Ghorbulous

Ghorbulous
Manusia yang hidup



Hazel menarik lembut lengan Erika dan melirik Acre yang selama ini jinak, justru mulai menunjukkan cakarnya. Terlebih lagi, seisi rumah mulai bergetar akibat teriakan Acre Josiah. Hazel tidak mau membereskan kekacauan, terlebih saat dia tinggal sendirian di tengah antah berantah.


Dia juga tidak ingin melihat perkelahian antara manusia dan jiwa, jadi dia berbisik


"Erika, kurasa sebaiknya kau berhenti marah-marah seperti ini."


"Apa? Kenapa? Apakah Acre mengatakan sesuatu?" Dia bertanya sambil mengatur nafas.


"Begitulah" Hazel melirik Acre yang masih tampak marah di belakangnya.


"Apa yang dia katakan?"


Hazel melirik Acre yang tampaknya berusaha menenangkan diri dan memutuskan untuk merangkum perkataan pria itu barusan, dengan cara yang tentunya tidak akan membuat adik iparnya ini sakit hati


"Dia bilang ... Kalau aku egois, maka bagaimana dengan seluruh keluarga Josiah? Kalian tidak pernah benar-benar mencari tubuh Acre."


"Dia bilang begitu? Bisa-bisanya ... Apa dia tidak tau bagaimana kondisi keluarga Josiah tanpanya sebagai otak sekaligus calon patriark?" Erika tampak kembali tersulut emosi.


"Untuk itu, kurasa kau akan tertarik mengetahui apa yang selanjutnya dia katakan" godanya.


"Apa?" Dia terpancing.


"Acre mengatakan bahwa dia menghabiskan seluruh masa mudanya dengan mengurus keluarga Josiah, diluar kemauannya sendiri mengingat bahwa tidak ada satupun dari kalian yang mampu."


Sudut mulut Erika berkedut kesal, tapi dia tidak membantah.


Oleh karena itu Hazel melanjutkan


"Dia bilang ... Kalian tidak berhak menjustifikasi apa yang dia lakukan saat ini, karena dia sudah mengabdikan dirinya untuk keluarga Josiah."


Erika mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan, tidak bisa menebak posisi Acre secara spesifik. Hingga matanya bersibobrok dengan manik Hazel, hatinya sontak dirambati oleh perasaan bersalah


"Maaf, seharusnya aku tidak berteriak di rumahmu. Apalagi ini pertama kalinya kita bertemu."


Hazel menggeleng dan menepuk-nepuk pundak pihak lain


"Tidak apa-apa, aku memahami perasaanmu."


"Saat sebelumnya kukatakan tidak semua anggota keluarga Josiah menyetujui ide ini, aku bersungguh-sungguh" Erika mengalihkan topik secara mendadak.


"Selain alasan bahwa pernikahan ini berlandaskan pada sesuatu yang diluar nalar, aku juga tidak ingin kau terjebak dalam kerumitan keluarga Josiah ... Lalu mengorbankan masa mudamu yang berharga."


"Mungkin keluarga Josiah bersalah karena sudah mengeksploitasi otaknya yang jenius, tapi ini bukan berarti dia berhak mengorbankan orang lain untuk mengganti masa mudanya yang hilang. Ini antara Acre Josiah dan seluruh keluarga Josiah, harusnya dia cukup melampiaskan amarahnya pada kami saja, bukan padamu" ujarnya.


Kening Acre berkerut tidak senang mendengar ini.


"Hazel?" Panggil Erika.


"Hm?"


Raut tenang Hazel sontak retak, dia tidak menduga akan mendengar hal semacam ini dari mulut anggota keluarga Josiah sendiri. Acre juga terhenyak kaget, dia merangsek maju dan berteriak tepat di wajah Erika


"Tolol! Apa yang barusan kau katakan?! Tarik ucapanmu kembali!"


Erika tentu tidak bisa melihat ataupun mendengar Acre, tapi dia bisa merasakan suhu dingin dan angin aneh yang berhembus ke wajahnya. Dia bertanya pada Hazel


"Apakah ini kakakku?"


Hazel mengangguk


"Ya, dia sedang meneriakimu."


Erika mengangguk dan balas menatap udara kosong di hadapannya dengan ketus


"Aku melakukan hal yang benar sebagai seorang manusia yang memiliki integritas! Aku mau Hazel mencapai kebahagiaannya, oleh karena itu kalian memang harus bercerai!!"


Acre tidak mood melakukan aksi adu mulut dengan wanita ini, oleh karena itu dia mengambil tindakan langsung dan menonjok wajah Erika dengan ringan.


Hazel tersentak kaget dan sontak berteriak ketakutan


"Acre! Apa yang kau lakukan?!!"


Erika yang tidak merasakan pukulan itu, tentu saja menatap bingung pada Hazel yang tampak panik


"Apa? Ada a-"


Suaranya terputus saat Erika tiba-tiba jatuh ke lantai, terbaring tak sadarkan diri.


Acre tampaknya tidak menduga hal semacam ini akan terjadi, dia refleks ingin menyentuh Erika untuk membantu. Tapi Hazel segera menghentikannya


"Jangan! Kita tidak tau apakah dia pingsan setelah menyentuhmu atau karena memiliki masalah kesehatan, bantu aku menggotongnya ke kasur!"


Acre mengangguk


"Oke!"


Namun begitu tangannya menyentuh pundak Erika, itu tembus dan tidak bisa menyentuh apa-apa.


Saat inilah keduanya terdiam.


Hazel menatap kosong Acre.


Acre menatap kosong Hazel.


Keduanya lupa bahwa Acre tidak memiliki tubuh fisik, yang berarti bahwa dia tidak bisa membantu kegiatan Hazel sama sekali.