Ghorbulous

Ghorbulous
Si tolol



"Biarkan aku masuk! Aku hanya ingin melihat wanita yang dinikahkan dengan kak Acre!" Teriakan seorang pria terdengar dari gerbang depan kediaman keluarga Josiah.


Disana tampak seorang pria mengenakan kemeja rapi yang sedang berdebat dengan petugas keamanan.


Pria berbadan besar tersebut tetap tak bergeming dari balik gerbang, menatap pihak lain yang tampak menyedihkan diluar gerbang


"Maaf, Tuan Lavish. Menurut Patriark sebelumnya, Tuan Andra Josiah. Anda tidak berhak menginjakkan kaki di kediaman keluarga Josiah."


"Tapi aku juga anak keluarga ini! Patriark sebelumnya adalah ayahku dan Acre adalah kakakku! Apa salahnya aku melihat anggota baru keluarga kami?!" Protesnya.


Petugas keamanan masih menjawabnya dengan sopan


"Tuan Lavish, anda tidak memiliki izin untuk memasuki kediaman keluarga Josiah."


"Apakah ini cara kalian memperlakukan tamu?! Aku juga anaknya! Kenapa kalian menindasku seperti ini?! Apakah karena ibuku dulu hanyalah pembantu dan tidak berdarah biru seperti Bibi Alexa?!" Joshua mulai berteriak keras-keras, seolah takut bahwa orang lain tidak bisa mendengarkan suaranya.


Pihak lain tak bergeming, juga tidak menjawab Joshua


"....."


Namun diamnya petugas keamanan ini justru semakin menyulut amarah Joshua. Pria itu terus lanjut berteriak-teriak


"Kita sama-sama manusia, tidak cukupkah kalian menyulitkan aku dan ibuku selama bertahun-tahun?! Aku bahkan tidak pernah melihat ayahku sendiri!"


"Hanya karena kami miskin, hanya karena kami pekerja kasar, kalian bahkan tidak mengizinkan ayah untuk mengunjungi ibuku!!"


"Aku tidak meminta uang ataupun warisan, aku hanya ingin kita hidup bersama dengan rukun sebagai keluarga! Apakah keinginanku begitu sulit untuk dilakukan?!" Jeritnya.


"Memang sangat sulit."


Suara dingin seorang wanita membuat jeritan sepihak Joshua lenyap seketika. Pria dengan kemeja tersebut sontak mengubah fokusnya yang semula ada pada petugas keamanan, menjadi kepada pihak yang baru saja datang.


"Kak Erika!" Panggilnya.


"Jangan memanggilku kakak, Tuan Lavish. Dan tolong, singkirkan kamera yang terpasang di semak-semak itu, lima ratus meter dari sini. Kau pikir keluarga Josiah hanya berisi orang-orang bodoh yang tidak bisa melihat trik murahan semacam ini?"


"Apa yang kau bicarakan, Kak? Kamera apa?" Meskipun merespon menggunakan kalimat barusan, Joshua jelas tampak sangat gugup.


Jelas, Erika sudah muak bermain peran


"Tuan Lavish, kau ini berpura-pura bodoh atau memang benar-benar seorang bodoh tak berotak?"


Erika melirik salah seorang penjaga sambil menggoyangkan kelima jarinya di udara, pria besar tersebut lantas berlari menuju semak-semak yang dimaksud dan benar-benar mengambil kamera dari sana, dengan sarung tangan yang sudah terpasang sesuai instruksi samar Erika.


"Jangan sentuh dengan tangan kosong dan bawa ke kantor polisi, aku ingin melaporkan ini."


Mendengar Erika mengatakan hal semacam itu, Joshua menjerit lagi


"Kak Erika!! Kau tidak bisa melakukan ini!! Kita masih memiliki hubungan darah!"


Namun Erika tidak menggubris raungan Joshua dan masih berbincang dengan pria besar berseragam penjaga tersebut


"Tuduhannya adalah menerobos masuk ke properti orang lain tanpa izin, polusi suara, pencemaran nama baik, dan melanggar privasi."


"Kakak!"


Kening Erika berkerut dalam


"Sudah kubilang, jangan panggil aku kakak."


"Aku tidak melakukan apa-apa! Aku hanya ingin melihat kakak ipar!" Dia masih teguh pada pendapatnya sendiri.


Erika tampak semakin tidak senang mendengarnya


"Kakak iparku tidak ada hubungannya denganmu, jadi tolong pergilah. Jangan membawa-bawa status sosial atau hubungan darah, tidak akan mempan."