
Suara kicauan burung membangunkanku. Mataku berkedip beberapa kali untuk menyesuaikan sinar mentari yang masuk melalui celah-celah daun pohon. Aku begitu malas untuk bangun, jadi kuputuskan untuk tidur sebentar lagi. Tubuhku hanya menggeliat pelan kala seekor burung hinggap di rambutku dan mematuk kepalaku. Ingin rasanya aku tidur lebih lama, tapi suara dari seorang lelaki yang sangat kukenal membuatku terjaga.
"Anda sudah bangun, Tuan?"
Aku bangkit dan mengucek-ucek mataku yang masih terpejam bak terkena lem. Di depanku, Magni duduk di dekat api sembari membakar ikan. Dia nampak baik-baik saja. Itu bagus. Tak kusangka usaha menyalurkan mana selama 4 jam terus-menerus berhasil dengan baik. Dari aura dan wajahnya yang terlihat cerah dia sudah kembali seperti sedia kala.
"Waktunya makan, Tuan. Setelah itu kita akan kembali melanjutkan perjalanan." Katanya.
Aku menguap lebar dan mengangguk pelan. Aku tak mengucapkan apa-apa karena terlalu lelah untuk bicara. Kakiku bergetar kecil ketika akan bangkit. Namun, aku berhasil melangkah dan duduk di sebelah sang mantan Dewa Naga. Tanganku mengambil ikan pertama lalu memakannya dengan lahap. Bukannya aku rakus, ini berguna untuk memulihkan energiku (aku serius, aku sangat lelah seperti habis lari maraton tanpa istirahat ).
"Hati-hati dengan durinya, Tuan. Anda bisa tersedak nanti." Katanya memperingatkan.
"Ya, aku tahu." Mulutku melahap satu potong ikan lagi. Sejenak kutatap Magni yang juga tengah menyantap ikannya. Dia nampak tenang. Tidak seperti malam tadi. Magni bertingkah seolah tidak terjadi apa-apa. Yah, sebenarnya aku tidak mempermasalahkan hal ini, tapi sikap tenangnya membuatku penasaran. Daripada terus merasa seperti itu, lebih baik ku tanyakan saja padanya.
"Bagaimana keadaanmu? Kau sudah baikan?" Tanyaku.
Kukira dengan sikap tenangnya itu, Magni akan menjawab dengan santai. Akan tetapi dia Mendadak berhenti makan dengan kepalanya menunduk ke bawah. Seluruh tubuhnya bergetar kecil dan kuyakin jika aku mendengar suara terisak dari mulutnya. "Maafkan hamba...." Ucapnya pelan.
Mendengar itu aku ikut berhenti melahap ikanku. Mataku memandang tak percaya dengan apa yang telah kudengar. Tapi aku tak mau ikut terlarut dalam suasana ini. Aku lalu menghembuskan nafas perlahan dan kembali melanjutkan santapan pagiku. "Kau tidak perlu meminta maaf, itu salahku karena terlalu berlebihan."
Magni seketika berbalik dengan ekspresi muka yang kelihatan tidak setuju dengan ucapanku. "Tidak, itu bukan salah Tuan! Ini semua salah hamba. Hamba tidak bisa mengendalikan emosi hamba hingga mengamuk. Karena hamba hutan ini terbakar dan karena hamba juga Tuan menjadi kerepotan. Jadi jika ada orang yang patut disalahkan, itu adalah hamba." Katanya dengan rasa bersalah.
Magni tiba-tiba bersujud padaku sampai membuatku benar-benar terkejut bukan kepalang. "Tuan Reyhanaf, hamba mohon maafkan kecerobohan hamba."
Mulutku ternganga lebar dan tak bisa mengeluarkan kata-kata menyaksikan kejadian ini. Ini serius!? Seorang Dewa bersujud pada seorang manusia sepertiku!?
"H-hoi, angkat kepalamu! Kau tidak sepatutnya bersujud seperti itu." Kataku panik. Aku segera membantunya berdiri dan duduk tepat di hadapannya. "Apa yang kau lakukan? Untuk apa kau bersujud seperti itu?"
"Hamba sangat menyesal karena telah merepotkan, Tuan. Karena itu hamba memohon maaf dan ampunan darimu." Katanya.
Aku kembali menghembuskan nafas panjang dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal. "Kau tidak perlu melakukannya sampai seperti itu, Magni. Seorang Dewa tak sepatutnya bersujud pada seorang manusia seperti aku. Jika kau ingin meminta maaf, meminta maaflah dengan cara yang normal. Tidak perlu sampai bersujud begitu."
"T-tapi...."
"Aku mengerti kau merasa bersalah, tapi asal kau tahu, tanpa kau meminta maaf padaku, aku sudah memaafkanmu. Malahan, aku sama sekali tak marah padamu. Jadi kumohon jangan lakukan hal seperti bersujud lagi, kau mengerti?!"
Dia mengangguk perlahan. Aku tersenyum melihat anggukan itu. Sebenarnya selain tak pantas, aku juga malu melihatnya. Belum pernah aku melihat orang memohon maaf dengan cara bersujud seperti itu. Apalagi dia seorang Dewa. Itu Sangat memalukan.
"Kau tahu kenapa aku tak marah padamu?" Aku berkata lagi untuk membuatnya semakin tenang. "Itu karena aku mengerti perasaanmu. Mendengar ceritamu dan juga cerita dari Ayah sudah cukup membuatku dibakar api kemarahan. Kalau kau sampai mengamuk saking marahnya itu adalah hal yang wajar. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika tragedi yang kau alami menimpa diriku. Jadi kau tidak perlu meminta maaf."
Magni masih terdiam. Tetapi, walau begitu dia mulai melihatku, meski masih agak takut-takutan. "Kau jangan khawatir. Kita akan melewati ini bersama-sama. Kau adalah pelayanku dan juga pengikutku. Sudah menjadi kewajibanku untuk membereskan masalah yang menimpa anak buahku."
Aku berdiri. Dengan senyuman diwajahku, kuarahkan tanganku padanya, "aku akan membantumu. Kita akan cari Rex ad Inferos, menemukan kesembilan Dewa Sesat, dan menghabisi Nico untuk membalaskan dendammu. Setelah itu, kita akan mengembalikanmu ke khayangan agar kau bisa memulai kehidupanmu lagi dari awal. Bagaimana kedengarannya, apa kau setuju?"
Magni melihatku dalam-dalam. Aku bahkan bisa melihat pantulan wajahku di bola matanya yang sewarna batu ruby. Sepertinya kata-kata ku berhasil menggapainya. Sejenak dia tersenyum, lalu kemudian dia menangkap tanganku dan segera berdiri. Dengan tangan kami yang saling menggenggam ( lebih tepatnya bersalaman ), dia mulai berkata.
"Hamba setuju. Tuan Reyhanaf, terima kasih sudah mau memaafkan hamba sekaligus menyemangati hamba. Hamba benar-benar mengucapkan terima kasih pada Tuan. Hamba berjanji, hamba akan selalu setia pada Tuan hingga kita kembali ke khayangan. Sebagai pelayan dan pengikut pertama dari Tuan Reyhanaf Miracle, Hamba akan mengabdi serta mengikuti Tuan kemana pun Tuan pergi. Hamba tidak akan pernah menghianati Tuan bahkan jika jiwa Hamba sudah tidak ada lagi di dalam tubuh hamba. Aku, Magnitudo Fortissimorum Draco, dengan ini menyatakan sumpah setia padamu, Tuan baruku, Reyhanaf Miracle."
Seketika sebuah cahaya misterius muncul di punggung tanganku. Aku yang terkejut segera melepaskan genggaman tangan Magni dan menatap cahaya yang semakin terang tiap detiknya. Ternyata bukan cuma aku yang mengalaminya. Cahaya yang sama juga muncul pada Magni. Namun bedanya, cahaya itu muncul di dahi sang Naga.
Cukup lama cahaya itu ada di sana, sampai akhirnya meredup dan meredup hingga menghilang sepenuhnya. Saat kulihat punggung tanganku tempat di mana cahaya itu muncul, sebuah simbol aneh tertangkap oleh mataku dan membuat aku langsung terheran-heran.
Simbol itu berbentuk lingkaran dengan tiga simbol lingkaran kecil di dalamnya dan simbol segitiga di tengah-tengahnya. Pada ketiga lingkaran itu, ada tiga tanda yang berbeda. Ada yang berbentuk Naga, Matahari, dan Bulan. Tanda-tanda itu tampak memudar, kecuali untuk tanda berbentuk Naga. Warnanya terlihat lebih jelas daripada kedua tanda itu.
"A-apa ini?!" Kataku. Pandanganku beralih ke arah Magni dan melihat simbol yang sama pada dahinya ( hanya bagian paling atas dari ketiga lingkaran yang terlihat seperti punggung naga ).
[ Jawab : itu adalah simbol pengabdian abadi. Simbol itu akan muncul jika ada seorang pelayan, pengikut, atau seorang budak yang menyatakan sumpah setia menggunakan sihir. Simbol itu sangat sakral yang artinya simbol itu tidak akan bisa hilang dan hanya bisa hilang jika Tuan mereka mati. Si pelayan atau budak itu juga tidak akan bisa mengkhianati Tuan mereka. Jika mereka melakukannya, maka mereka akan mati oleh racun mematikan yang terkandung di dalam simbol itu. ]
Aku kembali memandang simbol yang ada di tangan kananku itu. "AI-Sys... itu artinya...."
[ Tuan Magnitudo telah membuang status Dewa-nya dan bersumpah untuk menjadi pelayanmu seumur hidupnya. Itu berarti dia tidak akan menjabat sebagai Dewa lagi walaupun dia berhasil mengalahkan Tuan Nico dan kembali ke khayangan. ]
Aku terkesiap. Magni meninggalkan status Dewa-nya hanya untuk menjadi pelayanku? Aku tak bisa berkata apa-apa lagi. Apa yang dipikirkannya? Bukankah dia mendapatkan gelar itu dengan susah payah? Tapi aku tidak boleh percaya begitu saja. Sebagai bukti aku akan memeriksa statusnya kembali. Katanya jika seseorang memutuskan untuk berganti profesi atau ras, maka status yang mereka miliki akan berubah. Baiklah, fokus. Tatap Magni lekat dan....
"Status!"
____________________________________
☆ Status ☆
☆ Nama : Magnitudo Fortissimorum Draco
☆ Usia : 7590 tahun
☆ Ras : Holy Ancient Fire Dragon
☆ Level : 4665
☆ Title : The Mighty Ancient Dragon Fire
☆ Hp : 2.376.000.000
☆ Mp : 1.859.997.000
☆ Magic :
¤ Absolute Hot Inducement
¤ Concept Destruction
¤ Disintegration
¤ Energy Erasure
¤ Fire Shield Penetration
¤ Incineration
¤ Inextinguishable Fire
¤ Memory Erasure
¤ Soul Destruction
¤ Soul Mutilation
¤ Space Depletion
¤ Temporal Erasure
¤ Absolute Attack
¤ Fire Manipulation
- Conceptual Fire Manipulation
- Cosmic Fire Manipulation
- Spiritual Flame Manipulation
¤ Flashover Inducement
¤ Heat Manipulation
¤ Incineration
¤ Nonexistence
¤ Omnicombustion
☆ Skill :
¤ ATK : 7.998.999
¤ INT : 2.749.000
¤ M. ATTACK : 1.955.000
¤ M. DEF : 1.300.000
¤ M. RESISTANCE : 900.000
¤ AGI : 2.800.887
¤ STR : 3.330.665
¤ VIT : 1.800.000
¤ HEALTH : 900.000
¤ DMG : 7.000.000
¤ DMG. RESISTANCE : 2.980.000
______________________________________
Ternyata benar, statusnya berubah drastis. Mulai dari ras, level, serta poin HP/MP, sampai skillnya menurun lumayan banyak. Kebanyakan poinnya turun sebanyak 1 juta. Bahkan Gift yang ada pada dirinya juga menghilang. Magni benar-benar meninggalkan status Dewanya dan memilih untuk menjadi pelayanku seumur hidupnya. Ini membuat situasinya semakin rumit. "Oi Magni, apa kau tahu kalau kau tidak akan menjadi Dewa lagi? Apa kau tidak masalah dengan itu?"
Dia terdiam. Dari ekspresi wajahnya ketara sekali jika Magni membenarkan ucapanku.
"Bagi hamba tidak masalah jika hamba tidak lagi menjadi Dewa. Itu hanyalah sebuah gelar. Hamba tidak membutuhkan itu. Setelah Ras hamba punah, hamba tidak punya apa-apa lagi untuk dibanggakan. Saat ini yang terpenting bagi hamba adalah melayani Tuan sebagai Tuanku dan membalaskan dendam hamba."
"Tapi aku tidak pernah ingin--"
"Hamba tidak peduli. Mau Tuan menjadi Dewa atau tidak hamba tetap akan mengikuti Tuan Reyhanaf. Sampai kapanpun walau itu artinya selamanya."
Aku sekarang yang terdiam. Aku tak menyangka jika Magni sebegitu pedulinya padaku. Dia bahkan rela kehilangan statusnya sebagai Dewa dan bersedia melayaniku walau aku tak mungkin memilih tinggal di khayangan jika semua ini berakhir. Tak terasa air mataku sedikit keluar melalui celah-celah mataku. Aku cukup terharu dengan ucapan sang naga. Tapi aku ini laki-laki yang jantan. Tak mungkin aku menangis hanya karena ini, apalagi di depan Magni. Tidak, kumohon air mata naiklah kembali agar aku tak mempermalukan diriku sendiri.
"Kalau begitu Tuan, ayo kita segera melanjutkan perjalanan kembali." Kata Magni tiba-tiba.
"Eh, okay. Baiklah." Ucapku. Aku berbalik dan menyeka air mataku cepat. Semoga Magni tak melihat ledakan emosi itu. "Kira-kira berapa jauh lagi jarak kita ke kota itu?"
Magni berpikir. "Sekitar..., 5 kilometer."
"Ternyata masih lumayan jauh, tapi setidaknya kita bisa sampai di sana sebelum Matahari terbenam." Aku menoleh ke arah Magni. "Kalau aku boleh tahu, kota apa yang akan kita datangi nanti?" Tanyaku.
"Namanya Moudha. Kota dari para ras Dark Elf. Kotanya megah dan sangat indah. Hamba pernah ke sana beberapa kali hanya sekedar berkunjung. Hamba kenal dengan Rajanya. Dia baik dan bijaksana, ditambah putrinya yang katanya seorang Demigod dari Dewi alam."
Oh, sepertinya itu kota yang menarik. Dari penggambaran yang dikatakan Magni, aku bisa mendapat kedamaian di sana. Setidaknya untuk beberapa minggu ke depan. Di tambah yang ku tahu ras Elf adalah ras yang rupawan dan penuh wibawa. Walaupun itu Dark Elf sekalipun. Aku sedikit berandai, apa di sana nanti aku bisa mendapatkan pacar, ya? ( ahaha, hanya becanda. Maklum, jomblo sejak lahir. ). "Kalau begitu apa yang kita tunggu? Ayo segera berangkat!" Kataku semangat.
Magni menempelkan satu tangan kanan di dada dan menunduk, "baik Tuan." Matanya beralih ke api yang masih menyala. Dia membuka telapak tangan kirinya dan secara ajaib api itu bergerak menuju telapak tangan Magni. Seperti terhisap, karena lama kelamaan api yang melayang menuju telapak tangan Magni perlahan menghilang hingga tak terlihat lagi.
Aku melihatnya dengan terkesima. Trik api itu sepertinya keren. Aku akan belajar itu nanti.
"Apa Tuan sudah siap?" Tanyanya tiba-tiba.
"S-siap, memangnya kenapa?"
"Kita akan terbang." Awan panas yang sangat kukenal mendadak muncul menyelimuti tubuh Magni. Aku yang terkejut mundur beberapa langkah kebelakang untuk memberi ruang bagi si naga. Setelah awan itu menghilang dan muncul sesosok naga sebesar gunung, aku maju dan memandangnya takjub ( sumpah aku tak pernah bosan dengan perubahannya. Terlalu menakjubkan ).
"AYO TUAN."
Aku mengangguk dan melompat tinggi ke punggungnya. Punggung Magni terdiri dari sisik, magma, dan api yang membara. Namun anehnya ketika aku duduk di atas punggungnya itu, aku tak merasakan panas sedikitpun.
[ Shield Protector aktif. Semua hawa panas dari api dan magma yang terdapat di sekitar anda berhasil dinetralkan. ]
Ya, aku sudah menduga itu. Aku lalu melompat sekali lagi dan mendarat tepat di atas kepala Magni.
"APA TUAN SUDAH SIAP?" Tanyanya.
"Sudah!" Jawabku mantap.
"KALAU BEGITU BERPEGANGLAH DENGAN ERAT!" Magni mengembangkan sayapnya lebar, dan dalam satu hentakan dahsyat, dia terbang melesat ke angkasa. Aku hampir saja terjatuh jika tak segera berpegangan erat pada rambutnya.
Magni terbang menuju langit cerah bagai roket luar angkasa. Sangat cepat hingga kupikir kulit-kulitku terkelupas dari tempatnya. Begitu dia menembus awan, sebuah pemandangan matahari terbit yang belum pernah kulihat sebelumnya terpampang di depan wajahku. Aku begitu takjub dengan pemandangan itu. Belum pernah kulihat pemandangan semenakjubkan ini sejak pendakian ke gunung Merapi dulu. Aku ingin menikmati pemandangan indah ini lebih lama dan Magni sepertinya menyadari itu. Karena mulai dari sini, Magni terbang sedikit agak santai. Tidak seperti tadi, dia terbang dengan perlahan ke arah timur menuju matahari. Ke tempat dimana sebuah kerajaan yang katanya sangat megah berdiri. Magni melirik kearah ku dan tersenyum seakan mengatakan, "apa kau senang tuan?".
Aku lalu membalas senyumnya dan kembali memandang penuh semangat ke arah matahari. Angin menerpa wajahku dan membuat pakaian serta rambutku berkibar ditiupnya. Sekelompok burung biru aneh bercula dan bersayap empat terbang disisi kami. Menemani petualangan kami yang baru saja dimulai. Tujuan kami jelas ingin mengakhiri semua omong kosong ini sesegera mungkin ( maaf, Yah. Bukan maksudku bersikap tidak sopan ). Ketika itu terjadi kuharap kedamaian yang kuidam-idamkan akan terwujud. Tapi kuyakin itu pasti terjadi. Karena bersama, kami pasti bisa melewati semua ini tanpa halangan, seperti yang kukatakan pada Magni sebelumnya.
Mataku lalu berpindah pada Magni dan Magni juga melakukan hal yang sama seperti yang kulakukan. Sedetik kemudian kami kembali memandang ke depan menuju matahari yang semakin meninggi ditiap menitnya. Di langit luas nan megah, Mulut kami berseru mengeluarkan kata-kata yang sama sebagai tanda dimulainya petualangan besar kami.
"PEMBERHENTIAN BERIKUTNYA, KOTA MOUDHA!"
Begitulah kami memulainya. Di langit yang cerah ini, seorang lelaki dari dunia lain dan seorang mantan Dewa naga dari khayangan memulai perjalanan panjang mereka demi mencapai tujuan masing-masing. Kepakan sayap besar sang naga membawa mereka terbang lebih tinggi dan menghilang dibalik awan tebal. Jejak kepulan asap yang berasal dari tubuh sang naga menghiasi langit sejenak, sampai akhirnya menghilang tak terlihat lagi.
*****
Author Pov....
Dari kegelapan hutan yang rimbun, suara aneh menggeram seram terdengar menggema. Ratusan monster yang terdiri dari makhluk berkaki empat ( ada yang delapan ), serta makhluk berwujud seperti burung besar dengan sayap kelelawar dan paruh panjang dengan barisan gigi bergerigi tajam, berjingkrak-jingkrak terkikik layaknya kuda perang. Selain mereka, ada pula makhluk besar berwajah mengerikan yang hanya mengenakan cawat untuk menutupi ******** mereka berdiri disamping kanan dan kiri monster-monster itu. Membawa berbagai senjata seperti tombak, pedang, panah, gada, palu, dan lainnya.
Mereka berbaris rapih, seakan menunggu sesuatu. Benar saja, dari dalam tenda kecil yang terbuat dari kulit binatang, seorang lelaki kekar bertanduk, berkulit hitam, mengenakan zirah silver, dan pedang besar berselimut api hitam, memandang sangar ke arah kumpulan monster dibelakangnya. Satu tatapannya sanggup membuat semua monster itu bergidik ngeri. Beberapa dari mereka ada yang bergetar karena tak tahan dengan aura yang dipancarkan oleh pria itu.
"UǝʇsıƖ sdooɹʇ ƖƖɐ! ( Semua pasukan dengarkan! )" Seru pria itu dengan bahasa yang tak dapat dimengerti.
Semua monster itu berseru keras dengan bahasa yang sama. "ɹıS sǝʎ! ( Ya, Tuan! )"
"Spuɐɥ ɹno oʇuı ƖƖɐɟ uoos ƖƖıʍ ɐɥpnoɯ ɟo ɹǝʍod ǝɥʇ ʎɐpoʇ ˙PƖoʇ ǝɹɐ ǝʍ sɹǝpɹo ǝɥʇ ɥʇım! ( Dengan titah yang diperintahkan pada kita. Hari ini kekuasaan dari Moudha akan segera jatuh ke tangan kita! )"
Semua monster kembali bersorak penuh kegembiraan sambil menghentak-hentakkan senjata mereka ( Kaki bagi hewan-monster besar di belakang mereka )
"Sı pƖɹoʍ ʞɹɐp ǝɥʇ ɟo ʎɯɹɐ ǝɥʇ ʇɐǝɹƃ ʍoɥ ɯǝɥʇ ʍoɥs ǝʍ ʎɐpoʇ! ( Hari ini kita tunjukkan pada mereka, sehebat apa pasukan dari dunia kegelapan! )"
Sekali lagi semua monster kembali bersorak sorai menyambut ucapan pria itu.
"Guıʞ ǝɥʇ ɟo ɹǝʍod Ɩɐǝɹ ǝɥʇ ɟo ƃuıuuıƃǝq ǝɥʇ sı ʎɐpoʇ! ( Hari ini menjadi awal bagi kekuasaan sang raja yang sesungguhnya! )"
Semua monster itu bersorak makin keras dan meriah.
"Soɹǝɟuı pɐ xǝɹ ǝʌıƖ ƃuoƖ 'ƃuıʞ ǝnɹʇ ǝɥʇ ǝʌıƖ ƃuoƖ ˙Aɔɐǝd ǝnɹʇ oʇ pɐǝƖ ƖƖıʍ 'ǝsɹǝʌıun sıɥʇ 'pƖɹoʍ sıɥʇ 'ǝƖnɹ sıɥ ɹǝpun osƖɐ puɐ ƃuıʞ ǝnɹʇ ǝɥʇ ɥʇıʍ ɹǝɥʇǝƃoʇ ˙Yʇnɹʇ ǝnɹʇ ǝɥʇ oʇ ɯǝɥʇ ǝpınƃ puɐ ʇno oƃ oʇ sn ɹoɟ ǝɯıʇ ǝɥʇ sı ʍou ˙Sn uɐɥʇ ɹǝʇʇǝq ou ǝɹɐ ʎǝɥʇ ʇɐɥʇ ǝzıƖɐǝɹ sn ǝʞɐɯ 'uǝddɐɥ sʎɐʍƖɐ ʇɐɥʇ sɹɐʍ ʇnq ˙Aɔɐǝd ɟo sɹǝʌoƖ ǝq oʇ pıɐs ǝɹɐ oɥʍ sǝʇıɹɔodʎɥ ǝɥʇ ɟo ǝsnɐɔǝq ǝɯıʇ ƃuoƖ ɐ ɹoɟ punoɹƃɹǝpun pǝƖıɐɾ uǝǝq ǝʌɐɥ ǝʍ ˙Aɔɐɹ ƃuoɹʇs ɐ ǝq ƖƖıʍ ǝʍ
˙Sn oʇ ʍoq ʎƖǝʇɐıpǝɯɯı ƖƖıʍ ǝsɹǝʌıun ǝɹıʇuǝ ǝɥʇ uǝɥʇ 'ɯƖɐd s,ƃuıʞ ǝɥʇ uı ǝuo ǝɯoɔǝq ƖƖɐ uǝɥʍ ˙Wıɥ dıɥsɹoʍ oɥʍ ǝsoɥʇ puɐ ssǝuʞɹɐp ɟo ƃuıʞ ǝɥʇ ɟo puɐɯɯoɔ ǝɥʇ ɹǝpun ǝq ƖƖıʍ ƖƖɐ ˙Jxǝu ǝq ƖƖıʍ pƖɹoʍ ǝƖoɥʍ ǝɥʇ uǝɥʇ 'ɯǝɥʇ ǝnpqns ʎƖƖnɟssǝɔɔns ǝʍ uǝɥʍ ˙Aɔɐɹ ʞɹɐp ǝɥʇ ɟo Ɩɐʌıʌǝɹ ǝɥʇ ɟo ƃuıuuıƃǝq ǝɥʇ sı ɯopƃuıʞ ɔıʇsǝɾɐɯ ǝɥʇ ɟo ƖƖɐɟ ǝɥʇ 'uo ʇuǝɯoɯ sıɥʇ ɯoɹɟ 'ʎɐpoʇ ɯoɹɟ ˙Spoƃ ǝɥʇ uǝʌǝ ʇou 'sn doʇs ƖƖıʍ ƃuıɥʇou! ( Tidak akan ada yang bisa menghentikan kita, bahkan para Dewa-Dewi sekalipun. Mulai hari ini, mulai detik ini, kejatuhan dari kerajaan yang megah menjadi awal bagi kebangkitan ras kegelapan. Saat kita berhasil menundukkan mereka, maka seluruh dunia yang akan menjadi berikutnya. Semua akan di bawah perintah sang raja kegelapan dan bagi mereka yang memujanya. ketika semua menjadi satu di telapak tangan sang raja, maka seluruh alam semesta akan segera menunduk pada kita.
Kita akan menjadi ras yang kuat. Sudah cukup lama kita terpenjara di bawah tanah disebabkan para orang munafik yang katanya pencinta kedamaian itu. Tapi peperangan yang selalu terjadi, membuat kita sadar jika mereka tidak lebih baik dari kita. Kini saatnya kita untuk keluar dan membimbing mereka pada kebenaran sejati. Bersama dengan raja yang sesungguhnya dan juga bersama di bawah kekuasaannya, dunia ini, alam semesta ini, akan menuju pada perdamaian sejati. Hidup sang raja sejati, hidup Rex ad inferos! )" Seru pria itu keras.
Semua monster yang mendengar seruan si pria kembali bersorak secara bersamaan hingga membuat seluruh hutan bergema. "Soɹǝɟuı pɐ xǝɹ ǝʌıƖ ƃuoƖ 'ƃuıʞ ǝnɹʇ ɐ ǝʌıƖ ƃuoƖ! ( Hidup Raja sejati, Hidup Rex ad Inferos! )" Seru mereka berulang-ulang.
Pria itu tersenyum pada pasukannya. Dia lalu berbalik menatap sebuah kerajaan megah yang berdiri kokoh di hadapannya. Senyuman yang lebih ke seringai seram itu mengembang lebar tiap detiknya. Memperlihatkan gigi tajam nan runcing miliknya. Dia mengarahkan pedang apinya ke depan dan mulai berkata.
"Mou suıƃǝq 'ǝɔɐɹ ʞɹɐp ǝɥʇ ɟo Ɩɐʌıʌǝɹ ǝɥʇ! ( kebangkitan ras kegelapan, dimulai sekarang! )"
Bersambung....