Ghorbulous

Ghorbulous
Sedikit demi sedikit



"Awas kepalanya."


"Posisi kaki harus lebih tinggi daripada kepala."


"Jangan meletakkan bantal di belakang kepalanya."


Hazel menatap tajam suami barunya yang membuat bermacam-macam komentar akan pertolongan pertama pada Erika yang tak sadarkan diri, dahinya berkeringat. Tubuh Erika cukup berisi dan tinggi, oleh karena itu dia harus bersusah payah menggotongnya ke kasur terdekat tanpa bantuan siapapun.


Bagaimanapun juga, suaminya tidak memiliki tubuh.


"Hazel, apa kau punya minyak kayu putih atau sesuatu yang mirip dengan itu?" Acre kembali bersuara.


Gadis itu menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan diri, lalu dengan lembut menjawab


"Tentu aku punya, tapi pertama-tama bisakah aku dengan sopan memintamu diam?"


Acre melihat Hazel yang sedang berpeluh, tapi masih mencoba merawat adiknya yang tidak sadarkan diri. Pria itu tanpa sadar mengulurkan tangan untuk membantu istrinya membersihkan keringat.


Namun, tangannya yang gelap dengan samar menembus kepala Hazel. Dia cemberut, baru kali ini menyadari betapa pentingnya memiliki tubuh. Melihat Hazel bekerja keras dan berlarian kesana-kemari sendirian, sungguh tidak mengenakkan.


Harusnya ini adalah tanggungjawab yang dipikul bersama, bukan hanya satu orang.


Untuk pertama kalinya, Acre nelangsa karena tidak tau keberadaan tubuhnya.


Untungnya tak butuh waktu lama bagi Erika untuk sadar kembali, Hazel menawarinya minum. Tapi wanita itu menolak dan bersikeras untuk turun gunung, karena masih ada pekerjaan. Jujur saja dia ingin bertanya apa alasan dirinya tiba-tiba pingsan, tapi masih banyak hal yang lebih penting daripada itu.


Kali ini Hazel kembali ditinggalkan sendirian, secara teknis.


Manik ambernya melirik Acre untuk meminta penjelasan, tapi pihak lain hanya memalingkan muka.


Hazel kesal dan berujar penuh penekanan


"Acre, komunikasi itu penting."


"Hazel, kita memang pasangan. Tapi bukan berarti bisa seenaknya melanggar privasi" Acre berujar tak mau kalah.


"Kau serius mengungkit masalah privasi saat ini? Mau kuingatkan akan seseorang yang dengan lancang memasuki mimpi dan menikahiku?" Tegasnya.


Namun sekalipun merasa tidak enak hati, Acre masih menolak untuk menjawab. Tapi pria itu mengatakan sesuatu yang lain


"Aku sudah minta maaf soal itu, tapi aku bisa meyakinkanmu bahwa aku sama sekali belum mati."


Hazel kembali fokus pada apa yang ingin mereka bicarakan sebelumnya


"Kenapa kau begitu yakin? Tau darimana?"


Acre merespon dengan gelengan kepala


"Entahlah, hanya tau saja. Pengetahuan manusia sangat terbatas, oke?"


Hazel menyipitkan matanya penuh cibiran


"Secara teknis, kau bukan manusia."


"Oke, kalau begitu pengetahuan mahluk hidup itu terbatas. Sampai-sampai penggunaan insting terkadang perlu dan bisa akurat."


"Jadi?"


"Aku hanya terpisah dari tubuhku. Untuk dimana dan kenapa, sayangnya aku tidak ingat sama sekali" jelasnya.


"Kalau begitu bisa kau setidaknya memberitahuku seperti apa ingatan terakhirmu?" Hazel mencoba tawar-menawar informasi akan pihak lain.


Acre tampak berpikir dalam-dalam seolah berusaha menggali apapun yang bisa dia ingat, bahkan sambil memejamkan mata dengan alis berkerut


"Ingatan terakhirku adalah sosok Erika yang masih anak-anak, yang artinya waktu sudah berlalu sangat lama. Aku juga mengingat secara samar siapa identitas dan apa yang kulakukan semasa masih memiliki tubuh."


Hazel merasa aneh


"Kalau waktu memang sudah berlalu selama itu, maka tubuhmu pasti sudah hancur lebur. Kau tidak lihat Erika sudah menjadi wanita dewasa?"


Acre menggeleng


"Tidak, aku yakin tubuhku masih ada dan hidup di suatu tempat."


"Bagaimana kau bisa tau?" Dia benar-benar skeptis.


Pihak lain menjawab enteng


"Anggap saja insting."


Hazel merenung sejenak dan berpendapat


"Kalau tubuhmu masih hidup, tapi jiwamu berkeliaran seperti ini. Pasti tubuhmu mengalami kondisi vegetatif."


Acre menjentikkan jarinya, menyetujui pendapat pihak lain walaupun sama bingungnya


"Aku juga berpikir demikian. Walaupun aneh jika aku memang masih hidup setelah cairan otakku tercecer."


Hazel mungkin bukan anak kedokteran dan awam masalah fisiologis manusia, tapi bukan berarti dia tidak mengetahui hal-hal yang paling mendasar. Oleh karena itu dia kembali bertanya


"Bukankah tubuh tidak akan bisa memperbaiki organ yang hancur?"


"Disanalah yang aneh" raut Acre berubah serius.


"Keluargaku tidak bisa menemukan tubuhku, sementara aku yakin tubuhku masih hidup di suatu tempat dan mengalami kondisi vegetatif. Bukankah kau juga tau bahwa perawatan bagi pasien dengan kondisi tersebut memakan biaya yang amat tinggi?" Dia melemparkan pertanyaan sebagai lanjutan.


Hazel mengangguk serius


"Benar. Itu artinya tubuhmu berada di tangan orang yang sangat kaya dan berpengaruh, hingga polisi bahkan tidak bisa melacak keberadaan tubuhmu."


"Tapi mustahil jika dilakukan oleh perorangan. Tindakan semacam ini harus dilakukan dengan sangat teliti dan hati-hati, ditambah pasti memakan banyak sekali peralatan medis mahal dan tenaga kesehatan yang bukan main" dia menambahkan.


Hazel menatap serius wajah Acre


"Katakan, apakah keluargamu punya musuh?"