Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 18 : Misi yang merepotkan dan Senjata Baru.



Mataku membuka cepat dan kudapati diriku terbangun di tempat gelap. Apa-apaan ini? Semuanya gelap seperti tidak ada hal selain warna hitam. Apa jangan-jangan aku telah....


Aku menggelengkan kepalaku cepat. Tidak, tidak, tidak. Tidak mungkin aku mati lagi. Tapi disaat-saat terakhir aku sempat mendengar Rege mengatakan jika aku telah "membayarnya". Apa maksudnya itu? Apa artinya aku membayarnya dengan nyawaku? Ini tidak mungkin terjadi. Aku pasti bermimpi. Ya, pastinya ini adalah mimpi.


Namun kalau dilihat-lihat dari tubuh telanjangku yang putih bersih, kurasa itu ada benarnya. Haah... Kenapa ini terjadi begitu cepat? Padahal aku baru saja menikmati dunia baruku. Menyebalkan.


Di lingkungan gelap ini aku terdiam cukup lama. Pikiranku menerawang jauh. Tanpa sadar aku memikirkan Magni dan juga Rillia. Apa mereka baik-baik saja ya? Entah kenapa aku mendadak kepikiran mereka. Aku telah menghidupkan seluruh rakyatnya beserta Dewi mereka dan juga Roh penjaga yang sebelumnya telah tewas, kurasa mereka akan baik-baik saja tanpaku. Aku tidak tahu tapi sepertinya aku sedikit merasa kehilangan.


"Reyhanaf...."


Sebuah suara memanggil terdengar menggema diruangan gelap yang sepi. Aku tersentak dan bersikap waspada. Apa itu Rege? Tidak, suara miliknya lebih serak seperti pria kurang minum yang berumur 40 tahun. Berbeda dengan suara ini yang begitu lembut dan enak di dengar. Lalu apa ini Ayah? Jangan main-main, sudah jelas ini suara wanita. Sudah pasti itu bukan dia.


"Reyhanaf Putra Miracle...."


Kepalaku memutar ke segala arah mencari si pemilik suara. Namun aku tak menjumpai siapapun.


"Siapa itu?" Seruku. Tapi tidak ada jawaban.


Namun, tiba-tiba saja sebuah cahaya yang sangat menyilaukan datang di hadapanku. Sinar itu semakin terang dan terang lalu kemudian membentuk wujud tubuh seorang wanita. Setelah semua cahaya meredup dan hilang sepenuhnya, barulah aku bisa melihat siapa orang itu adanya.


Dia wanita dewasa berumur sekitar 30 tahunan. Rambutnya panjang sepinggang berwarna hijau dengan mata berwarna cokelat. Wanita itu mengenakan gaun putih panjang sampai menutupi kakinya. Berbagai pernak pernik emas menghiasi dirinya, mulai dari gelang emas, cincin, kalung, anting, sampai mahkota terpasang dengan cantiknya. Aku bahkan sampai terpaku saking terpesonanya dengan wanita itu.


Dia menatapku dalam lalu tersenyum manis setelahnya. "Akhirnya kita bertemu, Reyhanaf Putra Miracle." Katanya.


"K-kau ini siapa?" Kataku.


"Aku adalah Ibu Altars, Ibu dari segala pohon suci, dan Dewi dari segala alam. Aku adalah Dewi Naturae."


Aku terkejut. Jadi dia yang bernama Dewi Naturae. Itu berarti dia adalah Ibu dari Rillia. Tapi mau apa seorang Dewi utama sepertinya menemuiku?


"Lalu untuk apa anda menemuiku, Dewi Naturae?" Tanyaku.


"Aku ke sini ingin berterima kasih padamu karena telah menyelamatkan pengikutku dan juga anak-anakku."


Ouh... Jadi soal itu. Tapi tunggu, apa dia tidak marah karena aku telah melanggar hukum alam dengan menghidupkan orang yang sudah mati? Jangan-jangan kedatangannya ke sini bukan hanya untuk berterimakasih saja, melainkan juga membawaku ke kehadapan Dewa kematian untuk diadili dan dijebloskan ke neraka. Yah, kurasa ini tidak masalah. Ini adalah konsekuensi yang sebelumnya dikatakan Roh agung Arbor. Walau bagaimanapun aku harus menerimanya. Memang benar yang dikatakan orang : penyesalan itu selalu datang belakangan.


"T-tidak, tidak.. Aku tidak akan melakukan itu." Ucapnya tiba-tiba.


Aku mengangkat satu alis bingung. "Melakukan apa?"


"Semua yang kau pikirkan tadi. Aku tidak akan membawamu ke Dewa kematian dan menjebloskanmu ke neraka. Aku hanya murni ingin berterima kasih padamu. Walau sebenarnya yang kau lakukan itu terlarang, namun asal kau tahu aku juga setuju dengan yang kau lakukan." Jelas Dewi Naturae.


Tunggu, kenapa dia bisa tahu apa yang aku pikirkan? Oh ya benar. Dia adalah seorang Dewi. Sudah pasti dia bisa membaca pikiranku. "Benarkah?"


"Kau telah mengorbankan dirimu dan bertarung demi rakyatku. Tidak mungkin aku melakukan itu padamu." Ucapnya.


Aku menghembuskan nafas lega. "Jadi kau tidak akan membawaku ke neraka?"


"Tidak. Aku hanya ingin memberimu sesuatu." Katanya. Dewi Naturae lalu membuka telapak tangan kanannya dan secara ajaib memunculkan sebuah cahaya hijau dari sana. Cahaya itu bergerak melayang ke arahku lalu menghilang saat menembus tubuhku.


Tanganku segera meraba-raba dadaku yang sempat ditembus oleh cahaya hijau itu. Aku lalu menatap sang Dewi dengan tatapan penasaran dan bingung. "A-apa itu?"


Sang Dewi menutup telapak tangannya dan kembali tersenyum lembut. "Itu adalah berkahku. Aku memberikannya sebagai hadiah karena kau telah menyelamatkan rakyatku."


Berkah? Wow, itu mengejutkan. Tidak hanya kekuatan dari Ayah dan Rege, sekarang aku juga mempunyai kekuatan dari Sang Dewi Alam. Bertambah overpower saja aku ini. Semoga saja semua ini tak menyebabkan masalah dikemudian hari.


"Terima kasih Dewi. Aku sangat menghargai ini." Kataku basa basi.


"Tidak masalah. Kau pantas menerimanya. Dan Reyhanaf, satu hal lagi sebelum kita berpisah. Aku ingin memberitahumu sesuatu."


Ekspresi sang Dewi berubah serius. Aku menelan ludah gugup saat melihatnya.


"Sepertinya kabar tentang kau yang telah mengalahkan sang Jendral Kegelapan telah tersiar kemana-mana. Ini menjadi perbincangan hangat di khayangan maupun di dunia bawah. Tidak menutup kemungkinan jika sang Kegelapan juga mendengar kabar ini. Jika dia sampai mengubah rencananya, maka penduduk Altars akan menerima ancaman lebih cepat dari yang kami perkirakan. Karena itu aku memohon satu hal padamu."


Aku menatap serius sang Dewi. "Apa itu, Dewi?"


"Bentuklah aliansi dengan ketiga ras Elf yang lain. Jika ada yang terancam lebih dahulu, ras Elf-lah jawabannya. Kau sudah melihat salah satunya kan? Penyebab kenapa mereka menjadi sasaran empuk. Itu karena mereka sangat dicintai mana dan dilindungi oleh keempat anakku. Para pohon kehidupan. Yang merupakan simbol dari kehidupan di Altars. Ras Elf adalah ancaman terbesar bagi sang kegelapan setelah Dewa-Dewi, dan "temanmu". Karena itu kau harus membujuk mereka semua agar mau bekerja sama. Jika tidak, kekuatan penyokong terbesar untuk melawan sang kegelapan akan hilang." Jelas Dewi Naturae.


Kepalaku mengangguk tanda mengerti. Jadi tujuan mereka selanjutnya adalah membasmi ketiga ras Elf yang tersisa? Aku sudah menduga itu. Tetapi dengan matinya Varna, maka posisi eksekutor menjadi kosong. Itu berarti akan ada jendral-jendral lain yang menggantikan Varna sebagai eksekutor selanjutnya. Mereka tidak mungkin hanya memiliki satu jendral saja. Aku sangat yakin jika mereka memiliki banyak kandidat-kandidat Jendral dengan kekuatan yang pastinya tidak masuk diakal ( Varna contohnya ). Mungkin berjumlah puluhan? ratusan? aku tidak tahu. Tapi yang jelas orang seperti Eam pasti memiliki banyak koneksi. Maksudku, seorang pemimpin dari para pemberontak Tuhan yang ingin menguasai alam semesta tidak mungkin bekerja sendiri ( sendiri yang kumaksud di sini adalah sedikit orang ). Pasti, walau belum kupastikan apakah memang benar, masih ada banyak diluar sana, di suatu tempat diluar Altars. Tempat bertaburnya bintang-bintang aneh yang menakjubkan dan sulit dideskripsikan. Dan jika teori ku benar, maka ini akan membuka bagian dari cerita baru tentang petualangan di luar angkasa ( berharap saja semoga itu tidak terjadi ). Haah... Memikirkannya saja aku sudah tahu jika ini semakin menyusahkan.


"Jadi, apa kau mau menerimanya?" Tanya Dewi Naturae tiba-tiba hingga membuatku tersadar dari lamunanku.


Aku terdiam sejenak. Kurasa aku tidak punya pilihan lain. Toh cepat atau lambat aku pasti akan bertemu dengan mereka. Jadi untuk apa aku menolaknya? Sebenarnya, aku sangat berharap untuk bertemu mereka secepat mungkin. Kalau bisa sekarang. Aku tidak ingin membuang-buang waktuku yang sangat berharga. Semakin cepat aku bertemu mereka maka semakin baik. Lagipula ini bisa menjadi kesempatan bagus jika aku bisa bertemu dengan mereka segera. Kalian tahu, untuk menguak informasi tentunya.


Aku menghembuskan nafas panjang. Mungkin sekarang aku memang belum mendapatkan ketenanganku. Tapi segera aku akan mendapatkannya. Selain itu ada hal yang lebih menarik untuk kutelusuri diperjalanan nanti. Ada begitu banyak misteri yang bermunculan satu per satu ( apalagi teori yang sempat kupikirkan tadi ). Tentang Rege, alam semseta, dan tentang dunia ini. Tempat dimana aku dikirim sebagai penyelamat baru oleh Ayah angkatku. Tapi tidak sebagai pahlawan. Aku tidak ingin itu. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, aku akan menyelasikan semua ini dengan caraku. Yang jelas, aku ingin segera bermalas-malasan ketika semua ini selesai. Fakta jika aku terikat oleh sebuah kesepakatan konyol tidak akan menghentikanku dalam mencapai impian manisku. Mungkin, di sela-sela petualanganku nanti aku akan mencari cara yang lebih aman supaya aku tidak bermalas-malasan di alam baka.


Sang Dewi ikut tersenyum mendengar jawabanku. "Aku tahu kau tidak akan menolaknya. Maka sebagai hadiah bonus aku akan berikan kau ini. Kuharap ini bisa membantu memudahkan misimu."


Telapak tangan sang Dewi kembali membuka dan memunculkan sebuah pedang yang terbuat dari kayu berwarna kecoklatan. Walau dari kayu, aku masih bisa melihat kilauan kecil dari mata sang pedang. Gagangnya berwarna hitam dengan hiasan daun hijau dibelakangnya.


"Pedang apa ini?" Tanyaku.


"Ini adalah pedang yang terbuat dari bagian tubuhku. Namanya adalah Mundus. Walau terbuat dari kayu, pedang ini sangat kuat melebihi besi manapun. Bahkan ketahanannya sangat mirip dengan besi Physicorumium. Pedang ini juga mampu memotong apa saja. Mulai dari batu sampai dengan besi. Ditambah dia juga membuat penggunanya mempunyai kontrol penuh atas alam Altars. Dia bisa memerintahkan segala hal yang berkaitan dengan alam, bahkan bisa mengendalikan elemen-elemen yang ada di Altars." Jelas sang Dewi.


"Bagaimana pedang itu bisa memudahkan misiku? Cukup menggunakan tangan kosong saja aku sudah bisa menghancurkan gunung. Jadi untuk apa aku butuh senjata? selain itu aku mempunyai api neraka dan besi terkuat. Kurasa menambahkan senjata bukanlah ide bagus."


"Rey, kau tidak mengerti. Di semesta ini tidak ada yang tidak memiliki energi. Semua makhluk hidup atau benda mati seperti kerikil memiliki energi. Tanpa energi semua akan sirna. Ignis dan Physicorumium adalah contoh dari bahan alam yang memiliki energi. Energi mereka disebut sebagai energi kosmik. Tanpanya, Ignis akan menguap dan Physicorumium akan terkorosi lalu terkikis seiring oleh waktu. Varna mempunyai kemampuan untuk menetralkan segala energi Mana yang biasa dikenal sebagai No-Mana. Jika dia bisa mempunyai kemampuan itu, apa yang membuatmu berpikir jika di semesta ini tidak ada makhluk lain yang mempunyai kemampuan serupa?" Tanya Dewi Naturae.


"Maksudmu?"


"No-Mana, seperti yang kau tahu, adalah sebuah kemampuan yang memungkinkan penggunanya dapat meniadakan segala jenis energi Mana. Dia bisa memblokir, menghentikan, membalikkan, menyerap, dan menetralisir semua energi yang mempunyai kandungan Mana di dalamnya. Selain No-Mana, ada 3 jenis lagi kemampuan yang sama sesuai dengan jenis energinya masing-masing. Dan disinilah letak kesalahan persepsimu. Apa kau tahu jika keempat kemampuan itu hanyalah kemampuan dasar?" Jelas Dewi Naturae dengan wajah seriusnya.


Aku seketika menelan ludah. Apa ini benar? kemampuan kuat seperti No-Mana hanyalah sebuah kemampuan dasar? apa yang dimaksud sang Dewi ialah kalau masih ada kemampuan penetral energi yang jauh lebih kuat dan lebih susah untuk dihadapi daripada No-Mana? jika iya maka ini masalah besar. Meski dengan bantuan para Elf sekalipun, jika lawannya memang seperti itu, maka harapan menang tidak akan ada lagi. Kami akan kalah dalam sekejap mata. Bahkan kuyakin Ignis dan Physicorumium akan bernasib sama saat pertarunganku dengan Varna ( saat aku masih menjadi diriku ya, bukan saat dikendalikan Rege ).


"No-Mana, Nature-Decomposed, Anti-Cultivation, dan Cosmic-Absorb, semua itu adalah kemampuan dasar. Tingkat lanjutnya lebih berbahaya lagi. Itu disebut Absorb Energy. Sebuah kemampuan yang memberikan pengguna untuk menyerap segala jenis energi. Entah itu Mana, Alam, Kultivasi atau tenaga dalam, dan kosmik. Meski kemampuannya hanya menyerap, tapi kemampuan ini masih merepotkan. Dan yang terakhir dan paling mematikan, kemampuan yang hanya dimiliki oleh seorang Pirme yang pernah membangkang pada Sang Maha Kuasa, kemampuan milik Sang Kegelapan, Eating."


Aku mengangkat satu alis. "Eating?"


"Memang terdengar ambigu, namun nyatanya kemampuan yang dia miliki sangatlah mengerikan." Kata Sang Dewi. "Eating merupakan kemampuan Sang kegelapan yang mempersonifikasikan rasa ketidakpuasan serta kerakusan. Kemampuan ini memberikan Sang Kegelapan kemampuan untuk memakan segala hal dan mengubahnya menjadi energi. Tidak peduli jika benda yang dia telan tidak mengandung energi sama sekali. Itu akan tetap mengubahnya menjadi sebuah energi yang membuat dirinya mempunyai kekuatan tak terbatas yang mutlak."


Ah, selesai sudah. Aku tidak menyangka jika lawanku memiliki kemampuan yang mengerikan. Jika yang dikatakan Sang Dewi itu benar, maka Ignis dan juga Physicorumium tidak akan mampu menanganinya. Bahkan kekuatan Rege saja tidak akan cukup untuk melawannya. Apa yang harus kulakukan? bagaimana caranya aku menghadapi musuh seperti itu? apakah ada suatu cara yang dapat melawan kekuatan seperti itu? disaat kepalaku tengah berpikir keras, mendadak aku teringat akan senjata yang ingin diberikan oleh Dewi Naturae padaku.


"Lalu apa hubungan semua ini dengan, Mundus?"


Sang Dewi tiba-tiba tersenyum. "Mundus adalah senjata yang terbuat dari bahan yang sangat-sangat langka dan berasal dari bagian Ayahku yang sekarang telah tiada. Nama dari bahannya itu adalah Prime Core atau inti dari seorang Prime. Bahasa sederhananya, jantungnya atau inti kehidupannya. Senjata ini memang dari kayu, tapi keseluruhan rangka dan komponen pembuatannya dilapisi oleh Prime Core. Prime Core memiliki susunan energi unik yang nyaris tidak ada di seluruh alam semesta manapun. Susunan yang begitu kompleks membuat Energi pada Prime Core susah untuk diserap atau dihilangkan. Bahkan untuk penetral energi sekelas Eating."


Mataku terbelalak mengikuti arus pembicaraan ini. "Itu artinya...."


"Ya, Mundus adalah senjata anti penetral energi. Selama kau menggunakan Mundus, maka semua musuh yang memiliki kemampuan untuk menetralkan energi atau menyerap energi tidak akan ada apa-apanya di hadapanmu. Selain itu membujuk ketiga negara besar bukanlah hal mudah. Kau membutuhkan pedang ini jika kau ingin cara tercepat agar mereka mau mendengarkan. Menaklukkan ketiga Elf King bukanlah perkara mudah. Sebagian dari mereka sangat keras kepala. Apalagi terhadap manusia sepertimu. Ambilah senjata ini. Aku yakin dan percaya jika dia bisa membantumu dalam mencapai tujuanmu."


Aku berpikir sebentar. Yah, kurasa ini tak masalah. meningkatkan kekuatan tempur adalah hal yang harus diutamakan saat ini. Fakta jika musuh memiliki kemampuan mengerikan membuatku tak punya pilihan selain menerimanya. Tanpa menunggu lama lagi, aku kemudian menangguk pelan. "Baiklah, akan aku ambil."


Tanpa diduga kejadian mencengangkan terjadi. Seketika pedang itu melayang dari telapak tangan Dewi Naturae dan terbang ke arahku sesaat setelah aku mengatakan itu. Dia mendekati tangan kiriku dan langsung menempel di sana. Aku yang terkejut sekaligus panik mencoba untuk melepaskan pedang tersebut. Namun, akar-akar yang muncul pada gagang pedang membelit ku erat seakan tidak ingin melepaskan.


Aku menatap sang Dewi untuk menuntut penjelasan. Seakan mengerti, Dewi Naturae pun memberitahuku. "Tenang saja, kau tidak perlu panik. Itu adalah hal wajar. Tapi aku cukup terkejut. Jarang sekali Mundus langsung menempel pada orang asing. Biasanya dia akan menolak terlebih dulu sebelum menerima seseorang. Jika menurut Mundus orang itu tidak memenuhi kriterianya, maka dia akan langsung mengubah bentuknya menjadi biji kenari atau menghilang sebagai tanda penolakan. Namun kali ini dia malah menempel dengan erat padamu dan langsung mengakuimu sebagai Tuannya."


"Tunggu, jadi maksudmu dia bisa saja menolakku?! Setelah penjelasan lebar yang kau jelaskan padaku!?"


"Kau tidak perlu khawatir Rey. Lihat, sekarang dia menerimamu tanpa uji tes atau penolakan terlebih dulu."


"Ada uji tes juga!!?"


Aku menghela nafas panjang. Mataku menatap pedang yang menempel erat pada tanganku. Jika dilihat-lihat pedang ini bagus juga. Ringan dan sangat nyaman memegangnya. Meski aku belum pernah menggunakan senjata sebelumnya, ( sebenarnya sih pernah. Itu juga waktu aku ikut ajang bergengsi battleroyal antar sekolah yang berlangsung di jalan raya. Saat itu aku memakai senjata long range shooting yang disebut batu ), tapi entah kenapa aku merasa seperti seseorang yang sudah sangat lihai menggunakan pedang.


Pedang itu tiba-tiba menyusut dan bergerak perlahan menuju pergelangan tanganku. Hal ini sempat membuatku terkejut. Semakin lama pedang kayu itu semakin kecil dan terus bergerak mengitari pergelanganku. Membentuk sebuah gelang kayu hingga aku terkagum-kagum dibuatnya.


"Wow, keren!" Ucapku sembari memandang gelang itu. "Ini sangat praktis."


"Yah, dia bisa juga melakukan itu untuk memudahkan penggunanya." Celetuk sang Dewi. "Sekarang saatnya bagimu untuk pergi."


Aku memandang sang Dewi yang masih tersenyum manis padaku. Namun seketika mataku segera beralih memandang tubuhku yang tiba-tiba bercahaya terang.


"Laksanakan tugasmu dan selamatkanlah dunia ini, Reyhanaf Putra Miracle. Jangan biarkan kejadian yang menimpa negara Moudha ikut dirasakan oleh negara-negara lain. Dan juga sampaikan salamku pada anak-anakku. Terutama Rillia. Katakan padanya aku minta maaf karena tak bisa membantunya saat itu." Dewi Naturae berpesan.


"Tunggu! Kenapa kau sangat ingin membantuku? bahkan sampai memberikan senjata sebagus ini padaku."


Sang Dewi terdiam, lalu dia tersenyum. "Bisa dibilang ini juga sebagai permintaan pribadi."


"Permintaan pribadi?"


Cahaya yang ada ditubuhku semakin terang dan semakin terang, hingga kegelapan yang ada di sekitarku ikut berubah terang.


"Kau akan tahu nanti. Kita sudahi pertemuan kita, Reyhanaf Putra Miracle. Jangan lupa untuk selalu berhati-hati. Sang kegelapan selalu mempunyai rencana licik yang akan menggoyahkan hatimu. Dan Reyhanaf ingat, setelah ini akan banyak kesulitan didepan. Banyak makhluk-makhluk yang lebih kuat dari Varna yang akan mengincarmu. Jadi berhati-hatilah." Tambahnya. "Sampai jumpa Reyhanaf. Jika ada kesempatan semoga kita bertemu lagi di lain waktu. Jaga dirimu baik-baik. Aku akan selalu memberkatimu."


Setelah itu semua berubah putih sepenuhnya dan menghilang. Bersamaan dengan aku dan juga Dewi Naturae.


 


Bersambung....