Aku beberapa kali melihat anda seperti sedang kesal. Apa anda masih marah perihal masalah tadi?"


"Eh? T-tidak aku tidak kesal. Aku hanya memikirkan sesuatu saja. Cuma itu. Jadi jangan kau terlalu pikirkan ya." Kataku sembari terkekeh. "Ehem! Lebih baik kita segera sambung perbincangan yang sempat tertunda. Jadi apa maksud dari kelompok bernama Caelum Rebelles ini menyerang kerajaan Skyriel dengan berbeda?"


Dewi Lignum sedari tadi mencoba santai mendadak bereaksi saat mendengar kata "Skyriel diserang". "Tunggu apa yang kau maksud dengan Skyriel diserang?"


Caelo dan Rillia saling pandang. Lalu setelah melihat anggukan dari kepala Rillia, Caelo mulai memberitahu sangat Dewi. "Pasukan oposisi bernama Caelum Rebelles menyerang kerajaan kami sejak dua minggu terakhir."


"Apa? Kenapa bisa? Bukankah Skyriel adalah kerajaan yang mempunyai pertahan terbaik di sejagat Altars? Kenapa dia bisa diserang?" Tanya Dewi Lignum panik.


"Penyerangnya bukan orang luar, melainkan orang dalam." Jawabku.


"Orang dalam? Apa maksudmu rakyatnya sendiri?" Dewi Lignum kembali bertanya.


Caelo mengangguk pelan.


"Kudeta ya..., Itu lebih menyusahkan daripada berperang melawan orang luar." Kali ini Magni yang berbicara.


"Kenapa bisa terjadi? Bukankah Skyriel kerajaan Elf teraman saat ini?" Ekspresi Dewi Lignum berubah sedih.


"Pemimpin Caelum Rebelles adalah seorang mantan jendral yang bernama Diones Alggertis. Dulu dia bekerja langsung dibawah perintah Raja Fortis. Namun karena sifatnya yang sedikit otoriter dan hanya lebih memilih prespektif berdasarkan  kekuatan, Raja Fortis membuangnya dari kesatuan. Sejak itu dia mendendam pada Raja Fortis dan berusaha untuk menjatuhkannya." Jelas Caelo.


Oh jadi seperti itu kejadiannya. Ternyata situasi seperti ini tidak hanya terjadi di duniaku, tapi juga di sini. Cukup mengejutkan sih, melihat situasi yang seharusnya hanya ada di duniamu ternyata juga bisa ada di dunia lain. Apa jangan-jangan masalah di dunia ini tidak cuma berasal dari Eam saja, melainkan dari sisi politiknya juga. Entahlah, aku belum tahu. Mungkin sisi gelap dunia ini sendiri juga akan terungkap suatu hari nanti. Ya, suatu hari nanti.


"Lalu kenapa aku tidak pernah tahu jika Skyriel sekarang sedang mengalami krisis?" Dewi Lignum lagi-lagi bertanya. Dia sepertinya ingin menguak semua hal yang terjadi di kerajaan saudaranya itu.


"Memangnya anda tidak tahu? Bukankah setahu hamba para pohon kehidupan bisa berkomunikasi satu sama lain walau terpisah jarak?" Caelo menatap sang Dewi heran.


"Iya itu memang benar. Tapi masalahnya aku tidak pernah bisa menghubungi saudara keras kepalaku itu. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun tidak pernah dijawab. Bahkan saat pasca penyerangan Moudha dulu, ketika kedua pohon kehidupan lain menanyakan keadaanku, dia tidak ikut muncul. Bahkan cuma sekedar ikut menanyakan keadaanku saja juga tidak." Tutur Dewi Lignum.


Kini giliran Caelo yang tersentak. "Tunggu, Moudha diserang?"


"Ya, sekitar sebulan lalu." Jawab Rillia.


Tiba-tiba Caelo memegang pundak Rillia erat. "Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan para penduduk? Dan yang terpenting, kau baik-baik saja kan?" Cecarnya


"I-iya aku baik-baik saja. Kau bisa lihat kan?"


Caelo menghela nafas lega. "Syukurlah. Tapi bagaimana dengan kerajaannya?"


"Sudah diperbarui. Ini semua berkat Tuan Reyhanaf. Karena dialah aku masih ada di sini sampai sekarang dan masih bisa bertemu denganmu. Jika waktu itu dia tidak ada, aku dan ras Dark Elf yang lain pasti sudah binasa di tangan si monster Varna." Jelas sang Putri.


"Apa, Varna? Monster yang seharusnya sudah mati saat perang besar ribuan tahun silam itu? Bagaimana dia bisa selamat?" Tanya Caelo.


"Aku tidak tahu, tapi kemungkinan Rex ad Inferos yang membangkitkanya. "


Caelo mendadak terkesiap. "Rex ad Inferno. Makhluk dalam ramalan yang akan membawa kehancuran di Altars. Haah... Dunia ini semakin semrawut saja setiap harinya." Katanya lemas sembari melepaskan pegangan tangannya pundak Rillia.


"Tuan Reyhanaf, terima kasih karena telah menyelamatkan Moudha dan juga Rillia. Aku sangat berhutang budi padamu." Kata Caelo sambil tersenyum.


"Itu tidak masalah. Sudah menjadi kewajibanku untuk menolong yang membutuhkan." Ucapku.


[ Pembohong... Kau pembohong.... ]


Rege mendadak berceletuk.


Dengan keadaan masih tersenyum, aku membentak makhluk itu dari dalam hati. "DIAM KAU!"


Aku lalu menghirup nafas dan menghembuskannya kembali. Kalian tahu, untuk memeberikan rasa tenang di hatiku. "Err... jadi Caelo, apa maksudmu dengan menyerang secara berbeda? Apa mereka menggunakan strategi baru atau bagaimana?" Tanyaku. Sumpah aku penasaran dengan yang ini.


"Iya, Caelo. Cepat beritahu kami." Ujar Rillia.


Caelo lalu duduk dan memasang wajah serius. "Mereka menggunakan senjata aneh untuk melawan kami."


"Senjata aneh?" Ulang Magni.


"Iya. Mereka memakai benda aneh yang bisa menembakan besi dalam jumlah banyak dengan kecepatan yang luar biasa. Suara yang dihasilkan senjata itu juga membuat kuping kami sakit. Selain itu mereka juga menggunakan kendaraan terbang aneh berbahan dasar besi. Seperti kendaraanmu Tuan Reyhanaf, tapi lebih kecil dan ramping dengan ujung berbentuk kerucut pada moncongnya. Kendaraan itu juga bisa mengeluarkan sihir peledak dalam bentuk sebuah, bagaimana ya menggambarkannya, benda besi berat dengan ujung yang lancip." Caelo mencoba menjelaskan.


Aku terdiam. Ini tidak mungkin kan? Senjata yang digambarkan Caelo mirip dengan senjata mesin di duniaku dulu. Tapi lupakan soal senjata mesinnya, kendaraannya itu yang jadi masalah. Tidak salah lagi, itu pesawat terbang. Tunggu, ini tidak masuk akal. Kenapa senjata mesin dan pesawat tempur bisa ada di dunia ini. Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sini?!!


[ Kau tahu bro? ]


Rege kembali berbicara.


[ Dunia yang kau kira kecil, nyatanya tidak sekecil yang kau bayangkan. ]


"A-apa maksudmu?" Kataku heran.


[ Oh, akhirnya~ Semua misteri yang tersimpan selama beribu-ribu tahun telah terungkap. Kedatanganmu adalah suatu yang sudah diramalkan sejak jutaan tahun lalu. Era perubahan yang baru sudah dimulai. Dan itu dimulai dari dunia ini. ]


"Apa yang---"


TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!! TEET!!!


Suara alarm kapal memenuhi seluruh area ruangan. Cahaya merah yang datang sesaat setelah alarm berbunyi menyelimuti kami semua. Semua orang berdiri dengan tatapan bingung. Terlebih lagi Caelo. Dia yang kelihatannya paling bingung di sini. Ini aneh, benar-benar aneh. Bukan karena suara alarmnya, tapi penyebab kenapa dia bisa sampai berbunyi. Alarm ini adalah alarm peringatan jika ada sebuah misil yang sedang mendekat. Pada awalnya aku memang merasa janggal, kenapa AI-Sys mau repot-repot memasang alarm misil sementara tidak mungkin ada misil di dunia ini.


Tapi sepertinya aku keliru. Ini mulai masuk akal sekarang. Senjata yang dibicarakan Caelo, serta kendaraan terbang yang diungkapkannya, lalu ditambah dengan alasan kenapa Caelo menyerang kami saat pertama bertemu dan menganggap kami sebagai anggota Caelum Rebelles. Tidak salah lagi, ini tidak salah lagi. Dengan cepat aku berlari keluar dari kabin kapal menuju anjungan kapal. Aku hanya bisa tertawa pelan saat melihat layar radar yang terdapat di sana. Di sebelah samping layarnya, muncul sebuah titik kecil mendekat dengan sangat cepat. Dan ini semakin diperparah dengan datangnya suara bising yang khas. Suara dari mesin terbang bertenaga turbojet yang disambung dengan ledakan suara supersonic di udara.


Mataku lalu beralih menatap ke jendela depan di mana suara bising itu berasal. Dari jendela itu, aku bisa melihatnya dengan jelas. Sebuah jet tempur yang terbang melintas dalam kecepatan suara. Dalam hati aku tertawa. Pokoknya saat ini semua selesai, Ayah benar-benar harus menjelaskan semuanya.


  


  


Bersambung....