Go To Another World and Become a Powerful Demigod

Go To Another World and Become a Powerful Demigod
Bab 10 : Senjata yang merepotkan. Rencana yang mengancam nyawa? kenapa tidak?



Bruuk!!!


Pohon itu jatuh ke tanah dengan dramatis. Aku sempat melihat cahaya yang menyelimuti si pohon perlahan memudar hingga menghilang sepenuhnya. Sang Dewi penjaga para Elf kini telah mati.


"********!! Aku akan membunuhmu!" Teriak Rillia keras. Dengan air mata yang membasahi pipinya, dia melompat dan menerjang Varna cepat. Dengan tendangan berputar, dia menyepak kepala monster itu ke samping hingga terpental jauh.


Tak cukup sampai disitu, mulut Rillia berkomat-kamit seperti membaca mantra. Dia mengangkat satu tangan ke udara dan secara mengejutkan ratusan sulur pohon keluar dari dalam tanah dan merambat naik mengikuti arah tangan Rillia.


Aku sempat takjub melihat pemandangan itu. Walau sebenarnya aku pernah melihat statusnya sekali, tapi aku tetap saja masih merasa takjub. Rillia ( Seperti yang kalian tahu ) adalah seorang Demigod dari Dewi bernama Naturae. seorang Dewi dari alam atau Ibu dari Altras. Jadi, wajar saja jika dia secara otomatis mewarisi kekuatan Ibunya. Contohnya ya seperti saat ini. Dia dapat memerintah dan mengendalikan sulur pohon dengan pikirannya. Hal ini juga menjadi bukti kuat kenapa Rillia sangat marah ketika Varna menebang Lignum. Selain menjadi Dewi para Elf, Lignum adalah anak Dewi Naturae yang tertua dari ketiga pohon kehidupan lain. Jadi secara tidak langsung Lignum adalah Kakak Rillia. Wajar jika dia sangat marah pada Varna. Maksudku, kau pasti akan sangat marah 'kan saat melihat anggota keluargamu dibunuh? Apalagi itu di depan matamu.


Kembali ke pertarungan. Sulur-sulur itu terus-menerus keluar dari segala tempat. Entah itu dari tanah, ataupun reruntuhan bangunan. Rillia juga tidak berhenti menggerakkan mulutnya. Mengeluarkan mantra-mantra aneh yang tak bisa kumengerti.


"Ƨϝob! ( berhenti! )" Ucap Rillia dengan bahasa asing. Seakan mengerti, semua sulur yang merambat dan menjalar ke segala tempat mendadak berhenti. Walau jarak kami yang terpaut cukup jauh, aku bisa melihat perubahan warna pada bola mata Rillia. Bola mata yang tadinya hitam itu berubah menjadi hijau daun. Begitu juga dengan rambut pendeknya.


"O wλ pʁoϝμԍʁƨ ɑuq ƨᴉƨϝԍʁƨ ʍμo ɑqoʁԍ wλ woϝμԍʁˌƨ uɑwԍ· Ҽᴉʌԍ ϝμԍ ϝԍʁʁᴉpɼԍ cʁԍɑϝnʁԍ ϝμԍ ๅnqმwԍuϝ μԍ qԍƨԍʁʌԍƨ ɻoʁ ĸᴉɼɼᴉuმ onʁ μoɼλ pʁoϝμԍʁ· ( wahai para saudaraku yang memuja nama ibuku. Berikan makhluk mengerikan itu penghakiman yang pantas dia dapatkan karena telah membunuh saudara suci kita. )" Seru Rillia dan sulur-sulur itupun menerjang Varna cepat.


Namun Varna yang telah keluar dari bangunan yang di tabraknya berkata. "Sulur-sulur itu tak berguna, Putri! Kau tahu mereka tak akan mempan padaku!" Varna mengangkat pedangnya dan menebas setiap sulur yang mendekatinya. Kecepatan sulur-sulur itu diimbangi Varna dengan permainan pedang yang luar biasa. Sulur-sulur yang terpotong oleh pedangnya jatuh ke tanah dan terbakar sampai habis hingga tak bersisa.


Aku mengamati api hitam yang ada di pedang Varna dan juga sulur-sulur yang terpotong itu lekat. Lalu, keanehan yang membuat mataku terbelalak heran terjadi saat satu sulur yang terbakar jatuh menimpa sebuah kubangan air. Api yang ada pada sulur itu tidak padam. Meski seluruh bagian sulur terendam di kubangan air, tapi api itu tak mati. Tidak seperti api pada umumnya yang jika terkena air langsung padam. Sebenarnya api apa itu?


[ Jawab : Itu adalah Api neraka, Tuan. ]


Suara AI-Sys bergema dalam kepalaku. Sepertinya dia tahu sesuatu tentang api hitam itu. Ini kesempatan untuk mengetahui secara detail tentang api itu. Siapa tahu aku bisa menemukan solusinya.


"Bisa kau jelaskan lebih rinci?" Pintaku.


[ Dimengerti. Nama lainnya adalah Ignis Inferni atau api yang berasal dari neraka utama. Api itu hanya terdapat di level neraka utama paling bawah yang bernama Neraka Infimo. Panas apinya tidak bisa diukur. Percikan kecil dari api itu saja mampu untuk melubangi tanah di bumi hingga mencapai kedalaman inti planet. Ditambah api itu tidak bisa dipadamkan. Bahkan jika api itu di buang kelautan, dia masih bisa menyala dan hanya akan mengambang di atas permukaan air. Dan jika dibiarkan, maka lautan bisa mengering hingga tak bersisa. ]


Aku berdecak kagum. Sungguh api yang dahsyat. "Lalu bagaimana caraku untuk melawannya?" Tanyaku.


[ Menganalisis... Pencarian : 0 ( kosong ), tidak ada solusi yang tepat untuk melawan api itu. ]


Aku terkejut. Serius? Tidak ada yang bisa dilakukan untuk mengatasi api itu? Lalu bagaimana caranya aku melawannya? Aku berpikir keras. Mataku kembali tertuju pada Rillia yang masih sibuk melawan Varna. Wanita itu kelihatan lelah. Tidak lama lagi dia akan sampai batasnya. Aku harus cepat menemukan cara untuk membantunya. Tapi bagaimana? Dalam keadaan bingung, mataku melirik ke segala arah untuk mencari-cari jawaban. Lalu perhatianku kembali tertarik ke Varna dan pedangnya. Tunggu dulu, pedang besar berwarna silver itu. Bagaimana bisa benda itu tak terbakar oleh api yang panasnya saja tidak bisa diukur. Aku harus menyelidikinya.


"AI-Sys, analisa pedang itu!" Pintaku.


[ Dimengerti.... Menganalisis pedang.... Pedang silver yang terbuat dari bahan Physicorumium >>> Penjelasan Physicorumium >>> Material besi terkuat yang berasal dari surga utama. Mempunyai daya tahan luar biasa terhadap serangan apapun. Tak bisa dihancurkan, sangat ringan, dan cocok untuk pertarungan.... Gagang pedang.... Kayu Othoya yang tumbuh di daratan tinggi Dena.... Juga ringan dan tidak mudah hancur.... Analisa selesai.... Ada lagi? ]


Aku memegang dagu berpikir. "Apa ada yang bisa kita lakukan terhadap pedang itu?"


[ Jika maksud anda ingin menghancurkannya, maka itu tidak akan mungkin terjadi. Physicorumium merupakan material besi super kuat yang ada di semua semesta. Tidak ada yang bisa menghancurkannya kecuali Tombak Takdir, Pedang Malaikat Michael, dan campur tangan Tuhan sendiri. ]


Mendengar penjelasan AI-Sys membuatku menggertakkan gigi geram. "Lalu aku harus bagaimana?" Ucapku putus asa. "Ayolah AI-Sys, apa kau masih tidak punya solusinya?"


[ Mencari solusi.... Pencarian nihil, solusi masih belum ditemukan. ]


"Argghh...!!" Aku mengerang kesal. Tanganku secara spontan langsung mengacak-acak rambutku karena frustasi. Senjata yang makhluk itu bawa terlalu elit. Baik aku maupun AI-Sys tidak memiliki sebuah cara untuk melawannya. Ini menyebalkan. Ayolah Rey, gunakan otakmu dan berpikirlah. Pikirkan lebih keras, cara untuk melawan senjata itu.


"Tunggu dulu." Kataku tiba-tiba. Seperti terkena listrik statis, otakku mendadak mendapat ide cemerlang ditengah rasa frustasi ku. "Kenapa aku sampai melupakan itu, ya? Aku kan punya sihir Cube Shooter Drain Mana! Aku akan memenjarakannya di dalam kubus itu, lalu menghisap semua api serta energinya hingga habis tak bersisa." Kataku sambil menepuk jidat. Dasar, begini nih jika punya pikiran yang sudah nge-stuck dengan kehidupan nolep. Hal-hal penting seperti itu bisa dilupakan dengan mudah. Hadeh....


"Baiklah mari kita lakukan!" Ucapku mantap. Dengan tangan kanan membentuk pistol, aku mulai memfokuskan energi sihirku pada ujung jari telunjukku. Saat energi itu sudah terkumpul dan membentuk sebuah kubus kecil, aku membidik Varna sesaat dan kemudian....


Psyuu!


Sebuah kubus kecil melesat cepat ke arah Varna yang masih sibuk memotong sulur-sulur yang terus berdatangan ( entah sudah berapa banyak yang dipotongnya. Sulur-sulur itu seperti tidak ada habisnya. Mereka terus saja berdatangan sejak awal pemanggilan mereka sampai aku menembakkan kubus transparan ini ).


"Putri Rillia, menyingkir!" Teriakku memperingatkan. Aku tidak ingin jika dia juga terkena sihirku. Bisa repot urusannya kalau sampai itu terjadi.


Rillia menoleh ke arahku dan langsung menyingkir dari tempatnya. Dia melompat kebelakang dua kali dan mendarat tepat di sampingku. Sementara Varna? Sudah sangat terlambat baginya. Ketika matanya melihat Rillia menyingkir, dia baru menyadari jika ada sebuah kubus kecil seukuran kacang tengah melesat ke arahnya. Tanpa bisa menghindar, dia harus pasrah terkena sihirku yang seketika membuat dia terpenjara di dalam kubus yang ukurannya sekarang menjadi sebesar mobil van.


"Sihir apa itu?" Tanya Rillia pelan. Sulur-sulur yang sebelumnya setia berdiri di belakangnya, tampak masuk ke dalam tanah ketika gadis itu menyingkir dari hadapan Varna. Mereka lalu kembali muncul di belakang Rillia saat dia mendarat di sampingku. Tapi tidak seperti tadi yang tingginya mencapai gedung 10 lantai, sulur-sulur itu mengubur tubuh mereka sebagian dan mengubah tingginya menjadi setinggi Rillia.


Aku meniup ujung jari telunjukku seperti meniup asap dari lubang pistol. Dengan senyum puas diwajahku, aku berkata. "Sekarang masalah terselesaikan. Kau tenang saja Putri."


"Aku tidak bisa tenang sebelum dia membayar perbuatannya." Ucapnya tegas dengan sorot mata yang tajam. Aku yang melihatnya mendadak merinding.


"Baik, baik. Tapi kau harus mau bersabar dan menunggu. Aku harus menghilangkan seluruh api hitam dan energinya itu terlebih dulu. Jika tidak, kau malah yang akan terbunuh olehnya." Kataku mengingatkan.


Dia menghembuskan nafas. "Baiklah, tapi cepat. Tanganku sudah gatal ingin membunuh makhluk hina itu." Ujarnya.


"Siap, Putri!" Aku juga ikut menghembuskan nafas. Untunglah dia mau diajak bicara. Ini akan memberikan waktu yang cukup untuk menguras seluruh energi Varna beserta api hitam itu. Tapi, entah kenapa ada yang aneh. Sejak Varna terjebak di dalamnya, sampai saat ini belum ada mana yang mengalir ke dalam tubuhku. Berbeda dengan saat aku memenjarakan Magni. Prosesnya tidak sampai memakan waktu yang lama. Setelah terjebak, seluruh mana yang dia keluarkan secara besar-besaran langsung terhisap dan mengalir ke dalam tubuhku. Namun kenapa untuk yang satu ini begitu berbeda.


"Apa masih lama, Manusia?" Tanya Rillia.


"Eh? Emm... Sebentar lagi." Ucapku asal. Ayolah kenapa masih belum? Bisa gawat jika Putri di sebelahku ini mengamuk dan mulai kembali memunculkan sulur-sulur pohon layaknya tentakel gurita.


"Sihirmu sangat menarik, Manusia." Ditengah kebingunganku, Varna tiba-tiba berujar.


"..... " Aku hanya diam menanggapi ucapannya.


"Aku belum pernah melihat sihir seperti ini sebelumnya. Aku menduga jika cara kerjanya ialah dengan menyerap mana target yang terpenjara sampai habis. Apa aku benar?"


"....." Aku masih diam. Argh... Kata-katanya membuatku kesal saja.


"Tapi sepertinya kau salah langkah, Nak."


Perkataannya barusan membuatku mulai menanggapi ocehannya. "Apa maksudmu?" Tanyaku dengan satu alis terangkat.


"Seperti yang kau lihat, walau harus kuakui jika sihirmu ini sangat menarik, tapi sayangnya itu tak memberikan pengaruh yang berarti padaku. Bagiku ini hanya sebuah penjara biasa tanpa keistimewaan apapun." Ujarnya.


Varna mengangkat pedangnya yang berapi ke atas dan menebas penjara kubus ku cepat. Seketika kubus yang mengurung Varna langsung hancur berserakan. Pecahan-pecahan kubus melayang ke segala arah sampai mereka terkikis dan menghilang karena terbakar api neraka.


"Mengerti maksudku?" Ucapnya dengan mulut yang kembali menyeringai seram. "Sepertinya kau harus melihat Statusku sebelum kau menggunakan sihirmu padaku."


____________________________________


☆ Status ☆


☆ Nama : Primus Varna


☆ Usia : 13.970 tahun


☆ Ras : Prime


☆ Level : 7340


☆ Title : The General of Darkness, Demon King VII.


☆ Hp : 10.245.480.000


☆ Mp : 20.458.900.000


☆ Magic :


¤ Darkness Manipulation


¤ Void Manipulation


¤ Regeneration


¤ Energy Absorption


¤ Telekinesis


¤ Telepati


¤ Fire Manipulation


¤ Shadow Manipulation


¤ Ancient Dark Magic


¤ Teleportation


¤ No-Mana Magic Art


Skill :


¤ ATK : 21.998.000


¤ DEF : 10.000.000


¤ INT : 30.829.000


¤ M. ATTACK : 28.943.000


¤ M. RESISTANCE : 27.200.000


¤ AGI : 18.999.800


¤ STR : 23.780.000


¤ VIT : 13.500.000


¤ HEALTH : 12.999.00p


¤ DMG : 12.900.000


¤ DMG. RESISTANCE : 19.970.700


☆ Gift :


¤ Immortality


¤ Infinite Mana


¤ High Fire Resistance


☆ Equipment :


¤ Argento Ferro


- Quantity : 1


- Class : Unknown


( Equip )


____________________________________


"Bagaimana? kau terkejut?"


Seperti katanya, aku hanya bisa terbelalak tidak percaya. Status Magic dan Skillnya jauh melebihi Magni. Selain Gift yang terkesan gila-gilaan, dia juga mempunyai Equipment bernama Argento Ferro. Ini benar-benar berbahaya. Tetapi apa-apaan itu Argento Ferro? Dan apa pula No-Mana Magic Art itu?


[ Jawab : Itu adalah nama pedang yang tadi aku analisa. Pedang itu merupakan salah satu dari senjata pembunuh Tuhan. Seperti yang sudah aku bilang padamu, bahannya yang terbuat dari besi Physicorumium membuat senjata itu tidak bisa dihancurkan oleh apapun kecuali Tuhan sendiri. Awal keberadaan serta awal terciptanya senjata itu sampai kini tidak diketahui.


Lalu No-Mana Magic Art, adalah sebuah teknik sihir tanpa menggunakan Mana. Biasanya Pengguna No-Mana memiliki energi tersendiri. Bisa itu dari tenaga dalam, Energi Alam, atau Energi Kosmik. Pengguna No-Mana terbebas dari keterbatasan Mana. Jika pengguna hidup dalam dunia dengan Mana sebagai energi kehidupan, pengguna akan menjadi tak terkalahkan. Energi pengguna No-Mana, mungkin bisa tak terbatas. Pengguna No-Mana juga terbebas dari segala bentuk penyerangan sihir berbasis Mana, hukum Mana, dan segala jenis yang berkaitan dengan energi Mana. Pengguna juga dapat menetralkan atau menetralisir segala jenis sihir. Pengguna bersifat tak terkalahkan, hanya jika lawan adalah pengguna Mana. Jika dihadapkan dengan pertarungan tanpa Mana, bisa seni bela diri atau seni menggunakan senjata, atau dengan Pengguna No-Mana yang lain, maka besar kemungkinan kemenangan akan diraih. Tanpa ketiga solusi itu, kemenangan melawan pengguna No-Mana hanya di angka 20%. ]


Oi, oi, oi, oi! Bukankah ini benar-benar gawat!? senjata Pembunuh Tuhan? sihir No-Mana? ( jangan lupakan bagian dimana dia bisa menetralkan semua sihir yang mempunyai energi utama Mana ) oh Ayah, kenapa pertarungan pertamaku harus dengan orang yang sangat berbahaya seperti ini. Ini sudah diluar jangkauanku. Maksudku ayolah! Semua sihir di dalam statusku diisi oleh energi Mana. Dari mulai yang terendah sampai semua sihir overpower-ku. Semuanya berbasis Energi Mana. Alam semesta tempat dimana aku tinggal sekarang ini, juga bisa dibilang sebagai semesta Mana, dimana seluruh energi Mana merupakan penopang utama semesta setelah energi Alam dan energi Kosmik. Energinya malah tercurah hampir di setiap galaksi dan di seluruh penjuru semesta. Bahkan para Dewa dan Dewi di khayangan sana tercipta dari butiran kecil energi Mana yang berkumpul menjadi satu dan diberi kehidupan.


Selain itu, fakta jika dia juga mempunyai sebuah senjata yang disebut senjata Pembunuh Tuhan, menjadi penyebab kedua dari ketidakberdayaanku. Tanpa diberitahu pun aku sangat tahu jika senjata itu sangatlah berbahaya. Bahkan aku yakin jika senjata itu lebih berbahaya dari Varna. Apa kalian tahu apa artinya? itu artinya aku benar-benar tidak berguna dan tidak berdaya sekarang. Dan sepertinya Rillia juga mengetahui ketidakberdayaanku itu.


"Apapun yang kau lakukan tadi, sekarang itu tidak berarti. Aku akan kembali menyerangnya walau harus mempertaruhkan nyawa." Rillia bersiap untuk menerjang Varna.


Aku yang tersadar dari lamunanku segera menangkap tangan Rillia sebelum dia sempat untuk mengambil ancang-ancang menyerang. "Jangan, itu terlalu berbahaya!" Kataku. "Kalau kau melihat statusnya, dia mempunyai sebuah sihir yang dapat membatalkan semua sihir dengan mudah. Apapun yang ingin kau lakukan sekarang, sebaiknya urungkan saja dulu. Kita pikiran cara lain."


"Aku tahu itu."


"Eh?"


"Aku tahu sihir yang dia gunakan karena dulu aku juga pernah berhadapan dengannya. Dengan ketiadaan Kakek, melawannya akan jauh lebih sulit. Bahkan mustahil. Aku tahu itu. Aku sangat tahu itu."


"Lalu, kenapa kau--"


"Namun...," Rillia langsung memotong ucapanku. "...,walau bagaimanapun juga aku harus melawannya. Meski itu artinya aku harus mati sekalipun."


Aku terbelalak tak percaya dalam ekspresi kesal. "Putri Rillia!" Kataku dengan nada sedikit tinggi.


Rillia melirikku sebentar, lalu kemudian menepis tanganku. "Pokoknya jangan halangi aku! Aku tidak peduli sekuat apapun dia, aku harus membalaskan dendam seluruh kerajaanku. Dan juga ini semua demi Kakak. Aku tidak bisa begitu saja membiarkan orang yang telah membunuh Kakakku. Meski aku tahu semua serangan itu tidak berefek padanya, tapi aku harus terus mencobanya. Aku tidak akan menyerah sampai aku bisa melukainya dengan sangat parah." Setelah itu dia pergi dan kembali menyerang Varna bertubi-tubi. Walau semua serangannya dihalau dengan mudahnya oleh Varna.


Tanganku mengepal keras. Disaat genting seperti ini aku merasa tidak berguna. Baik aku maupun semua sihirku. Mereka tidak berguna. Aku tidak bisa membantu seseorang yang sedang membutuhkan pertolongan. Lalu, apalagi yang harus kulakukan? Ayolah, aku butuh ide lagi. Aku butuh lebih banyak rencana. Aku akan lakukan apapun meski ide-ide dan semua rencana itu bisa membunuhku.


.....


Aku mendadak terdiam. Membunuhku? Tunggu sebentar. Sebenarnya ini hanya pikiranku sih, tapi apa jangan-jangan AI-Sys punya rencana yang bisa membantuku mengalahkan Varna, namun karena melibatkan nyawaku dia menyembunyikan rencana itu dengan dalih jika dia tidak punya rencana apapun. Ini patut diselidiki.


"AI-Sys!" Teriakku.


[ Ya, Tuan Reyhanaf? ]


"Apa menurutmu pedang tersebut bisa membunuh si brengsek itu?"


[ Jawab : Menurut perhitunganku, ada kemungkinan 40 - 96% Argento Ferro bisa dengan mudah membunuh Varna. ]


Melihat ada kesempatan, aku menyeringai. "Itu seharusnya cukup." Kataku. "Hoi, AI-Sys!"


[ Ada lagi yang bisa kubantu, Tuan? ]


"Jangan berlagak seperti kau tidak tahu apa-apa. Cepat beri aku solusi untuk mengalahkan Varna!" Pintaku menuntut.


[ Menganalisis solusi.... Pencarian nihil... Masih tidak ada solusi yang tersedia. ]


"Jangan berbohong padaku, komputer! Cepat beritahu aku solusinya! Aku tahu kau menyembunyikannya dariku. Cepat beritahu aku sekarang!" Aku menuntut lebih keras.


[ Maaf, solusi tidak-- ]


"Berhenti bicara omong kosong dan katakan padaku solusinya!"


[ Maaf, solu-- ]


"UDAH GUA BILANG BERHENTI NGEBACOT DAN CEPET KASIH GUA SOLUSINYA, KAMPRET!" Teriakku marah sampai-sampai aku tak sadar jika aku menggunakan bahasa yang sering kugunakan dulu.


[ ..... ]


AI-Sys terdiam. Aku mengatur nafasku karena sempat terbawa emosi. Lalu beberapa detik berselang tanpa kepastian, AI-Sys akhirnya kembali berbicara.


[ Satu solusi ditemukan. Tapi ini akan membahayakan nyawa anda. ]


Sudah kuduga! Tidak mungkin komputer dengan kecerdasan super canggih seperti dia tidak punya solusi apapun.


[ Persen keberhasilan solusi ini tanpa membuat Anda terbunuh adalah : 0.1%. Masih ingin melakukannya?


Yes/No? ]


Aku sudah sampai sejauh ini. Kurang rasanya jika harus menyelamatkan dan menolong seorang wanita cantik seperti Rillia tanpa pengorbanan apapun ( aku bukan bucin (budak cinta) ya, hanya ingin "menolong"nya saja ). Sudah pasti kupilih Yes!


[ Konfirmasi diterima. Solusi akan dibacakan. Silahkan cermati dan dengarkan baik-baik. ]


  


   


Author Pov....


 


Matahari semakin meninggi. Menyinari langit cerah yang sedikit berawan. Burung-burung aneh bercula terbang ke sana kemari di atas bangkai seekor monster terbang raksasa bersayap kelelawar dan berparuh panjang. Burung-burung itu disebut Miga. Merupakan burung pemakan bangkai yang hidup di dataran rendah Altras. Dan seperti namanya, mereka tengah mencoba menikmati santapan siang hari yang cukup untuk musim dingin kedepan.


Tapi mereka tidak melakukan itu karena suatu alasan. Para Miga hanya berkoar satu sama lain. Memekikkan suara seperti mengusir sesuatu yang menghalangi santapan besar mereka. Ya, sesuatu yang menghalangi itu adalah seorang lelaki berambut merah yang tengah duduk santai di atas tubuh si monster besar. Dialah alasan utama kenapa para Miga tidak segera menyantap hidangan besar tersebut. Tangan bercakar si lelaki yang tak memperdulikan kicauan para Miga sibuk membersihkan sebuah belati yang bermandikan darah kering. Dengan susah payah dia membersihkan darah itu menggunakan setelan jas hitamnya. Tapi sepertinya itu percuma.


"Darah Kano memang merepotkan. Aku harus merendam ini lama jika ingin bersih sepenuhnya." Katanya jengkel. Mata merahnya melirik kumpulan Miga yang terus berkoar-koar dan memekik. Dia tahu teriakan itu ditunjukkan padanya. Namun dia tetap tidak peduli.


"Masalah darah ini akan kuurus nanti." Lelaki itu berdiri. "Sekarang aku harus mencari Tuan Reyhanaf. Dia pasti marah sekali padaku sekarang."


Dia lalu melompat turun dari bangkai besar itu dan mendarat agak jauh darinya. Dia kembali mengenakan jas hitam itu. Matanya sekali lagi melirik kumpulan Miga yang menatapnya dengan penasaran. Beberapa masih berkoar-koar dan memekik, membuat mood si lelaki bertambah jengkel.


"Berhenti memekik. Aku sudah turun, kalian bisa makan itu sepuasnya." Ucapnya. Matanya beralih menatap langit dan secara tiba-tiba sepasang sayap lebar besar berapi muncul di punggungnya. "Saatnya membantu Tuan Reyhanaf. Kuyakin dia sudah sampai di kerajaan itu."


Dengan hentakan besar di tanah, dia terbang cepat ke langit luas. Lelaki itu terbang meliuk-liuk menembus awan-awan tebal yang menghalangi untuk segera kembali mencari sebuah kerajaan yang sempat terlewat olehnya karena serangan mendadak monster bodoh itu. Tangannya mengepal keras dan mulutnya menyunggingkan sebuah senyum yang memperlihatkan caling digiginya.


"Tuan Reyhanaf, kau tenang saja. Pelayanmu akan segera datang!" Dan dengan satu kali kepakan kuat pada sayapnya, lelaki itu menambah kecepatan terbangnya, lalu menghilang di luasnya langit biru.


 


  


Bersambung....