
Aku dibuang. Itulah yang terjadi. Sekarang aku tengah berada di hutan yang entah apa namanya ini. Suasannya sunyi. Tidak terdengar kicauan burung atau gemerisik daun pohon yang bergesekan karena sentuhan lembut sang angin. Tidak ada. Satupun.
"Dimana aku?"
Sudah jelas itu adalah kata pertama yang aku ucapkan. Aku memutuskan untuk berdiam diri. Tapi aku tidak bisa selamanya berdiam. Jujur, di sini menakutkan. Sudah gelap, tidak ada suara lagi. Jantungku saja sampai berdetak cepat dibuatnya. Suasana yang bikin was-was ini lah yang aku tidak suka.
"Sial, kenapa dia mengirimku ke tempat ini sih? Apa dia benar-benar ayahku? Jika dia seorang Ayah, dia tidak akan seenaknya membuang anaknya sendiri ke hutan belantara begini."
Tanpa sengaja aku memarahi Dewa semesta alam sambil menghentak-hentak tanah karena kesal.
Apa kau kesulitan, Nak?
Mendadak sebuah suara terdengar di kepalaku. Suara ini... tak salah lagi! Ini Tuan Miracle atau Ayahku. Ayah angkat tentunya.
"Ayah? Apa itu kau?"
Dari suaranya saja sudah jelas, kenapa aku bertanya lagi? Dasar bodoh aku ini.
Tentu saja, dan secara tak sengaja aku mendengar kemarahanmu.
Aku tertegun. Sudah kuduga dia mendengarnya. Aku menunduk. Perasaan bercampur aduk antara takut, bersalah, menyesal, dan senang menjadi satu. Jika kalian bingung kenapa aku bilang senang sudah jelas jawabannya. Aku senang karena dia mendengar keluhan anaknya yang dibuang seenaknya ke hutan ini.
"A-aku tak salah. Ayah yang salah. Kenapa aku dikirim ke sini sih? Kau kan bisa mengirimku ke padang rumput atau ke sebuah desa yang penuh penduduk, seperti di anime-anime itu."
Haah..., Rey, Rey. Ternyata kau marah hanya karena itu?
"hanya karena itu?"? Kurasa kata itu bukan kata yang tepat, Yah.
Baiklah, akan kukeluarkan kau dari hutan kematian ini. Tapi, sebelum itu coba kau bilang "STATUS". Kurasa aku lupa memberitahumu tentang ini.
Apa dia bilang? Hutan kematian? Pantas saja daritadi suasananya sangat mencekam. Ternyata aku berada di hutan angker. Ya, ampun Ayah, tega sekali kau membuang anakmu ke hutan ini. Apa kau ingin anakmu menjadi penghuni baru hutan ini?
Rey, aku mengirimmu ke hutan ini supaya kau bisa melakukan latih tanding secara langsung. Hutan kematian memiliki banyak monster kuat yang sanggup membelah daratan dan menghancurkan gunung. Sebagai seorang Demigod dari Dewa Keajaiban, kau bisa melatih kekuatanmu dengan bertarung melawan mereka.
"Apa kau ingin aku mati lagi?! Tidak mungkin aku bertarung dengan monster sejenis itu!"
Makanya itu aku menyuruhmu mengatakan STATUS!
"Untuk apa aku bilang itu?"
Sudah, bilang saja!
"Baiklah. STATUS!"
Tiba-tiba, aku dibuat terkejut oleh layar transparan yang mendadak muncul didepanku. Aku memperhatikannya dengan seksama. Ini lebih seperti status level game yang pernah kumainkan dulu.
____________________________________
☆ Status ☆
☆ Nama : Reyhanaf Miracle
☆ Usia : 18 tahun
☆ Ras : Demigod
☆ Level : ???
☆ Title : The Miracle Person
☆ Hp : ??? ( Unknown )
☆ Mp : ??? ( Unknown )
☆ Magic :
¤ Absolute Change
¤ Absolute Creativity
¤ Absolute Existence
¤ Absolute Restoration
¤ Causality Manipulation
¤ Destiny Manipulation
¤ Freedom
¤ Meta Miracle Manipulation
- Miracle Performing
¤ Meta Power Manipulation
- Meta Ability Creation
¤ Meta Summoning
¤ Metapotence
¤ Nonexistence
¤ Omnificence
¤ True-Self Recognition
- Regulation
¤ Universal Irreversibility
¤ Unrestricted Murdering
¤ Almighty Magic
¤ Change Embodiment
¤ Omnipotence
¤ Reality Condition
¤ Reality Warping
¤ Wish Embodiment
¤ Wish Granting
☆ Skill :
¤ ATK : ???
¤ DEF : ???
¤ INT : ???
¤ M. ATTACK : ???
¤ M. DEF : ???
¤ M. RESISTANCE : ???
¤ AGI : ???
¤ STR : ???
¤ VIT : ???
¤ HEALTH : ???
¤ DMG : ???
¤ DMG. RESISTANCE : ???
☆ Gift :
¤ Omnilingualism.
( Kamu dapat berbicara, membaca dan mengerti semua bahasa yang ada di dunia. Termasuk bahasa ras Elf, Dwarf, orc, goblin, semua jenis hewan yang suci ataupun tidak, Malaikat, dan Dewa. )
¤ God Eye.
( Memungkinkan bagi kamu untuk melihat seluruh isi jagat raya. Entah itu dunia, atau alam semesta. Kau juga dapat melihat dalam jarak yang sangat jauh dan dapat melihat tembus pandang. )
¤ Regeneration : Level : ???
( Kamu adalah musuh besar Dewa Kematian. )
¤ Shield Protector : Level : ???
( Tidak ada yang bisa melukaimu saat jarak sudah berada 1 meter dari tempatmu berdiri. )
¤ On/Off Magic, Skill, and Gift.
( Membuat kamu dapat mematikan dan menyalakan kembali Magic, Skill, serta Gift yang kau gunakan sehingga tidak terlalu memakai banyak mana. )
¤ Editing Status.
( Jika kamu tidak suka dengan statusmu sekarang, kamu dapat mengedit statusmu sesuka hati. Kekuatan murni dari Dewa Keajaiban. )
¤ Hide Status.
( Menyembunyikan Status aslimu dan menggantinya dengan Status yang palsu. )
¤ Imagine Creation.
( Memungkinkan kamu membuat semua hal yang ada di pikiranmu menjadi kenyataan. Batasnya hanya terdapat di imajinasimu. )
¤ Absolute Luck.
( Kau orang yang sangat dicintai oleh Dewa Keberuntungan. )
¤ Aura Domination : Level : ???
( Kamu bisa memberikan rasa takut, ngeri, seram, dan panik pada musuhmu hanya dengan menggunakan auramu. )
( Kecepatan yang bisa mengalahkan cahaya. Kamu adalah makhluk tercepat dan rival dari Dewa Kecepatan. )
¤ Teleportation : Level : ???
( Kamu dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain hanya dengan kedipan mata. Tempat yang kau tuju : Tidak ada batasnya. )
☆ Equipment :
¤ Infinite Bag Inventory Lvl 99+
- Quantity : 1
- Class : Legendary
(Equip)
¤ Health Potion
- Quantity : 999+
- Class : Unique
(Equip)
¤ Mana Potion
- Quantity : 999+
- Class : Unique
(Equip)
¤ Tears of Phoenix
- Quantity : 5
- Class : Rare
(Unequip)
¤ Key of God
- Quantity : 1
- Class : Rare
(Unquip)
____________________________________
Bagaimana? Itu semua adalah kekuatanmu! Dengan ini kau merasa percaya diri bertarung dengan mereka, kan?
Aku melongo seketika. Apa ini? Sebuah cheat? Jika iya ini sudah keterlaluan. Andaikan ini adalah game yang sedang kumainkan, aku pasti sudah di banned GM karena ini.
"Ini semua adalah kekuatanku?! Apa Ayah serius!? Jangan bilang aku sudah naik pangkat menjadi Dewa?! Kekuatan ini..., kekuatan yang Ayah berikan ini terlalu berlebihan."
Aku kembali memprotes keputusan sepihak Ayah angkatku ini.
Ada apa denganmu? Tadi kau merasa kurang percaya diri karena berpikir kau itu lemah. Sekarang setelah melihat ini semua kau malah marah. Apa kau tidak suka pemberianku?
"T-tidak, bukan begitu. Aku sangat senang kau memberikan kekuatanmu padaku. Itu artinya kau peduli padaku. Tapi kenapa harus berlebihan seperti ini?"
Karena kau anakku. Semua kekuatan yang ada di bar status itu adalah kekuatanku dulu saat aku masih menjadi Dewa Keajaiban. Itu normal mengingat kau adalah anakku yang sudah jelas merupakan keturunan dan ahli warisku satu-satunya. Jadi, wajar dong kalau kekuatanku itu menurun kepadamu.
Aku menghela nafas. Kalau kupikir lagi perkataan Ayah memang benar. Aku kan sudah menjadi anaknya, jadi sudah pasti aku akan mendapat kekuatannya. Seharusnya aku senang menerima berkah seperti ini. Toh ini juga bukanlah kutukan, tapi "hadiah" yang diberikan seorang Ayah untuk anaknya. Kurasa ini masih lebih baik. Tidak bisa kubanyangkan jika yang kuterima adalah kekuatan dari Dewa Semesta Alam. Bisa-bisa aku bukan lagi seorang Demigod, melainkan seorang Dewa seutuhnya.
Kau memang akan menjadi Dewa.
Mendadak aku tersentak ketika mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Ayahku itu. "A-apa Ayah bilang?"
Kubilang kau akan menjadi Dewa.
Aku tertawa kecil. "Haha... kau pasti bercanda."
Tidak, aku serius! Kau akan menjadi Dewa. Tapi tidak sekarang. Kau harus melatih kekuatanmu terlebih dahulu dan membentuk sebuah ikatan dengan orang lain. Dan ikatan yang kumaksud adalah pernikahan.
"Tunggu, aku masih belum bisa mengerti. Apa maksudmu aku menjadi Dewa, dan kenapa syaratnya harus pernikahan?"
Suatu saat kau akan mengerti dan itu masih sangat lama. Untuk sekarang aku ingin kau menikmati kehidupan barumu. Lagipula saat wakutnya tiba kau akan dibiarkan memilih. Apa kau ingin menjadi Dewa atau menjadi Demigod selamanya.
"Jadi aku bisa memilih?"
Ya. Tapi nanti saat sudah tiba waktunya. Ah, sayang sekali aku harus segera pergi. Aku ada pekerjaan yang harus segera kuselesaikan. Aku harap kau menikmati kehidupan barumu. Satu lagi, soal tempat kedatanganmu, aku akan mengubahnya. Kurasa kau belum siap dengan pertarungan sungguhan. Karena itu aku akan memindahkanmu ke tempat lain.
Ctak!
Bunyi jentikkan jari terdengar bersamaan dengan pindahnya aku ke atas sebuah gunung. Dari sini aku bisa melihat pemandangan indah yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Sejenak aku terkagum-kagum dengan pemandangan ini. Awan putih yang melayang di bawahku, matahari terbit yang mempesona, semilir angin yang menyentuh lembut, dan udara segar yang sangat menyegarkan. Semua pemandangan itu sangat menyejukkan hati bagi siapapun yang melihat atau merasakannya. Selain pemandangan tadi, ada satu hal lagi yang membuatku tertarik. Yaitu bayangan sebuah istana besar nan megah di depanku. Jika ditelisir lebih jauh, mungkin jaraknya sekitar 10 sampai 12 kilometer. Tidak terlalu jauh jika saja aku mendapatkan tumpangan.
Nama tempat ini adalah Gunung Harapan. Di sinilah pertama kali aku diangkat menjadi Dewa. Tempatnya damai dan pemandangannya juga bagus. Selain itu tempat ini juga tidak terlalu jauh dari kota utama. Bagaimana? Apa ini sudah sesuai dengan keinginanmu?
"Ya, ini persis seperti yang kuinginkan."
Baguslah. Dengan ini aku bisa bekerja dengan tenang. Baiklah Rey, selamat menikmati kehidupan barumu. Aku senantiasa akan selalu bersamamu. Jika kau menemui kesulitan atau ada yang ingin dibicarakan, tinggal panggil saja aku. Aku pasti datang. Entah dalam wujud suara, atau yang lain.
"Baik, aku mengerti!"
Aku lega mendengarnya. Sekarang waktunya bagiku untuk pergi. Sampai jumpa lagi, Putraku, Reyhanaf Miracle.
"Ya, sampai jumpa lagi."
Aku tersenyum sambil melambai ke langit luas.
"Nah, sekarang aku harus mencari tumpangan agar cepat sampai ke istana itu."
Tanpa menunggu lama aku berlari menuruni gunung. Sejenak aku merasa aneh. Entah kenapa kakiku terasa ringan. Padahal jalan menurun yang kulalui terbilang terjal. Salah sedikit saja aku bisa terpeleset dan terjun bebas ke bawah. Tapi anehnya aku tidak merasakan hal itu. Jalan menurun ini lebih seperti jalanan beraspal bagiku. Tanpa batu ataupun gundukan tanah. Semua rata tanpa halangan sedikitpun. Lalu tanpa sadar aku sudah di kaki gunung. Aku bahkan masih tidak percaya jika menuruni gunung tinggi nan terjal ini hanya memakan waktu sekitar 20 detik saja.
"Apa ini efek kekuatanku?"
Aku berkata dalam hati. Ini melebihi yang kuharapkan. Jika begini aku yakin aku bisa langsung sampai ke kota dengan sangat cepat. Aku tersenyum senang. Sudah kuputuskan, aku harus sampai di sana sebelum malam tiba. Aku lalu memasang ancang-ancang seperti saat tengah bersiap untuk lomba lari di garis start. Namun saat aku sudah ingin membuat langkah untuk berlari, memdadak sebuah dentuman luar biasa terdengar di telingaku.
BUMM!!!
Bunyi ledakan luar biasa itu membuat tanah bergetar hingga membuat aku jatuh terduduk. Burung-burung berterbangan ke segala arah dan angin yang sangat kuat langsung menerjang ke arahku dengan sangat dahsyat. Secara spontan, aku melindungi wajahku dengan kedua tangan. Untungnya angin ini hanya berlangsung dalam hitungan detik. Tapi meski begitu, angin besar yang sangat singkat itu memberikan efek kerusakan yang lumayan parah. Pasalnya pohon-pohon tercabut dari akarnya secara langsung dan hilang entah kemana. Pohon-pohon yang tumbang juga tidak sedikit. Andai saja aku tidak kuat untuk berpijak ke tanah, aku pasti sudah bernasib sama seperti pohon-pohon itu.
"Apa-apaan itu tadi?" Ucapku tertegun.
Setelah angin hebat itu menghilang, kepulan asap dan debu menyebar ke segala arah menggantikan si angin. Akibatnya jarak pandangku menjadi terhalang. Kucoba untuk menggunakan kekuatan yang Ayah berikan untuk mengusir asap dan debu yang berterbangan. Dengan mengibaskan tangan ke kanan dengan cepat, semua asap itu langsung menyingkir dari hadapanku. Bahkan suasana kembali seperti sediakala. Walau sebenarnya tidak semua. Efek angin besar tadi telah mengubah hutan ini menjadi padang gurun. Semua pohon tumbang dan hanya sedikit saja dari mereka yang tersisa.
"Ini benar-benar kacau." Kataku. "Sebaiknya kulihat apa yang menyebabkan ini semua."
Aku berlari seperti saat aku menuruni gunung. Walau cara berlariku terkesan seperi Barry Allen dalam serial The Flash, aku berhasil menghindari berbagai pohon tumbang dengan mudah. Tentunya dengan bantuan kekuatanku.
"M-monster apa itu!!?" Seruku begitu sampai di tempat ledakan itu terjadi.
Tepat di depanku, terdapat makhluk maha besar mirip kadal, namun bedanya dia mempunyai sepasang sayap lebar. Ukurannya yang sebesar gunung membuat kepalaku harus mendongak untuk menatap kepalanya. Jika membandingkan ukuranku dengannya, aku hanya sebesar kuku jarinya saja. Itupun masih besaran kukunya daripada aku. Keempat kakinya besar dan kuat sehingga setiap dia berjalan, gempa bumi langsung terjadi. Ekornya yang teramat panjang sanggup menciptakan angin kencang manakala dia mengibaskannya ke kanan dan ke kiri. Makhluk yang ternyata naga ini meraung-raung keras ke angkasa. Sesekali dia menyemburkan nafas apinya itu ke sana. Menciptakan awan mendung serta petir yang menyambar-nyambar.
Aku yang melihatnya merasa ngeri. Kuputuskan untuk bersembunyi di balik batang pohon yang tumbang guna memastikan keadaan terlebih dulu. Hatiku bertanya-tanya. Siapa orang ***** yang membuat naga ini marah. Jelas-jelas dari tingkah si naga yang mengamuk tak jelas, dia sedang merasa kesal dan dipenuhi dengan amarah. Aku bisa merasakan aura pembunuhnya yang sangat besar. Sebesar tubuhnya. Rasanya Seperti menghirup asap saat kebakaran. Sungguh menyesakkan dada dan membuatku kesulitan bernafas.
"NICO! DIMANA KAU?!!"
Makhkuk itu berbicara?! Yah, tidak aneh sih. Maksudku ini dunia fantasi. Semua hewan bisa berbicara. Walau aku ragu untuk kucing, dan juga makhluk imut lainnya.
"JIKA KAU TIDAK KELUAR, AKAN KUBUAT LEDAKAN YANG LEBIH BESAR SEHINGGA SANGGUP MENGGETARKAN BUMI INI!"
Oke, ini gawat. Ledakan tadi saja sudah membuat sebuah hutan menjadi gurun, apalagi jika detonasinya diperbesar? Semua daratan ini mungkin akan tenggelam. Tidak terkecuali....
Aku memegang kepalaku dengan kedua tangan. Aku mendadak teringat sesuatu. Jika tidak salah, ada sebuah pemukian yang tak jauh dari sini. Jika si naga akan melakukan ledakan yang lebih besar, maka seluruh kota akan tenggelam ke tanah. Bagaimana ini?
Aku mengangkat kedua bahu. "Kurasa aku tidak punya pilihan."
Dengan lompatan heroik ala film-film di tv, aku berteriak sekeras mungkin. "HOI, NAGA!"
Si naga menggeram dan menoleh kebelakang. Sepertinya suaraku di dengar olehnya. Dia lalu memutar badannya yang besar, dan manatap tajam ke arahku. Saat kepalanya turun mendekat untuk melihatku lebih jelas, saat itu juga aku berpikir. "Betapa bodohnya aku ini."
Naga itu membuka mulutnya. "KAU KAH YANG TADI MEMANGGILKU? KAU BUKAN NICO, SIAPA KAU, MANUSIA KECIL?"
"A-aku Reyhanaf, Tuan." Kataku bergetar ketakutan.
"REYHANAF, YA. KALAU BEGITU ADA URUSAN APA KAU SAMPAI MEMANGGILKU. SANG DEWA NAGA KUNO YANG AGUNG, MAGNITUDO INI?"
"A-aku tadi mendengar jika kau ingin meledakkan area ini dengan ledakan super besar. A-apa itu benar Tuan Magnitudo?"
"ITU BENAR! JIKA KUBUAT YANG LEBIH BESAR, AKU YAKIN NICO AKAN KELUAR DARI PERSEMBUNYIANNYA."
"Ka-kalau begitu kau tidak b-boleh."
Sang naga menggeram. Dia lebih mendekatkan lagi kepalanya ke arahku. Matanya yang besar menatapku tajam. Aku bahkan bisa melihat pantulan diriku dari bola matanya yang besar. "KENAPA TIDAK...?"
"Karena jika kau lakukan itu, kota di sana akan hancur."
Sang naga mendadak tertawa keras dan membuat telingaku terasa sakit. Bahkan tawanya itu masih terdengar meski aku sudah menutup telingaku dengan jari telunjuk.
"AKU TIDAK PEDULI. BAGIKU, MENGHANCURKAN NICO LEBIH PENTING DARIPADA KOTA KECIL ITU. SEKARANG ENYAH DARIKU, MANUSIA!"
Dia membalikan badan membelakangiku. Mulutnya kembali meraung-raung menyerukan ancaman tidak jelas pada seorang bernama Nico. Aku menelan ludah. Aku tahu aku akan menyesali ini, tapi aku tidak punya pilihan. Jika tak kulakukan, maka kota itu akan musnah bersama dengan orang-orang di dalamnya. Tidak ada cara lain, aku akan melawannya.
"HOI KADAL!" Aku berteriak dengan nada menghina. Aku bermaksud membuatnya agar kembali memperhatikanku, dan sepertinya itu berhasil. Si naga terdiam lalu meliriku dari balik punggungnya dengan mata yang penuh amarah. Dengan satu hentakan di tanah, dia berbalik cepat dan meraung padaku dengan keras. Raungan itu sampai menciptakan angin besar yang membuat pohon-pohon kembali terlempar.
"BERANI-BERANINYA KAU MENGHINA DEWA. APA KAU SUDAH BOSAN HIDUP?"
"Magnitudo! Tidak akan kubiarkan kau membuat ledakan itu! Bagaimana pun caranya akan menghentikanmu."
Si naga tersenyum lebar. "MAKHLUK BODOH. APA KAU MENCOBA MELAWANKU YANG MERUPAKAN SEORANG DEWA? KAU SANGAT LUCU. SEBAGAI HADIAH DARI KEKURANGAJARANMU, TERIMALAH HADIAHKU."
Aku mengerutkan alis. "Hadiah?"
"YA, HADIAH!"
Si naga lalu membuka mulutnya lebar dan menyemburkan sebuah badai api yang luar biasa besar ke arahku. Dan dalam sekejap, aku telah tertelan ke dalam lautan api. Bersama dengan pohon-pohon dibelakangku.
Bersambung....