Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 26 : Bertemu kembali.



Dewi Lignum terbaring di tempat tidur itu tak bersemangat. Matanya yang bengkak karena terus mengeluarkan air mata menatap langit-langit kamar yang hanya dihiasi lampu gantung antik. Dia mendesah beberapa kali, lalu kembali tidur dalam posisi tertelungkup. Sejak Reyhanaf meninggalkan kapal dan memilih dirinya sendiri sebagai umpan misil, Dewi Lignum seperti telah kehilangan semangat hidup. Matanya yang biasanya memancarkan cahaya kini redup. Mungkin secara fisik dia sehat, tapi tidak dengan hatinya. Bagian itu telah terluka parah. Satu-satunya cara menyembuhkan luka itu adalah dengan melihat Reyhanaf lagi. Melihat lelaki itu ada di sampingnya sembari menunjukkan ekspresi tersipu malu seperti yang sudah sering dia lakukan kala sang Dewi berada di dekatnya. Itulah obat untuk menyembuhkan luka yang menggores hatinya. Tapi dia tidak tahu apakah obat itu akan kembali atau tidak. Entah Reyhanaf selamat atau tidak, Sang Dewi hanya bisa berharap jika pujaannya itu baik-baik saja. Walau matanya sempat melihat cahaya ledakan dan awan jamur yang membumbung tinggi itu, dia tidak henti-hentinya berharap dan berdoa untuk keselamatan Reyhanaf.


Sang Dewi lalu bermaksud untuk tertidur dan berharap semua yang dia lewati sekarang hanyalah sebuah mimpi, sampai tiba-tiba dia terbangun oleh suara ledakan dahsyat yang berasal dari luar jendela disertai getaran gempa yang begitu mengguncang. Tanpa berlama-lama Dewi Lignum segera membalikkan badan dan menggapai gorden yang menutupi jendela dibelakangnya untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi. Tangannya secara cepat menyibak gorden itu dan memperlihatkan sesuatu yang sangat mengejutkan.


Seekor naga besar dengan api hampir menutupi seluruh tubuhnya tengah mengamuk di pusat kota. Naga itu menyemburkan apinya ke sana kemari dengan tubuh linglung yang oleng. Seperti seseorang yang habis menenggak minuman keras. Tidak jarang dia mencoba terbang, namun terjatuh terjerembab ke tanah dan menyebabkan bangunan serta rumah-rumah penduduk rusak karenanya.


"Apa-apaan itu!!?" Ucap Dewi Lignum dengan wajah terkejutnya. Pandangannya lalu beralih ke arah sesuatu, atau lebih tepatnya ke seseorang yang sedang melayang di samping si Naga. Dia terlihat tengah berusaha menenangkan naga itu, bersama dengan seorang lagi disampingnya. Berbeda dengan orang yang pertama yang berusaha mati-matian melindungi para penduduk kota, dia nampak sedang tertawa terpingkal-pingkal sembari memegangi perutnya. Berkali-kali orang yang tertawa itu dimarahi oleh orang yang satunya, tapi sepertinya dia tidak peduli.


Mata Dewi Lignum menyipit agar bisa melihat dengan jelas siapa orang itu adanya. Dan ketika dia sudah mendapat gambaran jelas, Sang Dewi kembali terkejut. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangan sementara air matanya meleleh turun ke pipinya. Tubuhnya bergetar dan mulutnya beberapa kali mengucapkan kata syukur walau suaranya itu dicampur oleh sesegukan akibat tangisannya.


Dengan air mata yang masih mengalir, Dewi Lignum lalu membuka jendela itu dengan wajah yang secerah mentari ( meski saat itu sudah malam ). Dia kemudian meloncat keluar jendela dan terbang secepat yang dia bisa menuju orang yang terlihat masih memarahi orang disampingnya.


Sementara itu di sisi lain, di tempat sang Naga berada, Reyhanaf nampak merasa jengkel. Bukan hanya


pada Magni, namun pada lelaki remaja berusia sekitar 15 tahunan di sampingnya. Dia tak berhenti tertawa sejak Magni mabuk usai tantangan konyol itu. Pada awalnya semua baik-baik saja. Reyhanaf sendiri tidak mempermasalahkannya. Tapi saat pertandingan dimulai, barulah Reyhanaf merasa menyesal.


Ternyata sang Dewa Naga Agung tidak kuat meminum Alkohol. Akibatnya, Magni langsung mabuk ketika baru menenggak 2 botol minuman. Itu juga botol ukuran kecil. Itulah dimana saat bencana ini bermula. Magni yang mabuk berat tidak sengaja berubah menjadi wujud aslinya sehingga bar tempat mereka bertiga minum hancur berantakan.


Keadaan ini semakin di perparah dengan banyaknya orang-orang yang ada di sekitar mereka. Reyhanaf harus bekerja keras untuk menyelamatkan para penduduk agar tidak terjadi korban jiwa.


"Elum! Kenapa kau duduk-duduk saja!? cepat bantu aku!" Perintah Reyhanaf yang terlihat kelabakan mengurusi amukan Magni.


"Untuk apa? ini sangat lucu melihat orang tua itu sempoyongan seperti itu." Ujar lelaki yang bernama Elum sembari tertawa.


"Dasar bodoh! Kau itu Dewa pelindung kerajaan ini, kenapa kau sangat santai!?"


"Kau tenang saja, Rey. Baiklah baik, waktunya membantu." Elum mengangkat satu jarinya dan memanggil sebuah bola angin besar yang langsung menyelimuti Magni sehingga Naga itu terkurung di dalam sana.


Reyhanaf tidak menyia-nyiakan kesempatan. Disaat Magni telah terkurung, Reyhanaf segera mengeluarkan sihirnya. "Sihir nomor 334 : Freezing Breathe."


Mulut Reyhanaf meniup mengeluarkan semburan udara dingin yang suhunya mencapai -70°C. Gelombang es itu menyelimuti kepompong angin yang memerangkap Magni. Alhasil kepompong angin itu berubah menjadi kepompong es yang sangat tebal dan keras. Amukan Magni terhenti saat itu juga. Keadaan seketika kembali damai dan Reyhanaf menghembuskan nafas lega untuk pertama kalinya. Jari lelaki itu lalu menjentik dan melepaskan orang-orang dari medan energi yang sempat dia buat untuk melindungi mereka dari kecerobohan Magni. Para penduduk bersorak-sorai, namun Reyhanaf tidak merasa senang. Justru dia merasa bersalah karena telah menyebabkan kekacauan yang besar.


Masih dalam posisi melayang, Elum mendekati Reyhanaf dan menyikut pinggang lelaki itu. "Hebat putra Miracle. Aku terkesan padamu." Katanya.


"Huh, hebat apanya!? jika kau daritadi membantuku dan bukan malah tertawa, kekacauan ini masih bisa diatasi. Berharap saja tidak ada korban jiwa karena ini." Kata Reyhanaf sembari mendengus kesal.


"Hahaha... maaf-maaf. Aku hanya ingin mengujimu tadi. Sebenarnya, tanpa kau berusaha untuk melindungi penduduk pun aku akan tetap menyelamatkan mereka. Walau bagaimanapun juga aku ini adalah Dewa pelindung Skyriel. Aku tidak akan membiarkan para pendudukku mati begitu saja." Jelas Elum.


"Lalu bagaimana dengan penyerangan itu? kau bilang akan menyelamatkan pendudukmu, tapi mereka tetap bisa menyerang Skyriel."


"Ini lagi. Bukankah aku sudah menjelaskan padamu kalau---"


"Rey-chan...!"


Tiba-tiba terdengar sayup-sayup orang memanggil yang memotong ucapan Elum.


"Kau dengar itu?" Tanya Elum.


"Dengar apa?" Reyhanaf balik bertanya.


"Suara barusan, masa kau tak dengar?"


"Tidak, aku tidak mendengar apapun." Ucap Reyhanaf.


Tidak lama kemudian suara itu datang kembali dan lebih keras serta dekat. "Rey-chan!!"


"Itu dia! kau dengar tidak!?"


Kali ini Reyhanaf juga mendengarnya. "Kau benar dan asalnya dari...." Tanpa diduga, saat Reyhanaf akan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya, seseorang tiba-tiba langsung memeluk lelaki itu ( lebih tepatnya menabrak jika dilihat dari prespektif Reyhanaf ) hingga membuatnya tersedak. Reyhanaf sempat kehilangan keseimbangan dan jatuh bebas ke bawah sampai akhirnya dia bisa kembali mengendalikan situasi.


"Rey! Rey! Rey!" Kata orang yang memeluknya itu.


"Aduh... siapa sih ini?" Reyhanaf menatap orang, atau lebih tepatnya wanita itu dan seketika dia terkejut. "D-Dewi Lignum!?"


"Eh, Kakak!?" Elum juga terkejut. Lelaki dengan rambut berwarna sebelah putih dan sebelah biru itu hanya melongo melihat Kakaknya bermanja-manja pada Reyhanaf.


"D-Dewi...?" Reyhanaf mencoba menyapa dengan canggung. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Fakta jika dirinya pernah secara egois meninggalkan sang Dewi untuk menjadi umpan membuatnya takut untuk memeluk atau sekedar menyentuh bahunya.


Lama Dewi Lignum menyembunyikan wajahnya pada dada pujaan hatinya, sampai dia mulai mendongak dan menatap mata Reyhanaf dengan muka cemberut. "Pembohong!" Ucapnya.


Reyhanaf menghembuskan nafas. "Yeah, aku tahu."


"Beraninya kau meninggalkan aku sampai membuatku khawatir seperti ini." Kata sang Dewi lagi.


Reyhanaf tertunduk menyesal. "Yeah, maafkan aku."


"Tapi...," tangan sang Dewi tiba-tiba memeluk erat Reyhanaf dan tak terasa air matanya kembali mengalir ke pipinya, "... aku senang kau selamat. Para Dewa telah menjawab doaku. Aku senang sekali. Aku kira... aku kira aku tidak bisa melihatmu lagi...."


Kali ini Reyhanaf membalas pelukan Dewi Lignum. "Maafkan aku. Aku pasti sudah membuatmu sangat khawatir. Aku janji aku tidak akan meninggalkanmu lagi."


Dewi Lignum mengangkat wajahnya. "Sungguh? kau janji?"


"Sungguh. Aku berjanji sampai kapanpun dan di manapun itu, kita akan selalu bersama. Selama-lamanya." Ujar lelaki itu sembari mengusap air mata sang Dewi dengan ibu jarinya.


Dewi Lignum tersenyum. "Aku akan terus menagih janji itu." Katanya.


"Ehem!" Tiba-tiba suara berdehem seseorang mengagetkan Reyhanaf dan Dewi Lignum. Bukan dari Elum, tapi dari wanita yang tengah berdiri di atas sulur pohon sembari memperhatikan mereka berdua dengan senyuman jahil. Ya, siapa lagi kalau bukan Putri Rillia. "Sepertinya aku menggangu di saat yang tidak tepat." Ujarnya.


Reyhanaf segera salah tingkah dan berusaha melepaskan pelukan Sang Dewi. Namun Dewi Lignum bersikeras untuk tetap pada posisinya. Bahkan dia sampai mempererat dekapan tangannya pada tubuh lelaki itu. Ini membuat Reyhanaf kembali tersipu malu dengan wajah berwarna merah semerah tomat.


"D-Dewi, di depan ada Rillia." Kata Reyhanaf.


Namun Dewi Lignum tetap memeluk Reyhanaf erat. "Tidak! Aku ingin terus begini!"


Reyhanaf menghela nafas. Jika sudah begini dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mungkin untuk sementara waktu dia akan menuruti keinginan egois Sang Dewi dan membiarkannya lebih lama.


"Maaf, Rillia. Mungkin aku akan membiarkannya sebentar. Kau tidak masalah, kan?" Tanya Reyhanaf.


Rillia menggeleng. "Biarkan saja dia. Dia sudah mengalami saat-saat yang berat. Melihatnya tersenyum seperti itu, membuatku tidak tega untuk mengganggunya."


Reyhanaf menghembuskan nafas lega. "Haah... kukira kau akan--"


"Tapi...," Rillia mengangkat satu jari telunjuknya dan memotong ucapan Reyhanaf cepat, "...jika kau macam-macam dan berusaha mencari kesempatan, aku akan membenamkanmu ke tanah dan membuatmu menjadi tanaman hias. Apa anda mengerti Yang Mulia?" Gadis itu tersenyum manis. Namun senyuman manis itu justru membuat bulu kuduk Reyhanaf merinding. Apalagi dia juga merasakan adanya aura membunuh yang menyelimuti Rillia.


"B-baik. Aku mengerti. Aku tidak akan macam-macam." Ujar lelaki itu. "Oh ya ngomong-ngomong Putri, sudah bertemu dengan Elum?"


Reyhanaf mengangguk.


"D-dimana dia!? a-apa dia di sini?"


"Ya, aku di sini."


Rillia dengan cepat menoleh ke arah asal suara tersebut. Dari balik tubuh Reyhanaf, muncul seorang lelaki remaja dengan rambut berwarna biru putih serta sebuah mahkota daun yang terpasang di kepalanya. Dia mengenakan pakaian khas Dewa berupa tunik yang disebut chiton berwarna putih. Terdapat berbagai aksesoris yang menempel pada tubuhnya seperti gelang emas dan anting kristal putih berkilau.


Dengan cepat Rillia bersimpuh hormat di hadapan Elum. "Salam hormatku kepada Dewa Elum." Ucapnya.


"Berdirilah, Rillia Putri Naturae. Kau tidak perlu bersimpuh seperti itu. Walau bagaimanapun kita ini masih saudara seibu." Kata Elum.


Rillia berdiri. "Suatu kehormatan bagiku bertemu dengan anda. Sudah sepantasnya aku memberi hormat pada seorang Dewa seperti anda."


Elum mengibaskan satu tangan. "Suatu kehormatan juga bisa bertemu denganmu. Tidak perlu terlalu formal. Panggil saja aku Kak El atau Kak Elum."


"Baik Kak Elum." Kata Rillia sembari menunduk.


Kemudian dari arah belakang Rillia, Caelo muncul sambil mengendarai topan kecil. "Rillia apa yang sedang terjadi? kenapa--" Ucapannya seketika terpotong saat dirinya juga melihat Elum di samping Reyhanaf. "T-Tuan Elum!? Salam hormatku padamu." Katanya yang langsung bersimpuh hormat.


"Berdirilah Putra Polus. Aku Terima hormatmu."


"B-baik Tuan Elum." Kata Caelo yang segera berdiri.


"Oh ya, yang tadi mengamuk itu... Tuan Magni, benar?" Tanya Rillia.


Mendengar pertanyaan Rillia, Reyhanaf menghela nafas berat sembari menepuk jidatnya. "Haah... itu semua karena si bodoh ini. Mengajaknya minum padahal tau jika yang diajak tidak kuat minum alkohol."


"Hei, aku juga tidak tahu jika Magni tidak kuat minum alkohol." Protes Elum.


"Jangan mengelak! Aku tahu sebenarnya kau itu tahu. Jika tidak, tidak mungkin kau tertawa sekeras itu saat melihatnya mabuk."


"Hehehe... maaf, maaf. Ini terlalu menyenangkan melihat naga bodoh itu terjatuh oleh ulahnya sendiri." Elum terkekeh.


Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Elum membuat Dewi Lignum seketika melepas pelukannya dan memandang marah ke arah saudaranya itu. "Bisa-bisanya di saat seperti ini kau terkekeh seperti itu. Apa kau tahu, karena ulahmu ini kau bisa menyebabkan ribuan nyawa tak bersalah melayang. Kita sebagai pohon kehidupan dan juga dewa pelindung seharusnya menjaga mereka, bukannya malah mengancam keselamatan mereka. Apa kau paham!?"


"B-baik, Kak. Aku paham...." Kata Elum tertunduk menyesal.


"Dengar Elum, aku tidak ingin mendengar atau melihat hal ini lagi. Jika kau mengabaikan tugasmu lagi sebagai pelindung, maka kau akan mendapatkan konsekuensinya dari Ibu. Kuyakin hari ini dia sangat kecewa karena ulahmu ini."


"Aku mengerti, Kak...." Kata Elum lagi. Tapi disaat Dewi Lignum tengah memarahi Adiknya itu, tiba-tiba....


"SIAPA YANG KAU PANGGIL NAGA BODOH!!?" Suara menggelegar mendadak datang dari kepompong es yang mengurung Magni. Tanpa di duga, kepompong itu retak sedikit demi sedikit hingga akhirnya hancur dan membuat beberapa potongan-potongan es berbagai ukuran terbang sejauh 2 kilometer. Ledakan kepompong itu juga menciptakan gelombang kejut yang begitu kuat. Untung Reyhanaf sudah memperhitungkan ini dan bergerak cepat memakai sihir perlindungannya agar para penduduk Skyriel aman.


Dari dalam kepompong yang sudah hancur, keluarlah Magni yang seluruh tubuhnya diselimuti oleh kobaran api yang menyala-nyala. Bukan dalam bentuk naga, namun bentuk manusianya. Dengan marah, sang Dewa naga agung memandang Elum dengan mata membaranya.


"Apa maksud perkataanmu tadi Elum? siapa yang kau sebut bodoh?" Tanya Magni penuh mengintimidasi.


"Woah, tenang bung. Kau bisa membakar kotaku nanti." Ujar Elum. "Ya tentu saja kau. Memangnya siapa lagi? Kau itu terlalu angkuh, Magni. Kau dengan entengnya menerima tantangan yang tidak bisa kau menangkan. Dan lihat sekarang, kau membuat pendudukku dalam bahaya. Walau sebenarnya memang salahku, tapi kau juga salah. Aku yakin dengan sifatmu itu, kau akan langsung kalah jika bertemu dengan lawan yang lebih kuat. Apalagi sifat pemarahmu itu. Itulah yang paling aku benci darimu." Ungkap Elum terang-terangan.


Magni menggertakkan giginya keras. "K... Kau...."


"Dan jangan kau pikir aku melupakan peristiwa itu? karena ulahmu Kakakku hampir terbunuh." Kata Elum dengan nada mengintimidasi.


"Jaga ucapanmu bocah. Kau pikir siapa yang memulainya?" Magni tidak kalah mengintimidasi.


"Bocah? aku kira kaulah yang bocah di sini. Umurku lebih tua darimu. Kau Dewa baru sebaiknya diam saja." Dari tubuh kecilnya, Elum mendadak mengeluarkan aura super besar. Bahkan membuat langit berguncang karenanya. "Aku ini adalah Dewa Tua. Ras asli dan keturunan pertama dari Primordial Naturae. Apa kau tahu artinya? aku ada bahkan sebelum diangkatnya Miracle sebagai Dewa."


Magni menyeringai. "Lalu, kau pikir aku akan takut setelah mendengar itu?" Katanya yang tak kalah mengeluarkan aura yang lebih besar.


"Kau naga kecil, aku akan memberimu pelajaran."


"Tidak jika aku yang memberimu pelajaran terlebih dulu, bocah!"


Elum menggertakkan giginya. "Dasar naga menyebalkan! Kau akan membayar ini, Magni!" Dengan sekali hentakan di udara, Elum menerjang Magni.


"Kalau begitu, ayo kemarilah, bocah!" Magni juga ikut menerjang dan menambah intensitas api yang menyelimutinya lebih besar.


Namun saat Sang pelindung Skyriel dan Sang naga akan saling beradu kekuatan, Reyhanaf yang kebetulan berada di tengah-tengah mereka segera menghentikan perkelahian tidak penting itu. Karena sudah terbebas dari pelukan Dewi Lignum, Reyhanaf bisa kembali menggunakan kedua tangannya dengan leluasa dan menggunakannya untuk menghentikan pergerakan kedua Dewa itu dengan menahan kepala mereka sehingga gerakan mereka seketika langsung terhenti dan menimbulkan gelombang kejut serta angin yang lumayan kuat.


"Aku bersumpah akan meremukkan kepala kalian sekarang juga jika perkelahian bodoh ini terus berlanjut. Kalian paham?" Tanya Reyhanaf sembari mencengkram kepala kedua Dewa itu kuat.


""K-kami paham...."" Jawab mereka berdua bersamaan.


"Kalian janji tidak akan berkelahi lagi?" Tanya Reyhanaf lagi.


""Kami berjanji tidak akan berkelahi lagi...."" Jawab mereka berdua kembali.


"Bagus. Aku akan melepaskan kalian dan kuharap kalian menepati janji kalian. Karena jika kulihat kalian berdua kembali berkelahi, ucapakan salam pada iblis-iblis di neraka sana." Reyhanaf lalu melepaskan cengkeraman tangannya.


Seperti orang yang kehabisan nafas ( karena itu memang benar ), baik Magni maupun Elum nampak terengah-engah seperti orang terkena asma.


"Bener-bener deh. Apa kalian ingin menghancurkan kerajaan damai ini?" Gerutu Reyhanaf.


Di sisi lain, selagi Reyhanaf menggerutu, Rillia dan Caelo memandang pemandangan itu dengan melongo sekaligus terkejut. Pasalnya, baru kali ini mereka melihat seorang mortal ( manusia biasa ), dengan berani mencegah perkelahian antar Dewa. Dengan tangan kosong lagi. Dan lebih hebatnya lagi, Reyhanaf menghentikannya seolah-olah itu hanyalah pertengkaran anak-anak. Ini membuat suasana menjadi agak sedikit canggung. Kecuali untuk Dewi Lignum. Dengan senyum manisnya, dia menatap Reyhanaf tanpa henti hingga membuat lelaki itu beberapa kali tersipu malu. Mungkin karena terlalu rindu hingga sang Dewi tak mau lelaki itu lepas lagi dari pengawasannya.


"Eee... Oh ya Tuan Reyhanaf, bagaimana caranya kau sampai ke sini? dan bagaimana kau bisa mengenal Tuan Elum?" Rillia tiba-tiba bertanya memecah suasana canggung itu.


"Itu rumit. Pokoknya ini cerita yang panjang." Ujar Reyhanaf.


"K-kalau begitu kenapa kita tidak pindahkan pembicaraan ini ke istana. Aku rasa para anggota kerajaan termasuk Raja Fortis akan senang mendengar cerita kalian berdua, Tuan Magni dan Yang Mulia Reyhanaf." Usul Caelo tiba-tiba.


"Baiklah, kurasa itu ide bagus." Setuju Reyhanaf. Matanya lalu menatap tajam ke arah Magni dan Elum yang ternyata sedari tadi saling melemparkan pandangan tak suka satu sama lain. "Dan untuk kalian berdua. Kuharap kalian menepati janji kalian." Ancam lelaki itu.


Secara serentak kedua Dewa itu lalu menganggukkan kepala cepat. Reyhanaf menghela nafas dan segera menjentikkan jari cepat, secepat mereka menghilang tidak lama setelahnya.


   


  


Bersambung....