
[ Aku akan mengambil alih tubuhmu! Bagaimana, terdengar menyenangkan bukan? ]
Makhluk itu tersenyum sembari memperlihatkan deretan gigi taringnya yang tajam padaku. Aku hanya bisa terpaku menatapnya. Dia ingin tubuhku. Itu artinya aku dalam bahaya besar. Kenapa aku bilang begitu? Karena aku tidak bisa mendeteksi energinya sama sekali. Hanya ada satu jawaban kenapa aku tak bisa mendeteksi energinya, dia lebih kuat dariku. Tidak, bahkan lebih kuat dari pada makhluk yang telah kutemui selama aku hidup di dunia ini. Aku saja masih bisa merasakan energi Ayah walau sedikit samar-samar. Tapi makhluk ini.
[ Itu benar, makhluk lemah. Aku lebih kuat dari makhluk yang kau sebut sebagai Dewa itu. Para Archangel saja masih ada di bawahku. ]
Sial, dia bisa membaca pikiranku!
[ Dengarkan aku, Rey. Aku tidak mau bertele-tele padamu. Serahkan saja tubuhmu padaku dan jangan melawan, kau mengerti? ]
Aku mencoba berdiri. "U-untuk apa kau ingin mengambil alih tubuhku?"
[ Untuk apa ya... Tentu saja untuk bersenang-senang. ]
"A-aku tidak mengerti."
Makhluk hitam itu merubah posisi duduknya.
[ Begini, coba kau bayangkan jika kau terjebak di ruangan seperti ini sendirian. Bosan dan membuat stress bukan? Itulah yang kurasakan. Aku ingin hidup bebas, keluar dari tempat menyedihkan ini dan melihat dunia yang sekarang. Lagipula, aku punya satu urusan yang belum kuselesaikan. Karena itulah aku ingin mengambil alih tubuhmu ini. ]
"Urusan yang belum selesai? Apa maksudmu dengan urusan yang belum selesai."
Makhluk itu kembali terseyum mengerikan.
[ Kau pasti tahu nama Rex ad Inferos, kan? ]
Aku tersentak. Bagaimana dia bisa tahu soal Rex ad Inferos?
[ Tentu saja aku tahu. Si palsu itu adalah aib bagi kaumku. ]
Aku merasa bingung. "Aib?"
[ Sepertinya aku harus menceritakan padamu kisah kami sebelum kau mengenal siapa lawanmu itu. ]
"Tunggu, kau akan bercerita?"
[ Ya, tentu saja. Aku tidak mau kau yang melakukannya. Monologmu terlalu panjang dan memakan waktu. Bisa-bisa episode ini habis lebih dulu sebelum aku sempat mengambil alih tubuhmu. ]
Aku menggaruk kepala bingung. Apa maksudnya itu? Entahlah, aku juga tidak mengerti apa yang dia bicarakan. Makhluk itu selalu membicarakan sesuatu yang tak jelas. Namun tidak lama kemudian dia mulai menceritakan cerita yang pastinya sangat membosankan untuk ku dengar.
[ Ini dimulai sekitar triliunan tahun yang lalu, saat Tuhan menciptakan alam semesta untuk pertama kalinya. Alam semesta ini bernama Universe Prime atau alam semesta utama yang menjadi tempat tinggal Tuhan. Di alam semesta itu juga Dia menciptakan makhluk dan ras yang disebut sebagai Prime. Prime ini adalah Ras pertama yang diciptakan Tuhan. Mereka adalah makhluk abstrak tak bertubuh, tak berjenis kelamin, yang mempunyai tugas untuk melayani Tuhan sebelum adanya Malaikat.
Selama bermilyar-milyar tahun, mereka melayani Sang Pencipta membuat berbagai dimensi alternatif dan alam semesta baru. Menjaga makhluk ciptaan-Nya yang lain sekaligus juga sebagai penjaga keseimbangan alam semesta agar tetap seperti seharusnya. Akan tetapi ada satu Prime yang tak puas dengan itu semua. Dia adalah Eam Fueris Expleta.
Eam merasa jika dia sudah terlalu lama melayani Tuhan. Dia ingin sekali menduduki singgasana-Nya dan menjadi penguasa seluruh alam semesta. Untuk itu agar keinginannya bisa terwujud, dia menghasut para Prime lain untuk menggulingkan kekuasaan Tuhan. Akan tetapi pemimpin dari para Prime tidak menyetujuinya. Dia menolak mentah-mentah semua usulan dari Eam.
Eam yang frustasi mulai melakukan cara ekstrim. Dia mengumpulkan semua Prime yang pro pada dirinya dan melakukan kudeta pada pemimpin mereka, Sang Rex ad Inferos. ]
Tunggu dulu. Rex ad Inferos? Aku kembali tersentak. "Bukankah dia penjahatnya di sini? Tapi kenapa dia menolak rencana Eam untuk menggulingkan kekuasaan Tuhan?" Tanyaku.
[ Karena Rex ad Inferos yang itu, bukanlah Rex ad Inferos yang sebenarnya. ]
Aku semakin bingung. "Apa maksudmu? Aku semakin tidak mengerti."
[ Makanya dengarkan dulu aku bercerita. Ehm, seperti yang kubilang, Eam yang ingin menggulingkan kekuasaan Tuhan dan ditolak oleh Rex ad Inferos melakukan kudeta pada pemimpin mereka itu hingga menimbulkan peperangan. Peperangan ini melibatkan seluruh ras Prime yang ada di semesta dan membuat ras Prime terpecah menjadi dua kubu. Kubu pertama yang dipimpin oleh Rex ad Inferos bernama Bonum dan kubu kedua yang dipimpin oleh Eam Fueris Expleta bernama Malum.
Akibat dari perang ini seluruh alam semesta terkena dampaknya. Setengah dari alam semesta yang diciptakan beserta dengan kehidupan di dalamnya, hancur dan lenyap. Tidak terkecuali dari ras Prime sendiri. Korban yang berjatuhan sudah tak terhitung lagi banyaknya.
Peperangan yang berlangsung alot selama kurang lebih 3 milyar tahun akhirnya sampai pada titik akhir. Pihak Eam memenangkan peperangan dan Eam naik menjadi pemimpin baru para Prime setelah berhasil membunuh Rex ad Inferos. Akan tetapi menjadi pemimpin baru para Prime membuat akal sehat Eam semakin terkuras. Selain terobsesi dengan singgasana Tuhan, dia mengganti namanya menjadi Rex ad Inferos dengan alasan sebagai tanda penghormatan. Dia juga tak segan-segan memerintahkan para pengikutnya untuk mengeksekusi Prime yang masih pro pada pemimpin mereka yang lama. Kebanyakan dari mereka di bunuh langsung, Tapi tidak sedikit juga yang dibuang ke Dimensi Limbo sebagai bentuk penyiksaan. ]
Aku terdiam mendengar ceritanya. Tidak kusangka jika Rex ad Inferos adalah orang baiknya sementara Eam yang mengambil alih nama serta kepemimpinan Rex adalah orang jahatnya. Ini menarik sekaligus membuatku penasaran. Satu lagi misteri Altars yang patut kuselidiki ( walau ini sebenarnya bertentangan dengan tujuanku hidup di dunia ini ).
Aku yang telah duduk di lantai menatap makhluk itu penuh harap. Kalau aku ingin menyelidiki ini lebih lanjut, aku harus mendengarkan ceritanya lebih seksama. Namun sayangnya semua itu harus sirna saat makhluk tersebut mendadak diam membisu. Aku menunggu lama untuk mendengar kelanjutan ceritanya kembali, tapi makhluk itu tak kunjung melakukannya. Aku yang penasaran mencoba bertanya padanya. "Apa yang terjadi? Ayo lanjutkan."
Tetapi bukannya melanjutkan cerita yang menggantung itu, dia malah mengangkat kedua bahu sambil berucap,
[ Hanya itu. ]
Seketika mataku langsung membelalak lebar dengan mulut terbuka. Apa-apaan itu? Apa dia serius!? Masa tidak ada kelanjutannya? Tidak mungkin ceritanya berakhir sampai di situ. Pasti ada keterangan tentang nasib para Prime sejak peperangan besar tersebut. Untuk para Bonum aku setuju, tapi untuk para Malum yang memenangkan perang? Sudah pasti ada cerita tentang mereka. Jika keberadaan mereka sudah ada sejak alam semesta utama diciptakan triliunan tahu lalu, pastinya mereka tidak akan digantikan oleh Malaikat dan masih tetap menjaga alam semesta sesuai perintah Tuhan. Secara mereka abadi dan kekuatan mereka pasti satu level di bawah Tuhan.
Namun jika cerita selesai karena keberadaan mereka dihapuskan akibat Eam yang mencoba menjatuhkan kekuasaan Sang Pencipta, eksistensinya pasti sudah lenyap dari alam semesta. Namun kehadiran Rex ad Inferos yang ternyata adalah Eam yang menyamar, menjadi bukti jika eksistensi mereka masih ada. Walau sedikit tapi tentu masih ada.
Mataku melirik ke arah makhluk itu. "Ya contohnya...."
[ Aku, kan? Ya kau benar. Aku adalah salah satu Prime yang selamat dari pemusnahan besar milyaran tahu lalu. Jika aku boleh bilang itu disebut sebagai kiamat pertama atau The First of Judgement day. Tuhan yang marah karena ulah kami melenyapkan semua alam semesta dan kehidupan serta semua dimensi alternatif yang kami buat. Sebagai gantinya, Dia menciptakan kembali seluruh alam semesta dengan kekuatan-Nya sendiri. Dia juga menciptakan pengabdi baru yang disebut sebagai Malaikat. ]
"Lalu bagaimana caramu selamat?" Tanyaku penasaran.
[ Saat kiamat berlangsung, hanya ada satu alam semesta dan satu dimensi yang tidak dilenyapkan. Yaitu Universe Prime dan dimensi Limbo. Aku selamat berkat bawahan Eam menangkapku dan mengirimku ke dalam dimensi Limbo. ]
Aku mengangguk-angguk paham. "Tapi kalau kau dikirim ke dimensi Limbo, itu berarti kau berasal dari kubu Bonum. Seharusnya, Prime yang berada di kubu itu tidak mengambil alih tubuh orang---"
Dia mendadak memotong ucapanku hanya dengan satu tangan terangkat setengah. Anehnya mulutku seketika tertutup dan suaraku tiba-tiba tak mau dikeluarkan.
[ Sayangnya pemikiranmu salah, manusia. Aku bukan berasal dari kubu Bonum, melainkan berasal dari Kubu Malum. ]
Aku terkejut. Jadi dia berasal dari kubu Malum. Pantas kelakuannya seperti ini. Tidak heran dia ingin mengambil tubuhku. Tapi kenapa dia ingin membunuh Eam jika dia berasal dari kubunya.
[ Yah, ceritanya panjang. Lagipula aku tidak ingin membahasnya. Tapi intinya adalah dia telah menghancurkan hidupku, dan aku ingin mengambil pembayarannya sekarang juga. Karena itu aku harus mengambil alih tubuhmu itu dan pergi membunuh makhluk sialan itu. ]
Dia berdiri. Jarinya menjentik dan kursi yang tadi dia duduki langsung menghilang. Walau dia tidak punya mata, aku bisa merasakan tatapan tajamnya itu yang sangat menusuk. Lalu tiba-tiba dia mengeluarkan aura besar yang sangat mengerikan hingga membuat seluruh tubuhku bergetar.
[ Aku sudah menceritakan semuanya dan kuharap kau mau berkerja sama. Karena jika tidak, aku akan mengambil tubuhmu dengan sedikit paksaan. Dan sebagai catatan untuk kau tahu, sebenarnya aku lebih suka menggunakan cara kedua. Itu sedikit membuatku terhibur. ]
"T-tunggu!" Kataku cepat. Syukurlah aku dapat berbicara lagi. "Ki-kita bisa membicarakan ini."
[ Saat bicara telah selesai. Kini waktunya untuk bertindak. ]
Tanpa di duga, dalam sekejap mata dia menghilang. Aku yang terkejut segera menoleh ke segala arah. Namun tak kunjung menemukannya. Ini gawat. Aku harus keluar dari sini. Jika dia menangkapku maka habislah aku. Haah, kenapa ingin hidup Damai saja susahnya minta ampun. Ada saja kejadian yang menghalangiku untuk dapat mewujudkan keinginan sederhanaku. Diserang naga lah, diserang monster lah, dan sekarang, di serang oleh makhluk overpower yang datang dari dimensi lain. Sial sekali nasibku.
[ Ya, nasibmu memang sangat sial. ]
Semua berlangsung cepat sampai aku tak menyadari jika tangan dingin itu telah menangkap leherku dan mengangkatku ke atas. Di tengah nafasku yang kian terasa sesak, mataku melirik ke arah Makhluk yang menyeringai seram penuh kemenangan.
"A... Ayolah...."
[ Maaf kawan, bukan urusan pribadi. Suatu hari kau akan mengerti kenapa aku melakukan ini. ]
Sial ini semakin sesak. Aku harus mencari cara untuk dapat lolos dari cekikannya. Hidupku dipertaruhkan di sini. "H-hei... Dengarkan aku dulu... Bagaimana jika kita buat... Kesepakatan...."
Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku tidak ingin terkurung di sini. Aku masih punya impian yang belum kuselesaikan ( pastinya kalian tahu impianku itu, kan? ). Aku mencoba menendang-nendang, melepaskan cengkraman tangannya pada leherku, dan menggeliat sebisaku untuk lepas dari makhluk ini. Namun usahaku sia-sia. Dia lebih kuat dariku. Bahkan sihir yang menjadi satu-satunya harapanku tidak dapat menolongku kali ini. Sihirku mendadak hilang dan membuatku tak bisa melakukan serangan padanya. Kurasa dia menggunakan efek penetralisir seperti Varna. Ini sangat gawat! Benar-benar gawat!
[ Percuma, kau tidak akan bisa lepas. Lebih baik kau menyerah dan cepat berikan tubuh itu padaku. ]
Argh... Sial. Ini sudah berakhir. Aku bisa merasakan kesadaranku yang perlahan menghilang. Apa aku akan kalah dan berakhir di sini sendirian? Jangan bercanda! Aku juga masih punya urusan yang belum selesai. Aku tidak ingin terjebak di sini selamanya. Teman-temanku membutuhkanku di luar sana dan aku juga punya janji yang harus kutepati. Aku belum boleh menyerah. Belum. Aku.... Akan mewujudkan impianku! Karena itu aku tidak akan membiarkan makhluk ini berbuat seenaknya dengan mengambil alih tubuh yang seharusnya menjadi milikku.
"Kau... Tidak akan bisa... mendapatkan tubuh ini... TANPA SEIZINKU!!!"
Zrat!
Tiba-tiba saja lengan makhluk itu langsung terpotong tanpa sebab. Kakiku kembali mendarat di lantai dan dengan segera aku melepaskan potongan lengan yang masih mencengkram leherku serta membuangnya jauh-jauh. Aku kembali mengatur nafasku yang sempat terasa sesak. Itu tadi hampir saja. Telat sedikit aku pasti sudah bertukar tubuh dengannya. Kakiku masih terasa lemas. Aku bersyukur aku bisa selamat. Tapi siapa yang telah memotong lengan makhluk hitam itu? Aku tidak mungkin melakukannya. Makhluk itu sudah pasti juga bukan yang melakukannya. Dia hanya diam seribu bahasa sembari menatap lengannya yang terpotong. Kepalanya lalu mendongak ke arah atas dan gerakan bibir yang menunjukan rasa tidak suka muncul di wajahnya. Aku mengikuti arah tatapannya. Di sana, di atas Pilar berwarna putih itu, berdiri seorang gadis kecil dengan dua benda terbang yang mengelilinginya. Kedua benda itu terlihat seperti drone dan terus mengeluarkan bunyi Beep layaknya komputer.
"S-siapa dia?" Ucapku pelan. Aku lalu melirik makhluk hitam itu. Dia nampak kesal. Ekspresi tidak sukanya tampak dengan jelas. Ini terlihat dari lengkungan bibirnya yang semakin ke bawah.
[ Kapan kau akan berhenti menggangguku, AI-Sys! ]
Apa aku tidak salah dengar? Dia AI-Sys? AI-Sys si wanita komputer misterius itu? Dia terlihat seperti seorang gadis kelas enam SD bagiku. Woah, ternyata hari ini banyak sekali kejutan ya.
[ Primus Rege Potestatem, kau telah menyalahi aturan dengan membajak sistem suci dan masuk ke dalam dimensi yang seharusnya tak kau masuki. Untuk itu kau harus diberi sanksi dengan di penjara di dalam sini untuk waktu yang sangat lama ]
[ Meh, peduli apa aku dengan sanksi bodohmu itu. Kau tidak bisa mengekangku di sini selamanya. Asal kau tahu aku bisa membunuhmu hanya dalam jentikkan jari saja. ]
[ Itu mustahil. Kau tidak bisa melakukannya karena kekuatanmu hanya dapat bekerja kepada makhluk hidup. Sedangkan aku adalah sebuah sistem yang diciptakan oleh Tuan Miracle untuk membimbing dan menemani Tuan Reyhanaf dalam menghadapi masalahnya. Kemungkinan kau berhasil memperngaruhiku dengan ucapan mutlakmu adalah sekitar : 0% ]
Tangan makhluk hitam itu terlipat di dada. Lengkungan di mulutnya semakin ke bawah saat mendengar ucapan AI-Sys.
[ Kau kira kekuatanku hanya terbatas pada kata-kata? Aku ini seorang Prime dengan kekuatan satu tingkat di bawah Tuhan. Jika aku mau, maka aku bisa menghancurkanmu dengan mudah! ]
Mendengar itu mata AI-Sys langsung menyala terang dan mulai sibuk menganalisa makhluk yang ada di depannya.
[ Ancaman dideteksi... Subjek : seorang Prime... Level kekuatan : tidak terbatas... Memuat persentase kemenangan : 9,5%... Memuat senjata yang sesuai : Massive Big Bang Explosion... Presentase keberhasilan : 86%... Senjata di pilih dan siap digunakan ]
Dengan wajah dingin tanda tak suka, AI-Sys menciptakan sebuah senjata laser besar dari tangannya. Dia lalu mengisi senjata itu dengan energi dan menodongkannya ke arah makhluk hitam itu.
Makhluk hitam itu juga nampak tidak senang mendengar ucapan AI-Sys. Baginya itu seperti sebuah tantangan bertarung. Dia menurunkan kedua tangannya dan seketika aura mengerikan yang sebelumya pernah kurasakan menyebar luas bagai kabut asap.
[ Oh, jadi kau memutuskan untuk melawanku. Daripada melarikan diri kau memutuskan untuk melawanku? Baiklah, Itu tidak masalah. Paling tidak aku bisa merasakan kesenangan lebih awal sebelum aku mendapatkan kesenangan yang sesungguhnya. Itung-itung sebagai bonus. ]
Oke ini sudah terlalu jauh. Jika mereka kubiarkan maka yang ada aku yang akan hancur di sini. Aku harus menghentikan mereka berdua. Tapi pertama-tama aku harus mengambil perhatian si Rege ( itukan namanya? ) terlebih dahulu. Dia adalah kunci utamanya aku bisa keluar dari sini. Ini saatnya bagi sang tokoh utama untuk kembali memainkan perannya.
"Hentikan kalian berdua!" Seruku. Untungnya ini berhasil. Mereka berhenti saling mengancam dan berpaling ke arahku. "Tidak perlu ada pertarungan. Ini bisa kita selesaikan dengan baik-baik."
[ Sudah kubilang padamu, waktu negosiasi sudah habis. Lebih baik sekarang serahkan saja tubuhmu padaku agar aku bisa segera keluar dari dimensi ini sekarang juga. ]
[ Jangan dengarkan dia Tuan Reyhanaf. Makhluk abstrak sepertinya tidak lain hanyalah sebuah parasit yang harus dibasmi ]
[ Apa katamu cewek berotak 4004 Microprocessor!!? Kau mau kuhancurkan? ]
Aura mengerikan Rege kembali lagi. Kali ini lebih besar dari pada yang tadi.
[ 4004 Microprocessor... Kau kejam. Akan kupastikan kau hancur menjadi debu dengan ini ]
AI-Sys kembali mengangkat senjatanya dan menodongkannya ke arah Rege.
Haah... Serius nih? Kenapa kewibawaan mereka mendadak menghilang, ya? Mereka lebih terlihat seperti anak-anak yang bertengkar. Bedanya mereka punya kekuatan super besar yang sanggup menghancurkan satu alam semesta. Perubahan sifat yang dramatis.
"Sudah cukup! Tidak bisakah kalian menghentikan pertarungan kekanakan kalian." Aku lalu menatap Rege. "Hei, Rege aku punya kesepakatan denganmu. Dengarkan aku dan jangan menyela. Aku jamin kau akan tergiur dengan kesepakatan ini."
Rege menghentikan auranya dan mulai menatapku. Dia kembali melipat kedua tangannya di dada.
"Kau boleh mengambil tubuhku dan membalas dendam pada Eam, asalkan dengan satu kondisi. Aku menginginkan akses kesemua kekuatanmu dan kau hanya boleh memakai tubuhku jika aku mengizinkannya."
[ Manusia konyol. Kau pikir aku akan-- ]
"Lalu setelah semua ini selesai aku akan mengeluarkanmu dari dalam dimensi ini. Bagaimana?"
Rege terdiam. Dia terlihat terkejut dengan ucapanku.
[ Kau paham dengan apa yang akan terjadi jika kau mengeluarkanku dari sini? ]
Aku tak bisa berkata apa-apa untuk menjawab pertanyaannya itu. Sejujurnya aku juga tidak tahu apa yang terjadi jika dia keluar dari dimensi ini. "Kau akan menghancurkan alam semesta?" Aku menjawab asal. Rege hanya bisa menepuk jidatnya mendengar jawabanku itu.
[ Jika Tuan mengeluarkan dia dari sini, maka Tuan akan mati. Itu terjadi karena dimensi ini adalah tubuh Tuan sendiri. Ketika dia keluar, maka otomatis Tuan yang sebagai avatarnya akan kehilangan banyak energi dan jika Tuan tidak sanggup mengatasinya maka Tuan akan mati. Sama halnya dengan ibu yang tengah melahirkan seorang bayi. ]
Kali ini AI-Sys yang menjawabnya. Aku tertegun. Aku tidak menyangka jika itu resiko megeluarkannya dari dalam dimensi ini. Tapi ini juga satu-satunya cara. Cara agar tubuhku masih dalam kendaliku. Jujur saja, aku tidak bisa memaksanya dengan kekerasan. Aku akan kalah sebelum mencoba. Cara ini lebih baik daripada bertarung dengannya. Tidak mungkin dia tidak akan tergiur untuk keluar dari sini. Maksudku itukan hal yang selama ini diidam-idamkannya.
[ Jadi bagaimana? Apa kau masih mau melakukan kesepakatan ini? Aku menawarkan padamu untuk terus hidup, tapi kau malah menawarkan nyawamu padaku. Sekarang setelah mengetahui itu semua apa kau masih mau melakukannya? ]
Aku berpikir sejenak. Yah, setidaknya aku masih bisa merasakan kehidupan tanpa gangguan sampai waktunya tiba nanti. Lagipula semua makhluk yang bernyawa pasti mati. Aku sudah melihat ini dari film tentang manusia yang dapat hidup abadi. Itu tidak menyenangkan karena aku akan merasa kehilangan ketika melihat semua keluarga serta teman-temanku mati semetara aku sendiri masih hidup. Sudah pasti aku akan kesepian.
"Tentu saja. Hei, ini ideku ingat. Untuk apa aku merasa ragu dengan ideku sendiri. " Kataku mantap.
Rege menghela nafas. Dia lalu kembali duduk di kursi yang muncul secara tiba-tiba di belakangnya.
[ Jika memang tawarannya seperti itu maka aku tidak punya pilihan lain selain menerimamya. Tapi camkan ini baik-baik suatu hari nanti. Jangan menyesal dengan pilihanmu dan jangan pernah mencoba untuk menipuku saat waktunya sudah tiba. Jika kau melakukan itu, maka aku akan pastikan kau akan hidup dalam penderitaan seumur hidupmu. Ingat itu! ]
Aku menelan ludah. Dia serius. "Aku mengerti. Aku tidak akan berbohong atau menipumu." Kataku. Namun AI-Sys mendadak melompat dan mendarat di dekatku.
[ Tuan Reyhanaf, apa anda yakin? ]
Aku menoleh ke arahnya. "Tentu saja aku yakin. Lagipula ini satu-satunya cara agar dia tidak mengambil alih tubuhku sepenuhnya."
Dia diam sebentar lalu mengangguk pelan.
[ Apapun pilihan Tuan, aku akan tetap mendukungmu. Karena aku adalah sistem yang selalu mendukung setiap keputusanmu ]
Aku tersenyum senang mendengar kata-katanya. Untunglah dia setuju. Kukira dia akan menolak keputusanku dan kembali berkelahi dengan Rege. Pandanganku lalu beralih ke arah Rege yang duduk santai dengan kepalan tangan yang menopang kepalanya.
[ Sekarang karena kita sudah sepakat, kurasa aku akan bekerja padamu untuk sementara waktu. Jadi sebagai tugas pertamaku, apa yang harus kulakukan, Bos? ]
Aku kembali tersenyum. "Tentu saja. Masuk ke dalam tubuhku dan selamatkan Moudha dari monster yang menyerangnya."
Bersambung....